Pidato Presiden

Pengarahan Kepada Peserta PPRA Ke-43 Lemhannas

 

TRANSKRIPSI
PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
KEPADA PESERTA PPRA KE-43 LEMHANNAS TAHUN 2009
ISTANA NEGARA, 7 DESEMBER 2009



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Para Menteri yang saya hormati, Jaksa Agung, Panglima TNI, Wakapolri, Saudara Gubernur Lemhannas, beserta para Pejabat Teras Lemhannas, para Widyaiswara, para Alumnus PPSA ke-16 dan para Peserta PPRA ke-43,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, saya mengajak Saudara-saudara sekalian untuk sekali lagi, memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita semua masih diberikan kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan dan meningkatkan tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.

Saya juga ingin mengucapkan selamat kepada alumni PPSA ke-16 yang telah selesai mengikuti pendidikan beberapa bulan yang lalu dan semoga dalam pelaksanaan tugas Saudara sekarang ini senantiasa sukses. Saya juga ingin mengucapkan pada saatnya nanti, Insya Allah pada tanggal 10 Desember, selamat saya kepada para peserta PPRA ke-43. Tentu saja, atas nama negara dan pemerintah, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Saudara Gubernur Lemhannas, beserta para Pimpinan, jajaran Lemhanas, para Widyaiswara atas kerja kerasnya dalam menyelenggarakan pendidikan, baik untuk tahun 2009 ini maupun untuk angkatan-angkatan sebelumnya.

Saudara-saudara,
Menyimak apa yang sampaikan oleh Profesor Muladi tadi, Gubernur Lemhannas, bahwa dalam metodologi dan proses pendidikan yang dikembangkan di Lemhannas, sudah mulai mengaplikasikan IT, Information Technology. Saya senang, karena kalau itu bisa diaplikasikan dengan tepat dan lebih luas lagi dalam segala sendi kehidupan bangsa kita, maka daya saing dan keunggulan kita akan makin meningkat. Dan itu sesuai dengan tuntutan, peradaban, serta kehidupan era infromasi dan teknologi yang makin canggih.

Untuk Saudara ketahui, saya telah menetapkan satu policy tentang penggunaan IT di negeri kita sejak 3 tahun yang lalu, yang sekarang dalam implementasinya makin menunjukkan hasil yang nyata. Bahkan 2 minggu yang lalu, saya meresmikan pembangunan Palapa Ring untuk wilayah Indonesia bagian Timur, sehingga pada saatnya nanti seluruh wilayah Indonesia telah terhubung satu sama lain dengan melalui infrastruktur, informasi dan telekomunikasi.

Intra-state conectivity menjadi bagian penting dalam pembangunan di negeri kita ini. Kebijakan yang saya maksud adalah aplikasi IT itu pertama-tama harus kita arahkan kepada 3 sektor. Pertama, untuk lingkungan pemerintahan e-government, yang kedua, untuk sektor pendidikan, e-education, dan yang ketiga, untuk lebih meningkatkan daya saing dunia usaha kita e-business. Tentu saja, ke depan sekarang pun aplikasi dan implementasinya lebih dari 3 sektor itu, meskipun saya menggarisbawahi untuk segera dimantapkan yang 3 sektor untuk kemudian masuk pada sektor-sektor yang lain.



Saudara-saudara,
Saya menyambut baik tema seminar yang telah dilakukan, baik oleh PPSA maupun oleh PPRA angkatan ke-16 dan PPRA 43, dengan judul untuk PPSA 16 adalah pencegahan dan peningkatan korupsi. Kebetulan 2 hari lagi, kita akan memperingati Hari Antikorupsi sedunia 9 Desember. Mudah-mudahan ini menjadi sumbangsih Lemhannas, khususnya PPSA 16 dalam upaya untuk lebih mengefektifkan kampanye pemberantasan korupsi di Indonesia.

Kemudian seminar PPRA ke-43 adalah sebagaimana tadi disampaikan, dipresentasikan berkaitan dengan kebijakan energi nasional. Terhadap tema pencegahan dan peningkatan korupsi ini, Pak Muladi, betul-betul sejalan dengan tekad besar pemerintah yang saya pimpin untuk periode 5 tahun mendatang, yaitu pemerintahan bersih untuk rakyat, baca untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Tanpa hadirnya good governance, pemerintahan yang bersih, yang responsif, yang transparan, yang capable, tidak mungkin kita menghasilkan sesuatu yang nyata. Sistem kita harus bersih, manajemen kita harus bersih dari korupsi. Bersih dari korupsi, clean itu baru persyaratan dasar sebuah pemerintahan yang efektif itu lebih dari itu. Setelah bersih dalam dirinya, maka pemerintahan itu sekali lagi harus tanggap terhadap permasalahan yang dihadapi oleh rakyat, menjalankan manajemen dengan kepemimpinan dengan benar, terbuka, sehingga bisa diikuti oleh publik apa yang dilakukan dan kemudian tentunya efektif atau mencapai hasil sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan.

Saudara-saudara,
Sedangkan upaya peningkatan ketahanan energi, saya ingin memberikan respon, saya mencatat tadi beberapa hal yang telah dipresentasikan, kebetulan di sini ada 3 Menteri energi, Menteri energi yang pertama, saya sebetulnya tahun 1999-2000, Menteri Purnomo itu penggantinya. Setelah Menteri Purnomo, Menteri Darwin Saleh itu penggantinya lagi. Oleh karena itu, beruntung tema ini akan direspon oleh 3 Menteri energi pada era yang berbeda.
Baik, saya memberikan catatan tadi, atas apa yang telah dipresentasikan. Tetapi saya suka tema ini, karena dunia, atau bumi dengan penduduk 6,6 milyar, itu menghadapi persoalan crucial terhadap 3 komoditas yang dikonsumsi oleh manusia sejagad, yang saya sebut dengan FEW. Pertama adalah food, makanan. Yang kedua, energi. Dan yang ketiga, water, Jadi Food, Energy, Water Sustainability, itu menjadi sangat-sangat penting. Kalau kita keliru mengelola pencukupan tiga komoditas itu, yang terjadi antara lain, adalah kerusakan lingkungan. Manakala terjadi pemborosan, kerakusan terhadap penggunaan energi, bukan need, tapi greed. Apabila ada mismatch, antara supply dengan demand, mismatch antara production dengan consumption, maka terjadi imbalances. Tingkat global, global imbalances, in the long run hampir pasti akan menimbulkan masalah besar bagi dunia. Oleh karena itu, energy policy sangat-sangat penting pada tingkat nasional. Tetapi juga satu arsitektur dunia, bagaimana dunia menggunakan dan mengelola energi ini juga tidak kalah pentingnya.

Saudara-saudara,
Mungkin dahulu kala, sumber peperangan itu ideologi atau teritori, ada masalah geopolitik, tapi ingat di masa depan barangkali energi menjadi persoalan pelik, apabila dunia tidak pandai untuk mencari solusi, sangat memungkinkan terjadinya benturan kepentingan, yang itu bisa menyuluh terjadinya peperangan di masa depan.

Benar disampaikan oleh Saudara tadi misalkan, Tiongkok dengan penduduk 1,3 milyar, India dengan penduduk 1,1 milyar, Amerika Serikat dengan 300 juta lebih, dengan ekonomi yang mengkonsumsi begitu banyak bahan bakar minyak atau energi, maka bisa dibayangkan nantinya ketika industri terus berkembang, ekonomi terus tumbuh, komersial juga demikian, rumah tangga-rumah tangga juga mengkonsumsi lebih besar lagi, maka saya khawatir demand akan melebihi supply, consumptions akan melebihi production, terjadi mismatch, imbalances. Imbalances itulah akar krisis. Oleh karena itu, ada satu upaya besar, saya menyebutnya revolusi. Revolusi yang akan datang berkaitan dengan bagaimana dunia mendapatkan kecukupan energinya adalah, pertama, diperlukan satu policy yang tepat, sehingga policy coordination antar negara-negara menjadi sangat penting. Itu pertama. Intinya jangan terjadi pemborosan, mesti dilakukan efisiensi, optimasi, klop antara supply dengan demand, antara production dengan consumption.

Yang kedua, masih pada tingkat global, diperlukan kontribusi teknologi. Dengan teknologi, kita bisa menghemat banyak, apakah transportasi, apakah pabrik-pabrik, termasuk lampu-lampu yang dikonsumsi di rumah tangga dan sebagainya. Technology. Teknologi juga bisa mengembangkan BBM yang tidak berasal dari fosil. Teknologi juga bisa mengembangkan sumber-sumber listrik yang sifatnya terbarukan, technology.

Dan yang ketiga, yang tidak kalah pentingnya adalah lifestyle, culture, values, behavior, bagaimana semua belajar mulai sekarang hidup hemat energi, hemat listrik, hemat BBM, hemat air dan sebagainya. Hanya 3 pilar itulah yang harus dilaksanakan oleh manusia sejagad, akan selamat masa depan kita menghadapi tantangan energi. Saya ingin mulai dari gambar besar itu, big picture, sebelum masuk kepada apa yang Saudara sampaikan tadi, yang berkaitan dengan our own policy, our national policy di dalam pengembangan energi.

Saudara-saudara,
Dengan pengantar itu, yang saya catat tadi, dan saya bersetuju dengan isu-isu yang diangkat tadi. Itulah isu kita, kita mudah mengidentifikasi, setuju, benar, tapi ketika ingin memecahkan isu itu, ada sejumlah challenges, ada sejumlah problem yang harus kita selesaikan. Dengan tetap optimis, tidak boleh pesimis, tetapi ternyata memerlukan effort yang lebih besar, memerlukan resources yang lebih besar, dan juga waktu. Membangun satu pembangkit tenaga listrik, tidak bisa setahun, satu setengah tahun, bisa dua, tiga tahun. Kita tahu karena sampai tahun 2005, daya listrik kita baru sejumlah 25.000 Megawatt. Dan dulu cukup, tapi setelah ekonomi tumbuh, industri tumbuh, rumah tangga tumbuh, dunia usaha tumbuh, tidak cukup.

Dan ketika kita mengalami krisis tidak banyak yang kita bangun menyangkut pembangkit listrik. Kita laksanakan crash program, 10.000 Megawatt dengan upaya yang luar biasa sudah kita mulai. Tahun ini baru diinagurasikan, tahun depan dan tahun depannya lagi. It takes time. Sehingga meskipun kita juga sudah setuju sekarang kita mulai pembangunan 10.000 Megawatt berikut lagi, it will take another time, mungkin tiga, empat, lima, enam tahun berikutnya lagi.

Ini baru faktor waktu, belum faktor financing, kemudian faktor investment dari mana pembiayaan untuk membangun pembangkit listrik itu semua. Pemerintah mampunya berapa? APBN. Daerah kalau berkontribusi mampunya berapa? APBD. Berarti swasta dalam negeri kita ajak. Dengan seperti apa? Public Private Partnership. Policy-nya seperti apa? Insentifnya seperti apa? Connection-nya satu sama lain juga seperti apa? Andaikata kita melibatkan swasta dalam negeri masih kurang.

Saudara tahu, tahun 2014 kita ingin ekonomi kita tumbuh 7%. Dengan tumbuh 7%, hampir pasti kemiskinan akan bisa kita turunkan, menuju ke 8 sampai 10% saja. Pengangguran juga bisa kita turunkan menuju 5 sampai 6% saja. It is achievable, attainable. Masalahnya adalah bagaimana kita mencapai pertumbuhan 7%. Yang kita perlukan, Saudara tahu komponen pertumbuhan, ada consumption, ada goverment expenditure, ada investment, ada netto dari ekspor dan impor kita. Di sini pilarnya adalah investasi, investasinya berapa, baik infrastructure building maupun yang lain-lain untuk menuju 7%. Tiap tahun kita perlukan 2.000 trilyun, total investment.

Kalau kita hitung APBN yang alhamdulillah sekarang mencapai 1.000 trilyun. Lima tahun yang lalu baru 400 trilyun, 5 tahun mendatang barangkali kita bisa mencapai sekitar 1.700 trilyun. Kita ambil dari situ, karena goverment spending untuk keperluan ini paling-paling hanya 15% saja dari total APBD. Apa artinya? Kita ajak swasta dalam negeri, kumpul-kumpul semuanya, itu paling banyak mencapai 15%. What does it mean? Kita memerlukan 1.000 trilyun rupiah lagi atau US Dollar 100 billion dari investment, negara-negara sahabat, partner kita. Saya hanya bicara soal financing and co-financing, untuk memecahkan permasalaham energi yang kita sadari kurang betul sekarang ini dan ingin kita tingkatkan 5 tahun mendatang.

Setuju, infrastuktur harus kita bangun sesuai dengan pikiran Saudara. Lantas setuju subsidi harus kita tetapkan kebijakannya yang tepat. Subsidi ini jangan dilihat dari aspek ekonomi semata, economic point of view. Kalau dari segi ekonomi sangat mudah, it is very explainable, ya caranya supaya kita punya APBN itu tidak habis, barangkali seperempat untuk subsidi, seperlimanya untuk bayar hutang, sehingga yang tersisa lebih sedikit lagi, maka subsisi harus kita kurangi. Bagaimana cara mengurangi subsidi? Subsidi apa yang kita kurangi? Another challange, mengurangi subsidi BBM berarti menaikkan harga BBM. Mengurangi subsidi listrik, menaikkan tarif dasar listrik. Mengurangi subsidi pupuk, harga jualnya lebih mahal, berpengaruh pada petani. Mengurangi subsidi bunga petani, mengurangi subsidi transportasi dan sebagainya.

Saya ingin APBN kita makin sehat dan makin kuat untuk membiayai pembangunan. Saya ingin subsidi yang tidak tepat kita kurangi, tetapi systematically, tidak bisa tahun depan kita bebaskan subsidi atau kita kurangi subsidi separuh, dari segi ekonomi solusi, dari aspek sosial, aspek politik, barangkali aspek keamanan menjadi masalah besar. Belum kita lihat daya beli rakyat kita, purchasing power, income per kapita rakyat kita. Oleh karena itu, saya sudah menetapkan dalam waktu 5 tahun ada policy baru tentang subsidi. Sejalan dengan peningkatan purchasing power rakyat kita, peningkatan kesejahteraan, pengelolaan inflasi, maka subsidi akan kita tata. Subsidi pertama-tama jumlahnya harus rasional, tidak boleh terlalu besar. Subsidi harus tepat sasaran, yang disubsidi bukan komoditasnya, bukan liter demi liter BBM itu, nantinya. Yang kita subsidi mereka yang tidak mampu membeli harga BBM dengan harga yang lebih tinggi, targeted subsidy. Ini contoh, listrik juga demikian, siapa yang kita lindungi dan siapa yang mestinya dia bisa spend lebih banyak lagi. Demikian juga pupuk, apa pupuk yang disubsidi atau petaninya yang kita subsidi. Itu sasaran subsidi.

Saya sudah berkata besaran subsidi, sasaran subsidi dan kemudian fishing out, tahapan penyusutan dari subsidi itu. Sehingga tidak menimbulkan gejala sosial maupun gejolak ekonomi itu sendiri. Saudara paham, itulah awal subsidy policy dalam konteks yang luas, yang harus tepat hitung-menghitungnya, sehingga di satu sisi mencapai tujuan ekonomi yang baik, di sisi yang lain tidak menimbulkan komplikasi atau masalah-masalah sosial, utamanya ekonomi dan kemudian bisa-bisa menjadi politik.

Ingat Saudara-saudara, tahun 2005, saya naikkan harga bahan bakar. Tahun 2008, lebih dari 150% dengan segala resiko. Tapi saya yakin hanya dengan cara itu menyelamatkan perekonomian kita. Saya menghadapi gelombang unjuk rasa, tetapi akhirnya bangsa ini sadar, bahwa itu pilihan yang sulit, yang pahit bagi saya, tapi membawa manfaat karena ekonomi kita menjadi healthy, menjadi sehat, dan tumbuh dan Insya Allah dengan pertumbuhan ini, bisa kita gunakan untuk pendidikan rakyat, kesehatan rakyat, infrastruktur dan sebagainya. Ini adalah cara pandang yang harus kita hitung utuh bagaimana sebuah policy diambil, sebuah keputusan diambil pula.

Subsidi tentu akan kita tata. Ingat, rakyat itu disamping harus memiliki daya beli yang lebih tinggi, makin meningkat, makin meningkat, dia juga tidak ingin harga terus naik. Subsidy policy harus dilihat pula dari kemungkinan inflasi, implikasinya pada inflasi. Alhamdulillah, kalau tidak aral-melintang tahun ini, inflasi kita adalah yang terbaik dalam 20 tahun. Karena bulan November masih deflasi, kalau Oktober, Desember ini kita sebutlah mencapai 1,2, ada BPS di sini, kita duga inflasi kita bisa dibawah 3%. Bayangkan kalau dalam krisis dunia seperti ini, inflasi kita 3%, growth kita 4,5%, 4,3 sampai 4,5%, maka pertumbuhan lebih tinggi dari kenaikan harga-harga. Ini adalah trend yang baik. G-20, duapuluh negara yang ekonominya tumbuh positif hanya tiga. Pertama, Tiongkok, kedua, India, ketiga, Indonesia. Jadi policy kita, arah echo kita sesungguhnya sudah benar, meskipun menghadapi dinamika, shocks, turbulences dan sebagainya.

Saudara-saudara,
Geothermal, sebutkan Filipina begini, begini, begini. Ingat, Filipina ingat saya harga bahan bakar minyak sudah sesuai dengan nilai keekonomiannya, sudah sesuai dengan harga pasar. Oleh karena itu, harga geothermal per satuan bisa berkompetisi dengan harga BBM, dengan sumber-sumber energi yang lain. Nah di kita bagaimana harga jual dari geothermal, sumber listrik bersaing dengan sumber listrik yang disumberi atau berasal dari bahan bakar minyak. Itu memerlukan policy coordination, memerlukan insentif khusus, memerlukan regulasi. Oleh karena itu tidak bisa apple to apple, kalau Filipina bisa geothermal. Policy tentang price-nya berbeda. Oleh karena itu, we need to have our own policy yang tepat, saya setuju.

Saya juga berkali-kali, geothermal kita ini mungkin nomor dua di dunia. Setelah mana, Pak Ketua Menteri energi ini? Geothermal Indonesia itu nomor dua setelah mana? Pertama, kita malahan ya. Tapi yang dikembangkan masih sedikit sekali. Oleh karena itu, mari kita kembangkan dari mulut geothermal dengan distribution and connection, dengan policy yang tepat, sehingga menjadi sumber listrik yang baru nantinya.

Nuclear energy. Saudara tahu tidak semua negara mengadopsi energi nuklir. Di banyak negara juga ada gelombang pro dan kontra, di Indonesia juga begitu, apalagi kalau musim Pemilu, musim kampanye, itu luar biasa itu. Makanya waktu kampanye, saya tidak terlalu banyak bicara karena bisa-bisa yang kita omongkan hanya untuk konsumsi Pemilu. Kalau sekarang kita berpikir tentang nuclear energy, maka kita memikirkan dengan jernih, dengan rasional, dengan niat yang baik, apakah kontribusinya terhadap energi Indonesia di masa depan, plus dan minusnya apa, pandangan rakyat seperti apa, keamanannya seperti apa, financing-nya seperti apa, investment-nya bagaimana, tempatnya dimana, apakah di gunung Muryo yang ditolak oleh masyarakat lokal.

Bangsa yang cerdas harus memikirkan secara jernih. Oleh karena itu, pemikiran untuk masa depan energi kita, termasuk barangkali apabila itu satu-satunya solusi yang masuk akal, termasuk dibangunnya energi nuklir, itu mestilah dipandang sebagai satu exercise yang bertujuan positif. Jangan belum-belum, wah ini Lemhannas ngarang ini. Ini mau membunuh rakyat, akhirnya jadi politis. Akhirnya setiap pemikiran mati muda, karena dicurigai. Wah ini jangan-jangan neolib, jangan-jangan ini itu, ini itu. Kita harus menjadi bangsa yang lebih rasional. Keperluan kita apa, kepentingan kita apa, solusinya seperti apa.

Oleh karena itu, dalam kebijakan ekonomi nasional, kita mengembangkan semua sumber energi, termasuk barangkali, suatu saat mengembangkan energi nuklir. Yang penting bagi saya, selaku kepala negara, mari masalah ini dibicarakan dengan pikiran yang jernih, jangan dipolitikkan, jangan diideologikan, dan jangan seolah-olah ini ada pikiran yang aneh-aneh. Karena kita ingin mencari solusi energi di masa depan, sehingga yang mesti kita lakukan karena ini pro dan kontranya tinggi, setelah dikaji dengan baik, perlu diajak rakyat kita, parlemen kita, civil society kita tentang ide ini. Pada saatnya ketika ini pilhan yang benar, semua bisa menerima, baru kita akan mengimplementasikan pembangunan energi nuklir ini. Tentu pilihan tempatnya banyak, kemudian berapa kapasitasnya ditentukan. Tapi ingat Saudara-saudara, kalau kita ingin membangun energi nuklir, maka keputusan itu harus sudah diambil 10 tahun sebelum pembangkit listrik tenaga nuklir itu hadir. Tidak bisa sekarang setuju, tiga tahun sudah menghasilkan daya listrik, waktunya panjang. Dan sekali lagi, mari kita bicarakan masalah-masalah ini secara jernih. Manakala ini menjadi mutlak untuk dibangun berarti itu solusi, begitu.
Dan tadi dimintakan oleh Lemhannas, supaya media massa ikut berkontribusi, di sini banyak media massa. Saya suka kalau media massa juga, kalau ada pro dan kontra diwadahi semuanya. Yang kontra diwadahi, yang pro diwadahi, terjadilah interaksi dalam demokrasi, rakyat akan melihat nanti, yang logis, yang kontra, atau yang logis yang pro. Ini juga penting untuk membangun satu diskursus yang baik. Wacana itu bahasa Indonesianya diskursus, discourse. Jadi wacana itu bukan hanya ngomong doang, tapi sesungguhnya ada satu debat terhadap satu isu dari berbagai cara pandang. That is discourse sebetulnya. Tapi salah kaprah, kalau wacana, ah berwacana saja dia, ngomong saja padahal bukan itu, arti discourse ataupun diskursus itu. Ini barangkali bagus untuk membikin rakyat kita ini berpikir lebih jernih, lebih rasional.

Saudara-saudara,
Tadi ada beberapa rekomendasi tentang undang-undang. Silakan Menteri ESDM dikaji masukan dari Lemhannas ini. Kemudian, undang-undang ini juga begini Saudara-saudara. Ada Undang-Undang Dasar, ada Pasal 33, kadang-kadang ada pro dan kontra, apa yang dinamakan penguasaan negara, sejauh mana itu diterjemahkan dalam undang-undang, apakah harus dikelola BUMN, apa swasta boleh, sejauh mana kalau ada liberalisasi, dan seterusnya dan seterusnya. Ini juga basic, ini juga berangkat dari pemikiran yang jernih, supaya bagi kita, makin ke depan bangsa kita makin mendapatkan manfaat yang tinggi atas pilihan-pilihan ekonomi kita, pilihan-pilihan kebijakan kita. Oleh karena itu, agak kuat, agak mengemuka, diskursus di waktu yang lalu, lahirnya undang-undang ini. Oleh karena itu, baik, kalau pikiran tentang perlunya revisi dikomunikasikan dengan baik, baik kepada pemerintah maupun kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Rekomendasi tentang 10.000 Megawatt berikutnya lagi, saya setuju. Kami sedang melangkah ke situ. Cuma sumber pendanaannya, kalau hanya menggunakan fasilitas perdagangan karbon, ini masih jauh dari bayangan. Saya sering bertemu Kepala Negara, Presiden, Perdana Menteri negara lain. Saya sering ketemu dengan international companies, multinational corporation, yang ingin kerjasama di bidang carbon trading. Tapi saya belum punya bayangan riil, seperti apa. Oleh karena itu, lebih bagus, yang lebih konkret, ya co-financing, government-non government, public-private yang adil, yang pas, pemerintah pusat-pemerintah daerah. Itu yang kita pikirkan. Kita akan menuju nanti kepada the carbon trade, apalagi kita ingin mengelola hutan kita, untuk mengurangi global warming, mengurangi climate change, dan itu ada konsesinya, ada kompensasinya dalam bentuk misalnya carbon trade, carbon trading. Kita akan menuju ke situ. Tapi masih memerlukan instrumen, masih memerlukan kerja keras, bagaimana terwujud jual-beli karbon itu, antara siapa dengan siapa, dengan swasta, caranya bagaimana, menghitungnya bagaimana, pre-condition-ya seperti apa. Jadi itu mesti kita pahami, supaya kita nanti dalam merumuskan sumber pendanaan tepat, realistik begitu.

Ada juga kereta api, saya setuju. Dan sudah mengeluarkan instruksi, harus ada shuttle, mass transportation di kota-kota besar, bisa di atas kalau terlalu padat di bawah. Yang hemat BBM, kalau perlu dengan electricity, dengan demikian, mengurangi emisi karbon dan juga menghemat BBM, dan akhirnya menjadi bagus, balance di antara sumber-sumber energi kita. Itu juga salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di satu sisi, yang kedua, untuk menciptakan transportasi massa yang lebih efisien.

Kemudian Saudara mengatakan, kita menjadi net importer, untuk crude, iya. Tapi sebenarnya Saudara-saudara, kalau dijadikan satu antara minyak bumi, crude oil, kemudian gas, LNG, lantas coal, batubara, kita itu memproduksi sekita 6 juta barel oil ekuivalen, 6 juta. Memang kalau minyaknya sekitar 1 juta. Ini sudah banyak yang tua sumurnya, berkurang. Kita intervensi dengan teknologi namanya oil enhancement recovery, ambil lagi, sambil menemukan deposit baru, sambil memproduksi eksplorasi dan produksi yang baru. Kita kerjakan itu, gas yang bagus. Alhamdulillah, setelah Tangguh, kita menemukan sumber gas lain di Marsela. Marsela bukan nama gadis. Marsela itu perbatasan antara Maluku dengan Australia, itu di sebelah Timur Timor Leste, persis perbatasan dengan Australia. Itu ladang minyak dan gas Marsela yang bisa kita kembangkan lagi, dengan demikian, gas pun bisa kita dorong.

Kita punya batubara masih sekitar 150 tahun lagi habisnya, tetapi jangan boros-borosan. Batubara bikin pencemaran, batubara dijaga supaya ada balance. Saya mendorong pengembangan Coal-Bed Methane (CBM), supaya juga ada deversifikasi dari sumber batubara ini. Itulah respon saya, bagus. Asalkan Saudara tahu, pandangan yang bagus begini, rekomendasinya bagus begini, ketika diimplementasikan harus kita pecahkan sejumlah masalah, sejumlah tantangan dan semuanya berkorelasi dengan waktu. Tetap ini benar dan saya menerima dengan baik, dan mudah-mudahan menjadi masukan kepada para policy makers, para Menteri untuk menjabarkannya dalam kebijakan yang akan datang.

Saudara-saudara
Itu yang dari Saudara kepada saya. Sekarang giliran saya kepada Saudara. Baik, tadi saya sudah merespon ya, sekarang saya ingin, ini forumnya Pak Muladi, ini forum yang tepat saya kira, para alumnus Lemhannas, para Peserta PPRA Lemhannas. Saya ingin berbicara mengenai dunia kita sekarang ini, yang memiliki implikasi terhadap kehidupan nasional kita. Kita boleh, tidak bisa mengisolasi diri dari what’s going on pada tingkat dunia, kita bagian dari dunia, kita bagian dari globalisasi. Oleh karena itu, yang cerdas adalah we know apa yang terjadi pada tingkat global dan apa implikasinya terhadap negeri kita, dan kemudian bagaimana kita merespon, mengadaptasi diri, melakukan sesuatu, agar globalisasi ini membawa manfaat bagi bangsa kita dan sebaliknya, tidak membawa masalah-masalah bagi kehidupan di Indonesia. Itu cara berpikir yang positif, yang cerdas.

Ada di antara kita begitu bicara globalisasi yang terbayang ancamannya, ancaman globalisasi, 3 jam bicara, satu, dua, tiga, empat. Saya tanya, peluangnya apa, kuncinya apa, ada peluang, mari kita lawan, mari kita tangkap, selebihnya benefit apa yang kita dapatkan dari globalisasi, we have to know that, supaya betul-betul kita bisa mendapatkan opportunity dari globalisasi ini, could be technology, could be information, could be know how, could be capital, could be cooperation, partnership, apapun yang bisa kita lakukan.

Dunia kembali mengalami perubahan besar, sejak tahun lalu sebenarnya ada pelajaran besar terhadap dunia kita. Jadi Saudara kalau melihat krisis perekonomian global tahun lalu, tahun ini masih kita rasakan. Jangan hanya melihat krisisnya apa saja, berapa besar tekornya negara-negara itu, yang rusak, yang hancur negara mana saja dan sebagainya. Itu juga penting. Tapi akhirnya, untuk sebuah intellectual enquiry, untuk melihat ke depan, baik dunia maupun negara kita what lesson to be learnt, pelajaran apa yang bisa kita petik.

Seperti apa yang harus kita jalankan untuk tidak terjadi lagi, krisis yang begini hebat. 1997, 1998, Asia Tenggara khususnya sedikit Asia Timur mengalami krisis, yang paling parah Indonesia, yang paling lama recovery-nya Indonesia. Yang disamping krisis ekonomi, ada krisis-krisis lain, ya Indonesia. Kita dikuliahi, ditegur, disalahkan, diejek dan sebagainya, ten years ago. Sekarang krisis global itu konon sama katakanlah dengan the great depression sebelum perang dunia kedua, semua negara kena. Yang 10 tahun yang lalu menguliahi kita, mengatakan ini salah, itu salah, mereka juga mengalami nasib yang sama. Bahkan banyak yang jauh lebih rusak keadaan ekonominya.

Saya ketemu dengan teman-teman itu, apakah dalam forum G-20, saya tiga kali hadir dalam forum G-20 di Washington, di London, di Pittsburgh. Kita mesti bangga dari 10 negara ASEAN, Indonesia salah satu permanent member of G-20, boleh tepuk tangan ini. Saya mewakili Saudara, mewakili rakyat Indonesia diundang dalam G-8 Plus, hadir dalam tentunya APEC, ASEAN Summit, ASEAN Plus Summit, semua itu. Saya meskipun dulu kita dikuliahi, habis disalahkan sana, salahkan sini, saya tenggat rasa, daripada ikut-ikutan nuding mereka yang dulu menguliahi kita, dalam hati, ah kapok lo sekarang. Saya share dengan mereka bagaimana mengatasi masalah ini dan bagaimana membangun new global economic order yang lebih bagus. New global financial srchitecture yang lebih aman, yang lebih sustainable dan bagaimana we work together in over coming this presence global economic recession. Itu yang saya kontribusikan bersama teman-teman yang lain.

Tetapi Saudara-saudara, krisis itu puncaknya sebetulnya tahun lalu, akhir tahun. Karena kita bergerak cepat, bergerak tepat, bersatu antara pemerintah dunia usaha, ekonomi, dan lain-lain, Alhamdulillah, Indonesia dinilai oleh dunia sebagai negara yang kompeten meminimalkan dampak perekonomian global. Tetapi sekarang belum aman benar. Belum lama Dubai terguncang lagi. Jadi recession is not over yet. Oleh karena itu pertemuan G-20 yang terbaru di Pittsburgh, kami 20 pemimpin bersepakat, bahwa kebijakan counter cyclical economy, kebijakan stimulus masih kita pertahankan, agar betul-betul aman dulu, baru everything backs to normal. Itu yang kita lakukan.

Pertanyaannya Why? Mengapa tiba-tiba ekonomi global seperti ini? Ternyata Saudara-saudara, sudah agak lama, mungkin 20 tahunan terakhir terjadi global imbalances. Contoh, Amerika mengkonsumsi begitu banyak barang dan dan jasa, dikatakan yang dikonsumsi melebihi yang diproduksi, oleh karena itu, hutangnya tinggi, defisitnya tinggi, utang orang-seorang karena pakai credit card juga tinggi, akhirnya menjadi negara yang banyak berhutang. Sebaliknya Tiongkok membanjiri dunia dengan barang-barangnya, termasuk ke Amerika Serikat, karena yang dipilih export oriented economy. Surplus dananya, barang dan jasa di ekspor ke luar negeri dan sebagainya. Ini contoh deep imbalance di antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Pada tingkat dunia ternyata ada great imbalances, supply-demand, energy, energy, food, production, industry, semuanya, enggak baik kalau tidak berimbang.

Yang kedua, ada economic bubbles. Kegiatan ekonomi melebihi potensi riilnya. Contoh kalau Bogor, kota Bogor, PAD-nya misalkan 3 trilyun misalnya, pertanian, industri, jasa, ini itu tiba-tiba kalau diekonomikan, Bogor itu ya sekitar 3 trilyun. Ketika Bogor, Bogor sekarang hebat, ekonominya tumbuh bagus, berapa kira-kira, 10 trilyun, ada derivasi, ada transaksi, ada segala macam, seolah-olah ekonomi Bogor itu dihitung 10 trilyun. Cepat atau lambat, mesti kempes lagi, karena bubble. Tahu Saudara bubble gun, gelas itu, kumpluk itu loh, ekonomi kumpluk itu. Itukan bukan air, kumpluk itu. Jadi kalau jadi air ya sedikit, bubble economy.

Yang ketiga adalah growth policy. Tiongkok memproduksi pertumbuhan untuk dijual di negara lain. Begitu pasarnya tutup, pasarnya menciut, gulung tikar, barang-barangnya tidak laku, barang tidak laku, pabriknya collapse. Pabriknya collapse, karyawannya menganggur, karyawannya menganggur, terjadi kemiskinan baru, sosial baru dan sebagainya. Gara-gara, growth ternyata kalau hanya ingin dipasarkan di luar negeri, tidak seimbang dengan yang di dalam negeri, maka apabila terjadi shock, resikonya juga tinggi.

Kemudian yang terakhir yang menyebabkan adalah global financial architecture. Saudara tahu Bretton Woods Institute yang lahir setelah perang dunia kedua, yaitu IMF, World Bank, dan satunya lagi WTO. Tiga-tiga itu dinilai kemarin tidak berhasil, alias gagal dalam mengantisipasi, dengan merespon cepat, dan mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan global finance. Oleh karena itu, kami sepakat dimulai dari London dan Pittsburgh, harus kita lakukan lakukan reformasi, reforming global financial architecture. Empat itulah yang menjadi biang keladi kenapa terjadi krisis global.

Sekarang saya langsung saja apa implikasinya pada Indonesia. Saya menugaskan Gubernur Lemhannas, tolong seminar yang akan datang, baik PPR maupun PPS, tema seminar bisa dipilih, ”Kebijakan Ekonomi Nasional Masa Depan Pasca Krisis Perekonomian Global”. Sekitar itulah silakan di- break down nanti seperti apa, silakan nanti. Tapi menuju atau sebagai pengantar dari seminar itu, saya ingin mengatakan, bahwa Indonesia jangan ikut-ikutan memilih economic grand policy yang berorientasi pada ekspor semata. Kalau pertanian kita, industri kita, jasa kita dibangun untuk diekspor sebesar-besarnya sebagai source of growth, maka apabila dunia mengalami krisis yang sama, ekonomi kita akan hancur. Oleh karena itu, ke depan, kita juga harus meningkatkan dan memperkuat our domestic economy, our domestic market. Ingat Saudara, Indonesia itu, daratan dan lautan luasnya 8 juta KM2, sama dengan dari California ke New Jersey, tiga time zones. Daratannya 2 juta KM2, penduduknya 240 juta kurang-lebih, ekonominya tumbuh, sumber daya alamnya banyak, income per kapita sudah di atas dua ribu. Apa namanya? Priority purchasing power sudah di atas 4 ribu dolar per kepala, that’s potential.

Sehingga kalau ekonomi domestik kita besarkan, maka ekonomi kita pilarnya bukan hanya ekspor, tetapi juga untuk domestic market. Agar domestic market hidup, ekonomi daerah, provinsi, kabupaten, kota mesti berkembang, ekonomi pulau-pulau mesti tumbuh. Agar ekonomi tumbuh, maka persoalan tata ruang kita bereskan, sambil memelihara lingkungan dengan sebaik-baiknya. Agar mereka bisa tumbuh di daerah itu, investasi kita pikirkan, financing-nya kita pikirkan. Agar intra-state trade berjalan dengan bagus, sea transportations kita bangun, jalan lintas pulau besar, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua kita bangun. Trans-lintas laut di Maluku, dan provinsi kepulauan kita bangun. Dengan demikian, sesungguhnya tanah air kita boleh dikatakan satu unit geoeconomy.

ASEAN ingin membangun connectivity within Asean, transportasi dan IT. Asia-Pasifik, APEC, juga ingin membangun connectivity within Pacific-Asia region. Tapi saya katakan sebelum kita menghubungkan diri kita dengan negara-negara lain, mari terlebih dahulu kita pastikan keterhubungan di antara kita sendiri kuat, dan itulah wawasan nusantara. Barangkal Lemhannas sangat menguasai wawasan nusantara, a, b, c, d, e, f tinggal bagaimana mengaktualisasikan, mengimplementasikan pada lingkungan yang berubah sekarang ini.

Saya baru bertemu seluruh Gubernur di Palangkaraya, saya jelaskan kemarin bagaimana we have to build our own connectivity, intra-state connectivity, intra-state trade, intra-state transportations. Growth yang akan kita bangun di masa depan. Ingat GDP kita sekarang, saya kira, saya sudah tidak me-review selama 6 bulan ini, tapi dugaan saya sudah melebihi 5 ribu trilyun kita punya GDP. Kalau kita punya growth nantinya 6 sampai 7%, maka pertumbuhan tiap tahun 6 sampai 7% dari lima ribu trilyun. Itu cukup untuk strengthening, expanding our domestic economy. Infrastructure, trade, eksplorasi dan produksi energi, agriculture, industry, apapun. Cukup magnitude itu, jadi jangan hanya dihitung government spending, government expenditure, tetapi total GDP we have, yang mencapai jumlah lebih dari 5 ribu trilyun itu.

Growth nya akhirnya, growth itu harus strong. Kalau pertumbuhan kita di bawah 5%, tak cukup, we need growth. Tapi supaya growth itu bukan hanya untuk growth itu sendiri, maka growth disamping strong, kuat, juga inklusif, ikut tumbuh semuanya. Agrobisnis tumbuh, petaninya harus tumbuh, industri perikanan tumbuh, nelayannya harus tumbuh, secara nasional tumbuh, daerah-daerah harus tumbuh. Itu namanya inclusive growth, broad based growth, pertumbuhan yang adil dan merata, begitu kata GBHN dulu. Disamping pertumbuhan harus strong, dan inklusif, harus sustainable, maka muncul green growth, green economy, green energy.

Tanggal 13, saya akan berangkat ke Eropa. Saya akan hadir dalam Copenhagen Conference, atas permintaan teman-teman. Ingat, Indonesia pernah berhasil mengukir sejarah dalam menyelenggarakan Konferensi PBB tentang perubahan iklim, yang menjadi babak baru terkenal sekarang Bali Road Map, Bali Mandate, Bali plan of actions. Dan kita ingin mengukir sukses yang baru di Copenhagen untuk menyusun satu protokol menggantikan Kyoto Protokol yang jatuh tempo pada tahun 2012.
Kalau tidak kita sepakati, untuk bersama-sama menyelamatkan bumi, maka ini namanya skenario business as usual. Tahun 2100, permukaan laut akan naik minimal 1,5 meter. Kalau 1,5 meter kita punya pulau berapa? Sudah pernah menghitung? Kalau belum pernah menghitung, daripada menghitung sendiri-sendiri, percaya saja 17 ribu sekian. Kalau permukaan laut naik 1,5 meter, apa yang terjadi, berapa banyak kita kehilangan pulau, itu.

Yang kedua akan terjadi perubahan pattern of climate, kemarau bisa sangat panjang, pertanian hancur, kelaparan ada dimana-mana, kematian ada dimana-mana. Bisa saja musim penghujan heavy rain akan datang, membikin banjir besar dimana-mana. Tofan, badai bisa meluluhlantahkan karena perubahan iklim. Jadi tidak selamat. Oleh karena itu kita harus melakukan deep cut, pemotongan yang besar terhadap emisi carbondioxide, CO2.

Akan datang Obama, semula Obama akan datang 9 Desember, terakhir akan datang 18 Desember. Wen Jiabao dari Tiongkok akan datang. Manmohan Singh, saya dengar akan datang. Saya sudah lama mengatakan datang, sebelum beliau-beliau menyatakan datang. Pemimpin ASEAN akan banyak yang datang. Gordon Brown menelepon saya, berharap bisa datang, in case salah satu yang maju. Saya berharap teman-teman yang lain juga, negara berkembang, emerging economied dan juga developed countries. Indonesia siap untuk mengurangi karbondioksidanya, 26% pada tahun 2020. Itu achieveable, bisa. Bahkan kalau kita mendapatkan bantuan dunia bisa mengurangi sampai 41%. Tetapi lebih baik kita memiliki plan of actions yang mampu kita capai, yaitu 26 % cut. Darimana? Hutan kita kelola dengan baik, kita perangi terus-menerus illegal logging, jangan ada perambahan hutan baru. Kita hutankan kembali yang rusak-rusak, kemudian daerah-daerah yang idle kita bikin pertanian, tapi tetap menghomati lingkungan, bahan bakar minyak kita kontrol, transportasi kita kontrol, limbah kita kelola dengan baik dan sebagainya. Semuanya itu dengan timeline, dengan who does what, who is responsible for what, itu 2020 akan bisa kita kurangi 26%, dan itu merupakan sumbangan.
Kita ingin Tiongkok lebih banyak lagi, kita ingin Amerika lebih banyak lagi. Australia, Kevin Rudd, sahabat saya juga gigih dan mudah-mudahan harapan kita tidak gagal minggu depan di Copenhagen, meskipun banyak yang pesimis, banyak yang skeptis. Kalau istilah saya, yang penting kita mencapai sesuatu yang realistik dan binding, mengikat, mengikat. Saya katakan seperti itu, kembali ke growth tadi, pertumbuhan perekonomian, strong, inklusif, dan sustainable.

Saudara-saudara,
Itu kira-kira, our grand strategy, our macro policy di dalam membangun perekonomian di negeri kita ini. Selebihnya silakan diseminarkan Pak Muladi, undang para pakar dari dalam negeri dan luar negeri, undang mereka yang menguasai ekonomi, menguasai energi, menguasai pangan, menguasai agriculture, menguasai global financial architecture dan yang berkaitan dengan ekonomi kita. Yang penting, sudah saya sampaikan tadi bagaimana, cetak birulah begitu, ideologilah begitu, pembangunan ekonomi di masa depan yang betul-betul mendayagunakan sumber-sumber nasional kita, sehingga lebih aman, lebih sustainable dengan tingkat kemandirian yang lebih besar, disertai tentunya daya saing yang akan terus-menerus kita bangun.

Saudara-saudara,
Itulah yang dapat saya sampaikan. Dan akhirnya, saya ucapkan selamat bertugas. Yang sudah kembali masuk ke jajaran pemerintahan, tunjukkan bahwa Saudara lebih produktif, lebih tinggi kinerjanya dibandingkan sebelum mengikuti PPSA 16. Yang 3 hari lagi akan tamat, saya tunggu di pemerintahan, buktikan pula Saudara lebih hebat sebelum mengikuti pendidikan di Lemhannas.

Kepada para peserta yang dari luar negeri, saya senang sekali Saudara bisa mengikuti pendidikan di Indonesia, dari Australia terima kasih, dari Malaysia, terima kasih, dari Thailand, terima kasih, dari Singapura, terima kasih. ASEAN telah menjadi ASEAN Community yaitu memiliki tiga pilar, satu, ASEAN political and security community. Kedua, ASEAN economic community, dan yang ketiga, ASEAN sosio-cultural community. Kita sudah memiliki piagam baru, New Charter. Kita juga sudah memiliki human right body, untuk memastikan hak-hak azasi manusia makin dihormati dan dijunjung tinggi di negara ASEAN. Kita sepakat menjadikan negara ASEAN one economic integration yang membawa manfaat bagi kita semua.

Dengan Australia, kita telah bersama-sama dalam East-ASEAN Community, ASEAN 10 ditambah Australia dengan Selandia baru. Saya yang gigih dulu untuk memperjuangkan Australia dan Selandia Baru masuk dalam East- ASEAN Forum bersama-sama dengan Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan dan kemudian India.

Saudara-saudara,
Itulah wadah kita. Mari kita jalin kerjasama setelah kembali ke negara saudara, sampaikan salam saya kepada pemimpin Saudara. Mari kita lanjutkan kerjasama dan kemitraan dengan bangsa Indonesia. Welcome back suatu saat, untuk berkunjung kembali ke Indonesia, bertemu dengan teman-teman Saudara.

Demikianlah yang saya sampaikan.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan