Arsip

« Juli 2009 »
M S S R K J S
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 

Pidato Presiden

Sambutan Acara Telewicara dengan Peserta Simposium Internasional dan PPI dari Seluruh Dunia di Den Haag

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
TELEWICARA DENGAN PESERTA SIMPOSIUM INTERNASIONAL DAN PPI DARI SELURUH DUNIA DI DEN HAAG
PURI CIKEAS, 3 JULI 2009





Bismilahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati para Saudara Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Saudara Pimpinan Simposium Internasional PPI Sedunia, Saudara Ketua PPI Belanda, para Pembicara Tamu yang datang dari tanah air, Saudara-saudara, Anggota PPI yang berdatangan dari berbagai penjuru dunia yang saya cintai dan saya banggakan,

Pertama-tama, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita, bangsa Indonesia masih diberikan kesempatan dan kekuatan untuk melanjutkan perjuangannya membangun hari esok yang lebih baik. Saya juga ingin menyampaikan ucapan selamat atas diselenggarakannya pekan, ulangi, simposium internasional yang dilaksanakan di Belanda oleh Saudara-saudara sekalian kali ini.

Saya masih ingat, tahun lalu dari Beijing, ketika saya menghadiri Pertemuan Puncak ASEM di Beijing, saya juga berbicara, berkomunikasi dengan Keluarga Besar PPI yang waktu itu juga berkumpul di Den Haag, Balanda. Dan waktu itu, saya sampaikan harapan kepada Saudara-saudara untuk terus memikirkan bangsa dan negara kita, bagaimana kita di abad 21 ini benar-benar menjadi bangsa yang maju, yang bermartabat dan yang sejahtera.

Kemudian saya masih ingat pula, setahun sebelumnya, tahun 2007 di Sydney, Australia, ketika saya menghadiri Pertemuan Puncak APEC, saya juga bertemu dengan keluarga besar PPI yang melaksanakan konferensi. Saya masih ingat, tema yang diangkat waktu itu adalah “Stay abroad or return home”, apakah tetap berada di luar negeri atau kembali ke tanah air.

Ketika saya ditanya oleh para mahasiswa dan pelajar yang ada di Sydney waktu itu, saya jawab, bagi saya sepanjang Saudara bisa mengabdi untuk bangsa dan negara dimana pun tidak menjadi masalah. Karena dari luar negeri pun, Saudara juga bisa berkontribusi bagi upaya memajukan kehidupan bangsa. Kembali ke tanah air lebih baik, karena Saudara bisa langsung ikut berperan dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa kita dan sekaligus ikut andil di dalam mendorong kemajuan dalam kehidupan di negeri kita.

Tapi intinya Saudara-saudara, awal dari sambutan saya ini, saya sangat berharap kepada putra-putri bangsa yang ada di luar negeri seperti Saudara-saudara sekalian teruslah membangun dua budaya yang amat diperlukan oleh bangsa kita. Pertama adalah budaya unggul, the culture of excellence. Kalau Saudara biasa membangun budaya unggul, menjadi manusia yang unggul, yang inovatif, yang adaptif, yang kontributif untuk bangsanya, tentu akan menjadikan satu sumbangsih yang luar biasa dalam upaya kita membangun bangsa dan negara kita di abad yang penuh dengan tantangan sekarang ini.

Budaya yang kedua adalah seperti yang saya sampaikan tadi, teruslah melakukan pengabdian kepada negara, the culture of service. Mengabdi dari manapun. Dan saya tahu menurut statistik, setelah para mahasiswa Indonesia belajar di luar negeri lebih banyak yang kembali ke tanah air dibandingkan yang tinggal di luar negeri. Dengan demikian, Saudara bisa benar-benar dengan budaya pengabdian yang tinggi bisa menyumbangkan yang Saudara miliki.

Para Peserta Simposium yang saya cintai,
Saya senang sebagaimana disampaikan oleh Saudara Ahmad Aditya tadi, bahwa simposium ini juga bertujuan untuk memberikan masukan, rekomendasi, pandangan kepada pemerintah dalam melanjutkan pambangunan menuju Indonesia tahun 2020. Saya berharap hasil dari simposium ini benar-benar bisa disumbangkan kepada pemerintahan mendatang, siapapun yang akan memimpin pemerintah kita pada periode 2009-2014 yang akan datang.

Saudara mengetahui bahwa sekarang ini adalah hari-hari kita, bangsa Indonesia menyongsong pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang Insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 8 Juli mendatang. Setelah itu, pada saatnya nanti akan ada pemerintahan baru hasil pemilu 2009. Dan saya berharap apa yang disimposiumkan di Belanda ini bisa disumbangkan kepada pemimpin dan pemerintahan yang akan datang.

Saudara-saudara,
Dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun lalu, 100 Tahun Harkitnas, saya menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia waktu itu, bahwa Insya Allah dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan persatuan, kebersamaan dan kerja keras kita semua, Indonesia di abad 21 ini bisa menjadi negara yang maju, negara yang bermartabat, dan negara yang sejahtera. Dengan syarat, kita makin memperkokoh daya saing, keunggulan dan juga peradaban bangsa yang mulia, yaitu yang saya sebut dengan civilization.

Yang ingin saya sampaikan adalah karena kita menuju ke kondisi seperti itu, yang lama sekali dinantikan oleh bangsa kita, bahkan semangat Kebangkitan Nasional sudah dimulai 100 Tahun yang lalu oleh para pendahulu kita, para pendiri republik kemudian, maka tugas sejarah kita adalah benar-benar mewujudkan impian itu menjadi kenyataan di abad 21 ini. Paling tidak ada sejumlah isu yang saya ingin dibahas dalam simposium ini, dan nanti bisa disampaikan rekomendasi Saudara semua, pikiran-pikiran Saudara semua dengan berinteraksi dengan para pembicara tamu yang datang dari tanah air. Saya mengenal beliau-beliau adalah tokoh-tokoh yang dedikatif, tokoh-tokoh terkemuka, dan ingin benar bersama-sama dengan Saudara-saudara, masyarakat Indonesia yang di luar negeri untuk tidak pernah berhenti di dalam berkontribusi bagi pembangunan bangsa.

Pertama, saya ingin Saudara membahas permasalahan ekonomi. Ekonomi Indonesia masa kini dan masa depan. Dunia telah memberikan pelajaran yang sangat berharga dengan krisis perekonomian global dewasa ini, yang sebelumnya didahului dengan krisis energi, krisis pangan, krisis keuangan dan sekarang menjadi resesi perekonomian global.

Tentu kita berharap ada perubahan architecture dari international economic order, dari global finance yang lebih adil. Kita juga ingin ada upaya untuk mengurangi imbalances pada tingkat ekonomi global. Kita mencegah terjadinya economic bubble, yang akhirnya menjadikan malapetaka dunia seperti ini. Tapi jangan lupa, Indonesia juga harus menyadari bahwa design atau bangun ekonomi Indonesia ke depan tentulah tidak perlu mengikuti jejak ekonomi-ekonomi Asia Timur yang lain, seperti ekonomi yang sangat berorientasi kepada ekspor. Kalau pertumbuhan atau economic growth disumbang terutama dari ekspor, maka ketika terjadi resesi perekonomian global, nasib kita akan sama dengan negara-negara lain yang sekarang berjatuhan mengalami pertumbuhan negatif.

Alhamdulillah, dengan langkah cepat dan tepat kita, kita bisa meminimalkan dampak perekonomian di Indonesia. Pertumbuhan kita tetap positif dan bahkan dilihat dari konstraksi dibandingkan China dan India, kita bahkan yang terbaik pada tingkat Asia dan bahkan tingkat dunia dengan perkiraan Insya Allah masih bisa kita pertahankan pertumbuhan 4,5% dibandingkan dengan negara lain yang hampir semuanya minus.

Yang ingin saya sampaikan adalah kita harus meningkatkan pasar domestik. Kita punya potensi untuk itu. Income per kapita kita makin tinggi. Sumber daya alam kita melimpah. Jumlah penduduk kita besar, kemudian ruang untuk sebuah ekonomi juga terbuka. Oleh karena itu, ke depan kita harus betul-betul bisa meningkatkan size atau magnitude dari domestik market kita, agar dengan demikian tidak perlu cemas manakala dunia menghadapi krisis dan kita tidak bisa menjual lagi barang-barang kita di pasaran dunia.

Silakan Saudara-saudara disumbangkan pemikiran-pemikiran yang menjangkau, yang realistik, yang mengambil hikmah dari krisis perekonomian global dewasa ini.

Yang kedua, saya juga ingin mengharapkan Saudara menyumbangkan pikiran bagaimana kita benar-benar bisa membangun ketahanan pangan dan ketahanan energi, food security dan energy security. Alhamdulillah, dengan kerja keras kita sejak tahun 2005, Indonesia kini telah berswasembada kembali, beras, dan bahkan tahun ini surplus, disamping swasembada jagung dan gula konsumsi. Kita masih punya pekerjaan rumah untuk menuju swasembada kedelai dan daging sapi. Silakan dikomunikasikan bagaimana kita menjaga ketahanan pangan ini, dan akhirnya kita tidak perlu tergantung pada impor dari negara-negara lain.

Analog dengan itu, energy security juga sangat-sangat penting. Saya meminta sumbangan Saudara, bagaimana kita tidak harus bergantung penuh kepada bahan bakar minyak atau fuel, tetapi kita lebih mendiversifikasi sumber-sumber BBM kita, baik yang terbarukan maupun dari misalnya sintetik dan biofuel. Saya mengundang Saudara bagaimana ke depan ketahanan energi kita juga makin kuat.

Dan jangan lupa disamping pangan dan energi juga air. Air lama kelamaan akan menjadi persoalan global. Maksud saya drinking water, clean water. Oleh karena itulah, saya juga mengharapkan kontribusi Saudara bagaimana kita bisa membangun water sustainability untuk negara kita di waktu yang akan datang.

Saudara-saudara,
Masih berkaitan dengan meningkatkan daya saing perekonomian kita, added value dari ekonomi kita, saya ingin Saudara berkontribusi bagaimana kita membawa teknologi, termasuk information and communication technology untuk meningkatkan daya saing kita bukan hanya untuk bidang perekonomian, tapi juga membangun good governance, juga berguna untuk meningkatkan pendidikan dan juga menghidupkan suasana bisnis yang lebih efisien dan kemudian lebih kompetitif dan bebas dari penyakit lama yaitu korupsi, kolusi dan nepotisme.

Kontribusi IT menurut saya sangat-sangat penting, sebagaimana juga science and technology dan juga reseach dan development. Dengan demikian, kita bisa memecahkan banyak hal di negeri kita dengan kontribusi teknologi itu, termasuk IT. Saya mengundang pemikiran cerdas Saudara semua menyangkut wilayah itu.

Satu lagi, Alhamdulillah dengan reformasi yang kita lakukan, negara kita tumbuh makin demokratis. Kita menghormati hak-hak asasi manusia sekarang ini dan bisa mencegah pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi di waktu yang lalu yang membikin citra, nama baik dan harga diri kita jatuh di forum dunia.

Kebebasan di negeri kita juga makin mekar, termasuk press freedom dan kebebasan yang lain. Ini tanda-tanda yang baik, meskipun kita masih terus melakukan konsolidasi demokrasi, masih mematangkan kehidupan demokrasi kita. Dalam konteks ini, meskipun Alhamdulillah banyak negara yang mengalami defisit demokrasi, defisit kebebasan, negara kita boleh saya katakan surplus, dan justru sekarang harus kita seimbangkan dengan rule of law, kepatuhan pada pranata hukum, agar demokrasi bergandengan tangan dengan rule of law dan membikin kehidupan yang baik pada masyarakat kita, good society.

Itu juga bidang kehidupan berbangsa dan bernegara yang penting, Saudara-saudara yang dapat Saudara sumbangkan. Itu semua saya sungguh berharap bisa dibahas, dibicarakan, disusun rekomendasinya melalui simposium yang tengah dilakukan sekarang ini.

Saudara Duta Besar, para Pembicara Tamu, Pimpinan dan segenap Anggota PPI beserta simposium internasional,
Saya menyambut baik dan mudah-mudahan bisa diwujudkan prakarsa untuk membentuk Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional. Saya kira I4 itu ya kalau lihat Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional. Saya berharap bisa diwujudkan dan bikinlah jejaring, networking dengan seluruh ilmuwan dan PPI di seluruh dunia, bangun konsultasi partnership dengan yang ada di tanah air. Dengan demikian, dimanapun warga negara Indonesia termasuk Saudara-saudara yang sangat saya banggakan dan andalkan tidak pernah berhenti untuk memikirkan negaranya, untuk berkontribusi pada pembangunan yang terus kita lakukan.

Saudara-saudara,
Lima tahun mendatang adalah 5 tahun yang menentukan. Setelah kita diporakporandakan oleh krisis 10-11 tahun yang lalu, tertatih-tatih kita untuk membangun kembali negara kita. Alhamdulillah, 5 tahun terakhir, kita bisa membalikkan keadaan, yang tadinya terus merosot menjadi kembali pada posisi awal dan tanda-tandanya telah tiba, 5 tahun mendatang kita bisa berbuat lebih banyak lagi, lebih baik lagi, agar kita bisa kembali seperti sebelum krisis bahkan lebih lagi. Tanda-tandanya nampak dan sudah kita mulai.

Lima tahun yang akan datang adalah tahun yang menentukan. Tahun peluang, akan ada possiblity, opportunity, hopes yang dapat sama-sama kita bangun. Saya mengundang Saudara-saudara bersama-sama dengan komponen bangsa untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan sejarah ini.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Dan akhirnya sekali lagi, saya mengucapkan untuk memulai simposium ini dengan harapan, agar simposium yang dilaksanakan ini menghasilkan sesuatu yang konkret, terutama sumbangan Saudara untuk bisa dijalankan oleh pemerintah dan negara kita menuju Indonesia tahun 2020, Indonesia yang lebih aman dan damai, Indonesia yang lebih adil dan demokratis, dan Indonesia yang lebih sejahtera.

Demikian Saudara-saudara, selamat bersimposium. Sampaikan salam saya kepada seluruh anggota PPI di seluruh dunia dan keluarga besar bangsa Indonesia di Belanda.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan