Pidato Presiden
Sambutan pada Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2010
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN RI
PADA ACARA
PERINGATAN HARI KEBANGKITAN NASIONAL TAHUN 2010
AULA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA, JAKARTA
21 APRIL 2010
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalaamualaikum Wr. Wb.,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati, saudari Menteri Kesehatan,
Para menteri dan mantan Menteri,
Saudara Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Profesor Nila Moeloek,
Duta Besar dan Special Envoy Presiden Indonesia untuk Millenium Development Goals,
Saudara Rektor Universitas Indonesia,
Saudari Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Saudara Ketua Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Para guru besar, para Dosen, para mahasiswa,
Dan hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa karena atas rahmat dan ridho-Nya kita semua masih diberikan kesempatan dan kemampuan untuk melanjutkan tugas, karya, dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta, bahkan kepada misi kemanusiaan sedunia. Saya mengucapkan terima kasih atas undangan dari Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia untuk menghadiri dan membuka Temu Ilmiah hari ini.
Topik yang diangkat menurut saya tepat dan relevan: bagaimana kita terus meningkatkan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan. Tentu sebuah komitmen, tanggung jawab, dan cita-cita yang mulia, yang hendak kita wujudkan bersama.
Sebelum saya menyampaikan pandangan dan pikiran saya, serta harapan dan ajakan kepada saudara semua untuk bersama-sama meningkatkan pembangunan sektor kesehatan di negeri kita ini, ijinkan saya untuk menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para sesepuh, para senior, keluarga besar FKUI, maupun komunitas kedokteran nasional lainnya atas segala pengabdian yang bapak ibu berikan kepada masyarakat, bangsa, dan negara, yang berkaitan dengan misi kemanusiaan. Yang pengabdian itu tercatat abadi dalam perjalanan bangsa kita.
Hadirin yang saya hormati,
Menyimak apa yang disampaikan oleh pimpinan Iluni FKUI serta Menteri Kesehatan tadi, saya harus mengawali pidato saya ini dengan mengedepankan tiga konteks yang relevan. Konteks pertama adalah tentang FKUI, komunitas kedokteran, dan Gerakan 20 Mei 1908. Konteks yang kedua tiada lain adalah bagaimana kita mengaktualisasikan semangat dan gerakan kebangkitan nasional di abad XXI ini. Sedangkan, konteks yang ketiga adalah tentang aspek dan sektor kesehatan dalam pembangunan nasional. Mari kita lihat satu per satu. Saya akan sampaikan secara ringkas.
Konteks pertama adalah tentang FKUI, komunitas atau corp kedokteran, dan Gerakan 20 Mei 1908. Saya yakin, saudara akan bangga karena FKUI sejak kelahirannya telah menjadi sebuah center of excellence. Saya mendapatkan briefing dari Ibu Dekan FKUI tadi, misalnya sekarang ini 20% dari tenaga dokter di seluruh tanah air, disumbang dari FKUI. Tentu ini juga prestasi yang tinggi.
Kebanggaan yang lain bagi semua komunitas kedokteran adalah ketika Indonesia belum merdeka, ada sekelompok anak bangsa, sekelompok elit yang begitu peduli pada nasib rakyatnya, saudara-saudaranya, dan kemudian bercita-cita untuk mendirikan sebuah negara kebangsaan yang kebetulan, kebetulan sejarah, tetapi pasti juga by design oleh putra-putri terbaik bangsa waktu itu. Dipelopori oleh komunitas kedokteran, dipelopori oleh cikal-bakal dari FKUI maupun lembaga kedokteran yang lain.
20 Mei 1908 adalah tonggak sejarah yang tentu akan terus dikenang oleh bangsa kita, menjadi sebuah energi dan semangat untuk berbuat lebih baik lagi ke depan, bagi terwujudnya negara kebangsaan yang maju, yang bermartabat, dan sejahtera.
Perlu diketahui, sesungguhnya dulu, yang disebut kaum profesional itu ada tiga. Satu, dokter. Dua, lawyer. Tiga, military officer, perwira militer. Mengapa? Karena ketiga cabang profesi itu bukan sekedar bekerja, kemudian mendapatkan penghasilan. Beyond that. Contohnya, dokter itu berkaitan dengan humanity, berkaitan dengan jiwa, manusia. Lawyer berkaitan dengan keadilan.
Perwira militer yang harus setiap saat mengorbankan jiwa dan raganya bagi tegaknya negara di mana mereka mengabdi. Oleh karena itulah, dulu kita kenal dengan kode etik kedokteran, kode etik militer, kode etik di bidang hukum dan keadilan, professional ethics karena profesi yang khas, dan dituntut lebih dari sekedar pekerjaan-pekerjaan yang konvensional ataupun reguler.
Nah sekarang, kaum profesional berkembang lebih luas lagi, dan harapan saya, semua harus memiliki kode etik yang bisa dipertanggungjawabkan dalam karya dan pengabdiannya untuk negara. Itu konteks yang pertama.
Konteks yang kedua adalah bagaimana kita sekarang mengaktualisasikan semangat kebangkitan nasional yang hadir di negeri kita 102 tahun yang lalu. Dalam pidato saya, memperingati satu abad kebangkitan nasional, 20 Mei tahun 2008 yang lalu, saya mengatakan bahwa Indonesia dengan ridho Allah mesti menjadi negara yang maju di abad XXI ini, a developed nation, developed country. Saya katakan waktu itu, kita bisa menjadi negara maju itu manakala kita bisa memperkuat tiga pilar kehidupan bernegara kita, yaitu kemandirian, daya saing, dan peradaban yang unggul, the great civilization. Hanya dengan tiga modal itulah, kita bisa menuju sosok negara maju di abad XXI ini.
Mungkin ada yang skeptis, mungkin ada yang pesimis. Mudah-mudahan di ruangan ini tidak ada yang memiliki kebahagiaan untuk menjadi orang yang pesimis, berpikir negatif, kemudian seolah-olah tidak ada hari esok yang lebih baik.
Jawabannya, kalau ada pertanyaan, “Bisakah?” Insya Allah bisa. Mengapa? Kita dihantam krisis yang sangat dalam 11 tahun yang lalu. Banyak yang meramalkan, Indonesia akan collapse, dan bubar, dan hapus dari peta politik dunia. Ternyata negara kita tetap tegak berdiri. Dalam masa transisi yang pahit, up and down, banyak pasang-surut, kita pun selamat.
Dua tahun yang lalu, ada krisis global, resesi perekonomian dunia, 2008-2009. Ekonomi banyak negara, termasuk negara maju, berguguran. Indonesia selamat, dan Indonesia dipandang sebagai salah satu dari sedikit negara yang bisa meminimalkan dampak dari krisis itu. Itu semua terjadi, dan menunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang memiliki ketahanan yang tinggi.
Dengan modal itu, maka keyakinan kita, kita akan benar-benar menjadi negara maju di abd XXI ini. Dengan syarat, marilah kita tetap rukun dan bersatu, kita terus berpikir secara cerdas, dan kemudian kita bersedia untuk bekerja keras bersama. Itu konteks yang kedua.
Konteks yang ketiga adalah, saya ingin menjamah pada domain yang menjadi kepedulian, kewajiban, dan tanggung jawab bapak-ibu semuanya, adalah bagaimana aspek dan sektor kesehatan kita dalam pembangunan nasional itu dapat kita tingkatkan. Menteri Kesehatan setelah menjelaskan kebijakan, strategi, program aksi, termasuk prioritas dalam pembangunan sektor kesehatan lima tahun mendatang. Ya, saya harus mengatakan bahwa kesehatan adalah prioritas dan agenda utama dalam pembangunan kita. Mengapa? Kita sepakat bahwa pembangunan yang kita laksanakan ini mestilah sebuah pembangunan yang berorientasi kepada manusia, dan pembangunan manusia seutuhnya, human-centered development.
Kita kenal dalam indikator keberhasilan pembangunan sering disebut dengan human development index. Di situ komponen utamanya 2 + 1: bangsa dikatakan makin berhasil pembangunannya manakala kesehatan masyarakatnya, pendidikan masyarakatnya makin baik, dan disertai dengan pendapatan yang makin layak. Human Development Index.
Kalau saya mengajak saudara back to basic, sesungguhnya yang disebut dengan basic capital bagi manusia, orang-seorang, itu ada tiga. Satu, mentalnya baik, jasmaninya baik, pikirannya baik. Mental, fisik, intelek. Oleh karena itulah, pendidikan pun kita dorong sejak dini orang-seorang harus memiliki yang saya sebut dengan basic capital: pendidikan, kesehatan, dan kepribadian.
Dengan modal itu, maka dia memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan. Dengan pekerjaan itu, mereka bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. Itu basic. Oleh karena itulah, bagaimanapun ke depan, kita akan terus tingkatkan kualitas pembangunan di sektor kesehatan. Selama ini juga kelembagaan sektor kesehatan di tanah air kita jaga, kita kembangkan, contohnya puskesmas dan juga yang lain-lain.
Saudara-saudara,
Setelah saya menyampaikan tiga konteks yang relevan dengan tema dari temu ilmiah hari ini, maka kita mesti menjawab satu pertanyaan kunci: ke mana dan bagaimana kita melangkah ke depan, bangsa ini, negara ini, pemerintah kita, dengan orientasi pada tiga konteks yang saya sampaikan tadi. Yang mesti kita pahami, saudara-saudara, adalah dunia dan negara kita akan terus berubah. Perubahan itu menghadirkan tantangan-tantangan baru, new challenges. Terhadap tantangan itu, diperlukan solusi-solusi baru, solution to problems, termasuk diperlukannya solusi berupa kebijakanan, berupa strategi, berupa program aksi, penganggaran, dan lain-lain di sektor kesehatan.
Di sisi lain, kita juga mesti mengetahui bahwa dalam pembangunan bangsa ini, yang sekarang dikenal dengan agenda reformasi dan revitalisasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, maka yang harus kita mengerti, sungguh mengerti adalah semua yang masih relevan harus kita pertahankan. Yang tidak relevan lagi harus kita tinggalkan, dan kemudian untuk menjawab permasalahan dan tantangan baru, kita lakukan inovasi dan pembaharuan-pembaharuan. Itulah hakekat dari perubahan, sebenarnya.
Seperti apapun hingar-bingar, gegap-gempita, deru dari sebuah reformasi, jangan kehilangan arah, jangan kehilangan orientasi, jangan kehilangan hakekat dari sebuah perubahan itu. Oleh karena itu, insya Allah, atas mandat yang diberikan kepada saya untuk memimpin pemerintahan ini, 10 tahun, saya jatuh tempo nanti pada tanggal 20 Oktober 2014, yang kami lakukan tiada lain adalah continuity hal-hal yang masih baik sejak presiden pertama kita: mendiang Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Mega, harus terus kita lanjutkan.
Kemudian, untuk merespon perkembangan baru, tentu kita bersepakat untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Itulah hakekat dari change. Oleh karena itu, harus kita pertahankan realitas dan keniscayaan kembali, change and continuity, perubahan dan kesinambungan.
Saya ingin memberikan contoh. Dulu, pada saat awal reformasi, semua program yang berlaku dalam pemerintahan Orde Baru ditinggalkan. Atas nama reformasi, “Ah, itu sudah enggak cocok. Buang jauh-jauh!” Belakangan, kita sadar bahwa ada yang mesti tetap kita jaga. Oleh karena itulah, saya tahun 2005 telah mengatakan, mari kita lakukan aktivasi dan revitalisasi berbagai kelembagaan sektor kesehatan. Misalkan puskesmas, posyandu, pos keluarga berencana, dan banyak sekali yang dulu ternyata menjadi solusi dalam upaya menjaga dan meningkatkan kesehatan masyarakat kita.
Kemudian, implementasi dari yang saya sampaikan tadi, continuity, diperlukannya mind set baru, kebijakan baru, kelembagaan baru. Tadi, diangkat bahwa mesti diadakan paradigm set dari hidup sehat atau upaya untuk menyembuhkan sakit. Kalau dunia kesehatan, dunia kedokteran kita maknai upaya untuk membikin orang yang sakit menjadi sehat, maka itu barangkali baru separuh dari kewajiban saudara semua, bapak-ibu, karena yang lebih utama menjaga, agar yang sehat tetap sehat. It is about paradigm, it is about mind set. Oleh karena itu, dalam mewujudkan continuity, hal-hal seperti itu mesti kita kembangkan.
Implementasi yang lain, sebagai contoh, saya telah menggariskan bahwa mulai tahun 2011 mendatang, setelah anggaran pendidikan kita naikkan sampai 20%, maka porsi untuk anggaran pembangunan kesehatan haruslah ditingkatkan secara signifikan, dengan harapan. Ini menunjukkan bahwa memang sektor kesehatan menjadi prioritas, mainstreaming our health sector.
Contoh yang lain adalah dunia menghadapi tantangan baru, termasuk menghadapi yang disebut dengan the communicable diseases. Oleh karena itu, solusinya tiada lain, mari kita pererat, kita perkuat kerja sama dan kemitraan global, termasuk untuk mencapai MDGs yang menjadi komitmen semua bangsa di dunia.
Hadirin yang saya muliakan,
Sebelum saya masuk pada bagian akhir dari pidato saya, ini kesempatan yang baik untuk saya mengajak saudara melakukan kontemplasi, refleksi, dalam agama Islam disebut bertafakur dalam arti yang luas. Dari kontemplasi ini, saya ingin menyampaikan dua hal saja. Pertama, keperluan untuk melakukan back to basics; dan yang kedua, keperluan pula untuk melakukan inovasi, menjemput masa depan. Ini pasangan. Mari kita lihat apa yang saya maksudkan dengan back to basics.
Saya bukan seorang dokter, tetapi saya, setelah memimpin negara dan pemerintah hampir enam tahun ini, menyadari bahwa sektor kesehatan sangat penting. Misi para dokter dan tenaga medis juga sangat penting. Sampailah pada satu tesis saya bahwa sebenarnya tugas komunitas kedokteran dan medis tiada lain adalah, saya boleh menyampaikan tiga rumusan secara sederhana.
Yang pertama, menjaga agar individu atau masyarakat itu tetap sehat dan tidak sakit. Yang kedua, jika ada yang sakit, bisa disembuhkan. Yang ketiga, jika ada seorang yang sakit, jangan yang lain juga ikut sakit. Itulah sesungguhnya hakekat dari misi besar, misi mulia, komunitas dokter dan tenaga medis.
Di Indonesia, tiga-tiganya masih relevan. Mungkin di negara maju sedikit berbeda, mungkin di negara yang bukan negara tropis juga memiliki varian yang lain, tapi di Indonesia, tiga-tiga itu masih relevan. Kita negara berkembang, kita negara di wilayah tropis, dan kita masih bergulat dengan sejumlah persoalan kesehatan di negeri ini. Dan semua kebijakan kita, program kita, anggaran kita mesti connected to tiga hal yang saya sampaikan tadi.
Saya ingin memberi contoh. Puskesmas, dari paradigma mengobati, mestinya harus lebih pada paradigma menjaga tetap sehat. Oleh karena itulah, revitalisasi puskesmas: anggaran, fasilitas, tenaga medisnya harus bisa melakukan misi ini. Bukan menunggu orang berobat, tapi datang ke RT-RW, bagaimana jangan sampai mereka sakit dan berobat. Ini small change, tetapi benar-benar substansial.
Contoh yang lain adalah, di kota-kota besar. Sering treatment, tindakan, pengobatan itu harus dilaksanakan dengan cepat. Tentunya kita harus bisa berinovasi untuk membangun yang disebut dengan konsep jemput bola, mobile medical team yang bergerak ke mana-mana. Di London, saya melihat motor besar bergerak ke mana-mana, yang itu sesungguhnya masuk ke satu wilayah, entah RT, entah RW, di mana diperlukan tindakan cepat terhadap mereka yang sakit.
Kemudian, wabah, communicable diseases: apakah demam berdarah, malaria, HIV/AIDS, bukan wabah tapi yang menular, begitu, dan lain-lain. Menurut saya, awareness harus sungguh kita bangun. Kemudian juga effective response diperlukan. Dua-duanya penting, dua-duanya penting.
Saya kalau datang ke provinsi-provinsi, kabupaten, dan kota, saya lihat lingkungan, saya lihat selokan, saya lihat pekarangan, saya lihat halaman, saya lihat tempat pengelolaan limbah; dalam hati saya, karena masih sering saya lihat, “Kalau begini, bagaimana tidak mudah penyakit itu menjalar di komunitas, di wilayah itu.” This is about mind set, this is about style, this is about values, this is about behaviour.
Oleh karena itu, ya untuk mencegah merebaknya communicable diseases, haruslah dibangun kesadaran yang sungguh tinggi dari masyarakat kita, dan kemudian saya katakan, effective response. Manakala ada terjadi wabah, quick response yang perlu dilakukan.
Apapun kompleks dan dinamisnya kehidupan masyarakat, bapak-ibu, saudara-saudara, termasuk masalah kesehatan, saya pertama-tama menyerukan, mari kita kembali kepada hakekat yang tadi, back to basics. Berorientasi pada tiga hal yang harus kita bangun secara bersama.
Kontemplasi yang kedua adalah tentang perlunya inovasi untuk menjemput masa depan. Kita tahu, dunia kita sekarang ini makin menghadirkan complexities, challenges, and problems. Penduduk dunia sekarang berjumlah 6,8 miliar. Oleh karena itu, ada persoalan food, energy, and water security. Itu sudah connected pada kesehatan orang-seorang, kesehatan masyarakat di semua negara, utamanya negara-negara yang belum berkembang.
Dunia mengalami perubahan iklim, climate change, global warming, sehingga kerap terjadi bencana dengan casualties korban jiwa yang jauh lebih besar dari korban sebuah peperangan, military war. Itu connected to dunia kesehatan. Dengan mobilitas manusia: pakai pesawat, pakai jalan darat, pakai kapal, seluruh dunia, maka kalau ada penyakit seperti avian flu, swine flu, dan banyak lagi, mudah sekali untuk berpindah-pindah, menjalar, merebak di mana-mana, because of the mobility of human beings across the globe.
Kemudian, belum lagi kejahatan transnasional: narkotika yang ada kaitannya dengan kesehatan; terrorism, korban yang berjatuhan memerlukan tindakan yang cepat seringkali.
Semua fenomena dan realitas global ini connected to health sector. Oleh karena itu, dulu ada istilah the old meaning of security threats: perang, perang militer. Nah sekarang ada yang disebut new meaning, new definiton, non-traditional security threats yang berkaitan dengan human security. Ya tadi itu, penyakit menular yang merebak ke seluruh dunia, disaster. Kemudian kelaparan, dan banyak hal. Jadi, termasuk aspek dari human security. Oleh karena itu, negara harus mengalokasikan sumber dayanya untuk menghadapi non-traditional security threats, sebagaimana kita membangun tentara, membangun kepolisian, dan kekuatan pertahanan kita untuk menghadapi traditional security threats.
Saudara-saudara,
Terhadap dunia seperti itu yang berdampak pada negara kita, solusinya tiada lain adalah, saya menganjurkan, ketika kita sudah critical, sudah mengoreksi, sudah menyalahkan, sudah mengkritik, hadirkan solusi. Itulah politik yang cerdas karena tidak sekedar mencerca, menghujat, menyalahkan, tapi bagus kalau sekaligus, “Ini solusi yang ditawarkan.” Menurut saya, terhadap berbagai kompleksitas di tingkat dunia, yang juga mengalir, masuk ke wilayah Indonesia, maka yang perlu kita lakukan adalah, pertama, inovasi teknologi.
Research and development dari dunia kedokteran terus dijalankan, mesti terus dijalankan. Coba, alangkah bersyukurnya manusia sejagat kalau nanti ditemukan bagaimana treatment yang terbaik untuk menghadapi penyakit kanker, penyakit HIV/AIDS, dan berbagai penyakit menular yang sampai sekarang belum ada obat, atau cara-cara, atau tindakan yang cespleng. Itu memerlukan research and development and innovation. Tentu banyak sekali yang bisa kita lakukan: bagaimana menghindari proses degenerasi yang berlebihan. Saya baru di-brief teknologi steam cell.
Saya kira terbuka. Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan manusia akal. Kalau kita gunakan dengan ketekunan untuk discovery, untuk innovation, untuk research and development akan terbuka jalan bagi penemuan atau pikiran dan cara-cara yang besar.
Yang kedua, national policy harus tepat. Kita akan terus sempurnakan, perbaiki kebijakan nasional di dalam pembangunan kesehatan.
International cooperation. Kita tidak bisa hidup sendiri di alam globalisasi ini. Mari kita jalin kerja sama yang baik seluas-luasnya dengan negara-negara sahabat, dengan lembaga-lembaga internasional. Kita harus.
Kemudian, last but not least, tentang lifestyle, gaya hidup. Gaya hidup harus berubah, jangan menjadi manusia yang boros. Greed harus kita tinggalkan, tapi need yang harus kita capai. Hidup sehat. Tahu tentang bahayanya penyakit menular, dan sebagainya. Ini, melalui pendidikan sedini mungkin, harus dikenalkan: bagaimana, sekali lagi, hidup sehat.
Saudara-saudara,
Yang terakhir, saya ingin sampaikan bahwa agenda nasional kita lima tahun mendatang, dan saya meminta dukungan serta kontribusi dari bapak-ibu, saudara semua. Kita ingin meningkatkan kesehatan masyarakat, public health, di seluruh tanah air. Yang kedua, kita ingin benar-benar mencapai MDGs. Yang ketiga, kita ingin meningkatkan kapasitas lembaga kesehatan, lembaga kedokteran setelah kita bangun klinik, puskesmas, rumah sakit kelas 3 di seluruh tanah air lima tahun terakhir ini, dan akan terus kita mantapkan. Saatnya kita untuk menambah lagi rumah sakit-rumah sakit modern yang bertaraf internasional, modern hospitals, world-class hospitals.
Saya tidak happy kalau sedikit-sedikit bangsa kita berobat ke Singapura, berobat ke Tokyo, berobat ke Jerman, berobat ke Amerika, berobat ke Australia, dan sebagainya. Kita harus mendirikan modern hospitals dengan spesifikasi yang menjadi unggulan kita, dengan environment yang baik, dengan services yang baik, culture-based. Mengundang putra-putri terbaik dalam dunia kedokteran kita, bermitra dengan lembaga kedokteran di negara sahabat. Dengan demikian, kita punya modern hospitals buat 230 juta rakyat kita. Dan manakala kita membangun modern hospitals di kota-kota besar, selalulah ada sesi atau bagian untuk rakyat kecil, di mana dengan subsidi silang mereka juga bisa mendapatkan kemudahan.
Yang keempat, kita mesti meningkatkan human capital, mulai dari adik-adik mahasiswa kita sampai dengan pendidikan berjenjang, spesialisasi, dan sebagainya. Saya ingin banyak profesor, doktor Indonesia yang menjadi icon, yang menjadi rujukan bagi dokter-dokter di negara lain. Saya tahu, ada sebagian dokter kita yang telah menjadi rujukan. Anecdote-nya adalah, ada pasien dari Indonesia, mungkin uangnya banyak, keliling dunia untuk mencari dokter yang paling tepat, sampailah, “Bapak, dari mana?” “Dari Indonesia.” “Nah, sekarang?” “Saya mencari dokter yang paling top. Bapak, saya dengar, banyak merujuk ke Bapak.” ”Iya, tapi saya muridnya si X yang ada di Indonesia.”
Di RSPAD misalnya, ada dr. Terawan. Saya, tapi sekali lagi, saya bukan dokter. Saya menceritakan apa adanya. Ada seorang ibu yang baru saja melahirkan, kemudian kebetulan suaminya bertugas di Pasukan Pengamanan Presiden. Kemudian, tiba-tiba koma. Istri saya sempat jenguk, sudah dalam dengkurnya, ngoroknya dalam. Dilihat, katanya pecah pembuluh darahnya. dr. Terawan segera aksi, “Saya tidak menjanjikan, Ibu, tapi saya ingin berbuat yang terbaik.” Ternyata bisa dilakukan tindakan, dan alhamdulillah yang bersangkutan sembuh.
Menurut saya, akan masih banyak lagi icon-icon kita, the best and the brightest men and women dalam dunia kedokteran. Marilah kita bangkit, sebagaimana kebangkitan nasional yang kita peringati hari ini. Dan Menteri Kesehatan, kita semua harus memberikan ruang, memberikan tempat, dengan policy, dengan perlakuan yang baik. Dunia usaha juga demikian, lembaga penelitian juga demikian, masyarakat luas dianjurkan, kita punya dokter-dokter yang baik.
Saya, sampai hari ini, check-up kesehatan di rumah sakit dalam negeri. Mudah-mudahan tidak dirujuk ke luar negeri, karena makin berkemampuan lembaga-lembaga kedokteran dan kesehatan di dalam negeri. Saya harus memberi contoh. Nah, kalau presidennya dikit-dikit check up di luar negeri, bagaimana yang lain? Saya check up di dalam negeri.
Yang terakhir, kerja sama internasional. Kalau kerja sama itu non politik, tidak usah berpikir terlalu panjang. Kalau politik luar negeri, masih ada yang ngurusi, antara lain SBY. Tapi kalau kerja sama bidang science, technology, itu enggak usah mikir-mikir politik. Itu untuk kemanusiaan. Ini untuk kemanusiaan. Kalau ada yang ganjil, saya beritahu. Tapi kalau tidak, dengan negara manapun kita menganut paham all-directions foreign policy, politik bebas aktif; zero enemy, million friends. Jadi, harus bersahabat dengan semua.
Itulah apa yang akan kita lakukan ke depan, mari kita sukseskan. Saya meminta dukungan semua, dan dalam temu ilmiah nanti akan dibahas sesuatu yang lebih operasional, yang lebih teknis, yang lebih dalam. Saya bukan ahlinya, malah keliru nanti kalau bicara begitu. Istri saya dulu jebolan tingkat tiga Fakultas Kedokteran. Jadi, kadang-kadang lebih bisa bicara soal itu istri saya dibandingkan saya, begitu. Oleh karena itu, saya serahkan pada ahlinya, pada Pak Moeloek dan semuanya nanti untuk apa yang perlu dibahas dalam temu ilmiah ini, agar mimpi indah kita, cita-cita besar kita bisa menjadi kenyataan tidak lama lagi di bumi nusantara ini.
Dengan pesan, harapan, dan ajakan itulah, saudara-saudara, akhirnya dengan terlebih dahulu memohon ridho Allah SWT dan dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Temu Ilmiah Tentang Pembangunan Nasional Yang Berwawasan Kesehatan Dalam Rangka Memperingati Hari Kebangkitan Nasional dengan resmi saya nyatakan dibuka. Sekian.
Wassalaamualaikum Wr. Wb.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



