Pidato Presiden

Sambutan Penganugerahan Upakarti Bidang Industri

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PENGANUGERAHAN UPAKARTI
28 DESEMBER 2009
ISTANA NEGARA



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Panglima TNI yang mewakili Kapolri,
Yang saya hormati para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, para Gubernur, para Bupati dan para Walikota, para Pimpinan Dunia Usaha, para Penerima Tanda Penghargaan dan para Inovator yang Insya Allah pada saatnya nanti juga akan menerima tanda penghargaan,

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi, memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberikan kesempatan dan kekuatan untuk terus membangun negeri kita, termasuk pembangunan di sektor industri, termasuk pula berbagai upaya inovasi untuk memajukan kehidupan bangsa kita, utamanya perindustrian nasional kita. Atas nama negara dan pemerintah, serta selaku pribadi, saya mengucapkan selamat kepada semua yang telah mendapatkan penghargaan tadi. Saya mengucapkan terima kasih, saya juga bangga atas prestasi yang telah diraih oleh Bapak, Ibu dan Saudara-saudara sekalian.

Tadi Menteri Perindustrian telah menyampaikan kepada kita semua, ada empat jenis penghargaan yang Alhamdulillah telah saya serahkan tadi. Pertama adalah Upakarti. Yang kedua Rintisan Teknologi Industri. Yang ketiga adalah Disain Terbaik Indonesia. Dan yang keempat adalah Kreasi Prima Mutu. Yang semuanya tentu produk dari kepedulian, kerja keras, inovasi dan kreativitas dari Saudara semua, yang akhirnya negara dalam hal ini, pemerintah memberikan tanda penghargaan sebagai wujud dari terima kasih dan apresiasi kami semua.

Di berbagai kesempatan, Saudara-saudara, saya sering mengatakan bahwa kita ini, masyarakat kita juga hemat dalam kata lain barang kali pelit untuk mengucapkan terima kasih atau memberikan penghargaan kepada pihak lain. Kalau menyalahkan cepet-cepetan biasanya. Idenya banyak, kreatif kalau menyalahkan, menghujat, mengkritik, meskipun itu bisa menjadi obat. Karena kalau kritik itu tepat sasaran, tepat isu yang dikritik tentu berterima kasih. Ibarat orang yang sakit, dikasih obat meskipun rasanya pahit, jadi sembuh. Dengan catatan sering saya ingatkan pula, ibarat obat, dosisnya harus tepat, jenis obatnya harus tepat, kepada pasien yang tepat. Yang sakit A yang dikasih obat B, malah sakit. Obatnya harusnya satu hari tiga kali, dikasih pagi sepuluh, siang sepuluh, malam sepuluh, tambah sakit, salah obat juga demikian.

Dan tampaknya adil dalam kehidupan ini yang lalai diberikan sanksi, teguran, yang salah mendapatkan, entah hukuman, entah apapun atas kesalahannya itu, tentu tujuannya adalah mendidik. Tetapi yang berjasa, yang berprestasi, tentu kita berikan penghargaan. Kalau itu terjadi di sini banyak gubernur, bupati, dan walikota, kalau kepada masyarakat yang Bapak, Ibu pimpin dibegitukan, mereka akan termotivasi, berbuat yang terbaik, menghindari perbuatan yang tidak baik. Karena tahu tadi itu ada reward dan ada punishment, ada penghargaan, ada hukuman.

Saudara-saudara,
Ingat saya pemberian tanda penghargaan serupa untuk periode pemerintahan yang lalu dilaksanakan awal Januari, jadi terlambat sedikit. Untuk pemerintahan periode kedua ini, periode terakhir saya sebagai Presiden diberikan pada akhir tahun. Jadi setahun dua kali. Dan sewaktu saya menyerahkan tanda penghargaan awal tahun ini, di tempat ini, saya menyampaikan waktu itu dimana letak, atau peran, atau makna dari inovasi dari berbagai prestasi yang dilakukan oleh para penerima penghargaan itu dalam upaya memajukan perekonomian kita, dalam upaya meningkatkan capaian industri kita.

Pada kesempatan yang baik hari ini, secara singkat juga akan saya sampaikan hal-hal yang berkaitan dengan itu, agar Saudara-saudara semua yakin bahwa yang dilakukan oleh Saudara benar-benar memiliki peran yang penting dengan harapan banyak pula para inovator, para pemimpin, para peneliti di berbagai bidang, utamanya di bidang industri juga berlomba-lomba untuk berkontribusi dalam pembangunan perekonomian, terutama pembangunan perindustrian nasional kita.

Saya ingin menyampaikan dua pertanyaan kunci sebagai pintu masuk, agar kita benar-banar menyadari bahwa inovasi itu sangat penting, termasuk inovasi teknologi. Pertama, pertanyaan yang ingin saya sampaikan barangkali ada yang masih ragu-ragu, apakah arah dan strategi pembangunan ekonomi kita ini sudah benar? Itu yang pertama. Kita harus punya keyakinan bahwa arah, strategi, dan kebijakan perekonomian kita benar, termasuk apakah telah diuji ketika dunia mengalami krisis sekarang ini.

Pertanyaan yang kedua kemudian, apakah dalam era teknologi informasi konon kita sudah memasuki era informasi. Apakah sektor industri itu tetap penting seperti pada saat masyarakat dunia masih berada dalam tahapan gelombang kedua, yaitu masyarakat industri. Alvin Toffler pernah mengatakan bahwa dalam peradaban umat manusia di dunia ini, konon ada tiga gelombang kemajuan. Yang pertama adalah masyarakat pertanian, gelombang pertama. Setelah terjadi revolusi industri mulai dari Inggris, Eropa pada abad ke-18 masuklah masyarakat industri menandai gelombang kedua kemajuan peradaban manusia. Kemudian pada tahun 70-an atau 80-an begitu teknologi informasi berkembang sangat cepat. Apakah di dunia sipil maupun di dunia kemiliteran, maka dikatakan banyak negara maju telah memasuki era gelombang ketiga, yaitu masyarakat informasi. Meskipun seolah-seolah yang awal itu pertanian meningkat menjadi perindustrian, meningkat menjadi informasi, maka pertanyaannya saya ulangi lagi, apakah industri tetap penting sebagai pilar dalam perekonomian sebuah negara?

Jawaban terhadap dua pertanyaan itu Saudara-saudara, yang pertama tadi menyangkut arah, kebijakan dan strategi ekonomi kita. Jawabannya benar, ya. Saudara masih ingat, sejak awal tahun 2005 yang lalu, saya telah menyampaikan ke hadapan rakyat Indonesia, bahwa ekonomi sebuah bangsa yang hanya mengejar pertumbuhan semata ternyata gagal, untuk betul-betul mensejahterakan rakyatnya, terutama di negara-negara berkembang developing countries.

Kita juga punya pengalaman di waktu yang lalu, demikian juga negara-negara lain yang dianggap berhasil, pertumbuhannya tinggi, tetapi ternyata kesenjangan antara yang miskin dengan yang kaya, antara yang maju dengan yang terbelakang justru bertambah lebar. Oleh karena itulah, sejak itu, kita mengubah paradigma pembangunan itu kita bukan hanya mengejar pertumbuhan, tetapi sekaligus sejak awal kita ingin memastikan bahwa pertumbuhan itu betul-betul inklusif, tumbuh untuk semua. Bukan hanya kelompok tertentu saja yang tumbuh penghasilannya, ekonominya, yang lain tidak. Tetapi dikandung maksud growth with equity, pertumbuhan disertai pemerataan yang benar-benar dilaksanakan, itulah yang kita pilih menjadi semacam kebijakan dasar perekonomian kita.

Sejak itu Saudara telah mengenal, mendengar, bahwa strategi ekonomi kita adalah strategi tiga jalur, triple track strategy. Pertama, ekonomi harus tumbuh, harus. Bangsa manapun, negara manapun yang ekonominya tidak tambuh tidak akan bisa mengangkat kehidupan masyarakatnya, tidak akan sejahtera, harus. Tetapi, itu jalur pertama. Jalur kedua, kita juga ingin pengangguran terus berkurang. Jalur ketiga, kemiskinan terus berkurang. Jadi kalau ditanya apakah strategi perekonomian kita? Saya ulangi lagi tiada lain adalah pertumbuhan, lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan, growth, job dan poverty reduction, pengurangan kemiskinan. Itu masih tetap berlaku ditambah dengan terjadinya krisis perekonomian global yang terjadi tahun lalu, sekarang pun masih belum sepenuhnya usai.

Ada pelajaran besar yang kita petik, ternyata perekonomian sebuah negara yang hanya mengandalkan ekspor atau ekonominya tergantung dari pasar dunia, itu juga rentan terhadap krisis. Contohnya, di tahun-tahun sekarang ini, tahun lalu, tahun ini, banyak negara yang berjatuhan. Oleh karena itulah, kita makin yakin, bahwa salah satu kebijakan dasar kita untuk memperkuat perekonomian dalam negeri, perekonomian domestik, perekonomian daerah, termasuk pasar di dalam negeri itu sendiri menjadi sangat penting dan bisa menjadi sabuk pengaman ketika dunia mengalami krisis. Ini jawaban terhadap pertanyaan pertama tadi, apakah arah, strategi dan kebijakan ekonomi kita sudah benar.

Yang kedua, apakah masih relevan, masih tetap penting sektor industri? Jawabannya iya. Tetapi ingat, perekonomian nasional kita tetap punya tiga pilar. Satu, ya pertanian, dua, perindustrian, tiga, jasa. Mungkin Singapura tidak ada pertaniannya, industrinya barangkali sedikit, langsung jasa, jasa keuangan, jasa perdagangan, jasa transportasi, jasa asuransi, jasa pariwisata dan sebagainya. Demikian juga barangkali Hongkong dan negara-negara lain. Tetapi Indonesia penduduknya 230 juta, wilayahnya delapan juta kilometer persegi, ¾ lautan, ¼ daratan, sumber daya alamnya besar, tentu merugi kalau kita tidak memperkuat ketiga pilar itu, yaitu pertanian, perindustrian dan jasa. Cuma bedanya dengan datangnya era teknologi informasi, maka pertanian, perindustrian, dan jasa itu harus mengadopsi, harus menjalankan teknolgi, termasuk teknologi komunikasi dan informasi yang bisa meningkatkan daya saingnya, produktivitasnya, dan efisiensinya. Bedanya di situ, tapi tetap relevan. Contoh mengapa industri penting, 230 juta ingin membeli barang, kalau industri kita lemah, yang dibeli adalah produk industri luar negeri, bisa, harganya lebih mahal, karena ditambah ongkos dari negara x ke negara kita dan faktor-faktor lain.

Kalau industri kita hidup, kita punya pasar, 230 juta dan masih akan bertambah penduduk kita dengan penghasilan yang makin meningkat dari tahun ke tahun dengan daya beli yang makin baik pula. Oleh karena itu, bagi industriawan, tetaplah, sebagaimana yang bergerak di pertanian, menyadari bahwa bagi Indonesia ketiga-tiganya menjadi pilihan. Intinya kalau Saudara baca, saya dengar dari pertanian, industri langsung melompat ke informasi. Katanya industrinya tidak akan dibangun secara besar-besaran, cukup sebagaimana yang ada sekarang, meskipun masih ada peningkatan, itu India. Mungkin Tiongkok lain lagi, Jepang jelas lain. Tetapi Indonesia, saya punya keyakinan bahwa tiga-tiganya sangat penting untuk kita pertahankan dan terus kita perkuat.

Hadirin yang saya hormati,
Sektor industri dalam kata lain tetap memiliki prospek yang baik dengan catatan, dengan catatan, apa yang kita hasilkan semua industri di dalam negeri, apakah pabrik, apakah tekstil, sepatu, makanan, apalagi tadi, pupuk, gula, apapun itu harus dicocokkan dengan kebutuhan, permintaan yang dalam ekonomi di sebut demand. Jangan sampai kita hanya memproduksi terus tiap hari, jutaan, atau ratusan ribuan ton, tapi tidak dihitung siapa yang beli. Pertama-tama, harus berorientasi kepada demand, kepada market, di mana marketnya, di dalam negeri dan di luar negeri. Negara yang sangat tergantung pada ekspor hanya menggantungkan dijual di luar negeri, kita sekali lagi ada dua pilihan, kita jual di luar negeri dan kita jual di dalam negeri. Namun dalam rencana kita membangun industri, termasuk industri menengah dan kecil, berorientasilah kepada market, kepada permintaan, di provinsi-provinsi, di kabupaten-kabupaten, di kota-kota, ada permintaan lokal. Bagus kalau apa yang dihasilkan disesuaikan dengan kebutuhan di situ. Lebih dijual di provinsi yang lain. Kalau itu kompetitif, dijual di luar negeri. Tapi mari kita ingat, kita cocokkan dengan keperluan atau demand. Syarat pertama seperti itu agar industri kita makin bagus masa depannya, syarat yang kedua produktif, efisien, inovatif.

Pabrik yang sama, pabrik sepatu, karyawannya sama, misalnya Indonesia dengan Tiongkok, dengan Vietnam, satu hari bekerjanya sama, sekian jam. Kalau pabriknya sama, mesinnya sama, apa tadi karyawannya jumlahnya sama, mungkin gajinya relatif sama, satu hari bekerja sekian jam sama, kalau yang dihasilkan di Tiongkok itu misalkan 1.000 pasang sepatu, Vietnam 700 pasang sepatu, Indonesia hanya 500 pasang sepatu, berarti kita kalah dalam produktivitasnya. Kalah produktif dibandingkan Tiongkok dan Vienam. Kalau kalah produktif, nanti begitu dijual sepatu itu mungkin murah buatan Tiongkok, lebih murah buatan Vietnam dibandingkan buatan kita. Oleh karena itu, syarat yang kedua produktif, efisien, jangan boros-borosan, inovatif, jangan produknya itu-itu saja. Bicara inovatif Saudara jawabannya, Saudara contohnya, Saudara yang merintis, agar kita terus mengembangkan produk-produk industri kita.

Saudara-saudara,
Inovasi itu macam-macam, tapi industri saya kira tadi akan syarat dengan inovasi teknologi, research, penelitian, pengembangan, discovery dan sebagainya. Bagi yang memproduksi barang, supaya laku barangnya, supaya dibeli besar-besaran, supaya tidak kalah dalam persaingan, hampir pasti kita berusaha sekuat tenaga, agar yang kita produksi ini, atau biaya produksinya untuk menghasilkan entah sepatu, entah apa namanya pakaian, entah kerajinan, apapun, itu ongkos produksinya makin murah, cheaper. Kalau ongkos produksinya makin murah, menjualnya juga tentunya tidak akan mahal sekali, laku. Yang kedua, jangan sekedar murah-murahan, kualitasnya tetap baik, bahkan lebih baik, better. Yang ketiga yang tadinya, satu hari hanya sepuluh produk satu orang mungkin akhirnya bisa lebih banyak, hingga lebih cepat menghasilkan atau faster. Sebuah industri, sebuah perusahaan yang memproduksi barang lebih murah ongkosnya, lebih cepat jadinya, tetap baik atau lebih baik, hampir pasti bersaing dengan manapun, dengan produk manapun, baik saingan kita luar negeri maupun luar negeri akan tidak kalah kita.

Itulah sebetulnya kunci dari inovasi dan Indonesia terkenal dengan industri kreatif, kita punya keunggulan di situ. Tadi penerima penghargaan banyak yang bergerak di industri kreatif, ekonomi kreatif. Itu juga sangat ditopang oleh kemampuan berkreasi dan berinovasi. Tolong jangan disimpan ilmunya, jangan kita simpan keunggulan dan kelebihan rakyat kita, terus berlomba-lomba untuk menjadi inovator, agar ekonomi kreatif kita, industri kreatif kita juga makin meningkat.

Saudara-saudara,
Dengan penjelasan seperti itu, saya kira sekarang Saudara yakin bahwa kalau ingin maju negara kita, bangsa Indonesia harus inovatif. Orang-seorang, perusahaan demi perusahaan, daerah demi daerah, akhirnya secara nasional, Indonesia disebut bangsa yang inovatif, bangsa yang kompetitif, bangsa yang produktif.

Saudara-saudara,
Sasaran pembangunan kita lima tahun mendatang, Insya Allah dengan kerja keras kita bersama-sama, kita ingin namanya sasaran, mudah-mudahan tidak ada krisis-krisis lagi di dunia ini yang berpengaruh pada negara kita, tahun 2014 akhir, perekonomian kita sudah tumbuh 7%, persis seperti sebelum krisis tahun 1998 yang lalu. Ini tujuan kita, sasaran kita.

Yang kedua, kita ingin pengangguran, orang yang nganggur, 2014 akhir jumlahnya tidak lebih dari 5 sampai 6% saja, itu baik kalau negara itu penganggurannya begitu. Dalam krisis negara-negara maju, Eropa, Amerika berjatuhan 10, 11 % yang menganggur banyak. Kita ingin 2014 pengangguran itu angkanya sekitar itu, kalau bisa kita capai, luar biasa.

Dan yang ketiga yang terakhir kemiskinan, yang Alhamdulillah terus turun, kerja keras kita, kerja keras para gubernur, bupati, walikota dan semua elemen masyarakat, dunia usaha, akademisi, civil society, semua. Kita ingin tahun 2014 nanti, kemiskinan kita pada angka 8 sampai 10% saja. Sasaran itu tidak mudah, tapi Insya Allah bisa. Kalau benar-benar kita bekerja keras, situasi nasional tidak gonjang-ganjing terus, kemudian dunia tidak bolak-balik menghadirkan krisis, syaratnya itu, lingkungannya kondusif untuk mencapai sasaran-sasaran itu. Cara mencapai sasarannya, saya ingatkan kembali supaya ekonomi tumbuh, ya investasi jalan, ekspor meningkat, belanja pemerintah tepat digunakan pusat maupun daerah, konsumsi masyarakat terus kita dorong, teknologi kita hadirkan, human capital, semua, termasuk para pekerja, karyawan, itu juga meningkat. Kalau itu terjadi terus meningkat, pertumbuhan perekonomian hampir pasti meningkat.

Cara mencapai pengurangan pengangguran, teorinya Saudara kalau ekonomi tumbuh pengangguran turun. Ekonomi turun, pengangguran naik. Itu hukum ekonomi yang terjadi di seluruh dunia juga seperti itu. Maka mari kita jaga betul ekonomi kita terus tumbuh. Manufaktur makin tumbuh, menyedot tenaga kerja baru, pabrik-pabrik, industri, makanya Menteri Perindustrian punya tugas yang berat 5 tahun mendatang supaya manufaktur kita, itu berkembang, sehingga menyerap para pekerja-pekerja yang selama ini masih menganggur. Pemerintah membangun infrastruktur besar-besaran 5 tahun, misalkan industri energi, listrik, dan pembangkit listrik maksud saya, jalan, jembatan, pelabuhan, semua infrastruktur, itu menyerap tenaga kerja. Mari kita pastikan pembangunan infrastruktur terus terjadi. Usaha mikro kecil dan menengah menyerap tenaga kerja, tadi IKM, Kreasi Prima Mutu, itu lebih banyak mengarah ke situ, tolong, tolong didorong terus agar itu juga menciptakan lapangan pekerjaan.

Sedangkan yang terakhir cara mengurangi kemiskinan bagaimana Saudara-saudara? Yang sangat miskin, yang tidak berdaya betul pemerintah bantu. Itulah program-program pro-rakyat yang terus kita pertahankan jumlahnya makin besar, bantu mereka. Yang sudah mulai berdaya, yang kondisinya sudah makin baik, ya kita berikan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan. Tadi itu lapangan pekerjaan, usaha mikro kecil dan menengah dan sebagainya. Saya kira kalau itu dijalankan betul Saudara-saudara, Insya Allah 2014 sasaran-sasaran itu dapat kita capai.

Dan yang terakhir ini penting, banyak gubernur, bupati, dan walikota, termasuk yang tidak hadir di sini, melalui media massa tolong sekali-sekali, direktif ataupun harapan Presiden dimuat supaya di daerah-daerah bisa mendengarkan, bahwa ada tugas besar bangsa ini untuk betul-betul meningkatkan perekonomian kita. Agar usaha mikro, kecil dan menengah tumbuh, agar industri menengah dan kecil tumbuh, syarat yang pertama, modal harus bisa didapatkan, akses pada kredit usaha, akses pada modal.

Modal itu sudah saya sampaikan beberapa kali, ada cara mendapatkan kredit yang konvensional yang berlaku selama ini, berikan. Ada juga Kredit Usaha Rakyat yang sebagian jaminannya ditanggung oleh pemerintah dan jumlahnya akan besar 5 tahun mendatang karena bisa mencapai 100 trilyun untuk 5 tahun mendatang. Gunakan akses untuk mendapatkan kredit modal seperti itu. Saya berharap disukseskan, bank-bank menyukseskan, pemerintah daerah ikut mendorong, memberikan penjelasan. Menteri-menteri terkait perbaiki kebijakan, mekanisme, dan tata caranya. Agar niat yang baik ini betul-betul memberikan bantuan modal kepada para pengusaha mikro, kecil dan menengah. Itu yang pertama.

Yang kedua, ya kembali daya saing, jangan pernah berhenti berinovasi. Yang ketiga, perusahaan-perusahaan besar, saya ingatkan kembali. Perusahaan-perusahaan besar, gandenglah, bermitralah, ajaklah industri kecil itu, usaha mikro, kecil dan menengah itu, sehingga menjadi satu kesatuan perekonomian nasional. Jangan jalan sendiri, melupakan mereka, padahal mereka bisa menghidupi, bisa menyelamatkan banyak hal di negara ini, terutama di waktu krisis. Saya menghimbau betul, banyak yang bisa bermitra dengan industri-industri besar.

Dan yang terakhir adalah bantuan pemerintah daerah. Saya setiap kali bertemu dengan gubernur, bupati, dan walikota. Saya dengar upayanya untuk betul-betul mendorong bangkitnya perindustrian kita, terutama usaha mikro kecil dan menengah. Saya berharap terus dilanjutkan itu, dengan demikian 5 tahun mendatang sasaran yang telah kita tetapkan dapat kita capai.

Saudara-saudara,
Itulah yang ingin saya sampaikan. Saya menjelaskan secara utuh, sekarang dan 5 tahun mendatang, apa yang akan dilakukan oleh kita, pemerintah kita, bangsa kita, kemudian syarat-syarat apa agar kita berhasil, terutama di bidang perindustrian, perekonomian. Dan yang terakhir mengapa inovasi sebagaimana yang Bapak, Ibu lakukan itu menjadi penting dalam rangka terus meningkatkan perekonomian kita. Dengan semua hal yang telah saya sampaikan itu sekali lagi, terimalah ucapan terima kasih, selamat dan penghargaan saya. Mari terus kita berusaha keras bersama-sama untuk meningkatkan keberhasilan pembangunan kita.

Terima kasih, selamat kembali ke daerah, selamat berjuang.
Tuhan beserta kita.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan