Arsip

« Oktober 2009 »
M S S R K J S
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pidato Presiden

Pengarahan Saat Mengunjungi Korban Gempa Sumbar

 

TRANSKRIPSI
PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
PADA ACARA
MENGUNJUNGI KORBAN GEMPA
DI PADANG, SUMATERA BARAT
1 OKTOBER 2009



Baik, kita lanjutkan saja langsung sekarang. A ini sebenarnya bisa kita balik. A ini kita ganti, yang sekarang sedang dilaksanakan pencarian. Mengubahnya nanti saja sambil menunggu directions. A ini kita ganti dengan apa yang sekarang sedang dilakukan: menyelamatkan warga yang masih bisa diselamatkan, dan yang terpenting Pak Gubernur, Pak Wali Kota, dalam waktu dekat ini sampai kalau sudah 10 hari, dua minggu barangkali. Tetapi banyak cerita, terkurung di tengah-tengan atau di bawah reruntuhan, masih ada yang bisa diselamatkan setelah hujan berhenti, sambil mengevakuasi para jenazah. Itu yang saat ini: menyelamatkan yang bisa diselamatkan, merawat yang luka-luka, operasi bedah tulang, dan sebagainya, termasuk penggalian jenazah-jenazah untuk dimakamkan. Itu yang pertama, dan ini sebetulnya adalah, sebetulnya dari pusat sekarang, bukan yang lain.

Yang kedua, listrik tujuh karena wakilnya sudah ada tadi. Sudah saya sampaikan, menyuruh PLN supaya turun, memastikan bisa dipenuhi, bisa dimobilisasi dari tempat yang lain. Kemudian, bisa segera menghidupkan fasilitas tambahan misalnya genset. BBM juga demikian, untuk menanggulangi kepanikan. Kalau BBM sudah ada, dan macam-macam sudah cukup. Air bersih jelas jangan dilewatkan, kemudian plus yang lain. Jaringan komunikasi juga menjadi prioritas yang ada di sini.

Dana tanggap darurat, pemerintah pusat telah mengalokasikan Rp 100 miliar dan segera digunakan. Nah kemudian, setelah itu baru ada yang sangat ringan. Dalam fase tanggap darurat pun, sudah mulai juga dilakukan rekonstruksi dan rehabilitasi. Jadi, harus menunggu selesainya tanggap darurat dengan prioritas.

Saya kira langsung saja saya sampaikan seperti itu dan sebagaimana tadi kita bicarakan di bandara, komando tanggap darurat ini berada pada gubenur, dibantu oleh perangkat daerah termasuk TNI dan Polri. Dari tingkat pusat, unsur yang diajukan ke depan adalah BNPB: Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Tugasnya adalah mengsinkronisasikan, mengkoordinasikan, mengsinergikan bantuan dari pusat, atau bantuan dari provinsi lain, atau bantuan dari negara lain, luar negeri, kalau ada yang berkontribusi. Pastikan semuanya diarahkan untuk memenuhi pedoman yang disampaikan oleh gubernur. Dan saya minta semua dikelola dengan baik, yang profesional, tidak boleh terlambat, kemudian mengalir ke sasaran yang dikehendaki. Banyak kejadian, Aceh misalnya, Yogya misalnya, karena manajemen yang tidak bagus, lumpuh, padahal di sana kurang. Atau penyalurannya keliru, bukan yang memerlukan sehingga perangkat Pak Gubernur, Pak Wali Kota dikerahkan dalam komando dan pencarian yang baik.

Saya kira directions saya itu juga terus dilakukan; saya katakan tadi di Jakarta dan ada pers di sini, di Bandara Halim Perdanakusuma. Dalam keadaan kita masih melakukan direct assessment, casualties assessment, berapa banyak korban, berapa banyak yang luka-luka, berapa banyak kehancuran material, kita berpikirnya lebih baik, lebih segera, overestimate daripada underestimate. Maksud saya, “Ah, ini nggak selalu sepakat kok. Bisa berubah, kan?” Jangan begitu. Anggaplah ini betul-betul serius, sepakat sehingga bisa dikerahkan kekuatan yang maksimal, baik medisnya, logistiknya, TNI-nya, Polri-nya; bahwa nanti tidak digunakan, tidak apa-apa. Yang penting, segera mengalir ke depan.

Saya kira itu. Yang penting Pak Gubernur pastikan semua berjalan terus, siang dan malam, dan terutama prajurit TNI dan Polri, Panglima dan Kapolri, betul-betul contohkan bersama warga dan lain-lain supaya yang begitu cepat begini: dalam keadaan panik, rakyat memerlukan kepemimpinan, leadership. Kepemimpinan itu bukan berarti Pak Gubernurnya ada, Pak Menterinya ada, Pak Wali Kota, bukan! Tapi, arahan yang jelas, pengumuman yang jelas, kebijakan yang jelas. Kalau rakyat merasa seperti itu, lebih lancar langkah-langkah tanggap darurat.

Kemudian kepada para wartawan, jelaskan. Nanti ada wartawan asing, jelaskan, jangan sampai nanti ada berita-berita yang belum dicek kebenarannya; lantas siapkan, gaduh di Jakarta, di mana-mana, SMS masuk ke saya, tentang infrastrukturnya. Jelaskan pada media.

Oleh karena itu, kepada wartawan berikan penjelasan terus-menerus karena mereka juga ingin mewartakan tentang bencana ini, dan ingin mewartakan juga tanggap darurat yang kita lakukan.

Saya kira itu. Para Menteri, ada yang ingin disampaikan untuk membantu pelaksanaan tanggap darurat? Kalau ada, saya persilakan. Kalau nggak, TNI, Kapolri ada? Kalau tidak ada, cukup. Saya masih akan berada di sini sampai besok siang nanti kita mudah, silakan. Tugas saya adalah memastikan sistem bekerja, memastikan bantuan pusat mengalir sehingga Pak Gubernur, Pak Wali Kota yang terkait betul-betul mendapatkan back up.


*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan RI