Pidato Presiden

Sambutan Peringatan Hari Suci Waisak 2553

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA PERINGATAN HARI SUCI WAISAK 2553
DAN ACARA PAGELARAN KESENIAN TRAILS OF CIVILIZATION
CANDI BOROBUDUR, MAGELANG
9 MEI 2009


Bismillahirrahmanirrahim,

Yang saya hormati Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Para Menteri Kebudayaan dan Pariwisata dari negara-negara sahabat,
Para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
Yang Mulia Para Duta Besar negara-negara sahabat untuk Indonesia, dan Para Duta Besar Indonesia untuk negara-negara sahabat,
Yang saya hormati Saudara Gubernur Jawa Tengah dan Para Pimpinan dan Pejabat Negara yang bertugas di Jawa Tengah baik dari unsur eksekutif, legislatif, dan yudikatif, maupun TNI dan Polri,
Saudari Ketua Umum Panitia Waisak 2553,
Yang saya muliakan Para Pemuka Agama Buddha dan Para Pemuka Agama-agama yang lain,
Saudara-saudara umat Buddha di seluruh pelosok tanah air yang saya cintai,

Hadirin yang saya muliakan,
Nammo Buddhaya,

Marilah sekali lagi, bersama-sama kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Atas rahmat dan karunia-Nya, kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas, dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa dan negara, bahkan untuk tujuan peningkatan harkat kemanusian di seluruh dunia.

Kita juga bersyukur pada malam hari ini dapat berkumpul bersama-sama di pelataran Candi Borobudur yang agung, bersejarah, dan indah ini dalam rangka memperingati Hari Suci Waisak Tahun 2553. Pada kesempatan yang membahagiakan ini, saya ingin menyampaikan selamat dan salam hormat kepada umat Buddha di seluruh Indonesia. Berbahagialah di hari Suci Waisak ini, hari yang disucikan dan dimuliakan oleh seluruh umat Buddha di dunia. Semoga perayaan Hari Suci Waisak tahun ini dapat membawa ketenteraman, kebahagiaan, dan kedamaian tidak saja bagi umat Buddha, tetapi juga bagi umat manusia seluruhnya.

Rasa syukur yang lain adalah, pada malam yang indah, ini kita akan bersama-sama menyaksikan pagelaran seni Jejak-Jejak Peradaban (Trails of Civilization) tentang perjalanan Sang Buddha, yang merupakan rangkaian dari peringatan Hari Suci Waisak kali ini.

Peringatan Hari Suci Waisak tahun ini terasa sungguh istimewa karena dihadiri oleh saudara-saudara umat Buddha dari negara-negara sahabat seperti dari Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand dan Vietnam. Kepada Saudara-saudara umat Buddha dari negara-negara sahabat yang hadir pada malam ini, dan juga yang akan memeriahkan pagelaran seni Trails of Civilization, saya ucapkan selamat datang dan selamat merayakan Hari Suci Waisak bersama umat Budha di Indonesia. Kehadiran Saudara-saudara menunjukkan eratnya jalinan persaudaraan, kebersamaan, kerukunan, dan kesetiakawanan di antara umat Buddha di dunia.

Hadirin yang saya muliakan,
Peringatan Waisak tahun ini mengangkat tema “Bersama Buddha Dharma, Kita Tingkatkan Keharmonisan Bagi Nusa dan Bangsa”, dengan sub tema ”Hikmah Waisak Membawa Kedamaian bagi Bangsa dan Negara”. Saya menilai tema dan sub tema ini memiliki makna yang sangat dalam. Namun saya ulangi, tidak hanya bagi umat Buddha di tanah air, namun juga bagi bangsa Indonesia yang sedang giat membangun untuk menuju ke kehidupan yang lebih aman, lebih adil, lebih demokratis, dan lebih sejahtera.

Bangsa kita dibangun dari beragam suku, adat istiadat, etnis, dan agama. Oleh karena itu, mutlak diperlukan adanya keharmonisan dan kedamaian yang kokoh dan abadi. Di tengah berbagai tantangan global yang dihadapi bangsa kita saat ini yang semakin tidak ringan dan semakin kompleks, peningkatan kerukunan beragama, berbangsa, dan bernegara menjadi semakin penting. Oleh karena itu, saya berharap tema Waisak tahun ini dapat diwujudkan oleh segenap umat Buddha di tanah air, dan menjadi inspirasi serta pendorong bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Saudara-saudara umat Buddha yang berbahagia,
Perayaan Hari Suci Waisak tahun ini tentu menjadi momentum bagi umat Buddha untuk merenungkan kembali nilai-nilai luhur ajaran Sang Budha. Sidharta Buddha Gautama telah mengajarkan dharma yang berisi nilai-nilai universal, falsafah kehidupan yang mendalam, serta pencerahan tentang hakikat, dan makna kehidupan umat Buddha yang sejati. Buddha Gautama juga telah menunjukkan keteladanan kepada umatnya dalam menyempurnakan kebajikan, serta tidak pernah menyerah pada hawa nafsu dan godaan duniawi, sehingga tercapainya kebuddhaan.

Dengan memegang teguh dharma itu, umat Buddha akan dapat memahami makna hidup yang sesungguhnya. Makna hidup yang mencapai taraf percerahan batin tertinggi, sebagaimana dicontohkan oleh Buddha Gautama. Pencerahan tentang kehidupan yang menyejukkan, yang mengajak semua orang untuk berbuat kebajikan, dan senantiasa peduli kepada penderitaan sesama umat manusia.

Tentu saja, manusia yang memperoleh pencerahan batin, akan sungguh memahami etika dan norma dalam menjalani kehidupannya. Hati nurani yang telah tercerahkan akan sanggup membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Batin yang bersih akan membuat manusia mampu mengenda-likan hawa nafsu, yang senantiasa mendorong manusia melakukan kejahatan dan perbuatan angkara murka.

Hadirin yang saya hormati,
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita pun harus senantiasa bertumpu pada nilai-nilai luhur bangsa kita. Bangsa yang menganut nilai-nilai spiritual. Bangsa yang saling mengasihi, menghormati, dan penuh toleransi. Bangsa yang mampu meraih masa depan yang maju dan bermartabat, dengan kemandirian, daya saing, dan peradaban yang mulia.

Nilai-nilai universal dari dharma Sang Buddha seperti saya katakan tadi, sungguh penting artinya bagi kita semua dalam membangun bangsa yang maju dan sejahtera. Membangun sebuah bangsa yang maju, bermartabat, dan sejahtera tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Diperlukan perjuangan dan pengorbanan dalam menempuh berbagai ujian dan cobaan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Buddha Gautama.

Hadirin yang saya muliakan,
Tiga tahun lalu, pada tahun 2006, di pelataran Candi Borobudur ini, kita bersama-sama negara Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam telah mencanangkan Deklarasi Borobudur, sebuah deklarasi untuk memperkuat kerjasama dalam melestarikan warisan peradaban, sekaligus menjaga perdamaian dan persahabatan antar bangsa. Kita sepakat untuk merevitalisasi warisan budaya monumental dan spiritual, serta mempromosikan nilai-nilai peradaban melalui pelestarian wisata budaya yang bertajuk ”Jejak-Jejak Peradaban” (Trails of Civilization).

Kita bersyukur, Deklarasi Borobudur yang kita canangkan tiga tahun lalu telah semakin menumbuhkan proses kreatif dalam bentuk kesenian, tradisi, dan budaya yang bernuansa religius. Deklarasi ini juga telah semakin merekatkan harmoni dan kehidupan antar bangsa di Asia Tenggara.

Malam ini, kita akan menyaksikan wujud kreativitas itu melalui pagelaran kesenian Trails of Civilization yang bertema ”Hukum Kasunyatan Tilakkhana, Anicca, Dukkha, Anatta”. Sebuah pagelaran seni yang memiliki nilai-nilai kebudayaan, peradaban, spiritualitas, dan semangat kebersamaan di antara umat Buddha di kawasan ASEAN. Sebagaimana yang diuraikan oleh Saudari Ketua Panitia tadi, pesan moral yang diangkat pada pagelaran seni ini merupakan pencerahan batin bagi kita semua, untuk selalu berbuat kebajikan dan meningkatkan kepedulian kepada sesama umat manusia.

Segenap umat Buddha yang berbahagia,
Hadirin yang saya muliakan,
Mengakhiri sambutan ini, sekali lagi saya mengajak umat Buddha di seluruh tanah air untuk menjadikan peringatan hari suci Waisak tahun ini sebagai momentum dalam membangun nilai-nilai luhur bangsa yang moderat, toleran, dan senantiasa menghormati kemajemukan. Demikianlah pesan, harapan, dan ajakan saya pada kesempatan yang membahagiakan ini untuk kita laksanakan bersama.

Kepada umat Buddha di seluruh pelosok tanah air, sekali lagi saya ucapkan selamat merayakan Hari Suci Waisak 2553. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kecerahan hati dan kejernihan pikiran kepada segenap umat Buddha di hari yang amat dimuliakan ini, juga kepada kita semua dalam membangun hari esok yang lebih cerah dan lebih baik.

Sekian dan terima kasih.



*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan