Pidato Presiden

Sambutan Acara Harlah Ke-75 Gerakan Pemuda Ansor

 

SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
HARLAH KE-75 GERAKAN PEMUDA ANSOR
PADEPOKAN PENCAK SILAT TAMAN MINI INDONESIA INDAH JAKARTA
7 JUNI 2009



Bismillahirahmannirahim,
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,


Para pimpinan lembaga-lembaga negara dan lembaga-lembaga pemerintah yang saya hormati,
Para pimpinan Nahdlatul Ulama dan para alim ulama yang saya muliakan,
Saudara Ketua Umum dan keluarga besar GP Ansor yang saya cintai dan saya banggakan,

Pada hari yang bersejarah dan insya Allah penuh berkah ini, marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan ridho-Nya kita semua masih diberi nikmat kesempatan, nikmat kekuatan dan nikmat kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita serta tugas dan pengabdian kita kepada umat, kepada masyarakat, serta kepada bangsa dan negara tercinta.

Shalawat dan salam marilah sama-sama kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikut Rasulullah sampai akhir zaman.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Atas nama negara dan pemerintah, ijinkan saya untuk mengucapkan selamat atas hari kelahiran GP Ansor yang ke-75, semoga Ansor tetap berjaya dan makin berjaya di masa depan. Kita mendengar kelahiran GP Ansor baik yang disampaikan oleh Saudara Dr. KH. Said Agil Shirad maupun Saudara Saifullah Yusuf tadi bahwa Ansor tidak bisa dipisahkan dari Nahdlatul Ulama. Peran Nahdlatul Ulama dan Ansor dalam perjalanan bangsa sangat gemilang. NU dan Ansor menyandang beberapa predikat telah berjasa yang luar biasa pada kehidupan bangsa dan negara kita, antara lain, yang pertama sebagai pengawal Pancasila yang berkeTuhanan kepada Tuhan YME, dan ini pokok, ini mendasar, ini fundamental. Oleh karena itu bukan hanya bentengnya ulama, bukan hanya pengawal Nahdlatul Ulama tapi Ansor adalah benteng dan pengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Yang kedua, dalam sejarahnya Ansor terbukti bersama-sama Nahdlatul Ulama adalah pengawal kedaulatan NKRI. NU dan Ansor sangat konsisten untuk berjuang mempertahankan keutuhan NKRI dari rongrongan dan gangguan dari siapa pun juga. Mari kita pertahankan keutuhan negara kita, tidak sejengkal tanah pun kita biarkan lepas dari negara kita. Itu yang kedua.

Yang ketiga masih ada lagi, Ansor bersama-sama NU-nya adalah pengawal pembangunan. Saudara semua dari tahun ke tahun sejak Indonesia merdeka telah menyumbangkan sesuatu yang sangat penting bagi pembangunan bangsa. Di bidang dakwah, pendidikan, sosial, lingkungan hidup, ekonomi, keamanan dan sebagainya. Ansor tidak pernah absen dalam pembangunan bangsa.

Dan yang keempat yang sangat-sangat penting adalah, Ansor berdiri di depan bersama Nahdlatul Ulama untuk benar-benar menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Ansor dan Nahdlatul Ulama ingin benar menyatukan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah watonniyah, keIslaman dan kebangsaan yang sejati yang harus dipertahankan di negeri tercinta ini, dan Ansor serta NU memberi contoh menjadi pelopor dan berjuang untuk itu. Benar-benar gerakan keIslaman yang sungguh mencintai bangsa dan negaranya bukan gerakan keIslaman sektarian yang tidak sesuai dengan dasar-dasar kebangsaan kita.

Saya mengajak selaku yang sedang mengemban amanah kepada keluarga besar GP Ansor untuk melanjutkan pembangunan bangsa, agar sesuai dengan para pendiri, sesuai dengan para ulama, sesuai dengan para sesepuh, negara kita makin ke depan makin aman, makin adil, dan makin sejahtera.

Alhamdulillah setelah 11 tahun yang lalu kita mengalami krisis yang luar biasa, kini bangsa kita mulai bangkit kembali dan terus maju menjemput masa depannya yang insya Allah makin baik. Saudara masih ingat, tahun lalu pada peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional saya menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia, termasuk GP Ansor, insya Allah dengan ridho Allah SWT, dengan kebersamaan persatuan dan kerja keras kita, Indonesia yang kita cintai akan menjadi negara maju, negara yang bermartabat dan negara yang sejahtera di abad XXI ini. Syaratnya tiga, tidak datang dari langit, Tuhan tidak akan mengubah nasib sebuah kaum kecuali kaum itu sendiri mengubah dirinya, mengubah kaumnya untuk masa depan yang lebih cerah. Syaratnya tiga, berkali-kali saya ingatkan, bahkan sejak tahun 2006 saya ingatkan bahwa tiga pilar kehidupan bangsa mesti diperkuat. Tidak boleh lemah, tidak boleh keropos, tidak boleh tumbang.

Pertama, memang kita harus terus meningkatkan kemandirian bangsa, mandiri. Yang kedua, supaya kita menang dalam percaturan dunia, bangsa kita harus memiliki daya saing yang lebih tinggi, daya saing. Dan di atas segalanya, cocok betul dengan tema Harlah ke-75 ini Indonesia bisa maju kalau peradaban bangsa makin unggul dan makin mulia. Saya menaruh harapan yang tinggi kepada keluarga besar Nahdlatul Ulama dan Ansor untuk menjadi pelopor, menjadi pemain utama dalam membangun peradaban bangsa yang unggul dan mulia.

Saya ingin memberi contoh, Saudara-saudara, bahwa kita sangat serius untuk betul-betul meningkatkan kemandirian, meningkatkan daya saing dan meningkatkan peradaban bangsa. Di tengah-tengah tantangan global, kita terus ingin meningkatkan kemandirian kita sebagai bangsa. Contoh, agar perekonomian kita makin mandiri, kami, negara, pemerintah telah melunasi hutang IMF yang jumlahnya sangat besar. Kami telah membubarkan namanya CGI yang mengatur perekonomian kita. Kita telah mengurangi rasio hutang terhadap pendapatan negara kita. Kita telah membikin kita berswasembada beras kembali. Kita ingin meningkatkan kecukupan energi. Kita meningkatkan pajak dan penerimaan negara agar perekonomian kita dibiayai dari keringat kita sendiri. Itulah perekonomian yang makin mandiri.

Politik juga harus makin mandiri. Kita jalankan politik bebas dan aktif. Kita bersahabat dengan semua bangsa dan semua negara sepanjang bangsa dan negara itu memiliki niat untuk bersahabat dengan negara kita. Hubungan kita dengan negara-negara Islam di Timur Tengah dekat dan makin dekat, dengan negara Asia dan negara Afrika dan belahan dunia manapun. Masih sekitar kemandirian politik, ketika ada masalah Indonesia dengan Timor-Timur, kita menolak masalah itu diambil oleh PBB, kita selesaikan sendiri. Alhamdulillah selesai dengan Timor-Timur.

Dulu kita mendapatkan embargo dan sanksi lebih dari 10 tahun. Kita berjuang. Tidak mulia, harga diri kita runtuh kalau kita dikasih embargo dan sanksi militer. Tahun 2005 lepas, bebas sudah, dan kita terhormat karena tidak ada sanksi dan embargo apapun. Di bidang pertahanan kita juga ingin lebih mandiri lagi, terus mandiri. Industri pertahanan kita tingkatkan. Selat Malaka, ada Pulau Sumatera yang dulu konon banyak negara yang ingin ikut mengamankan, Indonesia menolak dan pantasnya yang mengamankan Selat Malaka adalah negara-negara di sekitar itu: Indonesia, Singapura dan Malaysia. Bukti bahwa untuk pengamanan pun, untuk pertahanan pun kita lebih mandiri dan akan terus lebih mandiri di waktu yang akan datang.

Saudara-saudara itu contoh saja, contoh saja betapa kita ingin terus mandiri sebagai bangsa dalam arti yang luas, politik, ekonomi, pertahanan dan bidang apapun termasuk budaya. Daya saing harus kita tingkatkan, caranya, kita bikin pendidikannya lebih baik. Alhamdulillah 20% anggaran baik pendidikan umum maupun pendidikan keagamaan termasuk pondok pesantren harus kita tingkatkan agar kita benar-benar memiliki daya saing yang tinggi.

Kemudian di peradaban, mari kita bangun akhlak bangsa yang baik, karakter bangsa yang kokoh, kehidupan bangsa yang rukun, harmonis penuh dengan toleransi dan kalau kita bicara toleransi Nahdlatul Ulama, Ansor harus berada di depan karena terbukti telah bisa menjadi benteng persatuan dan kesatuan bangsa. Itulah yang harus kita jalankan.

Kita semua mesti bertanggung jawab, negara bertanggung jawab, pemerintah bertanggung jawab, kita semua bertanggung jawab. Saya ingin pemerintahan ini makin bersih, makin efektif sehingga mencurahkan segalanya untuk kepentingan rakyat.

Berikan dukungan Saudara-saudara kepada jajaran lembaga negara, jajaran pemerintahan di pusat maupun di daerah untuk betul-betul mengemban tugas dengan baik. Anti korupsi, sepenuhnya untuk rakyat, bekerja giat sekuat tenaga. Itulah yang hendak kita bangun di depan. Melalui mimbar yang mulia ini, saya perlu mengingatkan ada kata-kata yang baik dari orang bijak, “Jangan tanyakan apa yang oleh negara bisa berikan kepada engkau, tapi tanyakan pada dirimu apa yang bisa engkau sumbangkan untuk bangsa dan negara.” Untuk negara, bukan dari negara untuk saya apa. Itu mulia, itu termasuk peradaban bangsa yang mulia yang hendak kita bangun bersama-sama.

Akhirnya melalui hari yang amat bersejarah ini saya mengajak, mari kita tingkatkan darma kita, bakti kita, pengabdian kita kepada umat, masyarakat, bangsa dan negara tecinta. Kepada para ulama saya mohonkan bimbingan, nasehat, dan tausiahnya untuk kami semua melanjutkan pembangunan bangsa, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Sekian, selamat berjuang GP Ansor. Tuhan beserta kita.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



*****

BIRO PERS DAN MEDIA
RUMAH TANGGA KEPRESIDENAN RI