Pidato Presiden
Sambutan Pembubaran Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PEMBUBARAN BADAN REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI NAD-NIAS
ISTANA NEGARA, 17 APRIL 2009
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Wakil Presiden Republik Indonesia, Saudara Ketua MPR RI, Saudara Ketua dan Wakil Ketua DPR RI, dan para unsur Pimpinan Lembaga-lembaga Negara,
Yang saya hormati para Menteri dan Anggota Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang Mulia para Duta Besar Negara-negara Sahabat dan para Pimpinan Badan-badan Internasional, para Pimpinan jajaran Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, para Pimpinan Organisasi-organisasi Non Pemerintah atau NGOS, para Pejuang dan Sukarelawan kemanusiaan yang berdarmabakti di Aceh dan Nias, Saudara Kepala Badan Pelaksana BRR Aceh dan Nias, Saudara Ketua Dewan Pengarah dan Ketua Dewan Pengawas beserta Anggota,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi, memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan ridho-Nya, hari ini kita bersama-sama dapat mengikuti satu acara penting, yaitu Pembubaran BRR Aceh dan Nias. Pembubaran dalam arti, organisasinya dilikuidasi dan tugasnya berakhir.
Kita telah mendengarkan laporan dari Saudara Kuntoro Mangkusubroto, Kepala Badan Pelaksana BRR Aceh dan Nias. Dilanjutkan dengan laporan Ketua Dewan Pengarah Saudara Widodo AS, yang menurut saya memberikan gambaran yang utuh tentang apa saja yang telah dilakukan oleh BRR Aceh dan Nias. Oleh karena itu, di atas segalanya, karena saya menilai, kita semua menilai, bahwa BRR Aceh telah dapat mengemban tugasnya dengan baik, dengan kinerja yang tinggi, dengan hasil yang nyata, maka tiada kata yang patut saya ucapkan, atas nama Negara dan Pemerintah, kecuali ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.
Kami semua bangga, Bapak Kuntoro dan semua teman-teman yang bekerja siang dan malam selama 4 tahun. Negara, Pemerintah juga bangga, negara tercinta ini mengukir sejarah, satu kisah sukses dari sebuah upaya besar untuk membangun kembali Aceh dan Nias yang mengalami bencana dasyat, yaitu tsunami dan gempa bumi pada akhir tahun 2004 yang lalu. Saya tadi lupa menyampaikan sebutan Saudara Gubernur Sumatera Utara, ada beliau di sini? Saudara Gubernur Aceh dimana? Ada di sini. Di belakang tidak saya lihat, selamat datang, terima kasih bisa hadir.
Saya lanjutkan, pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh bukan tanpa kekurangan, bukan tanpa masalah, bukan tanpa miss-koordinasi, terutama pada awal-awal pelaksanaan tugas. Tapi satu hal, kalau kita jujur, objektif dan terbuka, maka semua proses rehabilitasi dan rekontruksi, yang sebelumnya didahului oleh kegiatan tanggap darurat secara keseluruhan telah berhasil dengan baik.
Oleh karena itu, tepat kalau setelah mengakhiri masa tugasnya, BRR Aceh dan Nias bisa sharing, bisa berbagi dengan semua pihak di dalam negeri maupun dengan dunia, bagaimana kita mengemban tugas yang very challenging, yang seolah-olah tugas yang impossible untuk kita lakukan hanya dalam rentangan waktu 4 tahun, mengingat magnitude dari kerusakan yang sangat besar waktu itu. Tetapi alhamdulillah, tugas itu telah dapat dilaksanakan dengan baik.
Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh Saudara Kuntoro tadi, agar apa yang telah kita lakukan bisa menjadi standar, bisa menjadi benchmark bagi upaya yang sama, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Oleh karena itu, saya justru merasa bangga, kalau pada tanggal 24 April nanti ada satu kajian di Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, untuk kita bisa berbagi, berbagi pengalaman, berbagi pengetahuan yang bisa dijadikan pelajaran pula oleh negara-negara sahabat. Sampaikan apa adanya, kekurangan-kekurangan, tantangan, masalah yang kita hadapi, termasuk jangan disembunyikan keberhasilan-keberhasilan yang telah diraih oleh Saudara semua, yang tentu menjadi bagian dari sejarah di negeri tercinta ini.
Hadirin yang saya muliakan,
Sekarang adalah atau yang penting bagaimana melanjutkan apa yang telah dicapai oleh BRR ini, baik di Aceh maupun di Nias. Hadir di sini kedua Gubernur, Gubernur Aceh dan Gubernur Sumatera Utara. Saudara mendapat amanah, mendapat mandat, mendapat tugas untuk melanjutkan apa yang belum rampung dari yang dilakukan oleh BRR Aceh dan Nias. Meskipun yang fundamental, yang pokok, yang besar-besar telah dirampungkan, selalu ada tugas lanjutan, pekerjaan lanjutan. Oleh karena itu, dengan semangat yang sama, dengan governance yang sama, saya berharap tugas itu dapat dilanjutkan oleh Saudara semua, baik yang dikelola oleh Badan Kesinambungan Rekonstruksi Aceh dan Nias pada tingkat pusat maupun pada tingkat daerah. Saya tidak ingin ada kemandekan, saya tidak ingin apalagi ada setback, saya tidak ingin apalagi ada perubahan kualitas, termasuk kaidah-kaidah dari sebuah good governance yang harus kita junjung tinggi.
Hadirin yang saya muliakan,
Karena begitu lengkapnya apa yang disampaikan oleh Kepala Badan Pelaksana BRR Aceh Nias dan Ketua Dewan Pengarah tadi. Saya tidak perlu mengulangi lagi, saya hanya ingin berkontribusi tentang pelajaran yang bisa dipetik, lesson to be learned bagi kita semua untuk melengkapi apa yang akan disampaikan oleh Kepala BRR nanti di Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York.
Izinkan saya untuk mengedepankan dari perspektif saya, pelajaran besar, pelajaran penting dari tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi Aceh dan Nias pasca tsunami dan gempa bumi.
Pertama, ini masih berkaitan dengan fase awal setelah Aceh dan Nias terguncang oleh tsunami, yang mesti kita lakukan first thing first adalah melaksanakan kegiatan-kegiatan tanggap darurat, emergency relief operation first. Sebelum kita melakukan yang lebih sistematis, yang lebih komprehensif, yang lebih berangkat dari perencanaan yang matang, maka segera setelah terjadinya sebuah bencana, maka yang mesti dilakukan adalah kegiatan tanggap darurat, emergency relief operation, yang dulu telah dikerjakan dengan baik. Saya sendiri, Wakil Presiden, para Menteri, TNI, POLRI, semua langsung terjun ke lapangan, tiada lain untuk memastikan, bahwa langkah-langkah tanggap darurat berjalan dengan baik. Itu pertama.
Pelajaran dan pengalaman juga menunjukkan ketika di tempat-tempat lain juga terjadi bencana, Yogyakarta, Jawa Tengah, di Pangandaran dan tempat-tempat lain. Maka mengambil pelajaran dan pengalaman dari Aceh, yang dilakukan oleh para Gubernur, Bupati, Walikota dengan jajaran yang lain, termasuk unit-unit penanggulangan bencana lokal adalah melaksanakan kegiatan tanggap darurat, emergency relief operation. Itu pelajaran pertama. Di situ jangan bicara dulu, bagaimana pembangunan yang lebih menyeluruh berapa ongkos dari rehabilitasi dan rekonstruksi, nantinya seperti apa organisasinya dan sebagainya, nanti saja. Hari-hari pertama, minggu-minggu pertama kalau skalanya besar, magnitude-nya tinggi dari bencana itu, pastikan bahwa emergency relief operation, kegiatan tanggap darurat berjalan dengan baik.
Yang kedua, apa hakikat kegiatan tanggap darurat. Kita sering tidak bisa memahami tujuan, kita sering tidak bisa membedakan tujuan dengan sarana, act dengan means, act, means, wish, tujuan besar acara. Di tengah hiruk pikuk, di tengah kegaduhan, di tengah betapa besarnya tantangan yang dihadapi, kita harus focus apa sebenarnya yang ingin dicapai dalam kegiatan tanggap darurat pada jam-jam pertama, hari-hari pertama. Tiada lain adalah tujuannya the objective is to save more lifes, menyelamatkan jiwa mereka yang terkena bencana sebanyak-banyaknya.
Oleh karena itu, kegiatan evakuasi, kegiatan medis, pembekalan ulang, penyediaan air bersih, makanan, semua diarahkan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin saudara-saudara kita yang tertimpa bencana. Tsunami barangkali akan cepat datang dan cepat pergi, tapi ada bencana lain yang bisa stay, seperti banjir besar. Ada juga gempa bumi yang menyisakan begitu banyak korban, luka-luka, patah tulang, patah kaki, dan sebagainya. Yang mereka banyak yang dalam keadaan kritis in very critical conditions, oleh karena itu tugas atau visi, atau objektif dari semuanya itu adalah menyelamatkan jiwa mereka-mereka yang terkena bencana. Itu pelajaran kedua.
Pelajaran nomor tiga adalah dalam crisis act, dalam tanggap darurat, sebagaimana di Aceh yang berjalan tiga bulan. Di tempat lain barangkali, di negara-negara lain barangkali bisa berjalan sekian belas minggu, yang diberlakukan adalah crisis action management. Tidak perlu saya jelaskan apa yang mesti dilakukan dalam sebuah manajemen krisis, bagaimana menggunakan sumber daya, bagaimana kecepatan menjadi penting, bagaimana pemimpin turun ke lapangan dan sebagainya. Crisis action management dan itu sudah kita jalankan dulu di Aceh dan di Nias. Dan saya senang dalam perkembangannya, para Gubernur, Bupati, Walikota di seluruh Indonesia yang mengalami bencana serupa, meskipun lebih kecil skalanya juga telah menerapkan crisis actions management ini.
Yang keempat, masih berkisar pada kegiatan tanggap darurat adalah kita harus terbuka, kita harus welcome, harus menyambut semua humanitarian assistance. Dulu ada dilema, saya tahu hari-hari pertama, apakah kita menerima bantuan dari negara-negara sahabat, negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, atau kita tolak. Waktu itu ingat, Aceh belum damai, masih ada konflik bersenjata. Banyak pikiran kalau nanti ada tentara asing, ada organisai dari luar negeri, lantas melakukan intervensi, menganggu kedaulatan kita dan sebagainya.
Hanya dalam hitungan jam, saya sendiri, kita mengambil keputusan untuk menyelamatkan jiwa, manusia, kebetulan rakyat Indonesia. Kita harus bekerja sama dengan siapa pun, dengan negara sahabat, dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan organisasi internasional, mereka datang untuk menolong, sama halnya kita juga pernah menolong negara-negara lain yang terkena musibah bencana. Kita yang mengendalikan, kita yang menetapkan policy, term of reference. Ya tidak mungkin kita tidak meyakini, bahwa mereka datang untuk memberikan bantuan kemanusian.
Oleh karena itu, banyak pelajaran, diperlukan kecepatan, diperlukan resources yang cukup untuk mengatasi keadaan, manakala kita lalai, kita gagal, kita hidup dalam pro dan kontra dan no decision, no risk, saya kira korban akan makin berjatuhan. Oleh karena itu, saya ambil keputusan, saya masih ingat hanya dalam sekian jam, saya putuskan welcome dengan policy ini, dengan kontrol ini, dengan koordinasi. Itu yang keempat.
Saudara-saudara,
Masih dalam konteks kegiatan tanggap darurat, maka pengalaman juga menunjukkan command, control, and coordination itu sangat penting. Memang tidak mudah, banyak komentar yang seolah-olah mudah-mudah saja mengkoordinasikan, mengendalikan, memindahkan logistik dari satu tempat ke tempat yang lain, dalam praktek tidak semudah itu.
Oleh karena itu, ketika Saudara semua gigih berjuang dari tempat ke tempat, dari puing-puing kehancuran ke tempat yang lain, menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan, memakamkan yang sudah wafat dan sebagainya. Banyak yang berkomentar dari Jakarta, dari luar, mereka tidak tahu, mereka tidak paham, mereka tidak merasakan, bahwa situasinya tidak segampang, semudah, sesederhana yang mereka pikir. Tapi Alhamdulillah, kita tidak bergeming sama sekali dalam arti harus terganggu dengan komentar-komentar itu. Kita jalan terus dan akhirnya menurut pendapat saya, kegiatan tanggap darurat dapat kita laksanakan dengan baik. Saya hanya mengatakan bahwa in crucial time, maka command, control and coordination itu menjadi sangat-sangat penting.
Lima pelajaran itu, Pak Kuntoro dan Saudara-saudara lebih connected to bagaimana kegiatan tanggap darurat. Lima yang belakangan ini lebih berkaitan dengan rehabilitasi dan rekontruksi pasca tanggap darurat.
Yang keenam, oleh karena itu, dalam rehabilitasi dan rekonstruksi, maka harus berangkat dari clear goals dan berangkat pula dari good master plan. Apa yang hendak kita capai dengan waktu 4 tahun, dengan resources yang kita miliki? Apa? Goals itu tidak boleh complicated, harus sederhana, tapi workable, durable, bisa dicapai kalau goals-nya rumit, complicated, banyak sekali, saya khawatir tidak bisa dicapai.
Oleh karena itu, goals-nya membangun kembali Aceh dengan mempertahankan identitas, kultur, dan bahasa Aceh. Kita tidak ingin membangun Aceh yang baik, Aceh yang dulu, yang punya nilai, yang punya adat, yang punya kehidupan ke-Islam-an yang tinggi dan sebagainya. Kita mempertahankan itu, tetapi dengan infrastucture, dengan fasilitas dan hal-hal yang serba fisik, yang paling tidak sama sebelum terjadinya tsunami dan gempa bumi, syukur-syukur lebih baik, sebagaimana yang Alhamdulillah kita dapatkan sekarang ini yang terjadi di Aceh dan di Nias.
Master plan kita susun, cepat memang, hanya sekian minggu, tapi jadi. Dalam perkembangannya pasti ada modifikasi, pasti ada improvement, pasti ada adjustment, tapi kita musti berangkat dari satu master plan. Kita harus punya goals, 4 tahun dengan timeline tertentu, dengan resources tertentu apa yang harus kita lakukan. Alhamdulillah, kita telah mengeluarkan itu semua, dengan demikian, saya menjadi yakin, bahwa proses yang dilakukan oleh BRR berangkat dari master plan dan clear goals, itu akan menjadi lebih baik, benar-benar baik.
Saudara-saudara,
Yang ketujuh adalah good organization. Saya dan Wapres berdiskusi waktu itu, saya terima rekomendasi dari beberapa Menteri, saya berjam-jam berdiskusi dengan Pak Kuntoro Mangkusubroto. Akhirnya saya hanya memberikan satu a general direction, selebihnya Kepala Badan Pelaksana BRR sendirilah yang menyusun organisasinya. Saya berikan ruang yang cukup untuk merumuskan sendiri objective organisasi, mechanism, rules dan sebagainya dan he is incharge. Sebab kalau terlalu dikontrol dari pusat, dari Jakarta, bisa terlalu banyak intervensi, tidak membawa kebaikan, malah bisa menimbulkan confusing, ini penting. Once kita berikan mandat, kita berikan tugas, kita tentukan arahnya, silakan Kepala yang bersangkutan, Leader yang bersangkutan, mengorganisasi, merencanakan, melaksanakan, mengawasi sebagaimana ketidakkaitan dalam sebuah manajemen. Planning, Organizing, Actuating, Controlling, POAC, sederhananya seperti itu, tetapi itu lebih kompleks dan lebih rumit.
Yang kedelapan, yang menurut saya mengapa hasil BRR ini bagus, baik adalah adanya effective timeline based implementation. Meskipun master plan-nya bagus, organisasinya bagus, kalau minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun hingga nanti, implementasi di lapangan tidak baik, tidak tepat dengan timeline, tidak tepat dengan sasaran demi sasaran yang ingin dicapai, saya yakin hasilnya tidak akan sebaik sekarang ini. Dalam beberapa kesempatan, saya datang, meninjau demikian juga pejabat yang lain untuk melihat progress dari BRR Aceh ini, dan saya tahu melalui penjelasan dari Kepala BRR dan semua yang ada di situ, timeline itu Alhamdulillah bisa dipenuhi relatively dan kemudian masalah-masalah yang terjadi bisa diatasi.
Yang kesembilan adalah good governance. Banyak penyakit di dunia ini, dalam keadaan bencana atau rekonstruksi di daerah-daerah konflik, banyak terganggu karena governance-nya tidak baik, tidak akuntabel, tidak responsif, tidak capable, bahkan ada korupsi-korupsi. Ini bukan cerita yang luar biasa, ini cerita yang biasa di banyak dunia, di sini banyak para Duta Besar, kita mendengar banyak sekali mismanagement, corruption, penyimpangan-penyimpangan dalam sebuah rehabilitasi dan rekonstruksi, baik pasca bencana maupun di daerah konflik, ini penyakit.
Oleh karena itu, saya terima kasih Pak Kuntoro, Saudara telah membangun satu standard untuk benchmark, untuk perbandingan, membangun satu model dari governance yang bagus, yang tentunya kita akan terus kembangkan ini di seluruh Indonesia.
Saya tahu Gubernur Papua misalnya telah melakukan studi untuk sebuah implementasi dari good governance, karena kaidah-kaidah good governance bisa diimplementasikan dimana saja dalam keadaan apa saja.
Pelajaran yang kesepuluh, di atas segalanya adalah leadership at all levels, tentunya pada tingkat BRR Aceh dan Nias bersama para Gubernur, Bupati, Walikota, baik di Sumatera Utara maupun di Aceh. Di atas segalanya adalah leadership, saya tidak melulu memberikan contoh apapun, tapi itulah yang terjadi.
Kalau sepuluh itu bisa saya tambahkan satu ten plus one, plus one ini bagaimana ke depan. Saudara tahu bahwa kalau saya bisa merumuskan dalam satu ungkapan, kita ini hidup, bangsa Indonesia ini hidup di sebuah alam yang memang rawan bencana. Keadaan geografi kita meniscayakan, bahwa setiap saat bisa terjadi bencana, apa gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi dan sebagainya. Yang itu peristiwa alam murni, disamping yang barangkali berangkat dari kesalahan manusia, banjir, perubahan iklim yang ekstrim, kemarau panjang, hujan yang luar biasa menimbulkan banjir. Dengan demikian, kita harus membiasakan hidup dalam keadaan seperti ini. Tadi dikatakan oleh Pak Widodo, ada berkah dibalik musibah, ada berkah kita juga dengan keadaan alam yang seperti ini, ternyata juga memiliki sumber daya alam yang juga besar.
Poin saya adalah, kita juga harus bisa hidup dalam keadaan seperti ini, leaving on the edge, di ambang batas, batas tectonically, batas ray of light, batas banyak sekali yang oleh keniscayaan geografi kita, kita harus bersiap betul untuk hidup dalam keadaan seperti ini. Oleh karena itu, kecerdasan kita untuk mengambil pelajaran, untuk merujuk pada pengalaman sebelumnya, adalah bagaimana bangsa ini bersiap, manakala terjadi lagi bencana-bencana serupa, tsunami, gempa bumi, dan letusan gunung berapi misalnya.
Di sini national readiness menjadi sangat penting, kita dengan dukungan dari negara-negara sahabat sudah bisa membangun early warning system untuk tsunami. Mari kita gunakan dengan sebaik-baiknya memberikan warning. Masyarakat kita yang hidup di pantai-pantai makin peka, makin responsif, kalau ada peringatan dini itu, ada tanda-tanda, mereka seperti secara otomatis bisa cepat meninggalkan tempat-tempat yang rawan tsunami. Ditambah dengan real tsunami, latihan-latihan, leadership dan sebagainya. Semua itu adalah yang harus terus kita tingkatkan untuk menghadapi apabila bencana serupa terjadi di masa datang.
Oleh karena itu, ten plus one, belajar dari semuanya itu, maka bangsa ini, bangsa Indonesia harus sungguh bersiap menghadapi bencana serupa, harus sungguh biasa untuk hidup dalam keniscayaan geografi yang ada di negeri kita. Pemimpin harus memiliki kepedulian, pemimpin setiap tingkatan, termasuk Kepala Desa, Camat, Bupati, Walikota, memiliki mindset, agar rakyatnya betul-betul siap, manakala terjadi bencana seperti itu.
Itu bagian dari national readiness, bukan hanya instrumen, bukan hanya undang-undang, bukan hanya equipment, bukan hanya technology, tapi juga mindset orang per seorang. Pemimpin di sini memiliki tanggung jawab untuk betul-betul selalu menyegarkan semuanya itu, sehingga manakala peristiwa alam itu datang, bencana itu datang, paling tidak bisa meminimalkan jumlah korban, syukur-syukur bisa selamat dari korban jiwa utamanya.
Saudara-saudara,
Berkaitan dengan Aceh, saya di kesempatan yang baik untuk mengingatkan bahwa, ada Pak Gubernur Aceh di sini, tugas kita adalah menyukseskan dua hal. Pertama adalah post tsunami reconstruction. Yang kedua adalah post conflict reintegration ke depan. Ini adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa, peace process, diawali oleh musibah tsunami, terbuka hati dan pikiran anak bangsa yang tadinya bertikai dan berselisih untuk mengakhiri konflik itu, bersatu kembali dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tapi memiliki ruang yang lebih luas untuk mengatur kegiatan di Aceh sendiri, yang tujuannya adalah menuju masa depan Aceh yang lebih aman, lebih adil, lebih sejahtera, sekali lagi, dalam kebersamaannya dengan seluruh bangsa Indonesia dalam naungan NKRI. Itu adalah hal penting yang kita harus pastikan, bahwa kedua misi ini berjalan dengan baik.
Saudara-saudara,
Boleh untuk melengkapi lesson learns itu, mengapa alhamdulillah banyak negara kena tsunami, tapi konfliknya tidak selesai. Dan Indonesia ada tsunami, Tuhan memberikan jalan, terbuka hati kita sampai kepada peace process.
Pertama, yang menurut saya sejauh ini penyelesaian Aceh secara damai berhasil dengan baik, itupun belum rampung, masih harus terus kita kelola, trust building itu memerlukan waktu, masih ada saling curiga, masih ada ini dan itu. Tapi jangan kita gagal untuk mengawal, bahwa pilihan kita, cek berhenti konfliknya, dalam NKRI, Aceh memiliki ruang yang luas, semacam wide ranging autonomy untuk membangun provinsinya. Itu yang harus kita pegang. Pertama adalah negosiasi yang bagus, perundingan yang bagus, Pak Jusuf Kalla punya peran yang besar di situ. Itu kunci keberhasilan yang pertama.
Kunci keberhasilan yang kedua adalah dukungan dari tentara, military disposition is very important karena Militer, Kepolisian mendukung peace process itu. Paham betul, bahwa tujuannya adalah konflik berdarah selesai, Aceh tetap dalam NKRI dengan ruang yang lebih luas. Itu kunci keberhasilan kedua.
Kunci keberhasilan ketiga adalah dukungan, kebersamaan dari politik di Indonesia, MPR, DPR, DPD, semua bersama-sama kita berhari-hari membahas, saya menjelaskan tanggapan, dan akhirnya pada tingkat politik nasional, kita sepakat, bahwa ini harus dilanjutkan.
Faktor yang keempat adalah masyarakat Aceh sendiri. Mayoritas setuju, bahwa konflik itu dihentikan dan Aceh dibangun kembali.
Yang kelima adalah international support. Itu penting, karena memang sudah menjadi masalah internasional, meskipun kita tidak menginternasionalisasikan Aceh. Kalau kita menginternasionalisasikan, kita serahkan kepada pihak luar, terserah bagaimana, tidak, ownership-nya masih ada di kita. Itulah saya berbicara dengan Sekjen PBB, saya berbicara dengan Pimpinan European Union, “Anda berpartisipasi, senang saya, tapi ingat this is my goal bisa selesai dalam tingkat NKRI”. Tidak ada alternatif lain, cocok, klop, Ok.
Dan memang di sini diberikan, diperlukan, komitmen dari top leadership, top leadership. Banyak upaya-upaya sebelumnya menyangkut Aceh, karena tidak ada komitmen dari top leadership, Presiden dalam hal ini, di tengah jalan ada hambatan, kemudian gagal.
Terhadap kegiatan yang resikonya tinggi, termasuk penyelesaian Aceh waktu itu, top leadership harus mengambil tanggung jawab. Dengan demikian, semua merasa dipayungi, tidak ketika gagal langsung, saya nggak tahu itu, bukan urusan saya, tidak boleh. Responsibility, termasuk risk taking harus berada dan diambil pada top leadership.
Itu enam hal yang menurut saya boleh saya sampaikan kepada para Duta Besar, para Pimpinan Lembaga-lembaga Internasional, satu proses besar yang ditempuh oleh bangsa Indonesia dalam menyelesaikan Aceh ini. Saya ingatkan karena ada twin objectives, ada tujuan kembar, kita sukseskan rekonstruksi pasca tsunami, kita sukseskan reintegrasi pasca konflik.
Saudara-saudara,
Dan akhirnya keberhasilan BRR tentu juga dibantu oleh yang lain. Terima kasih saya kepada Wakil Presiden dan para Menteri, dan Panglima TNI, Kapolri, dalam proses untuk membangun tanggap darurat ini sampai dengan rehabilitasi dan rekonstruksi. Juga lembaga-lembaga negara yang lain, yang juga memberikan persetujuan alokasi anggaran, dan sebagainya yang penting untuk kita pastikan resources atau sumber daya, termasuk financial capital yang kita perlukan cukup untuk membangun kembali.
Masyarakat dunia tentu tidak pernah kami lupakan, bantuannya baik pada saat tanggap darurat maupun pada saat rekonstruksi, pledging-nya sungguh mengesankan. Tapi kami mempertanggungjawabkan one single dollar is accountable, one single dollar you give to us, semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, saya senang, boleh tepuk tangan. Saya senang dan berterima kasih atas bantuan dari masyarakat internasional.
Saudara-saudara,
26 Desember, tsunami datang, hanya sekitar sepuluh hari, kita menyelenggarakan summit di Jakarta, Pertemuan Puncak Tsunami. Sekjen PBB hadir, banyak para Kepala Negara, Kepala Pemerintahan hadir, lembaga international, international bank dan sebagainya. Biasanya summit itu dipersiapkan setahun, dua tahun, dua bulan, tiga bulan. Only one week kita persiapkan summit di Jakarta. Alhamdulillah disitulah pledging, commitment, implementasi dari pledging negara-negara besar terealisasi.
Saya tidak ingin, karena semangatnya luar biasa untuk membantu Indonesia, membantu Aceh dan Nias waktu itu, lantas lack of synergy, lack of coordination, sehingga yang tidak efektif. Kami pastikan kepada masyarakat dunia, inilah tsunami-nya, inilah yang kami perlukan dan selebihnya silakan kalau yang ingin membantu atau sharing dengan Indonesia dalam membantu saudara-saudara kita di Aceh dan Nias. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.
Dan di atas segalanya pula, kepada Palang Merah Indonesia, kepada Organisasi Non Pemerintah, sukarelawan, pejuang, semua, yang dulu, termasuk dunia usaha yang juga mobilisasi, menggerakkan dana masyarakat untuk digunakan dengan sebaik-baiknya, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.
Saya kira itulah Saudara-saudara yang ingin saya sampaikan. Dan dengan pesan, harapan, ajakan, dan pelajaran-pelajaran besar itu, maka dengan terlebih dahulu mengucapkan rasa syukur alhamdulillah, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias dengan resmi saya bubarkan.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



