Pidato Presiden
Sambutan Peringatan Ke-81 Hari Ibu
TRANSKRIPSI
PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERINGATAN HARI IBU KE-81
SASONO LANGEN BUDOYO-TMII, 22 DESEMBER 2009
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya cintai Ibu Negara dan Ibu Herawati Boediono yang dicintai oleh Pak Boediono.
Saya bersalah kalau dalam Puncak Peringatan Hari Ibu, tidak menyebut nama kedua Beliau.
Yang saya hormati para Pimpinan Lembaga-lembaga Negara, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, para Gubernur, Bupati dan Walikota yang hadir pada acara hari ini, para Pimpinan Organisasi Kewanitaan, para Aktivis Gerakan Kaum Perempuan dan tentu saja yang saya muliakan para Sesepuh dan para Pendahulu dari Gerakan Kaum Wanita Indonesia,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang bersejarah dan Insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak sekali lagi, untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita semua masih diberikan nikmat kesempatan, kekuatan dan semoga kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta.
Kita juga bersyukur, pada hari ini dapat bersama-sama memperingati Hari Ibu ke-81 tahun 2009. Atas nama, negara, pemerintah dan selaku pribadi kepada seluruh kaum Ibu di tanah air, saya mengucapkan, ”Selamat Hari Ibu”. Saya juga mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk memberikan penghormatan yang tertinggi kepada kaum ibu atas jasa, peran, dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara, kepada masyarakat, dan bahkan pada keluarga-keluarga di negeri tercinta ini.
Tadi saya mengikuti dengan seksama acara yang ditampilkan oleh Ibu-ibu, mulai dari pembacaan teks Pancasila, pembacaan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan pembacaan sejarah pergerakan kaum wanita di Indonesia, ditambah dengan hymne Hari Ibu. Saya sungguh bersyukur dan menyampaikan penghargaan yang tinggi, karena apabila kita semua selalu mengingatkan kepada bangsa Indonesia, bahwa kita memiliki 4 pilar dasar dalam kehidupan bernegara, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika ditambah kita memberikan apresiasi terhadap para pendahuu kita, dengan cara kita mempelajari sejarah yang ada di negeri ini, maka saya yakin, kita semua yakin menghadapi tantangan, ujian dan cobaan seperti apapun bangsa kita, negeri kita, Insya Allah bangsa dan negara Indonesia akan tetap tegak dan makin berjaya di masa depan. Meskipun kita hidup dalam era reformasi, dalam era globalisasi yang ditandai oleh berbagai perubahan, tetapi ingat konsensus dasar, pilar-pilar kehidupan bernegara haruslah tetap kita junjung tinggi dan kita amalkan dalam melaksanakan pembangunan di negeri ini dan dalam kehidupan bernegara di berbagai bidang.
Hadirin yang saya hormati,
Bulan Desember ini benar-benar menjadi bulannya kaum wanita, kaum perempuan, Ibu-ibu. Pada tanggal 30 November, 1 hari sebelum bulan Desember, kita memperingati 10 tahun Komnas Perempuan. Komnas Perempuan itu harus dibaca Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Kaum Perempuan. Kemudian pada tanggal 2 Desember, Ibu-ibu menyelenggarakan Kongres Kowani. Pada tanggal 7 Desember, Ibu-ibu menyelenggarakan Munas Dharma Wanita. Dan hari ini, alhamdulillah 22 Desember, kita menyelenggarakan peringatan Puncak Hari Ibu.
Dari 4 kegiatan penting yang berkaitan dengan kaum wanita yang dihajati dan diselenggarakan oleh Ibu-ibu sekalian, saya ingin menyampaikan secara sangat singkat apa saja yang saya sampaikan selaku Kepala Negara kemarin pada tiga kegiatan yang penting itu.
Pada 10 Tahun Komnas Perempuan, saya mengingatkan sekali lagi, bahwa kita semua, termasuk kaum perempuan sendiri harus terus-menerus melaksanakan yang saya sebut dengan perlindungan, pemajuan, dan pemberdayaan kaum perempuan di berbagai bidang kehidupan. Protection, promotion and empowerment harus terus-menerus kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Pada saat itu pula, saya katakan, belajar dari pengalaman masa lalu, belajar dari kealpaan dan kesalahan kita sebagai bangsa, marilah kita bertekad ke depan untuk mencegah dan memerangi berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi, utamanya kepada kaum perempuan. Itu adalah yang saya sampaikan kemarin.
Dalam Kongres Kowani, 2 hal yang saya ingatkan sesuai dengan tema kongres bahwa kita semua, utamanya kaum perempuan harus sangat peduli bagi pencapaian Millennium Development Goals atau MDGs. Saya ingatkan kembali 8 tujuan pembangunan millennium yang menjadi tekad manusia sejagad, yang akan kita capai Insya Allah pada tahun 2015 mendatang, untuk mengurangi berbagai kekurangan pada masalah-masalah kemanusiaan, itu harapan kita bisa kita capai.
Tujuan pertama, yaitu kita ingin terus mengurangi secara tajam yang disebut dengan kemiskinan yang ekstrim dan kelaparan. Yang kedua, kita ingin benar memberantas buta aksara dan memberikan pendidikan dasar bagi warga negara. Ketiga, ini yang sangat relevan dengan Hari Ibu, yaitu kita benar-benar ingin menjunjung tinggi keseteraan gender dan pemberdayaan perempuan. Yang keempat, kita ingin mengurangi jumlah kematian anak di bawah 5 tahun. Yang kelima, kita ingin mengurangi jumlah kematian ibu pada saat melahirkan. Yang keenam, kita ingin memerangi berbagai penyakit menular, HIV/AIDS, malaria, demam berdarah, tuberculose dan sebagainya. Kemudian yang ketujuh, kita ingin memelihara lingkungan. Dan yang kedelapan, kita menyelenggarakan kerjasama global, kerjasama internasional, agar semua tujuan Millennium Development Goals itu bisa kita capai. Saya ingin karena ini sangat berkaitan dengan kaum perempuan dan anak-anak, termasuk saudara-saudara kita yang belum sejahtera, marilah kita jadikan satu tema perjuangan besar ke depan ini pencapaian MDG, terutama bagi rakyat yang kita cintai.
Dalam Kongres Kowani itu, saya ingatkan juga bahwa Kowani harus terus melaksanakan adaptasi sesuai dengan tuntutan jaman. Dan bahkan berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh Kowani dengan jajarannya, saya berikan apresiasi dan untuk terus dilanjutkan misalnya Gerakan Tanam dan Pelihara Pohon, Diversifikasi Pangan, Ekonomi Kreatif bekerja sama dengan Ibu Negara dengan SIKIB dan berbagai organisasi yang lain. Itu saya sampaikan dalam Kongres Kowani.
Dalam Munas Dharma Wanita, saya garis bawahi kembali komitmen kita, langkah nyata kita untuk mencapai MDGs. Juga karena Dharma Wanita pada umumnya adalah organisasi istri dari abdi negara, jajaran pemerintah utamanya, saya berharap untuk terus melaksanakan kegiatan yang kontributif bagi keberhasilan tugas pemerintahan, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, propinsi, kabupaten dan kota.
Saya juga ingin Keluarga Besar Dharma Wanita waktu itu, untuk makin gigih di dalam melaksanakan kegiatan yang langsung dirasakan oleh masyarakat luas, terutama sekali kaum perempuan dan anak-anak, termasuk kesehatan masyarat, Kredit Usaha Rakyat untuk menggerakkan ekonomi mikro, kecil dan menengah. Dan yang terakhir, waktu itu saya sampaikan tentunya Keluarga Besar Dharma Wanita juga harus ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat dimana mereka berada dan kesejahteraan anggotanya sendiri.
Tiga hal yang, ulangi 3 kegiatan penting yang saya sebutkan tadi, termasuk apa yang saya harapkan bagi organisasi kewanitaan, saya angkat kembali pada forum yang mulia ini, menunjukan bahwa ada sejumlah tantangan dan tugas besar yang harus kita laksanakan dengan cara meningkatkan persatuan, kebersamaan dan kerja keras kita semua.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Hari ini, kita memperingati Puncak Peringatan Hari Ibu, sedikit berbeda tentunya dengan 3 kegiatan yang telah saya sebutkan tadi. Paling tidak ada 3 perspektif yang harus kita angkat ketika kita memperingati Hari Ibu. Yang pertama adalah perspektif kesejarahan. Beda dengan negara lain, Hari Ibu barangkali lebih berkonotasi hari ditaburkannya rasa kasih sayang, kaum perempuan yang menyayangi sesama, menyayangi putra-putri, menyayangi semua kita balas dengan taburan kasih sayang. Di luar negeri disebut dengan Mother’s Day. Kami banyak menerima SMS, yang intinya berupa wahana untuk berbagi kasih sayang. Itu salah satu bagian dari Peringatan Hari Ibu.
Tetapi Peringatan Hari Ibu di Indonesia memiliki cakupan yang lebih luas, karena ada perspektif kesejarahan. Karena perjuangan perempuan sejak era pergerakan, perjuangan fisik atau revolusi para tahun 1945, dan setelah itu berbagai peran dalam pembangunan bangsa tentulah harus kita berikan penghormatan dan penghargaan yang tinggi yang menjadi bagian utuh dari peringatan Hari Ibu yang kita laksanakan setiap tahun.
Yang kedua, tentunya berkaitan dengan Mother’s Day tadi sudah saatnya bangsa ini memiliki peradaban yang makin tinggi. Bangsa yang civilized, disamping menjauhi kekerasan adalah bangsa yang pandai memberikan penghormatan dan berterima kasih. Siapa yang kita patut berterima kasih memberikan penghormatan dan meletakkan tempatnya secara mulia dalam dignity yang tinggi, tiada lain adalah ibu, kaum ibu, kaum wanita. Saya ingin masyarakat kita yang makin memiliki peradaban yang tinggi sungguh meletakkan kemuliaan seorang ibu pada tempatnya yang benar.
Perspektif yang ketiga adalah, bagaimana tantangan yang dihadapi oleh bangsa kita, oleh kaum ibu, untuk membangun hari esok yang lebih baik. Apa yang disampaikan oleh Saudari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tadi, juga menyiratkan bahwa kita menghadapi sejumlah tantangan, tapi sekaligus misi yang harus kita sukseskan bersama-sama ke depan.
Bapak, Ibu, Hadirin yang saya hormati,
Tema Hari Ibu tahun lalu, kalau masih ingat, waktu itu adalah tentang karakter dan budi pekerti bangsa. Tema itu masih relevan, masih sesuai dengan apa yang hendak kita bangun di negeri ini. Demokrasi mengedepankan kebebasan. Kebebasan memang ruh dari demokrasi, seperti juga hak-hak azasi manusia. Dan kita ingin mengawal terus mekarnya kebebasan, perlindungan pada hak azasi manusia dan nilai-nilai demokrasi di negeri tercinta ini. Karena ini adalah pilihan yang benar.
Sekaligus saya mengingatkan, bahwa demokrasi yang hendak kita bangun, kebebasan yang hendak kita lakukan adalah demokrasi dan kebebasan yang beretika, yang berakhlak, yang berbudi pekerti sesungguhnya. Oleh karena itu, marilah melalui pergerakan kaum perempuan dan ibu-ibu, benar-benar kita bangun negara kita untuk memiliki karakter dan budi pekerti yang luhur. Tentunya perilaku fitnah, berkata-kata kasar, melampau batas, tentu akan menggangu kehidupan kita yang kita harapkan kehidupan yang tentram, saling hormat-menghormati, tetap dinamis, sambil melakukan sesuatu yang terbaik bagi masyarakat bangsa dan negara kita.
Ingat Saudara-saudara, bahasa menunjukkan bangsa. Peradaban bangsa sumber kemajuan. Kita bisa melihat negara-negara lain yang telah berhasil maju, faktor utamanya adalah mereka memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Great civilization. Kita memiliki akar-akar peradaban yang bisa terus kita perkuat, agar benar-benar suatu saat peradaban kita juga makin unggul dan makin mulia.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Tema Hari Ibu tahun 2009 ini adalah ”Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki dalam Pembangunan Nasional”. Kesetaraan sedikit berbeda dengan pengarusutaman, satu equity, satu mainstreaming. Tapi dua-duanya sesungguhnya tidak bisa dipisah-pisahkan. Oleh karena itu, saya baca, saya pahami, tema yang berjudul ” Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki dalam Pembangunan Nasional” di dalamnya, termasuk pengarusutaman gender dalam kehidupan berbangsa.
Ini masalah yang mendasar, yang fundamental, tetapi tolong mari kita lihat secara utuh, jangan sepotong-sepotong. Kalau melihat masalah sepotong-sepotong, kita akan keliru. Tapi kalau utuh, Insya Allah, akan lebih jernih melihat permasalahan itu, kita mengetahui mana yang kurang, mana yang sudah oke, dan apa yang harus kita lakukan ke depan.
Yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan tema tersebut adalah tepat pada Hari Ibu sekarang ini, kita melakukan refleksi dan evaluasi, sejauh mana kesetaraan gender di Indonesia ini makin kita majukan. Kita harus punya ukuran. Kita tidak boleh bicara sekedar bicara, tanpa ukuran yang dapat kita pertanggungjawabkan. Cara mengukur sebuah kemajuan bisa dilihat dari 2 segi.
Yang pertama, membandingkan kesetaraan gender sekarang ini dengan masa-masa sebelumnya, di waktu yang lalu di negeri kita. Atau yang kedua, membandingkan kesetaraan gender dan pengarusutaman kaum perempuan ini dengan negara-negara berkembang yang lain. Tentu akan berbeda, kalau kita membandingkan diri kita dengan negara-negara maju yang sudah ratusan tahun merdeka dan membangun negerinya.
Kalau kita dekati dari 2 penglihatan itu, maka seraya saya mengucapkan terima kasih kepada semua gerakan kaum perempuan di negeri ini, terima kasih dan hormat saya kepada para sesepuh, pendahulu yang telah berjuang tanpa mengenal lelah dari tahun ke tahun, dari periode ke periode, maka sesungguhnya saya boleh mengatakan makin setara, antara apa yang negara sediakan atau berikan kepada perempuan maupun kaum laki-laki dalam pembangunan, makin. Yang kedua tentunya, kalau kita jujur akibat perjuangan para ibu, kaum perempuan kita juga, setapak demi setapak makin maju. Harus tepuk tangan. Kalau kita mensyukuri nikmat Allah, Allah akan berikan lagi sesuatu yang lebih baik bagi kaum perempuan.
Tapi mainstreaming, tadi saya bicara kesetaraan, equality of the opportunity, pemberian kesempatan, apakah di parlemen, apakah di dunia bisnis, apakah di civil society, apakah di pemerintahan, menurut saya makin setara. Persoalannya adalah bagaimana kita semua dalam hati kita, dalam mindset kita benar-benar tidak pernah melupakan kaum perempuan ketika kita memberikan kesempatan dalam posisi dan profesi apapun, mainstreaming, pengarusutaman.
Benar kata Ibu Agum Gumelar tadi, statistik mengatakan di pemerintahan, pada tingkat kabinet, dari 33 Menteri, 5 menteri dari kaum perempuan. Tetapi saya sendiri merasa di waktu yang akan datang mesti ditingkatkan lagi. Mesti ditingkatkan lagi. Oleh karena itu, kaum perempuan harus siap-siap untuk memasuki perahu kabinet, tentunya dengan integritas dan kapasitas yang tidak kalah dengan kaum lelaki. Saya yakin Ibu-ibu punya integritas dan kapasitas yang tidak kalah dengan kaum laki-laki.
Di parlemen, di kepemimpinan MPR, di kepemimpinan DPD, di DPR sendiri telah muncul tokoh-tokoh perempuan kita. Pimpinan daerah, gubernur, wakil gubernur, bupati, walikota sudah makin banyak yang dijabat oleh kaum perempuan. Duta besar makin banyak, bahkan diplomat kita 50% sekarang adalah kaum perempuan. Bisnis, para pimpinan dunia usaha tidak sedikit dan kebanyakan sukses dalam memimpin dunia usaha. Civil society, aktivis banyak sekali kaum perempuan. Luar biasa, Saya bangga. Tetapi ini masih harus terus kita lanjutkan, sehingga lebih banyak lagi di waktu yang akan datang peran, posisi dan pengabdian kaum perempuan di berbagai bidang pembangunan.
Saudara-saudara,
Pertanyaan kritis kemudian adalah ke depan bagaimana kita memastikan bahwa gender equity, kesetaraan gender dan mainstreaming kaum perempuan dalam pembangunan atau pengarusutaman, itu terus berlanjut, makin kokoh dan makin meningkat. Tiga hal yang kita lihat. Pertama adalah memastikan bahwa instrumen perundang-undangan, yaitu konstitusi, undang-undang dan peraturan daerah memang mengarus-utamakan kaum perempuan dan tetap anti diskriminasi, serta memiliki kesetaraan gender. Saya meyakini bahwa Undang-Undang Dasar kita telah memberikan keadilan bagi semua untuk berkontribusi dalam pembangunan. Undang-undang yang kira-kira belum kuat dalam gender equity dan mainstreaming kaum perempuan ini terus kita sesuaikan. Saya berharap, peraturan-peraturan daerah demikian juga harus merujuk pada konstitusi dan undang-undang. Itu dari segi instrumen.
Yang kedua adalah kebijakan atau policy. Jangan sampai pemerintah, pemerintah daerah, lembaga-lembaga negara yang lain, dalam mengembangkan policy tidak sesuai dengan tekad besar kita untuk kesetaraan gender dan pengarusutaman kaum perempuan ini.
Yang ketiga, justru bagaimana sikap, pandangan dan perlakuan masyarakat itu sendiri. Ini berkaitan dengan nilai, adat, kultur, civilization, dan sebagainya. Ini menjadi tugas besar bangsa, tugas besar kita semua di luar jangkauan pemerintah untuk mengubah secara cepat apa yang berkembang di masyarakat luas kalau itu berkaitan dengan nilai atau values, perilaku atau behaviour, dan bagaimana cara pandang masyarakat terhadap kaum perempuan. Saya yakin melalui pendidikan terus-menerus, melalui sosialisasi, melalui kiprah dari kaum perempuan itu sendiri, masyarakat kita akan juga memiliki komitmen, sikap, pandangan, dan penghormatan yang makin baik terhadap peran wanita di berbagai bidang, profesi, dan pembangunan. Itu 3 strategi yang harus kita lakukan ke depan, memastikan bahwa tema besar ini dapat kita implementasikan.
Tadi disebut tentang perlindungan anak, saya berterima kasih kepada para Pimpinan Lembaga Negara, para Menteri yang telah menandatangani Memorandum of Understanding, bagaimana kita bisa meletakkan anak-anak kita secara tepat dari aspek kemanusiaan, dari aspek pendidikan, dari aspek tanggung jawab, meskipun seringkali harus berkaitan dengan hukum. D
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 1 Ayat 3 disebutkan, negara Indonesia adalah negara hukum. Sesungguhnya siapa pun memiliki kesamaan di depan hukum. Namun kita bisa melihat dari perspektif yang lain. Yang saya maksudkan adalah anak-anak kita bisa saja belum memahami hukum, kemudian melakukan sesuatu yang ternyata itu pelanggaran hukum dan bahkan tindak pidana. Oleh karena itu, menyadari semuanya itu dan kita tidak rela begitu banyak anak-anak kita meringkuk dalam penjara yang akan mengubah memorinya seumur hidup, maka tanggung jawab orang tua, tanggung jawab kita, tanggung jawab ibu-ibu, jangan biarkan anak-anak kita tersesat, anak-anak kita terlibat dalam berbagai pelanggaran atau kejahatan yang akhirnya menghancurkan masa depan mereka. Mari kita dekati dari ranah pencegahan, pendidikan, kasih sayang, kepedulian, tanggung jawab kepada mereka. Ini yang lebih tepat, yang lebih baik. Dengan demikian, menyelamatkan anak-anak kita, seraya kita juga menegakkan keadilan dan tegaknya hukum di negeri kita ini.
Saya masih punya harapan dengan kebangkitan kita semua, kepedulian dan kesadaran kita, kita bisa mencegah terjerumusnya anak-anak kita dalam pelanggaran hukum, yang akhirnya bisa meletakkan mereka dalam proses perjalanan kehidupan atau karier yang tidak semestinya.
Dalam kabinet sekarang ini, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan saya tambahkan satu portfolio Perlindungan Anak. Ini membuktikan tidak bisa dipisahkan antara perlindungan terhadap kaum perempuan dan perlindungan terhadap anak.
Saudara-saudara,
Terakhir dalam kesempatan yang baik ini, tahun lalu saya ingatkan bahwa dunia sedang menghadapi krisis besar. Waktu itu, para ibu masih ingat, ada krisis pangan, ada krisis energi, ada krisis keuangan yang akhirnya menjadi krisis perekonomian, dan krisis lingkungan, climate change. Saya katakan menghadapi krisis, bangsa Indonesia, utamanya kaum perempuan tidak boleh pasif, tidak boleh apatis, tapi harus berikhtiar, berjuang dengan gigih untuk menjadi bagian didalam melawan krisis itu.
Saya masih punya catatan apa yang saya sampaikan tahun 2008 yang lalu. Saya ingatkan lagi, waktu itu, sikap kita menghadapi krisis dunia yang berdampak langsung kepada negara kita. Pertama, jangan panik. Yang kedua, yakin diri kita bisa mengatasi, lebih bersatu, melangkah bersama, bekerja lebih keras, bukan justru saling salah-menyalahkan, dan berkontribusi apa saja yang bisa mengatasi masalah. Saya minta kaum ibu waktu itu, teruslah melaksanakan kegiatan diversifikasi pangan. Jangan karena kita mengimpor gandum, kedelai yang harganya makin naik, lantas kita tidak bisa mengembangkan yang kita miliki sendiri. Untuk membikin mie instant misalnya, kita bisa mencampurkan antara tepung terigu dengan sukun, dengan sagu, dengan singkong dan sebagainya. Penghematan energi di seluruh tanah air. Kaum ibu paling bisa untuk mendisiplinkan penggunaan energi. Ekonomi kreatif yang sudah berkembang dimana-mana dan gerakan tanam serta pelihara pohon.
Alhamdulillah, akibat kerja keras, kerja cepat, dan kebersamaan kita waktu itu, oleh dunia, saya ulangi oleh dunia, Indonesia dianggap sebagai negara yang dapat meminimalkan dampak krisis perekonomian ini. Terima kasih saya kepada kaum perempuan dan Ibu-ibu sekalian. Itu adalah sejarah. Mari kita petik pelajarannya manakala kita bersatu, tidak panik, tapi bekerja, berikhtiar, Allah akan beri jalan untuk menyelesaikan krisis dan menyelamatkan perjalanan negeri kita.
Yang terakhir sekali adalah, climate change. Saya baru kembali dari tugas negara bersama para menteri, para gubernur, terutama para gubernur yang memiliki hutan, berangkat ke Copenhagen, Denmark untuk bersama-sama dengan negara lain mencari rumusan, mencari kerangka kerjasama untuk menyelamatkan bumi kita. Saya ingin menjelaskan ini berulang-ulang. Mungkin Ibu-ibu pernah mendengarkan penjelasan saya, tapi tidak apa-apa. Karena ini begitu penting.
Kalau dunia gagal untuk mengatasi perubahan iklim, maka bumi akan makin panas. Kalau bumi makin panas, misalnya sampai tahun 2050, suhu bumi karena global warming melebihi 2o C, maka iklim yang ekstrem akan terjadi di belahan bumi ini, termasuk antara lain kenaikan permukaan air laut lebih dari 1,5 meter. Kalau air laut naik satu setengah meter, 17 ribu pulau yang kita miliki, barangkali ribuan pulau akan tenggelam. Jangan main-main, kita harus sangat serius. Untuk siapa? Untuk anak cucu kta, untuk masa depan kita. 2050 barangkali sebagian dari kita sudah dipanggil oleh Allah SWT. Tapi anak cucu kita belum, Insya Allah.
Oleh karena itu, tanggung jawab moral kita berpikir bagi semua. Relakah terjadi sesuatu yang sangat dahsyat di dunia ini, termasuk di negara kita. Itu contohnya. Oleh karena itu, semua upaya kita lakukan mengurangi terus terjadinya pemanasan global. Caranya, ya emisi kita kurangi. Yang menyebabkan emisi apa, pengelolaan hutan yang serampangan, pembabatan hutan, illegal logging, lahan-lahan gambut secara serampangan dibiarkan saja, kemudian kebakaran hutan tidak dicegah dan diperangi, dan banyak sekali, itu masalah hutan. Penggunaan bahan bakar yang melebihi, yang dibakar dari fosil fuel kita, limbah yang begitu saja tidak dikelola dan banyak lagi. Karena kelalaian umat manusia, karena kerakusan, karena keserakahan manusia di bumi ini, sehingga terjadi emisi. Emisi harus kita kurangi. Caranya bikin baik pengelolaan hutan, pengelolaan limbah, penghematan bahan bakar, dan sebagainya. Siapa yang harus melakukan, semua bangsa, utamanya negara-negara maju, negara yang kaya, negara yang memiliki teknologi, negara yang dulu telah terlalu banyak mengeluarkan emisi di dunia ini. Termasuk negara kita meskipun kita negara berkembang, perlu kesadaran untuk anak cucu kita. Dan negara maju wajib membantu negara berkembang, karena tidak memiliki teknologi, tidak memiliki uang yang cukup untuk menyelamatkan lingkungannya.
Itulah yang kita bahas kemarin di Copenhagen. Alot, tidak mudah, pagi, siang, sore, malam sampai subuh, kami merumuskan. Alhamdulillah, meski belum bulat benar, Copenhagen Accord dapat diwujudkan, yang harus kita tindak lanjuti tahun depan, sehingga tahun 2012 nanti ada protokol baru, ada aturan baru, ada kesepakatan baru, menyelamatkan bumi untuk periode mendatang. Yang saya inginkan dilakukan oleh Indonesia, yang saya mohonkan dipelopori oleh kaum perempuan adalah sekali lagi, yang saya sampaikan tadi sukseskan gerakan tanam dan pelihara pohon.
Pemerintah sedang menghitung, kalau kemarin One Man One Tree. Man itu dalam arti person. Nanti dikritik oleh Ibu Linda Agun Gumelar, kok bukan One Woman and One Man One Tree. One Man dalam arti One Person One Tree, itu berarti sekitar 230 juta tiap tahun kita tanam. Yang sedang kami rencanakan, kita pikirkan, kita rumuskan, Insya Allah lebih dari itu. Pemerintah sendiri, mulai tahun depan, kita bisa menanam sekitar 500 juta tanaman. Kalau 500 juta ditanam oleh non pemerintah, oleh perusahaan-perusahaan atau swasta, oleh masyarakat luas, bantuan dari negara-negara maju, maka kita bisa menanam satu tahun 1 milyar pohon untuk negeri kita. Ini sedang kita rumuskan implementasinya, pembiayaannya, dan sebagainya.
Saya menggarisbawahi, mari kita sukseskan ibu-ibu, karena kalau pohon ada dimana-mana, CO2 yang ada di udara bisa kita serap. Namanya carbon captured, carbon sink, kita serap semua oleh hutan, oleh tumbuh-tumbuhan itu, sehingga kalau ada yang keluar yang namanya emisi dibandingkan yang diserap, maka netonya perbandingannya nanti positif. Insya Allah, disamping Indonesia makin hijau, makin indah, makin sehat, makin rapih, tetapi juga bisa menyelamatkan bumi kita.
Itulah yang secara khusus saya mohonkan kepada kaum perempuan, Pimpinan Kowani ada di sini, Pimpinan Dharma Wanita ada di sini, dan semua organisasi kewanitaan, dan saya mohonkan para sesepuh juga ikut memberikan nasihat dan dorongan, dengan demikian semuanya bisa berjalan dengan baik.
Akhirnya, mari terus kita majukan kaum perempuan. Protection, promotion, and empowerment. Mari terus kita kembangkan pengarusutamaan gender dan pemerintah mesti berada di depan. Ini harapan saya, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa mendengarkan niat baik kita, melindungi kita, menuntun perjalanan bangsa kita menuju hari esok yang lebih baik.
Sekian.
Wassalamua’alaikum warahmatullahi wabaraktuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



