Pidato Presiden

Sambutan Buka Bersama Kader Partai Demokrat

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
BUKA PUASA BERSAMA DENGAN KADER PARTAI DEMOKRAT
PURI CIKEAS, 5 SEPTEMBER 2009



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim alhamdulillahirabbilalamin wasshalatu wassalamu ala asrafil ambiyai walmursalin, sayidina wamaulana Muhammadin, waalaalihi wasahbihi ajmain, ammaba’du,


Yang saya hormati Bapak Boediono, Bapak Hadi Utomo,
Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak hadirin dan hadirat sekalian untuk sekali lagi, memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena kita masih diberikan kesempatan dan kekuatan untuk bersama-sama menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan ini, dan semoga ibadah kita mendapatkan ridho Allah SWT.

Shalawat dan salam marilah sama-sama kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan pengikut-pengikut Rasulullah hingga akhir jaman, dan semoga kita semua dapat meneladani watak kepemimpinan dan perilaku pemimpin agung kita Nabi Muhammad SAW. Jika kita benar-benar bisa menjalankan firman Allah dan hadist Rasulullah, maka Islam akan benar-benar menjadi rahmat bagi semesta alam. Dan inilah tema besar yang kita kumandangkan dalam bulan suci Ramadhan ini, yaitu Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, Islam sebagai rahmatan lil’alamin.

Bapak, Ibu, hadirin sekalian yang saya muliakan,
Selaku shohibulbait, saya sekali lagi mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak, Ibu sekalian untuk berkenan hadir di tempat ini untuk berbuka puasa bersama, bersholat maghrib berjamaah dan bersilaturrahim. Dan saya juga meminta maaf, seharusnya acara ini kita selenggarakan kemarin, dan kemudian diundur satu hari, karena saya harus meninjau saudara-saudara kita yang terkena musibah bencana, khususnya di wilayah Cianjur Selatan, yaitu di Kecamatan Cibinong.

Segera setelah gempa bumi dengan skala yang sangat tinggi, 7,3 skala Richter yang terjadi di sebelah Barat Daya Tasikmalaya di lempeng tektonik Asia-Australia dan mengakibatkan sejumlah kerusakan harta benda dan korban jiwa, sesungguhnya sistem kita telah bekerja. Kegiatan tanggap darurat dilakukan di seluruh wilayah gempa, yang di depan tentunya Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan kabupaten-kabupaten yang mengalami musibah itu, meskipun demikian pemerintah pusat juga memberikan bantuan yang diperlukan.

Medannya memang cukup berat. Bisa dibayangkan saya berangkat dari sini sekitar setengah sembilan sampai di lokasi sore hari, kembali sampai di Istana Cipanas jam 11.00 malam. 13 jam di atas kendaraan, karena jalannya sangat-sangat berat. Dan saya mendapatkan barokah dengan melihat keadaan di daerah itu, maka tugas pemerintah, tugas negara ke depan tetap masih banyak, dan harus lebih banyak lagi infrastruktur yang kita bangun di seluruh wilayah Indonesia.

Sistem bekerja saya katakan tadi, dan Gubernur dengan jajarannya melakukan langkah-langkah tanggap darurat di wilayah Tasik dan sekitarnya. Kemudian saya memilih, tanpa mengganggu tugas para pejabat daerah, saya ke Cibinong karena di situlah saudara-saudara kita yang wafat yang paling besar jumlahnya, lebih dari 30 orang. Dan saya melihat sendiri ada 14 rumah yang tertimbun batu, sebuah bukit yang runtuh dan batu itu besarnya mulai sebesar karung beras sampai dengan sebesar rumah dan timbunannya cukup dalam diperkirakan 10 sampai 20 meter dari atap 14 rumah yang tertimbun itu.

Ketika saya diwawancai oleh wartawan BBC di Cibinong, di tempat bencana itu, pertanyaannya adalah apakah saya akan meminta bantuan internasional untuk mengatasi bencana ini. Saya katakan tidak, Pemerintah Indonesia bisa mengatasi keadaan ini, resources atau sumber daya kami mobilisasi yang ada di daerah terutama, karena skalanya bisa ditangani oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat tentu memberikan bantuan sesuai sistem dan undang-undang yang berlaku.

Kemudian pertanyaan kedua, hanya dua pertanyaan, apakah saya maksudnya yakin masih bisa diselamatkan atau masih ada tanda-tanda kehidupan dari reruntuhan bukit yang menimbun kompleks pedusunan itu? Saya katakan, kami akan terus mencari, search and rescue operation akan kami laksanakan dengan segala upaya dan tentunya kita lihat nanti, apakah kami masih bisa menyelamatkan saudara-saudara kita yang ada dalam reruntuhan itu.

Dalam ajaran agama dikatakan ini salah satu yang bersifat umum begitu, kita berserah kepada Allah SWT, manakala dalam logika dan akal kita itu sesuatu yang tidak mungkin we turn toward God only to attain the impossible. Oleh karena itu, selalu ada kebesaran Allah, sehingga harus kita laksanakan terus upaya pencarian itu di seluruh wilayah Jawa Barat, tempat yang kena musibah kemarin, dengan harapan masih ada saudara-saudara yang bisa kita selamatkan jiwanya. Di Aceh dulu setelah dua minggu, ada yang terapung-apung di lautan, Alhamdulillah bisa kita selamatkan. Nah di sini masuk pada dimensi keimanan kita sebagai umat hamba Allah, tapi yang jelas langkah-langkah tanggap darurat terus kita lakukan.

Hadirin yang saya hormati,
Ini masih ada waktu sekitar 15 menit mudah-mudahan cukup, kalau tidak cukup nanti setelah sholat maghrib, setelah santap malam, saya lanjutkan. Karena saya ingin menggunakan kesempatan yang baik ini, untuk berbicara dari hati ke hati dengan para kader dan para pemimpin dan keluarga besar tim pendukung selama kemarin kita melaksanakan tugas demokrasi mengikuti Pemilihan Umum Tahun 2009.

Yang sekarang menjadi isu yang menonjol dalam perpolitikan kita adalah masa depan kebersamaan dalam koalisi yang pertama. Yang kedua, yang sedang in juga menyangkut masalah kepemimpinan DPR, DPD dan MPR. Yang ketiga, berkaitan dengan, susunan dan siapa-siapa yang akan menjadi bagian dari kabinet yang akan datang, atau yang saya istilahkan Kabinet Indonesia Bersatu Kedua.

Saudara-saudara,
Tahapan sekarang ini sesungguhnya adalah, pertama, Kabinet Indonesia Bersatu yang saya pimpin sekarang ini, bersama Pak Yusuf Kalla masih harus menuntaskan tugasnya sampai tanggal 20 Oktober mendatang. Oleh karena itu, jajaran Kabinet Indonesia Bersatu sekarang tengah menuntaskan tugas itu. Dan saya meminta kepada seluruh Kabinet utamanya para menteri untuk merampungkan segala tugas-tugasnya dan melaporkan kepada saya, paling lambat pada tanggal 1 Oktober mendatang. Karena setelah pada tanggal 1 Oktober, sebagian dari Menteri akan kembali ke, saya ulangi akan menjadi Anggota DPR RI. Dan apakah alih tugas ke DPR RI atau ada sebagian yang kembali ke Kabinet itu adalah urusan kemudian, tetapi 1 Oktober adalah titik dimana DPR RI, DPD RI, MPR RI, hasil Pemilu 2009 ini sudah akan memulai tugasnya.

Yang kedua, yang kami lakukan dalam kapasitas saya sebagai Presiden terpilih untuk masa bakti 2009–2014 bersama Pak Boediono adalah mempersiapkan agenda dan prioritas untuk 5 tahun mendatang, termasuk program 100 hari.

Yang ketiga, tahapan sekarang juga adalah mempersiapkan kepemimpinan di parlemen, baik DPR RI, DPRD provinsi, kabupaten dan kota yang berasal dari Partai Demokrat. Jadi yang pertama tadi dalam kapasitas saya sebagai Presiden yang tengah menjabat, incumbent. Yang kedua, dalam kapasitas saya sebagai Presiden terpilih. Dan yang ketiga dalam kapasitas saya sebagai Ketua Dewan Pembina bersama Ketua Umum dan jajaran yang lain mempersiapkan kepemimpinan untuk anggota DPR, baik sekali lagi, baik pusat maupun daerah.

Saudara-saudara,
Saya akan masuk ke sesuatu yang penting untuk diketahui oleh semua Kader Demokrat dan teman-teman seperjuangan, bahwa penyiapan dokumen strategis untuk lima tahun mendatang, pemerintah mendatang itu sangat penting, karena disitulah awal bahwa arah dan sasaran dari apa yang akan dilaksanakan oleh pemerintahan mendatang itu tepat. Yang kami persiapkan adalah action plans untuk 5 tahun dan program 100 hari. Dasarnya adalah evaluasi kinerja kabinet yang saya lakukan selama 5 tahun ini. Alhamdulillah saya tentu memahami mana-mana yang menjadi masalah yang krusial dalam pelaksanaan tugas pemerintahan, yang memerlukan upaya yang luar biasa dan lebih dari sekedar, sebagaimana yang kita lakukan selama ini. Evaluasi sangat-sangat penting, agar kalau itu baik, bisa kita lanjutkan, kalau itu ternyata tidak baik dan pelaksanaannya meleset, jangan sampai terjadi lagi.

Yang kedua, mengapa dokumen strategis ini juga penting? Tentunya saya ingin sasaran atau capaian tahun 2014 nanti lebih tinggi dari apa yang dicapai oleh periode ini. Hasil yang kami harapkan dapat diperoleh tentunya lebih tinggi dari hasil yang dapat dicapai oleh pemerintahan masa bakti sekarang ini. Dengan demikian, ada kemajuan, ada perubahan dan perbaikan.

Secara konkret apa yang kami lakukan adalah, disamping tadi menyusun action plans dan program 100 hari, juga menyusun aturan main, rules. Kami punya pengalaman 5 tahun ini aturan main, rules tidak tertata dengan baik, sehingga sepanjang jalan ada masalah-masalah yang sebetulnya tidak perlu terjadi, rules, aturan main.

Yang kedua, kontrak kinerja. Dulu kami juga punya kontrak politik, Presiden dengan Menteri dengan anggota kabinet, yang akan datang kontrak kinerja ini akan lebih mengikat, lebih tajam, karena tentunya saya ingin para menteri anggota kabinet bisa menjalankan tugasnya dengan baik, sebagai pertanggungjawaban kepada saya, yang mengangkat para anggota kabinet itu, untuk selanjutnya saya bertanggung jawab kepada rakyat diakhir masa jabatan saya nanti.

Saya juga akan menyusun pakta integritas, ini juga sangat penting. Dengan demikian, publik akan tahu apa kontrak kinerja Presiden dengan Menterinya, dan apa pula pakta integritas antara kepala pemerintahan dan anggota kabinet. Karena sudah merupakan kontrak, maka manakala itu tidak mencapai sasaran, maka semuanya harus ikhlas untuk mendapatkan sanksi dari pimpinan pemerintahan. Ingat semuanya itu ditata menurut sistem kabinet presidensil. Berbeda sekali dalam kabinet parlementer, ada ruling party, ada opposition party. Dalam sistem kabinet presidensil, sesungguhnya tidak mengenal itu. Oleh karena itu, aturan main, rules-nya harus merujuk pada sistem kabinet presidensil.

Saudara-saudara,
Sedangkan isu yang berkaitan dengan rumah tangga Partai Demokrat, menyangkut kepemimpinan di DPRD, baik provinsi, kabupaten dan kota, pada prinsipnya DPP memiliki kewenangan penuh untuk dengan sistem yang berlaku, dengan mekanisme yang baik untuk menentukan siapa yang layak dan tepat menjadi ketua DPRD Provinsi, Ketua DPRD Kabupaten, dan Ketua DPRD Kota, kalau itu merupakan jatah dari Partai Demokrat menurut undang-undang yang berlaku.

Khusus untuk Ketua DPRD tingkat Provinsi, Ketua Umum DPP mengkonsultasikan ke saya, sebagai ketua dewan Pembina. Ini penting karena pemerintahan daerah menurut undang-undang terdiri dari, kalau Provinsi ya Gubernur dengan DPRD-nya dan saya kepala Pemerintahan. Oleh karena itu, penting memastikan mereka bisa bekerja dengan baik.

Kepemimpinan di DPR RI, urusan komisi siapa berada di komisi mana, saya limpahkan kepada DPP. Demikian juga pimpinan-pimpinan komisi atau wakil ketua komisi sesuai dengan kepakaran, pengalaman, pengetahuan dan sebagainya dari anggota DPR nanti. Sedangkan Ketua DPR RI dan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, saya akan memutuskan tentu dengan berkonsultasi dan mendengarkan pertimbangan dan saran dari Dewan Pimpinan Pusat. Itu yang kedua menyangkut kepemimpinan di parlemen yang menjadi jatah dari Partai Demokrat.

Sedangkan yang ketiga, adalah posisi dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Ini tentu belum saatnya, karena sekarang saya fokus pada penyusunan action plans 5 tahun mendatang dan program kerja 100 hari, fokus pada kontrak kinerja dan pakta integritas, fokus pada dengan sasaran dan agenda 5 tahun mendatang, struktur kabinet seperti apa yang hendak saya bangun nanti, dengan mendengarkan dan pertimbangan dari Saudara Wakil Presiden, tentunya ada undang-undangnya, harus saya patuhi. Tetapi saya tahu dengan agenda prioritas 5 tahun mendatang, mana-mana kementerian, departemen yang harus diperkuat, baik fungsi yang lebih tajam, termasuk calon-calon the right man on the right place in the right time, sangat penting tiga-tiga untuk kita tempatkan di situ. Dan pada posisi sekarang belum memasuki wilayah itu, wilayah itu akan saya masuki setelah 1 Oktober, setelah perangkat dokumen strategis sudah siap dan kerangka dari struktur kabinet juga sudah rampung.

Saudara-saudara,
Dengan itu semua masih beberapa menit lagi, 2 menit yah. Ini sangat penting sebetulnya. Kalau begitu saya break dulu, karena bagian yang penting belum. Jadi saya meminta kesabaran Saudara setelah nanti ta’jil, sholat, santap malam, kembali ke formasi semula untuk saya bisa melanjutkan ajakan, harapan, dan permintaan saya kepada Saudara semua.

Demikianlah semoga sekali lagi, ibadah kita diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

-- break buka puasa --

Saya akan melanjutkan, apa yang telah saya sampaikan tadi. Tadi saya telah menjelaskan prioritas, agenda, tahapan yang saya lakukan sekarang ini, baik dalam kapasitas saya sebagai incumbent, Presiden yang sedang mengemban tugas, sebagai Presiden terpilih untuk masa bakti 5 tahun mendatang, dan sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Dengan penjelasan itu, saya mengajak ini berlaku untuk diri saya dan meminta kepada Saudara-saudara semua, utamanya para Kader dan Keluarga Besar Partai Demokrat.

Saya minta kita jangan terlalu banyak berkomentar, terutama di media massa, apalagi kalau itu di luar otoritas dan urusannya, meskipun niatnya baik bisa menimbulkan kekisruhan politik, justru bisa mengurangi ibadah kita di bulan suci Ramadhan ini, semua dari pusat maupun daerah.

Yang kedua, saya wanti-wanti, saya pesan betul, jangan ada yang menjadi broker dan obral janji. Dengan segala kekurangan saya, saya tidak memerlukan broker politik. Kalau ada yang mengantarkan CV di kediaman masing-masing, ya dengan sopan, dengan santun, dijelaskan ya, diterima ya silakan, tetapi jangan sama sekali memberikan janji, “Ah beres, saya dekat sama Pak SBY, nanti malam sampai.” Jangan. Ini seperti guyon, tetapi saya punya pengalaman yang sangat berkesan di tahun 2004.

Yang ketiga, jangan di antara kita mudah terpengaruh dengan informasi, apalagi yang antah-berantah. Saya mengikuti media massa, Saudara-saudara juga mengikuti media massa, hampir tiap hari ada 10 nominasi menteri di masing-masing media massa. Kalau sebulan berapa ratus? Dan yang ditampilkan gambarnya sesungguhnya juga putra-putri bangsa yang saya anggap baik, lebih baik saya berbaik sangka terhadap siapa-siapa itu, tapi jumlahnya ratusan. Demikian juga apa namanya, calon-calon Ketua DPR RI, banyak disebut-sebut di sana-sini, banyak.

Melalui SMS, jangan juga mudah terpengaruh, “SBY kemarin malam sudah mengambil keputusan, Ketua DPR-nya A, menteri yang sudah diputuskan 1, 2, 3.” Salah, tidak benar, jangan terpengaruh. Ataupun berita dari mulut kemulut, jangan mudah percaya dan jangan mudah terpengaruh.

Yang keempat, berharap dan berikhtiar itu sesuatu yang baik. Di antara kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita berharap untuk menjadi sesuatu, berikhtiar dengan cara yang baik, itu tidak keliru, itu bukan dosa. Saya menganggapnya, ya ikhtiar kok baik-baik saja. Yang penting jika apa yang diharapkan, diambisikan tidak terwujud, saya harap tidak lantas marah besar dan melakukan sesuatu yang menurut saya tidak tepat.

Saya beri contoh Saudara-saudara dan saya serius di sini, karena yang merasakan saya. Tahun 2004, televisi-televisi, koran-koran sudah membikin nominasi. Ini nomisi kuat, bisik-bisik beritanya dari Cikeas untuk calon Menko Polkam misalnya 1, 2, 3, 4 dipasang fotonya masing-masing 1, 2, 3, 4, Menko Perekonomian 1, 2, 3, 4, setiap menteri seolah-olah benar. Saya tidak tahu sama sekali. Tidak tahu sama sekali. Sekarang pun kalau ada televisi atau media cetak memasang-masang, jelas diluar sepengetahuan saya, diluar pengetahuan saya. Apa yang terjadi dulu, yang saya pilih, mungkin bukan dari empat nama yang dipajang oleh media massa itu, atau saya ambil satu kebetulan ada di situ, padahal tidak ada kaitannya dengan media massa itu, marahnya sampai sekarang masih ada yang berlanjut, dan bahasanya tidak baik. Bahasanya tidak baik. “Kau melecehkan saya, mempermainkan saya, membuat malu keluarga saya.” Marah. Saya sabar, mungkin sedang marah, sedang emosi. Saya pikir satu hari, dua hari, selesai. Belum selesai, dan bahkan sekarang ada yang hubungannya tidak baik, gara-gara saya dianggap melecehkan oleh satu pemberitaan di media massa yang saya tidak tahu sama sekali. Lebih baik saya jelaskan seperti itu, karena dulu pernah, bisa terulang, kalau kita percaya begitu saja dengan nominasi yang ada di media massa.

Yang kelima, di antara kira jangan saling fitnah dan saling jegal. Saya punya prinsip, ada seseorang, “Pak SBY, jangan pilih ini, jangan pilih itu, jangan pilih sana, jangan pilih sini, saya tahu orang itu jelek a, b, c, d, yang ini jelek 1, 2, 3, ini apa lagi, ini apa lagi.” Di mata saya yang jelek yang mengadu itu. Yang mengadu itu yang jelek. Saya masih menerima dalam dua minggu ini, satu, dua pengaduan barangkali, mana Istri saya dari daerah saling menjegal, saling fitnah untuk kepemimpinan DPRD. Tapi kecil Pak Hadi, nggak usah khawatir, darimana Pak Hadi dari 33 yang SMS-nya berdering mungkin hanya dua, tiga DPRD saja, yang lainnya barangkali sudah bisa memahami mengapa yang akan diusulkan misalkan si A, atau si B, atau si C. Tapi poin saya adalah jangan di antara kita mudah sekali menjelek-jelekan, menfitnah satu sama lain, apalagi menjegal. Barangkali yang difitnah, dijegal itu tidak tahu apa-apa, dia diam saja, mungkin diisukan, ah itu yang mau dipilih jadi Ketua DPRD Provinsi ini, atau Kabupaten ini, wah langsung beredar SMS. Dia tidak tahu even he or she doesn’t know, bahwa yang bersangkutan namanya sedang diapungkan.

Yang keenam, ini saya buka rahasianya, bagaimana saya yang memegang prerogatif menurut Undang-Undang Dasar dan undang-undang yang berlaku dalam penentuan anggota kabinet. Tidak mengkin saya tidak punya alat, tidak punya parameter, tidak punya kriteria, tidak tahu dalam memilih seseorang untuk menjadi anggota kabinet, ataupun posisi-posisi yang lain. Mesti tahu, ada yang berkaitan dengan integritas kepribadiannya, ada yang berkaitan dengan kapasitasnya, pengalamannya, pengetahuannya, akseptabilitasnya dan lain-lain. Ada kriteria dasar, disamping itu tentu tugas saya, bukan main-main, tugas saya adalah memilih anggota kabinet yang klop nanti, yang saya yakini mampu untuk melaksanakan tugas-tugas yang sangat tidak ringan 5 tahun mendatang, sesuai dengan prioritas dan agenda Kabinet Indonesia Bersatu Kedua.

Saya akan sangat mengutamakan suksesnya tugas pemerintah, tugas kebinet. Dalam pakta integritas dan kontrak kinerja nanti yang akan diteken oleh Presiden dengan calon-calon anggota kabinet itu, akan ada evaluasi tahun pertama, go atau no go untuk masuk ke tahapan berikutnya lagi. Dua setengah tahun akan ada evaluasi kedua, midterm evaluation, go atau no go.

Saya tidak suka melaksanakan reshuffle, tetapi manakala itu harus saya lakukan, saya lakukan. Ada yang mengatakan, “Ah pasti enggak berani SBY melakukan reshuffle, menteri ini kuat, menteri itu kuat.” Saya lakukan reshuffle. Kalau saya menganggap akan mengganggu jalannya pemerintahan, atau yang bersangkutan lebih tepat di tempat yang lain, the right man on the rignt place in the right time. Banyak yang saya bebaskan dari menteri, saya berikan penugasan yang penting berhasil dalam penugasan itu. Atau yang saya ganti portofolionya, semula Menteri A, saya anggap tidak tepat, pindah ke Menteri B berhasil di Menteri B, ada seperti itu.

Yang ketiga, tentu ada keterwakilan partai yang membangun koalisi --koalisi dalam pengertian sistem kabinet presidensil-- mesti ada. Dalam batas tertentu, tanpa mengurangi integritas dan kapasitas seseorang, faktor representasi kemajemukan, dan kesetaraan gender, tentu menjadi pertimbangan saya. Tetapi tetap tidak meninggalkan kriteria dasar. Itu lima cara, kriteria yang akan saya gunakan untuk memilih calon-calon kabinet mendatang. Terukur, jelas. Itupun insya Allah akan saya angkat, setelah saya dibantu oleh Pak Boediono nanti menerima kesanggupan yang bersangkutan. Saya siap dengan sasaran seperti itu, dengan kontrak seperti itu, siap. Kalau tidak siap, “Wah saya nggak, Pak daripada nanti saya nggak berhasil, saya dicopot malu.” Tidak. Saya hormati. Tapi kalau siap, teken, teken, ok masuk nanti dan bersama-sama kita.

Ini saya jelaskan supaya Kader Demokrat dulu mengerti duduk persoalannya, tidak kemana-mana yang menimbulkan komplikasi politik, yang merepotkan saya. Saya belum apa-apa kok sudah kesana-kemari, seolah-olah sudah ada draft pertama dari kabinet.

Setelah penjelasan ini Saudara-saudara, maka Saudara tahu bahwa saya belum mulai menyusun kabinet, belum. Dari Partai Demokrat, hari ini Pak Hadi Utomo, saya dengan tim juga belum menentukan siapa Calon Ketua DPR RI, belum, nominasi sudah ada 1, 2, 3, berapa begitu, tapi belum siapanya. Jadi jangan berantem sendiri belum-belum, wong belum ada ini.

Yang ketiga, soal koalisi. Kita bersama partai-partai politik yang dulu berjuang dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, maupun dengan partai-partai politik yang tidak berjuang bersama-sama dalam Pemilu yang lalu. Saya belum melakukan apa yang disebut dengan apa namanya, ya manuver-manuver atau power sharing yang bahasa yang paling populernya seperti itu, dan sebagainya, belum, jangan terkecoh. Kalau ada yang ingin berkomunikasi dengan Partai Demokrat welcome. Tidak boleh kita menutup silaturrahim, tidak boleh kita menutup untuk saling berkomunikasi. Ini anak bangsa semua, setelah selesai bersatu, kita membangun negeri. Tetapi belum ada, yang namanya kontrak-kontrak yang saya bikin sekarang ini untuk menuju ke 20 Oktober ya, karena menjadi tidak baik, nanti seolah-olah teman-teman kita dari partai-partai politik yang berkoalisi, atau kawan-kawan seperjuangan, sepertinya, ”Ini Pak SBY kok diam-diam saja ini, kok ternyata jalan begitu saja, malah kita tidak disapa, tidak tahu-menahu.” Ya memang belum. Jadi jangan sampai ada misunderstanding juga. Memang belum.

Saudara-saudara,
Ini bulan Ramadhan, tadi kita sudah mendengarkan dari ustadz Dr. Muhammad Hidayat. Mari kita jalankan, agar amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Sangat jelas. Saya ingin memberikan tambahan sebagai renungan bersama di bulan suci ini. Saya sudah merancang untuk mengucapkan ucapan terima kasih dan penghargaan formal nanti atas jasa, peran, bantuan, semua, baik dari jajaran Partai Demokrat maupun dari teman-teman seperjuangan, nanti pada Hari Ulang Tahun Partai Demokrat, karena kalau di sini belum semuanya mendengar, karena keberhasilan kita adalah keberhasilan semua. Itupun tentu pertama-tama atas ridho Allah SWT. Saya merancang suatu hari yang baik untuk mengundang semuanya lagi dengan yang dari daerah-daerah, yang intinya adalah ucapan terima kasih, penghargaan saya kepada semua dalam acara yang resmi nanti.

Renungan Ramadhan yang saya maksudkan adalah, Saudara pernah mendengar man purpose, God dispose, manusia punya rencana, Tuhan yang menentukan dan rencana Tuhan selalu lebih indah dari rencana manusia. Mungkin kita pernah mengalami dalam perjalanan dalam hidup kita. Rencana Allah ternyata lebih indah dari apa yang kita pikirkan. Kemudian Saudara-saudara, jabatan itu amanah, berkah, tapi dalam tanda kutip juga musibah, manakala kita gagal mempertanggungjawabkannya, gagal menjalankannya. Oleh karena itu, lihatlah dimensi jabatan itu secara utuh supaya kita siap mental lahir dan batin.

Saya ingin menyampaikan visualisasi dan mengapa prinsip-prinsip ataupun petuah itu patut kita camkan bersama, bahwa manusia mengandai-andai, merencanakan, Tuhan-lah yang menentukan. Bagi yang dulu pernah bertugas di lingkungan TNI, banyak di sini, masih ingat hampir 30 tahun saya di TNI, sejak awal saya menjadi Danton, Danki, Danyon, Danbrik, Danrem, Pangdam, kebanyakan di bidang operasi, 5 tahun di Timor-Timur, operasi PBB di Bosnia, banyak sekali penugasan yang berkaitan dengan itu. Mestinya harapan saya dulu, menjadi ya perwira yang menangani bidang-bidang itu. Misalnya Kepala Staf Umum di Mabes ABRI dulu, tiba-tiba nggak ada angin, nggak ada hujan, saya jadi Kasospol. Biasanya terus terang di lingkungan TNI itu yang disukai itu yang operasi, wong memang itu yang menjadi kebanggaan, menjadi harapan. Dan saya termasuk punya riwayat penugasan seperti itu. Yang saya dapatkan atau tugas yang saya terima Kasospol. Kecewa jelas. Waduh...

Tetapi ternyata era itu adalah era reformasi. Justru yang di depan yang berperan, ternyata bukan Kasum, bukan Pangkostrad, bukan yang begitu-begitu. Ternyata Kasospol. Saya ditempa, diberi pelajaran, diuji oleh Allah SWT dan saya menjadi pelaku sejarah dalam reformasi TNI --waktu itu semua masih ingat. Ternyata yang saya harapkan tidak ke situ, oleh Allah ditentukan ke situ, membawa kebaikan dan ternyata lebih indah. Karena pengalaman sebagai Kepala Staf Sosial politik waktu itu, saya sebagai Ketua Fraksi MPR tahun 1998-1999, 11 tahun yang lalu dan yang lain-lain ternyata menjadikan bekal bagi saya ketika mengemban tugas di jajaran pemerintahan. Satu contoh.

Yang kedua, saya kira Saudara-saudara masih ingat, tahun 1999, ketika Gus Dur ditetapkan sebagai Presiden, saya diusulkan menjadi KSAD. Memang cita-cita saya menjadi KSAD saja, bukan menteri, bukan yang lain-lain. Ketika Gus Dur mempersiapkan saya untuk menjadi menteri, saya berusaha sekuat tenaga mohon kalau diijinkan biarlah tetap di TNI saja, karena saya ingin sebagai cita-cita seorang lulusan Akademi Militer di Lembah Tidar menjadi Kepala Staf Angkatan Darat. Tapi kata Gus Dur, ini perintah, instruksi, “Siap jalankan Bapak Presiden.” Waktu itu. Belum tentu kalau saya jadi KSAD lebih baik, dibandingkan ketika Tuhan melalui Gus Dur tidak menyetujui saya harus jadi KSAD. Mungkin ada pertimbangan lain atau ada calon lain, terus saya ditugaskan di tempat itu. Ternyata membawa kebaikan, indah. Itu di lingkungan TNI.

Di karier politik saya selanjutnya, Saudara-saudara, supaya kita juga bisa mempersiapkan mental kita menghadapi apapun yang di depan. Saya pernah dicopot dari menteri. Saudara masih ingat, ada krisis kepemimpinan, krisis politik, saya mendapatkan maklumat dari Gus Dur. Isi maklumat itu mirip dengan isi Surat Perintah 11 Maret. Saya jalankan mandat itu dengan cara-cara yang menurut saya sesuai dengan norma demokrasi. Tetapi yang terjadi, ada pertimbangan lain dan itu saya tidak pernah menyalahkan Gus Dur, karena presiden tentu ada pertimbangan sendiri, penglihatan sendiri. Saya dicopot. Saya terima dengan ikhlas pencopotan itu.

Kemudian saya masuk kembali ke kabinet. Waktu pemilihan Wakil Presiden, masih ingat, kalah saya. Terdampar, meskipun di luar, polling saya tinggi sekali. Ternyata di MPR yang 700 orang, kalah. Mengapa kalah? Ya karena saya salah, yang milih bukan rakyat Indonesia, yang milih 700 anggota MPR, dan saya kurang punya modal di situ. Modal dalam arti dukungan politik karena partai, kalah karena saya salah, saya tidak menyalahkan siapa pun. Saya pelajari kekalahan dan kesalahan saya itu. Ternyata kalah itu indah, setelah itu saya mempersiapkan, wah kalau begitu, kalau dipilih langsung oleh rakyat belum tentu kalah, Insya Allah berhasil, karena saya lihat survei-survei dan sebagainya. Jadi kalau tidak berhasil di satu titik, tidak berarti masa depan gelap gulita.

Yang ketiga, masih contoh lagi. Pak Boediono sampai saya panggil beliau di ruang sebelah ini, tidak ada niat Pak Boediono, statemen Pak Boediono, manuver Pak Boediono, kasak kusuk Pak Boediono, siapa tahu diajak oleh Pak SBY menjadi Wapres. Tidak ada, tidak pernah, tidak terjadi.

Saya hanya mengingatkan ini adalah ajaran-ajaran agama yang baik dan benar. Oleh karena itu, marilah kita ikuti semuanya ini, dengan pikiran yang jernih, dengan pikiran yang positif, tidak perlu ada gerakan-gerakan yang tidak semestinya, supaya kita semuanya menjadi tenang, menjadi tetap pada semangat, tekad dan komitmen kita bersama.

Kalau nanti di antara kader Demokrat, keluarga besar, teman-teman seperjuangan, teman-teman koalisi, ada yang masuk dalam jajaran kabinet, tidak berarti yang tidak masuk itu lantas saya punya pikiran yang jelek kepada beliau-beliau. Dari 300, 400 nominasi yang beredar selama ini, saya akan pilih sekitar 30-an lebih sedikit, berarti tentu jauh lebih banyak yang disebut-sebut namanya di koran tidak masuk formasi. Saya tetap hormat kepada yang lain, barangkali juga punya potensi yang tinggi. Tapi toh tetap saya harus memilih di antara sekian banyak itu. Kader Demokrat barangkali siap untuk di kabinet, barangkali siap untuk memimpin kepemimpinan, jajaran kepemimpinan di DPR RI, DPRD Provinsi, Kabupaten dan Kota, tapi toh akan dipilih sebagian, karena tempatnya juga cuma satu, dua, tidak bisa banyak-banyak.

Jadi tolong di kesempatan yang baik ini, bulan suci Ramadhan ini, kita saling menyempurnakan kepribadian kita. Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk saya, saya punya kekurangan, saya punya kelemahan. Tapi Insya Allah saya akan terus menjalankan tugas sebaik-baiknya dengan cara-cara yang tepat dan benar, dengan pikiran-pikiran yang rasional, seobyektif mungkin untuk keberhasilan tugas.

Saya kira itu yang ingin saya sampaikan. Saya kira bahasa saya sudah terang, tidak perlu ditafsir-tafsirkan lagi, karena sudah gamblang. Teman-teman wartawan, banyak judul nanti untuk liputan besok dan lusa itu. Nanti akan ada acara buka puasa bersama dengan ya Keluarga Demokrat dan keluarga besar koalisi nanti, mungkin ada satu, dua isu lagi nanti. Tetapi saya letakan dalam satu kerangka yang semestinya.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas perhatiannya. Dan kita masih bersama-sama, insya Allah akan terus bersama-sama. Kegiatan dzikir terus berlangsung, Majelis Dzikir jangan dihentikan. Ya memang saya minta maaf, tempat-tempat ini pengawasannya lebih ketat. Itu tidak mengada-ada, Paspampres tidak mengada-ada. Saya malah ingin lebih rileks, lebih lunak, lebih soft gitu, tapi mereka menjalankan tugas, daerah dan segala macam. Sebab kalau bom yang 600 kg itu diledakkan, kalau meledak di tempat itu, depan gerbang itu, saya kira lulu lantak semuanya ini. Jadi hormatilah yang menjalankan tugas untuk pengamanan.

Demikinlah Bapak, Ibu sekalian, atas perhatiannya, atas kesediaannya, saya mengucapkan terima kasih. Mari kita lanjutkan ibadah kita sampai hari kemenangan nanti pada tanggal 1 syawal 1430 H.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****




Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan