Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Jambore Sekolah Lapangan Pengelola Sumberdaya Tanaman Terpadu Padi, Jagung, dan Kedelai

 

SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PEMBUKAAN JAMBORE SEKOLAH LAPANGAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA TANAMAN TERPADU PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI TAHUN 2009
DI ASRAMA HAJI DONOHUDAN, BOYOLALI, JAWA TENGAH
PADA TANGGAL 8 JUNI 2009



Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Menteri Pertanian dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, para Pimpinan Lembaga-lembaga Pemerintah Non Departemen dan Pimpinan Badan-badan Usaha Milik Negara,
Yang saya hormati Saudara Gubernur Jawa Tengah dan para pimpinan serta pejabat negara maupun pemerintahan yang bertugas di Jawa Tengah baik dari unsur eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun TNI dan Polri,
Yang saya hormati para Gubernur, para Bupati, dan para Walikota,
Yang saya muliakan para ulama dan para tokoh masyarakat,
Yang saya cintai para petani, baik petani padi, petani jagung, petani kedelai, maupun petani yang lain, petani peternakan, petani perkebunan, petani ikan, dan sebagainya,
Hadirin yang saya muliakan,

Pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita masih diberikan nikmat kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, perjuangan kita, serta pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta. Kita juga bersyukur ke hadirat Allah SWT hari ini kita dapat menghadiri pembukaan Jambore Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu. Semoga kegiatan hari ini mendapatkan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa serta membawa kebaikan bagi dunia pertanian dan para petani.

Saudara-saudara,
Sebelum saya menyampaikan ajakan dan harapan kepada Saudara semua, bagaimana ke depan kita terus meningkatkan ketahanan pangan dan kemandirian pangan, saya ingin memberikan pengantar sebagai berikut. Dua tahun yang lalu, akhir tahun 2007, dunia mengalami krisis pangan. Dikatakan krisis, harganya melonjak sangat tinggi, kemudian pangan itu, di banyak negara, termasuk negara-negara Afrika jumlahnya tidak mencukupi. Terjadi masalah sosial, masalah kemanusiaan, dan masalah ekonomi di banyak negara. Negara kita juga kena imbasnya meskipun tidak seburuk yang dialami oleh banyak negara yang lain. Tetapi tetap saja kita terkena dampaknya. Saudara masih ingat akhir 2007, akhir 2008, kita semua, pemerintah, baik pusat maupun daerah, dunia usaha, komunitas petani, perbankan, telah bersatu padu melakukan langkah-langkah dengan cepat dan tepat untuk mengatasi krisis pangan tersebut. Alhamdulillah, karena kita ingin benar-benar mengatasi permasalahan krisis pangan itu, maka meskipun ada gejolak beberapa bulan akhirnya kita bisa menstabilkan harga pangan waktu itu.

Dan bukan hanya itu, sebagaimana disampaikan oleh Saudara Menteri Pertanian tadi, langkah-langkah bersama kita ini dinilai oleh dunia. Indonesia sebagai negara yang mampu mengatasi krisis pangan tersebut, bahkan sejak tahun lalu insya Allah tahun ini kita juga telah mencapai sesuatu yang dulu sekali pernah kita capai yaitu swasembada beras, ditambah swasembada jagung, dan gula konsumsi. Untuk itu, secara tulus, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan utamanya kepada para petani di seluruh Indonesia. Kalau organisasi internasional, namanya FAO, memberikan penghargaan kepada Indonesia, saya diundang waktu itu untuk hadir di Prancis meskipun saya tidak bisa berangkat karena saya harus mengatasi permasalahan di negeri sendiri maka penghargaan itu adalah sesungguhnya penghargaan untuk para petani dan seluruh rakyat Indonesia.

Saudara-saudara,
Hari ini, baik yang disampaikan oleh Saudara Gubernur Jawa Tengah maupun oleh Menteri Pertanian tadi, semuanya berkaitan dengan ketahanan pangan, swasembada beras. Saya ingin mengajak Saudara semuanya untuk berbicara lebih dari itu, bukan sekedar swasembada beras, bukan sekedar swasembada jagung, dan bukan sekedar swasembada gula konsumsi maupun kecukupan dan ekspor produk-produk pertanian yang lain seperti kentang, cabe, bawang, sayuran, dan sebagainya. Bukan hanya itu, yang kita tuju sebagai bangsa yang besar, tanah airnya luas, iklimnya baik, jumlah penduduknya besar, suatu saat adalah kemandirian pangan bagi bangsa Indonesia. Mengapa? Lagi-lagi saya berbicara kemandirian pangan. Barangkali kita tidak sadar jumlah penduduk di dunia, jumlahnya makin besar, sekarang berjumlah 6,6 milyar manusia. Indonesia sendiri, lebih sekarang dari 230 juta, semuanya tiap hari memerlukan pangan. Tiap hari mereka makan paling tidak dua kali sehari dan yang umum adalah tiga kali sehari. Tentu jumlah manusia yang besar ini memerlukan bahan pangan yang juga besar. Apalagi kalau terus bertambah, buminya tidak bertambah, luas permukaan bumi tetap, manusianya bertambah, pangan penting.

Yang kedua, iklim sedang berubah sebagian karena kesalahan umat manusia. Pergantian iklim ini, pemanasan global ini, bumi yang makin panas sekarang ini akhirnya di banyak negara menyebabkan perubahan iklim yang kadang-kadang ekstrim, banjir bandang, kemarau panjang, topan dan badai yang merusak tanaman, dan sebagainya. Ini semua kenyataan baru yang bisa jadi mengganggu hasil-hasil pertanian kita, produksi dan produktivitas pangan kita. Bukan hanya itu, jumlah manusia bertambah, iklim berubah, ternyata dengan penghasilan yang makin meningkat. Pada bangsa-bangsa di dunia yang tadinya hidupnya kurang sejahtera hanya mengkonsumsi makanan dua kali sehari, sekarang ini tiga kali sehari, dan pendek kata lebih banyak lagi pangan yang diperlukan ketika penghasilan rakyat di semua negara meningkat. Dengan demikian, kalau kita bangsa Indonesia, Saudara semua bertekad demi anak-cucu kita, demi masa depan kita, kita ingin membangun kemandirian pangan, bukan hanya swasembada beras, maka ini sesuai dengan perkembangan zaman pada tingkat dunia.

Saudara-saudara,
Saya ingin supaya kita menjadi bangsa makin bangga terhadap apa yang kita lakukan bersama, yang dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia. Banyak orang bicara tentang kemandirian. Saya kira tidak ada yang tidak setuju di ruangan ini bahwa kita terus-menerus harus meningkatkan kemandirian. Setuju Saudara? Tidak tergantung kepada bangsa lain apalagi yang namanya bahan pangan. Tetapi bagi bangsa yang bermartabat, lebih dari itu. Di bidang ekonomi, kita semuanya terus meningkatkan kemandirian pangan. Saudara tahu, sebelas tahun yang lalu kita mengalami krisis. Akibat krisis, kita memiliki hutang yang besar terhadap IMF. Karena hutang kita besar, waktu itu kita banyak didikte oleh IMF, akhirnya kemandirian kita berkurang. Alhamdulillah, hutang itu sudah kita lunasi dan kita percepat empat tahun yang jumlahnya Rp 72 triliun, alhamdulillah berkat kerja keras kita. Dulu ada namanya forum CGI, kumpulan negara-negara maju yang juga mendikte pemerintah Indonesia di dalam membangun perekonomiannya setelah krisis. CGI itu, forum itu, juga telah kita bubarkan sekian tahun yang lalu agar kita lebih mandiri dalam merencanakan dan membangun perekonomian kita.

Kita, alhamdulillah, swasembada pangan. Ini juga meningkatkan kemandirian kita. Kemandirian politik, kita menjalankan politik bebas aktif, dengan negara manapun kita bersahabat, tidak boleh ada yang menghalang-halangi bangsa Indonesia untuk memelihara persahabatan dengan negara lain. Dulu, kita dikenai embargo, sanksi militer lebih dari sepuluh tahun. Semuanya itu telah kita bebaskan dan Indonesia sekarang tidak kena apa yang namanya embargo dan sanksi militer. Ini juga contoh kita makin mandiri. Dulu, kita masih ada masalah dengan Timor Timur, urusan Hak Asasi Manusia, hampir diambil alih oleh dunia. Kita menolak, semua itu kita selesaikan sendiri bersama dengan Timor Leste dan sejak tahun lalu masalah itu sudah selesai. Ini menunjukkan kita tidak bisa didikte oleh siapapun untuk melaksanakan politik kita.

Dan yang terakhir, bicara kemandirian, bukan hanya pangan tapi juga pertahanan. Industri-industri pertahanan tahun-tahun terakhir terus kita kembangkan agar makin ke depan lebih banyak lagi perlengkapan, peralatan, persenjataan yang dihasilkan oleh industri di dalam negeri. Itu semua tekad bangsa kita, tekad kita semua untuk menegakkan kemandirian. Nah, di bidang pangan apa lagi, setuju Saudara? Bidang pangan apa lagi.

Saudara-saudara,
Bangsa kita ini bukan hanya milik kita, milik anak, cucu kita. Kalau kita ingin bikin baik, makin mandiri, tentu kemandirian itu harus diletakkan dalam kaitan yang luas. Semua berjangka panjang, mencakup sendi-sendi kehidupan bangsa kita. Dan tahun lalu, sebagian dari Saudara saya kira mendengarkan pidato saya ketika kita memperingati Satu Abad Kebangkitan Nasional adalah, saya ulangi lagi, Indonesia dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, insya Allah bisa menjadi negara maju, negara bermartabat, dan negara sejahtera di abad 21 ini. Yakinkah Saudara? harus yakin, tetapi ada syaratnya, tidak datang dari langit begitu saja, ada syaratnya.

Syarat pertama, yang menjadi topik hari ini, bangsa kita harus terus meningkatkan kemandiriannya. Bangsa kita juga harus meningkatkan daya saingnya melalui pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan bangsa kita harus memiliki budaya dan peradaban yang luhur, bukan budaya dan peradaban yang lemah, yang cengeng, yang mudah menyerah, yang mudah mengeluh, sukanya menyalahkan satu sama lain, bukan! Tetapi bangsa yang ulet, yang tangguh, yang kokoh, yang tidak menyerah dan akhirnya Tuhan akan memberikan jalan, Indonesia akan menjadi negara sekali lagi, yang maju, bermartabat, dan sejahtera. Kalau para petani bisa menciptakan swasembada beras, ketahanan pangan, bangsa Indonesia juga mesti bisa, dengan ridho Tuhan, untuk membangun kemandirian bangsa Indonesia.

Saudara-saudara,
Saya katakan itu tujuan yang maha besar, diperlukan tekad yang maha besar, dan kerja yang maha besar pula. Jangan hanya berangan-angan, jangan hanya bermimpi, tapi kita malas bekerja, tapi kita hanya begitu-begitu saja, tidak boleh. Kalau petani amat giat dalam menjalankan profesinya dan hasilnya nyata maka seluruh rakyat Indonesia, apapun profesinya, dimanapun berada, apapun sukunya, agamanya, etnisnya, daerahnya, semua harus giat bekerja untuk membangun kemandirian bangsa kita. Hanya dengan cara itu kita bisa maju pada abad 21 ini. Pertanian sudah sangat gamblang, kita bertekad sejak tahun 2005 untuk melakukan pembangunan kembali yang disebut dengan revitalisasi bidang pertanian, bidang perikanan, dan bidang kehutanan.

Sasarannya jelas. Ini Menteri Pertanian ada di sini, kita ingin ada lima komoditas penting yang ke depan harus betul-betul swasembada dan surplus. Pertama, beras. Kedua, gula. Ketiga, jagung. Keempat, daging sapi. Kelima, kedelai. Yang lainnya sudah cukup. Yang tiga pertama sudah, alhamdulillah, yang dua belum yaitu daging sapi dan kedelai. Oleh karena itu, saya senang kalau nanti bisa melihat katanya sudah mulai produksi kedelai kita dalam satu hektar lebih dari 2.5 ton, katanya sudah ada tiga ton. Kalau itu kita dipertahankan insya Allah makin berkurang impor kita, suatu saat tidak perlu kita impor kedelai lagi. Itu penting. Siapa yang suka tahu dan tempe, dan kecap? Semua dari kedelai. Mari kita tingkatkan produksi dan produktivitas kedelai. Siapa yang tentu ingin lebih banyak mengkonsumsi daging sapi? Semua, di samping tahu dan tempe. Kalau kesenengan saya tahu dan tempe dan kerupuk, tidak pernah tidak ada setiap makan. Kalau daging sapi sekali-sekali. Daging sapi masih mahal karena produksi dalam negeri kurang. Betul? Daging sapi masih mahal kita import dari Australia, Selandia Baru, ongkos angkutnya mahal dan banyak lagi.

Menurut saya, ya mesti kita benahi. Oleh karena itu, peternakan harus maju, ke depan, agar daging sapi lebih murah lagi dan bisa dikonsumsi oleh rakyat kita. Sasarannya jelas, kebijakannya jelas. Kalau ingin pangan meningkat, pertanian makin produktif, ya bukan hanya urusan benih, bukan hanya urusan pupuk, bukan hanya urusan subsidi untuk para petani, bukan sekedar harga pokok penjualan untuk gabah dan beras, bukan hanya itu. Tetapi irigasi, infrastruktur, jalan-jalan juga harus kita tingkatkan di waktu yang akan datang. Sekarang dengan kemampuan yang ada, 4,5 tahun ini kita terus meningkatkan infrastruktur pertanian, tentu belum cukup, masih banyak lagi. Oleh karena itu, di waktu yang akan datang, siapapun pemimpin di negeri ini, pemerintah manapun, bertugas untuk melanjutkan pembangunan pertanian dan pembangunan infrastruktur.

Anggaran, ada yang bilang anggaran pertanian kecil. Kalau departemennya memang hanya sekitar Rp 6 triliun tapi anggaran pertanian secara utuh itu mengalami peningkatan yang besar dari Rp 14,3 triliun tahun 2005 menjadi Rp 41,3 triliun tahun 2008, insya Allah akan menuju lagi Rp 45,8 triliun pada tahun 2009. Itu anggaran agar betul-betul swasembada dan surplus. Apa cukup kalau dikaitkan dengan tanah air kita? belum cukup. Tapi ingat, anggaran negara kita kan bukan hanya untuk pertanian, untuk pendidikan, untuk kesehatan, untuk penegakan hukum, untuk pertahanan, dan sebagainya. Tetapi ingat, tetap menjadi prioritas untuk peningkatan pangan dan pertanian kita. Dengan semuanya itu, hasilnya nyata meskipun kita harus bertekad meningkatkannya lagi.

Hadirin yang saya muliakan,
Jangan lupa, kalau kita membangun pertanian, jangan sampai melupakan peningkatan kesejahteraan petani. Setuju? Ketahanan pangan meningkat tetapi petaninya, kesejahteraannya juga harus meningkat, tidak boleh jalan di tempat. Oleh karena itu, semua kebijakan, semua program dijalankan untuk memenuhi kedua-duanya, insya Allah bisa. Harga sembako, misalnya. Harga sembako itu harus pas. Pasnya bagaimana? Harga sembako, sembako itu hasil pertanian para petani dalam arti luas maka harga itu pertama, harus dapat memberikan penghasilan yang layak kepada para petani. Setuju? Setelah itu harga itu juga bisa dijangkau oleh saudara-saudara yang lain dan bagi yang miskin diberikan bantuan seperti beras untuk rakyat miskin. Harus begitu, adil bagi semua, terjangkau bagi semua, sambil memberikan penghasilan yang layak bagi yang memproduksi sembako itu yaitu para petani.

Bantuan kepada petani terus dilakukan, apakah itu dalam bentuk subsidi pupuk, subsidi benih, subsidi kredit program, dan sebagainya. Tadi saya mendengar Pak Gubernur Jawa Tengah ngendiko ya ngatos-atos manawi badhe mundhut bibit. Kathah bibit nanging kados bibit ingkang sae, ingkang unggul, ingkang berkualitas, soho waluyo (Gubernur Jawa Tengah mengatakan hati-hati kalau membeli benih. Banyak benih, tetapi pilihlah benih yang bagus, yang unggul, berkualitas dan mulia). Kalau Pak Gubernur Jawa Tengah mending begitu bibitnya yang unggul, bibit berkualitas, bibit yang baik, dan bibit waluyo, mesti begitu. Maksud saya, itu kebijakan yang menurut saya tepat untuk mencapai dua-duanya, ketahanan pangan meningkat, kesejahteraan petani makin ke depan makin kita tingkatkan.

Saudara-saudara,
Tadi kita saksikan para Gubernur, saya harus hormat kepada beliau, para Bupati, para Walikota, dan para pimpinan kelompok tani mendapatkan penghargaan dari negara. Mari kita berikan tepuk tangan sekali lagi. Kita ini suka lupa untuk mengucapkan terima kasih, kita ini suka pelit untuk menyampaikan penghargaan kepada mereka yang berprestasi. Kita mudah ingat untuk menyalahkan orang lain. Kita tidak susah untuk mengatakan itu jelek, itu nggak bagus, dan sebagainya. Mari kita bikin yang adil. Kalau ada kurang kita tegur, saya menegur para pejabat pemerintahan yang prestasinya kurang. Tetapi wajib bagi saya memberikan penghargaan bagi yang prestasinya begini.

Jangan seperti pemain sepak bola jaman dulu. Tahun 60-an, saya SMP, SMA, main bola di Pacitan, kampung halaman saya. Waktu itu, kalau pertandingan antar kampung tim sepak bola itu kalau bolanya masuk semua ngaku “itu karena operan saya.” Oh tidak, karena yang nendang saya.” Itu kalau nggak saya kasih kesempatan gelandang, nggak mungkin masuk.” Semua merasa yang membikin bolanya masuk. Begitu bolanya keluar, “kamu sih kurang cepet, kamu sih terlalu tinggi lambungnya.” Itu dulu, sekarang Pacitan bagus. Sepak bolanya maju karena kalau ada hasil alhamdulillah, karena kebersamaan kita, karena kerja sama kita bisa masuk. Ketika bolanya lolos, “ya kita latihan lagilah, ini kurang bagus.” Begitu caranya. Oleh karena itu, dengan tulus saya ucapkan terima kasih kepada Menteri Pertanian dan para Menteri lain yang bikin pertanian makin maju. Terima kasih kepada Kabulog dan para pimpinan LPND dan BUMN lain. Terima kasih dan penghargaan kepada para Gubernur, para Bupati, dan para Walikota. Terima kasih kepada komunitas petani. Terima kasih kepada dunia usaha di bidang pangan. Terima kasih kepada penelitian, pengembangan, penyuluh pertanian, penyuluh anti hama, semua yang tadi disebutkan oleh Menteri Pertanian.

Oleh karena itu, Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu perannya di waktu yang akan datang menjadi sangat penting, sangat penting. Kalau sudah saya puji jangan puas diri. Tugas di waktu yang akan datang masih berat sampai semuanya swasembada, semuanya surplus, nama dan harga diri bangsa Indonesia akan makin meningkat.

Itulah Saudara-saudara, selamat berjuang, Tuhan beserta kita. Dan akhirnya, dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, serta mengucapkan "bismillahirrahmanirrahiim", Jambore Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Sekian.
Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan RI