Pidato Presiden

Pengarahan Acara Silaturahmi dengan Jam`iah Islamiah

 

TRANSKRIPSI
PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILATURAHMI DENGAN JAMI’AH ISLAMIYAH
PURI CIKEAS, BOGOR, JAWA BARAT
25 MEI 2009



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirahmanirahim,
Alhamdulillahirabil alamin,
Assalatu wassalamu alas asrofil ambiyai wal mursalin wa maulana Muhammadin wa alaa alihi wasahbihi ajmain amma ba’du,


Yang saya hormati Saudara Menteri Agama Republik Indonesia dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati Saudara Profesor DR. Boediono,
Yang saya cintai dan saya muliakan para Sesepuh Tarbiyah Islamiyah,
Hadir Pak Azwar Annas dan Ibu Sulasikin Murpratomo dan para Sesepuh yang lain,
Yang saya hormati Saudara Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Tarbiyah Islamiyah Bapak Basri Bermanda, para Ulama, para Pimpinan Pondok Pesantren, para Pengurus Tarbiyah Islamiyah, baik pusat maupun daerah,

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak para Ibu, hadirin, hadirat sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena kita semua masih mendapatkan nikmat kesempatan, nikmat kekuatan, dan semoga nikmat kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada umat, kepada masyarakat, serta kepada bangsa dan negara.

Kita juga wajib bersyukur ke hadirat Allah, karena hari ini kita dapat ber-silaturrahim dan bertatap muka di Pendopo Cikeas ini. Bapak, Ibu, Pendopo ini kalau di televisi kelihatannya besar sekali, yang ini tidak besar, tapi mudah-mudahan cukup indah dan asri, karena ada pohon-pohonan yang hijau dan bunga-bungaan yang bisa memberikan keteduhan bagi hati dan pikiran kita semua.

Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Saya dengan seksama mendengar tadi ikrar dari Keluarga Besar Tarbiyah Islamiyah, yang intinya memberikan doa restu dan dukungan kepada saya bersama Profesor Budiyono untuk ikut berkompetisi pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden untuk periode masa bakti pemerintahan 2009-2014. Mewakili Pak Boediono, kami berdua saya dan Pak Boediono tiada lain hanya bersyukur ke hadirat Allah atas doa restu dan dukungan tadi dan mengucapkan terima kasih, hormat kami, dan penghargaan yang setinggi-tingginya, semoga Allah SWT memberikan ridho-Nya, memberikan jalan bagi perjuangan kami dan perjuangan kita semua menuju hari esok yang lebih baik, dan kami berhasil dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada tahun 2009 ini.

Terus terang Bapak, Ibu yang saya muliakan, memimpin negara adalah amanah dan tugas yang tidak ringan. Saya telah mengalami hampir 5 tahun ini, banyak cobaan, tantangan, dan rintangan yang kami hadapi. Namun karena kami juga tahu, saya tahu, bahwa tugas dan amanah ini adalah mulia untuk membangun hari esok yang lebih baik, maka seberat apapun Insya Allah, kalau saya terpilih kembali bersama Profesor Boediono, maka amanah dan tugas yang mulia ini akan kami lanjutkan demi kepentingan bangsa dan negara.

Oleh karena itu, menyadari betapa tidak mudahnya membangun masa depan bangsa di tengah-tengah tantangan dan ujian yang datang silih berganti, terutama dewasa ini, karena krisis perekonomian global yang sangat berpengaruh kepada semua negara, termasuk negara kita. Oleh karena itu, saya memang tidak ingin banyak berjanji. Saya tidak ingin terlalu banyak memberikan angin surga, karena itu tidak baik bagi rakyat, seolah-olah bisa melakukan apa saja, apalagi hanya dalam waktu 5 tahun mendatang, seolah-olah semuanya bisa diubah seketika. Tapi meskipun kami tidak banyak berjanji, Insya Allah seberat apapun tugas itu, sebesar apapun halangan dan tantangan itu, untuk bangsa dan negara, dan untuk rakyat kita, kami akan hadapi dan akan kami atasi untuk membangun sekali lagi, kesejahteraan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sekarang memang sedang musim kampanye politik, meskipun sesungguhnya kampanye Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden belum dimulai, tetapi media massa, televisi, koran, majalah, obrolan di warung kopi makin menghangat, kadang-kadang panas. Itulah dinamika politik masa kini. Dan saya memang hemat di dalam memberikan tanggapan-tanggapan, di dalam bereaksi terhadap apa saja yang diangkat pada hari-hari terakhir ini. Sesungguhnya saya menghormati Calon-calon Presiden maupun Calon-calon Wakil Presiden yang lain.

Dengan Ibu Megawati Soekarno Putri misalnya, beberapa saat yang lalu melalui utusan, baik utusan Ibu Megawati maupun utusan saya, kami sepakat untuk memelihara akhlak, memelihara budi pekerti di dalam kompetisi politik sekarang ini. Tidak baik serang-menyerang, hancur-menghancurkan, malu kepada rakyat. Tidak enak kepada mereka dan justru rakyat yang menunjukan kedewasaannya dalam berpolitik.

Dalam Pemilu Legislatif kemarin seluruh Indonesia sepanjang masa kampanye tidak terjadi insiden apapun, tidak terjadi benturan apapun, rakyat makin dewasa. Hormat saya kepada rakyat Indonesia yang bisa menahan diri, bisa bersabar, dan menunjukan perilaku politik yang baik. Malu kalau kita justru yang diharapkan untuk memimpin bangsa dan negara ke depan ini dalam kompetisi kami meninggalkan etika, nilai-nilai, akhlak dan budi pekerti, sebagaimana yang Bapak Basri sampaikan tadi dalam sambutan Beliau.

Dengan Pak Jusuf Kalla, tanggal 24 April kami bersepakat, bahkan berjanji di depan para Menteri dan para Gubernur seluruh Indonesia untuk tidak saling mendiskreditkan, untuk tidak saling menyerang, untuk tidak saling mencerca, apalagi saya dan Pak Jusuf Kalla masih bersama-sama dalam pemerintahan sebagai Presiden dan sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Insya Allah, saya akan memenuhi janji saya, komitmen saya, bahwa saya dengan Pak Jusuf Kalla harus tetap memelihara silaturrahim dengan menjaga perasaan dan tenggang rasa bersama. Dengan demikian memberikan contoh yang baik bagi rakyat kita, bahwa pemimpinnya sekali lagi bisa menjaga tata krama, kesantunan dan etika dalam berpolitik dan dalam pemilihan umum.

Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Tugas nasional ke depan, tugas bangsa kita ke depan adalah pertama, apa yang sudah baik, yang sudah kita capai, mari kita lanjutkan. Alhamdulillah keamanan di seluruh tanah air yang makin membaik, bisa dibandingkan keadaan 5 tahun yang lalu atau bahkan 10 tahun yang lalu, ketika kita mengalami krisis keamanan. Di Aceh, di Papua, di Poso, di Maluku, di kota-kota besar yang dulu sering terjadi huru-hara, Alhamdulillah sekarang sudah jauh membaik. Demikian pula kehidupan politik yang dulu mengalami gonjang-ganjing, sangat tidak stabil, tahun-tahun terakhir ini menjadi stabil dan terkelola.

Hubungan Pemerintah dan DPR memang sering kritis, tetapi tetap dalam komitmen untuk menjaga stabilitas politik pada tingkat nasional. Kalau itu baik, mesti kita jaga kesinambungannya. Demikian pula penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, meskipun belum mencapai hasil yang sangat memuaskan, tapi bersyukur kita, ketegasan kita, komitmen kita, konsistensi kita untuk memberantas korupsi dan berbagai kejahatan telah mulai membuahkan hasil, tentu ini harus kita lanjutkan.

Dalam keadaan krisis global, krisis pangan, krisis minyak, krisis keuangan, resesi perekonomian, Alhamdulillah, ekonomi kita tidak jatuh, sebagaimana 10 tahun yang lalu. Bahkan kita dinilai oleh dunia, sedikit dari negara yang pertumbuhannya tetap positif. Kita tumbuh positif, setelah China, India dan Indonesia. Hampir semua negara tumbuh negatif atau minus tentu saja capaian ini, disamping kita syukuri, disamping saya berterima kasih kepada semua, mari kita lanjutkan.

Demikian juga misalnya program-program yang pro rakyat di bidang pendidikan, kesehatan, usaha kecil, usaha menengah, dan sebagainya yang membawa kebaikan secara bertahap dalam tingkat kesejahteraan rakyat, tentunya mesti kita lanjutkan. Jadi tugas yang pertama, mari kita pertahankan dan lanjutkan hal-hal yang membawa kebaikan.

Yang kedua, tugas kita, tugas para pemimpin di waktu yang akan datang, tugas Pemerintah, tugas negara adalah memperbaiki yang belum baik, melakukan perubahan pada hal-hal yang tidak cocok lagi dengan apa yang kita kehendaki. Itu adalah hakekat ajaran Islam juga demikian. Di jaman Rasulullah dulu, yang maha besar Nabi Muhammad SAW menjadi pemimpin besar di dunia, karena pada hakekatnya melakukan transformasi, melakukan perubahan yang sangat besar, sambil menjaga kesinambungan, sambil menjaga keutuhan, sambil menjaga kerukunan, dan silaturrahim di antara semuanya. Kita mesti meneladani apa yang dilakukan oleh Rasulullah di dalam melaksanakan perubahan dan pembangunan di negeri ini. Singkatnya, yang baik kita lanjutkan, yang tidak baik kita bikin baik dan kita perbaiki. Itulah hakekat dari apa yang harus dilakukan oleh pemimpin nanti hasil Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden ini bersama pemerintahannya.

Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Saya sungguh menyimak apa yang disampaikan oleh Pimpinan Tarbiyah Islamiyah tadi, cocok betul dengan pikiran saya. Saya merasa mendapatkan tausiah, mendapatkan nasehat, dan sekaligus mendapatkan doa restu untuk saya dengan Profesor Boediono bisa melangkah ke depan sesuai dengan nilai-nilai, dengan harapan yang disampaikan oleh Tarbiyah Islamiyah tadi.

Saya boleh mengulangi sedikit, beliau mengingatkan politik itu mestilah dijalankan dengan etika dan tata krama. Politik tidak berarti boleh menghalalkan segala cara. Politik tidak berarti harus main kasar. Harus dengan cara-cara yang tidak berakhlak dan sebagainya. Masih banyak cara untuk mencapai tujuan politik yang dilaksanakan secara berbudaya, beradab dan beretika. Insya Allah Bapak, Ibu, para Sesepuh Keluarga Besar Tarbiyah Islamiyah, kami akan terus belajar dan menjalankan politik seperti itu. Politik yang berbudaya dan politik yang beretika.

Yang kedua, bukan hanya dalam Pemilu, tapi dalam kehidupan bangsa, kita ingin membangun karakter bangsa yang mulia, yang tidak menyukai kekerasan. Bayangkan kalau cara-cara menyelesaikan masalah dengan kekerasan, bayangkan kalau untuk memenangkan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden bisa melakukan kekerasan, apakah kekerasan fisik, maupun kekerasan non fisik. Tidak akan beradab, kita punya kehidupan di negeri ini, kalau yang ditonjolkan adalah unsur-unsur yang tidak membawa kedamaian, justru aksi-aksi kekerasan.

Kita dalam membangun politik, dalam menjalankan kehidupan bernegara yang menjadi tuntunan dari akhlak yang baik bagi umat, bagi bangsa Indonesia adalah untuk mencegah kita melakukan perbuatan yang menyimpang, termasuk korupsi. Oleh karena itu, menjadi kewajiban dari Pemerintah yang akan datang, pemimpin-pemimpin yang akan datang untuk tetap dengan gigih, dengan konsisten, dengan konsekuen dan menjadi contoh, memberi contoh untuk tidak melaksanakan penyimpangan-penyimpangan, tindakan-tindakan yang melanggar hukum di dalam menjalankan pemerintahan, termasuk tindakan-tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme, dan untuk menghindari dari godaan untuk serakah pada hal-hal yang serba benda. Saya kira ini karakter yang Islami yang dinasehatkan oleh para ulama.

Yang berikutnya lagi adalah kita wajib memelihara kelestarian lingkungan. Alam semesta, sumber daya alam anugerah dari Allah SWT, marilah kita pandai-pandai memelihara apa yang diciptakan oleh yang Maha Kuasa di negeri sendiri, bahkan di seluruh bumi dengan bangsa-bangsa yang lain. Akibat keserakahan di waktu yang lalu, penggundulan hutan, tindakan-tindakan misalnya pembalakan, illegal logging, dan sebagainya yang terjadi adalah banjir, tanah longsor dan sebagainya. Itu juga karakter yang harus kita bangun, bagaimana kita tidak serakah dalam menggunakan sumber daya alam, agar ketahanan pangan, ketahanan energi, ketahanan air tetap dapat kita pertahankan, bukan hanya untuk kita Bapak, Ibu, tapi juga untuk anak cucu kita untuk generasi mendatang.

Kemudian masih termasuk tuntunan nilai-nilai yang mulia adalah bagaimana kita semua tetap berpihak kepada kaum dhuafa. Banyak yang pandai beretorika. Banyak wacana, seolah-olah sangat berpihak kepada rakyat kecil, seolah-olah mereka penuh dengan empati, tetapi belum terbukti. Oleh karena itu, lebih baik tidak perlu kita bersuara sangat lantang, menyebarkan angin surga ke sana ke mari, seolah-olah yang paling dekat dengan rakyat, barangkali belum teruji, apakah dekat benar selama tahun-tahun terakhir, 10 tahun terakhir ini, 5 tahun terakhir. Yang penting tugas Pemerintah yang akan datang, tugas para pemimpin tugas kita semua tetap berpihak kepada kaum dhuafa.

Wujudnya adalah semua kebijakan, semua program-program yang pro rakyat melindungi dan membantu rakyat miskin, mendorong memberdayakan yang belum sejahtera di berbagai cabang, adalah wujud atau implementasi dari keberpihakan pada kaum dhuafa. Oleh karena itu, lebih baik rakyat melihat apa yang dilakukan secara konkret. Dan saya yakin kalau namanya program-program pro rakyat itulah yang dirasakan oleh mereka, wajib hukumnya bagi siapa pun yang terpilih nanti menjadi Presiden, Wakil Presiden dan yang menjalankan roda pemerintahan melanjutkan program-program pro rakyat itu, tidak diubah-ubah hanya untuk kepentingan yang lain-lain, agar betul-betul kita memiliki empati, kepedulian dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Sekarang ini memang banyak yang bisa kita terapkan, tetapi rakyat kita telah cerdas, mereka memiliki hati dan pikiran yang jernih untuk bisa menangkap, apakah yang dikatakan itu bisa diwujudkan. Lebih baik kita tidak terlalu banyak menjanjikan kepada mereka, tetapi kita dengar kepada rakyat, sebagaimana yang kami lakukan tiap hari menerima SMS, menerima surat, menerima telepon, yang mengatakan, “Pak SBY program yang ini, ini, ini benar, kami merasakan manfaatnya. Tolong pemerintahan yang akan datang perbaiki yang ini, yang ini.” Itulah suara rakyat, itulah suara sejati mereka, yang mesti didengar oleh siapa pun, yang ingin memimpin Indonesia di masa depan.

Itulah Bapak, Ibu hadirin sekalian yang saya sampaikan, dan besar harapan saya kepada para Sesepuh, para Ulama, Keluarga Besar Tarbiyah Islamiyah untuk tidak henti-hentinya berperan dalam pembangunan bangsa, termasuk berperan dalam menciptakan kehidupan politik yang teduh, politik yang perasa, politik yang membawa manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia. Pengantar dari islamiyah di bidang pendidikan, di bidang dakwah, di bidang kegiatan sosial telah menjadi bukti sejak organisasi ini didirikan. Kami semua bangga, apa yang dilakukan Tarbiyah Islamiyah tercatat abadi dalam sejarah. Harapan saya sebagai Kepala Negara, mohon kiranya semua dilanjutkan ke depan, sehingga Tarbiyah tetap menjadi milik masa lampau, masa kini dan masa depan.

Yang terakhir ke hadapan para Sesepuh, para Pimpinan dan Keluarga Besar Tarbiyah Islamiyah mendengarkan tausiah tadi, bimbinglah kami, bimbinglah para politisi, termasuk Calon-calon Presiden dan Wakil Presiden untuk berpolitik dengan cara-cara yang baik, sehingga memberikan pembelajaran yang baik pula bagi rakyat kita, bagi sejarah dan bagi masa depan.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Sekali lagi, selamat dalam Rakernas ini. Selamat ulang tahun dan semoga Allah SWT memberikan jalan bagi Tarbiyah Islamiyah untuk melanjutkan pengabdiannya bagi bangsa dan negara dan bagi kita semua, seluruh rakyat Indonesia di dalam membangun masa depan yang lebih baik, meningkatkan kesejahteraan rakyat kita.

Sekian.
Wassalamu’alikum warahmatullah wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan