Pidato Presiden
Sambutan pada Jamuan Santap Siang dengan PM Australia
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
JAMUAN SANTAP SIANG DENGAN PERDANA MENTERI AUSTRALIA
CANBERRA, AUSTRALIA
10 MARET 2010
Bismillahirrahmanirrahim,
Selamat siang,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang Mulia Kevin Rudd, Perdana Menteri Australia,
Yang Mulia Harry Jenkins MP, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat,
Yang Mulia Senator John Hogg, Presiden Senat,
Yang Mulia Tony Abbott, Ketua Oposisi,
Yang Mulia Hadirin sekalian yang saya hormati,
Sebelum saya menyampaikan sambutan, saya mendengar tadi ada agreement dari Perdana Menteri Australia dan Leader of the Opposition. Saya senang meskipun setelah saya kembali ke Indonesia, saya tidak ikut bertanggung jawab apa yang akan terjadi setelah itu.
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Perdana Menteri Kevin Rudd dan Leader of the Opposition, Mr. Tony Abbott, atas sambutannya yang hangat.
Atas nama pribadi dan delegasi Indonesia, saya ingin mengucapkan terima kasih dan undangan santap siang hari ini, dan sambutan yang begitu hangat dari hadirin semuanya. Seringkali dalam acara seperti ini, saya diminta untuk berpidato panjang lebar, sementara yang lain asyik mencicipi hidangannya.
Alhamdulillah, kali ini saya diberi kesempatan untuk mencicipi makanan terlebih dahulu, sebelum saya menyampaikan sepatah dua patah kata. Terima kasih karena Australia terkenal sebagai orang yang bijak.
Terakhir saya mengunjungi gedung yang megah ini adalah tahun 2005. Kunjungan itu akan terus membekas di hati saya, karena dilakukan dalam suasana yang begitu emosional, yaitu setelah bencana tsunami yang dahsyat, dan setelah gugurnya 7 tentara Australia yang sedang menolong korban gempa di Nias, Indonesia.
Kali ini, 5 tahun kemudian, saya mengunjungi Canberra dalam suasana yang jauh lebih menyenangkan. Memang, kita sempat diterpa oleh tsunami keuangan global, namun krisis tersebut justru memperkokoh kerjasama Indonesia dan Australia dalam forum G-20 maupun forum-forum penting lainnya.
Karena itulah, kalau di tahun 2005 kita bergandengan erat karena ada faktor bencana, kali ini kita kembali mempererat persahabatan, karena kita tahu ada peluang kerjasama yang lebih besar di waktu yang akan datang.
Sebelum saya berangkat ke Australia, saya ditanya oleh wartawan, “Seberapa penting arti Australia bagi Indonesia?” Dan saya menjawab, “Well, lihat saja delegasi saya, ada 13 Menteri, ada 3 Anggota Parlemen, dan 6 Gubernur, sehingga ini rombongan berkaliber berat yang mudah-mudahan bisa meningkatkan kerjasama kita yang lebih luas lagi.”
Saya sungguh senang memenuhi undangan sahabat saya, Perdana Menteri Kevin Rudd, untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke Australia. Sebenarnya sudah beberapa kali saya berkeinginan untuk berkunjung kembali, tetapi tahun lalu sepanjang tahun saya harus menjalani tugas saya untuk ikut dalam PEMILU Nasional Indonesia, alhamdulillah sekarang kita bisa berkunjung kembali ke Australia.
Saya pribadi merasa berkehormatan dapat mengenal dan bekerja sama dengan PM Kevin Rudd yang menurut saya adalah Pemimpin Australia yang secara gigih, benar-benar ingin meningkatkan kerjasama di antara kedua negara, di antara kedua rakyat. Saya juga ingin menjalin hubungan yang baik dengan Ketua Oposisi, The Honorable Tony Abbott. Tadi pagi, saya telah bertemu dengan beliau.
Segera setelah ini, saya mendapat kehormatan untuk memberikan pidato di depan sesi gabungan Parlemen. Jadi saya tidak ingin terlalu banyak membahas secara detail pada forum ini menyangkut hubungan Indonesia–Australia.
Sebelum memasuki gedung ini, saya pesan pada Dino, staf saya, jangan sampai sambutan saya tertukar antara pidato di acara luncheon dengan acara yang resmi nanti di Parlemen.
Thank you, terima kasih. Namun, ada satu hal yang penting yang ingin saya tekankan pada hadirin sekalian. Hubungan dengan Australia adalah aset penting bagi Indonesia. Australia adalah negara prioritas bagi Indonesia, partner dan sahabat dekat Indonesia.
Sebagai partner, saya menaruh hormat kepada Australia yang menaruh perhatian khusus pada Indonesia, memiliki pengertian yang mendalam terhadap segala kompleksitas yang Indonesia hadapi dengan solider telah ikut berkontribusi dalam pembangunan kami, baik di masa sulit maupun di masa normal.
Yang juga penting dicatat, hubungan Indonesia dengan Australia bukan saja sangat luas dan mencakup berbagai bidang, namun juga bersentuhan langsung dengan aspirasi dan kerja keras rakyat Indonesia. Juga dengan mahasiswa yang ingin menimba ilmu. Juga dengan siswa yang ingin belajar bahasa Inggris melalui program homestay. Dengan orangtua yang ingin mengirim anaknya sekolah di negeri ini. Dengan profesional yang ingin menimba pengalaman. Dengan pengusaha yang mencari peluang bisnis. Dan dengan peneliti yang sedang mencari inovasi baru, di negara ini.
Dua Menteri saya meraih aspirasinya di Australia. Mereka lulus dari Australian National University, Menteri Perdagangan Mari Pangestu dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Mungkin itulah sebabnya jumlah pelajar Indonesia di Australia makin bertambah, karena mereka berpikir punya chance yang lebih besar kelak menjadi menteri di Indonesia. Putra saya Ibas juga 5 tahun belajar di Perth, dan kini menjadi anggota Parlemen di Indonesia.
Jujurnya, saya pribadi juga merasakan kaitan batin dengan Australia. Saya mengagumi “dinamism” masyarakat Australia, semangat dan kreativitas bangsa Australia, dan kemajuan negara ini. Saya juga paling suka menonton Australian Open, kalau saya sedang menonton pertandingan tenis di TV, kemarin dimenangkan oleh Roger Federer tidak ada ajudan yang berani menganggu saya, kecuali ada berita yang sangat penting.
Karena itulah, saya datang ke sini untuk menegaskan kembali komitmen saya pada persahabatan Indonesia–Australia, dan untuk memantapkan hubungan yang strategis ini. Hubungan ini adalah hubungan spesial, dan saya mendapat kehormatan untuk membantu, menjaga dan meningkatkan hubungan Indonesia-Australia dalam 5 tahun terakhir.
Sebelum saya mengakhiri sambutan ini, saya mendapat berita dari tanah air setelah Indonesia melumpuhkan dua tokoh teroris, Dr. Azahari dan Noordin Muhamamd Top, yang mengganggu Indonesia, mengganggu Asia Tenggara, alhamdulillah, Kepolisian Indonesia telah melumpuhkan satu tokoh Asia Tenggara, teroris Dulmatin yang kemarin bisa dilumpuhkan dalam operasi Kepolisian di Jakarta.
Oleh karena itu, demi keselamatan manusia sedunia, keselamatan bangsa Indonesia, bangsa Australia, marilah kita bekerja sama secara global untuk menyelamatkan umat manusia dari kejahatan terorisme di muka bumi ini.
Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih atas persahabatan yang tulus pemerintah maupun rakyat Australia kepada Indonesia. Saya yakin persahabatan Indonesia-Australia akan membawa kita semua ke arah suatu masa depan yang lebih cerah.
Terima kasih.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



