Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Munas Ke-19 PMI

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
MUSYAWARAH NASIONAL KE-19 PALANG MERAH INDONESIA
HOTEL MILLENIUM, 22 DESEMBER 2009




Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati saudari Wakil Ketua MPR RI,
para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II,
saudara Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana,
saudara Wakil Gubernur DKI Jakarta,
yang saya hormati saudara Ketua Umum Palang Merah Indonesia,
Tamu kita yang saya hormati Bapak Tadateru Konoe the President of International Federation of Red Cross and Red Crescent societies,
para pimpinan Organisasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah dari Negara-negara sahabat,
Para pimpinan dan pengurus Palang Merah Indonesia, baik Pusat maupun Daerah,

Hadirin Peserta musyarawah nasional yang saya cintai dan saya banggakan,
Pada kesempatan yang baik, dan semoga senantiasa penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas perkenan rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberikan kesempatan dan kekuatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, negara dan bahkan kepada dunia.

Hadirin yang saya hormati,
Pada kesempatan yang baik ini pula, saya juga ingin mengucapkan selamat datang kepada para peserta Munas yang datang dari berbagai penjuru tanah air dan selamat melaksanakan musyawarah. Semoga Musyawarah Nasional PMI yang ke-19 ini menghasilkan sesuatu yang baik, yang tentunya membawa manfaat bukan hanya bagi PMI, tapi juga bagi bangsa dan negara tercinta.

Saudara-saudara,
Sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Mar’ie Muhammad tadi, 3 hari yang lalu ketika saya sedang berada di Kopenhagen, Denmark untuk bersama-sama dengan sekitar 110 para pemimpin dunia, menghadiri konferensi PBB tentang perubahan iklim, saya diberitahu oleh Menteri Sekretaris Negara Pak Sudi Silalahi, yang dihubungi oleh pak Mar’ie Muhammad, apakah saya bisa membuka musyawarah nasional yang ke-19 ini sesaat setelah saya kembali ke tanah air? Jawaban saya tentunya, harus bisa. Dan ini hukumnya wajib. Mengapa? Begini, meskipun benar ada jetlag, meskipun ada kelelahan fisik karena pertemuan di Kopenhagen bukan hanya delegasi Indonesia, tetapi para leaders, termasuk saya, itu juga bekerja pagi, siang, sore, bahkan malam, bahkan sampai subuh untuk mencegah konferensi itu gagal. Tentu kembali ke tanah air, harus konsolidasi fisik. Tetapi saya tidak boleh lantas, “Ah masih capek, masih jetlag.” Bayangkan kalau dalam keadaan bencana PMI tidak segera datang karena masih jetlag ataupun masih capek? Karena PMI termasuk organisasi reaksi cepat bukan hanya militer yang punya reaksi cepat, PMI juga terjun ke tengah-tengah masyarakat yang memerlukan bantuan karena situasinya gawat, maka wajib kita kalau harus bersama PMI tidak boleh ada alasan apapun, kecuali kita bertenggang rasa dan kemudian saling setia satu sama lain. Sebagaimana yang dilakukan PMI kepada masyarakat kita.

Saudara-saudara,
Saya ingin atas nama bangsa dan negara, dan tentunya pemerintah mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada pengurus PMI, masa bakti 2004-2009 yang mandatnya akan berakhir dan akan digantikan nantinya oleh pengurus masa bakti 2009-2014. Pengabdian saudara, pengurus, termasuk keluarga besar PMI tercatat abadi dalam sejarah nasional kita. Jutaan rakyat berterima kasih kepada PMI. Terutama mereka yang diselamatkan jiwanya diberbagai keadaan, termasuk keluarganya. Dan semua itu tiada lain adalah bukti nyata kepahlawanan, perjuangan tidak kenal lelah, perjuangan tanpa pamrih. Dengan ketulusan dan keikhlasan yang tinggi dari para sukarelawan dari keluarga besar PMI untuk membantu saudara-saudaranya. Bukan hanya di tanah air, juga di negara-negara yang lain. Sekali lagi, terimalah ucapan hormat, terima kasih dan penghargaan saya.

Kepada pengurus yang baru nanti, harapan saya agar semua yang telah dicapai ini sungguh dipertahankan dan bahkan dilanjutkan dan ditingkatkan. Pimpinan dan pengurus PMI harus memedomani dan menjalankan tujuh ikrar ataupun nilai-nilai dasar dari Palang Merah ataupun Bulan Sabit Merah yang diucapkan oleh anak-anak kita tadi. Pengabdiannya harus tulus, harus ikhlas, tidak boleh ada kepentingan pribadi, tidak boleh dibawa ke politik praktis karena harus netral dan mengabdi untuk semua.

Dengan demikian akan tentram, PMI dan sebagai pelindung, saya tentu berharap apa yang sudah baik ini, betul-betul dilanjutkan dan kemudian ditingkatkan pengabdiannya di waktu yang akan datang.

Saudara-saudara,
Saya ingin juga menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Presiden Masyarakat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah yaitu Bapak Tadateru Konoe. Sebagai ungkapan dari rakyat Indonesia terhadap organisasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah yang telah memberikan bantuan yang luar biasa kepada Indonesia. Terutama di daerah-daerah yang mengalami bencana.

Presiden Konoe tadi mengatakan, banyak yang telah dilakukan di negeri kita, mulai dari tsunami di Aceh, kemudian gempa bumi di Yogya dan Klaten, kemudian gempa bumi di Sumatera Barat, dan banyak lagi bencana-bencana alam yang Palang Merah Internasional serta Bulan Sabit Merah juga memberikan bantuan dan kontribusinya.

Saya memiliki catatan dalam penanganan tsunami di Aceh dan di Nias, misalnya tidak kurang telah dikoordinasikan, telah diorganisasikan bantuan sejumlah 10 trilyun rupiah, yang diberikan kepada masyarakat dan bangsa Indonesia. Jumlah yang tidak kecil, oleh karena itu atas nama rakyat Indonesia, sekali lagi terimalah ucapan terima kasih dan penghargaan saya yang setinggi-tingginya dengan harapan kerjasama dan kemitraan kita, mari terus kita lanjutkan dan tingkatkan di waktu yang akan datang.

Saudara-saudara,
Di dunia ini banyak sekali terjadi krisis, krisis itu antara lain berupa peperangan war and conflic. Dan ini terjadi di berbagai belahan dunia. Di negara kita, di waktu yang lalu, kita juga mengalami konflik bersenjata ataupun peperangan seperti ini. Krisis yang lain adalah bencana alam, yang terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Juga termasuk krisis adalah wabah penyakit menular yang membawa korban ribuan, puluhan ribu, bahkan pernah jutaan dulu, di tingkat dunia. Dari segi korban manusia. Juga kalau kita telusuri ternyata banyak sekali bencana alam yang merenggut korban ribuan, puluhan ribu, bahkan itu karena terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global. Seperti topan, badai, kemarau yang sangat panjang mengakibatkan krisis pangan, akhirnya kelaparan dan kematian. Juga banjir yang luar biasa, yang menyapu pertanian dan kehidupan yang juga karena terjadinya perubahan iklim yang ekstrim pada tingkat dunia.

Semua bentuk krisis itu menimbulkan korban yang tidak sedikit. Kesengsaraan, penderitaan, suasana gawat darurat. Kita tahu dalam semua keadaan itu Palang Merah Indonesia untuk negeri kita, ataupun Palang Merah Bulan Sabit Merah pada tingkat internasional juga terus hadir di berbagai penjuru dunia. Oleh karena itu, saya sekali lagi, sangat berharap agar Palang Merah Indonesia, Bulan Sabit Merah dan semua organisasi kemanusiaan terus bersiap siaga untuk melanjutkan baktinya untuk kemanusiaan sebagaimana yang menjadi ruh, menjadi nafas dari organisasi yang kita cintai ini.

Dari berbagai bencana yang terjadi di tanah air kita, sejak tahun 2004 yang lalu, setiap kali saya datang dan hampir selalu saya datang pada saat-saat awal, dimanapun dinegeri kita ini. Ketika saya datang yang hampir pasti sudah ada disitu adalah PMI, boleh tepuk tangan, TNI, Polri dan Tagana, Tagana itu singkatan dari Taruna Siaga Bencana. Dan tentu ada beberapa organisasi, tapi PMI mesti hadir cepat di daerah bencana itu.

Kalau musim pemilihan umum banyak partai partai politik buka pos-pos, saya juga berterima kasih karena tentu juga ingin menyelamatkan saudara-saudaranya. Meskipun kalau tidak musim pemilu agak sepi. Kemarin saya datang ke Cianjur, ketika Tasik dan Cianjur kena bencana, saya datang ke Padang Pariaman, Padang, karena pemilu sudah lewat tidak terlalu banyak bendera-bendera partai politik, tapi PMI selalu hadir.

Saudara-saudara,
Saya juga punya pengalaman yang khas sekitar tahun 2002 dulu, dulu waktu 2003, ketika kita masih mencari jalan untuk penyelesaian Aceh, penyelesaian yang bermartabat, penyelesaian yang damai, penyelesaian tanpa korban yang tidak perlu terjadi. Ada peristiwa penyanderaan yang melibatkan, tentunya waktu itu pihak GAM dan pihak pemerintah dan masyarakat luas. Lagi-lagi Palang Merah Indonesia, pak Mar’ie Muhammad dan teman-teman pengurus dulu ikut serta di dalam mencari solusi dan memecahkan masalah Tuhan Maha Besar dan akhirnya tawanan dibebaskan. Selesailah masalah itu. Itu menunjukkan dalam keadaan itupun dengan netralitas Palang Merah kita, dengan pengabdian yang baik, masalah bisa diselesaikan dengan baik pula. Tentu saja 7 prinsip dasar tadi benar, harus kita pegang teguh dan mari kita jalankan dengan sebaik-baiknya dalam pelaksanaan tugas di waktu yang akan datang.

Hadirin yang saya hormati,
Tadi disampaikan oleh Pak Mar’ie Muhammad tentang apa yang baru saja terjadi di Kopenhagen Denmark. Penduduk dunia itu sekarang berjumlah 6,6 milyar. Terhadap konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang baru saja dilaksanakan di Kopenhagen, kemarin, kalo dari 10 orang, 1 saja peduli, mengikuti dan ingin tahu apakah masyarakat dunia berhasil mencapai kesepakatan untuk menyelamatkan dunia, maka paling tidak akan 660 juta manusia yang terus menerus mengikuti apa yang dihasilkan di Kopenhagen tersebut.

Terus terang pelaksanaan konferensi berjalan alot, ternyata tidak mudah untuk membangun kesepakatan mencapai konsensus bagaimana format, bentuk, dan mekanisme dari kerjasama dunia untuk mencegah bumi makin panas dan mencegah perubahan iklim yang ekstrim di dunia ini. Indonesia berperan secara aktif, bukan hanya di Kopenhagen kemarin, tetapi sejak konferensi di Bali yang menghasilkan Bali Roadmap, yang menghasilkan Bali action plan, yang sesungguhnya ditindaklanjuti dalam konferensi di Kopenhagen tersebut. Mengapa? Kita juga sangat serius? Seraya meningkatkan upaya menyelamatkan tanah air kita, lebih peduli, lebih gigih dalam menyelamatkan lingkungan kita.

Kita juga ingin bersama-sama masyarakat global menyelamatkan bumi. Sebab kalau segalanya berjalan seperti biasa, business as usual, maka sekian puluh tahun kemudian nanti diramalkan perubahan iklim kearah yang lebih buruh akan terjadi secara lebih ekstrim lagi. Diperkirakan permukaan air laut bisa naik lebih dari 1,5 meter. Kita punya pulau 17 ribu, berapa ribu pulau harus tenggelam. Kalau terjadi kenaikan permukaan air laut yang lebih dari 1,5 meter itu, belum yang lain. Yang saya katakan tadi. Ini semua bisa dicegah manakala sampai tahun 2050 kenaikan suhu bumi tidak lebih dari 2o Celcius.

Untuk mencapai agar kenaikan tidak lebih dari 2o Celcius itu, maka emisi karbon dioksida diseluruh permukaan bumi harus dikurangi. Menguranginya tidak boleh tanggung-tanggung, harus secara drastis yang kita sebut dengan deep cut siapa yang harus mengurangi? Ya semua harus mengurangi. Tetapi pertama-tama negara maju. Yang memiliki kemampuan yang secara historis juga menyebabkan emisi yang berlebihan. Memiliki tanggungjawab pertama. Harus memimpin pengurangan emisi secara besar deep cut maksud saya. Disebut-sebut negara maju, paling tidak harus mengurangi 40% dari emisinya. Itu menurut scientific binding, bukan hanya kira-kira, bukan hanya reka-reka. Tapi negara berkembangpun meskipun sifatnya sukarela juga harus mengurangi emisinya. Indonesia sebagai contoh juga ingin mengurangi emisi kita. Pada tahun 2020 sebesar 26%. Negara berkembang yang lain juga demikian. Tiongkok yang sekarang menjadi negara yang memancarkan emisi paling tinggi di dunia juga harus melakukan hal yang sama. Demikian juga negara-negara yang lain.

Tetapi para negara berkembang, kekuatan ekonominya tidak sekuat negara maju, maka negara maju wajib hukumnya untuk membantu negara-negara berkembang. Dengan bantuan, apakah keuangan, teknologi dan lain-lain. Oleh karena itu Indonesia dalam statement yang saya sampaikan kemarin menyampaikan dengan gamblang agar negara maju mengurangi emisinya secara besar-besaran, memberikan bantuan financial dan teknologi secara cukup. Negara berkembang juga demikian. Melaksanakan langkah-langkah yang lebih serius. Demikian juga semua yang kita lakukan harus dimonitor supaya betul-betul terlaksana dengan baik. Ini penting untuk kita lakukan. Terus terang kemarin di Kopenhagen belum semuanya bisa kita capai, meskipun alhamdulilah karena kegigihan kita bisa kita hasilkan Kopenhagen a cop, yang itu akan terus dimatangkan setahun mendatang.

Yang ingin saya sampaikan adalah kita semua bangsa-bangsa di dunia makin sadar. Bumi kita makin panas, kalau tidak kita lakukan upaya yang gigih, anak cucu kita tidak selamat. Masa depan kita juga tidak selamat. Penderitaan akan terjadi dimana-mana. Oleh karena itu, saya senang kalau PMI, keluarga besar PMI terus menjadi pelopor-pelopor untuk benar-benar melakukan gerakan penyelamatan bumi, gerakan pengurangan emisi dengan berbagai cara. Pengurangan limbah, penghematan bahan bakar, pengelolaan hutan yang baik, mencegah kebakaran hutan. Kemudian, mengelola limbah dengan baik, saya katakan tadi. Termasuk hal-hal lain yang bisa dilakukan oleh Palang Merah Indonesia dan jangan lupa kita ingin melaksanakan penanaman hutan besar-besaran.

Sekarang sudah kita canangkan `one man, one tree` 200 juta per tahun. Tetapi saya ingin mulai tahun depan kita ingin punya target sampai 1 miliar pohon tiap tahun yang bisa kita tanam di Indonesia ini. Untuk apa? Untuk anak cucu kita. Ini sedang kita rumuskan supaya bisa kita lakukan demi Indonesia kita, demi dunia kita.

Saudara-saudara, itulah oleh-oleh dari Kopenhagen. Tapi yang jelas tidak perlu menunggu selesainya protokol baru, pengganti Kyoto Protokol yang penting bangsa Indonesia, marilah mulai sekarang segigih mungkin kita menyelamatkan lingkungan kita, segigih mungkin kita berbuat yang terbaik untuk masa depan kita.

Saudara-Saudara,
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Ke depan kepada keluarga besar PMI, saya berharap saudara terus bersiaga untuk mengemban tugas apapun. Menghadapi kemungkinan krisis apapun, dimanapun. Yang kedua, saya berharap saudara terus meningkatkan kemampuan, ketrampilan, pengetahuan orang seorang. Organisasi di seluruh Indonesia. Saya juga berharap saudara meningkatkan sumberdaya resources yang dimiliki. Kaitan dengan itu disini hadir Menteri Keuangan, Menteri Kesehatan. Saya berharap tolong dipikirkan. Tetapi ingat, pemerintah ingin akuntabel, semua yang dilakukan pemerintah. Pemerintah akan memberi contoh, tidak ada conflict of interest, tidak ada penyimpangan-penyimpangan. Tidak ada korupsi-korupsi. Oleh karena itu Menteri Keuangan, Menteri Kesehatan, Menko Kesra akan memikirkan nanti darimana anggaran yang halal, yang sah, yang bisa dipertanggungjawabkan satu rupiahpun.

Mari kita hidup dengan sistem, dengan budaya seperti itu. Kemudian, juga Undang-undang, pak Mar’ie Muhammad, Menteri Kesehatan tolong didorong lagi, diingatkan Dewan Perwakilan Rakyat agar bisa digolkan pada periode 2009-2014 ini.

Saya ingin PMI menjadi bagian dari satgas siaga bencana yang kita bangun, yang sedang dipersiapkan. Saya akan mengecek nanti apel secara nasional Siaga bencana ini, sehingga saudara-saudara kita diseluruh Indonesia akan tenang, kalau ada apa-apa yang tidak bisa dielakkan, PMI dengan satgas bencana yang lain akan hadir secepat-cepatnya untuk menolong mereka. To save a life of the people. Nyawa saudara-saudara kita di seluruh tanah air.

Saya berharap semua pihak terus membantu PMI. Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah. Saya juga ingin private sector, perusahaan-perusahaan yang punya kemampuan, yang ada program CSR, berikan alokasi juga untuk membantu Palang Merah Indonesia. Dan tentunya masyarakat luas, donor darah butuh luar biasa, setetes darah bisa menyelamatkan nyawa saudara-saudara kita.

Saya dan Isteri termasuk yang rajin dalam donor darah, meskipun terakhir-terakhir ini karena kesibukan belum ditagih. Tentunya kita harus menjadi contoh untuk benar-benar menyukseskan program donor darah ini. Dan pak Mar’ie meskipun Ibu Negara jarang hadir dalam acara formal PMI, tapi yang jelas kalau di daerah bencana kita selalu bertemu.

Akhirnya dengan pesan, harapan dan ajakan itu, dengan ucapan terimakasih dan penghargaan tadi, maka dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT Musyawarah Nasional ke-19 Palang Merah Indonesia dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan