Pidato Presiden

Pengarahan Saat Silaturahmi dengan Masyarakat Indonesia di Singapura

 

TRANSKRIPSI
PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILATURAHMI DENGAN MASYARAKAT INDONESIA
RUANG RIPTA LOKA KBRI SINGAPURA
15 NOVEMBER 2009



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara-saudara, Delegasi Indonesia yang bersama-sama berangkat dari Jakarta untuk mengemban tugas negara di Singapura ini. Saudara Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura beserta para diplomat yang mengemban tugas negara. Para Pimpinan Dunia Usaha, para Profesional, Cendekiawan, Penata Laksana Rumah Tangga, Pelaut, Ulama, saya lihat ada ulama yang memimpin sholat Jum’at kemarin, saya menjadi jamaah di situ. Saudara-saudara, apapun profesi dan yang Saudara laksanakan di Singapura ini, semuanya yang saya cintai dan yang saya banggakan.

Pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini, marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita semua masih diberikan niknmat kesempatan, nikmat kekuatan, dan nikmat kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.

Malam ini, malam yang baik, insya Allah indah dan penuh berkah. Saya ingin sebetulnya mengajak Saudara semuanya untuk santai, rileks, penuh dengan suasana persaudaraan dan kekeluargaan. Saudara rindu barangkali kepada saya, saya lebih rindu lagi kepada Saudara. Kalau tadi dibilang Pak Duta Besar dalam Pemilihan Presiden kemarin, 82% memilih untuk saya, saya menyayangi semua, termasuk yang 18%. Pemimpin tidak boleh diskriminatif, tidak boleh membeda-bedakan, semua harus diayomi, semua harus disayangi secara adil. Setuju?

Tadi dalam acara santap malam, saya satu meja dengan perwakilan dari Saudara-saudara, ada yang mewakili organisasi penata laksana rumah tangga. Saya dengar apa yang disampaikan oleh beliau, saya dengar betul tadi. Ada yang mewakili dunia usaha yang merangkak dari bawah, usaha kecil, karena ketekunan dan keuletannya terus tumbuh, alhamdulillah menjadi usaha yang besar, dengan yang mewakili kaum profesional, yang mewakili pelaut, yang mewakili mahasiswa dan pelajar, yang banyak mewakili cendekiawan. Saya lebih banyak mendengar tadi, menceritakan semuanya. Mendengar cerita itu tentang Saudara saya bangga, saya terharu, saya berterima kasih, bahwa putra-putri Indonesia, yang bekerja di Singapura ini apapun pekerjaannya ingin berbuat yang tebaik untuk keharuman negaranya, untuk kelancaran profesinya, dan tentu untuk menempuh hari esok yang baik.

Saya katakan tadi, saya ini melihat semua profesi itu mulia, apapun mulia, apakah dia pemotong rambut, saya ulangi pemotong rumput. Pemotong rambut, tukang cukur juga mulia. Bayangkan kalau saya tidak cukur 3 bulan begitu. Dan yang paling berani pegang kepala saya hanya 2, 3 barang kali ya, tukang cukur dengan cucu, yang lain tidak mudah pegang kepala saya, tukang cukur. Profesi tukang cukur mulia, profesi pemotong rumput mulia, pegawai bengkel mulia, petani mulia, buruh mulia, penata laksana rumah tangga mulia, semua mulia. Di mata Allah, di mata saya, di mata kita, karena mereka bekerja dengan ikhlas, dengan tulus, dengan penuh kehormatan. Yang tidak mulia, meskipun barang kali kaya raya, tapi berasal dari kejahatan, barangkali karena hal-hal yang tidak benar. Apapun di mata saya tidak mulia, apalagi di mata Tuhan Yang Maha Kuasa.

Saya ceritakan tadi, di rumah saya, di Cikeas, itu juga ada penata laksana, semua saya perlakukan sebagai karyawan, sama dengan PNS cara saya memperlakukan. Sekali-kali, saya ajak bercanda dengan saya, ini Ibu ada di sini, seperti keluarga. Saya yang melihat, bekerja bener dia. Oleh karena itu, apapun profesi Saudara, tolong jalankan dengan baik, dengan penuh kehormatan, dengan tentunya penuh keyakinan, bahwa hari esok Saudara lebih baik dari hari sekarang. Apalagi saya dengar tadi ada usaha untuk mengembangkan diri, menambah pengetahuan, Pak Duta Besar memberikan dorongan fasilitas bantuan, akhirnya hidup kegiatan di Singapura ini, warga negaranya juga bisa memiliki peluang yang lebih luas untuk meraih kemajuan. Atas nama negara, Pak Duta Besar, Pak Wardhana, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi. Boleh tepuk tangan.

Dikatakan pula oleh beliau, mengapa beliau bicara tadi agak lama, yang minta saya. “Pak Dubes, pada saat memberikan pengantar, jelaskan kepada saya apa saja yang mengemuka di Singapura ini, apa saja yang dilakukan oleh kedutaan besar dan apa saja yang dilakukan oleh masyarakat kita untuk keperluan atau kepentingan yang baik untuk masa depan mereka semua, salah satu diantaranya pelayanan publik.” Saya paling tidak suka kalau ada yang lalai memberikan pelayanan kepada publik, kepada rakyat, kepada siapa pun. Sudah banyak yang kita tegur, karena mereka lalai. Suatu saat 5 tahun mendatang, kalau ada pejabat tidak bertanggung jawab, lalai di dalam melayani rakyatnya, memberikan pelayanan kepada rakyatnya tidak cukup teguran, kalau perlu mesti dicopot dari jabatan itu.

Bayangkan kalau ngurus KTP saja harus mondar-mandir, berapa uang untuk naik ojek, naik angkutan kota untuk ngurus KTP. Bayangkan kalau misalkan ngurus tanah mondar-mandir, suruh sana, suruh ini, diminta ini, dimintai itu. Bayangkan kalau ada yang ingin membuka usaha kecil-kecilan, mencari kredit diping-pong sana, ping-pong ke sini, ngurus surat ijin mau berusaha dari meja ke satu ke meja yang lain, ke meja yang lain, ternyata hanya minta setoran, ternyata harus dipungli dan lain-lain. Seperti itu tidak boleh lagi berada di jajaran pemerintahan yang memberikan pelayanan kepada publik. Pelayanan kepada rakyat, kepada masyarakat, kepada Saudara dimama pun di dalam atau di luar negeri harus makin mudah, makin murah, kalau perlu gratis dan makin cepat. Setuju?

Saya belum melihat proses di sini, tapi saya yakin Pak Duta Besar tentu dengan penjelasan tadi juga memberikan perhatiaan. Dua tahun lalu saya datang ke Malaysia, saya lihat tempat processing-nya untuk tenaga kerja kita tidak baik, lama, panas, berdesak-desakan, loketnya kurang dan sebagainya. Setelah saya datang, tidak enak pimpinan waktu itu, “Pak Presiden, ini sedang dilakukan penataan.” “Kapan selesainya?” “Insya Allah, tahun depan.” “Bisa sekian bulan?” Mungkin merasa tertantang. “Bisa, Pak.” Saya datang lagi sekian bulan kemudian, ke situ lagi, ternyata berubah, berubah total, yang tadinya berapa minggu jadi 2 hari, yang tadinya sekian hari, jadi sekian jam. Sudah bagus tempatnya, loketnya banyak, manusiawi, saya jalan juga enak di situ. Itu kita bisa. Kalau punya kemauan, kemauan untuk memberikan pelayanan yang terbaik ternyata bisa.

Oleh karena itu, saya sudah meminta Menteri Luar Negeri, Pak Marty Natalegawa, tolong diyakinkan semua kedutaan besar, itu betul-betul memberikan pelayanan yang terbaik. Itu tugas duta besar. Itu tugas konsul jenderal dengan jajarannya. Duta Besar adalah wakil Presiden di negara itu, jadi harus memberikan pelayanan, bimbingan, bantuan kepada warga negara Indonesia yang ada di daerah itu.

Saudara-saudara,
Ya ini hari minggu ya, bayangkan suka lupa hari itu. Ini alhamdulillah, saya masuk periode kedua setelah 5 tahun memimpin Indonesia dan ini periode terakhir bagi saya sampai saatnya nanti pemimpin-pemimpin yang baru akan muncul, sudah siap, sudah banyak calon-calon pemimpin pada saatnya nanti untuk melanjutkan kepemimpinan pada tingkat nasional. Lima tahun yang lalu, terus terang, ini para Menteri merasakan kadang-kadang tidak merasakan kalau itu sabtu atau minggu. Mengapa? Ya bekerja. Sehingga ada seloroh, ”Ya ini, Pak kalau begini tanggalan harus diganti?” ”Kenapa?”

”Habis Jumat langsung aja Senin kalau banyak begitu.” Karena meskipun Sabtu, Minggu merah, kenyataannya bekerja. Jadi kalau di sini adad Dr. Dino Patti Djalal itu matanya merah, itu bukan marah, itu kurang tidur.

Saya beri contoh ya, hari ini saja, tadi malam selesai acara tuan rumah membikin acara kesenian begitu, saya dengan teman-teman saya, ada 21 kepala negara, termasuk Presiden Obama, Presiden Hu Jintao dari China, Perdana Menteri Hato Yama dari Jepang, semua 21 orang. Kembali itu kalau tidak salah 22.30 betul. Tidak langsung istirahat, saya pimpin pertemuan menteri-menteri terkait, mari kita pastikan, saya cek langsung model saya, saya cek langsung apa posisi Indonesia besok dalam retreat, dalam pertemuan APEC yang kedua. Apa isi pembicaraan saya nanti ketika bertemu dengan sejumlah pemimpin, ketika bertemu dengan Obama dan lain-lain. Itu sampai jam 12 lebih sedikit, Dino bekerja dengan timnya, subuh sudah masuk ke saya lagi. Saya review pagi-pagi, setelah itu untuk menggambarkan bahwa sepertinya jadi Presiden itu yang dilihat hanya enaknya saja. Jam 07.30 pagi, saya sudah mengikuti yang namanya Breakfast Meeting untuk memikirkan bagaimana Konferensi Perserikatan Bangsa-bangsa di Copenhagen, Denmark bulan depan tentang perubahan iklim itu tidak gagal.

Perdana Menteri Denmark, Rasmussen terbang dari Kopenhagen ke Singapura bertemu dengan kami-kami tadi jam 07.30. Mengapa saya harus hadir? Karena 2 tahun yang lalu, kita menorehkan peta sejarah yang membanggakan karena konferensi serupa yang dilaksanakan di Bali, Indonesia berhasil dengan baik. Tentunya dunia ingin di Kopenhagen sama baiknya atau lebih baik dari pertemuan kita yang di Bali tahun 2007 yang lalu.

Lepas itu segera saya cepat kembali ke penginapan untuk bertemu dengan Perdana Menteri Thailand. Berangkat lagi ke Istana untuk pertemuan dengan APEC yang disebut dengan Retreat II. Di sela-sela Retreat, pertemuan dulu dengan Perdana Menteri Australia. Dari situ balik lagi pertemuan dengan Perdana Menteri Kamboja. Balik lagi menuju ke Shangri-La, di situ pertemuan ASEAN dengan Amerika. Break 10 menit di situ, pertemuan bilateral dengan Obama. Selesai di situ sedikit bertemu dengan Vietnam karena harusnya bertemu, kembali, saking semangatnya sampai kena di sini, kembali bebersih sebentar berangkat ke sini. Pulang dari sini masih ada lagi nanti, paling tidak ada press conference. Dan kemudian saya me-review berita-berita dari tanah air, masuk ke saya, harus saya review, saya disposisi, baru barangkali rileks sedikit.

Itulah keseharian, itulah the life of the President. Sepertinya dari luar enak terus gitu. Tetapi ikhlas, kalau ikhlas, senang. Kalau senang, fisiknya capek, jiwanya tidak capek. Dan ketika bertemu dengan Saudara semua hilang sudah semuanya itu yang ada adalah semangat, yang ada adalah energi, yang ada adalah rasa persaudaraan di antara Saudara semua dengan saya, dengan kita semua.

Saudara mesti tahu rombongan dari Jakarta. Tak kenal, maka tak sayang. Datang tampak muka, pergi tampak punggung begitu. Saya akan memperkenalkan delegasi resmi. Yang paling kiri adalah Saudara Priyo Budi Santoso, wakil, beliau adalah Wakil Ketua DPR RI. Terima kasih. Masih muda, tapi prestasi di parlemen sukses dan posisinya membanggakan.

Yang kedua adalah Menteri Sekretaris Negara, ini Saudara Sudi Silalahi. Yang ketiga adalah Menteri pertahanan. Pertahanan, urusan ya perang, urusan pertahanan, Saudara Purnomo Yusgiantoro. Sebelah kanan beliau adalah Menteri Perindustrian, Saudara M.S. Hidayat. Sebelah kanan beliau adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah, Saudara Djan Harif. Di sebelah kanan adalah Saudara Gita Wiryawan, muda, Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal atau Investasi. Kemudian yang lain adalah para pejabat teras di lingkungan Lembaga Kepresidenan.

Saudara-saudara,
Kabinet yang baru saja, saya kukuhkan berjumlah 34 orang, sama dengan yang dulu, banyak yang muda-muda untuk renegerasi. Dan ternyata dibandingkan dengan kabinet di Malaysia, kabinet di Singapura, jumlah yang muda, kabinet Indonesia jauh lebih banyak.

Disamping itu ada rahasia yang lain. Kali ini dari 34 orang yang Menteri perempuannya, kaum wanita yang menjadi Menteri adalah 5 orang, yang terbanyak sepanjang sejarah Republik Indonesia. Biasanya dulu 2 orang, tahun 2004, saya angkat 4 orang, sekarang menjadi 5 orang. Meskipun sudah kembali karena mengemban tugas negara, 5 orang itu untuk diketahui ini kaum perempuan banyak di sini, satu, Menteri Keuangan yang bernama Sri Mulyani Indrawati. Yang kedua adalah Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan. Yang ketiga adalah Dr. Endang Sedyaningsih, Menteri Kesehatan. Kemudian yang keempat, Saudari Linda Agum Gumelar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Ini saya tambah lagi, biasanya hanya perberdayaan perempuan, saya tambahkan fungsi dan perlindungan anak. Kemudian yang kelima, Kepala Badan Perencana Pembangunan Nasional, yaitu Saudari Armida Alisyahbana. Jadi 5 kaum perempuan yang alhamdulillah menjadi Menteri. Mudah-mudah makin ke depan makin banyak kaum perempuan yang menduduki pos Menteri, hati-hati kaum lelaki. Bersaing yang baik, bersaing yang sehat, karena tidak boleh ada diskriminasi gender. Betul.

Saudara-saudara,
Saudara tahu bahwa kegiatan kami selama 5 hari, 1 hari kunjungan ke Malaysia, mempererat persahabatan dan kerjasama. Satu hari kunjungan ke Singapura, sama, mempererat dan meningkatkan kerjasama dengan Singapura. Kemudian 3 hari sesungguhnya itu dalam rangkaian Pertemuan APEC, Pertemuan ASEAN-Amerika dan juga sejumlah kegiatan yang lain. Insya Allah, pagi-pagi besok kami kembali ke tanah air. Ini tugas kami selama 5 hari di Malaysia dan di Singapura.

Saudara-saudara,
Saya mau tanya sekarang. Saudara bekerja di Singapura, apakah sebagai diplomat. Ini Pak Mensesneg mengingatkan, jangan lupa memperkenalkan Menteri Luar Negeri. Sudah saya sebut tadi, beliau sebelumnya Duta Besar Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Sebelum menempati pos itu, beliau adalah Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Inggris, dan sekarang menjadi Menteri Luar Negeri. Saya kira Menlu termuda di ASEAN. Boleh tepuk tangan.

Jadi jangan khawatir generasi muda, kalau tidak punya peluang, yang penting siap, yang penting apa namanya memiliki pengetahuan, memiliki kecakapan, memiliki pengalaman yang cukup, terbuka karier yang baik bagi Saudara semua.

Pertanyaan saya tadi, Saudara bekerja di sini, mana yang lebih disukai hubungan kita dengan Singapura tidak baik atau hubungan Indonesia dengan Singapura baik? Sekali lagi, maunya Saudara Indonesia dengan Singapura sedikit-dikit berantem atau baik, dekat? Saya senang. Begini ya. Saya kalau dapat SMS dari warga negara kita dimana pun, biasanya masuknya ke Ibu bisa tengah malam. Itu langsung aksi. Dulu ada kejadian gara-gara SMS menyangkut warga negara kita, diperlakukan tidak benar, kita cek dan kemudian benar, dan kemudian bisa kita ambil tindakan-tindakan yang cepat dan tepat. Satu orang pun warga negara Indonesia di luar negeri harus kita lindungi, harus kita jaga, harus kita bantu keperluan-keperluannya. Itu tugas negara.

Jadi jangan Saudara punya pikiran, jangan-jangan pemerintah tidak memikirkan kami, jangan-jangan Presiden ini lupa kalau ada sekian banyak warga negara yang ada di luar negeri. Tidak, kami tidak pernah lupa.

Pernah suatu saat Saudara-saudara, saya sidak sama Istri ke Cengkareng menunggu Saudara-saudara kita yang datang dari Timur Tengah yang bekerja di Kuwait, di Saudi Arabia, di Qatar, di Arab Emirat dan tempat-tempat yang lain. Saya mendengar katanya ada perlakukan yang tidak baik, katanya ada ini, ada itu. Saya langsung datang sama Istri di Cengkarang. Memang waktu itu belum lama saya jadi Presiden, mungkin baru 2 minggu. Saya menanyai satu demi satu 50 orang, waktu saya tanya jawabnya ogah-ogahan. Betul itu. Jadi belum kenal. Terus intinya saya ingin tanya, ”Ibu darimana?” ”Dari Kuwait.” ”Sudah berapa lama di sana?” ”3 tahun.” Mungkin nih orang nanya-nanya terus. ”Ibu ada masalah apa?” ”Engga ada.” ”Yang betul, Bu?” ”Enggak ada, Pak.” ”Gaji dapat.” ”Dipelakukan dengan baik?” ”Baik.” Lewat. Satu demi satu.

Sampai akhirnya dari 50 orang itu, ada 3 orang yang mengadu kepada ”Ya Pak, saya diperlakukan enggak baik.” ”Dimana?” ”Saya di kerja di Saudi Arabia.” ”Kasusnya bagaimana?” ”Gini, Pak, ini, ini.” Tiga org. Jadi 3 dari 50 orang itu sekitar 6%, betul? Dari 3 orang itu ternyata setelah dicek, 1 yang betul-betul kita aksi untuk menyelesaikan masalah itu di Timur Tengah. Nah begitu banyak mungkin, telah mereka sampai di luar sambil kesel kok saya tanya-tanya, siapa-siapa, itu Presiden yang baru, baru balik lagi minta foto. ”Pak foto, Pak.” Tadi saya tanya ogah-ogahan tadi. Itu pengalaman nyata pribadi. Siapa dampingi saya? Pak Sudi mendampingi saya dulu. Jadi saya cerita apa adanya.

Setelah itu, saya datang ke Malaysia, bertemu. Saya datang ke Korea, saya datang ke Australia, saya datang ke Timur Tengah seperti ini semua ketemu. Saya ingin tanya berapa warga negara kita, apa yang dilakukan, proteksinya seperti apa, ada masalah-masalah hukum tidak, ada masalah sosial tidak, apa bantuan dari Duta Besar tidak. Kelihatan kalau Duta Besar itu peduli bisa menjawab, begini, begini, begini. Tapi waktu itu, tapi udah kita ganti, ada Duta Besar yang antara tahu dan tidak tahu, marah saya, marah. Sudah jelas jawabannya itu agak ngarang jawabannya itu, enggak pas begitu. Ya sudah kita ganti. Siapa lagi yang memikirkan kalau tidak kedutaan besar, konsulat jenderalnya. Kita perhatikan semua.

Saudara tahu, di contohnya di Korea ada 38 ribu saudara kita yang bekerja di Korea. Ketika krisis tahun lalu, saya sudah begini. Saya ketemu dengan Presiden Lee Myung-Bak, dua kali saya minta ”Pak Lee, tolong bantu saya.” “Bantu apa?” “Ada saudara-saudara saya 38 ribu di Korea, bisa enggak tidak buru-buru dipulangkan?” Beliau bilang, “Pak Presiden, coba saya perhatikan, karena Korea memiliki kebijakan tidak langsung pulang, tapi kalau diberhentikan dari perusahaan itu, kita orientasikan siapa tahu bekerja di perusahaan yang lain.” Apa yang terjadi Saudara-saudara? Saya ketemu lagi, ketemua Presiden Lee Myung-Bak, hampir tidak ada yang pulang dari 38 ribu itu, berarti mereka masih bisa bekerja. Ini contoh.

Dulu ketika ada gelombang pemulangan dari Malaysia, saya jemput langsung ke Dumai, Tanjung Pinang, Nunukan, Tarakan. Saya cek, “Gimana?” “Ya Pak, saya pulang.” “Terus.” “Saya enggak lengkap surat-suratnya.” “Ya lengkapi suratnya, ibu mau kembali lagi?” “Mau Pak.” “Kenapa?” “Enak Pak di sana.” “Diperlakukan dengan baik.” “Baik, Pak.” “Enggak ada masalah, masalah upah, gaji?” “Tidak ada.” “Oke nanti perbaiki.” Ada juga yang, “Bapak gimana?” “Pulang.” “Enggak mau balik lagi?” “Enggak.” “Kenapa?” “Capek.”

Tapi ada cerita ini ya. Ada yang dari Pacitan nggak? Ini cerita nyata, Pak ini. Jadi dialog saya di Dumai, dialog saya sama saudara-saudara kita, khususnya tenaga kerja kita di Malaysia. Angkat tangan. “Pak, nama saya ini. Saya apa namanya memberanikan diri untuk bekerja di Malaysia, saya ajak teman-teman saya, masuk saya, Pak. Wah ternyata pada begini. Akhirnya saya pulang meninggalkan Malaysia.” “Loh kenapa kok ada masalah?” “Ya saya tidak legal, Pak.” “Oh, jadi nekad, nekad, Pak.” “Setelah itu, saya kan malu, Pak ini, saya enggak berani pulang ke rumah, Pak, saya mengembara dulu, akhirnya mikir-mikir, saya berangkat lagi, Pak.“ “Ilegal lagi?” “Iya, Pak.” “Masuk lagi.” Nah setelah itu ternyata selamat, selamatnya gimana, ya kok saya bisa begini pergi. “Sekarang pulang kenapa?” “Saya mau mengurus surat-suratnya, Pak karena malu Pak saya sudah jual sapi, jual segala macam.” “Bapak darimana?” “Dari Pacitan Pak, saya Pak.” Pacitan itu kampung saya, rupanya tetangga gitu. Nekat, berangkat, tapi gigih memimpin teman yang ilegal di situ. Akhirnya selesai diurus surat-suratnya, alhamdulillah bisa bekerja dengan baik.

Pemerintah membantu kalau ada hal-hal yang belum lengkap. Pemerintah tidak mungkin membiarkan yang nakal-nakal, di Indonesia ada yang nakal, di Malaysia ada yang nakal, ada tukang yang tadahnya enggak bener, ada yang memberangkatkan enggak bener, kita tindak semuanya, tidak boleh. Jadi tidak ada yang kita biarkan yang aneh-aneh seperti itu Saudara-saudara. Oleh karena itu, tadi saya mendengar dibina, dibikin komunikasinya, teruslah seperti itu, kalau ada apa-apa, tolong Pak Duta Besar memberi bantuan dengan baik.

Saudara-saudara,
Singapura adalah sahabat dekat kita, tetangga dekat kita, partner kita, hubungan dagang, suka dibilang oleh beliau. Singapura dan Indonesia, tahun 2007 baru 20,5 miliar dolar, itu kalau dirupiahkan berjumlah Rp 250 triliun rupiah. Banyak enggak itu? Dalam waktu setahun meningkat menjadi 32 miliar dolar sama dengan Rp 320 triliun. Itu banyak, kalau dibelikan ayam keliling Jawa, dijejer mulai Banten, Banyuwangi, itu masih.

Investasi, kita mau membangun di Indonesia, bisa pertanian, bisa perindustrian, bisa pabrik, bisa apapun di seluruh Indonesia, di Sumatera, di Kalimantan, di Sulawesi, di Jawa, di Papua, di Nusa Tenggara, Maluku dan sebagainya. Untuk membangun perlu uang enggak, Saudara-saudara? Perlu enggak? Darimana biaya itu? Pemerintah mengeluarkan sekian trilyun belum cukup, para pengusaha yang besar-besar mengeluarkan uang sekian trilyun juga belum cukup, karena penduduk kita 230 juta. Maka bekerja sama dengan negara sahabat, mereka juga melaksanakan penanaman modal, tapi tunduk pada hukum kita, pada aturan kita. Mereka datang tentu untuk ikut membangun perekonomian Indonesia, lah investasi Singapura ini tidak sedikit. Sebetulnya ini harus kita jaga, belum kerjasama yang lain. Oleh karena itu, mari kita jaga, kita pelihara, kita tingkatkan hubungan baik Indonesia dengan negara tetangga, negara sahabat kita. Saya tidak suka kita sedikit-sedikit berantem, konfrontasi, apalagi perang. Falsafah kita adalah seribu kawan, nol musuh, thousand friends, zero enemy. Kalau perlu enggak usah ada musuh, kawan, sepanjang negara itu tidak mengganggu kedaulatan kita, sepanjang ya tidak mengganggu kepentingan bangsa kita, bersahabat kita, saling hormat-menghormati, saling menguntungkan. Saudara bisa bekerja di sini, alhamdulillah.

Saudara tahu, ketika beberapa yang saat, beberapa saat yang lalu ada ketegangan Indonesia-Malaysia, dengar? Ya toh. Di antara kita ada yang emosi. Kemudian sempat tegang betul, di Kuala Lumpur tegang, di Jakarta tegang dan lain-lain. Kemudian ada gerakan-gerakan di misalkan di jakarta yang bisa kalau tidak kita cegah bisa keliru. Kembali saya dapat SMS, bunyinya begini kepada Istri, ”Bu Ani, tolong sampaikan kepada Pak SBY, saya—namanya siapa begitu—Saya bekerja di Malaysia, saya bekerja untuk mendapatkan nafkah, Bu, untuk kehidupan kami dan keluarga. Saya hanya titip kepada Pak SBY, tolong dalam menyelesaikan masalah ketegangan kita dengan Malaysia ini diselesaikan dengan baik dan bijak.” Begitu bunyinya. Saya membaca itu, seperti berhadapan langsung dengan orangnya, saudara kita, bekerja di Malaysia, tentu juga ingin ada ketenangan, tidak ada konflik, tidak ada ini, tidak ada itu, sehingga mereka bisa bekerja dengan baik. Itu yang kita jaga, tetapi kalau ada masalah hukum di Malaysia, tentu saya tidak diam. Dalam pertemuan saya kemarin dengan Pak Najib misalnya, itu ada saudara kita yang mendapatkan perlakukan tidak benar, saya minta penjelasan. Perdana Menteri Malaysia mengatakan yang melakukan itu sudah ditahan, dan akan mendapatkan sanksi hukum yang keras dan bisa sangat keras. Kewajiban saya.

Dulu juga ada yang, siapa namanya dulu yang nirmala bonat. Kasus itu, saya juga datang. Tidak mungkin kita biarkan. Kita lindungi, keadilan ditegakkan, tidak boleh sewenang-wenang, tapi selebihnya mari kita jaga hubungan baik, di antara kedua bangsa, di antara kedua negara.

Di Singapura, saya bertemua Lee Hsien Loong, Perdana Menteri. Saya ketemu Pak Lee Kuan Lew, Menteri Mentor. Pak Goh Coh Tong, Mantan Perdana Menteri, sekarang menjadi Senior Minister. Bertiga kami ketemu dan ingin betul meningkatkan kerjasama dan hubungan baik. Saya kira banyak peluang kita untuk bekerja sama dengan Singapura. Pak Dubes bilang sama saya, 1 hari diperlukan sayur dan buah berapa ton, Pak? 1.000 ton setiap hari. Saya dengar yang dari Indonesia berapa? Belum begitu banyak, loh enggak boleh harus banyak, harus banyak. Kita itu memproduksi hampir semua kentang sayur, buah, tomat, mangga, durian, rambutan, ada semua. Yang belum baik itu kita kan 5, tapi yang 2 sudah, beras sudah swasembada dan surplus. Jagung sudah swasembada, gula sebentar lagi, gula konsumsi sudah, yang belum daging sapi sama kedelai. Yang lainnya sudah cukup. Kalau itu dengan cara yang baik bisa dipasarkan di Singapura, itu sudah ekonomi. Jadi banyak sekali yang bisa kita kerjasamakan manakala hubungan kita baik, saling hormat-menghormati.

Tentu Saudara tidak suka, kalau hubungan saya dengan Pemerintah Singapura misalkan tidak baik. Saudara tidak senang toh, meski ingin hubungannya baik.

Saudara-saudara,
Itulah tugas diplomasi saya berkunjung ke Singapura sekarang ini dengan anggota delegasi, memelihara persahabatan, meningkatkan kerjasama, mencari peluang-peluang baru bagi peningkatkan kerjasama kita dengan Singapura, dan tentunya dengan negara-negara sahabat yang lain. Dengan demikian, saya sudah minta tadi kepada Pak Dubes dan yang lain-lain, ide-ide yang baik, itu tentu saya setuju dan saya akan dukung, saya akan bantu, banyak yang bisa kita lakukan, karena Saudara-saudara tentu ingin berbuat bagi negaranya.

Saya ingin tanya, berapa orang yang ada di ruangan ini yang berstatus mahasiswa atau yang sedang belajar di Singapura? Tolong angkat tangan. Terima kasih. Dua tahun yang lalu, di Sydney, Australia, ada acara Konferensi Perhimpunan Pelajar Indonesia, kebetulan saya sedang berkunjung ke Australia untuk menghadiri APEC Summit. Ada acara seperti ini, di sini ada tulisan besar, judulnya begini, ”Stay abroad or return home.” Jadi mau tetep di luar negeri, maksudnya setelah selesai belajar, sekolah, tinggal di luar negeri atau return home, kembali ke Indonesia, bekerja di Indonesia. Ditanyakan kepada saya, ”Pak Presiden, menurut Bapak, yang baik itu yang mana, apakah kami ini biar saja di luar negeri, stay abroad atau kami harus pulang ke tanah air, return home?”

Jawaban saya adalah ”Saudara sendiri yang harus menentukan, apakah mau tetap tinggal di luar negeri, bekerja di luar negeri atau kembali ke Indonesia, semuanya itu dilihat as a matter of choice, tidak ada yang melarang, tidak ada yang menghukum Saudara untuk, ah lebih baik saya bekerja di luar negeri atau ah lebih baik saya kembali ke Indonesia. Hanya pesan saya adalah, apakah Saudara bekerja di luar negeri atau kembali ke Indonesia, jangan lupakan Indonesia, berkontribusilah, ikutlah menyumbang terhadap pembangunan bangsa, sehingga sebagai warga negara Indonesia yang sayang kepada bangsanya dan tanah airnya tetap bisa berbakti kepada Saudara-saudaranya.” Itu jawaban saya.

Ada yang bekerja di sini, tidak berdosa, karena Saudara ingin di sini kok pasif. Yang berdosa kalau melupakan negerinya sendiri, ikut menjelek-jelekin, kemudian hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan, lah itu baru dosa itu. Tapi kalau tidak, baik-baik saja.

Saya berikan contoh waktu makan malam tadi, kecuali begini negara memerlukan, ya Saudara harus rela untuk kembali ke tanah air. Misalnya, ini contoh ya, saya ingin mengembangkan industri strategis, supaya kita tidak bolak-balik beli dari negara lain, kita bikin sendirilah begitu, misalnya industri apa, ya industri kapallah begitu. Saya diberitahu, ”Pak Presiden, ada 2 orang Indonesia yang jago urusan kapal.” ”Siapa?” ”Insinyur ini, itu sekarang ada di Jerman, Pak, yang satu lagi adalah doktor ini, sekarang berada di California.” ”Apa kerjanya?” ”Ya mereka di industri kapal, Pak.” ”Orang kita?” ”Orang kita, Pak, satu dari Bogor, satu dari Ciamis.” ”Mana CV-nya saya lihat di situ.” Saya sebagai Presiden boleh berkomunikasi dengan beliau, ”Bapak misalkan atau Ibu, saya mendengar Bapak atau Ibu punya kelebihan pengetahuan, kecakapan untuk mengembangkan industri kapal, Indonesia sedang memerlukan mengembangkan itu, berkenan tidak kembali ke tanah air untuk saya tugasi, saya minta untuk memimpin ataupun menjadi motor, menjadi penggerak dari industri kapal kita.”

Kalau seperti itu, saya berharap, rela untuk kembali ke tanah air untuk membangun negerinya. Itu pahalanya tinggi, pahalanya besar. ”Bisa saja, Pak, kalau saya kembali, berapa gaji saya?” Boleh-boleh saja begitu, boleh-boleh saja, tetapi yang penting oh iya-iya saya diperlukan di tanah air, kan lebih mulia saya, ingat lagi. Bismillah, Pak saya kembali ke tanah air. Saya senang.

Tapi yang lainnya, sekali lagi as a matter of choice. Saya terharu tadi, “Pak, kami ini ingin mencari jalan bagi pengusaha kecil dan menengah, small and medium enterprises untuk juga punya jalan, punya peluang, untuk bisa berusaha di Singapura. Dulu saya setengah mati, Pak, tabrak sana, tabrak sini, cegat sana, cegat sini, karena belum paham peraturannya. Enggak tahu jalannya itu. Lama-lama bisa berkembang.” Sekarang ingin mengajak yang lain, nah ini juga senang saya seperti itu. Kemudian sama-sama berprofesi menjadi penata laksana rumah tangga, membentuk asosiasi, menghubungi satu sama lain, kegiatan, ada yang kuliah, ada yang kejar paket C, yang belum tamat SMA, toh saya senang, bangga saya, terharu saya. Jadi setiap upaya bisa dilakukan sebetulnya untuk kemudahan atau perbaikan nasib dari saudara-saudara kita. Banyak yang bisa dilakukan dalam hal ini Saudara-saudara. Oleh karena itu, Pak Dubes dengan jajarannya teruslah pimpim mereka, bantu mereka, fasilitasi mereka untuk bisa apa namanya berkembang lebih baik lagi.

Di tanah air, 5 tahun mendatang kita akan bekerja sangat keras, kita akan bekerja sangat keras. Alhamdulillah, ini krisis global, Indonesia oleh banyak kalangan di dunia dianggap mampu mengatasi krisis ini dlihat dari anggota G-20, pertumbuhan perekonomian Indonesia itu nomor 3, setelah Tiongkok dan India.

Mengapa? Kita belajar dari pengalaman dulu 10 tahun yang lalu. Dulu itu istilah saya, SDM, masing-masing selamatkan diri, SDM, Selamatkan Diri Masing-masing, dulu. Kemarin begitu ada krisis, ketemu kita, akhirnya bersama-sama, alhamdulillah bisa kita atasi bersama-sama. Ternyata kalau pemerintah, dunia usaha, ekonomi, semua bergandengan tangan, itu dapat diatasi dengan baik. Kita belajar dari kekeliruan masa lalu, kita perbaiki sekarang. Kemudian banyak lagi yang dianggap Indonesia, alhamdulillah secara bertahap bergerak ke arah yang benar, ke arah yang benar, pemberantasan korupsi kita lanjutkan, tidak ada ampun, tidak ada diskriminasi, tidak boleh tebang pilih, siapa yang bersalah dihukum, yang tidak bersalah tidak boleh dihukum, kemudian pelayanan publik, kemudian listrik kita tambah, pupuk kita tambah, pabrik-pabrik gula kita tambah, jalan-jalan kita tambah, pendidikan kita tingkatkan, kesehatan kita tingkatkan, usaha kecil dan menengah kita perbaiki, tenaga kerja kita bantu pelayanannya dan sebagainya. Di seluruh Indonesia bekerja sangat keras, agar ekonomi tumbuh dan pertumbuhan itu didistribusikan secara adil dan merata.

Apakah semuanya akan mulus-mulus saja? Tidak. Apakah selama 5 tahun, kita mencapai banyak hal berarti sudah tidak ada pekerjaan rumah? Oh tidak. Masih banyak pekerjaan rumah kita, masih banyak yang belum dapat kita capai. Itulah PR kita, itulah tugas kita yang akan kita laksanakan 5 tahun mendatang. Saya akan pimpin semuanya itu untuk mencapai hasil yang lebih baik lagi 5 tahun mendatang untuk Saudara semua, terutama generasi yang lebih muda dibandingkan saya. Saya akan bekerja keras dengan semua, membikin jalan yang lebih lebar lagi, supaya langkah Saudara-saudara menjadi lebih baik nantinya, memimpin dan di hari tua kami nanti, melihat Indonesia, melihat yang muda-muda memimpin, tentu dengan rasa bahagia, insya Allah negara kita akan makin baik di masa depan.

Itulah yang ingin saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dan saya sekali lagi, mengucapkan selamat bekerja, selamat bertugas, selamat menjalankan profesi masing-masing Saudara di Singapura ini.

Sekian.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan