Pidato Presiden

Dialog dengan Mahasiswa dan Masyarakat Indonesia di AS

 

TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN MAHASISWA DAN MASYARAKAT INDONESIA
DI AMERIKA SERIKAT
HOTEL FOUR SEASONS, BOSTON
26 SEPTEMBER 2009



Bapak Sudjadnan Parnohadiningrat, Dubes RI untuk Washington DC
Rekan-rekan mahasiswa dan perwakilan masyarakat, tadi kita sekalian telah mendengarkan apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden, baik yang berupa pandangan-pandangan, wejangan yang visioner maupun informasi-informasi tentang apa yang terjadi di tanah air, dan juga policy-policy beliau yang kita telah dengar bersama. Untuk ini, saya ingin mengundang rekan-rekan mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan dan berkenan berapa Bapak? Tiga? Tiga pertanyaan. Mungkin dari ujung kanan, tengah, kemudian kiri. Saya tidak bisa milih yang mana ini. Yang di tengah depan dengan baju batik. Yang pakai baju batik, saya panggil yang batik. Silakan. Nanti setelah itu di tengah, kemudian di kiri.

Sdr. Basuki Winoto, mahasiswa
Terima kasih atas kesempatannya. Yang saya hormati, Bapak Presiden Republik Indonesia. Perkenalkan, nama saya Basuki Winoto. Saat ini baru saja menyelesaikan MBA Program di Brandeis University. Aset bangsa Indonesia yang insya Allah sesuai harapan Bapak Presiden, kami yang ada di sini, rekan-rekan mahasiswa ini masih selalu cinta tanah air. Buktinya, lebaran lalu masih nyari ketupat, opor ayam juga.

Kemudian kalau kita perhatikan di sini, ada 200 lebih mahasiswa yang hadir di sini, dan saya yakin bahwa Bapak Presiden percaya, pendidikan di Amerika Serikat ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya masih menjadi investasi yang baik bagi perkembangan sumber daya manusia. Kalau tidak, rasanya tidak mungkin Bapak biarkan atau ijinkan putra Bapak untuk melanjutkan pendidikan di sini.

Sayangnya kesempatan seperti ini tidak dimiliki oleh setiap individu di Indonesia, meskipun secara kemampuan intelegensi yang dibuktikan oleh rekan-rekan yang hadir di sini, mereka mampu bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa dari, termasuk dari Amerika sendiri, sehingga saya berpikiran bahwa, saya memiliki pandangan bahwa bangsa Indonesia ini termasuk rekan-rekan mahasiswa dan seumuran kami-kami di sini yang saat ini masih berada di Indonesia sebetulnya siap untuk bersaing dengan sumber manusia dari negara lain. Sayangnya, kesempatan itu tidak dimiliki oleh setiap orang.

Saya punya pemikiran bahwa mumpung hari ini di sini hadir juga pimpinan dari lembaga finansial di Indonesia, yang sebetulnya bisa mensponsori dalam bentuk pinjaman. Saya tidak mengatakan beasiswa. Saya cukup beruntung, saya cukup beruntung, saya mendapat beasiswa dari Brandeis University yang nanti secara moral harus saya kembalikan kepada mereka dengan dalam bentuk donasi dan lain sebagainya. Yang sebenarnya menurut saya, saya akan lebih rela kalau saya mengambil pinjaman dari lembaga finansial di Indonesia yang kemudian nanti saya kembalikan dengan perhitungan risk and profit yang mestinya ahli-ahli finansial di Indonesia lebih mengerti.

Pak, demikian tadi pandangan saya. Perlu saya ingatkan atau perlu saya sampaikan bahwa kami, saya dan rekan-rekan saya yang lain mengamati juga, ini selalu melihat sumber daya manusia di Indonesia ada 4 tipe. Yang pertama itu yang memiliki kemampuan finansial baik dan memiliki kemampuan inteligensi baik. Yang kedua, kemampuan finansial yang baik, tapi inteligensinya mungkin masih di bawah rata-rata. Yang ketiga, kemampuan inteligensianya tinggi, tapi finansialnya kurang. Ini yang jumlahnya cukup banyak dan sebenarnya itu menjadi kesempatan bagi kita untuk maju ke depan, termasuk nanti dari lembaga finansial yang memberikan pinjaman ini akan menjadi berkembang lebih bagus.

Kita bisa lihat Indonesia, saya dan rekan-rekan saya yang dari India, mereka punya program-program seperti ini dan ini berjalan dengan baik. Saya rasa untuk menyingkat waktu dan biar ini masih hangat situasinya. Demikian saja yang bisa saya sampaikan. Terima kasih atas kesempatannya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden RepubIik Indonesia
Saya lebih baik berdiri, supaya bisa melihat langsung semua. Pikirannya baik dan saya bangga kalau putra-putri Indonesia punya pikiran yang menjangkau dan itulah tanda-tanda masa depan Indonesia yang makin kaya pendidikan. Saya ingin menyampaikan policy menyeluruh tentang pendidikan. Visi kita tentang pendidikan. Semua sudah tahu, kalau bangsa ini ingin unggul, pendidikannya harus maju, harus memiliki daya saing yang lebih baik lagi, harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dan memiliki networking yang luas pada tingkat nasional maupun tingkat global. Itulah goals kita.

Kemudian, saya merumuskan sasaran dalam bidang pendidikan itu sederhana, yaitu pendidikan ke depan harus makin berkualitas, harus makin mudah, accessible, maksud saya, harus makin murah, terjangkau, dan yang miskin digratiskan. Dan itulah sasaran besar yang saya canangkan tahun 2004.

Alhamdulillah, dalam lima tahun ini banyak tonggak baru yang bisa mengawali agar dunia pendidikan kita makin tumbuh, lebih berhasil lagi di masa mendatang. Banyak instrumen, undang-undang, peraturan pemerintah yang telah kita hasilkan agar tujuan tadi bisa dicapai, termasuk peningkatan kesejahteraan dosen, guru besar, dan guru. Termasuk pembangunan infrastruktur fisik dari pendidikan. Termasuk peningkatan jumlah beasiswa, termasuk meningkatkan jumlah world-class universities yang ada di Indonesia. Termasuk membantu mereka-mereka yang tidak mempunyai kemampuan untuk menyekolahkan putra-putrinya, untuk justice, untuk keadilan. Banyak sekali program seperti itu, bukan hanya BOS, tapi juga buku yang murah dan sejumlah fasilitas ataupun kemudahan-kemudahan yang kita berikan kepada mereka.

Dengan sasaran seperti itu, dengan agenda seperti itu, maka ada dua hal Saudara-saudara, wajib hukumnya dan ini panggilan moral bagi negara untuk memberikan kesempatan kepada setiap warga negara bisa mengikuti pendidikan. Ini yang pertama.

Tidak adil, tidak benar, berdosa kalau karena tidak punya uang, tidak punya biaya, banyak anak-anak kita yang tidak bisa bersekolah. Maka lima tahun ini, fokus kami adalah memastikan bahwa anak bangsa kita di manapun bisa kita bantu. Keluarga yang sangat-sangat miskin, the poorest of the poor, itu kita berikan namanya Program Keluarga Harapan. Sebetulnya cash transfer bersyarat. Tujuannya agar dia bisa bersekolah. Mengapa? Kalau puluhan juta anak-anak kita, kita berikan kesempatan bisa bersekolah SD, SMP, SMA, paling tidak atau yang sederajat, maka dia punya modal, punya capital, punya capability untuk mencari pekerjaan. Dari modal itu, pekerjaannya insya Allah lebih layak dibandingkan tidak lulus SMP, atau tidak lulus SD. Jadi, yang pertama yang kita lakukan seperti itu, dan itu memerlukan resources yang tidak sedikit, memerlukan anggaran yang besar. Itu yang pertama.

Yang kedua yang tidak kalah pentingnya adalah membangun critical mass, menambah lagi jumlah kaum intelektual, lulusan pendidikan tinggi, baik pendidikan tinggi dalam negeri maupun luar negeri. Kita ingin perguruan tinggi kita, university kita juga makin tumbuh menjadi, saya katakan tadi, universitas berstandar internasional, dan sudah mulai banyak sekarang yang berpredikat seperti itu.

Harapan saya, putra-putri bangsa yang punya kemampuan, dan yang tidak punya kemampuan kita bantu dengan meningkatkan jumlah beasiswa, meningkatkan kuota ataupun jumlah-jumlah untuk itu, dan mereka bisa mengikuti pendidikan. Sama halnya, kita juga berharap anak bangsa kita lebih banyak lagi yang belajar di negara-negara sahabat, di universitas yang baik, dengan metodologi yang baik di seluruh dunia, dengan demikian mereka tidak hanya mendapatkan bekal pengetahuan, ilmu, teknologi, tetapi juga masalah-masalah internasional, membangun networking, perkawanan pada tingkat global yang in the long run itu juga membantu negara di dalam meningkatkan pembangunannya.

Yang kedua ini kita dorong, the critical mass, satu lapis anak bangsa yang memiliki kemampuan yang lebih, yang nantinya bisa lebih mengangkat kemajuan bangsa kita, yang akhirnya juga menjadi nilai tambah tersendiri, daya saing tersendiri, sehingga negara kita akan terangkat semua.

Dua-duanya menjadi agenda dalam pemajuan pendidikan kita. Sekali lagi, yang tadi itu, pengelolaan pendidikan dasar sebagai equality of the opportunity, justice. Yang kedua, Saudara-saudara semua yang saya harapkan menjadi critical mass nanti, suatu gugus, suatu lapis anak bangsa yang akan menjadi modernisator, agent of change, agent of development untuk negara kita masa kini dan masa depan.

Masalahnya adalah kesempatan. Kita sejalan dengan anggaran yang kita miliki alhamdulillah sekarang anggaran pendidikan kita minimal 20%, jadi kalau 1000 triliun APBN kita, 200 triliun sendiri untuk pendidikan. Bandingkan dengan anggaran yang lain. Anggaran pertahanan di Indonesia, negara lain pertahanannya tinggi sekali, hanya 40 triliun, itupun baru saja kita naikkan dalam jumlah yang lebih layak, jauh di bawah pendidikan.

Tapi ini benar, karena pendidikan itu segalanya. Oleh karena itu, pesan saya kepada Menteri Pendidikan Nasional, para gubernur, semua pengelola pendidikan, jalankan pendidikan dengan baik, dengan demikian semua sasaran bisa dicapai, semua tujuan bisa dicapai, termasuk memberikan kesempatan bagi anak-anak bangsa yang memiliki kemampuan, tapi barangkali mengalami kesulitan finansial, financial difficulties, untuk melanjutkan pendidikannya.

Bantuan dari entah company, entah lembaga finansial, itu juga salah satu cara yang baik. Sebenarnya sekarang ini, banyak sekali BUMN, perusahaan-perusahaan swasta yang juga memberikan bantuan kepada anak-anak kita, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Ini malam ini, saya kira kita mendengar, saya berharap bantuan itu ditingkatkan, lebih banyak lagi. Dengan demikian, ya kalau perusahaannya makin tumbuh, rejekinya makin banyak, labanya makin banyak, amal ibadahnya juga makin banyak. Jadi, corporate social responsibility tolong juga diarahkan untuk pendidikan, di samping untuk kesehatan, untuk penanggulangan kemiskinan, banyak sekali yang harus kita lakukan di negeri kita agar keadilan, kesejahteraan seluruh rakyat kita menjadi lebih baik. Oleh karena itu, ini ada menteri di sini, ide yang baik ini bisa kita kembangkan, tapi poin saya adalah berikan kesempatan bagi semua, baik itu wajib belajar maupun pendidikan lanjutan, termasuk pendidikan di luar negeri yang kita tentunya akan mendapatkan peluang.

Jepang menjadi seperti ini karena jaman Restorasi Meiji dulu pada abad 19 juga mengirimkan putra-putrinya di seluruh dunia. China, India juga luar biasa sekarang ini. Kalau mereka bisa, Indonesia harus bisa. Oleh karena itulah, kita akan terus lakukan, tingkatkan semua upaya, policy, program, agenda untuk memajukan pendidikan kita dengan anggaran yang makin baik, dengan kesadaran yang makin tinggi, dengan undang-undang, kebijakan pemerintah yang makin tepat. Demikian jawaban saya.

Sudjadnan Parnohadiningrat, Dubes RI untuk Washington DC
Saya persilakan dari tengah, ladies first, apakah ada? Tidak ada yang? Wanita ada satu, Mbak silakan, yang di depan ini. Yang berkacamata. Go ahead.

Sdr. Butet, Ibu Rumah Tangga
Selamat malam, perkenalkan nama saya Butet. Saya di sini sebagai, bukan sebagai mahasiswa, tetapi saya hanya sebagai ibu rumah tangga dari anak umur 16 bulan. Saya menikah dengan orang Amerika, bukan karena saya tidak cinta orang Indonesia, tapi ketika saya memutuskan menikah dengan orang Amerika karena dia bisa membuat sambal terasi.

Masih soal pendidikan, saya dan suami saya sering, bukan bertengkar, walaupun saya sebagai ibu rumah tangga, tapi saya punya pikiran yang positif, dan saya percaya anak saya adalah calon presiden. Tapi masalahnya adalah suami saya juga percaya bahwa anak saya akan jadi calon presiden tapi Presiden Amerika. Dan di sini, karena saya harus tinggal di sini sampai waktu yang agak lama, jadi saya berpikir dengan pendidikan kebangsaan anak saya, karena walaupun saat ini, dan terima kasih karena Bapak Presiden menjabat, undang-undangnya sudah berubah, dan saya lega karena anak saya bisa mempunyai paspor Indonesia juga. Terima kasih. Karena itu, saya ingin bertanya tentang kebijaksanaan pendidikan, terutama pendidikan dasar, apakah ada kebijaksanaan juga untuk memikirkan anak-anak bangsa yang tumbuh dan besar di luar negeri, karena selama ini saya juga masih bingung, bagaimana menumbuhkan rasa kebangsaan anak saya tentang Indonesia.

Dan saya tahu bahwa memang masalah pendidikan di tanah air tidak cukup mudah karena saya dulu pernah tinggal di Pulau Komodo, di mana Bapak dulu pernah datang waktu ada bencana di Manggarai, saya juga datang waktu itu. Saya tahu bahwa masalah pendidikan di Indonesia juga kompleks, tapi apakah kebijaksanaan pendidikan Bapak juga mencakup pada pendidikan dasar anak-anak bangsa yang berada di luar negeri, apalagi yang campur antara bangsa Indonesia dan bangsa lain itu. Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Baik, terima kasih. Salah satu kebijakan dan program pendidikan yang dijalankan oleh pemerintah memastikan bahwa warga negara Indonesia di manapun berada itu mendapatkan bimbingan dalam arti luas, agar dia mengenal, mencintai, dan bangga kepada bangsa, negara, dan tanah airnya. Contoh, banyak pulau-pulau terdepan atau pulau-pulau terluar yang selama ini barangkali sangat jauh dari pusat-pusat kemajuan, Miangas misalnya, di perbatasan Indonesia dengan Filipina, di Natuna, perbatasan kita dengan Laut Cina Selatan, kemudian tempat-tempat yang memang so remote, so begitu terpencil, itu kita berikan program khusus kepada mereka tentang negaranya, tentang Indonesianya, tentang Merah Putih, tentang pembangunan, agar mereka memiliki nasionalisme, patriotisme yang baik. Ini kita jalankan program khusus Pembangunan Daerah Tertinggal, termasuk pembanguan pulau-pulau terdepan. Ini pertama.

Yang kedua, kita juga memikirkan sebagai contoh, anak-anak kita yang ada di Malaysia. Ingat, ada sekitar 1,8 juta warga negara Indonesia yang berada di Malaysia, baik bekerja, mengikuti pendidikan, atau menjalankan tugas-tugas diplomasi.

Ada juga persoalan berkaitan dengan putra-putrinya. Sejak dua tahun yang lalu, dengan upaya kita bersama-sama pemerintah Malaysia, kita melaksanakan program-program pendidikan di Sabah misalkan, di Semenanjung, agar mereka juga bisa mengikuti pendidikan. Kita kirimkan guru-guru kita, Malaysia membantu menyediakan fasilitas, kerja sama, dan mereka akhirnya mereka bisa mengikuti pendidikan. Itu yang kedua.

Yang ketiga, rasanya di masing-masing negara di mana warga negara kita banyak itu juga ada sekolah-sekolah Indonesia yang tentunya bisa diikuti, agar mereka tetap kenal, tetap mengikuti dinamika dan perkembangan negerinya.

Kemudian yang keempat, yang ini saya berterima kasih apa yang disampaikan tadi. Barangkali Pak Duta Besar nanti, Sekretaris Kabinet tolong sampaikan kepada Menteri Luar Negeri, kepada Menteri Pendidikan Nasional, barangkali kita pikirkan warga negara Indonesia, anak-anak kita di banyak negara di dunia ini yang tidak berkesempatan atau memang tidak ada sekolah Indonesia di negara itu, tapi bagaimana tetap punya akses dengan negaranya, dengan pemerintahnya. Saya berpikir, barangkali harus ada keaktifan dari orang tua yang punya pikiran baik seperti tadi, berkomunikasi dengan kedutaan besar, berkomunikasi dengan konsulat jenderal, dengan demikian ada cara tersendiri, apakah ada dikirimkan bahan-bahan ajaran, dikirimkan buku-buku atau apapun, dengan demikian bisa juga terus mengikuti perkembangan dan dinamika tentang tanah airnya.

Saya kira, kita bisa berkreasi, bagaimana selalu ada ikatan anak-anak kita, saudara-saudara kita dengan negaranya, dengan pemerintahnya. Itu barangkali yang bisa dilakukan, dan ini Ibu Negara, Ibu Ani, yang selama lima tahun ini aktif dalam kegiatan sosial, kegiatan pendidikan, kegiatan lingkungan, dan kegiatan kesehatan, di tanah air menjalankan program-program khusus misalkan program Mobil Pintar yang, Mobil Pintar, Motor Pintar, Perahu Pintar itu yang masuk ke pelosok-pelosok tanah air, satu mobil, di situ ada buku, ada komputer, ada permainan, semua ada di situ, keliling ke mana-mana. Ada juga Rumah Pintarnya. Kemudian ada program penghijauan, dan sebagainya.

Barangkali bisa juga dipikirkan, dikembangkan untuk seperti itu apa dengan buku-buku, saya kira banyak buku yang diproduksi tentang tanah air kita yang bisa kita sampaikan.

Kita pikirkan lebih lanjut, tetapi yang penting ada juga keaktifan dari para orang tua untuk berkomunikasi dengan kedutaan besar kita, dengan konsulat jenderal kita, agar kita bisa melakukan sesuatu yang baik.

Demikian. Sampaikan salam saya kepada, putra atau putrinya 16 bulan, Ibu? Putri. Mudah-mudahan menjadi tokoh besar.

Sudjadnan Parnohadiningrat, Dubes RI untuk Washington DC
Satu penanya terakhir dari ujung kiri yang paling ujung, yang masih mengangkat tangannya. Silakan.

Sdr. Frederik Perwata, Mahasiswa
Selamat malam, Bapak Presiden, Ibu Presiden, dan Saudara-saudari sekalian yang saya hormati. Nama saya Frederik Perwata dan saya adalah siswa dari Berkeley University. Pertanyaan saya sebenarnya tentang pendidikan, tapi semenjak Bapak sudah menjawab dengan panjang-lebar, ada sesuatu lagi yang timbul di pikiran saya, sekitar tiga minggu yang lalu, waktu saya sedang pulang ke Indonesia, ada berita yang lagi menggemparkan, yaitu tentang Malaysia dan Indonesia, tentang kebudayaan Indonesia yang sering diklaim itu adalah kepunyaan Malaysia, seperti contohnya tari Pendet, lagu-lagu Indonesia, dan batik juga, dan makanan kita, rendang, saya yang merupakan ada keturunan Padang, saya merasa sedikit tersinggung. Jadi Pak, saya mau menanyakan ini karena saya pikir ini bukan sesuatu keputusan atau langkah-langkah yang mudah untuk dilakukan ya Pak, karena setiap keputusan atau langkah yang akan diambil dari masalah ini akan berdampak untuk reputasi negara kita Pak.

Jika kita mengambil sikap yang keras, mungkin hubungan antara negara kita dengan Malaysia akan tidak menjadi begitu baik, ataupun negara-negara lain bisa melihat tentang langkah-langkah yang kita ambil. Kalau kita mengambil suatu langkah atau kita biarkan saja, lama-lama kebudayaan kita akan hilang dan itu adalah kebudayaan-kebudayaan kita adalah yang membuat negara kita unik begitu Pak. Jadi, dengan ini saya ingin bertanya, langkah apa yang Bapak ingin lakukan, karena tidak saja akan menambah reputasi kepada seluruh negara, negara kita dikenal seluruh negara, tetapi juga jawaban Bapak akan memberikan contoh kepada negara Indonesia, bangsa Indonesia ini. Terima kasih, Pak.

Presiden RepubIik Indonesia
Terima kasih. Topik yang diangkat penting dan yang ingin saya sampaikan bukan langkah yang ingin atau akan saya lakukan, tapi apa yang telah, yang sedang, dan akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan saya untuk menangani atau mengelola masalah-masalah ini. Saya meminta Saudara-saudara untuk berpikir jernih, menggunakan logika kita, menggunakan hati kita untuk melihat masalah ini dengan tujuan mencari solusi yang terbaik, meletakkan masalah ini dalam konteksnya yang benar, tidak bergeser ke sana-ke mari sehingga yang terjadi bukan solusi tapi masalah menjadi makin melebar, dan tidak mendapatkan manfaat apapun.

Begini, sebelum Malaysia dan Indonesia menjadi negara berdaulat, negara merdeka, Indonesia lebih dulu, 1945, Malaysia lebih belakangan, 1957, dulu kala, nenek moyang kita sudah saling berinteraksi. Ada jejak sejarah, ada jejak peradaban, the trail of civilization, interaksi, migrasi dari bumi nusantara ke Malaysia. Oleh karena itu, banyak sekali wilayah Malaysia yang banyak sekali misalkan penduduk yang datang dari Riau misalnya.

Banyak yang datang dari Bugis misalnya, banyak yang datang dari Jawa misalkan, Johor. Yang Bugis mana? Kelantan? Kelantan: Kelantan; kalau yang Jawa, Johor, Johor Baru, kemudian kalau yang dari Sumatra tentunya Malaka. Ini Pak Sudi Silalahi satu tahun pernah pendidikan di Malaysia, jadi tahu peta sebaran nenek moyang kita yang ada di Malaysia.

Nenek moyang kita datang ke sana membawa nilai-nilai, adat, tradisi, dan budayanya. Yang dari Ponorogo membawa reognya, yang dari Padang bawa rendangnya, betul. Yang dari Jawa, ada gamelannya, ada wayang, dan sebagainya. Jadi sebenarnya, kalau ditelusuri jejak sejarah dan peradaban, ya memang di Malaysia banyak sekali budaya kita, seni kita, tradisi kita, adat kita yang ada di sana karena dibawa oleh nenek moyang kita ketika melakukan migrasi puluhan tahun yang lalu ataupun ratusan tahun yang lalu dalam proses interaksi antarbangsa, Indonesia waktu itu tentu, nusantara katakanlah dengan mereka.

Melihat itu, menjadi tidak perlu kita menganggap kalau mereka memainkan reog, atau mereka membikin masakan Padang, rendang, mereka melantunkan lagu-lagu Jawa, lantas kita anggap mengibarkan bendera permusuhan, karena itu dari nenek moyang mereka. Asalkan tidak perlu, secara moral juga tidak baik kalau itu diakui, “Ini asalnya dari sini, bukan dari Indonesia.” Mengerti, kalau itu ya tidak baik. Tapi kalau, “Betul, ini dari Ponorogo oleh tiga generasi di atas saya, Pak, tapi kakek dari kakek saya, kakek dari kakek dari kakek, tiga keturunan, itu memang memainkan reog sampai sekarang. Tapi, saya tahu ini dari Ponorogo, dari Indonesia aslinya.”

Tidak bisa kita larang. Kita bangga, kita punya budaya dimainkan di Malaysia, tetapi mereka tidak mengklaim, tidak mengatakan, itu asli dari Malaysia, ini asli dari Indonesia.

Indonesia sendiri, Saudara-saudara, itu pertemuan dari tiga peradaban. Abad ketiga dulu, berkembang peradaban Hindu dan Buddha civilizations. Ingat, tradisi kehinduan, kebuddhaan, eastern values itu berkembang di negeri kita. Ada wayang, ada cerita Mahabharata, Ramayana, ada tari-tarian dari Tiongkok, dan sebagainya, ada tarian yang berbasiskan agama Buddha. Itu kita jalankan di Indonesia. Mengapa? Karena dulu, abad ketiga, datang peradaban itu.

Berikutnya lagi, datang peradaban Islam dan tidak terlalu jauh berbeda dengan peradaban Kristiani, peradaban Barat. Oleh karena itu, banyak sekali warga negara Indonesia mendendangkan lagu-lagu dari Timur Tengah, kadang-kadang berbusana seperi bangsa Arab, dan sebagainya; kenapa ya? Dulu memang ada, datanglah civilization waktu itu. Dilakukan oleh orang kita dari Timur Tengah, tidak ada yang keberatan. Kemudian, dari western civilization, western values.

Yang jadi permasalahan adalah benar manakala kita tidak jujur pada sejarah, tidak jujur pada masa lalu, dan kita mestinya harus, katakanlah saudara-saudara kita di Malaysia, “Eh, Saudara di Indonesia tidak usah tersinggung. Wong, ini memang dulunya juga dari Indonesia. Nenek moyang saya juga dari Indonesia. Kalau kita jalankan, saya lakukan, kan ini juga aliran dari generasi sebelum saya dan ini kan juga baik bahwa kita ini ternyata satu rumpun.” Kalau itu yang disampaikan, akan menjadi baik.

Oleh karena itu, ketika saya bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia, Pak Abdullah Badawi, dua tahun yang lalu, saya melihat, ini enggak baik kalau begini terus ini; mulai dari “Rasa Sayange,” lagu itu, mulai dari batik, betul? Mulai dari, yang terakhir Tarian Pendet, kemudian, apalagi? Reog Ponorogo dan sebagainya. Ini enggak baik ini. Ini bisa “perang saudara”.

Memang begini, Malaysia dengan Indonesia bertetanggaan dekat. Saudara punya tetangga, ya? Kalau yang berasal dari kampung seperti saya di Pacitan, ada tetangga depan, kanan, kiri, belakang. Sekali-kali kan ada perselisihan, kan? Mungkin anak-anak kita lempar-lemparan genteng jaman dulu karena apa, begitu. Itu tidak apa-apa, tapi juga baik lagi, ke masjid bareng-bareng lagi, main bareng-bareng lagi, nanti minggu depan tantang-tantangan begitu, karena tetanggaan. Tidak mungkin Saudara tinggal di Tulungagung berantem sama yang ada di Manggarai, di NTT. Enggak mungkin. Saudara tinggal di Banten, desa di Pandeglang berantem sama desa yang ada di Tanah Datar di Sumatra Barat, tidak mungkin. Tidak mungkin bangsa Indonesia ribut dengan masyarakat Kolombia, masyarakat Irlandia, masyarakat Nepal, wong jauh sekali. Jadi sebetulnya, kalau sekali-kali gesekan, sekali-kali itu, ya memang tetangga, interaksinya terus-menerus seperti itu.

Tetapi, kalau isu-isu ini tidak dikelola dengan baik, saya sendiri, wah ini tidak baik, untuk menjaga hubungan baik, menjaga kerja sama dan persahabatan. Atas dasar itulah, saya punya inisiatif dulu, saya menyarankan kepada Pak Lah, Pak Abdullah Badawi, mari kita bentuk satu lembaga, satu institusi, satu jalinan agar kita bisa mengelola masalah-masalah seperti ini. Itulah, tahun lalu sudah kita kukuhkan namanya, Emminent Person Group. Di Indonesia, diketuai oleh Pak Try Sutrisno, mantan wakil presiden. Di Malaysia, diketuai oleh Tun Musa Hitam, Wakil Deputi Prime Minister of Malaysia, dengan timnya, ahli sejarah, ahli sosiologi, ahli antropologi, ada yang generasi mudanya, bertemu dengan mereka, bagaimana mengelola masalah-masalah seperti ini, mengelola dengan baik tidak perlu dengan kekerasan-kekerasan di kedua belah pihak.

Ini berjalan, dan akan terus mengemban misinya sampai saya ingin menceritakan kasus yang terakhir, tari Pendet yang ditayangkan di iklan televisi kepariwisataan di Malaysia. Saya menyampaikan message sebetulnya kepada Malaysia, dan saya menerima Menteri Luar Negeri Malaysia sebelum berangkat ke Amerika ini beberapa saat waktu masih bulan Ramadhan itu. Saya katakan kepada beliau begini, begini, yang harus kita kelola ini adalah jangan masalah-masalah ini mengganggu, merusak hubungan baik dan kerja sama kita. Oleh karena itu, jangan dibiarkan. Mari kita kelola. Mungkin sebagian dari rakyat Indonesia, sebagian, terlalu sensitif, dan saya menganggapnya itu mungkin bangga pada bangsa kita, bangga pada budaya kita, bangga pada negara kita, memiliki pikiran, “Ini, Malaysia, kok diaku semua?” Akhirnya, cepat marah, yang saya katakan, too sensitive.

Di Malaysia, ada komponen-komponen yang saya anggap less sensitive, tidak pandai menjaga perasaan saudaranya, bangsa Indonesia. Ini harus kita kelola. Tidak sulit sebetulnya manakala seperti teori saya tadi, bisa jadi ada interaksi budaya, ada migrasi manusia dengan budayanya asalkan saudara-saudara kita di Malaysia tidak perlu harus mengklaim, ini asli Malaysia, asli Kelantan, asli Negeri Sembilan, asli Johor Baru, asli manalagi, begitu. Harus begitu. Itu yang pertama.

Yang kedua, dunia itu mengenal sekarang property rights, hak cipta, karya manusia, bangsa, masyarakat. Saya berharap, tentunya Malaysia juga menghormati seperti ini, sehingga tidak harus menimbulkan gesekan, benturan setiap saat. Kalau itu kita jalankan, saling menjaga perasaan, yang kedua, menghormati yang disebut property rights tadi, yang ketiga, menceritakan jejak sejarah apa adanya, dari mana dulu aslinya, berkembang di mana. Saya kira akan menjadi baik dan apa yang dilakukan di Malaysia itu memang bawaan dari nenek moyang kita. Justru itulah menunjukkan, sebetulnya ada tali, ada hubungan di antara dua bangsa sejak dulu. Itu langkah yang kita lakukan, dan saya berharap tentu Malaysia mengambil pelajaran besar dari apa yang terjadi ini.

Saya juga mengimbau saudara-saudara kita untuk, mari kita carikan solusi. Saya tidak memberikan toleransi, tiba-tiba ada kekerasan, sweeping misalnya, kalau tiba-tiba ada sekelompok orang di negeri kita tiba-tiba melakukan sweeping, siapa yang ber-KTP Malaysia diberikan tindakan, rusak nama kita di dunia internasional.

Apabila ada rule of law, mengapa setiap warga bisa melakukan tindakan sendiri-sendiri, seperti ada kelompok yang main hakim sendiri, merusak toko-toko, merusak pusat-pusat hiburan, itu juga contoh yang buruk. Ada aturan main, ada hukum, ada polisi, ada penegak hukum. Jadi, tidak boleh melakukan kekerasan untuk tujuan apapun. Ada masalah, kita carikan solusinya secara damai. Jadi kalau sampai dengan kekerasan, kita merugi.

Dan ingat Saudara-saudara, istri atau Ibu Negara mendapatkan SMS yang dikirim oleh saudara kita, warga negara kita yang ada di Malaysia, “Bu, sampaikan pada Pak SBY agar permasalahan yang ada sekarang ini antara Indonesia dan Malaysia bisa diselesaikan dengan bijak, dengan arif supaya kami juga bisa bekerja dengan tenang di Malaysia ini. Saya baca dua kali, itu saudara kita, ada 1,8 juta, yang tidak ingin karena tiba-tiba salah kita bereaksi, merespon, mereka mengalami kesulitan yang ada di sana. Itu juga kita dengarkan.

Ada juga SMS masuk, “Bu, ini gimana Malaysia? Semua diakui, ini-itu, ini-itu.” Kita jelaskan juga, “Oke memang kalau diaku, tidak benar. Tetapi kalau itu dimainkan di sana memang dari nenek moyang kita.” Kita jelaskan juga seperti itu. Pendek kata, saya menganggap, pemerintah dan negara harus mengelola masalah ini sebaik-baiknya. Anda betul tadi, kalau kelebihan, ya tidak bawa manfaat. Kalau tidak kita kelola sama sekali, ya mengganggu, merusak hubungan baik kita.

Dengan tujuan seperti itu, kita akan mengelola dengan sebaik-baiknya. Kita cegah kekerasan dari manapun, dan yang lain-lain tentu kita selesaikan dengan baik. Tapi kalau soal-soal yang lain dengan Malaysia seperti penyelesaian perbatasan, batas di sekitar perairan Ambalat, batas di tempat-tempat lain, bagi saya, itu hal yang prinsip, itu kedaulatan negara kita, dan saya ingin diselesaikan dengan baik sesuai dengan, ya kalau itu wilayah Indonesia, tentu wilayah Indonesia, kalau ada dispute kita selesaikan dengan baik. Kalau hal-hal prinsip seperti itu, kedaulatan dan lain-lain, tentu posisi kita sangat jelas, sangat firm.

Tapi kalau berkaitan dengan isu tadi, ada cara mengelola dengan baik, dengan civilized yang jauh dari kekerasan sehingga dunia melihat, itulah bangsa Indonesia yang matang: mengelola permasalahan dengan baik, tetap mempertahankan kehormatan dan jati dirinya.

Dan yang terakhir, sebentar lagi batik akan ditetapkan oleh UNESCO menjadi global cultural heritage yang berasal dari Indonesia. Tepuk tangan. Insya Allah, insya Allah, kalau betul apa yang sedang berjalan, 2 Oktober, UNESCO akan menetapkan itu, dan saya mengajak rakyat Indonesia, warga negara Indonesia di manapun berada, 2 Oktober nanti kalau ada akan kita berikan pengumuman, hari itu kita menggunakan batik. Jadi, Hari Batik.

Dunia tahu bahwa batik yang pada abad ke-17 itu konon dikembangkan secara formal yang menggunakan canting ataupun cap yang menggunakan malam. Tahu malam, ya? Yang itu: lilin ya, lilin. Bahasa Jawanya, malam itu. Keliru dengan evening atau night. Tapi sebenarnya dikembangkan sejak era Majapahit pada abad ke-14, dan itu yang didaftarkan ke UNESCO yang dari Yogya dan Solo, meskipun sekarang sudah berkembang di seluruh nusantara. Batik, akhirnya dunia tahu itu heritage yang tumbuh dari bumi Indonesia.

Yang kedua, keris sudah. Itu menjadi heritage yang juga berasal dari Indonesia. Sebelum keris, satu lagi, wayang juga sudah. Wayang sudah, keris sudah, batik sudah, sebentar lagi angklung akan kita daftarkan sebagai heritage dari Indonesia.

Tapi syaratnya begini, tidak boleh tidak ada kelanjutan. Jadi, jangan sampai nanti generasi yang lebih muda tidak main angklung lagi, dicabut lagi nanti karena heritage itu warisan yang harus dilestarikan. Demikian juga batik, demikian juga wayang, keris, kemudian banyak lagi yang bisa kita daftarkan, dan percayalah, kita bangga sebagai bangsa yang kaya akan budaya, kaya akan seni, kaya akan adat, kaya akan tradisi. Jangan sia-siakan. Pesan saya, mari bersatu-padu, kejarlah ilmu, timbalah pengalaman, abdikan kepada bangsa dan negara agar Indonesia kita lebih maju, lebih aman, lebih adil, dan lebih sejahtera.

Sekian.
Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan RI