Pidato Presiden
Silaturahmi dengan Jamaah Umroh
TRANSKRIPSI
SILATURAHMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN JAMAAH UMROH
MADINAH, ARAB SAUDI
3 JULI 2010
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalaamualaikum Wr. Wb.,
Sekali lagi, pada kesempatan yang baik ini dan semoga senantiasa yang berkah ini, kita panjatkan sekali lagi puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberikan nikmat kesempatan, nikmat kekuatan, dan nikmat kesehatan untuk dapat bersama-sama menjalankan ibadah umroh, ya alhamdulillah telah sama-sama kita laksanakan di Kota Suci Mekkah Al Mukaromah, dan semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT.
Alhamdulillah, kita pun juga bisa berziarah ke makam Rasulullah di Masjid Nabawi, di kotanya Madinah Al Munawaroh yang sama-sama kita cintai. Semoga rangkaian ibadah kita dapat meningkatkan keimanan kita, dan kita semua di tempat ini bisa menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sekaligus bisa menjalankan sunah Rasulullah, sehingga kepribadian kita makin baik, akhlak kita makin baik, bakti kita kepada negara dan bangsa makin meningkat.
Para ulama, para habaib, para pembimbing mulai dari kemarin, hari ini, telah membimbing kita semua agar ibadah kita berjalan secara khusyuk dan baik, oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada para ulama dan para habaib yang telah membimbing saya dan semua yang menjalankan ibadah di tanah suci ini.
Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita haturkan salawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, serta para keluarga, para pengikut, dan sahabat-sahabat Rasulullah, dan insya Allah termasuk kita semua nanti hingga akhir jaman.
Sebagaimana bapak-ibu dan saudara-saudara ketahui, bahwa sebagian dari kita telah menjalankan tugas negara, mendampingi saya untuk menghadiri pertemuan puncak G20 atau yang lebih dikenal dengan G20 Summit di Toronto, Kanada. Forum G20 adalah forum yang penting agar dunia bisa melangkah bersama, bisa bertindak bersama untuk meningkatkan perekonomian dunia, seraya mengatasi krisis yang pada tahun 2008-2009 yang lalu terjadi di dunia.
Di sela-sela pertemuan puncak G20, saya bisa bertemu dengan Raja Abdullah Abdul Azis. Saya berbicara dengan beliau, istri juga sempat berbicara dengan beliau. Saya sampaikan bahwa insya Allah waktu itu, saya dengan delegasi Indonesia, dengan para jamaah dari Indonesia akan menjalankan ibadah umroh. Beliau merespon dengan baik, dan tentu saya sampaikan terima kasih dari rakyat Indonesia atas variansinya yang Saudi Arabia lakukan, terutama ketika Indonesia mengalami musibah, seperti bencana tsunami, bencana di Sumatra Barat, dan lain-lain.
Untuk itu, para hadirin sekalian, bahwa alhamdulillah forum G20 yang dianggap merepresentasikan seluruh negara di dunia, ada tiga negara yang hampir seluruhnya atau mayoritas penduduknya beragama Islam, pertama-tama adalah Saudi Arabia; yang kedua, Turki; dan yang ketiga, Indonesia.
Setelah kami melakukan pertemuan puncak di Kanada, saya dan delegasi melakukan kunjungan kenegaraan di Turki. Alhamdulillah, kunjungan sudah berhasil sangat baik. Saya dengan Presiden DR. Abdullah Gul, maupun Perdana Menteri Erdogan dan para pemimpin Turki bersepakat untuk lebih meningkatkan persahabatan, kerjasama, dan kemitraan kedua bangsa di waktu yang akan datang.
Mengapa patut kita syukuri? Turki juga negara besar, negara yang memiliki peran penting, baik di kawasan maupun di dunia. Perekonomiannya tumbuh dengan baik, kemudian pendidikan dan aspek kehidupan di Turki juga mendapatkan banyak pujian oleh masyarakat dunia. Oleh karena itu, rasanya apabila Turki dan Indonesia menjalin persahabatan dan kerjasama yang lebih baik, insya Allah akan membawa keuntungan yang lebih besar bagi kedua bangsa dan negara.
Banyak yang kita bahas, mulai dari kerjasama di bidang perekonomian, perdagangan, investasi, energi, pertanian, kepariwisataan, kemudian pendidikan, budaya, serta bersama di dalam forum-forum internasional, termasuk di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Selama berada di Turki, satu hari di Ankara, satu hari di Istanbul, alhamdulillah kita juga bisa berkunjung kepada peninggalan sejarah dan peradaban Islam. Antara lain kita berkunjung ke Blue Mosque, kemudian di salah satu pusat kerajaan, empire, yang banyak meninggalkan pelajaran sejarah, yang kita mengenang kembali kejayaan peradaban Islam di masa silam.
Tentu banyak yang bisa kita pelajari dari masa lalu kita, tapi satu hal yang saya dapatkan ketika berkunjung dari satu tempat ke tempat lain di Istanbul, bahwa mengapa peradaban Islam di millennium satu begitu berjaya, karena kenyataan umat Islam dengan ilmu pengetahuan. Di manapun selalu ada, di masjid itu selalu ada yang namanya library, Islamic center; demikian juga di tempat-tempat yang di luar masjid.
Saya yakin, kalau kita sadar bahwa umat Islam, Islam sedunia, bangsa Indonesia dekat kembali kepada ilmu dan pengetahuan, menjadi bangsa yang cerdas, menjadi bangsa yang rasional, di samping tentunya bangsa yang beriman, insya Allah kita akan bisa mengatasi segala permasalahan kehidupan dan kita juga bisa berkontribusi pada dunia, sehingga dunia akan melihat kembali kebangkitan peradaban Islam, kontribusi umat Islam pada dunia, dan Islam memiliki kelebihan, keunggulan yang tidak sama dengan peradaban yang lain.
Oleh karena itu, yang ingin saya sampaikan, apa yang kita lihat di Turki kemarin, marilah kita jadikan semangat untuk benar-benar dalam memasuki millennium ketiga ini peradaban dan kejayaan Islam kita bangkitkan kembali, sehingga kita akan menjadi pemeran penting dalam percaturan dunia. Insya Allah itu dapat kita laksanakan manakala umat Islam sedunia, termasuk Indonesia sebagai muslim terbesar, itu benar-benar sadar bahwa masa depan terpulang pada kita semua, kita berpikir yang positif, kita bersikap yang optimis, dan kita berjiwa dan berperan, kita memohon ridho Allah SWT untuk betul-betul membangun masa depan yang baik, penuh amanah, manfaat dan kesejahteraan bagi semua.
Yang terakhir, marilah setelah kita menjalankan ibadah umroh kemarin di Tanah Suci Mekkah Al Mukaromah, sejak kemarin dan hari ini kita berada di Madinah Almunawaroh. Saya bukan ulama, para ulama lebih menguasai tentang ini; dan sebagai umaro, saya hanya ingin menyampaikan bahwa di samping kita beribadah dengan khusyuk di Madinah ini, ziarah ke makam Rasulullah, kita sholat di Masjid Nabawi, marilah kita berkilas balik, melakukan refleksi, bertafakur, kalau kita datang di Madinah, kalau kita berziarah ke makam Rasulullah, apa yang terlintas di dalam hati dan pikiran kita, in our hearts and our minds. Ini sangat penting.
Bicara Madinah, bicara Mekkah, bicara Rasulullah, bicara bagaimana pusat peradaban Islam dibangun dan ditempati, melihat sendiri kota, ada pusat-pusat pertempuran, ada pertempuran di jalan Allah, pertempuran untuk membela kebenaran dan keadilan, dan juga bentuk-bentuk agresi, pertempuran yang juga tetap menjunjung akhlak, dengan aturan-aturan yang baik. Banyak hal yang bisa kita pelajari, tetapi satu hal yang sangat relevan bagi bangsa Indonesia sekarang dan ke depan adalah bagaimana Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, memimpin sebuah perubahan maha besar yang disebut dengan reformasi dan transformasi, dan berhasil dengan baik, sehingga beliau menjadi pemimpin agung, the great reformer, the great all, Prophet Muhammad. Why? Ternyata, kalau kita dalam melaksanakan transformasi besar itu mencari-cari bagaimana caranya, apa saja kaidah-kaidahnya, prinsip-prinsipnya, kemungkinannya, manajemennya, dan sebagainya, sesungguhnya Nabi Muhammad telah memberikan contoh dan teladan yang dapat kita pedomani, kita teladani untuk sekarang dan bahkan untuk masa yang akan datang.
Perubahan yang dilakukan Rasulullah adalah perubahan bertahap dan berlanjut. Tidak ada yang mengubah keadaan seketika, semudah membalik telapak tangan, ada proses 23 tahun, berubahlah peradaban dari masa kegelapan (jahiliyah) menjadi masa yang penuh cahaya dan iman, masa peradaban Islam yang mulia. Oleh karena itu, kalau kita baru 11 tahun melakukan reformasi, masih punya kekurangan di sana-sini, jangan cemas, tetapi justru lebih giat lagi, lebih gigih lagi, kita berbuat lebih banyak lagi, insya Allah akan sampai pada sasaran yang kita kehendaki bersama.
Ini tentang bagaimana sebuah perubahan dilakukan. Dalam perubahan yang dipimpin oleh Rasulullah straight to the point, perubahan besar. Rasulullah pada intinya mengajar semua. Tidak ada yang dipinggirkan, tidak ada yang ditinggalkan, dengan kesabaran, dengan pengayoman, dengan keagungan sebagai seorang pemimpin, sebagai seorang pengayom, sebagai seorang pembimbing. Saya kira, kita semua di wilayah tugas kita masing-masing, sesuai deskripsi kerja masing-masing, para rektor di perguruan tinggi masing-masing, begitu juga lembaga-lembaga yang dipimpin oleh yang ada di sini tentunya juga harus melakukan perubahan dengan cara-cara sendiri, bersama-sama, tidak ada yang ditinggalkan, tidak ada yang dimusuhi, tapi serela-relanya, diajak berproses, bermusyawarah, bersepakat untuk melakukan perubahan ke arah yang diharapkan.
Kemudian, pelajaran yang maha besar adalah tidak ada jalan yang lunak untuk mencapai tujuan yang mulia. Kalau kita membaca riwayat, kisah Rasulullah, betapa banyak segala rintangan, tantangan, ujian, dan cobaan dihadapi, seolah-olah tidak bisa diatasi tanpa dihela dan tanpa tekad, ketegaran, kesabaran, keteguhan, keuletan, yang cukup banyak. Artinya apa? Kita ingin makin sejahtera rakyat kita, makin makmur negeri kita, makin adil bangsa kita, dan sampai pada tujuan itu. Itu bukan datang begitu saja, tidak datang dari langit, harus dilalui, harus diatasi, harus dibangun dengan keuletan, ketabahan, dan ketangguhan. Tidak boleh menyerah, tidak boleh cengeng, tapi dengan keteguhan yang maha besar itu. Itu juga pelajaran yang bisa kita ambil.
Kemudian, kita pelajari lagi, tentu Rasulullah teguh pada prinsip, dan menjaga daerah, tapi tentu beliau juga tentu di dalam menjaga kebersamaan. Dengan demikian, tidak lantas sangat memaksakan kehendak, tetapi pada prinsipnya. Itulah yang saya kira bisa kita pelajari bahwa kadang-kadang pimpinan kita, pimpinan saudara tidak boleh otoriter, tapi juga mengayomi, mengajak, persuasi. Tetapi pada prinsip, tidak bisa demikian. Kalau harus menghukum, ya menghukum. Tapi kalau harus mengakui, harus menerima apa adanya, harus memahami kekurangan orang lain, kesalahan, mengapa tidak dilakukan oleh Saudara semua ketika di wilayahnya masing-masing. Itu juga yang patut kita pelajari dari Rasulullah.
Banyak yang bisa kita lakukan, bahwa perubahan tidak bisa seketika, ada yang bertahap, sampai betul-betul semua paham bahwa dilakukan. Perlu waktu. Ada yang tadinya tidak dilarang penuh, tapi dalam tahapan-tahapan sampai akhirnya dilarang penuh, setelah semuanya sadar bahwa tidak membawa kebaikan. Maka, perubahan seperti itulah mendapat hikmah dari itu semua. Kita perlu kaji, tidak bisa sekali jadi tapi kalau semua sepakat untuk kebaikan negeri kita, kebaikan bangsa kita, banyak harus kita lakukan one by one, step by step, dan kita lakukan bersama.
Saudara-saudara,
Tidak akan pernah habis-habisnya, bagaikan mengambil air dari sebuah sumur yang mengalir terus, apa yang dicontohkan, dilakukan oleh Rasulullah, Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, marilah dalam ibadah kita di Tanah Suci Madinah Al Munawaroh ini betul-betul kita dapatkan pelajaran mahal, dan khusus di sini, ada yang berprofesi militer, peperangan pun selalu ada etikanya, ada hukum-hukumnya, ada akhlaknya, bahwa kita mengampuni seseorang yang tadinya memusuhi kita, memerangi kita, dan kemudian perlakuan itu membawa manfaat yang jauh lebih besar daripada tindakan-tindakan balas dendam yang tidak akan pernah habis.
Saya kira banyak sekali, dalam ranah politik barangkali ada kompetisi, ada pemilu, ada pilkada, dan sebagainya. Selesai, rukun kembali, gali silaturahim, maju bersama untuk kepentingan bersama, kepentingan yang lebih besar. Saya kira banyak sekali yang dapat kita petik, oleh karena itu, masih ada beberapa jam sambil kita melanjutkan ibadah kita di kota ini. Saya hanya ingin sebagai umaro, apa yang kita dengarkan dari para ulama, dari para habaib yang kita bangga dari berbagai ujung, saya kalau sudah menerapkan dalam kehidupan kita, tentu semua berkat bimbingan dari para ulama, para habaib, dan umat semuanya juga bisa menjalankan untuk mencapai tujuan yang baik.
Dan ketika kita terbang dari Istanbul ke Jeddah pada waktu itu, tiga doa, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, saya hanya ingin tiga doa, sudah, bapak-ibu, Saudara-saudara lakukan, doa pertama memohonkan kepada Allah SWT keselamatan bangsa dan negara dari berbagai marabahaya, bahaya apapun. Yang kedua, kita memohon kepada Allah, yang saya sampaikan itu, agar bangsa kita memperoleh hidayah, tidak pecah karena masalah-masalah diselesaikan secara damai. Dan yang ketiga, kita memohon kepada Allah agar pembangunan yang kita lakukan untuk kesejahteraan rakyat dapat kita laksanakan dengan baik. Jadi, tiada yang lebih indah daripada melihat bangsa kita yang selamat, yang rukun dan bersatu, dan yang sejahtera lahir dan batin dalam bimbingan Allah SWT. Itulah yang dapat saya sampaikan, saudara-saudara, sekali lagi terima kasih atas kebersamaan kita. Semoga kita semua dapatkan sesuatu yang kita inginkan.
Wassalaamualaikum Wr. Wb.,
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



