Pidato Presiden

Sambutan Silaturahmi dengan Keluarga Besar Majelis Dzikir Nurussalam

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
PADA ACARA
SILATURAHIM DENGAN KELUARGA BESAR MAJELIS DZIKIR SBY NURUSSALAM
CIAWI, BOGOR, JAWA BARAT

12 DESEMBER 2009



Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirabbil alamin,salatulwassalamul alaa asrafil ambyai wa mursaliin, sayyidina wa maulana Muhammadin wa alaa alihii wa sahbihi ajmain ama ba’du.


Yang saya hormati para menteri dan anggota kabinet Indonesia bersatu ke dua. Saya ingin terlebih dahulu memperkenalkan para menteri yang hadir pada acara silaturahim hari ini. Para menteri dan anggota kabinet yang dekat dengan dzikir dan doa dan yang mencintai Majelis Dzikir Nurussalam. Pertama yang paling kiri adalah bapak Mohammad Hatta Rajasa, beliau sudah pernah berkunjung ke tempat ini dan beliau adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Di sebelah kanan beliau adalah bapak Haji Sudi Silalahi, beliau adalah Menteri Sekretaris Negara. Sebelah kanan beliau adalah bapak Suryadharma Ali, Menteri Agama Republik Indonesia. Di sebelah kanan beliau adalah bapak Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional. Sebelah kanan beliau adalah bapak Darwin Zahedi Saleh, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Sebelah kanan beliau adalah bapak Mustofa Abu Bakar, beliau Menteri Negara Badan-badan Usaha Milik Negara. Di sebelah kanan beliau adalah bapak Syarif Hasan, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Di sebelah kanan beliau Panglima TNI, bapak Jenderal TNI Djoko Santoso. Insya Allah beliau akan tetap dekat dengan keluarga besar Majelis Dzikir Nurussalam.

Yang saya hormati dan saya cintai shahibul bait dan sekaligus pimpinan Majelis Dzikir Nurussalam yaitu bapak haji Harris Thahir.
Yang saya muliakan, para ulama, para habaib, para ustadz, para kyai dan para cendekiawan Islam.

Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara hadirin hadirat keluarga besar Majelis Dzikir Nurussalam yang saya cintai dan saya banggakan dan yang dimuliakan Allah SWT.

Marilah sekali lagi pada kesempatan yang membahagiakan dan insya Allah penuh berkah ini, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan ridhanya kita semua masih diberikan nikmat kesempatan, nikmat kekuatan, dan nikmat kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta pengabdian kita kepada umat, kepada masyarakat, kepada bangsa dan negara, bahkan kepada dunia.

Kita juga bersyukur ke hadirat Allah SWT di sore hari ini kita dapat bersama-sama bersilaturahim, mempertemukan wajah dengan wajah kita, hati dengan hati kita, di rumah Allah yang teduh, sejuk dan indah ini. Saya setuju dengan ustadz Muhammad Hidayat tadi meskipun masjid ini belum selesai dibangun telah membawa berkah dan kesejukan bagi kita semua. Oleh karena itu mudah mudahan tidak terlalu lama rumah Allah yang indah ini bisa kita selesaikan dan akhirnya bisa menjadi tempat untuk kita saling bersilaturahim dan tentunya bersama-sama beribadah dengan khusyuk memohon ridha Allah SWT.

Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Pertama-tama ijinkan saya, selaku Ketua Dewan Pembina Majelis Dzikir Nurussalam untuk menyampaikan hormat, terima kasih, dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pimpinan, kepada para pembimbing, pembina majelis dzikir di seluruh Indonesia, termasuk saudara-saudara semua dan saudara-saudara kita anggota majelis dzikir, yang ada di seluruh pelosok tanah air yang telah selama 5 tahun sejak berdirinya majelis dzikir telah menjalankan ibadah dan peran yang baik untuk mengajak umat berdzikir, untuk membimbing umat menuju ke jalan yang benar, jalan yang diridhai Allah SWT dan yang terus mendampingi saya selaku kepala negara di dalam memimpin bangsa dan negara membangun hari esok yang lebih baik. Semoga amal saudara-saudara semua diterima dan mendapatkan ridha Allah SWT.

Hadirin hadirat yang saya cintai,
Saya menilai, saya melihat, saya merasakan sendiri sebagaimana yang hadirin hadirat rasakan, bahwa selama 5 tahun ini majelis dzikir yang kita cintai bersama ini telah melakukan ratusan bahkan barangkali ribuan kali di seluruh tanah air, kegiatan berdzikir dan berdoa. Dalam dzikir dan doa itu keluarga majelis kita juga ingin bersama dengan umat Islam untuk senantiasa berbuat yang baik dan berbuat yang benar. Majelis ini seolah-olah juga ingin terus menjalankan misi mulianya untuk memancarkan cahaya iman sebagaimana yang telah terkandung dalam Alquran dan Sunnah Rasulullah agar sekali lagi umat Islam bersama-sama menjalani hidup dan kehidupannya, sekali lagi di jalan Allah SWT. Dan di atas segalanya, majelis ini juga ingin mengajak bangsa Indonesia, umat Islam di negeri ini untuk membangun kehidupan yang tentram dan damai.

Hadirin hadirat yang saya cintai,
5 tahun yang lalu, tahun 2004, Majelis Nurussalam ini berdiri. Saya masih ingat pada tahun itu beberapa sahabat, sebagian ulama cendekiawan, teman-teman berkumpul bersilaturahim menggagas ide yang mulia di Cikeas untuk mendirikan sebuah majelis dzikir. Saya masih ingat, antara lain Haji Harris, Haji Kurdi Mustofa, Habib Abdulrahman al Habsyi, Habib Alatas, Haji Utun, Edhie Bhaskoro, Hartanto Edhie Wibowo dan banyak lagi sahabat-sahabat yang berkumpul waktu itu. Setelah itu kita saling berdiskusi, lantas namanya majelis apa? Diberi nama apa majelis dzikir kita ini? Kita berdiskusi dengan para ulama, dengan para cendekiawan, membaca buku referensi, membanding-bandingkan. Akhirnya kita bersepakat untuk memberi nama Nurussalam. Dari kata-kata yang pertama adalah Nur, yang kedua adalah Salam. Pertanyaannya mengapa? Waktu itu kita akhirnya bersepakat dan ketika saya menyampaikan bagaimana kalau majelis dzikir kita ini kita beri nama Nurussalam? Semua sepakat dan dikandung maksud dengan mohon ridha Allah waktu itu, dengan Nurussalam ini diharapkan majelis ini benar-benar ikut memancarkan cahaya bagi kedamaian. Kedamaian di jalan Allah SWT.

Nur, waktu itu dari berbagai segi kita berikan makna dan nilai dan saya masih ingat setelah kita berdiskusi. Nur, waktu itu kita pahami berarti bening atau kebeningan, atau kejernihan. Nur juga berarti baik atau bersifat baik. Nur juga berarti cahaya dan juga petunjuk. Nur, sebagian bahkan mengatakan Alquran itu sendiri sejatinya adalah Nur. Bahkan kaum sufi, para filosof Islam mengatakan Nur itu sesungguhnya juga Nabi Muhammad SAW. Bahkan Alquran itu sendiri dipandang sebagai Nur, karena Alquran memberikan petunjuk bagi mereka yang tersesat dan juga memberikan petunjuk atau jalan bagi yang ingin mencari kebenaran. Al Ghazali yang sangat terkenal mengatakan hakekat Nur adalah Allah SWT. Dalam surat An-Nur, surat 24 ayat 35 dengan jelas dikatakan bahwa Allah adalah cahaya langit dan bumi.

Salam, kita sudah mengetahui: damai, selamat, sejahtera. Bahkan Islam pun berkonotasi dikaitkan dengan Salam. Itulah dulu mengapa kita berikan nama Nurussalam. Mengapa kita mendirikan majelis ini? Kita mendirikan Majelis Dzikir Nurussalam karena waktu itu kita melihat di tengah-tengah masyarakat kita setelah negeri kita mengalami krisis tahun 1998...

..bagaimana kalau dihentikan dulu itunya, coba dihentikan dulu bagi-membaginya. Ya nanti saja setelah acara kita selesai atau hampir selesai...

Baik, saya teruskan saudara-saudara. Mengapa kita mendirikan Majelis Dzikir Nurussalam ini? Situasi tanah air kita setelah krisis, ingat krisis 1998-1999, tahun 2000, tahun 2001-2002 di seluruh Indonesia banyak kegaduhan, banyak konflik, banyak kekerasan. Masih ingat saudara-saudara? Waktu itu banyak sekali yang saya nilai tindakan-tindakan yang sesat, yang tidak semesatinya, yang bertabrakan dengan tata krama, bertabrakan dengan hukum dan undang-undang. Kalau itu terus berlangsung di negeri ini tentu pembangunan bangsa akan terganggu. Oleh karena itulah di samping apa yang dilaksanakan oleh negara yang dilaksanakan oleh pemerintah, yang dilaksanakan oleh seluruh komponen bangsa, kita ingin ikut andil melalui majelis dzikir ini, juga melakukan kegiatan-kegiatan yang baik dan yang positif yang tiada lain bertujuan untuk mengajak umat berbuat baik, berbuat benar dengan cara berdzikir dan berdoa dalam artian yang luas, bukan dalam artian yang harfiah.

Itulah mengapa dan apa serta bagaimana majelis dzikir kita ini kita dirikan.

Saudara-saudara,
5 tahun telah berlalu. Alhamdulillah majelis yang kita cintai ini telah berusia 5 tahun, makin berkembang, makin besar dan hadir di seluruh wilayah Indonesia. Tentu saja ini tidak mungkin terjadi tanpa izin Allah SWT, tanpa kerja keras dari para pembimbing, para ulama saudara-saudara semua. Oleh karena itu, ke depan, saya ingin majelis dzikir ini semakin meningkatkan peran dan ibadahnya sesuai dengan tujuan dari didirikannya majelis dzikir ini. Saya juga ingin melalui majelis ini mari kita menyerukan, menegakkan kebenaran dan kebaikan dengan cara-cara yang benar, cara-cara yang damai. Jangan sampai memerangi kemungkaran dengan cara-cara yang sama mungkarnya, atau yang lebih mungkar lagi. Mari kita ingat seperti itu. Insya Allah kita bisa melaksanakannya dengan baik.

Kemudian saya terkesan dengan apa yang disampaikan oleh Ustadz Hidayat tadi, di belakang kita juga terpampang kata-kata yang tepat. Judulnya apa? Hindarkan fitnah, tebarkan benih-benih kebaikan di antara anak bangsa. Mari kita bersatu membangun negeri dengan akhlak mulia. Setuju saudara? Alhamdulillah. Saya ingin disamping ini semua kita jalankan, untuk diri kita, untuk keluarga kita, mari kita ajak umat yang lain, saudara-saudara kita, bangsa Indonesia yang lain juga menjalankan ajakan yang mulia ini. Dalam surat An-Nur juga dijelaskan cukup panjang dan lebar bagaimana Allah SWT memandang fitnah, kebohongan, dusta dan hal-hal yang sejenis. Dikatakan bagi para pendusta itu, begitu kurang lebih terjemahannya, bahwa apa yang disampaikan melalui lidahnya yang diucapkan melalui mulutnya itu dianggap kecil, tapi di mata Allah SWT itu adalah besar. Saya setuju, jangan main-main dengan fitnah, dengan kebohongan, dengan berita dusta, dan sebagainya karena luar biasa azab yang akan diterimakan kepada mereka kecuali mereka bertobat dan sebagaimana tadi yang disampaikan oleh Hidayat, syariat bagaimana seseorang mendapatkan ampunan Allah SWT dari kebohongan, fitnah, dan dusta yang dia sampaikan.

Saya juga ingin melalui majelis ini kita serukan, semua menjalani kehidupan tanpa kekerasan. Berpolitik pun tidak boleh menjalankan politik kekerasan, politik kotor, politik yang tidak bersih, politik yang jauh dari akhlak dan tata krama. Bukan itu politik yang mulia. Politik yang Islami yang ingin sama-sama kita tegakkan dan kemudian mari kita ajak saudara-saudara kita bersatu membangun negeri, bersatu berbuat untuk rakyat. Kalau alhamdulillah, dengan ridha Allah saya mendapatkan mandat dan amanah untuk memimpin negeri ini 5 tahun mendatang, periode terakhir saya, bakti saya yang terakhir kepada bangsa dan negara melalui posisi sebagai kepala negara, saya berharap marilah kita jalankan bersama-sama dan tidak harus selalu diganggu dan berbagai tindakan-tindakan yang tentu saja akan mempengaruhi pelaksanaan tugas bagi seorang yang sedang mengemban amanah. Majelis dzikir justru mendampingi bersama-sama manakala saya keliru di berikan kritik. Manakala saya benar didukung untuk mencapai tujuan agar semuanya bisa kita abdikan untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara yang sama-sama kita cintai. Setujukah saudara-saudara?

Akhirnya barangkali ada yang bertanya, di negara ini, di dunia ini, banyak sekali hal-hal yang belum baik. Hal-hal yang belum menunjukkan keadilan. Hal-hal yang belum semestinya. Saya setuju. 5 tahun setelah saya memimpin negeri ini banyak yang telah kita capai, alhamdulillah. Tetapi banyak pula yang belum kita capai. Masih banyak kekurangan, masih banyak pekerjaan rumah, masih banyak hal-hal yang harus kita perbaiki. Demikian dunia, juga begitu, banyak ketimpangan, ketidakadilan, kemiskinan dan hal-hal yang tidak sepatutnya terjadi di muka bumi ini. Tentu kita tidak boleh tinggal diam. Kita harus peduli, kita harus berkontribusi, kita juga harus berupaya untuk mengubah hal-hal yang belum baik itu menjadi hal-hal yang baik. Bagaimana cara mengubahnya, pilih cara-cara yang tepat dan baik. Jangan menggunakan cara-cara yang tidak baik karena kalau yang digunakan cara-cara yang tidak baik hampir pasti yang tadi belum pasti bisa diatasi muncul persoalan yang lain. Itulah bentuk jalan yang diridhai Allah SWT, jalan yang mulia bagaimana kita memperbaiki keadaan.

Nabi Muhammad SAW, pemimpin besar dunia, melakukan perubahan besar pada zamannya, mengubah peradaban, mengubah kehidupan dari zaman kegelapan ke zaman yang dipenuhi oleh cahaya iman dengan cara-cara yang benar. Beliau sabar, tegar, tawakal tapi tidak pernah behenti berikhtiar. Semuanya diajak mengubah keadaan dengan cara-cara yang benar. Menjauhi kekerasan. Mengapa bangsa Indonesia tidak mencontoh apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah, yang telah berhasil mengubah jalannya sejarah membangun peradaban yang unggul dan mulia?

Saya ingin majelis dzikir berdiri di depan, menjadi contoh, memberi contoh melalui dzikir dan doa dalam arti yang luas agar 5 tahun mendatang dan masa-masa seterusnya bangsa kita ini, umat Islam di Indonesia, benar-benar bersatu. Bekerja sama, bekerja keras memohon ridha Allah utnuk membangun masa depan kita yang lebih baik. Itulah saudara-saudara dan saya berpesan pada Haji Harris, pada para habaib, para ulama tadi, mari terus kita tingkatkan kegiatan kita. Saya mengundang sekali-sekali dzikir di Istana, sekali-sekali dzikir di Cikeas, dzikir-di tempat-tempat yang lain. Bersatu kita dengan hati yang bersih, dengan pikiran yang jernih, dengan niat yang baik, ikut mencahayakan ajakan-ajakan yang benar, ajakan yang baik agar tertaburkan kedamaian dan kebaikan sesuai dengan nama majelis kita, Nurussalam. Insya Allah akan dapat kita wujudkan semuanya itu dengan baik.

Demikianlah hadirin-hadirat yang saya cintai dan saya muliakan, semoga Allah SWT mendengarkan niat dan cita-cita baik kita memberikan jalan yang baik bagi kita, memberikan bimbingan-petunjuk dan lindungannya pada kita, pada bangsa Indonesia, pada umat Islam untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Sekian.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan RI