Pidato Presiden

Pidato Pengantar saat Menerima Pengurus Pusat ICMI

 

TRANSKRIPSI
PENGANTAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
MENERIMA PENGURUS PUSAT IKATAN CENDEKIAWAN MUSLIM INDONESIA (ICMI)
KANTOR PRESIDEN, 18 MARET 2010



Assalamu''alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Para Pimpinan ICMI yang saya muliakan, Alhamdulilah kita dapat ber-silaturrahim kembali pada kesempatan yang baik ini. Saya memantau dan telah mendapatkan laporan tentang hasil Silatnas yang baru saja ICMI laksanakan. Saya ingin mendengar butir-butir penting dari pertemuan, dengan harapan bisa menjadi masukan, rekomendasi, kritik apapun terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintah pada khususnya dan negara pada umumnya.

Namun sebelum nanti saya persilakan kepada Pak Ginanjar dan teman-teman sekalian untuk menyampaikan hasil dari pertemuan itu kepada saya sebagai, baik selaku Kepala Negara maupun Kepala Pemerintahan, saya ingin menyampaikan satu hal.

Saya pikir tepat kalau saya kedepankan kepada keluarga besar ICMI dan ini dalam Sidang Kabinet kemarin juga menjadi agenda penting, yaitu menyangkut demokrasi dan politik yang sedang berjalan di negeri kita ini. Kita bersyukur bahwa sejak reformasi, demokrasi makin mekar, hak-hak asasi manusia makin dilindungi, partisipasi rakyat makin meningkat, tercermin pula dari pemilu yang makin demokratis dan kehidupan pers yang makin bebas.

Khusus politik dan pemilu ini, disamping ada good news, ada juga yang menjadi bolehlah keprihatinan dari kalangan masyarakat luas yang barang kali teman-teman juga sudah mendengar selama ini. Satu keprihatinan dan kecemasan kalau politik dan demokrasi kita ini menjadi sesuatu yang amat mahal, high cost democracy, high cost politics. Tidak, bukan menjadi rahasia lagi, kalau orang mencemaskan untuk pilkada saja biayanya sangat tinggi, apakah pemilihan bupati, pemilihan walikota, gubernur. Dan dikhawatirkan kalau ini terus berkembang, maka bukan hanya mahal politik itu, tetapi juga menyimpang dari hakekat bagaimana rakyat memilih pemimpinnya, memilih siapa yang mewakilinya dengan cara-cara yang baik, yang amanah, yang bersih, yang akuntabel dan sebagainya. Ini menyangkut moral politik, ini menyangkut budaya politik, dan menyangkut etika politik.

Saya ingin dalam kesempatan yang baik ini, memohon kepada keluarga besar ICMI untuk menyampaikan pandangan-pandangan, termasuk rekomendasinya nanti kepada kami bersama-sama bagaimana sesungguhnya kita bisa mengembangkan demokrasi dan kehidupan politik di negeri ini yang makin demokratis memang, tapi juga tetap amanah dan tercegah dari perilaku politik yang saya katakan mahal tadi.

Kita memiliki kewajiban moral untuk itu, jangan sampai masa depan kita berada dalam wilayah yang salah, jangan sampai generasi mendatang tidak mendapatkan warisan dari perilaku politik dan demokrasi yang sebenarnya, yang tidak kita inginkan.

Ini masalah sangat mendasar menurut pendapat saya. Tapi marilah kita memberanikan diri, mengambil tanggung jawab dan melakukan sesuatu yang bisa kita lakukan. Dan nanti pada saatnya, saya mengundang kembali ICMI dan saya akan didampingi oleh pejabat pemerintah terkait untuk kami dengarkan bagaimana pikiran-pikiran tentang itu. Inilah kalau kita mulai dan mungkin juga tidak semudah yang kita bayangkan, tapi kita tidak menyia-nyiakan kesempatan sejarah, manakala kita bisa berbuat untuk hal-hal seperti itu. Itu yang menjadi pengantar dari saya, Teman-teman, Bapak dan Ibu.


*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan