Pidato Presiden

Dilog dengan Para Dalang

 

TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN RI DENGAN PARA DALANG
DI SEMARANG
27 JUNI 2009



Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Pendengar dan pemirsa di Indonesia, selamat malam, selamat berjumpa lagi dengan saya, Parni Hadi, dalam acara Dialog Budaya, malam hari ini bersama Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang saya kira juga seorang budayawan. Insya Allah malam hari ini, kita akan menyaksikan dialog antara budayawan, satu di Semarang dan sejumlah orang di Sidoarjo. Jarak telah teratasi berkat teknologi.

Ki Dalang, panjenengan kolo wau dipun aturi Purbo Asmoro tegesipun Amurbo Asmoro, artinya bisa menguasai asmara. Luar biasa Ki Dalang. Meniko Bapak Presiden rawuh teng mriki kolo wau nggih sampun rono ing penggalih, dengan senang hati menyaksikan kiprahnya Ki Dalang walaupun sebentar, sambil manggut-manggut, tapi tadi Pak Menko belum menyaksikan karena asyik dengan cerita Sundel Bolong tadi.

Di sini, hadir Ki Dalang di samping Bapak Presiden, juga ada Bapak Menko Polhukam, Bapak Widodo A.S., kemudian ini orang Bapak yang menguasai bahasa dan budaya Jawa, yakni Bapak Sudi Silalahi, serta juga ada salah satu anggota Dewan Pengarah Pepadi, Pak Purbo, Dewan Penasihat Pepadi, Ki Joko Suyanto. Meniko piyantun Mediun, lajeng wonten ugi meniko dalang totok, meniko remenipun nembang Ki Dalang Bibit Santoso. Wartawan bisa salah juga. Nyuwun pangapunten, Ki Dalang Bibit Waluyo dan Ibu, soho poro pamiarso lan pamirso sedoyo ingkang wonten Hotel Grand Candi Semarang meniko.

Pendengar sekalian, acara ini berlangsung atas prakarsa Pepadi, Persatuan Dalang Indonesia, dan RRI, serta Depkominfo, kemudian PT Telkom, TVRI, serta Ind line, sebuah jasa internet yang diakses oleh 32 ribu pengguna di seluruh dunia, meliputi 50 bangsa, sehingga acara malam hari ini insya Allah, Bapak Presiden, mohon maaf ini akan menjadi sebuah pesta budaya yang menggabungkan teknologi dan budaya tradisional.

Ki Purbo, kolo wau panjenengan, tadi Ki Purbo menjelaskan bahwa ini ceritanya Prabu Pandu Dewonoto itu kena sabdo atau kualat. Lha ini mungkin Bapak bisa menjelaskan, Ki Dalang. Nanti mungkin Bapak Presiden akan kami mohon, saya mohon untuk memberikan masukan, lalu kemudian kita bahas pentingnya kita melestarikan budaya atau hiburan tradisional. Monggo.

Dalang Purbo Asmoro:
Terima kasih, Pak. Lakon malam ini adalah Banjaran Bima, Bapak. Dimulai lahirnya Bima. Bima lahir tidak lumrah sebagai bayi biasa, tapi dia berupa bungkus, Pak. Sampai sekitar 14 tahun, dia dibuang di hutan supaya menjadi papah itu mendapat pertolongan dari Yang Maha Kuasa. Ketika sampai saat itu ternyata Prabu Pandu belum mendapat pepajang dari Tuhan karena anak itu belum keluar dari kuburnya. Prabu Pandu dan Dewi Kunti sangat susah. Kemudian, dia teringat dengan dosa yang telah dilakukan pada tempo dulu, yaitu dia pernah memanah kijang yang sedang beradu kasih, yang mana kijang itu adalah penjelmaan dari Begawan Wibisono.

Dengan kesalahan Pandu yang telah dilakukan, tidak menghormati kepada makhluk yang sedang bercengkerama tersebut, maka dia mendapat kesusahan, sehingga pada akhirnya anaknya berwujud bungkus itu dia selalu teringat kepada kesalahan-kesalahan yang dia perbuat. Dengan demikian, yang dapat kami petik adalah bahwa seorang manusia berbuat, bertindak akan selalu berkaca kepada dirinya sendiri, dan harus mengutamakan dan menghormati dengan makhluk yang lain, entah berupa apapun. Demikian, Bapak.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Inggih, sekedap. Bandaran Bentoro itu artinya foto geografi jiwa. Begitu kan? Bimo itu kan besar-tinggi. Kira-kira kan seperti Pak SBY, gitu ya? Besar-tinggi. Cocok nggak? Nggak berani kan bilang? Nyuwun pangapunten, Pak Menko-Menko, selamat malam, Bapak. Inggih, Bapak dari pakar falsafah Sundel Bolong, beberapa tahun yang lalu, dan nanti Bapak Presiden akan memberikan komentar. Silahkan, atau Pak Menko dulu mau menyampaikan beberapa laporan mungkin berhubungan dengan telah dilaksanakan sarasehan Pak Menko tadi siang. Singkat, jelas seperti Bapak biasa, monggo.

Menkominfo:
Terima kasih. Yang pertama kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Presiden. Di sela-sela kesibukan yang sangat luar biasa, Bapak masih menyempatkan untuk berdialog tidak hanya dengan 250 dalang yang hadir dalam kesempatan ini, tapi juga dengan ribuan masyarakat yang ada di Alun-alun Sidoarjo ini, baik yang berada di Sidoarjo maupun di sekitar Sidoarjo.

Nomor dua, yang ingin saya sampaikan adalah apakah Bapak pada pertemuan dengan Pepadi waktu di Wonogiri, dan alhamdulillah tadi telah kita dengarkan dari dari Ki Dalang, bahwa tadi betapa Pandu Dewonoto akan menebus dosanya. Makna apa, Bapak, yang Bapak bisa tangkap dari pagelaran yang singkat tadi, yang barangkali sangat penting untuk diketahui rakyat Indonesia, bagaimana seni budaya tradisional mampu menjadi wahana untuk pendidikan? Silakan, Bapak.

Presiden RI:
Pak Parni, terima kasih. Sebelum saya menjawab makna atau pelajaran apa yang dapat kita ambil dari fragmen yang diangkat oleh Ki Purbo Asmoro tadi dalam lakon Banjaran Bimo, saya ingin menyapa dulu saudara-saudara kita yang ada di Sidoarjo.

Assalamu’alaikum Wr. Wb., selamat malam, salam sejahtera,
Pak Nuh, Ki Dalang Purbo Asmoro, dan para dalang yang turut hadir yang saya cintai. Para pejabat daerah yang turut hadir, rakyat Indonesia yang juga mendengarkan acara ini, pertama-tama, saya sungguh bersyukur bisa ikut berinteraksi dalam pagelaran wayang kulit malam hari ini, karena kita semua ingin terus melestarikan budaya tradisional.

Dua hari yang lalu—sekarang hari Sabtu, ya?—satu hari yang lalu di Jakarta, saya membuka Pesta atau Pekan Produk Kreatif Indonesia. Dalam acara itu, saya juga memberikan penghargaan kepada para maestro seni tradisonal dari seluruh Indonesia. Ini adalah cara kita untuk melestarikan dan justru makin mengembangkan seni budaya tradisional, seni budaya adiluhung untuk kepentingan bangsa kita, karena di tengah era globalisasi ini, jati diri bangsa sangat penting. Menghormati warisan sejarah sangat penting, melestarikan budaya bangsa, termasuk seni budaya, termasuk wayang kulit juga sangat penting. Kita ingin Indonesia makin maju di abad XXI ini, tapi tidak boleh tercabut dari jati diri dan juga warisan budaya dan sejarahnya.

Oleh karena itu, Bung Parni, saya senang bahwa kita semua masih bisa memberikan penghormatan seperti ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua yang memiliki prakarsa untuk menyelenggarakan acara pada malam hari ini. Saya sungguh berharap, mari kita pelihara semua warisan seni dan budaya bangsa.

Menjawab pertanyaan Bung Parni tadi, ini maknanya dalam. Hidup ini harus saling hormat-menghormati. Tuhan yang Maha Kuasa, Gusti Ingkang Murupipun Dumadi, menciptakan makhluknya, manusia, dan juga makhluk hidup yang lain, termasuk alam semesta. Mestinya kita harus saling menyayangi, saling menghormati.

Dalam kepercayaan Hindu, ada yang disebut dengan Trihitakarana, saling menghormati antara manusia, ciptaan Tuhan, kemudian alam semesta, kemudian tentu Tuhan itu sendiri. Makhluk ciptaan Tuhan bukan hanya manusia, tapi juga hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ini juga cocok dengan konsep abad XXI ini, kita makin menghormati lingkungan hidup. Oleh karena itu pelajaran yang kita ambil, marilah kita menjaga semuanya, saling hormat-menghormati, jangan berbuat kekeliruan karena itu dosa, merusak lingkungan, dan sebagainya. Saya melihatnya dari sisi itu, ajaran agama manapun sama.

Oleh karena itu, sungguh saya terkesan dengan pilihan dari lakon ini, karena mengingatkan sekaligus kita, agar kita punya perilaku yang baik terhadap lingkungan kita. Begitu pendapat saya.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Pak SBY, boleh pakai “Pak SBY”?

Presiden RI:
Silakan.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Pak SBY, waktu melihat wayang tadi, teringat nggak masa kecil? Nonton wayang tidak?

Presiden RI:
Sangat teringat, dulu tidak pernah absen, pakai sarung, duduk dengan kotak, sekali-kali tertidur, bangun lagi, sampai subuh.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Pernah ketiduran, Bapak?

Presiden RI:
Pernah ketiduran, tapi cepat bangun lagi. Dan memang wayang ini bukan untuk menyenang-nyenangkan. Filosofinya dalam. Pesan-pesan moralnya tinggi. Pesan-pesan spiritualnya ada, dan selalu kontekstual, selalu relevan. Oleh karena itu, saya ingin kita makin menghormati para dalang, kita perlukan kehadiran beliau untuk memberikan pencerahan moral dan kehidupan bagi bangsa Indonesia.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Matur nuwun, Ki Dalang tepuk tangan monggo. Ki Purbo Asmoro, setelah mendengarkan tanggapan Pak SBY tentang pentingnya dalang, pentingnya wayang, masih adakah suatu yang mengganjal di hati untuk disampaikan? Peran apa yang dilakukan oleh pemerintah atau negara untuk melestarikan budaya bangsa? Masih ada?

Dalang Purbo Asmoro:
Sebenarnya, kalau saya sendiri dengan Bapak Presiden itu sama, dalam arti, sama lahirnya dari kota yang sama, Pak. Hanya bedanya Bapak Presiden itu presidennya Indonesia, kalau saya presidennya tata pemerintahan wayang, Pak.

Presiden RI:
Itu lebih mulia, itu.

Dalang Purbo Asmoro:
Demikian yang akan saya tanyakan kepada Bapak adalah karena pada tahun 2003 itu wayang menjadi masterpiece dan diakui oleh UNESCO. Untuk itu, langkah-langkah apa yang kira-kira akan Bapak lakukan ke depan agar eksistensi dari wayang itu sendiri tetap jaya. Dan menurut dongengnya juga, tempo dulu pada saat pemerintahan Bung Karno itu, di Istana Negara selalu diadakan pertunjukan wayang sebulan sekali, Bapak. Untuk itu, kira-kira apa para dalang masih berkenan untuk berekspresi di Istana Negara, Bapak? Terima kasih.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Langsung, nih.

Presiden RI:
Baik, Pak Purbo Asmoro dan juga para dalang yang turut mendengarkan atau turut menyaksikan acara ini, sebenarnya saya dan juga teman-teman yang sedang mengemban amanah di negara ini, baik pusat maupun daerah selalu ingin menghidupkan, melestarikan seni wayang kulit ini. Banyak cara yang bisa kita lakukan seperti malam hari ini, atau pada peristiwa-peristiwa pagelaran yang lain, yang bisa kita jaga ke depan. Ada pemikiran saya memang, mulai kita lestarikan kembali pertunjukan-pertunjukan berkala wayang kulit ini di lingkungan Istana, kita pikirkan nanti karena ini seni budaya. Di Istana Negara itu, sering kita lakukan arena atau acara pertunjukan seni, biasanya pada malam resepsi 17 Agustus-an, atau kalau ada acara kunjungan tamu-tamu negara, atau ada acara-acara lain.

Di Istana Negara ada yang disebut Wisma Negara, ada juga Istana Merdeka dan Istana Negara. Nanti saja setelah pemilihan presiden selesai, sebab kalau sekarang nanti dikira ada kaitannya dengan politik. Nanti saja, mangke sampun pilpres bubar, kita bisa lakukan semuanya itu, dan insya Allah menjelang 17 Agustus, memperingati Hari Kemerdekaan kita, saya akan mengundang nanti pagelaran di kompleks Istana Negara.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Luar biasa, langsung. Bapak Presiden, kalau belum di istana, di dekat istana juga boleh. Maksudnya, di RRI boleh, sampun rumiyin.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Baik juga, kalau di Istana sibuk, di RRI dekat, Bapak sering lewat juga. Saya kira kalau istri Bapak rawuh nggih prayogi. Dan begini Bapak, Ki Purbo, kami, RRI, setiap akhir bulan mengadakan pagelaran wayang. Jadi, wayang kulit, wayang golek, tidak hanya dari Jakarta tapi dari seluruh Indonesia, dan banyak dalang diberi kesempatan. Insya Allah kalau di Istana, kami akan menyiarkan langsung, dan saya minta, saya, tadi ada Dirut TVRI, Pak Presiden, saya pikir juga akan menyiarkan langsung karena kami sebagai media publik mempunyai tugas melestarikan budaya bangsa.

Presiden RI:
Terima kasih, sebelumnya.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Ki Purbo, setelah dijawab, insya Allah akan manggung di Istana, insya Allah pada saatnya nanti. Saya kok ingin mendengar suara Yu Limbuk atau apa Bulek atau Lek Cange itu. Saya ingin ini tadi kan sepa-sepi betul, bagaimana kalau ada ilir-Ilir sedikit loh? Apa bisa? Saget mboten Yu Cange atau Mbakyu Limbuk, monggo.

Dalang Purbo Asmoro:
Matur nuwun Mbakyu Cange lan Mbakyu Limbuk. Ki Purbo, saget, bisa dijelaskan iki panjenengane Bapak Presiden pancen bener-bener tresno marang kabudayan yo ngger.

Iyo pak iyo, lan aku duweni pangucap ugo mugo-mugo tatakan budi pekerti kuwi ditanamkan sejak dini, dari awal, wiwit isih soko TK yo, No?

Iyo sukur lagi ono usaha-usaha ingkan mirunggan soko ingkang kawugan supoyo nandur
nilai-nilai kepribadian lewat pertunjukan wayang kulit sejak dini di seluruh Indonesia

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Ki Purbo, bisakah dijelaskan kepada masyarakat, apa makna lagu Ilir-Ilir tadi? Sekilas karena saya pikir penuh dengan falsafah kehidupan yang tinggi sekali, sekilas saja.

Dalang Purbo Asmoro:
Inggih Pak matur nuwun, kalau Ilir-Ilir itu sebetulnya bisa dimaknai macam-macam, yang jelas itu adalah Ilir-ilir tandure wong semilir. Itu tandur-nya masih hijau, masih segar, bahwa kita melakukan sesuatu harus sejak dini. Tak ijo royo-royo tak cenguk temanten anyar adalah manten itu kan sesuatu yang dibanggakan di dalam hidup ini, Pak. Jadi kita di dalam hidup ini mengemban misi sebagai hamba Tuhan untuk melakukan darma di dalam kehidupan ini, Pak.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Inggih, Bapak Presiden ada, mau menambahi ?

Presiden RI:
Inggih, saya menambahi bukan dari makna lagu Ilir-ilir yang sangat indah, yang merdu, yang lekat di hati kita, terutama kita yang sejak kecil menyenangi tembang Jawa, budaya Jawa, karawitan jawa, maupun wayang kulit dan wayang orang. Yang saya ingat kalau saya kaitkan dengan kehidupan berbangsa ini, dulu para leluhur kita, para wali itu dalam melaksanakan syiar agama, itu pandai betul menggunakan pendekatan budaya, pendekatan yang persuasif, pendekatan tanpa kekerasan, sehingga agama itu dilihatnya sebagai sesuatu yang indah. Menurut saya, ini masih relevan, bukan hanya pendekatan dalam memberikan dakwah keagamaan, agama manapun juga, tetapi di dalam menyampaikan banyak hal, marilah kita pilih cara-cara yang tepat.

Saya pernah ziarah ke makam Sunan Kalijogo, pernah ziarah ke makam Sunan Giri, saya mendengarkan bahwa Ilir-ilir ini salah satu metode yang digunakan para wali itu untuk berkomunikasi dengan rakyat. Saya tentunya sebagai seorang yang sedang mengemban amanah mengajak siapa pun yang ada di negeri ini, ketika kita berkomunikasi dengan rakyat, marilah kita pilih cara-cara yang baik, cara-cara yang tepat, dan jauhkan dari paksa-memaksa, perilaku kekerasan yang akhirnya tidak baik. Saya pikir itu makna, bagaimana kita berkomunikasi dengan rakyat.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Bapak Presiden, tadi saya membuka dialog ini dengan sebuah ungkapan, “Pemimpin itu seorang budayawan.” Bagaimana Bapak membangun bangsa dengan pendekatan budaya? Tadi Bapak menyampaikan bahwa para wali menyampaikan ajaran melalui budaya. Bagaimana membangun bangsa ini dengan pendekatan budaya, dengan melibatkan para seniman dan budayawan?

Presiden RI:
Ini lebih mendasar sifatnya, Bung Parni, Ki Purbo Asmoro, dan semua. Saya senang bisa sedikit menyampaikan pandangan sederhana saya. Begini, sering saya katakan bahwa kehidupan ini harus berimbang. Kita mengenal yang disebut dengan logika: salah-benar. Ada yang namanya etika: baik atau buruk. Tapi ada lagi satu, yaitu estetika, soal keindahan. Hidup yang berimbang, yang membawa ketenteraman lahir dan batin adalah apabila ketiga-tiganya hadir. Masyarakat yang kering budaya; budaya itu sendiri saya katakan tadi ada ragam kehidupan masyarakat yang hidup di dalamnya: logika, etika, estetika, maka makin lengkap komponen itu, makin baik maknanya.

Dalam menyikapi kehidupan bangsa yang sangat dinamis, kadang-kadang penuh dengan persoalan, ujian, dan tantangan; kadang-kadang ada konflik di antara kita, tetapi kalau nilai-nilai luhur bangsa, nilai-nilai budaya tentang keindahan, tentang persahabatan, tentang penghormatan kepada yang lain, yang saya sebut dengan budaya adiluhung—akhlak sebetulnya yang baik—maka lebih teduh kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu, budayawan, seniman harus mengisi sisi kehidupan seperti itu agar hidup tidak dilihat hanya salah-benar, baik-buruk, tapi juga keindahan-keindahan di dalamnya. Jangan hidup kita hanya serba politik, kalau politik itu adakalanya kalah dan menang, atau serba bisnis, untung atau rugi, tapi isilah pula dengan nilai-nilai dan praktek budaya yang tentu semuanya senang.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Tepuk tangan, Ki Dalang. Luar biasa. Marilah berpolitik dengan dasar budaya.

Bapak Presiden, mohon izin ini ada—mohon izin itu model pegawai negeri, Pak. Kalau wartawan biasanya tidak, tapi sekarang boleh ini?

Presiden RI:
Monggo, monggo.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Ini dari Pulau Sebatik, ini. Saya menghimbau agar Bapak Presiden memperhatikan Pulau Sebatik yang sangat dekat dengan perbatasan, agar mempercepat infrastruktur dan pendidikan agar budaya kita tetap bertahan. Jadi pendidikan adalah bagian penting dari pembudayaan, ini saya kira masukan sangat baik dari Sebatik ini, Bapak. Indonesia alhamdulillah mendengarkan RRI, dan juga saya kira sekitar sini menyaksikan TVRI. Silakan, Bapak.

Presiden RI:
Baik, Saudara-saudara yang ada di Pulau Sebatik, saya sampaikan selamat malam. Saya pernah berkunjung ke Nunukan, ke Tarakan, saya tahu Sebatik di sekitar situ, dan ini dalam program pemerintah untuk mengembangkan wilayah perbatasan termasuk di Kalimantan Timur bagian utara.

Saya juga sudah mendorong agar ada percepatan pembangunan, termasuk pemekaran wilayah yang ada di situ. Oleh karena itu, sejalan dengan pengembangan wilayah itu, insya Allah bukan hanya ekonominya, bukan hanya keamanannya, bukan hanya jangkauan informasi yang harus sampai di sana, tetapi juga pendidikan, infrastruktur termasuk pelestarian budaya. Ini menjadi program pemerintah. Mudah-mudahan segera bisa kita lakukan, sehingga membawa kemajuan bagi saudara-saudara kita yang ada di Pulau Sebatik.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Terima kasih. Ki Purbo, jadi Ki Purbo insya Allah akan diundang ke Pulau Sebatik juga ini insya Allah, Ki Purbo.

Bapak Presiden, begini, banyak sekali keluhan, Pak. Dalang-dalang itu kok tidak muncul di media. Jadi kami punya pendapat, Pak. Di samping RRI, memang bertugas juga TVRI, bertugas untuk melestarikan budaya bangsa, maka ada lima pilar, Bapak, untuk mengembangkan seni-budaya ini. Pertama, pemerintah, negara melalui Bapak yang memfasilitasi. Seniman, budayawan yang berdedikasi. Publik yang mengapresiasi, termasuk nanggap, Bapak.

Kemudian, dunia usaha yang membangun industri kreatif dan memberi donasi. Media massa, termasuk RRI yang memberi publikasi. Kami siap untuk melakukan itu semua, mari bersama dengan empat pilar yang lain. Bapak, mohon, nanti mendukung upaya pelestarian budaya. Ki Dalang bisa mengajukan usul lagi? Ki Purbo?

Presiden RI:
Ki Purbo, silakan, monggo.

Dalang Purbo Asmoro:
Iya, Pak. Karena dalang sudah ada wadahnya, yaitu Pepadi dan juga Senawangi, Bapak. Bagaimana langkah dari Bapak ataupun pemerintah untuk lebih mengoptimalkan Pepadi dan Senawangi sebagai wadah para dalang, Bapak? Terima kasih.

Presiden RI:
Inggih, sebenarnya pemerintah ingin memberikan ruang gerak yang luas kepada yang disebut dengan civil society, termasuk organisasi seni budaya agar tidak harus diatur oleh pemerintah, agar lebih memiliki ruang kebebasan yang luas. Namun demikian, saya menyadari seringkali diperlukan bimbingan, bantuan, atau fasilitasi dari pemerintah agar organisasi itu bisa menjalankan misinya dengan baik.

Oleh karena itu, saya setuju dan bisa kita lakukan nanti semacam silaturahim ataupun pertemuan ataupun sarasehan, apa saja yang bisa pemerintah lakukan untuk kebaikan. Sebab kita punya trauma dulu, kalau pemerintah terlalu mengatur, lalu mengontrol kehidupan media massa misalnya, itu menjadi kurang hidup. Tetapi, saya menyadari bahwa tentu tidak bisa pemerintah berlepas tangan untuk mendorong, membantu, menggerakkan apa yang dilakukan termasuk Pepadi dan jajaran paguyuban dalang lainnya.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Tetapi tentu tidak hanya seni-budaya Jawa, Bapak, ya? Seni itu semuanya ?

Presiden RI:
Semuanya, semuanya, seni-budaya bangsa.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Karena itu, Pak, ini ada SMS masuk, Pak, dari Lhokseumawe, Bapak. Bagaimana kalau di tiap perbatasan kabupaten didirikan taman budaya, tempat pertunjukan seni, tarian seni yang lain agar budaya kita tetap lestari, abadi; dari Lhokseumawe, Bapak.

Presiden RI:
Baik, yang ada di Lhokseumawe, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya selalu ingin memberikan apresiasi kepada seni-budaya dari manapun di tanah air kita. Kalau Bapak-Ibu, Hadirin selama ini mengamati, di Istana Negara saja, 17 Agustus-an sore misalkan atau ada kegiatan yang lain, selalu kita tampilkan berbagai ragam seni tari, seni musik dari berbagai daerah, termasuk dari Aceh banyak sekali, misalkan Rampak Ikeleng, kemudian—saya tidak hafal namanya—tapi ragamnya banyak, dan kita hadirkan.

Maksud saya adalah sangat bisa dibangun tempat-tempat itu, tetapi ingat sekarang pemerintahan kita menganut otonomi daerah dan desentralisasi. Yang saya harapkan inisiatif, kreatifitas, inovasi dari para bupati, para wali kota, dan di atasnya para gubernur. Kalau itu bisa didorong akan terus berkembang akan mekar, pemerintah pusat tentu punya kewajiban utnuk membantunya. Intinya saya setuju makin banyak makin bagus, sehingga budaya bangsa yang begini kaya akan tetap lestari dan justru makin berkembang.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Luar biasa, makin banyak makin bagus, lebih banyak lebih bagus. Terima kasih Bapak. Jadi ini ada masukan lagi. Ki Dalang, tadi Bapak Presiden menyampaikan bahwa seni budaya di berbagai daerah akan dikembangkan. Kalau Ki Dalang ini kan khusus wayang kulit, apakah di dalam pewayangan sekarang bapak atau Ki Dalang juga memasukan juga seni budaya di luar seni budaya Jawa?

Dalang Purbo Asmoro:
O ya Pak, bisa Pak di dalam pedalangan atau pakeliran itu sifatnya fleksibel Pak. Jadi dari cabang seni apapun sebenarnya bisa di dalam juga bersama-sama di dalam wayang itu.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Kemudian Ki Dalang, ini ada keluhan hanya dalang tertentu yang laris sedangkan banyak dalang, ribuan dalang tidak dapat kesempatan. Apakah perlu ada pendidikan khusus dalang? Dan mumpung ada Bapak Presiden kalau ingin menyampaikan sesuatu yang lain.

Dalang Purbo Asmoro:
Sebenarnya semua dalang itu mempunyai segmen pasar sendiri-sendiri, Pak. Jadi, masalah dalang itu mestinya harus selalu aktual dan selalu berbenah diri maupun belajar secara kontinyu, terus-menerus. Dan pada akhirnya, pada tataran nasib, itu kita serahkan pada yang disana. Masalah laris dan tidaknya toh kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Itu tergantung dari yang ngecet lombok, Pak.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Matur nuwun, yang ngecet lombok artinya Yang Maha Kuasa. Ki Dalang dan pendengar sekalian, para pencinta budaya, Alhamdulillah pada malam hari ini banyak sekali SMS masuk. Sekarang Bapak Presiden, ini dari Maluku Tenggara Barat. “Selamat malam. Saya dari Maluku Tenggara Barat. Kami memiliki budaya yang luar biasa, namun kami tidak bisa kembangkan. Bagaimana caranya? Kami minta tanggapan.” Saya kira umum, tapi silakan, Bapak.

Presiden RI:
Saya biasanya dengan Ibu Negara dan para undangan kalau menghadiri pagelaran seni apapun di daerah manapun, selalu bertanya, “Ini regenerasinya bagaimana? Ini yang lebih yunior, lebih muda sudah dipersiapkan belum?” Rata-rata menjawab, “Sudah, Pak.” Memang tidak semudah dulu untuk menyiapkan generasi yang lebih muda.

Saya pernah jalan-jalan ke Bali, datang Ubud, bagaimana anak-anak kita yang ada di Bali sejak Sekolah Dasar diajari menari yang tidak mudah, tari Bali yang indah itu, kemudian juga melukis, lukisan Bali, dan lain-lain. Saya juga sering bertanya kalau di Jawa, di Mangkunegaran, ataupun di Yogyakarta, Srimpi, Bedoyo, “Itu bagaimana regenerasinya?” Katanya juga sudah mulai dipersiapkan.

Maksud saya untuk melestarikan, untuk mengembangkan itu pertama-tama dimulai dari regenerasi. Yang kedua, tidak harus tampil terus, misalkan di kabupaten, di sekolah-sekolah, acara apapun. Tentunya sekali-kali manggung atau ditampilkan pada tingkat nasional, pada peristiwa-peristiwa yang lebih besar. Sebenarnya itu bisa dilakukan oleh masyarakat sendiri, oleh paguyuban seni itu, dan tentunya harapan saya, para pimpinan di daerah, utamanya bupati, wali kota betul-betul bisa memberikan perhatian yang penuh, memberikan bantuan.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Terima kasih, Bapak. Boleh tanya, Bapak? Waktu kecil, berlatih menari apa, Pak?

Presiden RI:
Saya ikut Tari Jawa, jaman dulu petilan namanya.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Jadi Bambangnya atau jadi Cakilnya atau jadi apanya, Pak?

Presiden RI:
Dulu ada mudanya Bolodewo, itu apa namanya? Kokrosono, lawannya kan Si Kongso. Saya jadi Kokrosono dulu.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Luar biasa Bapak. Latih joro doropyak. Baik, ini dari Jayapura, Bapak, sekalian. Ki Purbo, Ki Purbo boleh bangga Alhamdulillah seluruh Indonesia mendengarkan Ki Purbo. Sekarang saya ingin membacakan dari Jayapura. Tolong ditambah sekarang. Ini dari kuli bangunan. Oh ini, “Selamat malam,” oh ini soal tinju. Bentar, yang budaya saja. Budaya tinju? Mohon maaf Bapak “Saya mau tanya. Saya orang kuli bangunan di Jayapura, Papua. Nama saya Ngadiman, asal Pati, Jawa Tengah. Terima kasih.” Jadi saya pikir beliau itu mendengarkan. Mungkin Bapak bisa?

Presiden RI:
Salam, salam untuk Pak Ngadiman. Apapun profesinya, profesi itu baik. Yang penting tekun, yang penting rajin. Mudah-mudahan kalau ekonomi kita terus tumbuh seperti sekarang ini, maka penghasilan rakyat kita, termasuk Pak Ngadiman juga makin baik. Salam saya untuk semua yang ada di situ.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Alhamdulillah. Ki Purbo, sepindah malih. Tadi saya, Pak Widodo A.S., Pak Menkopolhukam itu, ikut tepuk-tepuk pahanya. Juga Pak Sudi itu juga tepuk-tepuk, Pak Bibit apalagi. Jadi luar biasa Ki Purbo, saya kok ingin Ki Purbo ini juga nanti menampilkan satu lagu lagi, karena tadi sudah Jawa Tengahan, Ilir-ilir, mungkin nanti, bukan sekarang ini, waktu cukup lumayan lama, nanti saya mohon Yu Limbuk, Ki Cange itu lagu Jawa Timuran. Karena kebetulan saya orang Jawa Timur, saya ini orang Madiun kebetulan saja.

Sekarang ini ada dari Bali, Bapak. Coba ditampilkan dari Bali. Apa harapan seniman dari Bali? Luar biasa, banyak sekali, ratusan SMS masuk dari seluruh Indonesia. Kuli bangunan lagi. “Saya di Bali. Saya suka wayang, Cuma saya nggak bisa bahasa Jawa. Bisakah wayang berbahasa Indonesia?” Ini mungkin Ki Dalang juga bias merespon nanti.

Presiden RI:
Saya dulu, Ki Purbo. Kebetulan sepuluh hari yang lalu, saya ada di Bali. Saya tiap tahun menghadiri namanya Pesta Kesenian Bali. Setiap tahun, saya mengikuti sendratari di Denpasar, Bali, berkaitan dengan Pesta Kesenian Bali. Di situ luar biasa, luar biasa indahnya, cantiknya, tingginya sendratari atau pagelaran yang ada di Bali. Cuma, saya juga tidak bisa bahasa Bali.

Oleh karena itu, di sebelah saya kebetulan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Pak Jero Wacik itu menterjemahkan yang penting-penting, tetapi saya bisa mengikuti alur ceritanya karena juga Ramayana, Mahabharata, dan sebagainya.

Oleh karena itu sebetulnya, meskipun dari Bali tidak menguasai bahasa Jawa, bisa saja mengikuti alur ceritanya. Bisa seperti tadi, ada penerjemah atau ada yang bisa menjelaskan. Tapi kalau dibawa semua ke bahasa Indonesia, saya agak ragu apakah tidak hilang nanti keindahan bahasa Jawa yang ada dalam pewayangan ini. Tetapi, dalang jaman sekarang kan Pak Purbo bisa sekali-kali berbahasa Indonesia seperti sekarang ini, sehingga saudara kita yang ada di Bali tidak perlu kecil hati. Mudah-mudahan nanti pada acara-acara tengahnya, apa namanya, goro-goro misalkan, Ki Dalang juga lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia, sehingga yang lain bisa mengikuti. Saya kira begitu.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Terima kasih. Bapak Presiden, ini dari Pak Mochtar, dari Kalsel. “Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari seni dan budaya kita. Bukankah lebih baik kalau TV-TV kita menayangkan cerita-cerita rakyat?” Ki Purbo dan mungkin Bapak Presiden. Ki Purbo rumiyin. Monggo.

Dalang Purbo Asmoro:
Terima kasih, Pak. Sebenarnya tentang tadi yang wayang Indonesia itu, sejak tahun ’80-an di institusio kami, di Institut Seni Indonesia di Surakarta, sudah mencoba dan menelurkan sebuah karya baru, yaitu wayang berbahasa Indonesia, Pak, dengan layar yang begitu besar seperti film, dan dilakukan oleh banyak dalang atau pemain wayang, dan juga para narator, dan sebagainya, yang itu merupakan sebuah kerja kolosal, dan menggarap sesuatu yang baru dengan alat-alat juga wayang ini, dengan itu, nuansa baru itu terjadi di sana, Pak.

Wayang itu tetap pada frame-nya sebuah pertunjukan wayang, namun dengan nuansa berbahasa Indonesia. Jadi, saya kira dengan itu, kalau memang ada kepedulian dari berbagai pihak, institusi kami siap untuk melakukan itu dan pengembangan itu untuk dikembangkan di seluruh Indonesia, Pak.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Terima kasih. Monggo, Pak.

Presiden RI:
Satu, masalah TV. Ki Purbo, saya senang sekali mendengarnya. Mudah-mudahan prakarsa atau gagasan segar dari paguyuban dalang itu betul-betul bisa mengobati rasa kerinduan masyarakat kita atau mereka yang tidak menguasai bahasa Jawa ingin mengikuti seni wayang ini.

Kalau masalah TV, sekarang ini dengan era demokratisasi, era kebebasan, memang pemerintah tidak bisa lagi mengatur televisi-televisi untuk menyuguhkan acara apa. Namun, televisi menurut undang-undang ataupun media massa itu juga mengemban beberapa fungsi. Ada penyampaian informasi, ada pendidikan, ada entertainment, kemudian ada kontrol sosial. Pendidikan dalam arti luas itu cerita-cerita rakyat sebagaimana yang disarankan oleh saudara kita dari Kalsel itu sangat penting. Saya kira, televisi kita harus juga menyampaikan fungsi itu.

Memang kalau persaingan tinggi sekali, kalau harus mengikuti logika pasar, pastilah yang ditampilkan adalah yang banyak dilihat rakyat kita, oleh market kita, katakanlah begitu. Tapi ingat, misi pendidikan, fungsi pendidikan dari media massa tidak boleh ditinggalkan.

Saya dukung. Silakan dikemas yang baik, yang menarik cerita-cerita rakyat itu, sehingga bisa ditampilkan lewat televisi-televisi kita.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Ya. Bapak, budaya ini kan rasa, Bapak. Sekalipun tidak mengerti bahasanya, musik yang indah itu bisa dipahami. Jadi saya pikir, kalaupun tidak bisa bahasa Indonesia, saya pikir orang bisa menikmati.

Presiden RI:
Saya punya pendapat yang sama. Cuma kalau narasi, kalau nasihat, kalau pesan-pesan, kalau bahasanya tidak menguasai, mungkin yang ditangkap separuh-paruh. Adakalanya tidak perlu ada penterjemahan karena bisa dirasakan tadi keindahannya. Tapi kalau ada pesan-pesan yang eksplisit menggunakan bahasa, maka prakarsa dalang seperti tadi, ada yang set up ataupun kemasan dalam bahasa Indonesia itu juga baik-baik saja.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Tadi dari Lampung. Saya kira ini memang, ini seluruh Indonesia. Assalamu’alaikum Wr. Wb., bagaimana, Bapak, menyikapi budaya bangsa kita yang akhir-akhir ini telah kehilangan nuansa ketimurannya? Jangan sampai suatu saat anak-cucu kita, hilang budaya bangsa.” Ini dari Lampung. Ketimurannya.

Presiden RI:
Ya, sebenarnya tidak hilang sama sekali karena saya sering mengikuti, menyaksikan, menunggui berbagai tampilan seni-budaya di negeri kita ini dari banyak daerah di Indonesia. Tapi betul, arus globalisasi ini luar biasa derasnya. Gaya hidup global ini juga muncul di mana-mana. Oleh karena itu, kita harus berpacu antara bagaimana melestarikan dan mengembangkan kita punya budaya sendiri dengan apa yang dipenetrasikan oleh budaya global di negeri kita, termasuk juga negara-negara yang lain. Sama dengan apa yang saya sampaikan tadi semua harus ikut bertanggung jawab: masyarakat, para pelaku budaya, pemerintah, kita semua.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Baik. Hampir satu jam. Saya tahu Ki Dalang akan memainkan lakon yang panjang, Banjaran Bimo, tapi saya minta, tolong setelah Jawa Tengah, Pak Bibit tadi pesan, “Mengapa sih Mas Parni, kok tidak di Semarang? Mengapa di Sidoarjo?” Ini baru giliran. Jadi, sebentar lagi akan diakhiri. Tapi saya mohon Ki Dalang nanti, Yu Limbok, Lek Cange nanti membawakan lagu Jawa Timur-an.

Sebelumnya Bapak, kami akan sampaikan bahwa RRI selama masa kampanye ini, kami melakukan kampanye kebudayaan. Seluruh kontestan, kami sempat untuk siaran langsung. Di samping itu, kami juga menyelenggarakan kegiatan sendiri yang kami biayai atau bersama Pepadi ini. Jadi, kami memang ingin sekali memiliki pemimpin yang peduli budaya, pemimpin yang budayawan, pemimpin yang membangun dengan pendekatan budaya.

Ki Purbo, saget dipun aturaken dateng sedoyo gending Jawa Timuran menopo kemawon.

Dalang Purbo Asmoro:
Monggo, monggo, saget Jawa Timuran.

Presiden RI:
Ki Purbo Asmoro, dan para dalang, dan Hadirin sekalian yang saya cintai, dari dialog kita yang singkat ini, nampaknya kita memiliki komitmen, keinginan yang tinggi untuk bersama-sama melestarikan budaya bangsa, termasuk seni wayang kulit ini. Mari kita wujudkan bersama-sama. Saya kira kalau semua memiliki kepedulian, kecintaan, dan juga melakukan langkah-langkah yang nyata, semua itu dapat kita lakukan.

Itu saja yang saya sampaikan. Silakan diteruskan pagelarannya. Kami semua masih mengikuti dari Semarang ini. Sekian.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Dirut RRI, Sdr. Parni Hadi:
Waa’laikumsalam. Terima kasih. Inilah RRI. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan RI