Pidato Presiden
Sambutan Pembukaan Rakernas APPSI
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN RAPAT KERJA NASIONAL
APPSI TAHUN 2009
PALANGKARAYA, KALIMANTAN TENGAH
3 DESEMBER 2009
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati para Menteri, Saudara Ketua APPSI, Saudara Gubernur Kalimantan Tengah beserta para Pejabat Negara yang bertugas di Kalimantan Tengah, para Gubernur dan para Wakil Gubernur serta Keluarga Besar APPSI, para Undangan sekalian,
Hadirin yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi, pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kita dapat menghadiri upacara Pembukaan Rakernas APPSI Tahun 2009 ini.
Saudara-saudara,
Sejak tadi malam, kita telah melakukan sejumlah pertemuan dan diakhiri dengan retreat antara saya, didampingi para Menteri dengan para Gubernur dan Wakil Gubernur. Yang saya hitung tadi malam saja kita sudah telah menggunakan waktu 4,5 jam dan barangkali pertemuan ini sekitar 1,5 jam, sehingga alhamdulillah meskipun hanya satu hari satu malam, saya bersama-sama Saudara, tapi secara efisien dan efektif, kita telah menggunakan waktu itu 6 jam untuk menserasikan dan mensinkronisasikan, mensinergikan langkah kita bersama untuk membangun bangsa, baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat daerah.
Saudara-saudara,
Saya punya harapan agar Rakernas APPSI Tahun 2009 ini benar-benar menjadi bagian dari penyuksesan program kerja 100 hari. Dan sekaligus sebagai bagian dari implementasi dari apa yang telah kita hasilkan dalam Temu Nasional, National Summit yang kita laksanakan beberapa saat yang lalu di Jakarta, yang para Gubernur juga hadir berkontribusi dan berpartisipasi secara aktif dalam National Summit tersebut.
Saya juga berharap bukan hanya dalam Rakernas ini, tapi juga dalam upaya kita bersama untuk membangun negeri ini, untuk tidak menyia-nyiakan momentum baik, momentum baik kita di dalam mengatasi berbagai persoalan, utamanya akibat krisis perekonomian global dewasa ini. Sebagai ucapan terima kasih saya kepada Saudara semua dan seluruh komponen bangsa, negeri kita oleh dunia dinilai berhasil, dinilai sukses dalam meminimalkan dampak krisis perekonomian global dewasa ini. Ini momentum yang baik dan kini kita bergerak lebih cepat lagi untuk mencapai hasil yang lebih banyak lagi di tahun-tahun mendatang.
Saudara-saudara,
Sebelum saya menyampaikan ajakan, harapan, dan directions saya kepada Saudara, saya ingin me-review sedikit apa yang saya sampaikan pada Rakernas APPSI Tahun 2007. Saya ambil satu, dua butir, dan juga apa yang saya sampaikan pada Rakernas APPSI Tahun 2008, saya ambil hal-hal yang masih relevan dengan persoalan masa sekarang.
Saudara, saya kira bersetuju, bahwa pembangunan itu, termasuk reformasi pada hakekatnya adalah kesinambungan dan perubahan, continuity and change. Yang masih baik-baik kita lanjutkan, yang tidak baik, yang kurang baik, kita perbaiki, kita lakukan perubahan. Kalau kita memahami hakekat pembangunan dan reformasi seperti itu, maka dalam membangun bangsa, membangun provinsi meski ada benang merah kesinambungan. Dengan demikian, akan lebih efektif, lebih efisien, dan lebih sukses lagi semua yang dilaksanakan oleh kita, baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat daerah.
Review terhadap Rakernas Saudara pada tahun 2007 dilaksanakan di Pontianak pada tanggal 9 Juli 2007. Waktu itu, saya mengatakan perlu sinergi yang baik, perlu koordinasi dan sinkronisasi yang tepat antara pusat dan daerah, antara pembangunan sektoral yang dipimpin oleh para Menteri dengan pembangunan regional yang dipimpin oleh para Gubernur. Saya katakan juga waktu itu, perlu akuntabilitas bersama, para Bupati dan Walikota bertanggung jawab atas pembangunan di kabupaten dan kotanya. Para Gubernur di provinsinya, para Menteri di tingkat pusat. Saya sebagai Presiden tentu bertanggung jawab atas pembangunan nasional kita. Kalau itu dapat kita ambil secara penuh, responsibility kita semua, maka tidak akan ada masalah yang tidak dikelola, tidak ditangani, dan tidak dipecahkan, karena sudah ada.
Mendagri dengan gamblang menyatakan sudah ada pembagian tugas dan kewenangan. Saudara Fauzi Bowo, Gubernur DKI dalam sambutannya tadi, termasuk yang kita diskusikan tadi malam. Yang dikoordinir, kewenangan, tanggung jawab, tugas itu diperjelas dalam aturan kita, sehingga dengan demikian masing-masing memahami kewenangan, dan batas kewenangan, tugas dan tanggung jawab, baik pada tingkat pusat, tingkat provinsi, maupun tingkat kabupaten dan kota. Saya juga mengingatkan jangan saling menyalahkan. Ada masalah duduk bersama, kita pecahkan, ada masalah Bupati, Walikota, dengan provinsi, ajak duduk bersama untuk memecahkan masalah itu.
Saya tidak suka dan demokrasi pun tidak sebenarnya mewadahi, kalau di depan publik itu berkonfrontasi. Itu etika dalam berdemokrasi, etika dalam berpolitik. Misalnya Bupati, Walikota di depan publik mengkritik, mengecam Gubernurnya tidak pernah ada dalam sistem pemerintahan di negara manapun juga. Seorang Gubernur mengkritik Presiden juga tidak ada. Mari kita pahami seperti itu. Kalau ada kritik di dalam, sampaikan, kurang ini, kurang itu, ini salah, sana salah, pasti akan dicarikan solusinya. Saya harus mengatakan, karena demokrasi itu bukan tanpa etika, bukan tanpa tata krama, selalu ada tata kramanya.
Saudara-saudara,
Dalam Rakernas tahun 2007, saya kembali mengingatkan dan sampai sekarang masih berlaku. Ada tujuh hal yang ingin dijalankan oleh pemerintah daerah, pemerintah provinsi, kabupaten dan kota. Dan itu saya katakan tujuh karena tujuh itulah yang bagi saya untuk dengan cepat menilai apakah pembangunan di tempat Saudara berhasil. Saya kira sudah berkali-kali Saudara mendengarkan itu, tapi saya ulangi lagi, karena ini menjadi penting.
Kita ingin di seluruh Indonesia, termasuk provinsi-provinsi dari tahun ke tahun berhasil satu, mengurangi kemiskinan. Dua, mengurangi pengangguran. Tiga, meningkatkan pendidikan. Empat, meningkatkan pelayananan kesehatan. Lima, membangun infrastruktur lebih banyak lagi. Keenam, membangun governance yang makin baik. Dan yang ketujuh pelayanan publik, pelayanan masyarakat, pelayanan untuk kegiatan dunia usaha, juga makin baik diberikan.
Tujuh. Saya juga menyertakan ada empat kriteria keberhasilan dalam pembangunan perekonomian. Dan saya ingin ini juga menjadi pedoman bagi para Gubernur, para Bupati, dan para Walikota. Pertama, pastikan bahwa ekonomi di daerah Saudara terus tumbuh dari tahun ke tahun, growth. Yang kedua, pastikan employment atau lapangan pekerjaan lebih banyak tercipta. Yang ketiga, pastikan inflasi dikelola. Tidak ada artinya ekonomi tumbuh, tapi harga barang-barang merangkak naik, melebihi dari pertumbuhan itu. Para pemimpin harus peduli terhadap stabilitas harga, karena itu indikator dari makro ekonomi kita. Dan yang keempat, saya ulangi lagi telah tumbuh ekonomi itu, lapangan pekerjaan tercipta lebih banyak lagi, inflasi terkelola, maka Saudara akan diukur apakah kemiskinan yang ada di tempat Saudara terus berkurang dari tahun ke tahun.
Tujuh plus empat, masih berlaku, masih relevan dan ini bisa diakses oleh publik, bisa diakses oleh media massa untuk menilai provinsi demi provinsi, kabupaten kota terhadap tujuh plus empat tadi. Dengan demikian, para konstituen, yang memilih Saudara, memilih Gubernur, memilih Bupati dan memilih walikota juga mengetahui seperti apa hasil pembangunan yang dilaksanakan di daerah masing-masing. Akan menjadi fair dalam demokrasi apabila rakyat mengetahui pemimpinnya bekerja seperti apa dan apa yang dicapai.
Saudara-saudara,
Itu highlight atau butir-butir penting dari Rakernas APPSI Tahun 2007. Tahun lalu, tahun 2008, Rakernas APPSI dilaksanakan awal tahun, yaitu 15 Februari 2008 di Jakarta. Mari kita ingat kembali lagi tahun lalu, ketika dunia mulai mengalami krisis global, meskipun ini posisi pada bulan Februari 2008. Saya ingatkan kembali tujuh plus tadi. Waktu itu karena sudah ada tanda-tanda yang nyata bahwa krisis perekonomian global akan datang, maka saya sampaikan hal-hal penting, waktu itu sebagai berikut:
Saya ajak untuk memahami bahwa ekonomi dunia sedang bergejolak, kemudian sudah mulai terjadi justru di negara-negara maju, di Amerika, di Eropa dan negara-negara maju yang lainnya, terjadinya gejolak keuangan, moneter, nilai tukar dan pasar modal. Ingat kembali waktu itu. Lantas Amerika sudah masuk pada situasi resesi. Kalau ekonomi Amerika Serikat resesi, hampir pasti dampaknya dirasakan oleh seluruh dunia, karena inter-connectedness, perekonomian global saling terkait. Tidak ada yang berdiri sendiri, tidak terkait satu sama lain.
Saya katakan juga dulu, pada tahun yang sama terjadi krisis harga minyak. APBN kita subsidinya membengkak, ditambah mahalnya komoditas impor, karena transportasi juga naik tajam akibat kenaikan minyak dunia waktu itu. Pangan pun juga mengalami krisis ditandai dengan kenaikan harga komoditas pangan secara global, yang sangat kita rasakan waktu itu adalah kedelai dan terigu.
Dan perubahan iklim ternyata pada tahun-tahun terakhir ini turut memberikan pukulan pada kondisi di seluruh dunia, termasuk tanah air kita. Itu adalah keadaan awal 2008. Saya sampaikan waktu itu kepada Saudara, kita, pemerintah pusat dan daerah harus bergandengan tangan, bekerja keras bersama-sama untuk menstabilkan harga pangan. Kita keluarkan berbagai kebijakan dan insentif, alhamdulillah, tidak terlalu bergejolak harga pangan kita dibandingkan negara lain. APBN kita selamatkan waktu itu, kemudian kita lakukan kebijakan agresif terhadap ekspor, supaya tidak tertutup habis penjualan barang-barang kita di luar negeri.
Kemudian pada akhir dari Rakernas tahun 2008 itu, Saudara masih ingat, saya sampaikan agar Saudara semuanya bisa mengantisipasi datangnya krisis itu, kemudian bisa merespon dengan tepat dan cepat di daerahnya masing-masing. Saya juga meminta untuk semua berperan secara aktif dalam tindakan stabilisasi harga pangan. Saya minta waktu itu Saudara melakukan optimasi Anggaran Pembangunan, Pendapatan dan Pembelanjaan Daerah, APBD.
Kemudian saya minta Saudara memberikan atensi kepada rakyat miskin, terutama akibat kenaikan harga pangan. Saya minta Saudara, kalau masih ingat bersinergi dengan Depdiknas untuk program-program pendidikan murah, utamanya program buku murah. Kemudian saya ingatkan pelayanan publik. Apa yang terjadi pada akhir tahun lalu, 2008 dengan perekonomian kita masih tumbuh 6,1%, dengan angka pengangguran yang jauh lebih baik dibanding apa yang diperkirakan, yang kita perkirakan dulu, maka saya boleh mengatakan apa yang Saudara lakukan pasca Rakernas 2008 itu menghasilkan sesuatu yang nyata. Oleh karena itu, pada kesempatan seperti ini, terimalah dengan tulus terima kasih penghargaan saya kepada para Gubernur, tentunya para Bupati dan Walikota di seluruh tanah air atas kerja keras dan upaya gigihnya untuk bersama-sama menyelamatkan perekonomian kita.
Baik, sekarang saya masuk pada agenda kita tahun depan, 2010. Dimulai dari apa yang sedang kita lakukan sekarang ini.
Saudara-saudara,
Program 100 hari telah saya tetapkan, ada 45 program, di antaranya 15 program prioritas, yang namanya program 100 hari harus dibaca ada sasaran yang mesti selesai dalam 100 hari ini dan ada sasaran atau kegiatan yang telah kita rumuskan, apakah solusinya, opsinya, master plan-nya dalam waktu 100 hari ini yang kita laksanakan, barangkali 2 tahun ke depan, atau 5tahun ke depan sampai 2014. Jadi program prioritas, program utama 100 hari mesti dipahami seperti itu. Dari 45 program 100 hari itu, ada yang berkaitan dengan bidang kesejahteraan rakyat, ada yang berkaitan dengan bidang perekonomian, dan ada yang berkaitan dengan bidang politik, hukum, dan keamanan. Dan kemudian semuanya itu memerlukan sekali lagi, sinergi, antara upaya sektoral dengan upaya regional.
Saudara-saudara,
Saya akan langsung saja untuk meminta perhatian Saudara, sekaligus ajakan dan direktif saya untuk menyukseskan 15 program prioritas. Pertama, ada tiga program prioritas yang berkaitan dengan bidang politik, hukum, dan keamanan. Yang paling atas adalah pemberantasan mafia hukum. Ini penting, untuk keadilan, untuk sehatnya kehidupan di negara kita ini. Dan sebentar lagi akan ada tim terpadu yang bekerja untuk itu, memastikan bahwa di negeri ini tidak terus hidup subur mereka-mereka yang melakukan kejahatan mafia atau mafia di bidang hukum. Dimana pun dilakukan kejahatan itu. Rakyat akan bisa mengikuti. Sekarang saja sudah masuk ke meja saya, SMS, surat, aduan dari masyarakat yang menjadi korban, dari pemerasan, dari berbagai praktek mafia di bidang hukum, tentu tidak boleh terjadi seperti ini.
Yang kedua, program prioritasnya adalah revitalisasi industri pertahanan. Kita ini sudah punya sejumlah industri strategis, industri pertahanan, yang dibangun selama puluhan tahun, yang telah menguasai berbagai teknologi, yang telah memiliki berbagai human capital yang handal, yang tidak kalah mutunya dengan yang ada di luar negeri. Karena krisis mengalami masalah, industri-industri strategis ini, ditambah pula kita tidak mendayagunakan, karena ternyata banyak, entah alutsista yang digunakan TNI dan POLRI, atau sejumlah perlengkapan dan peralatan yang mestinya bisa dibeli di dalam negeri, masih dibeli dari luar negeri. Akibatnya industri pertahanan kita tidak tumbuh baik, akibatnya putra-putri terbaik kita ada yang pergi ke luar negeri. Akibatnya lebih mahal lagi, karena kita membeli dari luar negeri. Akibatnya, tidak cukup finance yang diperlukan oleh industri-industri itu untuk menghidupi industrinya, yang mestinya disamping memenuhi keperluan dalam negeri, mereka juga bisa menjual ke negara lain. Pendek kata, ini tidak boleh kita biarkan. Dan dalam waktu dekat akan ada workshop selama tiga hari untuk memastikan, bahwa kita punya master plan 5 tahun mendatang, menghidupkan industri-industri itu sekaligus membeli semua yang bisa diadakan di dalam negeri.
Yang ketiga, penanggulangan terorisme. Kita ingin hidup aman, tenteram dan damai. Kita ingin rakyat kita terbebas dari kecemasan dan ketakutan. Kita ingin istri kita, anak-anak kita, saudara kita berjalan-jalan dimana pun, belanja, ataupun bersekolah, ataupun ke tempat publik tidak dihantui oleh bom yang bisa merenggut jiwa dari mereka yang tidak berdosa setiap saat. Oleh karena itu, atas dasar itulah, kita akan meningkatkan upaya penanggulangan terorisme dengan prioritas mencegah terorisme, menyelamatkan anak-anak kita untuk tidak tergoda menjadi pembom bunuh diri dan kejahatan-kejahatan sejenis. Bukan hanya penindakan terrorism, tetapi juga pencegahan dan penangkalan, ini termasuk program utama kita.
Yang keempat, ini favorit para gubernur, favorit saya juga, percepatan dan peningkatan pembangunan kelistrikan. Tadi malam, saya sudah berbicara panjang lebar, saya sudah menugaskan Menko Perekonomian dengan jajarannya, percepat kekurangan di masing-masing provinsi yang bisa ditutup dalam waktu setahun tutuplah, kemudian memenuhi kebutuhan untuk 5 tahun mendatang, penambahan dari kapasitas listrik kita. Baru semuanya itu, dengan memberikan peluang yang lebih luas kepada para Gubernur, dengan memberikan juga peluang untuk program IPP diluar yang dilaksanakan oleh PLN. Dalam 100 hari sudah harus menjadi master plan itu. Dan nanti saya sampaikan kita awal Februari bertemu kembali, saya ingin memastikan bahwa semuanya itu sudah ada. Jangan sampai lewat 100 hari belum tertutup.
Yang kelima, peningkatan produksi dan ketahanan pangan. Saya ingin semua mengambil peran di provinsi masing-masing. Dalam konteks ini, tentu perlu finance, perlu investasi, perlu teknologi, rumuskan secara bersama. Dengan demikian, akan ada satu master plan dengan sasaran yang pasti, upaya meningkatkan produksi pangan di daerah Saudara dan seperti apa segi-segi bantuan yang diperlukan.
Yang keenam, saya ingin revitalisasi industri pupuk dan gula. Sudah dibahas pada tingkat pemerintah pusat, saya meminta nanti Menko Perekonomian dengan timnya, ajak para Gubernur untuk bersama-sama menyukseskan, karena ini tentu ada yang hulu, ada yang hilir, pabrik-pabrik yang sudah tidak produktif remajakan, tingkatkan produktivitasnya, kemudian atur pelaksanaannya dengan para petani dan semua pemangku kepentingan. Dengan demikian, revitalisasi ini, meningkatkan produksi dalam negeri, tapi juga sekaligus juga meningkatkan nilai tukar petani. Jangan sampai yang meraih keuntungan hanya pengusaha-pengusahanya dan petaninya ditinggalkan. Semuanya harus beli, harus mendapatkan manfaat dan terutama dengan lebih cukup gula kita, lebih cukup pupuk kita, maka akan terjadi peningkatan ketahanan pangan secara nasional.
Yang ketujuh, ini juga favorit para Gubernur, utamanya yang ada di luar Jawa tentang pengaturan tata ruang dan penggunaan lahan. Saya ingin dalam 100 hari ini tuntas, untuk memastikan daerah atau provinsi mana yang paling bermasalah. Opsinya seperti apa? Mekanisme penyelesaiannya seperti apa? Undang-undang yang bertabrakan yang mana? Peraturan pemerintah, peraturan daerah yang perlu dirubah yang mana? Dengan demikian, tidak boleh selamanya ada, tanah yang tidak bisa kita dayagunakan, baik untuk kepentingan pembangunan, maupun untuk pelestarian lingkungan.
Saya targetkan dalam 100 hari, ketemu dan kemudian diimplementasikan. Kalau dalam waktu 1 tahun, 2 tahun selesai lebih bagus lagi, sehingga dalam 5 tahun makin banyak lagi yang dibangun di daerah, terutama untuk pertanian, kemudian kedua untuk industri maupun untuk ekonomi jasa yang lainnya.
Yang kedelapan, infrastruktur. Saya juga ingin tuntas planning-nya selama 100 hari ini. Tentu para Gubernur tidak semua serentak kita bangun ada keterbatasan kita, keterbatasan APBN, keterbatasan APBD, keterbatasan investor yang mau menggandeng kita, keterbatasan financing dan sebagainya. Pilih dengan prioritas 1, 2, 3, 4, 5. Pemerintah pusat akan mengsinkronisasikan, akan mengundang investasi, investor, akan mengundang partner, akan memikirkan bagaimana skema pembiayaannya. Dengan demikian, rencana yang bagus bisa dilaksanakan, karena biayanya ada, dananya ada.
Yang kesembilan adalah untuk terus meningkatkan usaha mikro, kecil dan menengah dan menyukseskan Kredit Usaha Rakyat. KUR di waktu yang lalu berjalan cukup baik, meskipun belum maksimal. Saya menilai bahwa para Gubernur dan pada gilirannya para Bupati dan Walikota harus lebih dilibatkan. Saya sudah menetapkan untuk APBN kita, mulai tahun 2010 tiap tahun kita alokasikan Rp 2 triliun, yang itu dalam scheme pemberian Kredit Usaha Rakyat itu bisa mencapai Rp 20 triliun per tahun. Lima tahun akan kita alokasikan Rp 100 triliun. Untuk apa? Untuk usaha mikro, yang pinjam Rp 5 juta, pinjam Rp 10 juta, pinjam Rp 15 juta, dan sebagainya. Bank-bank yang sudah ada akan kita revitalisasikan, barangkali bank yang belum masuk kita ajak, peran daerah akan kita munculkan. Saudara yang lebih tahu kira-kira wilayah-wilayah mana, sektor-sektor mana yang memerlukan kucuran kredit, yang agunannya, yang agunan utamanya ditanggung oleh pemerintah.
Kalau kita bisa mengembangkan semua usaha mikro, kecil, termasuk Koperasi dengan manajemen yang bagus, hampir pasti kemiskinan akan menurun tajam, pendapatan akan naik, pengangguran akan berkurang. Saya sungguh meminta, mari kita sukseskan pengembangan usaha mikro, kecil, menengah, Koperasi, plus scheme pengucuran Kredit Usaha Rakyat yang kita akan alokasikan Rp 100 triliun dalam waktu 5 tahun.
Yang kesepuluh adalah kembali investasi dan financing. Semua rencana yang baik-baik tidak mungkin terlaksana, kalau tidak ada investasi. Bicara investor, tidak harus dari luar negeri, utamakan, berikan peluang lebih dahulu investor dalam negeri. Utamakan investor lokal, baru investor nasional, meskipun kita tahu, tadi malam sudah saya sampaikan, tiap tahun kita memerlukan Rp 2 ribu triliun untuk mencapai pertumbuhan 7% tahun 2014. Rp 2 ribu triliun dari kemampuan dalam negeri hanya mampu dicapai separuhnya, separuhnya berarti kita menggandeng partner kita dari negara-negara sahabat. Saya berikan kesempatan kepada para Gubernur untuk aktif menggandeng investor itu. Tanpa investasi, sekali lagi, dalam negeri dan kemudian luar negeri, maka semua rencana tidak bisa kita jalankan.
Yang kesebelas, mengenai investasi. Tadi Pak Gamawan fauzi kalau tidak salah. Benar, sekarang proses perizinan untuk menjalankan usaha itu, rata-rata 60 hari. Kalau masih 60 hari kurang kompetitif, kita masih kalah dengan negara-negara lain. Tahun 2005 untuk memulai usaha di Indonesia, dicatat oleh pihak internasional 151 hari, hampir tidak ada yang datang waktu itu, kalau tidak terpaksa, karena melihat 151 hari. Sekarang sudah turun 60 hari, better, tapi it’s not enough.
Saya senang kalau betul-betul bisa diturunkan menjadi 17 hari. Saya yakin bisa. Ajak bicara Walikota, Bupati. Saya betul-betul memuji yang betul-betul sangat efisien, sangat efektif, sangat cepat dan terpadu di dalam mengelola proses perizinan. Para Bupati dan Walikota, bikin lebih banyak lagi, Bupati dan Walikota seperti itu Saudara-saudara. Dengan demikian, secara nasional, maka jumlah hari untuk memulai bisnis itu lebih cepat lagi. Kalau itu terjadi, tidak usah terlalu banyak, Saudara jalan-jalan ke provinsi lain, ke luar negeri, karena investor akan datang. Meskipun Saudara tiap bulan pergi ke luar negeri, begitu dengar 60 hari, belum pungli sana, pungli sini, belok sana, belok sini, lebih baik ke Vietnam, lebih baik ke negara-negara lain, begitu. Perlakukan dengan baik, agar mereka datang, karena kalau mereka datang ekonomi Saudara tumbuh, rakyat dapat penghasilan, pajak masuk dan sebagainya.
Kemudian yang kesebelas, tentang perubahan iklim dan lingkungan. Coba kalau kita melihat gambar di belakang ini. Lihat green, hijau, hati kita pun juga teduh, tenteram, indah. Saya kalau terbang dari atas, termasuk terbang dengan helikopter melihat tanah-tanah yang terlantar, ditebang oleh saudara-saudara kita di waktu yang lalu, yang tidak bertanggung jawab, sebagian hutan gundul, hati kita ikut kering, seperti ikut ditebang, seperti ikut terlantar, tidak boleh terjadi lagi. Yang harus kita hutankan, kita hutankan kembali, yang memang bukan untuk hutan, tapi terlantar sekarang, rusak lingkungannya, kita perbaiki, dan kemudian kita gunakan untuk pembangunan ekonomi kita. Dan ini sekaligus dikaitkan dengan tata ruang, tata ruang dengan lingkungan harus menyatu. Pemimpin di Indonesia mulai dari Saya, Saudara, Bupati, Walikota, siapa pun harus selalu memikirkan bagaimana aspek lingkungannya. Membangun pabrik, bagaimana lingkungannya, membikin pertanian, bagaimana lingkungannya, harus. Ini tanggung jawab kita pada masa depan dan pada generasi mendatang.
Pada kesempatan yang baik ini, saya akan membantu para Gubernur untuk melakukan program penanaman bibit pohon trembesi. Tiap tahun kita akan menanam paling tidak 100 juta pohon tiap tahun paling tidak. Dari sekian itu 10 juta akan kita tanam trembesi. Trembesi itu kalau yang sering datang ke Istana Negara, ada Istana Negara, ada Istana Merdeka, itu ada dua trembesi sejak Bung Karno sudah ada di situ. Dan itu bagus, indah, kanopinya itu sudah mencapai mungkin ada tigapuluh, tigalima meter. Kalau pohon trembesi itu kanopinya 35 meter, itu bisa meng-capture, catatan saya karbondioksida, CO2 itu sejumlah 28 ton per tahun, satu pohon. Bayangkan kalau 1 juta pohon.
Kami akan menyediakan, kami, karena bukan saya, growth masing-masing provinsi 400 ribu biji pohon trembesi. Dan nanti awal Januari agar dikirim petugas-petugas Saudara untuk kursus singkat di Cikeas, karena saya punya kebun untuk demonstration sebagai demonstration plant, untuk pembibitan itu. Ada staf saya Saudara Doni nanti dengan tim akan memberikan apa namanya bimbingan, bagaimana dari bibit itu nanti tumbuh, kemudian ditanam.
Lihat itu di Singapur, Changi, jalan yang indah menuju airport itu trembesi. Lihat di Kuala Lumpur, lihat dimana-mana. Saya ingin kota-kota di Indonesia bisa ditanami trembesi. Saya ingin tanah-tanah yang kosong bisa ditanami trembesi. Jadi akan kami bantukan 400 ribu. Ajak semua, kampus-kampus juga dihadirkan nanti untuk bimbingan penanaman itu dan siapa yang berminat, karena itu sudah terbukti pohonya baik untuk lingkungan, sekaligus untuk keindahan.
Saya bilang Pak Fauzi Bowo masih ingat, meskipun Jakarta makin hijau Pak Foke, tetapi saya ingin lebih hijau lagi. Dan saya itu malah begini, mbok diajak Walikota-walikota atau tim kebersihan, studi banding ke Singapura, studi banding ke Kuala Lumpur, 2 hari di situ bagaimana, melihat tata kotanya, melihat tata tanamannya, pemeliharaannya, ininya, itunya. Dan kalau itu kita praktekkan luar biasa. Tidak usah malu-malu kita belajar dari negara lain, karena negara lain juga suka belajar kepada kita untuk kemajuan.
Yang keduabelas, refomasi kesehatan. Ini ada kritik kepada pemeintah katanya jomplang biaya untuk kesehatan dibandingkan biaya pendidikan. Kepala Bappenas dan semua nanti coba kita pikirkan kembali. Kalau memang kalau pendidikan itu amanah Undang-Undang Dasar, 20% minimal, tapi kesehatan juga jangan dilupakan. Oleh karena itu, coba nanti dengan kenaikan APBN, kita alokasilan lebih baik lagi untuk bidang kesehatan, karena dua-duanya penting, rakyat kita bersekolah kemudian bisa hidup sehat. Mari kita bikin health care reforms, reformasi di bidang pelayanan kesehatan untuk 5 tahun mendatang.
Yang ketigabelas, tolong para Gubernur, saya ulangi lagi agar dilakukan sinkronisasi antara apa yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan, di provinsi Saudara dengan kesempatan kerja yang ada. Saudara harus menginformasikan terus-menerus kepada pimpinan perguruan tinggi, atau sekolah-sekolah kejuruan apa yang sangat diperlukan. Jangan sampai yang diperlukan itu misalkan tenaga di bidang pertanian, tenaga di bidang kesehatan, tenaga di bidang apa begitu, yang diluluskan oleh perguruan tinggi atau sekolah bukan itu, malah cabangan atau jurusan atau keterampilan yang tidak diperlukan di daerah itu. Ini namanya missing link. Ini namanya mismatch, antara education dengan labour market begitu. Oleh karena itu, jangan dibiarkan begini terus, segera diadakan sinergi. Dengan demikian, ya paling tidak pengangguran akan berkurang karena yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan, oleh lembaga pelatihan, itu pula yang diharapkan oleh industri, oleh pertanian, oleh jasa, dan sebagainya.
Yang keempatbelas, adalah kesiagaan penanggulangan bencana. Saudara-saudara, kita harus sangat sadar, negara kita rawan becana, gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, kadang-kadang banjir, dan tanah longsor dan sebagainya. Meskipun dari tahun ke tahun makin baik penanggulangan bencana kita, tapi saya belum puas benar. Oleh karena itu, mari kita terus meningkatkan kesiagaan, latihan-latihan. Dan kemudian manakala terjadi bencana, cepat.
Dan saya, saya ulangi sekali lagi, saya paling tidak suka begitu ada bencana, saya datang hari pertama, kadang-kadang, kadang-kadang hari kedua, seorang Bupati, seorang Walikota, karena saya ingin laporannya langsung dari bawah, melaporkan, ”Pak Presiden, kemarin terjadi gempa bumi. Kerusakan rumah sekian, seharga Rp 600 miliar, kemudian jalan-jalan retak kami perkirakan Rp 1 triliun, kemudian ini.” Jadi laporannya 10 menit yang disampaikan angka. Saya bilang, ”Sekarang yang dilaksanakan apa, yang ngungsi dimana, yang luka-luka diobati dimana, rumah sakit apa, penanganan gimana, itu dulu tanggap darurat, ngitungnya nanti.” Kok sudah sekian ratus, trilyun, nanti, bagaimana tempatnya itu, ini yang luka, yang kasih makan, diobati, diini, lampu mati, hidupkan, telepon rusak, perbaiki, itu dulu. Setelah itu baru kita hitung berapa gedung yang rusak, diverifikasi, ketemu angka, kita carikan solusinya, APBN, sebagaian APBD dan sebagainya.
Jadi berpikirnya itu musti save more lives, selamatkan saudara-saudara kita yang bisa diselamatkan, yang wafat dimakamkan dengan baik. Jadi pasti saya potong. Saya langsung tidak simpatik dan ndak suka saya. Datang, saya ingin tahu waktu angka, pernah saya potong, sudah selesai. Sekarang dimana yang mengungsi, berapa yang meninggal, wafat, berapa yang luka-luka, jadi bahan bakar, listrik, telepon ya itu dulu.
Baik, kemudian yang terakhir, dan ini hajat kita, saya kira saya dukung usulan para gubernur, saya dukung, usulan Ketua APPSI saya setujui tadi. Disegeralah dirumuskan supaya lebih bersinergi lagi antara pusat dan daerah. Yang bersinergi itu bukan hanya pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, tapi juga investasinya bersinergi, dan kemudian pencapaian sasaran juga bersinergi.
Itulah 15 program prioritas. Mari kita sukseskan dan nanti pertemuan bulan Februari, kita pastikan bahwa semua itu telah kita jalankan. Dan kita bismillah kita langkah ke depan dengan determinasi, dengan kebulatan tekad untuk menyukseskan itu.
Dengan penjelasan itu dan dengan ajakan dan harapan itu Saudara-saudara, maka akhirnya dengan terlebih dahulu memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, seraya mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Rapat Kerja Nasional APPSI Tahun 2009 dengan resmi saya nyatakan dibuka.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



