Pidato Presiden
Sambutan Saat Menerima LKS Tripartit Nasional Periode 2009-2011
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
MENERIMA ANGGOTA
LEMBAGA KERJA SAMA TRIPARTIT NASIONAL
MASA JABATAN 2009-2011
DI ISTANA NEGARA
27 APRIL 2009
Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Para Menteri dan Anggota Kabinet Indonesia Bersatu,
Para Pimpinan dan Pengurus Lembaga Kerja Sama Tripartit tingkat nasional baik dari unsur pemerintah, unsur serikat pekerja, dan unsur organisasi pengusaha,
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Marilah sekali lagi pada kesempatan yang baik ini, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita bersama, utamanya di dalam meningkatkan dunia usaha, meningkatkan kesejahteraan pekerja, mengatasi krisis global yang kita alami dewasa ini, dan tentunya untuk sama-sama menyongsong hari depan yang lebih baik.
Sebelum saya menyampaikan sambutan pada acara yang penting ini, saya tadi setelah bertemu Pak Erman Suparno menggunakan busana batik. Saya kira batiknya ada tiga macam karena unsurnya tiga. Ada pemerintah, ada serikat pekerja, para pimpinan organisasi pengusaha. Jaman dulu itu kalau ada tiga warna itu mudah, kuning, merah, hijau. Kalau Saudara jeli melihat tari-tarian kita yang suka manggung di Istana, kalau kostumnya itu kostum sudah lama, warnanya itu biasanya ada merahnya, ada kuningnya, ada hijaunya. Sekarang barangkali sulit karena warnanya banyak sekali tapi apa pun warnanya, hati kita sama untuk bangsa dan negara, untuk merah putih.
Ini juga barangkali suasana sedikit berbeda, Saudara melihat televisi mulai bangun tidur sampai tidur tengah malam isinya serba politik, koalisi, capres, cawapres dan itu marilah kita lihat secara wajar. Itu keniscayaan demokrasi, baik untuk sebuah pembelajaran bersama. Jadi tidak perlu dirisaukan kalau kadang-kadang ada yang agak keras, kadang-kadang begitu dinamis, demokrasi memang begitu. Apalagi demokrasi di negeri kita ini, istilah saya, in the making. We are consolidating, we are nurturing our democracy. Oleh karena itu, anggap ini satu pembelajaran bersama untuk membangun demokrasi dan kehidupan politik yang makin baik di negeri kita. Namun tentu bisnis kita tidak boleh berhenti, menjalankan roda pemerintahan, mengatasi dampak dari krisis perekonomian global termasuk yang menjadi hajat kita, dan mengapa lembaga kerjasama ini lebih dikokohkan, lebih structured, lebih sinergis, ya untuk itu semua. Dan kami, pemerintah, juga terus menjalankan tugas-tugas kami.
Setelah pertemuan ini, kami akan melakukan rapat emergency untuk menghadapi out break dari swine flu yang mencemaskan karena saya ikuti tiap jam. Di Meksiko sekarang sudah lebih dari 100 yang meninggal dan cepat menyebar. Amerika Serikat sudah kena. Banyak sekali yang melaksanakan penerbangan dari satu negara ke negara yang lain, dari Meksiko ke New Zealand misalnya, ke Amerika dan sebagainya. Kita harus melakukan langkah-langkah yang cepat dan tepat. Sore ini akan kita rumuskan langkah-langkah nasional kita agar bandara-bandara kita, pelabuhan kita, Menteri Kesehatan, Perdagangan, semua melakukan tindakan semestinya agar tidak terjadi penyebaran wabah itu di negeri kita. Dan tentu banyak lagi yang menjadi tugas kita bersama untuk kita lanjutkan.
Poin saya adalah sambil kita ikut menyukseskan pelaksanaan pemilu tahun 2009 ini, jangan lupa bahwa kita juga berperan, bertanggung jawab dan mengemban tugas bersama untuk rakyat kita, utamanya di bidang perekonomian dan dunia usaha.
Saudara-saudara,
Pertama-tama tentu saya mengucapkan selamat atas pengangkatan Saudara menjadi anggota Lembaga Kerja Sama Tripartit pada tingkat nasional. Saya pikir ini langkah sejarah yang baik untuk Indonesia.
Banyak kebijakan ketenagakerjaan yang dikembangkan oleh negara-negara lain. Kita bisa mempelajari, kita bisa membandingkan. Tetapi tidak bisa kita mengambil model satu negara lantas kita terapkan di negara kita. Persoalannya berbeda-beda, kondisi perekonomian, kondisi sosial, tahap perkembangan ekonomi dari satu negara ke negara yang lain juga berbeda. Oleh karena itu meskipun ada kaidah-kaidah universal yang bisa kita adopsi, kita implementasikan, tetap kita memerlukan sistem, kebijakan, undang-undang, aturan main termasuk mekanisme penyelesaian masalah manakala masalah itu muncul. Dan di situlah letaknya peran Saudara yang sangat penting.
Sebagai sebuah lembaga, LKS Tripartit ini tentu lebih structured, saya katakan tadi, tidak loose dengan demikian ikut membangun satu hubungan industrial yang lebih tepat, yang nanti akan saya sampaikan harapan saya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahanan agar permasalahan ketenagakerjaan terkait langsung dengan permasalahan dunia usaha dapat kita kelola dengan baik, dengan tepat.
Saudara-saudara,
Peran dan tugas Saudara pada hakekatnya dua. Pertama, memberikan pandangan, saran, masukan, dan pertimbangan kepada kami, pemerintah, di dalam pengembangan kebijakan ketenagakerjaan. Itu yang pertama. Yang kedua, yang tidak kalah pentingnya bersama-sama dalam wadah Tripartit ini mencari solusi, memecahkan masalah yang muncul akibat interaksi dari kepentingan baik kepentingan para pekerja, kepentingan para pengusaha, maupun yang menjadi kewajiban pemerintah. Dua hal itu saya berharap dijalankan dengan sebaik-baiknya, dan saya akan tetap bersama Saudara untuk mengelola dan memecahkan permasalahan ketenagakerjaan ini.
Kita setuju bahwa ada dua sasaran yang hendak kita capai, yang sering saya sebut sebagai twin objectives, sasaran kembar. Yang pertama, kita ingin kesejahteraan para pekerja di negeri ini makin baik. Itu pertama. Yang kedua, berkaitan dengan itu kita juga ingin dunia usaha, sektor riil, perusahaan-perusahaan juga tumbuh dengan baik agar dengan pertumbuhan itu bisa meningkatkan kesejahteraan pekerjanya. Itu intertwin, tidak bisa dipisahkan. Manakala negara kita menghadapi krisis ekonomi, maka harus ada solusi baik melalui kebijakan pemerintah agar sektor riil terjaga, perusahaan terjaga untuk tidak bangkrut, dan akhirnya harus melakukan PHK.
Mari kita pahami konteks utuh dari twin objectives ini, dari sasaran kembar ini. Manakala itu dilepas, dipisahkan, there will be no solutions. Sulit tapi kalau itu kita satukan, kita akan mendapatkan positive wins, win-win situation, bukan win-loose situation. Dan di sinilah letak kearifan Saudara, kejernihan berpikir Saudara pada tingkat nasional yang harapan kita juga mengalir pada tingkat provinsi, kabupaten, dan kota, pada tingkat Lembaga Kerja Sama Tripartit masing-masing.
Saudara-saudara,
Oleh karena itu saya punya pendapat bahwa hubungan industrial itu jangan direduksi, jangan hanya dilihat sebagai hubungan antara manajemen dengan serikat pekerja. Jangan. Kalau itu yang terjadi, kembali kepada teori ekonomi klasik yang dulu, bekerja itu hanya dianggap sebagai faktor produksi. Kita sudah melangkah jauh di situ. Dulu pernah kita mengenal hubungan industrial Pancasila, apapun namanya, tapi bagi saya hubungan di antara kedua komponen penting dunia usaha ini, perusahaan ini, sektor riil ini adalah hubungan kemitraan, partnership. Saudara diikat oleh common goals, ya tadi itu, kesejahteraan pekerja baik, meningkat dari masa ke masa, tapi perusahaan di mana para pekerja bekerja juga tumbuh dengan baik, dengan demikan menjadi mampu untuk ikut meningkatkan kesejahteraan itu. Dua-duanya tidak bisa dilihat sendiri-sendiri.
Saya ingin memberi contoh. Saya pernah mendapat cerita pada tahun 1998, waktu krisis membara terjadi kerusuhan di mana-mana. Saya mendengar cerita dari sahabat saya di Palembang. Ketika banyak sekali pembakaran perusahaan-perusahaan, mall, toko, dan sebagainya, para pekerja dan manajemen bertekad, berikrar, akhirnya seperti memohon kepada Yang Maha Kuasa. Dan mereka melakukan pertahanan. Kompleks mereka bekerja itu, pertahanan fisik, melingkari tempat itu, dan kemudian para perusuh itu begitu melihat seperti itu terus pergi, pergi ke tempat yang lain. Sampai dalam artian fisik seperti itu, togetherness. Mengapa? Kalau dibakar, owner, manajemen bangkrut, para pekerja kehilangan pekerjaannya. Itu sebetulnya hakikat dan hakiki sifatnya. Di situlah ada mutual interest, satu sama lain. Tentu lebih dari itu yang kita harapkan karena ini merupakan komitmen, ini merupakan tekad bersama untuk memajukan atau untuk mencapai kedua kepentingan itu.
Saudara-saudara,
Mari kita tengok pilihan kita dalam pembangunan yang sedang kita lakukan. Pilihan kita, our choice, terhadap pembangunan ekonomi, economic development. Pembangunan ekonomi yang kita kejar bukan, saya ulangi lagi, bukan hanya mengejar pertumbuhan semata. Kalau kita ingin mengejar ya mungkin 7%, 8%, barangkali resources yang kita miliki bisa kita arahkan untuk pembangunan sesuatu yang intinya growth akan terdorong naik dan naik. Kalau hanya itu, kemudian growth itu tidak equitable, tidak inklusif, tidak broad-based, bisa jadi tumbuh dengan baik, trickle-down effect tidak terjadi, kemudian ada gap yang tidak baik dalam sebuah strata sosial dan strata ekonomi masyarakat.
Dari dulu dan melalui kebijakan saya dengan Pak Jusuf Kalla sebagai wakil saya selama 4,5 tahun dan insya Allah sampai dengan akhir tahun ini, kami benar-benar ingin mendapatkan equitable growth. Tumbuh, pertumbuhan harus terjadi. Kalau ekonomi tidak tumbuh, negara itu bangkrut. Tinggal tunggu saatnya. Tapi pertumbuhan itu mesti disertai dengan peningkatan welfare. Ada welfare gain. Siapa? Misalnya pegawai. Kita tingkatkan kesejahteraannya, agar memiliki daya beli untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya, yang juga mengalami kenaikan karena inflasi. Siapa lagi? Pekerja, Saudara, petani.
Nilai tukar petani tentu kita perhatikan. Tidak mungkin penghasilan petani lebih rendah dari biaya yang dikeluarkan. Oleh karena itulah, konsep harga pertanian serendah-rendahnya itu tidak adil, karena petani bisa tidak mendapatkan apa-apa. Pas harga itu, petani mendapatkan keuntungan, yang lain bisa beli, terjangkau.
Yang miskin kita bantu dengan berbagai program. Itu semua mesti saya sampaikan, melihat utuh antara welfare dengan economic growth. Tetapi sekali lagi jangan dilepas. Semua itu bisa dicapai kalau dunia usaha tumbuh, kalau sektor riil tumbuh. Kalau tidak tumbuh, negara dapat apa. Kami mengeluarkan anggaran dari pajak. Kalau tidak tumbuh, pajak tidak masuk. Kalau enggak ada pajak, bagaimana kami bisa memberi bantuan yang miskin, pendidikan, kesehatan, bikin jembatan, bikin jalan, polisi mengamankan kita, perlu biaya dan sebagainya.
Saya ingin menyampaikan bahwa pilihan policy kita sudah benar. Bahwa sepanjang perjalanan masih ada masalah-masalah, iya. Kita negara berkembang. Negara maju pun kalang kabut. Kita tahu, pengangguran Amerika Serikat sudah mencapai 8,5%, pengangguran di Spanyol 17,5%, China 15%, besar sekali. Ulangi, 15 juta bukan persen, tapi kalau Amerika 8,5%, Spanyol 17,5%. Big, besar. Mereka juga tunggang langgang sekarang ini. Oleh karena itu, masuk kepada bagian kedua yang ingin saya sampaikan tadi, kita sedang menghadapi resesi perekonomian global. Tugas kita mengurangi dampak dari krisis itu, minimizing the impact of the global economic recession, semua yang kita lakukan sejak tahun lalu. Sekarang ini, ke depan terutama sampai akhir tahun 2010, tiada lain mengurangi sejauh mungkin dampak dari krisis perekonomian global ini.
Dunia mengalami resesi yang dalam. Apa sih resesi itu sebetulnya? Di antara banyak sebab atau yang membikin resesi ini karena krisis demand, berkurangnya permintaan dari dunia. Akibatnya, perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang dan jasa, yang beli tidak ada, yang meminta berkurang, demand-nya berkurang, bangkrut. Akibatnya, multinational corporation di seluruh dunia mengalami gelombang PHK besar-besaran karena barang-barangnya tidak ada yang beli, dia harus mengurangi cost of production dan sebagainya.
Jadi mata rantai dari the crisis of demand, runtuhnya companies, real economy, sektor riil, yang diikuti dengan gelombang unemployment. Oleh karena itu solusinya adalah, saya hadir dalam dua kali pertemuan puncak G-20, pertama kali di Washington, yang kedua kemarin di London. Di Washington kita mengidentifikasi bersama apa yang menyebabkan ini, apa tindakan global, apa tindakan regional, berapa banyak cost-nya, apa saja, perbankan kita mau diapakan, trade and investment mau diapakan, dan sebagainya. Di London, kita sudah fokus. Alhamdulillah kita mencapai kesepakatan yang penting, yang bersejarah karena tanpa itu krisis akan berjalan lebih panjang lagi.
Saudara juga mengikuti bahwa di London, kita sepakat melaksanakan countercyclical measures. Dilawan krisis dari demand ini. Kita juga mengeluarkan stimulus, kita ini dunia. Saudara tahu jumlahnya? Lima triliun dolar Amerika Serikat. Itu setara dengan Rp 60 ribu triliun, 60 tahun APBN kita dengan harga konstan sekarang gitu. Stimulus. That’s big.
Kita sepakat di London, real economy, trade, and investment jangan dibikin berhenti, jangan masing-masing mengembangkan proteksionisme agar mengalir lagi. Kalau kita bisa dagang lagi di Amerika, di Eropa, di Jepang, di Cina, di Asia, sektor riil perusahaan jalan lagi, pekerja tidak harus PHK. Jadi it’s very connected to the global economy. Meskipun kita setengah mati siang dan malam, kalau tidak bergerak itu pasar dunia, tidak bisa. Jadi supaya Saudara ketahui, kita juga berjuang, Menteri Keuangan mondar-mandir ke sana kemari, Gubernur Bank Indonesia mondar-mandir kesana kemari, para Menteri, Menteri Perdagangan, dan lain-lain untuk itu. Supaya ada solusi global, kita bagian dari solusi global itu.
Di London kita juga bersepakat, enggak mungkin ada stabilisasi keuangan kalau kapitalnya keluar semua. Saudara tahu, karena krisis US$ 500 billion itu keluar dari negara-negara berkembang ke negara maju. Yang masuk hanya 100 billion, seperlimanya saja. Oleh karena itu kita sepakat, likuiditas harus kita alirkan, bank lending harus terjadi lagi, dan juga capital outflow dengan capital inflow harus dibikin lebih seimbang. Itu bukan hanya komitmen, itu adalah pledge yang dijalankan sekarang di seluruh dunia dari pertemuan puncak di London atau di G-20 Summit yang beberapa saat yang lalu dilaksanakan. Sasarannya akhir tahun 2010 diharapkan resesi sudah berakhir atau sudah mulai bangkit kembali pada tahun 2011.
Saya sampaikan supaya kita mengerti konteks dan bersama-sama nanti kita melangkah untuk menyelamatkan perekonomian kita, dengan membangun kerja sama dengan negara-negara sahabat dan masyarakat dunia itu. Sekarang, bagaimana negeri kita? Saya berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada semua dunia usaha, serikat pekerja, semua pihak yang sejak tahun lalu, sebenarnya mulai Agustus tahun lalu berarti sudah berapa bulan ini, sudah delapan bulan kita bersama-sama. Diam-diam, meskipun saya tidak terlalu sering bicara di luar, kita menjalankan manajemen krisis, crisis-actions management. Harus. Kalau business as usual, takutnya kita terdada, takutnya kita terlambat. Tetapi kalau terlalu sering saya ngomong di luar, nanti malah panik, “Ada apa?” Begitu. Biar kita kelola dengan cara-cara itu, tetapi masyarakat diminta tenang.
Sudara-saudara,
Bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, terima kasih kepada semua, dibandingkan dengan negara-negara lain, negara kita justru dianggap bisa meminimalkan dampak itu. Saya tidak mengatakan baik-baik semua, tidak. Investasi menurun, ekspor kita menurun, ada persoalan dengan balance of payment, ada pergerakan nilai tukar, ada pergerakan nilai saham, ada masalah track financing, dan sebagainya. But mereka menganggap Indonesia itu kompeten. Saya tidak mengubah bahasanya. Dianggapnya so far so good.
Triwulan pertama, angkanya akan segera keluar, tapi prediksi kita mencapai 4,6 sampai 4,8%. Organisasi internasional meramalkan 3%. Alhamdulillah, 4 sekian. Andaikata Indonesia sampai akhir tahun bisa dengan usaha kita bersama mencapai 4,5% atau sekitar itu, itu capaian yang luar biasa karena India yang tadinya 8% akan turun menjadi 5%, China yang tadinya 10-11%, akan turun menjadi 6%, begitu. Yang lainnya minus. Ada 1%, 2%. Menurut saya, ini buah dari kerja sama kita tapi karena krisis belum selesai, badai belum berlalu, kalau ini tidak kita jaga, bisa memburuk. Tapi kalau kita jaga bersama-sama sampai akhir tahun, kita bisa mencapai bahkan bisa lebih baik dari yang menjadi sasaran kita.
Dan untuk mencapai itu, mengatasi permasalahan sosial, permasalahan ekonomi, saya sampaikan kepada Saudara anggota LKS Tripartit Nasional, tujuh prioritas, tujuh sasaran kita terutama 2009-2010 siapapun nanti presiden dan pemerintahan yang akan mengelola, tapi kita berharap dua tahun ini, 2009-2010, itu harus kita lihat dalam satu konteks economic recovery. Judulnya pemulihan ekonomi. Jangan berharap kita tumbuh di atas 6% dulu. Kita pulihkan sebagaimana kondisi sebelum krisis, 6,3% pertumbuhan kita, seperti itu.
Saudara sudah mendengarkan saya berkali-kali menyampaikan, tapi tentu saya ulangi lagi tujuh prioritas. Pertama, mencegah pengangguran atau mengelola manakala pengangguran atau PHK terjadi. Itu pertama. Karena kalau sudah terjadi gelombang pengangguran yang tinggi, maka secara sosial, secara ekonomi, secara politik akan rawan.
Untuk mencapai sasaran satu, masuk sasaran kedua, kita jaga sektor riil. Kita jaga perusahaan-perusahaan yang diharapkan tidak serta merta melakukan PHK itu sejauh mungkin. Cara menjaganya dengan policy incentive.
Yang ketiga, kita ingin mengelola inflasi. Alhamdulillah, inflasi bulan Maret dan April kecil. Bahan makanan turun. Jadi kalau inflasi terjaga, rakyat memiliki kemampuan untuk membeli.
Sasaran yang keempat langsung, kita pelihara daya beli rakyat dengan berbagai scheme. Stimulus pun ada komponen untuk meringankan pajak, komponen subsidi agar daya beli bisa kita pertahankan.
Yang kelima adalah melindungi yang miskin, protecting the poor dengan berbagai policy, berbagai scheme.
Kemudian yang keenam, ingat di atas segalanya, pangan dan energi harus kita jaga ketersediaan dan keterjangkauan harganya.
Dan yang ketujuh, di tengah-tengah beratnya perekonomian global, saya sudah mengatakan tadi, mari kita berusaha untuk menjaga pertumbuhan kita, syukur-syukur bisa mencapai 4,5% sebagai sasaran.
Tujuh-tujuhnya sesungguhnya hampir semuanya terkait erat dengan sektor riil dan sektor tenaga kerja, terkait. Stimulus, stimulus itu untuk apa? Ada yang tidak paham stimulus, terutama pada saat kampanye pemilu legislatif kemarin. Saya harus menjelaskan berkali-kali. Stimulus ini antara lain juga menciptakan lapangan pekerjaan dengan pembangunan infrastruktur. Ada juga menjaga purchasing power. Ada juga yang berkaitan dengan insentif fiskal yang akhirnya diharapkan dunia usaha itu terus bergerak, kembali tidak ada PHK, kembali rakyat mendapatkan kemampuan untuk membeli, dan sebagainya. Jadi semua itu masuk dalam cakupan stimulus package yang telah kita tetapkan, Saudara-saudara.
Fiscal policy sendiri bentangannya luas. Fiscal policy itu tentu akan dinamik, mana yang mesti kita berikan insentif, mana yang tidak perlu untuk tidak menambah buruknya perekonomian kita, dan semuanya itu tentu mengarah kepada tujuan yang benar, konsep yang jelas.
Saudara-saudara,
Dengan cerita tadi itu, saya mengajak mari kita bangun sinergi. Saya tidak suka kalau kita ini membangun karakter hubungan yang konfrontatif. Kalau hubungan kita konfrontatif, yang dicapai kepuasan. “Puaslah sudah menghajar dia.” Yang lain, “Puas sudah saya balas dia.” Masalah tidak selesai. Tapi kalau kooperatif, duduk bersama, kita tahu twin objectives tadi, bagaimana mencarinya di situ dengan win-win solutions.
Kalau konfrontatif, barangkali akan menarik untuk diberitakan oleh Saudara-saudara kita yang di sebelah kanan, teman-teman pers media massa. Wah, tiap hari ada headlines yang menarik begitu, tidak berarti tidak boleh ada headlines. Sekali-sekali muncullah serikat pekerja, muncullah asosiasi usaha, muncullah yang lain-lain tetapi dalam semangat mencari solusi. Mari kita bedakan antara tujuan dengan sarana, tujuan dengan cara, apa tujuannya.
Saudara-saudara,
Mengakhiri sambutan saya ini, dua isu terakhir adalah ini musim pemilu. Selepas KPU mengumumkan hasil pemilu legislatif, kita bersiap-siap untuk memasuki masa pemilihan presiden dan wakil presiden. Politik akan tetap hangat. Mungkin bisa memanas sedikit, tapi sekali lagi, tidak perlu khawatir. Itulah demokrasi. Yang penting, semua tahu batas kepatutannya, semua tahu mana yang masih wajar sebagai sebuah realitas demokrasi, mana yang tidak wajar.
Cuma saya berharap, saya mengajak, saya menghimbau agar dalam dinamika politik yang begini tinggi, dalam masa pemilu ini, marilah kita tetap jaga stabilitas dan keamanan di seluruh tanah air. Kalau keamanan yang gonjang ganjing, apalagi terjadi huru-hara, kerusuhan-kerusuhan, ingat 1998 dulu, 1999, banyak perusahaan-perusahaan yang tutup. Multinational corporation cabut, dunia usaha tidak bergerak, ekonomi tidak bergerak, yang terjadi PHK baik langsung maupun tidak langsung, baik nyata atau tidak nyata, yang terpukul rakyat, grass root. Itulah yang kita jaga. Jadi kalau saya mengajak, marilah kita pelihara stabilitas dan keamanan, saya tuh bukan hanya latah. Saya memikirkan yang paling dalam, belajar dari pengalaman sepuluh sebelas tahun yang lalu.
Betapa saya tidak berterima kasih kepada rakyat, Saudara-saudara, kampanye kemarin kan bagus di seluruh Indonesia. Tidak ada benturan, tidak ada insiden, semua rapat umum pada hakikatnya berjalan relatif tertib. Bangga kita kepada rakyat kita. Padahal, di negara lain suka ada benturan-benturan. dulu di waktu yang lalu, masih ada insiden-insiden. Alhamdulillah, sekarang ini seperti itu. Rakyat kita makin dewasa, makin matang, makin arif di dalam berpolitik.
Mari kita jaga seperti ini. Mari kita jaga supaya sampai akhir pemilu 2009 ini terkelola sehingga langkah-langkah memulihkan perekonomian kita, bisa kita lakukan, tugas-tugas pemerintahan umum bisa kita lakukan, pelayanan kepada rakyat juga bisa kita lakukan dengan baik. Itu yang menjadi harapan kita semua, saya kira juga menjadi harapan Bapak-Ibu sekalian karena Bapak mewakili 3,4 juta pekerja, sekian konfederasi, sekian federasi. Jajarannya Pak Sofyan Wanandi mewakili 4450 perusahaan. Berapa itu asetnya? Big. Jadi di tangan Bapak dalam sinergi Tripartit ini, akan berbuah kepada bagaimana dunia usaha bergerak, bagaimana dunia ketenagakerjaan bisa berjalan dengan baik. Besar sekali tanggung jawab dan peran Saudara-saudara.
Yang terakhir, untuk melengkapi sambutan saya, ada saudara-saudara kita yang bekerja di luar negeri, di Timur Tengah, di Malaysia, di Korea Selatan, di Hongkong, dan di negara-negara lain. Kami juga terus bekerja dan bergerak untuk itu. Tidak kurang secara pribadi, saya berkomunikasi dengan pimpinan Malaysia, pimpinan Korea Selatan, pimpinan beberapa negara Timur Tengah. Saya minta tolong, saya minta tolong sejauh mungkin saudara-saudara kami yang ada di sana bisa bekerja. Kalau sementara menunggu seminggu, dua minggu untuk new job, saya minta bisa diberikan kesempatan itu.
Para duta besar juga kita minta untuk terus melindungi, membantu, mengamankan mereka-mereka itu. Dan dibandingkan dengan magnitude krisis di negara-negara itu, yang masih bertahan banyak sekali. Angkanya yang kembali kecil sekali menurut statistik yang ada. Saya ingin ini juga tidak menambah komplikasi di dalam negeri. Inilah diplomasi kita, inilah upaya kita. Dengan demikian, terjadi suasana yang baik meskipun semua mengalami krisis.
Saya pernah mendapat laporan dari Pak Erman Suparno ketika saya dengar, salah satu multinational corporation akan mem-PHK-kan karyawannya, pekerjanya dalam jumlah yang besar, tolong sampaikan kepada perusahaan itu, sudah lama bekerja di Indonesia, sudah banyak keuntungan yang diperoleh, pada keadaan krisis janganlah begitu saja. Alhamdulillah, yang bersangkutan bisa mendengarkan dan tidak terjadi gelombang PHK yang kita takutkan. Ya begitulah. Jadi bukan datang ke Indonesia meskipun datangnya sudah lama, ada yang sejak Bung Karno, ada sejak yang Pak Harto, tapi tetap sekarang menjadi bagian dari perekonomian kita, mesti bertenggang rasa, masih mesti harus memikirkan Indonesia yang juga mengalami krisis. Semua langkah kita lakukan, ini amanah pemerintah, ini amanah kita semua untuk bersama-sama memelihara perekonomian kita di tengah badai krisis ini.
Itulah, Saudara-saudara, yang ingin saya sampaikan dan sekali lagi saya ucapkan selamat bertugas, selamat bekerja. Sebentar lagi akan ada Hari Buruh 1 Mei. Rayakan dengan baik. Saya tahu biasanya internasional itu ada, “Ini upah, kondisi kerja” Silakan dalam batas-batas yang patut dan tanpa mengganggu stabilitas politik dan keamanan. Karena di situlah, saya kira setahun sekali ada ekspresi, dan dalam demorasi diniscayakan ekspresi seperti itu. Yang penting yang kita cari adalah solusi, solusi bersama untuk mengatasi permasalahan ketenagakerjaan.
Tadi ada permintaan dari Pak Erman Suparno untuk audiensi dengan Tripartit, Provinsi, Kabupaten, dan Kota. Silakan diacarakan. Dicocokkan harinya dengan Pak Hatta atau Pak Sudi supaya saya bisa hadir. DPR silahkan, Bapak.
Sebetulnya DPR dengan pemerintah itu tidak konfrontatif, tapi juga DPR mengkritisi pemerintah to ensure policy kita benar, undang-undang yang akan kita lahirkan juga benar. DPR punya inisiatif, kita membahasnya bersama untuk memastikan undang-undang juga benar. Jadi, saya tidak melihat harus bermusuhan, dan tidak begitu sistem kenegaraan yang kita anut, sistem kabinet presidensial. Silakan dengan DPR sampaikan, Bapak Erman Suparno, perlunya sinergi di antara kita semua.
Sekian. Selamat bertugas. Tuhan beserta kita
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



