Pidato Presiden

Pengarahan Kepada Taruna, Pengasuh, dan Perwiran TNI dan Polri

 

TRANSKRIPSI
PIDATO PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PENGARAHAN KEPADA PARA TARUNA,
PENGASUH, DAN PERWIRA TNI DAN POLRI
SURABAYA, 22 DESEMBER 2009



Bismillahirrahmanirrahim
Asalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, Panglima TNI, Kapolri dan para Pimpinan serta Pejabat Teras jajaran TNI dan POLRI, Saudara Gubernur Jawa Timur dan para Tamu Undangan,
Para Taruna dan Taruni baik dari jajaran akademi TNI maupun dari Akademi Kepolisian yang saya cintai dan saya banggakan,

Saya mengajak Saudara semua untuk sekali lagi, pada kesempatan yang bersejarah dan semoga penuh dengan berkah ini untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita semua masih diberikan kesempatan dan kekuatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta. Saya ingin memberikan pengarahan dan pembekalan yang khusus saya tujukan kepada para Taruni dan para Taruni.

Para Taruna dan Taruni yang saya cintai,
Pada bulan Desember tahun 1973 yang lalu, 36 tahun yang lalu, saya duduk seperti kalian di tempat seperti ini. Di kampus ini untuk mendengarkan pengarahan dan pembekalan dari para pengasuh, dari para pembina, dari para gubernur akademi, termasuk Danjen Akabri waktu itu, bahkan sampai Pimpinan TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara, serta Panglima ABRI. Waktu itu, Kapolri juga masih berada dalam satu atap, sehingga semua memberikan pembekalan. Esok harinya sama seperti kalian, saya dilantik oleh Presiden, waktu itu Presiden Soeharto untuk memulai karier dan pengabdian panjang saya bersama teman-teman satu angkatan waktu itu, mengabdi di lingkungan TNI dan POLRI waktu itu.

Pada saat itulah, saya dan teman-teman yang dilahirkan di Lembah Tidar dan tentunya bagi Taruna Akademi Angkatan Laut, Udara, dan Kepolisian melanjutnya ke kampusnya masing-masing waktu itu, bercita-cita tinggi untuk berhasil menjadi pemimpin di jajaran TNI dan POLRI. Saya salah satu di antaranya yang menggantungkan cita-cita itu demi pengabdian yang lebih baik kepada bangsa dan negara.

Saya dalam hati memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa waktu itu, agar mendapatkan karier yang baik dan menjadi Jenderal. Yang namanya Jenderal, ya mulai dari bintang satu, bintang dua, bintang tiga dan bintang empat, itu Jenderal. Tentunya jenderal, laksamana, marsekal, dan jenderal polisi. Saya ingin bertanya kepada kalian para Taruna dan Taruni, salahkah kalau lulusan akademi TNI dan POLRI bercita-cita, memohon pada Tuhan dan berikhtiar untuk menjadi jenderal atau laksamana, atau marsekal, salah atau benar? Ulangi sekali lagi, salah atau benar? Benar, benar dan benar. Boleh tepuk tangan.

Yang tidak benar, kalau kalian memasuki Akademi TNI, Akademi Kepolisian, lantas cita-citanya ingin menjadi bupati, menjadi walikota, menjadi gubernur, menjadi pengusaha dan lain-lain. Tidak tepat. Kalian harus bercita-cita menjadi perwira yang berhasil di lingkungan TNI dan POLRI. Bisa saja dalam perjalanan kehidupan kalian nanti, ada dinamika, ada takdir, dan jalan kehidupan. Kalian memasuki profesi yang lain dan bisa berhasil dalam profesi di luar TNI dan POLRI itu. Tetapi saya ingin hati dan pikiran kalian semuanya mulai besok, setelah saya lantik, hanya satu, ingin berbakti dan mengabdi di lingkungan TNI dan POLRI berhasil menjadi perwira, bahkan Insya Allah akan menjadi Jenderal, Laksamana, Marsekal, Jenderal Polisi untuk mengemban tugas yang lebih mulia lagi.

Para Taruna dan Taruni yang saya cintai dan saya banggakan,
Pertanyaan berikutnya kemudian adalah jalan seperti apa yang akan kalian tempuh untuk berhasil menjadi perwira di lingkungan TNI dan POLRI, tentu Insya Allah menjadi jenderal, laksamana dan marsekal? Apakah kalian cukup tunggu nasib? Apakah cari dukun? Apakah menghalalkan segala cara yang penting nanti menjadi Jenderal? Atau menjatuhkan kawan-kawannya, pesaing-pesaingnya, supaya maju sendiri? Benar. Tidak dan tidak boleh menempuh cara-cara seperti itu.

Untuk menjadi jenderal, laksamana, marsekal, untuk berhasil dalam perjalanan karier kalian nanti yang harus dilakukan adalah kerja keras, gigih berjuang, menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Hanya dengan cara itulah, menghadapi rintangan dan tantangan tugas yang sangat tidak ringan kalian akan berhasil. Yakinkah kalian dengan cara-cara seperti itu, kalian berhasil mengemban tugas? Baik.

Saya ingin berbagi pengalaman, sebagaimana para senior kalian yang sekarang menjadi pemimpin-pemimpin di jajaran TNI dan POLRI. Mereka juga mengalami, melalui, mengarungi perjalanan yang panjang, penuh dengan dinamika, pasang dan surut. Perjalanan karier di lingkungan TNI dan POLRI tidak seperti di bawah bulan purnama, tidak lunak, tidak mudah, keras, penuh dengan tantangan, penuh dengan ujian dan bahkan cobaan. Oleh karena itu, saya, para perwira senior sepatutnya berbagi pengalaman dengan kalian. Supaya dalam perjalanan karier kalian nanti, 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun, 35 tahun mendatang, kalian tidak patah di jalan, kalian tetap akan tegar, dan setiap kali menghadapi ujian dan cobaan akan makin kuat, makin kokoh dan akhirnya, dengan mentalitas seperti itu, kalian semua akan berhasil dalam perjalanan karier.

Yang ingin saya kemukakan adalah, ada tiga hal yang sejak saya menjadi letnan dua, dilantik di Bumi Moro Surabaya ini, sampai saya mengakhiri pengabdian saya di lingkungan TNI, karena keadaan, saya lima tahun lebih awal untuk meninggalkan TNI, dipensiun dengan undang-undang sekarang barangkali saya 8 tahun lebih cepat dari seharusnya saya mengakhiri masa bakti saya di lingkungan TNI. Yang ingin saya sampaikan perjalanan panjang itu, bahkan sampai sekarang, ketika saya mengemban amanah bangsa dan negara memimpin negeri dan pemerintahan ini.

Pertama, ada tiga hal yang saya lakukan, dan saya yakin para perwira senior juga melakukan hal yang sama. Pertama, sejak saya menjadi letnan dua, seperti kalian besok hari, maka sejak itu saya berikrar, bertekad, dan sungguh menjalankan untuk bertugas dan berdinas yang terbaik. Yang terbaik, apapun tugas dan jabatan yang diberikan. Dimana pun tugas dan jabatan itu dilakukan.

Contoh, saya selalu menerima dengan penuh semangat tugas apapun yang diberikan. Saya tidak pernah pilih-pilih tugas, jabatan dan tempat bertugas. Sebagai seorang perwira Angkatan Darat, sama saya tentu memiliki perjalanan sebagai seorang komandan, antara lain pernah memimpin Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara di Kostrad. Saya pernah menjadi staf, saya pernah menjadi guru militer, saya pernah menjadi dosen, saya pernah menjadi staf pribadi. Biasanya banyak yang enggan menjadi guru militer, menjadi staf pribadi, saya lalui semua itu. Saya pernah 5 tahun bertugas di Timor Timur, tiga kali penugasan, di luar Jawa, di luar negeri sebagai bagian dari peace keeping mission. Tentu saja pengalaman yang bervariasi itu akhirnya, bagi kami, para perwira senior menambah pengalaman dan kapasitas.

Saya tidak ingin mendengar perwira remaja, perwira pilih-pilih jabatan, pilih tempat, pilih tugas. Apa yang kalian terima dari lembaga, dari pimpinan, dari atasan, suka atau tidak suka mesti dijalankan dengan sebaik-baiknya. Sanggupkah kalian menjalankan seperti itu? Terima kasih.

Kedua, sejak letnan dua, saya ingin terus belajar dan mengembangkan diri, mengasah kemampuan secara sendiri. Barangkali sampai sekarang, saya masih belajar, masih mengembangkan diri. Kalau kalian mengetahui, karier seorang perwira di lingkungan TNI dan POLRI biasanya berlangsung selama 30 sampai 35 tahun. Dalam bentangan waktu pengabdian 30 sampai 50 tahun itu, waktu kalian untuk mengikuti pendidikan, pelatihan, atau kegiatan sejenis untuk pengembangan diri, kalau dihitung-hitung paling lama 10 tahun. Empat tahun di akademi misalnya, ditambah pendidikan pengembangan, baik di dalam maupun di luar negeri misalnya, itu dijumlah tidak lebih dari 10 tahun, atau sama dengan sepertiga dari perjalanan karir kalian nanti.

Artinya apa? Negara, TNI, POLRI memberikan waktu sepertiga kepada kalian semua untuk dapat meningkatkan kemampuan sebagai perwira dengan jenjang kepangkatan dan jabatan yang lebih tinggi. Berarti 70% waktu harus kalian gunakan untuk mengembangkan diri sendiri, untuk terus belajar dari hari ke hari, untuk mencapai kemampuan yang lebih tinggi lagi. 30% lawan 70 %. Kalau kalian hanya mengandalkan 30% saja, setelah itu puas, setelah itu pasif, easy going, asal-asalan, maka kemungkinan untuk berhasil ya 30%. Tetapi kalau kalian padukan antara apa yang diberikan oleh negara, oleh TNI dan POLRI ditambah dengan self development, upaya yang gigih dari orang-seorang untuk meningkatkan kapasitasnya, maka peluang keberhasilan menjadi lebih tinggi, bisa di atas 70%. Pilih mana, cukup dengan 30%, atau kalian ingin juga mengembangkan diri untuk mencapai hasil ataupun prestasi yang lebih baik? Pilih yang 30 % atau yang 100 %? Baik. Itu yang kedua.

Yang ketiga, ini akan dialami oleh semua. Barangkali sebulan setelah dilantik pun, kalian sudah bisa mengalami. Setahun kemudian, 5 tahun kemudian, 10 tahun kemudian, 15 tahun kemudian dan seterusnya, sepanjang karier mungkin sepanjang hidup. Kalian sebagaimana para senior kalian, kami semua dulu, selalu menghadapi tantangan, permasalahan, ujian, bahkan kita juga pernah mengalami kegagalan-kegagalan. Wajar dalam perjalanan karier sekali-kali kita tidak berhasil, failed, gagal. Tentu saja harapan kita, banyak berhasilnya, banyak suksesnya dibanding kegagalannya. Oleh karena itu, karena itu hampir pasti datang, tantangan, ujian, cobaan, persoalan, yang kadang-kadang sangat berat untuk diatasi, untuk dihadapi, maka resepnya adalah kita semua, kalian nanti harus bermental baja, bermental kuat, tegar, gigih, ulet, tidak cengeng, tidak mudah menyerah, tetapi menghadapi dengan segala kegigihan untuk mengatasinya. Saya bertanya lagi, sanggupkah kalian nanti untuk tetap tegar, berikhtiar, gigih, menghadapi semuanya itu? Sanggup?

Camkan betul-betul. Ingat pada tanggal 22 Desember 2009, Presiden kalian yang juga satu almamater mengatakan, bahwa hanya orang yang bermental kuat, bermental baja, menghadapi goncangan, cobaan, dan ujian, seperti itulah yang Insya Allah akan diberikan jalan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, berhasil dalam karier dan pengabdiannya.

Semua itu para Taruna, para Taruni, kelak para senior, termasuk saya alami dan lalui. Bahkan saya tidak mengada-ada pada tingkatan saya pun sekarang ini masih tetap berpedoman pada tiga kunci untuk menuju keberhasilan seperti itu. Ini kesempatan yang baik, kebetulan di tengah-tengah kita ada kakak-kakak kalian, yang kemarin menjadi ADC saya, ADC Presiden selama 5 tahun. Saya ingin, saya minta nanti untuk berbagi cerita secara sangat singkat, supaya kalian sungguh mengetahui, bahwa saya pun yang telah menjadi Presiden misalnya tetap belajar tidak pernah berhenti, tetap harus menguatkan hati, pikiran ketika menghadapi berbagai persolalan yang pelik. Dan hal-hal seperti itu yang dulu telah, mulai saya rintis, para senior rintis sejak pertama kali berdinas pada pangkat pertama sebagai perwira. Mudah-mudahan ada di sini, coba Laksamana Pertama Didit ASAP. Beliau jabatannya apa? Guspurlah ya. Dit, coba ceritakan benar nggak yang namanya seorang Presiden itu masih terus belajar, mengasah diri, mengembangkan kemampuan, coba apa yang kau rasakan, kau lihat sendiri selama 5 tahun menjadi ADC saya. Silakan.

Laksamana Didit
Terima kasih Bapak Presiden. Atas seijin Bapak Presiden, ijinkan kami menyampaikan kepada Taruna, Bapak. Pengalaman kami selama 5 tahun mendampingi Bapak sebagai Ajudan Presiden, banyak sekali yang kami terima dari Bapak, baik yang kami lihat, kami perhatikan, maupun kami alami. Sampai dengan saat ini, Bapak Presiden tidak pernah berhenti belajar dalam mengembangkan diri, terutama bilamana di kala sibuk ataupun lebih sekali pun beliau tetap membaca, baik berupa buku-buku, berupa majalah. Dan bilamana dalam keadaan libur ataupun hari minggu di kala senggang, beliau menyempatkan diri juga baca majalah, koran dan lain sebagainya. Hal-hal inilah yang kami terima dan kami lihat selama ini, bahwa belajar, belajar, dan belajar dalam mengembangkan diri. Demikian Bapak secara singkat kami sampaikan.

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih. Saya hanya ingin kalian yakin, bahwa bagi seorang perwira, bahkan selesai masa bakti pun tidak boleh kita pernah berhenti untuk belajar. Karena hidup inilah universitas yang abadi, hidup dan kehidupan kita. Laksamana Didit mengerti karena 5 tahun tahu suka dan duka berbagai persoalan yang pelik yang dihadapi oleh seorang Presiden. Coba yang dari polisi Brigade Jenderal Polisi Putut Bayuseno. Mana? Jabatannya apa Kapolri? Wakapolda Metro Jaya. Coba ceritakan sama enggak dengan yang dirasakan Didit tadi.

Brigade Jenderal Polisi Putut Bayuseno
Terima kasih Bapak Presiden. Adik-adik para Taruna, Taruni sekalian yang saya hormati dan saya banggakan. Tadi disampaikan, bahwa Bapak Presiden tidak pernah berhenti belajar. Dan belajar beliau tidak hanya dengan membaca buku, tetapi juga menonton televisi. Setiap malam, setelah semua kegitan selesai kira-kira jam 12 atau jam 1 malam, beliau menyampaikan, ayo kita beristirahat. Kemudian saya menunggu 1 jam setelah itu, tetapi saya tidak langsung ke kamar istirahat saya, saya intip, saya dengarkan dibalik pintu, ternyata beliau masih nonton TV. Pertama, mungkin CNN, National Geographic Channel atau Discovery Channel, kalau agak sorean sedikit Bapak Presiden menonton siaran SCTV yang judulnya “Kiamat Sudah Dekat”. Dengan menonton TV seperti yang saya sampaikan tadi, beliau sangat menguasai dan mengetahui kejadian-kejadian yang ada di belahan dunia lain.

Ada satu pengalaman yang sangat menbanggakan bagi saya, pada saat beliau mengikuti KTT G-20 di London. Di tengah-tengah kesibukan acara KTT, beliau sempat untuk memberikan ceramah di LSE, London School of Economic. Materi yang dibawakan pada saat itu adalah mengenai demokrasi, ekonomi, dan politik luar negeri Indonesia. Setelah sesi tanya jawab, di luar dugaan, semua pertanyaan hanya sedikit yang menyangkut tentang Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan oleh civitas akademika dari berbagai penjuru dunia, masalah Kosovo, masalah Afganistan, masalah Palestina dan semuanya dijawab dengan baik oleh beliau dengan solusi-solusi yang jitu.

Selesai melaksanakan ceramah di LSE, beliau kembali ke hotel. Kami satu kendaraan, satu mobil dengan salah satu pengawal beliau yang dari Kepolisian London New Scotland Yard namanya Alex. Dia menyampaikan kepada saya, Presiden kamu hebat sekali. Semua pertanyaan-pertanyaan dijawab dengan solusi-solusi yang tepat dan diselingi dengan joke-joke yang segar. Itulah kebanggaan saya pada saat itu. Mungkin Adik-adik para Taruna, Taruni pada saat itu apabila bersama-sama juga akan merasakan hal yang sama dengan saya.

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih. Poin saya adalah kalian membaca, belajar bisa membaca. Koran, majalah, teksbook, buku-buku, silakan, atau akses ke dunia maya, men-dowload apa yang ada dalam website, lewat internet, silakan. Tapi bagi yang suka nonton televisi juga ada, seperti masalah pengetahuan, ya BBC Knowledge, Discovery, seperti itu. Bisa ditempuh berbagai cara untuk belajar, tentu makin tinggi jabatan, naik kapten kalian, naik kolonel kalian, naik brigjen kalian, pada pimpinan puncak tentu lebih luas lagi yang harus diketahui. Saya misalnya tentu harus mengetahui apa yang terjadi di dunia, terjadi di Asia, terjadi di negeri kita, karena cakupan saya seperti itu. Kalian tentu tidak harus seperti itu. Tapi budaya belajar, kebiasaan belajar, kebiasaan membaca, kebiasaan menonton tayangan-tayangan yang punya pengetahuan dan bukan hanya sinetron semata. Sinetron yang ada pelajaran moralnya, pelajaran nilai juga baik ditonton, itu kehidupan, tapi jangan hanya itu, mengerti maksud saya? Belajar, belajar, dan belajar.

Gunakan kesempatan yang ada, mungkin nanti begitu berdinas, entah di Kepolisian, di Angkatan Darat, Laut, Udara sampai kapten barangkali, akan penuh utuh menjalankan tugas, bertemu anak buah, belajar memimpin, berlatih ini dan itu, mungkin sedikit sekali waktunya. Tetapi tetaplah membangun budaya untuk belajar dan belajar. Jangan begini, nanti sajalah kalau kapten saya akan genjot, sudah kapten nanti kalau letkol, habis-habisan untuk menambah ilmu saya. Sampai letkol nanti saja kalau saya sudah brigjen. Barangkali tidak sampai brigjen, karena kalian menunda, menunda, dan menunda. Persiapkan sedini mungkin belajar dan belajar.

Yang diceritakan oleh kedua ajudan tadi bagaimana cara saya belajar. Yang lain, para senior yang berhasil sekarang ini juga punya cara sendiri-sendiri untuk belajar. Tapi yang jelas, saya ingin, karena saya menitipkan masa depan bangsa dan negara nantinya kepada putra-putri bangsa, generasi muda, termasuk kalian, termasuk generasi muda non militer dan non TNI, yang mereka juga memiliki peluang yang sama dengan kalian, masa depan Indonesia yang lebih baik. Kalau tidak mempersiapkan diri dengan belajar dan belajar, saya tidak yakin, kalian siap untuk mengemban tugas yang tidak ringan. Baik, saya masih punya dua ajudan lagi.

Saya ingin ceritakan kepada taruna, supaya yakin bahwa siapa pun itu mengahadapi persoalan tiap hari, menghadapi ujian, tantangan dan rintangan. Seorang Presiden pun pernah galau, pernah marah, pernah kecewa, pernah frustasi, pernah tertantang. Sama, cuma tentunya tidak boleh larut, terhenti, dan tidak berbuat apa-apa untuk menghadapi semuanya itu. Oleh karena itu, biasakan kalau menghadapi seperti, seperti itu, hadapi lalui, atasi, jangan mundur, jangan berhenti, jangan surut. Saya punya dua ajudan lagi, tolong singkat saja. Marsekal Pertama Bagus Puruhito, Danlanud Halim, Halim Perdana Kusuma. Coba ceritakan kepada taruna apa yang kau rasakan.

Marsekal Pertama Bagus Puruhito
Yang terhormat Bapak Presiden, dengan seijin Bapak akan saya mencoba untuk menceritakan tentang apa yang saya alami dan saya lihat selama menjadi ajudan Bapak selama 5 tahun, utamanya kepada Taruna dan Taruni.

Para Taruna da para Taruni yang saya banggakan,
Selama 5 tahun, saya menjadi ajudan beliau, pada saat itu begitu banyak cobaan, tantangan dan ujian yang dihadapi oleh bangsa dan negara ini. Dan tentunya yang dihadapi oleh beliau sebagai Presiden Republik Indonesia. Saya melihat sendiri, bagaimana beliau menangani semua permasalahan itu, bagaimana beliau memutuskan persoalan-persoalan tersebut, ataupun memberikan direction-direction kepada para Menteri ataupun staf di bawah beliau.

Sebuah keputusan ada yang diambil pada saat itu juga atau instan, bisa melalui telepon, bahkan kadang pada saat atau waktu dan tempat yang kadang mungkin tidak semestinya. Sebagai contoh, pada jam 2 pagi, beliau pernah dibangunkan oleh ajudan, karena Juru Bicara Presiden, Dr. Dino Patti Djalal akan menyampaikan berita tentang disanderanya Muthia Hafizd, reporter dan cameraman Metro TV. Pada saat itu juga beliau menyanggupi untuk memberikan sebuah wawancara dengan Al-Jazeera. Hasilnya kita tahu semuanya, bahwa Muthia Hafidz dan cameraman dibebaskan.

Namun ada juga keputusan yang diambil melalui rapat staf, dalam sidang kabinet, setelah beliau menerima masukan dari staf, dari para menteri, dan akhirnya beliau memberikan sebuah keputusan atau direction. Bisa juga sebuah keputusan diberikan dalam waktu satu, dua hari, atau beberapa waktu dibutuhkan, karena beliau ingin memastikan bahwa apa yang akan diputuskan nanti, betul-betul tidak menabrak atau melanggar aturan undang-undang yang ada. Dan semata-mata benar-benar untuk kemashalatan masyarakat, bangsa, dan negara. Jadi end session-nya adalah sebuah keputusan yang beliau putuskan adalah benar-benar dilandasi dari sesuatu yang benar dan berdasarkan ketentuan dan undang-undang yang semata untuk kemashalatan bangsa dan negara ini. Saya kira secara singkat demikian Bapak Presiden.

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih, Mas Bagus. Pengalaman para senior yang lain juga berbeda-beda. Intinya begini Taruna dan Taruni, tidak ada istilah semuanya baik-baik saja, semuanya enak-enak saja, kalian melihat Panglima TNI, Kapolri, enak. Melihat Kasad, Kasal, Kasau, enak. Melihat gubernur, Akademi Militer, Akademi Angkatan Laut, Akademi Angkatan Udara, Akademi Kepolisian, Danjen TNI, ah enak. Melihat menteri, enak. Tidak. Semua selalu bahkan tiap hari menghadapi persoalan yang kompleks, tetapi tidak pernah melepaskan semuanya itu, apalagi takut, apalagi mundur. Saya pesan kalian nanti semua. Mulai besok, minggu depan barang kali, bulan depan, tahun depan, manakala menghadapi apapun persoalan, jangan tidak menghadapi dengan ketegaran, dengan semangat, dengan keyakinan bahwa semua itu bisa diatasi. Saya tidak ingin dengar cerita yang memalukan, lulusan akademi tidak tough menghadapi apapun permasalan yang dihadapi. Sanggup kalian? Baik.

Yang terakhir mana Brigjen Munir? Dia itu Kasdit Satu Kostrad, coba lengkapi apa yang kau rasakan. Coba bagaimana kadang-kadang saya sebagai manusia biasa meskipun Presiden harus menghadapi, kadang-kadang resikonya tinggi, kadang-kadang kompleks dan sebagainya. Di sini tidak puas, di sana tidak puas. Kalau pilih A yang sana marah, pilih yang B yang sini marah, tetapi harus kita ambil. Saudara juga begitu nantinya, ketika harus memilih ya memilih. Dan lupa tadi, waktu Marsekal Bagus mengatakan jam berapa pun, kita tidak boleh, ah jam sekian kok kita kerja, apalagi perwira pertama nanti. Jam kerja kalian 24 jam. Berapa? 24 jam, tidak ada yang merasa tengah malam dipanggil komandannya, subuh-subuh kok harus menangani persoalan. Around the clock. Kepolisian misalnya 24 jam, kejahatan tidak bisa diatur. Nanti biarlah lewat Sabtu dan Minggu, kejahatannya Senin saja, biar polisinya istirahat Sabtu dan Minggu, bisa nggak diatur seperti itu? Demikian juga TNI, Darat, Laut, dan Udara. Tidak ada alasan karena waktu, karena tempat, apapun kalau tugas datang dari atasan kalian, jalankan dan segera laksanakan. Pak Munir, silakan.

Brigjen Munir
Terima kasih Bapak Presiden. Yang terhormat Bapak Presiden. Mohon ijin kami menambahkan dari satu aspek, yang akan kami sampaikan kepada para Taruna yang berbahagia pada malam hari ini, yang besok akan dilantik menjadi perwira remaja. Satu aspek itu adalah aspek keimanan, aspek spritualitas. Kalau kita di sekolah dalam pelajaran, dalam satu pertempuran, peperangan, itu ada aspek-aspek yang dibandingkan, yaitu yang dinamakan perbandingan daya tempur relatif, yaitu aspek fisik dan aspek non fisik, di sini aspek non fisik, yaitu keimanan Bapak Presiden. Saya melihat sendiri. Kalau tadi disampaikan, kita bekerja 24 jam. Beliau setelah semua hal dilakukan dalam menghadapi suatu permasalahan yang sangat mencekam atau tadi digambarkan oleh Bapak Presiden, permasalahan itu tingkatannya adalah nasional dengan resiko yang sangat berat. Antara lain sebagai contoh, pada saat beliau mengambil keputusan akan menaikkan harga BBM. Itu adalah satu keputusan yang saya lihat sendiri sangat berat bagi beliau. Karena dengan dinaikkannya harga BBM, beliau menghitung betapa rakyat kecil itu akan semakin menderita. Itu saya melihat sendiri. Beliau sangat berat. Orang lain tidak melihat, tetapi saya melihat, itu sangat berat bagi beliau. Tetapi keputusan itu harus diambil, resikonya memang berat.

Tetapi beliau setelah dihitung dengan segala aspek, maka beliau akhirnya memutuskan, tetapi sebelum keputusan itu diumumkan, maka beliau memohon kepada Yang Maha Kuasa. Beliau berdoa, dan beliau juga sering melaksanakan shalat tahajud pada malam hari. Di situlah saya melihat satu aspek non fisik beliau, yaitu keimanan beliau yang tinggi dan akhirnya berserah diri. Karena beliau akhirnya, yang saya lihat itu segala sesuatu ini terjadi adalah karena semata kehendak Allah SWT, Tuhan Yang Maha Besar. Jadi itu, kami melihat selama 5 tahun ini, beliau dalam segala hal tidak melepaskan segala sesuatunya dari berdoa dan terakhir adalah berserah diri atau istilahnya adalah tawakal. Dan beliau sebagai seorang muslim, beliau malam kadang-kadang shalat tahajud, itu yang saya lihat. Terima kasih, mohon ijin.

Presiden Republik Indonesia
Kalian kelak akan mengalami, para senior kalian akan mengalami ketika harus mengambil resiko. Ketika harus mengambil keputusan yang mungkin kontroversial, ketika harus mengambil satu kebijakan yang mungkin di satu sisi ada positifnya, tapi di sisi yang lain ada negatifnya. Di situ pengalaman senior kalian termasuk saya, berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Setelah semua kita pertimbangkan, setelah semua kita lakukan untuk mengurangi hal-hal yang negatif dari keputusan itu. Kita berserah diri kepada Tuhan. Bisa gagal, bisa jatuh, bisa berhasil, tetapi saya yakin kalau semuanya dipikirkan masak-masak dengan memohon ridho Allah SWT akan diberikan jalan. Maksud saya, manakala kalian menghadapi sesuatu yang berat, tapi harus kalian tempuh di pertempuran, mengambil sesuatu, menegakkan hukum, mengejar penjahat, dengan resiko, serahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Di sini ada Pak Sudi Silalahi, beliau dalam keadaan kritis waktu saya menaikkan bahan bakar tahun 2005, memimpin doa bersama-sama, Bismillah setelah itu kita umumkan. Saya bersama Ibu Negara di tengah malam, kami berdzikir manakala menghadapi tantangan yang berat, keadaan, mungkin dari luar tidak ada yang merasakan, tapi dari dalam karena tanggung jawab, karena harus mengelola semua situasi.

Suka duka yang dialami oleh seorang presiden, sama yang dialami oleh para senior kalian, sama yang akan kalian alami nanti.

Dengan cerita saya tadi, saya hanya ingin mengatakan pada Saudara, tiga hal itu mutlak, belajar terus-menerus, kemudian menjalankan tugas sebaik-baiknya, do the best, do your the best, dan kemudian ketika menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan tetap tegar. Ada yang bertanya. Kalau begitu SBY itu apakah mulus-mulus saja, selalu berhasil, tidak ada masalah? Tidak. Saya sejak letnan dua sampai sekarang juga sering menghadapi masalah, tantangan, kadang-kadang tidak berhasil betul, mungkin ada yang miss di sana, mungkin ada yang miss di sini, harus saya koreksi, saya perbaiki, tetapi saya tidak pernah menyerah, tidak pernah berhenti dalam mencari solusi yang terbaik.

Dengan cerita saya malam hari ini, saya hanya ingin para perwira remaja, esok Insya Allah setelah saya lantik juga mengambil pelajaran dari senior-senior kalian yang sekarang mempimpin kalian semua. Para pejabat teras dan para pimpinan di jajaran TNI, termasuk saya sebagai senior kalian dengan suka duka, pasang surut, pengalaman-pengalaman yang kami lalui dan kami alami.

Para Taruna dan Taruni yang saya cintai,
Saya harus mengatakan kalian mulai besok sudah harus siap mengemban tugas. Siap? Tidak ada kata-kata tidak siap, pendidikan dan latihan yang kalian terima sudah cukup. Empat tahun atau tiga setengah tahun sekarang? Pendidikan mereka? Tiga setengah tahun sampai empat tahun sudah cukup. Jadi tidak ada alasan, kami merasa kurang dalam pendidikan, merasa kurang dalam pelatihan, sudah cukup. Mental kalian, fisik kalian, intelek kalian, juga sudah siap untuk mengemban tugas, tidak ada alasan, belum Pak, pengetahuan kami belum memadai Pak, tidak, sudah cukup. Menjelang pelantikan besok, saya juga sudah tahu sejak di kampus masing-masing, di akademi masing-masing, kalian sudah dibekali, diberikan arahan, dibimbing, dituntun oleh semua pengasuh kalian. Mulai dari perwira pertama, perwira menengah sampai perwira tinggi, itupun saya anggap sudah cukup. Jadi tidak akan saya panjang lebarkan, nanti atau besok dalam amanat saya, akan saya berikan arahan bagaimana ke depan melangkah lebih tegar dan kalian berhasil dalam pelaksanaan tugas.

Para Taruna dan Taruni yang saya cintai,
Pada kesempatan yang baik ini, karena Saudara sudah menerima pembekalan seluruhnya dari para atasan, pengasuh, pembimbing dan pembina. Saya ingin menyampaikan beberapa isu penting untuk diketahui, baik apa yang akan berlangsung dan terjadi di negeri kita maupun pada tingkat dunia. Sekarang tahun 2009, sebentar lagi 2010. Saya akan bercerita secara ringkas negara kita 10, 20 tahun mendatang akan seperti apa. Dunia kita 10, 20 tahun mendatang juga akan seperti apa. Maksud saya, ketika kalian memulai perjalanan karir, mulai mengemban tugas esok hari sampai rentangan waktu 10, 20 tahun mendatang pahamilah, bahwa dunia dan negeri kita terus berubah, akan terus berlangsung perubahan-perubahan besar dan perubahan mendasar. Dengan pengetahuan ini, saya tidak ingin kalian merasa disoriented, kehilangan arah, kehilangan keyakinan, tidak paham what’s going on in our country, in our world. Dengan demikian, ada kesiapan mental kalian, mempersiapkan diri dan tidak menghadapi apa yang disebut dengan future shocks, goncangan masa depan. Ini penting karena kalian akan terus bergerak ke depan sepanjang karier dan perjalanan kehidupan kalian semua nanti.

Negeri yang kita cintai ini telah 10 tahun melaksanakan reformasi, benar? Sepuluh tahun yang lalu kita mengalami krisis yang luar biasa, luar biasa. Negara kita terjatuh ekonominya, politiknya, keamanannya, hukum, hubungan antar bangsa dan sebagainya. Sepuluh tahun ini pula sejak krisis sampai sekarang bangsa kita berusaha dan berupaya sekuat tenaga untuk memulihkan keadaan. Alhamdulillah dengan ridho Allah SWT, dengan kebersamaan, persatuan dan kerja keras kita, dengan reformasi yang kita lakukan selama 10 tahun ini, saat ini negara kita jauh lebih baik dibandingkan kondisi 10 tahun yang lalu. Bahkan ketika mulai tahun lalu dan tahun ini, dunia mengalami krisis global, krisis perekonomian global, Indonesia dinilai oleh dunia sebagai negara yang berhasil mengelola dampak krisis itu. Itu semua terwujud, karena selama 10 tahun kita melaksanakan reformasi dengan benar. Karena ketika ada krisis tahun lalu dan tahun ini, kita bersatu, lebih kompak, bergerak cepat, bergerak tepat dan akhirnya kita menemukan solusi-solusi.

Sepuluh tahun mendatang, kita ingin melanjutkan reformasi ini, sepuluh tahun mendatang pula agenda penting yang akan dijalankan oleh bangsa kita adalah pertama-tama pembangunan mesti terus dilanjutkan, utamanya pembangunan ekonomi, agar dengan ekonomi yang tumbuh kesejahteraan rakyat dapat ditingkatkan. Agar ekonomi bisa terbangun dengan baik diperlukan lingkungan yang kondusif untuk itu, apa misalnya politik yang stabil, keamanan di seluruh tanah air yang baik, masyarakat yang tertib, hukum yang tegak dan semua pra kondisi dan kondisi yang memungkinkan pembangunan ekonomi dapat dilaksanakan dengan baik. Ekonomi tumbuh harapan kita kesejahteraan rakyat terus-menerus kita tingkatkan. Pembangunan, development, itu akan menjadi agenda penting pada reformasi gelombang kedua ini. Perjalanan kita 10 tahun mendatang.

Agenda besar yang kedua tiada lain adalah demokratisasi. Kita telah menjadi negara demokrasi nomor tiga terbesar di dunia sekarang ini. Kebebasan telah mekar, hak azasi manusia telah dilindungi dan makin ditingkatkan. Tetapi demokrasi ini mesti kita kawal untuk lebih mapan, lebih matang, sehingga mendatangkan manfaat yang disebut dengan consolidated democracy. Sepuluh tahun mendatang kita akan menghadapi dinamika perjalanan demokrasi kita. Saya ingin bangsa Indonesia menjalankan demokrasi dengan benar, dengan etika, dengan akhlak, dengan moral, dengan tata cara yang baik sambil menghormati pranata hukum, rules. Rules and freedom harus berjalan bersama-sama. Ini agenda kedua yang akan kita hadapi sebagai bangsa.

Sedangkan agenda yang ketiga adalah, bangsa kita sedang mengalami transformasi, perubahan-perubahan yang fundamental, menyangkut civilization, menyangkut perilaku kehidupan masyarakat, menyangkut wawasan dan sebagainya. Dan itu diniscayakan oleh globalisasi, dinisacayakan, karena negara kita juga terus berkembang dan berubah. Oleh karena itu, catat baik-baik, 10 tahun mendatang ketika kalian dengan gigih menjalankan tugasnya masing-masing di lingkungan TNI dan POLRI, apapun jabatan dan tugasnya nanti dimana pun kalian bertugas. Ada agenda besar, ada arus besar, ada dinamika besar menyangkut 3 hal tadi, pembangunan, demokrasi, dan tranformasi kehidupan bangsa yang terus berlanjut.

Ketika kita menjalankan agenda-agenda besar itu, saya bertanya kepada para Taruna dan Taruni, apakah dunia tempat kita hidup ini tenang-tenang saja? Apa juga mengalami perubahan yang juga fundamental? Yang mana? Berubah, tidak kaku, tidak statis, itulah sebabnya tidak mungkin sebagai bangsa hanya melihat diri kita sendiri tanpa melihat sekeliling kita. Asia Tenggara, Asia Pasifik, dunia, apalagi kita hidup dalam era globalisasi.

Saya akan cerita yang terakhir, bagaimana 10 tahun mendatang ketika kita sebagai bangsa melakukan perubahan-perubahan besar itu. Dunia atau lingkungan dunia akan berkembang seperti apa. Saya ingin bertanya dulu. Globalisasi itu membawa ancaman dan tantangan, atau membawa peluang? Dengarkan lagi, globalisasi itu menghadirkan ancaman, tantangan, threats and challenges atau menghadirkan opportunity, chance, kesempatan, mana yang betul? Bimbang dan ragu. Yang betul globalisasi itu membawa dua-duanya. Setuju? Ada tantangan, ada ancaman, kita lawan, kita tegak, kita bendung. Jangan merusak kita punya jati diri, kita punya kepribadian, kita punya kehidupan. Tapi peluang ada, ada technology, ada know-how, ada capital, banyak sekali yang bisa kita kerjasamakan. Oleh karena itu, terhadap globalisasi jangan gamang, jangan takut. Mengerti?

Dunia berubah dan akan terus berubah, masyarakat sedunia masih berusaha keras untuk menciptakan perdamaian dan keamanan dunia, international peace and security. Sudah aman dan damai belum dunia kita? Belum. Oleh karena itu, akan banyak dinamika, akan banyak upaya, akan banyak kerjasama untuk menciptakan dunia yang lebih dan damai dan lebih aman. Lihatlah Timur Tengah, Afganistan, Irak, Palestina, Afrika dan tempat-tempat lain yang masih bergejolak konflik dan peperangan.

Ekonomi, ekonomi dunia aman-aman saja atau juga menghadapi tantangan-tantangan baru. Jawab? Ya, baru saja kita diberikan pelajaran besar, ternyata ekonomi dunia yang selama ini kita anut juga tidak bebas dari ancaman. Kita sedang memperbaiki. Indonesia sekarang masuk G-20 ikut memperbaiki arsitektur atau tatanan perekonomian dunia, supaya lebih adil, supaya tidak mudah jatuh dalam krisis dan sebagainya. Sepuluh tahun ke depan dunia akan masih melakukan upaya yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki tatanan dan praktek perekonomian dunia.

Yang ketiga, demokrastisasi menjalar ke seluruh belahan bumi, tetapi banyak juga penolakan, dan ancaman dari demokrasi dan berkembangnya nilai-nilai universal. Oleh karena itu, masih akan ada benturan-benturan, termasuk crash of civilization, benturan akan peradaban karena universalisasi dan demokrasi itu. Siap-siap saja 10 tahun mendatang barangkali dunia tempat kita hidup ini juga menghadapi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan gerakan demokrastisasi dan universalisasi itu.

Dan yang terakhir, dunia kini disadarkan, disibukkan dengan dipaksa untuk betul-betul peduli terhadap lingkungan. Kalian tahu yang disebut climate change, tahu? Kalian tahu bahwa bumi makin panas atau global warming? Itulah sebabnya dunia sekarang meskipun agak telat mulai bersatu untuk menyelamatkan buminya. Saya dan para menteri, para gubernur, baru pulang dari Kopenhagen, Denmark untuk menghadiri Konferensi PBB tentang perubahan iklim. Saya ingin bukan hanya dunia, tapi Indonesia benar-benar juga peduli pada lingkungan, tapi yang ingin saya sampaikan perubahan iklim juga menjadi isu besar pada tingkat dunia.

Para Taruna dan para Taruni,
Itulah isu-isu besar dunia yang mempengaruhi semua bangsa, juga terhadap bangsa Indonesia, yang bangsa Indonesia 10 tahun mendatang akan menjalankan agenda-egenda besarnya pula. Itu adalah lingkungan strategis, strategic environment yang akan berpengaruh bagi kita semua. Tapi pesan saya jalankan tugas masing-masing dengan sebaik-baiknya nanti, tetapi jangan kaget, jangan gagap kalau negara kita dan dunia kita akan menghadapi banyak dinamika sedangkan terjadi perubahan-perubahan mendasar, sebagaimana yang saya sampaikan tadi.

Dengan Penjelasan itu, para Taruna dan para Taruni, saya sekali lagi, berharap bulatkan tekad kalian. Dan saya minta kalian yakin diri dan siap untuk mengemban tugas mulai esok hari setelah saya lantik, dan saya bersama para pimpinan TNI dan POLRI, senior-senior kalian mendoakan, agar karier kalian berhasil dengan baik. Dan dari kalian semua muncul pemimpin-pemimpin TNI dan POLRI yang handal, yang unggul, yang menjadi pilar kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Demikian pada saatnya selamat bertugas.
Terima kasih.

Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan