Pidato Presiden
Sambutan Silaturahmi dengan Persatuan Wredatama RI
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILATURAHMI DENGAN PERSATUAN WREDATAMA REPUBLIK INDONESIA
ISTANA NEGARA, 19 JUNI 2009
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamua’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Gubernur DKI Jakarta, Saudara Ketua Umum Persatuan Purnawirawan ABRI, para Pejabat Teras Pemerintahan,
Yang saya hormati Saudara Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Wredatama Republik Indonesia,
Yang saya cintai para Sesepuh, para Senior, Keluarga Besar PWRI yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi, pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas perkenan rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberikan nikmat kesempatan, nikmat kekuatan, dan semoga nikmat kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.
Kita juga bersyukur ke hadirat Allah SWT, hari ini dapat melakukan silaturrahim di Istana Negara ini. Bagi Bapak dan Ibu yang jarang datang ke Istana Negara ini, tempat inilah yang Kepala Negara dan sekaligus Kepala Pemerintahan melakukan berbagai kegiatan penting, misalnya mengambil sumpah para pejabat-pejabat negara, misalnya melantik para Menteri, termasuk Panglima TNI, Kapolri dan Kepala Staf Angkatan, juga menerima kedatangan Tamu-tamu Negara dari negara sahabat dan berbagai kegiatan, termasuk silaturrahim hari ini dengan Keluarga Besar PWRI menyusul Rakernas dan Munaslub yang baru saja atau sedang dilaksanakan.
Kalau Bapak, Ibu melihat ini ada potret Presiden pertama kita, Bung Karno. Sebelah kanan ada Presiden kedua kita, Pak Harto, yang ketiga, Pak Habibie, yang keempat, Bapak Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang kelima, Ibu Megawati Soekarno Putri dan yang keenam saya. Maksudnya kita ingin semua pemimpin dalam arti yang hakiki itu terus menjalin silaturrahim dan kita semua tentunya saling menghormati, pemimpin menghormati rakyatnya yang dipimpin, rakyat juga menghormati pemimpinnya semua tanpa harus membedakan satu sama lain.
Tadi malam, barang kali sebagian mengikuti “Debat Calon Presiden” memang begitu aturan Komisi Pemilihan Umum, yang Alhamdulillah debatnya baik. Dan di penghujung pembicaraan saya, saya menyampaikan satu buah pantun, tadi malam, yaitu:
Dari Lahat menuju ke Martapura
Meskipun Berdebat Kita Tetap Bersaudara
Kalau para pemimpinnya rukun bersatu, saya yakin rakyat akan senang dan tenang. Berkompetisi memang bisa keras, tapi tentunya hatinya tetaplah dingin dan boleh memutus silaturrahim, tidak boleh memutus persahabatan dan persaudaraan. Semoga demokrasi seperti inilah yang terus bersemi di negara kita, dengan demikian demokrasi itu membawa manfaat kepada kehidupan rakyat yang kita cintai bersama.
Bapak, Ibu, hadirin sekalian yang saya hormati,
Saya atas nama Pemerintah, dan selaku pribadi tentunya mengucapkan selamat datang di Jakarta, selamat melaksanakan Rakernas dan sekaligus Musyarawarah Nasional Luar Biasa. Semoga hasilnya membawa manfaat bagi perjalanan dan masa depan PWRI maupun tentunya bagi masyarakat, bangsa dan negara kita.
Dalam dunia militer ada istilah `the old soldiers newer die`. Artinya prajurit tua itu tidak pernah mati, mereka hanya menghilang pelan-pelan. Maknanya adalah pengabdian kepada bangsa dan negara tidak pernah mengenal batas akhir. Demikian juga Bapak, Ibu dan Keluarga Besar Wredatama, Bapak, Ibu tetap menjadi bagian utuh dari bangsa kita. Bapak, Ibu, Wredatama bukan hanya menjadi bagian dari masa lampau, bukan hanya berperan di masa lampau, tapi di masa kini dan masa depan pun bangsa dan negara masih memerlukan kontribusi apapun dalam bentuk pemikiran, nasehat, cara-cara yang bisa membikin kebaikan dalam kehidupan masyarakat dan sebagainya yang dapat dilakukan oleh Wredatama.
Dengan demikian, kerinduan Bapak, Ibu untuk terus bekerja aktif semasa atau seperti halnya sebelum pensiun dulu, itu tetap dapat dilanjutkan. Dengan demikian, Bapak, Ibu sendiri merasa masih terus berperan untuk rakyatnya, untuk bangsa dan negaranya. Oleh karena itu, mengawali sambutan saya ini, saya ingatkan bahwa negara masih memerlukan sumbangan atau kontribusi dari Wredatama kita.
Negara kita terus membangun, pembangunan nasional tidak akan pernah berhenti, karena hakekat tujuan pembangunan kita adalah tiada lain meningkatkan kesejahteraan rakyat. Negara kita yang baru merdeka belum 100 tahun, tentu masih harus terus membangun dengan giat agar tahun demi tahun, agar dasawarsa demi dasawarsa, kesejahteraan rakyat kita makin meningkat dan keadaannya makin baik.
Negara kita pernah mengalami krisis yang luar biasa dalamnya 11 tahun yang lalu, 1998. Sejak itu kita berusaha sangat keras untuk memulihkan perekonomian kita, karena kalau ekonomi kita buruk, kesejahteraan hampir pasti juga ikut burut. Sejak itu kita juga melaksanakan reformasi, perubahan, bahkan transformasi kehidupan bangsa menuju ke kehidupan yang lebih baik.
Ketika kita sedang melaksanakan reformasi, pembangunan kembali perekonomian kita, dunia tidak selalu bersahabat, dunia pun, bahkan tahun-tahun terakhir ini muncul kembali krisis-krisis yang berpengaruh kepada perekonomian kita, misalnya krisis pangan, krisis energi, yang terjadi sejak akhir 2 tahun yang lalu. Lantas sejak akhir tahun lalu, dunia mengalami krisis keuangan yang akhirnya berubah menjadi resesi perekonomian global, kemandekan, kemunduran perekonomian dunia.
Jadi mesti kita pahami, kita sedang melakukan perubahan, kita sedang melaksanakan pembangunan kembali pasca krisis 11 tahun yang lalu, tetapi upaya besar kita inipun, kita lakukan ketika dunia tidak selalu menyediakan peluang-peluang yang baik untuk keberhasilan reformasi dan pembangunan perekonomian kita. Oleh karena itu, solusinya, syaratnya bangsa kita harus tetap tegar, terus berikhtiar, apapun situasi yang ada di dunia ini, kita harus terus berupaya untuk memperbaiki keadaan di negeri tercinta ini.
Hadirin yang saya muliakan,
Dalam sebuah transformasi, dalam sebuah perubahan besar, itu banyak sekali dinamika, kita mengalami pasang surut, up and down dari perjalanan sejarah kita, ada kalanya kita menghadapi situasi yang sangat sulit, ada kalanya keadaannya baik, ada kalanya ada kemajuan yang kita bisa rasakan bersama. Itu semua harus bisa kita terima, karena memang begitulah karakter atau sifat dari sebuah perubahan besar yang dilaksanakan oleh sebuah bangsa, bangsa manapun di dunia ini.
Dalam perubahan besar seperti ini, orang mengatakan hampir semuanya itu memang tengah mencari bentuknya yang baru, in the making, sedang mencari bentuknya yang lebih permanen, meskipun di dunia ini tidak ada yang benar-benar permanen. Dalam proses ini, mari kita pastikan perjalanan bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik, tekad dan upaya kita untuk menjadikan Indonesia menjadi negara maju, negara bermartabat dan negara sejahtera di abad 21 ini, tetaplah tidak meninggalkan konsensus dasar kita, kesepakatan nasional kita, termasuk jati diri kita sebagai bangsa.
Ada 4 konsensus dan jati diri kita yang selalu saya ingatkan di banyak kesempatan. Pertama, kita telah berketetapan untuk menjadikan Pancasila sebagai falsafah, sebagai ideologi, sebagai dasar, dan pandangan hidup bangsa. Indonesia mesti maju, modern di abad 21 ini, tetapi tetap bertumpu kepada dasar negara Pancasila. Itu pertama.
Yang kedua, saya ingatkan lagi kita harus tetap menjalankan amanah Undang-Undang Dasar 1945, itu konstitusi kita. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, itulah yang merupakan tekad kita, ikrar kita, declaration kita, buat apa kita mendirikan negara ini, di situ ada cita-cita, di situ ada tujuan dan di situ ada dasar kita bernegara. Semaju apapun negara kita, jangan sampai kita keluar dari apa yang ada dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Yang ketiga, dalam perkembangan dunia yang makin dinamis, termasuk perkembangan negeri kita, kita telah bersepakat untuk memilih bangun atau bentuk negara kita, yaitu negara kesatuan dan bukan bentuk yang lain, bukan negara federal ataupun yang semi federal, Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dan yang keempat, mari tidak kita lupakan bangsa kita sangat majemuk, bangsa kita amat beragam, majemuk dalam agama, etnis, suku, daerah dan identitas-identitas yang lain. Oleh karena itulah, para pendiri republik telah mengikrarkan sesuatu yang sangat mendasar yang mesti harus kita lanjutkan ke depan, yaitu Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu. Kalau sekarang ada otonomi daerah, kalau sekarang ada desentralisasi pembangunan, ada desentralisasi fiskal, itu semata-mata untuk memastikan pembangunan kita lebih berimbang, lebih merata, lebih adil dan daerah-daerah di seluruh Indonesia bisa tumbuh lebih baik. Tetapi jangan sampai desentralisasi dan otonomi daerah itu mengurangi, menganggu, melunturkan semangat Bhineka Tunggal Ika.
Kalau 4 hal itu terus berlanjut, saya yakin para pendahulu republik kita, para pahlawan kesuma bangsa, para purnawirawan akan tenang, tenteram, karena perjalanan negeri ini tetap mengarah kepada arah yang benar.
Hadirin yang saya muliakan,
Pelajaran yang kita petik bagi bangkit dan majunya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh para penyelenggara negara, tentu kebersamaan dan dukungan rakyat penting, tapi para penyelenggara negara, utamanya Pemerintah, baik pusat maupun daerah, itu harus benar-benar bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Tugasnya berat, tantangannya tidak ringan, banyak di antara kita yang tidak sabar, maunya semua berubah seketika, tidak mau lusa, tidak mau besok, sekarang berubah. Tidak pernah ada negara di dunia ini yang semua perubahan dilakukan seketika, mesti memerlukan waktu, ada yang cepat dapat kita lakukan perubahan itu, ada yang perlu waktu, ada yang memang merupakan kerja generasi. Sekali lagi, agar semua tugas dapat dilaksanakan dengan baik, maka penyelenggara negara harus baik, Pemerintah harus baik.
Yang dinamakan pemerintahan yang baik adalah sekarang sering disebut good governance, para Wredatama pernah bekerja sama di pemerintahan, pernah bekerja di birokrasi, pernah bekerja di bidang administrasi untuk melayani rakyat, maka yang disebut pemerintahan yang baik atau tata pemerintahan yang baik, pertama-tama harus bersih, tidak boleh tidak bersih, tidak boleh terlibat dalam penyakit yang kita perangi, yaitu korupsi, kolusi dan nepotisme. Pemerintahan yang baik juga pemerintahan yang mampu menjalankan tugasnya, capable, apakah dia Bupati, Walikota, Camat, Kepala Desa, terus sampai dengan Gubernur, sampai dengan Menteri, sampai dengan Wakil Presiden, Presiden, termasuk penyelenggara negara yang lain, DPR, MPR, DPD, MA, MK, semua, mereka harus berkemampuan. Yang kurang berkemampuan, kita bikin berkemampuan, itulah yang sering disebut capacity building, meningkatkan kemampuan kita semua.
Yang ketiga, cirinya harus responsif. Kalau pejabat pemerintahan tidak tahu persoalan yang dihadapi oleh rakyat dimana mereka bertugas, ya bukan pemerintahan yang responsif, harus mendengarkan, harus melihat, harus datang, harus berkomunikasi, apa saja yang dirasakan oleh rakyat kita.
Yang keempat, segala sesuatu yang dilakukan harus transparan, tidak bisa malam hari ambil keputusan sendiri, kumpul-kumpul dengan 2, 3 orang, tahu-tahu jadi masalah. Terbuka, ada sistem, ada proses bagaimana mengambil keputusan, bagaimana menetapkan kebijakan, bagaimana merumuskan program, dijalankan, dilihat oleh semua. Ini ciri-ciri masyarakat terbuka, opened society. Tidak mungkin lagi sekarang rakyat tidak tahu apa yang dilakukan oleh para pejabat publik, apalagi namanya Bupati, Walikota, Gubernur sampai Presiden dipilih langsung oleh masyarakat, oleh rakyat.
Ciri yang lain akuntabel. Akuntabel itu semua yang dilakukan dan yang tidak dilakukan harus bisa dipertanggungjawabkan, harus, karena ya begitu ciri pemerintahan yang baik. Sebagai gambaran, kami, saya, selaku yang sedang mengemban amanah terus melakukan berbagai langkah-langkah penataan dan penertiban dalam pengelolaan, terutama yang di bawah kepemimpinan saya jajaran pemerintah. Harapan saya lembaga-lembaga negara yang lain juga melakukan hal yang sama, yang akuntabel kepada rakyat, bukan hanya Pemerintah, tapi semua lembaga negara juga akuntabel kepada rakyat.
Penertiban yang kita lakukan, dulu banyak sekali rekening yang tidak terdaftar, rekening liar, tidak jelas siapa yang mengelola, berapa dana rekening itu, laporannya kepada siapa, untuk apa, kita tertibkan. Yang sudah kita tertibkan, dan saya kira habis, tertib, 39.477 rekening, 39.477 rekening, nilainya 35,9 trilyun rupiah ditambah dalam mata uang asing 237 juta dolar Amerika Serikat setara sama 2,4 trilyun. Uang sebesar itu bayangkan kalau rekeningnya tidak tertib, siluman, kita bikin tertib. Tidak ada departemen, kementerian, lembaga yang boleh membuka rekeningnya masing-masing yang tidak tercatat dan tidak dilaporkan. Ini contoh.
Yang kedua, laporan keuangan terus kita bikin baik lagi dan tertib, bikin akuntabel. Dulunya memang masih jauh dari harapan, tahun demi tahun makin baik, makin sesuai dengan aturan dan kita akan bikin laporan keuangan dari lembaga mana pun, tertib, baik dan benar. Laporan aset negara, 2 tahun yang lalu, saya meminta supaya barang-barang milik negara, aset negara yang ada dimana-mana, di negeri ini, termasuk di luar negeri, ditertibkan apa asetnya itu, siapa yang mengelola sekarang ini, berapa nilainya, untuk apa aset itu, harus jelas, karena ini milik rakyat, siapa pun bisa mempertanggungjawabkan. Balance sheet ataupun laporan neraca, aset juga mesti dilaporkan tiap tahun. Dengan demikian, apa yang ada di negeri kita ini, semua bisa dipertanggungjawabkan.
Bapak, Ibu, hadirin yang saya cintai,
Masih berbicara dengan tata pemerintahan yang baik, sekarang kita terus berbenah diri, kita terus melaksanakan reformasi birokrasi, banyak kemajuan, terus terang, tidak jujur, kalau dianggap tidak ada kemajuan sama sekali. Dulu untuk mengurus perijinan, mejanya banyak, pintunya banyak, saya khawatir amplopnya juga banyak. Sekarang perijinan, itu hampir semuanya satu atap. Tahun 2004, hanya 5 Kabupaten dan Kota yang perijinannya satu atap, sekarang sudah mencapai 350 Kabupaten dan Kota, sudah 70%. Kita berharap tahun-tahun mendatang, siapa pun yang memimpin negeri ini harus 100% semua satu atap.
Dulu kalau ada orang yang ingin berusaha, usaha untuk tumbuh di daerah itu, di negeri ini yang akhirnya untuk membantu rakyat, lapangan pekerjaan dan sebagainya, diperlukan waktu rata-rata 151 hari. Selama 4,5 tahun ini, sudah kita pangkas, sekarang turun menjadi 76 hari. Kita belum puas, harus kita pangkas lagi mendekati 30 hari, insya Allah bisa.
Bapak, Ibu, saya pernah berkunjung ke Kuala Lumpur. Mengapa Kuala Lumpur? Karena tenaga kerja kita yang di sana lebih dari 1,5 juta dari total 6,5 juta tenaga kerja dan orang kita di luar negeri. Ternyata ada masalah-masalah, masalah itu yang terus kita atasi bersama-sama Pemerintah Malaysia sendiri, kerjasama kita makin baik, Indonesia dengan Malaysia. Yang ingin saya ceritakan adalah dulu untuk mengurus sesuatu di Kedutaan Besar kita di Kuala Lumpur diperlukan waktu 40 hari, waktu saya cek, saya sidak ke situ, tempatnya mana, kamarnya mana, loketnya mana, prosesnya gimana, ini kok panas sekali, pengap sekali, itu sudah dalam keadaan 14 hari untuk mengurus sesuatu di Kedutaan, sekarang semuanya selesai 3 jam. Ternyata bisa, kalau memang seperti itu.
Dulu tenaga kerja kita pulang di airport, di Cengkareng, dimana, itu pabaliet. Apa itu bahasa Indonesia pabaliet? Agak semrawut, membingungkan. Sekarang lebih ditata, ada lounge khusus untuk tenaga kerja kita, ada tempat penukaran uang, ada karcis untuk taksi dan sebagainya, masih ada sih beberapa yang enggak benar, tapi makin baik, makin tertib, makin benar, karena kita ingin memberikan perlindungan, memberikan pelayanan kepada mereka.
Sampailah kepada yang ingin saya sampaikan bahwa abdi negara, birokrat, pemerintah, itu hakekatnya melayani, melayani, to serve, bukan dilayani. Kalau pelayanan makin baik, dan itulah cara mengukur kinerja Bupati, Walikota, tidak usah cerita yang muluk-muluk, saya tanya, bagaimana pelayanannya, ngurus KTP, ngurus SIM, ngurus ini, ngurus itu, dipersulit atau dipermudah.
Bapak, Ibu, masyarakat kita ada yang masih miskin. Mengapa kata-kata masih? Insya Allah suatu saat tidak miskin lagi. Yang masih miskin, penghasilannya pas-pasan, hidup dari hari ke hari. Pemerintah terus membantu, misalnya menggratiskan bagi putra-putrinya yang bersekolah, menggratiskan untuk berobat, membantu dengan bantuan langsung, seperti BLT atau BLT bersyarat, membantu bagi yang mengalami musibah, terus meningkatan tunjangan bagi lanjut usia, bagi pensiunan, purnawirawan, penyandang cacat dan sebagainya, untuk benar-benar penghasilan yang pas-pasan cukup sehari-harinya. Kalau pelayanannya baik, mengurus segala sesuatu kalau perlu bebas atau semurah-murahnya, atau gratis, tapi juga cepat, mudah dan sebagainya, maka dia tidak perlu mengeluarkan dari dompet untuk mengurus segala sesuatu itu.
Contoh sertifikat sekarang jemput bola, bukan mereka ngurus sertifikat, yang ngurus kan BPN, contohnya. Jadi program-program jemput bola dalam pelayanan contoh, mari kita peringan, mari kita permudah, mari kita percepat semua urusan, bukan sebaliknya. Dalam kaitan ini, reformasi di bidang birokrasi menyentuh hal-hal yang hakiki seperti itu. Tentu karena tugasnya berat, abdi negara kita, abdi Pemerintah kita, maka kewajiban Pemerintah, terus-menerus meningkatkan kesejahteraannya.
Kalau saya bicara kesejahteraan pegawai, ya ada PNS, ada TNI, ada POLRI, ada pensiunan, ada purnawirawan, ada keluarganya yang sesuai dengan undang-undang dan aturan, bicaranya begitu. Kalau naik, naik semua, tidak mungkin ini naik, ini tidak, tidak mungkin. Tepuk tangan tidak dilarang silakan.
Kalau tahun 2005, gaji ke-13 sudah ada terus sampai sekarang. Tahun berikutnya lagi, gaji selalu naik, itu bukan karena apa-apa, karena saya ingin standar hidup itu layak. Harapan saya, gaji minimal itu, untuk yang masih aktif, itu 2 juta, sekarang mendekati, kurang sedikit sekali. Kalau 2 juta, kalau guru sudah terlewati guru, maksud saya lebih layak, lebih disiplin, lebih sregep kerjanya, lebih produktif, tidak mikir yang sana, yang sini. Maksud saya dengan gaji dinaikkan, pelayanan makin baik, tentu kehidupan mereka akan tertolong.
Ketika seorang Kepala Negara memikirkan kenaikan gaji tidak boleh saya tidak memikirkan buruh atau pekerja, petani, nelayan dan saudara-saudara kita yang tidak mengalami skema gaji, tidak adil. Oleh karena itulah, semua kebijakan program pro rakyat, yang dilakukan pemerintah selama ini, juga mencakup, meningkatkan nilai tukar petani atau pendapatan petani, menyesuaikan, meningkatkan upah buruh sesuai dengan kemampuan ekonomi dan dunia usaha, membantu semua mereka, sehingga kalau makin meningkat kesejahteraannya, meningkat semua, kita tidak boleh makmur sendiri-sendiri, mesti makmur bersama-sama. Karena kalau kita susah, biasanya susah bersama-sama, jangan makmur sendiri-sendiri, tidak boleh.
Sekarang ini, menjadi adil, kesejahteraan terus kita tingkatkan, tapi saya menuntut agar tugas mereka juga makin baik, melayani masyarakat makin baik, bagi guru mendidik, mengajar murid-muridnya makin baik, karena kesejahteraannya sudah meningkat, itu menjadi adil, adil. Saya menerima laporan dari masyarakat, SMS, PO BOX 9949 itu surat, SMS 9949 ada yang lewat Ibu Negara, ada lewat macem-macem SMS-nya. Jadi kalau ada abdi negara, ada birokrat yang nakal nyampe itu, nyampe betul. Dari laporan yang masuk, yang aneh-aneh, 70% langsung kami tindak lanjuti, karena yang lainnya kadang-kadang tidak pas beritanya, hanya fitnah, tidak boleh fitnah, kita anggap benar, karena fitnah itu lebih kejam dibandingkan pembunuhan. Ini biasanya kalau musim pilpres begini, banyak sekali fitnah bersliweran itu.
Kembali yang tadi itu, dan setelah kita cek benar, “Betul kan?” ”Iya, Pak, minta maaf.” ”Enggak boleh begitu.” Ini contoh Bu ya. Ini kejadian betul. Ada seorang pelapor, kebetulan ini kok ke Ibu Negara, ”Bu, tolong sampaikan Pak SBY, ada judi di kecamatan ini, tempatnya di jalan ini, yang judi ini, ini, ini, termasuk oknum, petugas keamanan. Nilai judinya, uangnya itu berapa juta begitu, kita hubungkan ke Kepolisian, cek, cek, cek, kena, hanya berapa jam kena. Jadi betul laporan itu betul. Cuma saya berpikir, ini jangan-jangan yang laporan yang tadinya judi terus kalah gitu, kenapa tahu jumlah uangnya di situ berapa di situ. Kalau, kan enggak mungkin kok uangnya sekian juta pas dihitung itu coba. Maksud saya dalam informasi yang horizontal tidak ada rahasia.
Kadang-kadang ada seorang istri, ”Bu, kami istri dari ini, tolong hukum saja suami saya.” Ini kok malah dihukum itu, ternyata ada percekcokan gitu, setelah kita urut di Surabaya, akhirnya selesai. Alhamdulillah, karena komandannya menangani, kemudian didamaikan, akhirnya baik. Saya hanya mengatakan, ini pers juga ada di sini, hati-hati mereka yang bertugas dimana pun, informasi itu siang dan malam nyampe ke saya, jadi tidak ada dusta di antara kita, karena semua itu sampai. Yang bagus-bagus banyak, saya sering begini kepada Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, yang bagus-bagus semuanya, yang inovatif, yang memikirkan rakyatnya, yang ini. Tapi yang sekali, dua kali lalai juga masih ada. Inilah yang harus kita benahi dalam rangka reformasi birokrasi yang sedang berjalan.
Yang terakhir, harapan dan ajakan kepada Keluarga Besar Persatuan Wredatama Republik Indonesia. Pertama, teruslah mengabdi dan teruslah berperan, apapun pengabdian dan peran yang Bapak, Ibu lakukan itu mulia, itu ibadah, itu membawa manfaat bagi rakyat kita. Tidak perlu dilihat besar kecilnya, tidak perlu masuk koran, masuk televisi atau tidak, yang penting ikhlas, yang penting tujuannya baik. Dan saya kira makin tua usia kita, semua harus kita kaitkan dengan ibadah, ibadah.
Yang kedua, saya minta doa, mohon dukungan, mohon peran, agar perekonomian di negeri ini terus tumbuh dengan adil, merata, berimbang, agar dengan pertumbuhan ekonomi itu, kita bisa terus meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia, termasuk para Wredatama. Alhamdulillah, mengapa Pemerintah berani meningkatkan gaji tiap tahun, gaji 13 tiap tahun, meningkatkan yang lain, yang non gaji? Karena penerimaan negara kita juga naik. Tahun 2004 sekitar Rp 600 triliun, sekarang sudah mencapai Rp 1.000 triliun. Kalau setelah krisis global kita lewati, ekonomi kita tumbuh lagi, ibarat ini, kue atau beras, makin besar, makin besar, di situlah secara adil pula dapat kita gunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kita, termasuk peningkatan gaji pensiunan, termasuk peningkatan mereka-mereka yang tidak lagi aktif. Meskipun saya ingin meningkatkan setinggi-tingginya, tapi kalau uangnya tidak ada, darimana, solusinya mari kita perbesar penerimaan negara ini, mari kita perbesar belanja negara ini, tentunya juga untuk pembangunan, untuk infrastruktur, bandara, pelabuhan, jalan, alat transportasi dan lain-lain, tapi ada porsi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Syaratnya sekali lagi, ekonomi musti tumbuh, agar ekonomi tumbuh, negara harus aman, endak mungkin ekonomi tumbuh, kerusuhan dimana-mana, politik harus stabil, tidak boleh gonjang-ganjing terus, hukum harus tegak, korupsi, kolusi, nepotisme diberantas, bagaimana mau dapat kalau masih merajalela di situ. Semua kita bangun untuk ekonomi tumbuh. Ekonomi tumbuh untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.
Dan yang terakhir, yang ketiga adalah gunakan hak pilih Bapak, Ibu dalam Pemilu ini, jangan ikut-ikutan, jangan tergoda menjadi golput, mengapa? Kalau Bapak, Ibu sudah menyatakan pilihannya, siapa pun, Bapak, Ibu memiliki kemerdekaan untuk memilih, apakah memilih SBY, apa memilih Ibu Megawati, apa memilih Pak Jusuf Kalla. Kemerdekaan di Bapak, Ibu, tapi gunakan hak pilihnya. Sebab kalau tidak digunakan, begitu nanti pemerintahan berjalan, ngomong, lah Bapak milih saja kagak, yang lain capek-capek di TPS, berlibur, gunakan hak pilihnya, karena itu pilihan rakyat. Dengan demikian, akan mantap, akan mapan kehidupan demokrasi kita.
Itulah 3 harapan dan ajakan saya kepada para Wredatama. Dan tadi Pak Rohadi dan Menko Kesra, ada Menpan, ada Menteri Sosial, tolong tadi direspon, carikan solusi, berikan bantuan secara proporsional. Saya ini menggunakan sistem, saya mengerti yang dimaksudkan lanjutkan, lanjutkan kenaikan gajinya, lanjutkan bantuan-bantuannya, saya kira itu tekad pemimpin dimana pun. Begini, saya itu tidak, mau, ya, oke, oke, kalau saya tiap hari bilang oke, oke, oke begitu, ketemu seribu forum tekor ini nanti. Kalau saya ingin populer, ingin cepat, setuju, setuju, tapi tiba-tiba, ”Pak, ini tekor, defisit ini.” Dilihat, membantu wajib, dilihat berapa kemampuannya, bantuan seperti apa dan saya kira kalau membantu Wredatama, membantu sesepuh, membantu senior itu pahalanya tinggi. Jadi silakan dilihat sesuai dengan sistem, dengan aturan dan kemampuan yang ada.
Saya kira itu Bapak, Ibu, hadirin yang saya hormati. Sampaikan salam saya untuk seluruh Keluarga Besar PWRI, salam untuk keluarga, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu membimbing, menuntun, memajukan kehidupan kita.
Sekian.
Wassalamua’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



