Pidato Presiden

Sambutan Pertemuan dengan Mahasiswa dan Masyarakat Indonesia di AS

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA PERTEMUAN
DENGAN MAHASISWA DAN MASYARAKAT INDONESIA
DI AMERIKA SERIKAT
HOTEL FOUR SEASONS, BOSTON, AMERIKA SERIKAT
26 SEPTEMBER 2009



Bismilahirrahmanirrahim,
Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, dan segenap rombongan dari Jakarta, bersama saya ada para pimpinan Badan-badan Usaha Milik Negara, kemudian pejabat teras di berbagai departemen, pimpinan dunia usaha, pimpinan media massa,
Yang saya hormati Saudara Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, dan para diplomat Indonesia yang sedang mengemban tugas di negeri ini,
Yang saya hormati Saudara-saudara keluarga besar masyarakat Indonesia yang bertugas, bekerja, tinggal di Amerika Serikat ini,
Yang saya cintai, para mahasiswa yang sedang melaksanakan pendidikan ataupun tugas belajar yang insya Allah akan menjadi ujung tombak dari pembangunan di negeri kita nanti menuju masa depan yang lebih baik,

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena kepada kita semua masih diberikan kesempatan, kekuatan, dan semoga kesehatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita, karya kita kepada bangsa dan negara tercinta. Saya juga ingin menggunakan kesempatan yang baik ini, ini masih dalam suasana, lebaran, Idul Fitri 1430 H, ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin, dan semoga kemenangan kita di tahun 1430 H ini dapat meningkatkan semangat, motivasi, dan tekad kita semua untuk berbuat yang lebih baik lagi bagi bangsa dan negara tercinta, bahkan juga bagi dunia sebagai implementasi dari amanah konstitusi kita, amanah Undang-Undang Dasar 1945.

Saudara-saudara,
Seperti Saudara ketahui bahwa saya dan rombongan kali ini berkunjung ke Amerika Serikat, pertama-tama untuk menghadiri pertemuan puncak G-20, G-20 summit yang ketiga. Pertemuan pertama dilaksanakan dulu di Washington DC, tahun lalu. Kemudian pertemuan kedua dilaksanakan di London, United Kingdom pada bulan April tahun ini, dan yang ketiga kalinya dilaksanakan kembali di Amerika Serikat, di Pittsburgh yang baru saja selesai kemarin sore.

Direncanakan karena G-20 ini akan menjadi forum yang permanen, dan boleh jadi nanti akan menggantikan peran yang puluhan tahun dilakukan oleh G-7 ataupun G-8, meskipun forum itu masih ada, tetapi G-20 dianggap lebih merepresentasikan bangsa-bangsa di dunia; bukan hanya G-7 or G-8 negara-negara maju itu, tapi juga emerging economies dari berbagai negara, antara lain China, India, Brazil, South Africa, Meksiko, Indonesia, juga negara-negara lain yang diharapkan ini betul-betul mewakili seluruh bangsa-bangsa di dunia terutama major economies dan negara-negara yang punya peran dalam hubungan Internasional dewasa ini.

Karena forum ini akan menjadi forum permanen, dan meskipun alhamdulillah krisis perekonomian global, yang dulu sangat kita cemaskan yang mulai terjadi sejak tahun yang lalu sudah ada tanda-tanda bakal pulih kembali, namun belum benar-benar pulih, saya mengatakan dalam banyak kesempatan, kita ini at the beginning of the end of the crisis. Oleh karena itu, G-20 masih harus bekerja lebih keras lagi, dan tahun depan akan melaksanakan summit kembali di Kanada, dan kemudian karena setahun dua kali, kesempatan berikutnya, akan melaksanakan pertemuan di Korea Selatan.

Saudara-saudara,
Sedikit tentang G-20 dan sedikit tentang global efforts in overcoming the economic crisis ini adalah G-20 memiliki misi, misi besar; yang pertama, tentunya dengan kekuatan yang ada karena itu mencapai almost 90% dari total global economy negara-negara anggota G-20 itu, maka tugasnya yang pertama sekali lagi mengakhiri resesi, memulihkan kembali perekonomian global. Tugas pertama, yang sekarang sedang dilaksanakan yang hasilnya alhamdulillah sudah mulai kita rasakan.

Tugas yang kedua, second mission, adalah manakala sudah dapat kita akhiri resesi global ini, maka kita akan melakukan upaya membangun tatanan perekonomian dunia yang baru, termasuk global financial architecture, dan sejumlah langkah yang lainnya agar perekonomian dunia ini, rentan, ulangi lebih tahan pada goncangan, shocks of the crisis, sehingga perekonomian dunia di masa depan lebih aman dan lebih sustainable. Dua tugas besar ini tidak ringan, tetapi bagaimanapun harus G-20 dan negara-negara lain laksanakan demi kepentingan umat manusia sejagat.

Saya ingin sedikit memberikan elaborasi tentang kedua misi ini untuk menjadi pengetahuan terutama para mahasiswa yang sedang mengikuti berbagai macam pendidikan karena ini merupakan lessons to be learned, merupakan peristiwa besar dalam perjalanan sejarah dunia. Pertama, ketika kita melaksanakan summit yang pertama kali di Washington DC, suasananya waktu itu penuh dengan kecemasan, kepanikan, bingung kita semua karena tiba-tiba dengan cepat kebangkrutan, collapse, kejatuhan dari banyak perusahaan-perusahaan besar di dunia, dan waktu itu semua pemimpin berbicara tetapi akhirnya di Washington DC kita bersepakat bahwa di antara banyak pekerjaan rumah kita harus fokus, first think first, yaitu menghentikan kepanikan, restoring the confidence, menyetop pendarahan; saya umpamakan pendarahan bagi yang mengalami sakit keras, stop the bleeding.

Terus yang ketiga adalah normalizing the financial market; itu dulu. Caranya countercyclical economy; caranya mengeluarkan stimulus; caranya semua bekerja, baik pada tingkat global, regional dan nasional, itu. Kemudian yang lain: regulasi, reforming the architecture, lembaga-lembaga seperti IMF, World Bank, WTO harus berfungsi lebih efektif lagi, dan banyak sekali kita katakan, kita selesaikan ini dulu, kemudian kita menuju ke situ.

Ketika kita bertemu di London, tanda-tandanya belum cerah, masih tetap kita penuh dengan kecemasan kalau-kalau resesi ini berkepanjangan, dan kalau terjadi dalam waktu yang cukup lama, akan memporak-porandakan perekonomian dunia, maka kita sepakat untuk melanjutkan langkah-langkah countercyclical economy, pemulihan ekonomi, stimulus, dan sebagainya meskipun ada dua kubu waktu itu: mana? Regulasi dulu, atau stimulus. Tetapi Indonesia tampil dengan pandangan bahwa dua-duanya penting: stimulus maupun regulations.

Dan kemarin, dua hari yang lalu, dan kemarin di Pittsburgh, kita dengan lebih lega, seluruh pemimpin dunia yang dalam, yang berada dalam G-20, mengatakan, kerja keras kita semua telah mulai menghasilkan sesuatu sebagai awal dari pemulihan perekonomian global. Tapi kami semua berpendapat, belum saatnya untuk exit dari apa yang kita lakukan ini, biar tuntas dulu sampai betul-betul, barangkali tahun depan work; kalau tidak bisa, tahun depannya lagi resesi betul-betul pulih dan dunia mengambil pelajaran besar, dunia akhirnya melakukan sesuatu yang lebih baik lagi untuk pengamanan kehidupan di masa datang.

Thus, saya menyarankan kemarin di Pittsburgh dalam forum itu, forum G-20, agar pertemuan puncak di Kanada merupakan pertemuan untuk mengevaluasi apakah seluruh langkah-langkah global ini telah menghasilkan sesuatu yang kita kehendaki. Harus kita uji: Apakah betul-betul global confidence sudah pulih? Apakah betul-betul trade and investment juga telah mengalir dengan baik? Apakah pasar keuangan sudah pulih termasuk capital flow yang kita harapkan terjadi dengan baik? Apakah dunia masih tetap memprioritaskan ketahanan pangan dan ketahanan energi, food and energy security? Kemudian banyak lagi list of indikator yang ingin kita evaluasi. Manakala itu sudah positif, maka kita memikirkan bagaimana langkah ke depan untuk reforming yang disebut dengan global economic order, global financial architecture, dan sejumlah langkah-langkah untuk isi, memperbaiki kondisi global kita. Exit baru bisa kita laksanakan manakala evaluasinya positif seperti itu.

Inilah what’s going on pada tingkat dunia menyangkut perekonomian, tetapi saya tetap optimis, resesi ini akan berakhir; saya optimis bahwa dengan pelajaran besar ini kita bisa membangun new global economic order yang lebih baik, yang lebih aman, dan lebih sustainable. Saya bisa merasakan, Saudara-saudara, para mahasiswa utamanya, semua kawan-kawan saya, apakah itu pemimpin negara maju: Eropa, Amerika agar tetap termasuk emerging economies, semua memiliki komitmen yang tinggi untuk lebih bekerja sama, untuk lebih sharing and caring dalam arti yang lebih luas untuk mengelola perekonomian global ini. Dengan modal itulah, komitmen, tekad yang tinggi dari all leaders, terutama di G-20, saya optimis sekali lagi akan dapat kita atasi permasalahan perekonomian global dewasa ini.

Saudara-saudara,
Negeri kita bagaimana dengan krisis global ini? Saudara masih ingat 11, 10, 11 tahun yang lalu, ketika terjadi krisis Asia, ekonomi kita runtuh, collapse, hancur. Ekonomi Indonesia adalah ekonomi terburuk ketika krisis Asia terjadi, ditambah dengan krisis yang lain, krisis politik, ditambah dengan masalah sosial, masalah keamanan; lengkaplah sudah derita yang kita alami di negeri kita waktu itu. Kita belajar banyak. Ya, negeri kita bagaimana? Masih ingat semua dulu? Ketika puncak krisis terjadi, 1998-1999, tetapi justru dengan krisis seperti itu, kita belajar banyak, kita melaksanakan reformasi, penataan kembali dengan segala permasalahannya, up and down, pasang dan surut, dan akhirnya dengan pertolongan Allah SWT, dengan kebersamaan kita semua ketika dunia mengalami krisis yang terjadi sejak akhir tahun lalu, Indonesia dinilai oleh dunia, yang menilai bukan SBY, yang menilai bukan kita, tetapi oleh dunia sebagai sedikit negara yang dianggap berhasil, yang dianggap kompeten, dan bahkan memiliki pertumbuhan yang tetap positif ketika terjadi krisis global dewasa ini bersama-sama China dan India, boleh tepuk tangan, terima kasih. Ketika negara-negara lain pertumbuhannya negatif, Indonesia tetap positif; tahun lalu, 6,1% down dari 6,5% around that number, kemudian insya Allah ketika yang lain minus dan minusnya banyak, insya Allah tahun ini bertahan pada 4,5%, termasuk bagus seperti itu, dan tahun depan kita kembali menuju ke 5, ke 6, dan insya Allah setelah itu kita lebih bangkit lagi, lebih maju lagi.

Mengapa kita lebih tahan menghadapi krisis global yang terjadi sekarang ini? Satu, reformasi yang kita lakukan, yang bisa memperbaiki berbagai fundamentals dari ekonomi kita. That’s number one. Yang kedua, kalau dulu, 1998-1999 tidak ada koordinasi, tidak ada sinkronisasi, tidak ada sinergi, semua panik: pemerintah sendiri, businessmen sendiri, yang lain-lain sendiri-sendiri. Belajar dari itu, sejak awal kita telah bersatu padu; Kadin saya ajak untuk bermalam-malam, berhari-hari merumuskan sejak September tahun lalu, supaya kita bisa meminimalkan dampak. Kita libatkan para ekonom, para tokoh, kita libatkan dunia usaha yang dimotori oleh Kadin, kita ajak para gubernur, kepala daerah di seluruh Indonesia; dan kita bergerak cepat dan tepat; saya keluarkan directives, saya keluarkan perpu, banyak hal. Akhirnya kebersamaan itulah yang bisa kita bertindak lebih cepat, lebih tepat, dan akhirnya sekali lagi dampak krisis global kepada negeri kita dapat kita minimalkan.

Tetapi belum rampung, oleh karena itu, untuk saya sampaikan sekaligus ke hadapan Saudara-saudara semua meskipun kuartal terakhir lebih bagus, ekspor sudah menggeliat, investasi menggeliat, tourism menggeliat, consumption tetap baik, industri mulai bangkit lagi yang selama krisis kemarin terganggu; tetapi tetap saya belum merasa aman betul karena program stimulus 76 triliun yang kami alirkan itu dampak positifnya barangkali baru bisa dirasakan akhir tahun ini, ataupun tahun depan. It means masih ada satu-dua tahun lagi karena ada lack, ada time lack untuk memastikan bahwa semua stimulus itu berjalan dengan baik; dan ada sejumlah prioritas yang kita jalankan di Indonesia dalam rangka krisis ini dan tetap menjadi prioritas atau agenda kita.

Pertama, bagaimanapun pengangguran baru sejauh mungkin kita cegah. Dan ingat, Indonesia salah satu negara yang angka pengangguran barunya karena krisis sangat rendah: kurang dari 200 ribu. Di negara lain jutaan, belasan juta. Dan kalau negara lain ada yang 16% unemployment rate karena krisis ini 10%, alhamdulillah Indonesia sekarang angkanya meskipun saya juga belum puas, kita belum puas pada 8,1%, tetapi poin saya, tidak ada gelombang pengangguran baru yang besar, yang terjadi secara besar-besaran, tetapi tetap menjadi prioritas kita.

Yang kedua, agar tidak mudah ada lay off, pengangguran, PHK, maka sektor riil harus bergerak, itu yang kedua. Agar bergerak, harus ada special policy yang dikeluarkan pemerintah, harus ada insentif, ada aturan-aturan khusus supaya teman-teman dunia usaha juga terus bergeliat dan paling tidak survive.

Yang ketiga, kita menjaga inflasi. Jangan sampai harga membumbung dan akhirnya rakyat menderita. Alhamdulillah, inflasi bisa kita tahan insya Allah di bawah 6% di negeri kita pada tahun ini.

Yang keempat, bagaimanapun juga kita perlukan daya beli rakyat bisa kita jaga. Berbagai macam program kita lakukan agar purchasing power itu bisa dijaga dan rakyat bisa membeli dengan inflasi yang terjaga tadi.

Yang kelima, we protect the poor, we protect the most vulnerable karena krisis ini maupun dari aliran masalah sebelumnya. Berbagai program-program pro rakyat kita berikan dan kalau Saudara kenal namanya BLT; suka disindir, “Apa itu BLT, Indonesia?” Banyak negara yang mengikuti program cash transfer; negara-negara maju, tidak kurang Jepang, Amerika, Brazil, Iran, dan negara-negara lain. Jadi, hanya salah satu yang namanya BLT, cash transfer itu karena ada yang lain, misalkan BOS untuk meringankan pendidikan, Jamkesmas untuk kesehatan, beras bersubsidi untuk kaum yang masih tergolong miskin, bantuan lanjut usia, kemudian sejumlah program pro rakyat yang intinya adalah to protect the most vulnerable, to protect the poor.

Kemudian yang keenam, kita mengutamakan, apapun gonjang-ganjing yang terjadi, tidak boleh kita kurang pangan dan kurang energi.

Dan yang ketujuh, semua kita jalankan sambil memelihara momentum pertumbuhan, growth. Growth bukan tujuan akhir, tapi without growth, kita sulit untuk menurunkan unemployment, kita sulit untuk menurunkan poverty, dan kita juga tidak mudah untuk meningkatkan the quality of life of the people: pendidikan, kesehatan, dan pendapatan mereka sehari-hari.

Tujuh prioritas tetap kita jalankan seraya kita menjalankan program stimulus, seraya kita menjalankan kegiatan countercyclical economy, meskipun sekali lagi ekonomi Indonesia kala ini tidak terpukul habis sebagaimana terjadi pada tahun 1998-1999. Itulah keterkaitan perekonomian kita dua tahun terakhir ini dikaitkan dengan krisis global.

Saudara-saudara,
Masih berkaitan dengan G-20, masih berkaitan dengan agenda pada tingkat global dewasa ini, saya kira sebagian mendengar bahwa sebelum dilaksanakan G-20 Summit di Pittsburgh, ada UN High-Level Conference on Climate Change, termasuk summit di mana hampir semua kepala negara, presiden, berbicara tentang climate change di Markas Besar PBB, New York. Memang saya tidak bisa hadir, tetapi untuk Saudara ketahui, Indonesia sangat aktif, saya sendiri sangat aktif bersama para world leaders untuk betul-betul menangani climate change ini. Kalau tidak, bumi kita tidak selamat. Kalau tidak, masa depan generasi kita terancam. Saya tidak bisa datang, tapi saya mengirimkan message dan karena itu bertepatan dengan Idul Fitri, tidak mungkin saya Idul Fitri di New York, sementara kita harus berhalal bihalal, bersilaturahim dengan saudara-saudara kita di tanah air. Tapi satu hal, saya lebih optimis dibandingkan dua, tiga tahun yang lalu ketika banyak pemimpin dunia, yang menurut pendapat saya, kepeduliannya belum tinggi sekali untuk bersama-sama menyelamatkan bumi.

Saudara masih ingat, Indonesia menjadi tuan rumah dari konferensi tentang perubahan iklim ini di Denpasar, Bali, pada bulan Desember tahun 2007. Konferensi itu hampir deadlocked, hampir gagal, tetapi karena semangat dari para negosiators, dan saya bersama Sekjen PBB Ban Ki-moon melaksanakan intervensi pada saat yang tepat, maka di Indonesia, di bumi Indonesia, di Denpasar, Bali, kita mencetak prestasi bahwa kita berhasil dalam konferensi itu, menghasilkan yang disebut Bali Road Map dan Bali Action Plan, dan itu penting menuju ke Copenhagen, karena Desember tahun ini akan ada konferensi serupa di Copenhagen yang tujuannya kita ingin membangun new protocol untuk menggantikan Kyoto Protocol yang habis masa berlakunya tahun 2012 mendatang.

Dan ternyata sangat alot, ternyata tidak mudah, pandangan Eropa tidak sama dengan pandangan Amerika Serikat, meskipun saya tahu, terjadi perubahan besar antara policy Presiden Bush dan policy Presiden Obama. Kemudian, belum tentu sama pula dengan pandangan emerging economies misalkan China, India, Brazil, dan negara-negara lain, juga belum tentu sama dengan negara berkembang yang lain. Tetapi posisi Indonesia jelas, dan di manapun saya berbicara, saya menyampaikan hal yang sama, dalam kaitan ini, tidak sepantasnya dunia terpecah-belah, tidak sepantasnya dunia tidak menghasilkan sesuatu, suatu protokol baru, suatu kerja sama, suatu konsensus bagaimana bumi ini bisa selamat dengan cara, langkah-langkah bersama untuk mengurangi emisi karbondioksida.

Poinnya adalah tidak boleh sekarang saling menuding, tidak boleh sekarang kita saling menyalahkan. Menurut posisi Indonesia yang perlu saya sampaikan kepada Saudara-saudara, semuanya harus bekerja lebih serius. Developed nations must take lead. Why? Karena developed nations punya resources, punya capabilities, baik itu finance, technology, capacity, apapun to do more, to take lead.

Tetapi developing nations juga harus bekerja on their part. Dan Indonesia menjadi contoh, meskipun negara kita masih negara berkembang, punya persoalan juga dengan pembangunan, tapi kita serius. We allocate enough fund untuk dealing with climate change ini. Harapan kita, negara-negara lain juga begitu. Dan sebetulnya ini semua diikat oleh yang disebut dengan common-but-differentiated responsibilities and respective capabilities. Kalau itu dijalankan, semua akan bisa menuju ke situ. Dan bagi Indonesia, Para Mahasiswa, Saudara-saudara, tanpa ada tekanan atau pressure dari global community pun, hukumnya wajib untuk memilih memelihara keselamatan tanah air kita, bumi kita.

Lihat, kalau namanya gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, itu memang tidak bisa diintervensi oleh manusia. Itu peristiwa alam atas kehendak Yang Maha Kuasa, baik secara ilmiah maupun secara keimanan bisa dijelaskan. Tetapi kalau namanya banjir bandang, namanya iklim yang berubah secara dramatis, yang namanya kemarau yang sangat panjang yang tidak lazim, sebaliknya penghujan yang berlebihan, tentu itu karena pemanasan global, karena perubahan iklim. Mengapa di Indonesia, orang menebangi hutan, menggunduli seenaknya di waktu yang lalu.

Oleh karena itu, kita stop seperti itu, kita jaga hutan kita kembali, reforrestation atau restoration. Kemudian, kita tanam kembali, kita kontrol penggunaan bahan bakar kita dengan energy mix untuk menuju energy mix 2020 dan energy mix 2050, yang intinya di Indonesia sendiri harus bisa kita yakini antara emisi karbon, carbon emission, dengan carbon sink, carbon captured itu harus lebih banyak yang sink dan captured, sehingga nett-nya, netonya menjadi positif. Itulah objective yang kita ingin capai di Indonesia sendiri.

By the same token, kalau semua negara juga melakukan seperti itu, maksud saya negara berkembang, dan negara maju membantu negara berkembang karena banyak negara, lebih banyak negara yang lebih susah dibandingkan Indonesia, negara majulah yang wajib memberikan bantuan, apakah financing, transfer of technology, the capacity building, dan sebagainya. Kalau itu dilakukan, saya yakin kita akan sama-sama, dengan penuh kesadaran merawat, memelihara bumi dan lingkungan kita. Itulah sebetulnya yang saya sebut dengan new mindset, the process is to be made di Kopenhagen ini. Kemarin, pembicaraan kita memang keras, keras dalam arti kita berdebat dengan tujuan yang positif, bagaimana kita bersama-sama, bersatu-padu menyukseskan Kopenhagen. Banyak yang pesimis, tapi saya termasuk yang optimis, apapun, harus ada yang kita hasilkan di Kopenhagen, jangan sampai gagal sama sekali.

Saya ingin sampaikan masalah climate change ini karena ini isu global yang begitu fundamental, di samping our effort in overcoming the present crisis. Jadi kalau kita baca running text di CNN, di CNBC, di BBC, semua, orang mengatakan, world leaders berkumpul di Amerika Serikat untuk dua hal. Yang pertama, untuk pemulihan perekonomian global, yang kedua, untuk merumuskan cara-cara menangani climate change.

Oleh karena itu, saya sampaikan dua topik yang sangat penting ini ke hadapan Saudara-saudara semua. Yang ingin saya sampaikan yang terakhir adalah perkembangan tanah air kita dan bagaimana Indonesia 5 tahun ke depan. Mengapa 5 tahun ke depan? Ya karena Alhamdulillah, saya mendapat rahmat dari Allah SWT dan mendapat mandat dari, terima kasih, saya dapat mandat kembali untuk melanjutkan kepemimpinan di Indonesia 5 tahun mendatang. Dan untuk itu semua, disamping saya bersyukur kepada Allah, kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, saya minta dukungan, kebersamaan dari Saudara semua, dari rakyat Indonesia agar lebih baik lagi.

Dalam kampanye pemilihan presiden yang saya sampaikan beberapa bulan yang lalu, yang saya sampaikan sangat sederhana sebetulnya. Intinya yang baik-baik, yang positif, yang hasilnya dirasakan oleh rakyat, ya mari kita lanjutkan dan kita tingkatkan. Tetapi dalam 5 tahun ini, mana-mana yang belum baik, yang oleh rakyat dianggap tidak begitu membawa manfaat, termasuk kekurangan di sana-sini, mari kita ubah, mari kita perbaiki, mari kita sempurnakan. Jadi sebetulnya 5 tahun mendatang yang mesti kita lakukan adalah change and contiunity, itu adalah kegiatan atau prioritas kembar yang harus kita laksanakan ke depan. Alhamdulillah di tengah badai krisis global misalnya, krisis pangan, krisis energi, krisis keuangan dan sekarang resesi, termasuk badai di tanah air, tsunami, gempa bumi, flu burung dan sebagainya. Alhamdulillah, 5 tahun terakhir ini kita telah bisa menunjukkan pada dunia, bahwa krisis yang dulu luar biasa terjadi di Indonesia telah bisa kita akhiri, kita bisa mencapai banyak hal, meskipun masih banyak pula pekerjaan rumah, masih banyak pula hal-hal yang harus kita perbaiki dan kita sempurnakan. Itu adalah catatan penting perjalanan bangsa kita 5 tahun ini dan itu semua terjadi, tentu akibat atau berkat kebersamaan kita di seluruh tanah air dan para putra-putri bangsa yang ada di mancanegara.

Lima tahun mendatang tentunya harus lebih baik lagi. Saya punya pengalaman memimpin pemerintahan, memimpin negara 5 tahun terakhir ini. Saya harus secara jujur mengatakan ada capaian-capaian yang memang, ya itulah yang bisa kita capai. Tetapi mestinya kalau kita lebih baik lagi dalam menjalankan pemerintahan, lebih baik lagi apa yang dilaksanakan oleh negara bukan hanya pemerintah, lebih besar lagi kebersamaan dukungan dari publik dan semua pihak komponen bangsa, maka banyak sasaran yang seharusnya bisa kita capai lebih baik lagi.

Tugas pemerintah 5 tahun mendatang adalah memastikan bahwa kita bisa mencapai sasaran yang lebih baik lagi dibandingkan 5 tahun ini, karena kita ingin membuat pemerintahan nanti lebih efektif, kita membuat bahwa sinergi antara pemerintah pusat dan daerah lebih baik, sinergi antara pemerintah dunia usaha, civil society dan komponen non pemerintahan juga lebih baik, pemerintah kita lebih baik dalam arti good governance lebih terwujud, reformasi birokrasi sudah menghasilkan sesuatu, korupsi terus kita berantas, dan banyak hal yang dari governance sendiri akan lebih baik. Dengan agenda dan prioritas seperti itu, saya berharap lima tahun ke depan negara kita lebih baik, bukan untuk menyenang-nyenangkan diri dan tidak pantas kalau kita cepat merasa puas, tetapi kalau saya membaca penilaian dari dunia luar, baik media asing, lembaga-lembaga internasional, kita bersyukur.

Dulu sepuluh tahun yang lalu, ketika negara kita berada dalam kegelapan, krisis demi krisis terjadi, kalau ada artikel di media internasional, sepuluh hal, sepuluh-sepuluhnya jelek tentang Indonesia. Kemudian, tahun-tahun bergeser mulai lumayan. Dari sepuluh titik yang disorot tentang Indonesia, sudah ada yang baik satu, atau dua titik, begitu. Dan keadaan sekarang ini kalau kita baca, alhamdulillah paling tidak balanced antara yang baik dan yang belum baik. Tetapi kadang-kadang, the economist yang terakhir, lebih banyak positifnya, melegakan, kita syukuri sambil kita tahu, ok, yang dianggap baik yang ini, ini, ini, masih ada PR kita, ini belum, ini belum, mari kita bikin baik.

Ada suatu telaahan yang mengatakan, Indonesia sudah masuk radar, sudah masuk G-20, sudah menjadi enhanced partner dari OECD, dan kalau semuanya on track, ya, going well, maka Indonesia ini sebetulnya sudah akan masuk barisan BRIICS dengan dua I: Brazil, Rusia, India, Indonesia katanya, China, and South Africa.

Saya kalau membaca tulisan di luar negeri seperti itu, langsung saya berdoa kepada Allah, kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, “ Ya Allah, berikan jalan agar apa yang ditulis oleh dunia ini menjadi kenyataan, berikan semangat kepada bangsa kami, rakyat kami agar tertantang dan bertekad untuk mewujudkan itu semua.”

Ada lagi yang menulis Chindonesia, agak aneh, kok Chindonesia apa ini? Saya baca, ditulis oleh lembaga internasional. Konon, ada tiga negara yang sebenarnya untuk 5, 10, 15 tahun ke depan akan menjadi kekuatan dunia. Chindonesia itu China, India, Indonesia. Penduduknya: RRC 1,3 milyar. Penduduk India 1,1 milyar. Penduduk Indonesia 230 juta, digabung itu adalah gabungan jumlah penduduk terbesar kekuatan ekonominya dan kemudian produksi, baik pertanian maupun industri. Konon dikatakan seperti itu, dan Indonesia itu juga punya opportunity being, menjadi disebut Chindonesia. Mendengar itu, sama dengan yang tadi, saya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, “ Ya Tuhan, berikan jalan, mudah-mudahan kita tumbuh sebagaimana yang diramalkan atau diharapkan oleh semua itu.”

Tapi, semua itu jangan membuat kita, “Ah, ini sudah, masih, sudah, sudah seperti itu.” Saya lebih baik mengatakan, jalan untuk menuju ke keadaan seperti itu masih harus kita lalui dengan semangat, dengan tekad, dengan kebijakan, dengan strategi, dengan kerja keras, dengan keringat, dan semuanya, agar betul-betul lima tahun mendatang sudah pada tingkatan yang baik, dan saya akan meninggalkan pemerintahan lima tahun mendatang dengan kebahagiaan, karena sudah bisa menyiapkan Indonesia yang lebih baik untuk generasi muda, untuk para mahasiswa yang pada saatnya di bawah Saudara-saudara semua Indonesia akan take off dan akan bangkit menjadi negara maju di abad XXI ini.

Apa yang ingin kita capai? Apa yang ingin kita capai? Pembangunan itu sesungguhnya yang ingin dicapai untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sebenarnya itu. Jadi, semua yang kita lakukan di waktu yang lalu, sekarang, dan yang akan datang, apakah dalam keadaan normal maupun dalam keadaan krisis, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Rakyat dinamakan sejahtera manakala cukup pangan, cukup sandang, cukup papan, memiliki tingkat pendidikan yang baik, kesehatan yang baik, pendapatan yang baik, lingkungan yang baik, rasa aman atau keamanan yang baik, yang semuanya itu merupakan hak dasar, merupakan kebutuhan dasar mereka semua. Itulah yang kita tuju.

Menuju ke situ, semua harus kita bangun. Pertama-tama, lingkungan dalam negeri Indonesia harus stabil, harus aman, politiknya harus stabil, demokrasi harus makin hidup, termasuk kebebasan pers, termasuk penghormatan kepada hak-hak asasi manusia, termasuk partisipasi rakyat dalam demokrasi, pemilihan yang lebih demokratis di seluruh tanah air, pendek kata politik kita harus lebih baik, tapi juga stabil, memungkinkan pembangunan berjalan dengan baik. Itu lingkungan dalam negeri, yang pertama.

Lingkungan yang kedua, hukum harus tegak. Rule of law harus menjadi order of the day, can not only exception di negeri kita. Rule of law termasuk building good governance, building good bureaucracy, eradicating corruption, dan sebagainya. Itu termasuk semuanya itu. Dan tentunya lingkungan sosial juga harus baik, rukun, harmonis, tidak boleh kita berbeda karena berbeda dalam agama, suku, identitas, etnis, lantas kita tidak rukun, tidak akur kita, harus tetap satu, Bhinneka Tungal Ika, dan harmoni dalam kemajemukan itulah yang mencerminkan lingkungan sosial yang baik. Ini juga harus menjadi perhatian kita, menjadi satu lingkungan dalam negeri yang terus-menerus kita bangun.

Lingkungan yang lain adalah kita di tengah dunia, globalisasi. Globalisasi telah datang, tidak bisa dicegah. Bangsa manapun tidak bisa membangun tembok tinggi-tinggi untuk menolak datangnya globalisasi. Yang penting kita tahu, globalisasi itu mendatangkan opportunity, tapi juga threat. Yang buruk-buruk kita cegah jangan masuk ke negeri kita. Yang baik-baik kita sambut. Kita harus cerdas mengalirkan peluang-peluang ke dalam negeri kita untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran kita. Kerja sama dengan negara sahabat yang memberi manfaat bagi bangsa kita harus, dan teknologi informasi, apapun yang itu bisa membikin pembangunan di dalam negeri makin tumbuh mesti kita jadikan kerja sama dan kemitraan dengan negara-negara sahabat. Ini juga termasuk lingkungan dalam arti luas. Dengan lingkungan itu, maka kita fokus untuk membangun negara kita, utamanya pembangunan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat.

Saya ingin menutup apa yang saya sampaikan ini. Ada 10 prioritas yang akan kita jalankan lima tahun mendatang di bidang pembangunan ekonomi dalam lingkungan dalam negeri yang saya katakan tadi itu, stabil, kondusif, dan baik untuk suksesnya pembangunan ekonomi karena pembangunan ekonomi yang berhasil pasti bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat tadi. Pertama-tama, 10 itu, economic development, economic strategy kita growth. Bagaimanapun, pertumbuhan ekonomi harus kita jaga. Pertumbuhan tinggi dikatakan kalau di atas 4% sebetulnya. Jadi kalau kita kembali sebelum krisis, 6% lebih menuju ke 7%, menuju ke 8%, maka growth itu akan menjadi engine of peningkatan kesejahteraan rakyat.

Tapi bukan growth sembarang, growth: growth with equity, growth yang disertai dengan pemerataan yang lebih adil, growth yang inklusif, growth yang broad-based, growth yang sustainable. Itu yang kita tuju. Dan kita bisa membuktikan, Saudara-saudara, di tengah krisis global, growth kita tetap positif. Mari kita jaga.

Yang kedua, yang akan kita kejar lima tahun mendatang adalah creating more job, creating more employment. Meskipun kita tidak terpukul sekali di tengah krisis menyangkut employment kita, tetapi 8,1% masih terlalu tinggi. Kita menuju ke 5 sampai 6% lima tahun mendatang, dengan cara membuka lebih banyak lapangan kerja di pertanian, di industri, di jasa, di ekonomi kreatif, di tourism, dan sebagainya Ya not only waiting for, ada finding new jobs, tapi we have to also create new jobs, job creation menjadi sangat-sangat penting, nomor dua.

Nomor tiga adalah poverty reduction. Kemiskinan yang sudah turun, alhamdulillah dari 16-sekian menjadi 14-sekian, harus terus kita turunkan menuju angka, katakanlah nanti sekitar 12% begitu harapan kita, or lebih rendah lagi, dengan demikian, lebih banyak lagi saudara kita yang hidup lebih layak dibandingkan keadaan sekarang ini. Poverty reduction itu menjadi penting, bukan hanya memberikan bantuan langsung, tapi kita juga dengan program-program seperti kredit mikro, micro credit, yang disebut dengan KUR; kemudian, pemberdayaan masyarakat lokal kita berikan grant, diolah oleh masyarakat di kecamatan, di desa, itu juga cara untuk mengurangi kemiskinan sekaligus memberdayakan mereka. That’s number three.

Yang keempat, infrastructure building. Andaikata infrastruktur kita lima tahun ini lebih lengkap, lebih baik, tentu growth kita lebih tinggi lagi. Mengapa infrastruktur kurang? Karena waktu kita krisis ekonomi, kita hancur. Uang tidak punya untuk membangun infrastruktur yang baru. Jangankan membangun, merawat pun sulit. Akibatnya apa? Listrik sangat kurang. Bayangkan, sejak mendiang Bung Karno sampai tahun 2004, listrik kita hanya 25.000 MW. Dulunya cukup, sekarang tidak cukup, industri tumbuh, commercial-nya tumbuh, rumah tangga tumbuh. Oleh karena itu sudah kita tambah 10.000 MW, pasti belum cukup lagi. Lima tahun mendatang, kita tambah 10.000 MW dan seterusnya. Dengan demikian, lebih cocok antara supply dengan demand untuk listrik kita. Itu infrastruktur yang pertama kita bangun.

Yang kedua, infrastruktur yang berkaitan dengan transportasi darat, laut, dan udara, jalan, pelabuhan, bandara yang semua itu akan menggeliatkan perekonomian di seluruh tanah air. Bukan hanya Jawa, tapi Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua. Pendek kata, infrastruktur atau prasarana yang berkaitan dengan transportasi kalau kita bangun, maka akan menggerakkan seluruh perekonomian nasional.

Infrastruktur yang berkaitan dengan pertanian, irigasi. Alhamdulillah, setelah tahun 1985 dulu kita berswasembada, tapi setelah itu kita tidak bisa mempertahankan, maka tahun lalu kita kembali berswasembada. Dan bukan hanya beras, tetapi juga jagung dan gula konsumsi. Insya Allah, lima tahun ke depan akan kita tingkatkan produksi daging sapi kita, termasuk kedelai. Kalau yang lainnya sudah cukup, kentang, cabe, sayur, buah, semuanya sudah cukup, dengan dua komoditas ini, revitalisasi pertanian gelombang kedua nanti bisa kita lakukan dengan cara infrastrukturnya kita benahi.

Kemudian infrastruktur yang berkaitan dengan sektor-sektor yang lain, industri sendiri, tourism, dan sebagainya.

Saudara-saudara,
Lima tahun mendatang kita akan melaksanakan pembangunan proyek besar-besaran untuk infrastruktur. Darimana uangnya? Sebagian dari APBN dan APBD. Yang lainnya dengan public private partnership, dengan dunia usaha. Kita utamakan dunia usaha dalam negeri. Kalau tidak cukup, kita ber-partner dengan mitra-mitra kita di luar negeri. Yang penting membawa keuntungan bagi bangsa dan negara kita.

Itu adalah infrastructure building yang akan kita laksanakan lima tahun mendatang. Nomor berapa tadi? Keempat ya? Empat betul ya?

Yang kelima, pertanian. Saya sudah mengatakan, tahun 2005 di Jatiluhur saya canangkan revitalisasi pertanian, perikanan, dan kehutanan. Hasilnya baik, tapi belum rampung. Lima tahun mendatang, akan kita lanjutkan dengan revitalisasi pertanian gelombang kedua. Dengan demikian, kita akan memiliki ketahanan pangan yang lebih baik lagi, bukan hanya padi, jagung, kopi, gula, daging sapi, kedelai, tapi juga yang lain, termasuk seperti kelapa sawit. Ingat Saudara-saudara, Indonesia sekarang menjadi number one producer of palm oil. Malaysia sudah nomor dua. Tetapi, jangan puas dengan hanya memproduksi CPO. Mari kita bangun downstream industry-nya, produk-produk turunannya. Dengan demikian, nilai tambahnya lebih bagus. Kita bisa merajai dalam artian yang positif, bisnis ini sehingga membawa manfaat yang lebih besar lagi untuk negara kita. Revitalisasi pertanian gelombang dua akan kita lanjutkan.

Yang keenam adalah revitalisasi industri gelombang kesatu. Ini akan kita bangun, banyak sekali yang harus kita upgrade, kita revitalisasikan, kita selamatkan, among others, pabrik pupuk, pabrik tekstil, pabrik apalagi? gula yang saya lihat di berbagai tanah air harus kita regenerasikan peralatannya, mesinnya, dengan demikian lebih produktif lagi dalam usahanya. Industri manufaktur, industri pengolahan makanan, dan semuanya, yang menurut saya akan naik; pasar domestik makin besar, harus kita bangun lebih besar lagi. Jadi, revitalisasi industri akan kita lakukan. Saya menyambut baik Kadin akan memberikan rekomendasi kepada pemerintah tentang revitalisasi industri lima tahun mendatang.

Yang ketujuh Saudara-saudara, energi. Energi jangan hanya berpikir minyak dan gas. Minyak dan gas kita, minyaknya sedikit turun. Yang tadinya satu hari memproduksi 1,4 juta barrel pada puncaknya. Tapi pada waktu saya menjadi Menteri Pertambangan dan Energi sepuluh tahun yang lalu, itu memang sudah sekitar 1,1. Sekarang, karena declining memang sumur-sumur kita, sudah tua sehingga menurun. Sekarang di bawah satu juta, hanya 900. Tapi ingat, sambil kita menemukan cadangan baru, melakukan eksplorasi dan produksi baru pada minyak, tapi gas dan batu bara kita juga berkembang, sehingga kalau dijadikan satu, minyak, gas, dan batu bara, maka tiap hari Indonesia memproduksi 6 juta oil equivalent barrel. Cukup besar, tapi yang penting jangan kita tidak pandai mengelola, jangan ada mismanagement, jangan mencemari lingkungan, tapi cukup untuk menyediakan energi bagi bangsa kita dulu, negara kita, sebelum kita ekspor, kita jadikan sebagai komoditas perdagangan dengan negara-negara sahabat.

Energi yang lain adalah tentunya listrik, BBM yang diperlukan oleh rakyat. Tetapi, sekali lagi sejalan dengan komitmen untuk menjaga lingkungan, dealing with atau combating climate change, kita harus mengembangkan renewable energy. Saya undang para mahasiswa dengan kemampuan teknologi, dengan kemampuan, semua, mari kita gunakan geothermal kita yang luar biasa banyaknya masih tersimpan. Ingat, Indonesia itu adalah ladang atau sumur dari panas bumi yang besar sekali, nomor dua terbesar di dunia, ingat saya.

Kemudian, belum yang energi surya, hidro, angin, dan sebagainya. Saya sudah berbicara dengan Direktur Utama LEN, dan kita akan mengembangkan industri surya besar-besaran lima tahun ke depan, sebagai jalan untuk makin baik komposisi antara fossil fuel dengan yang non fosil, yaitu energi yang terbarukan. Di sini diperlukan kreatifitas, diperlukan kerja keras, diperlukan perubahan way of life, jangan semua mengantungkan BBM karena masih ada subsidi, sehingga yang lain tidak tumbuh. Energy policy harus baik, dan inilah yang menjadi prioritas kita lima tahun mendatang, dan bahkan menurut saya masih akan berlanjut di waktu yang akan datang.

Yang kedelapan, itu tiada lain adalah bagaimana financing-nya, co-financing. Semua rencana bagus, tapi kalau enggak ada fund-nya, enggak ada biayanya dari mana? Pemerintah tentu punya APBN, APBD, dan ingat, Saudara-saudara, lima tahun terakhir kita punya APBN meningkat dengan tajam. Sebenarnya kalau enggak ada krisis kemarin, kita sudah lebih dari Rp 1000 triliun kita punya APBN. Ini boleh tepuk tangan juga, ini. 1000 triliun itu ternyata kalau jaman dulu waktu kita susah, lebih banyak pembiayaan karena pinjaman dari IMF, dari ini, dari itu, jual aset, segala macam. Sekarang kita sudah putus dengan IMF, sudah saya lunasi lebih cepat. 70-sekian triliun, 1000 triliun itu dari pajak. Alhamdulillah, kesadaran pajak makin tinggi, dan begitulah, usaha makin besar, ya harus membayar pajak lebih besar lagi. Kemudian juga penerimaan nonmigas. Ini kekuatan kita: APBN. Daerah pun ada APBD. Tapi tidak cukup kalau membangun infrastruktur yang jumlahnya luar biasa, dan juga untuk kepentingan yang lain.

Oleh karena itulah kita gunakan co-financing. Pemerintah pusat-pemerintah daerah, pemerintah-dunia usaha di dalam negeri, kita di dalam negeri dengan sahabat-sahabat kita di luar negeri untuk memastikan bahwa semua agenda, semua sasaran, semua project of economic development tadi mendapatkan pembiayaan yang diperlukan. Jadi, di samping fiscal policy, diperlukan juga bagaimana mobilizing fund resources agar semua pembangunan itu bisa dicapai. Ini yang kesembilan, yang menjadi prioritas kita.

Yang kesepuluh, ini yang paling penting, adalah reformasi birokrasi, good governance, pemberantasan korupsi. Sembilan hal yang pertama tadi tidak ada artinya kalau kita tidak memiliki good governance, birokrasi yang responsif. Saya sering berseloroh, negara kita ini tidak akan maju-maju, masa depan gelap kalau ada yang berprinsip begini, ini jaman dulu di Medan saya dengar itu, di Medan, Pak Sudi Silalahi ada ini, “Kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?” Ini yang bikin macet semua, yang bikin macet negara kita.

Sekarang kita berkampanye, permudah setiap urusan, mulai dari ngurus KTP, ngurus SIM, ngurus semua. Ada orang yang bahagianya itu mempersulit. Harusnya satu hari, satu minggu. Harusnya tinggal teken sekarang, ditunda minggu depan. Ini penyakit. Dalam bahasa Inggris, namanya gombal mugio. Kalau kita bersihkan dengan good governance, government-nya responsif, government yang capable, government yang clean, government yang akuntabel, maka akan bagus sekali. Jadi, semua itu akan mencapai sasarannya dengan baik kalau ada energi, ada api, ada semangat, ya itulah governance.

Oleh karena itu, menjadi prioritas saya yang pertama untuk bikin baik governance ini, makin baik, makin baik, makin baik, sehingga Indonesia menjadi self-generating nation, self-developing karena diawaki, dijalankan oleh birokrat, oleh semua yang betul-betul hebat, yang betul-betul baik.

Itulah sepuluh, sebetulnya agenda prioritas dalam pembangunan ekonomi ya lima tahun mendatang, ya pembangunan ekonomi itu untuk kesejahteraan rakyat, dan itu dicapai dalam environment yang saya katakan tadi, politik, sosial, hukum, and international relations.

Itulah, Saudara-saudara, yang ingin saya sampaikan, dan sebelum saya berikan kesempatan satu-dua-tiga nanti siapa yang ingin menyampaikan pandangannya, proposalnya, ataupun pertanyaannya, saya titip satu saja, saya menaruh harapan yang tinggi kepada generasi muda Indonesia, kepada para mahasiswa, para siswa, baik yang belajar di negeri sendiri maupun yang belajar di luar negeri. Saya titipkan masa depan negeri kita kepada Saudara-saudara semua, kepada kalian semua, anak-anak muda yang saya lihat lebih baik dari generasi kami. Pengetahuan Saudara-saudara, wawasan Saudara-saudara, keterampilan Saudara-saudara, termasuk teknologi dan segala macam, merupakan capital, merupakan modal yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh generasi saya ataupun generasi atasan saya.

Oleh karena itu, jangan sia-siakan harapan rakyat, harapan bangsa, harapan orang seperti saya yang nanti juga kembali ke masyarakat karena kita ingin Indonesia yang kita cintai lebih baik, lebih maju, lebih sejahtera, lebih bermartabat, dan itu hanya bisa diwujudkan oleh para pemimpin, para tokoh sebuah generasi yang betul-betul bisa mengemban fungsi, misi, dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Ada yang bertanya kepada saya di Sidney dulu, “Pak Presiden, Pak SBY, kami hampir selesai studi di luar negeri. Yang baik bagaimana, Pak? Apa kami ini stay abroad atau return home?” Jawaban saya, “Dimanapun sepanjang Saudara-saudara bisa memberikan kontribusi yang terbaik untuk Indonesia, untuk negara yang Saudara cintai, untuk rakyat kita. Negara akan berterima kasih. Dari manapun. Tentu kalau ada peluang, dan Saudara terpanggil kembali ke tanah air untuk menjalankan roda pembangunan, perekonomian, industri, apapun, harapan saya, kembalilah. Tapi kalau ada yang di luar negeri dan membangun network yang menguntungkan negara kita, itu juga pengabdian, itu juga patut kita berikan penghargaan.” Jadi, saya tidak fanatik, semua harus kembali ke tanah air, meskipun saya menganjurkan, manakala negeri kita memerlukan dinamisasi, memerlukan karya yang lebih bagus lagi, dan para mahasiswa atau lulusan dari pendidikan manapun punya sesuatu untuk masuk ke situ, saya berharap, laksanakanlah. Tapi kalau masih ada yang ingin mengabdi dari luar negeri untuk tujuan yang baik bagi negara kita, itu juga as a matter of choice, pilihan profesi, pilihan tempat bertugas, pilihan pengabdian. Tapi satu hal, cintailah bangsa dan negara kita, dan marilah kita bersama-sama bangun masa depan kita yang lebih baik.

Demikian yang saya sampaikan. Terima kasih.

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan