Pidato Presiden

Sambutan Usai Paparan Mengenai Penyelesaian Jembatan Suramadu

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
SEUSAI
MENDENGAR PEMAPARAN MENTERI PEKERJAAN UMUM MENGENAI PENYELESAIAN JEMBATAN SURAMADU
SURABAYA, 22 MEI 2009



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,

Saudara Menteri Pekerjaan Umum dan hadirin sekalian yang saya cintai, Alhamdulilah, hari ini, kita dapat bersama-sama di tempat ini untuk melihat kesiapan akhir jembatan Suramadu, sebuah proyek besar yang alhamdulillah akan segera kita resmikan penggunaannya. Saya perlu meninjau langsung kesiapan dari jembatan ini, mengingat nilai dan arti strategis dari jembatan ini, mengingat pula besarnya anggaran yang dikeluarkan, termasuk kerumitan dan kecanggihan teknologi yang diperlukan untuk membangun sebuah jembatan raksasa, yang insya Allah juga akan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.

Dua hari yang lalu, baru saja kita memperingati 101 tahun Kebangkitan Nasional. Setahun yang lalu, 20 Mei 2008, kita baru saja memperingati satu abad Kebangkitan Nasional itu. Dalam pidato saya tahun lalu, saya ingatkan berkali-kali kepada Saudara dan kepada seluruh rakyat Indonesia dengan persatuan, kebersamaan dan kerja keras kita semua, seluruh rakyat Indonesia, seraya dengan memohon ridho Allah SWT, bangsa kita di abad 21 ini bisa menjadi bangsa yang maju, yang bermartabat, dan yang sejahtera, dengan syarat kita perkokoh tiga pilar kehidupan bangsa yang amat fundamental. Saya ulangi lagi, kita harus meningkatkan kemandirian. Yang kedua, kita juga harus meningkatkan daya saing, competitiveness. Dan yang ketiga, untuk menjadi bangsa yang besar, bangsa kita mesti terus membangun peradaban, bangsa yang unggul, civilization. Proses besar itu tengah berlangsung, bukan hanya mulai sekarang, bukan hanya sepuluh, duapuluh tahun yang lalu, tetapi sudah mulai dilakukan oleh para pendahulu kita, para founding father sejak 101 tahun yang lalu itu.

Saya ingin ceritakan sedikit 20 Mei tahun ini, kita juga mencetak lompatan sejarah baru. Dulu Presiden pertama kita, Bung Karno mengenalkan teknologi informasi, yaitu berupa televisi, meskipun masih hitam putih di awal tahun 60- an. Itu sering saya katakan teknologi informasi atau revolusi teknologi informasi gelombang pertama untuk Indonesia.

Presiden kedua kita, Pak Harto meluncurkan satelit pada tahun 1976 yang mengubah tentunya wajah dari media kita, terutama teknologi informasi dengan diluncurkannya Satelit Palapa.

Kemarin tanggal 20 Mei, pada era kita, alhamdulillah kita meletakkan tonggak baru lagi, kita telah meluncurkan televisi digital yang berlaku di negeri kita yang dilakukan oleh konsorsium berbagai televisi, termasuk TVRI dan Telkom. Ini menandai revolusi teknologi informasi gelombang ketiga untuk Indonesia.

Dan bukan hanya itu tanggal 20 Mei pula, Saudara ingat Bung Karno meletakkan satu landmark pada zamannya, sangat mengemuka Hotel Indonesia di depannya ada air mancur. Salah satu heritage, warisan sejarah, karena dinamika dan perkembangan zaman, perkembangan Kota Jakarta yang sangat pesat, landmark itu tertutup dibandingkan yang lain, maka kita lakukan renovasi, kita lakukan revitalisasi, dan alhamdulillah telah saya resmikan juga kemarin sebagai satu landmark baru di wilayah itu, tidak mengubah apapun nilai historisnya, nilai warisannya. Tetapi menjadi lebih klop dan akan menjadi center pertumbuhan baru di bidang usaha, rekreasi, ekonomi kreatif dan sebagainya.

Mengapa itu saya ceritakan Saudara-saudara? Saya ingin bangsa kita terus bangkit dan terus maju ke depan, siapapun nanti yang akan memimpin negeri kita ini, pengganti-pengganti saya di kelak kemudian hari kelanjutan dari pemimpin bangsa sejak Bung Karno, Pemerintah manapun, Gubernur siapapun nanti, Walikota, Bupati, semua, Pimpinan Perguruan Tinggi, jajaran kontraktor, pengembang, semua memiliki misi yang mulia untuk terus membawa bangsa dan negara kita menuju masa kejayaan di waktu yang akan datang. Apakah bisa? Insya Allah bisa.

Sekarang saja dunia menghadapi krisis ekonomi yang luar biasa, negara kita dalam batas-batas tertentu justru berhasil meminimalkan dampak itu dan diakui oleh banyak negara. Bahkan ketika ekonomi dunia tumbuh negatif, negara-negara maju rontok ekonominya tumbuh minus sekian, termasuk Singapura, hanya sedikit negara yang tumbuh positif dan yang menonjol tiga negara China, India dan Indonesia.

Yang ingin saya sampaikan adalah kalau kita bekerja bersama-sama, berikhtiar bersama-sama, bisa mengatasi semuanya itu. Saya ingin kembali melihat apa makna dari jembatan ini dan apa tugas ke depan kita, ke depan nanti, setelah jembatan ini Insya Allah bisa kita resmikan penggunaannya pada tanggal 10 Juni mendatang.

Coba ditayangkan kembali peta Indonesia. Ya seolah-olah kita hanya bicara di sini, seolah-olah hanya jembatan yang menghubungkan Surabaya dengan Bangkalan. Oke dilebarkan sedikit, tadi disebut Gerbang Kertasusila, ada usulan Germa, Gresik-Madura katanya. Jangan germo ya, kalau Germa boleh. Oke kata Gresik, Madura, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan. Tetapi juga sesungguhnya lebih dari itu, Jawa Timur sebagai sentra pertumbuhan perekonomi di negeri ini. Bukan hanya itu, Jawa sebetulnya menjadi satu unique economy yang akan tumbuh ke depan. Bukan hanya Jawa, a whole nation, Indonesia menjadi bagian dari pertumbuhan kawasan Asia Timur ketika krisis sekarang melanda, dunia melihat, mengintip masa depan sangat bisa kawasan Indonesia, Asia Timur mulai dari Jepang, Korea, China, Taiwan, ASEAN, Indonesia, Australia, New Zaeland, termasuk kawasan di sebelah timur itu menjadi new economic growth pada tingkat global, pada tingkat regional. Jadi maknailah apa yang kita bangun di tempat ini, part of wilayah yang lebih besar lagi, jauh lebih besar lagi dari pengembangan ekonomi, pengembangan peradaban di waktu yang akan datang 10, 20, 30 sampai 50 tahun ke depan abad 21.

Yang ingin saya sampaikan adalah saya mengajak Saudara, di sini juga hadir para rektor ya, mari kita berpikir bersama, tapi juga berkarya besar agar menjadi bangsa yang pesat, jangan tanggung-tanggung. Memang untuk mewujudkan ide yang besar diperlukan waktu, diperlukan resources, diperlukan tekat, tetapi mestilah berangkat dari pikiran-pikiran itu. Jangan kita menjadi penonton dari globalisasi, jangan kita menjadi penonton dari kebangkitan Asia pasca resesi perekonomian global sekarang ini.

Yang ingin saya sampaikan adalah begitu kawasan ini tumbuh, maka namanya perekonomian akan tumbuh pesat, usaha komunikasi, telekomunikasi, perikanan, kelautan, wisata, industri, ekspor, impor sesuai dengan geoekonomi yang ada di sini akan menjadi kawasan yang sangat dynamic, sangat dinamis. Mari jemput bola, jangan jadi penonton. Negara kita saya bayangkan 10, 20, 30 tahun lagi akan ada restructuring dalam tata perekonomian nasional. Jawa ini, sekarang dengan Suramadu dibangun, Madura menjadi satu entity, itu nanti akan mejadi satu zona perekonomian, seolah-olah one economic zone, dan di situ yang mengemuka adalah jasa, services, di tahun baru industri, baru sedikit pertanian. Tidak bisa dibayangkan di Jawa ini, kita berharap dari agriculture meskipun sekarang masih. Akan makin ke depan makin ke depan akan makin muncul pengembangan ekonomi jasa, termasuk jasa perhubungan, jasa telekomunikasi, jasa minyak dan gas atau energi jasa yang lain, wisata dan sebagainya.

Oleh karena itu, kalau terbentuk nanti Badan Pengembangan Wilayah Suramadu tadi, maka pikirkan betul, bagaimana Madura menjadi satu kawasan yang tumbuh ke depan dari segi services, sangat strategic, sangat memungkinkan. Ubah Germa Kertasusila tadi dan Jawa timur, pikirkan seperti apa ekonomi kreatifnya, ekonomi wisatanya, ekonomi jasanya. Kembangkan semua, jangan lihat hanya yang rutin-rutin saja, berpikir melangkah ke depan, melompat ke depan 10, 20, 30 tahun dari sekarang, pikirkan. Oleh karena itu, segera ajukan ke saya, segera saya putuskan. Tetapi saya ingin leadership dari badan ini, juga mereka yang memahami manajemen, mereka yang memahami good governance, mereka yang punya pikiran usaha perekonomian, tapi juga ajak tokoh Jawa Timur, tokoh Madura di situ yang mengerti permasalahan sosial, budaya, agama dan sebagainya, sehingga menjadi suatu entity yang mewakili semuanya, tapi juga bisa melakukan pekerjaan yang betul betul profesional, itu. Seperti BRR Aceh dipuji oleh dunia, dunia memuji Badan Penanganan Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Aceh, professional, clean, tapi juga memiliki pikiran-pikiran yang menjangkau. Saya ingin seperti itu, berkelas, profesional, jangan main bisnis sendiri, tugasnya mempersiapkan, mengembangkan wilayah, berikan yang lain untuk berbisnis yang benar. Dekat dengan Gubernur, dekat dengan para Bupati, Walikota, sehingga mereka semua menjadi satu keluarga besar, jangan seolah-olah bersaing, jangan seolah-olah entity tersendiri.

Setelah itu pikirkan rencana berikutnya lagi untuk pengembangan yang saya sampaikan tadi. Saya ingin berubah, Madura di waktu yang akan datang kearah kebaikan. Nilai yang khas, masyarakat yang religius jangan dirusak, jangan diganggu dengan modernisasi ini, pertahankan. Oleh Karena itu, saya setuju dengan usulan dari Pemerintah Daerah, nanti tanggal 10 Juni, ketika saya meresmikan ini, barangkali sekaliguskan dengan meresmikan Islamic Center yang ada di Pamekasan. Kita buktikan, bahwa Pemerintah, kita semua menghormati nilai-nilai keagamaan, budaya, adat dari Madura yang tidak boleh kita ganggu, tetapi Madura makin berkembang, membawa kesejahteraan baru, mendatangkan manfaat secara ekonomi maupun secara sosial. Itu tujuan yang harus kita capai dengan apa yang akan kita lakukan ke depan nanti.

Ini yang ingin saya sampaikan konteks besar dari jembatan yang sangat strategis ini. Saya minta nanti kepada Menteri PU, kepada Menteri Seskab, undang Gubernur Lampung dan Gubernur Banten pada saat peresmian ini, supaya nanti ide kita untuk membikin jembatan Selat Sunda barangkali diperlukan waktu 10 tahun konstruksi, diperlukan juga untuk membikin feasibility study, blue print, masterplan setahun, dua tahun, tiga tahun, mungkin perlu waktu 15 tahun. Teapi perlu kita pikirkan, agar ini mejadi satu zona pengembangan yang lebih hidup lagi. Saya memang diminta untuk merestui pembuatan jembatan dari Riau ke Malaysia. Tapi saya katakan, ini dulu, berkembang dulu tanah air kita, kemudian baru kita pikirkan bagaimana pengembangan menyatukan kita dengan daratan Asia. Semua itu kalau membawa manfaat, jelas tujuannya, generasi yang akan datang, anak cucu kita mendapatkan nilai guna yang tinggi, berarti ide yang baik, tentu perhatikan lingkungan, perhatikan kecocokannya, studi kelayakan yang benar dan sebagainya.

Saudara-saudara,
Pesan saya apabila telah kita resmikan nanti gunakan dengan baik, ciptakan nilai tambah yang berlipat-lipat dari ini, bukan hanya menjadi tujuan ini, ini sarana, average untuk pengembangan yang lebih tinggi lagi baik untuk kawasan di daratan Jawa timur maupun di Madura yang Insya Allah akan menjadi satu. Silahkan dan saya ucapkan terima kasih kepada jajaran Departemen Pekerjaan Umum, kepada BUMN-BUMN yang telah bekerja keras, berkarya besar, Pemerintah Daerah Jawa Timur dengan jajarannya, para Walikota, para Bupati yang juga ikut mendorong, memberikan fasilitasi, sehingga jembatan ini hampir rampung dan insya Allah dalam waktu dekat akan kita resmikan.

Itulah yang ingin saya sampaikan Saudara-saudara. Saya tunggu ide besar Saudara, ide besar Jawa Timur, ide besar dari Badan Pengembangan Wilayah Suramadu tadi, agar benar-benar apa yang kita lakukan ke depan membawa manfaat yang setinggi-tingginya kepada bukan hanya masyarakat Madura, masyarakat Jawa Timur, tetapi juga keseluruhan Bangsa Indonesia.

Terima kasih pula kepada Pak Imam Hutomo yang dulu juga bekerja keras. Ini hampir terhambat, Saudara masih ingat ketika saya memimpin rapat di Probolinggo dulu, kita putuskan apa hambatan, ini, itu, ini, itu. Solusinya apa? Kita putuskan, laksanakan ini, mari kita tingkatkan, alhamdulillah rampung. Kalau tidak rampung, kan berhutang kita yang mestinya bisa rampung. Oleh karena itu sekali lagi, terimalah ucapan terima kasih dan pengharagaan saya. Kalau ada prestasi, prestasi kita bersama, bukan hanya satu, dua orang. Kalau ada kekurangan, mari kita perbaiki bersama, jangan seperti teori sepak bola. Tahu saudara? Tapi sepak bola jaman dulu, tim yang kalahan itu begini, kalau bola itu masuk, ”Wah itu tadi saya, kalau nggak saya oper nggak mungkin.” ”Oh bukan coba kalau saya pelan-pelan ngambil bolanya nggak bisa.” ”Nggak dong karena saya pakai apa tadi, ya tapikan kalau ngga saya kasih kesempatan untuk gelandang masuk kan ngga bisa.” Semua saya, saya, saya, kalau bolanya masuk. Begitu bolanya out, ”Kamu sih kurang cepet, kamu terlalu tinggi melambungnya, kamu tadi ngasih.” Saling menyalahkan, jangan, jangan. Itu rakyat sedih kalau dengar itu. Kalau ada masalah, kita selesaikan secara bersama, berhasil alhamdulillah, kerja kita bersama ya. Pemimpin tidak boleh, ketika ada keberhasilan saya, saya, saya. Begitu ada masalah kok dia, dia, dia, jangan ini karakter, ini kepribadian, mari begitu Saudara- saudara. Oleh karena itu sekali lagi, terimalah terima kasih saya kepada semua. Saya tahu inipun tidak tidur pasti itu, pagi-pagi banyak cangkir-cangkir kopi di karena mungkin sambil menahan kantuk. Tapi Allah Maha Besar mencatat semua yang dilaksanakan oleh Saudara semua. Sampaikan terima kasih dan salam saya juga kepada semua, anak-anak di lapangan dan keluarganya.

Sekian Saudara-saudara. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan