Pidato Presiden
Sambutan pada Ratas Revitalisasi Industri Pertahanan dan Permasalahan Kehutanan dan Lingkungan
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
RAPAT TERBATAS MEMBAHAS REVITALISASI INDUSTRI PERTAHANAN DAN PERMASALAHAN KEHUTANAN DAN LINGKUNGAN
KANTOR PRESIDEN, 16 APRIL 2010
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Para Peserta Sidang Kabinet Terbatas yang saya hormati,
Alhamdulillah, hari ini kita dapat kembali menyelenggarakan Sidang Kabinet untuk membahas 2 agenda penting, pertama adalah revitalisasi industri pertahanan dan kedua permasalahan kehutanan dan lingkungan, serta solusi, serta kebijakan yang kita tempuh.
Sebagai pengantar, saya ingin menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, menyangkut revitalisasi industri pertahanan, ini merupakan prioritas dan agenda utama kita untuk 5 tahun mendatang. Setelah direktif saya keluarkan, saya tahu saudara menteri pertahanan, panglima TNI dengan pejabat terkait telah melakukan lokakarya dan sejumlah pekerjaan sampai pada semacam master plan atau cetak biru, bagaimana revitalisasi industri pertahanan ini kita lakukan untuk 5 tahun mendatang.
Hal ini penting, sebab kita tidak ingin industri-industri pertahanan kita ini tidak kita optimalkan. Investasi untuk membangun industri-industri itu amat besar. Sumber daya manusia yang juga kita didik dan persiapkan itu juga upaya yang luar biasa. Dan sebelum krisis, bahkan industri pertahanan kita berada pada tingkatan yang cukup maju dengan daya saing yang tinggi.
Krisis datang, ada kesulitan ekonomi kita, termasuk segi-segi financing. Oleh karena itulah, setelah ekonomi kita pulih kembali, saatnya sekarang untuk benar-benar melakukan revitalisasi dan pengembangan semua industri pertahanan kita, agar lebih meningkat kemandirian kita dalam pengadaan sistem persenjataan serta perlengkapan dan peralatan pertahanan.
Yang kedua, kita juga ingin dengan daya saing yang makin tingggi, maka industri kita itu bisa memproduksi perlengkapan pertahanan yang bisa dipasok ke negara-negara sahabat. Dengan demikian, industri ini akan lebih berkembang lagi. Di sisi lain, dari aspek manajemen dan pendanaan bagaimanapun harus kita carikan solusinya, agar dari segi market di dalam negeri ada kepastian dan juga cukup kuat untuk memproduksi sistem persenjataan dan perlengkapan militer itu, sekaligus bagaimana inovasi dan langkah-langkah lain untuk benar-benar menuju ke industri pertahanan yang tangguh. Semua itu karena sudah dilokakaryakan dan memerlukan satu policy dan langkah-langkah yang terintegrasi, maka saya ingin mendengar pada sesi mendatang presentasi dari menteri pertahanan tentang itu semua.
Yang kedua, persoalan sektor kehutanan kita yang berkaitan langsung dengan lingkungan. Ini juga merupakan prioritas, bukan hanya 5 tahun mendatang, tapi prioritas selamanya, karena bagaimanapun kita harus benar-benar menyelamatkan tanah air kita dan menyelamatkan bumi kita. Semua sudah mengetahui, bahwa komitmen global amat tinggi, tetapi sayangnya komitmen itu belum diterjemahkan dalam satu kesepakatan yang nantinya akan berwujud protokol baru sebagai pengganti Protokol Kyoto yang jatuh tempo pada tahun 2012 mendatang.
Sebagaimana saudara ketahui, dunia terbelah. Ada yang mengatakan bahwa sepanjang negara maju belum benar-benar menunjukkan kesungguhannya mengurangi emisi secara tajam, memberikan bantuan financial yang cukup besar, bersedia juga untuk berbagi teknologi dan bantuan-bantuan yang lain, jangan harapkan negara berkembang juga bisa melakukan upaya untuk penyelamatan bumi ini, sebagaimana yang dikehendaki negara maju.
Di sisi negara maju, mereka mengatakan, ya kita mesti melakukan langkah bersama. Negara maju berbuat lebih, negara berkembang juga berbuat lebih. Unless negara berkembang juga memiliki komitmen untuk melakukan langkah-langkah itu, maka tentu saja negara maju pun tidak segera bisa memberikan bantuan-bantuannya ini.
Ini seperti kunci-mengunci, seperti ya saling tunggu di antara kita punya jam terbang yang tinggi. Saudara Rahmat Witoelar diantaranya dari summit ke summit mendampingi saya 5 tahun yang lalu. Menteri Lingkungan yang baru juga sudah masuk, terjun dalam persoalan, ini Pak Emil Salim apalagi, kita menghadapi situasi seperti itu, sehingga Copenhagen Summit kemarin tidak berhasil benar, meskipun ada capaian-capaian tertentu, termasuk Copenhagen Accord.
Permasalahannya sekarang adalah ya kita dikejar waktu, tidak bisa bernegosiasi dengan iklim, dengan bumi. Oleh karena itu Konferensi Mexico pada akhir tahun ini diharapkan menghasilkan sesuatu. Saya tetap optimis, meskipun saya juga khawatir Konferensi Mexico juga mengalami nasib yang kurang lebih sama dengan Konferensi Copenhagen.
Minggu yang lalu saya berada di Vietnam, juga ada pembahasan tentang lingkungan. Sebagaimana anatomi tentang bagaimana dunia menyikapi upaya menghadapi perubahan iklim ini, di ASEAN pun juga ada pikiran yang beragam. Tetapi yang jelas saya mewakili Indonesia kemarin dalam pertemuan puncak di Hanoi, Vietnam dengan sengat firm mengatakan, pandangan Indonesia adalah kita akan terus berjuang, seserius mungkin untuk meminta negara maju benar-benar melakukan deep cut emisinya, benar-benar memberikan bantuan financial atau resources yang lain kepada negara-negara berkembang, dan sungguh bersedia untuk berbagi teknologi, sharing dengan kita, termasuk langkah-langkah capacity building sesuai dengan prinsip common but differentiated responsibilities and respective capablities.
Tetapi disisi lain Indonesia tidak harus menunggu datangnya bantuan itu, kita juga secara sadar dan memang harus melakukan langkah-langkah secara domestik untuk menyelamatkan lingkungan itu sendiri dengan sumber daya, kemampuan yang kita miliki, sumber keuangan kita sendiri. Manakala bantuan dari negara maju datang, berarti sasaran bisa kita tingkatkan. Tetapi Indonesia berpendapat tidak boleh karena belum ketemu hitung-hitungan itu, lantas kita membiarkan negara kita lalai dalam memelihara lingkungan.
Oleh karena itulah, hari ini saya ingin mendengar nanti presentasi dari Menteri Kehutanan dan bisa ditambahkan Menteri Lingkungan untuk menyampaikan keadaan hutan kita saat ini, seberapa besar kerusakan yang terjadi karena deforestasi dan illegal, praktek-praktek illegal logging. Lantas permasalahan asap meskipun sudah susut 3 tahun terakhir, seperti apa yang bisa terjadi lagi. Dan kemudian yang paling penting, policy, langkah-langkah konkret di pusat dan daerah untuk melakukan reforestasi, untuk melakukan semua upaya, agar hutan kita selamat dan lingkungan tercapai.
Kita ingin punya sesuatu yang konkret, yang bisa kita ukur, yang bisa bisa kita pantau. Dengan demikian, kita bisa mengatakan pada dunia, Indonesia sambil berjuang agar negara maju berbuat lebih banyak lagi, kita sendiri sadar dan willing to do our part, karena memang itu untuk kepentingan tanah air kita sendiri.
Dua hal itulah yang ingin kita bahas. Dan sebagaimana biasanya pada akhir sidang ini akan saya berikan direktif, arahan untuk dilaksanakan oleh saudara semua. Demikian saudara-saudara pengantar saya.
Dan Menko Perekonomian, langsung. Kalau tidak ada pengantar dari Menko Perekonomian, saya akan masuk dulu kepada sesi pertama, presentasi tentang industri pertahanan atau revitalisasi industri pertahanan dan kemudian setelah itu dilanjutkan dengan presentasi tentang kehutanan dan lingkungan.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



