Pidato Presiden

Sambutan pada Sidang Kabinet Terbatas tentang Politik, Hukum dan Keamanan, Perekonomian dan Kesra

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PENGANTAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SIDANG KABINET TERBATAS TENTANG POLITIK, HUKUM DAN KEAMANAN, PEREKONOMIAN DAN KESEJAHTERAAN RAKYAT
KANTOR PRESIDEN, 5 JULI 2010



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Saudara Wakil Presiden Republik Indonesia dan para peserta Sidang Kabinet Terbatas yang saya cintai,

Alhamdulillah, hari ini kita dapat kembali menyelenggarakan Sidang Kabinet Terbatas yang akan mengagendakan beberapa hal, baik di bidang politik, hukum dan keamanan, di bidang perekonomian, maupun di bidang kesejahteraan rakyat.

Sebelum kita masuk pada agenda utama sidang kita hari ini, saya akan menyampaikan pengantar dan sejumlah direktif awal. Kemudian setelah itu, saya mempersilakan saudara Wakil Presiden untuk menyampaikan laporan kepada saya hal-hal yang paling mengemuka. Kemudian nanti sesuai dengan direktif awal saya, saya berharap para menteri atau anggota Kabinet Indonesia Bersatu II menyampaikan laporan-laporannya. Kalau masih diperlukan sebagai elaborasi dari apa yang dilaporkan oleh Wakil Presiden.

Saudara-saudara,
Meskipun saya beberapa saat yang lalu melaksanakan tugas di luar negeri, sebagaimana saudara ketahui, saya juga terus memantau dan mengikuti perkembangan dan dinamika di tanah air, termasuk pemantauan saya terhadap berbagai isu yang diangkat oleh media massa kita. Kalau saya ikuti, sebagian dari yang diangkat oleh publik, yang diliput oleh media massa itu memang merupakan tugas dan kewajiban pemerintah untuk menanganinya. Terhadap itu, kita harus meresponnya dengan cepat dan tepat.

Ketika saya baru saja mendarat di Tanah Suci misalnya, saya berkomunikasi dengan Pak Boediono, Wakil Presiden untuk memberikan atensi meskipun saya sudah tahu, beliau dan saudara-saudara juga telah mengelolanya seputar isu kenaikan harga barang-barang tertentu, karena itu berkaitan dengan hajat hidup rakyat kita, termasuk inflasi yang harus kita kelola dengan baik.

Dan kemudian, saya juga memberikan atensi khusus atas percakapan publik untuk dicek kebenarannya dan duduk persoalan yang sesungguhnya, meskipun saya yakin saudara juga sudah mengelolanya, yaitu isu kecelakaan tabung elpiji 3Kg. Ini contoh yang saya langsung meresponnya dan ada sejumlah isu lain yang lebih tepat saya sampaikan hari ini. Yang menurut saya memang merupakan fungsi, tugas, dan kewajiban pemerintah dan atau negara untuk merespon dan mengelolanya.

Namun demikian kalau saya ikuti, sebagian isu yang ada di masyarakat luas diangkat oleh media massa itu ya bagian dari diskursus, discourse atau wacana bahasa Indonesia-nya. Biarkan itu hidup sebagai percakapan di antara warga bangsa, itulah dialog dalam era demokrasi. Tidak semua pemerintah ikut masuk, tidak semua pemerintah langsung mengambil alihnya. Biarkan seperti itu, karena itu dinamika dalam kehidupan politik, sosial dan demokrasi kita. Tetapi satu hal, kalau itu menyangkut tugas-tugas kita, apakah ada dalam konstitusi, apakah dalam undang-undang, kita harus meresponnya segera.

Saudara-saudara,
Saya hanya ingin menyampaikan secara sangat singkat, apa yang saya dapatkan dari mengikuti G-20 Summit di Toronto, Kanada, terutama masalah-masalah utama, agreement yang kita sepakati untuk paling tidak dijadikan pedoman oleh semua negara anggota G-20. Bahkan sebagian harus ada follow up sebagai bagian dari coordination among members of G-20.

Pertama, kita sepakati Toronto bahwa recovery harus tuntas. Sekarang belum tuntas. Di negara kitapun, kalau saudara masih ingat apa yang saya sampaikan tahun 2008 dulu, 2009 dan 2010 inilah fase penting untuk melakukan pemulihan perekonomian kita dari dampak krisis perekonomian global. Di antara kita mudah lupa seolah-oleh sudah selesai-selesai saja, sudah oke-oke saja. Ingat 2 tahun kita punya RKP, 2 tahun kita punya APBN, 2009, 2010 untuk menuntaskan pemulihan perekonomian.

Oleh karena itu, kalau masih ada masalah di sana, sini, ya memang tahapan kita baru atau masih dalam masa penuntasan pemulihan perekonomian kita. Meskipun kondisi perekonomian kita jauh lebih baik dibandingkan banyak negara, termasuk di Eropa, di Amerika juga dalam aspek economic recovery pasca krisis 2008-2009 yang lalu.

Yang kedua, kita sepakat untuk mencegah krisis baru, ini dialamatkan pada negara-negara Eropa sebetulnya. Jangan sampai permasalahan APBN mereka, permasalahan defisit mereka, permasalahan makro ekonomi mereka menyebabkan krisis baru pada tingkat global.

Yang ketiga, kita juga bersepakat untuk benar-benar memiliki kebijakan makro ekonomi dan APBN yang prudent. Jangan main besar-besaran defisit, jangan keropos, sehingga collapse, termasuk sesungguhnya semangatnya tinggi sekali untuk mengakhiri subsidi, mengurangi subsidi secara drastis, termasuk subsidi BBM. Tentu saja Indonesia memiliki posisi dalam jangka menengah dan jangka panjang subsidi itu betul-betul hanya kita berikan bagi yang memang memerlukan subsidi. Tapi menuju ke situ harus ada proses yang dilakukan secara bertahap, sambil memahami kondisi sosial, ekonomi masyarakat kita.

Itu pilihan kita, that’s our policy, meskipun di Toronto semangatnya karena jebolnya APBN, tingginya defisit, tidak bisa bertahan perekonomian negara-negara itu. Kalau dalam perekonomian dunia yang saling terintegrasi, saling tergantung sekarang ini, itu terjadi hampir pasti dampaknya dirasakan oleh semua negara di dunia. Kita juga sepakat untuk menjalankan semua kesepakatan dari pertemuan puncak yang sudah 4 kali dilakukan, satu di Washington DC, dua di London, ketiga di Pittsburgh dan yang keempat di Toronto, yang nanti insya Allah, yang kelima di Korea Selatan.

Kemudian yang terakhir, kesepakatan dari G-20 bagi negara-negara yang relatif terbebas dari krisis global ini atau yang sudah cepat recovery-nya atau negara-negara yang punya kemampuan, termasuk emerging economies yang punya surplus. Indonesia alhamdulillah disebut sebagai sesungguhnya semi-emerging economy yang punya surplus meskipun sedikit, kategorinya begitu. Itu diharapkan juga masuk barisan untuk kembali meningkatkan pertumbuhan global, global growth yang sekarang konsepnya adalah yang disebut dengan pertumbuhan yang kuat, pertumbuhan yang berimbang, dan pertumbuhan yang berkelanjutan dalam arti tidak merusak lingkungan. Jadi strong, balance, and sustainable global economic growth. Itulah 5 hal penting yang dapat saya summary-kan dari pertemuan puncak dari G-20 di Toronto Summit selama 2 hari kemarin.

Sebagai pengantar yang ketiga adalah kunjungan saya ke Turki. Hasil dari kunjungan kenegaraan saya yang pertama dan ini kunjungan seorang Presiden Indonesia yang dilakukan setelah 25 tahun. Jadi kunjungan Presiden Soeharto ke Turki itu dilaksanakan pada tahun 1985, berarti seperempat abad kemudian, baru kita mengunjungi kembali secara resmi Turki.

Kesimpulan, meskipun nanti dalam sesi yang lain saya akan sampaikan kepada para menteri terkait. Turki adalah negara yang tumbuh dan berkembang dengan baik sekarang ini, makin besar perannya di kawasan dan di dunia. Turki yang juga negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam lebih dari 99%, menganut demokrasi lebih tua dibandingkan kita demokrasinya dan juga menunjukkan atau bersahabat dengan modernitas. Dengan karakter Turki seperti itu, merurut kesimpulan saya, menurut potensi yang ada, Turki bisa menjadi strong partner bagi kita di berbagai bidang, termasuk di bidang kerja sama ekonomi.

Prioritas kita untuk kerja sama dengan Turki di waktu yang akan mendatang investasi. Di Istanbul saya diacarakan untuk bertemu dengan 800 lebih dari kalangan dunia usaha Turki bersama-sama dengan kalangan dunia usaha Indonesia. Saya tampil bersama Presiden Turki DR. Abdullah Gűl dan di situ sudah mulai diwujudkan penandatanganan MoU, kesepakatan, perjanjian diantara kedua dunia usaha, Turki dan Indonesia.

Prioritas kedua, perdagangan sangat mungkin kita tingkatkan, bahkan Presiden Gűl dan saya bersepakat kita menuju ke perdagangan 5 milyar dolar. Sebelum krisis 2008, kita sudah mencapai 2,1. Jadi menurut Turki yang sekarang volume perdagangannya sudah lama menembus 100 billion, kita baru beberapa saat yang lalu dan Turki adalah ekonomi ke-14 terbesar di dunia, sangat mungkin untuk bekerja sama di bidang trade atau perdagangan.

Transportasi, Alhamdulillah sudah dibuka link angkutan udara dari Istanbul ke Jakarta. Kita berharap dari Istanbul ke Bali, dengan demikian membuka kran dalam mengembangkan pariwisata di negeri kita.

Di bidang pendidikan, pendidikan maju Alhamdulillah Turki sangat generous untuk menerima kehadiran mahasiswa dan siswa kita, dengan demikian juga yang ada di luar Turki.

Budaya, saya kira saudara mengetahui, Turki dari dulu adalah center of global civilization sejak awal dari peradaban manusia tumbuh di bumi ini dan dari segi agama. Bagi yang belum pernah ke Istanbul, di situ ada jejak peradaban Islam yang terabadikan sehingga bagus, saya kira untuk kerja sama sekali lagi, di bidang pendidikan, budaya dan agama. Yang lain tentu juga sangat penting pertanian, industri, jasa, tetapi saya menggarisbawahi beberapa isu, beberapa bidang kerja sama yang harus segera kita tingkatkan. Itulah konklusi dan hasil dari kunjungan saya ke Turki selama 2 hari.

Saudara-saudara,
Sebagaimana saya sampaikan tadi, sidang kabinet kita ini mencakup 3 hal sekaligus sebetulnya di bidang ekonomi, di bidang politik, hukum dan keamanan dan di bidang kesra. Di bidang ekonomi, saya tahu bahwa makro ekonomi kita sesungguhnya dalam keadaan baik, so far so good. Namun demikian, saya perlu di-update, terutama hal-hal yang menonjol.

Yang kedua, inflasi. Mari kita jaga betul, mari kita terus bekerja sama dengan Bank Indonesia. Dan dalam sistem ekonomi yang kita pilih, di mana antara market mechanism dan government roles itu dua-duanya hadir dalam sebuah sinergi yang positif, maka kita tidak boleh tidak mengikuti pergerakan harga. Sekali lagi, inflasi terutama yang berkaitan dengan harga barang-barang pokok, bahan-bahan pokok yang sangat diinginkan oleh rakyat.

Isu ketiga adalah penerimaan pajak. Tolong dicek kita sudah bertekad untuk mengurangi hutang luar negeri. Kita bertekad untuk menurunkan terus rasio antara hutang dengan pendapatan negara, trend-nya baik, ini tidak boleh terhenti, apalagi mundur, harus terus berjalan. Oleh karena itu, penerimaan dalam negeri harus meningkat. Komponen yang paling besar adalah pajak, tidak boleh kita tidak terus mengikuti berapa besar penerimaan pajak kita. Saya merencanakan untuk berkunjung nanti ke Direktorat Jenderal Pajak.

Saya ingin mendengar reformasinya, saya ingin dengar komitmennya, saya ingin mendapatkan semacam ya kontrak bahwa sekarang ke depan tidak ada lagi yang main-main di bidang pajak, terutama yang akan saya kunjungi nanti di lingkungan Direktorat Pajak sendiri. Mengapa? Sekali lagi, semangat bangsa ini mengurangi, menurunkan jumlah hutang luar negeri, mencegah defisit sehingga tidak sehat APBN kita, perekonomian kita dengan cara meningkatkan pendapatan dalam negeri dan komponen utamanya adalah pajak, di samping migas, kepariwisataan dan pendapatan non-pajak yang lain.

Yang berikutnya lagi, saya tetap ingin dilapori bagaimana tabung LPJ itu. Jelas investigasinya, mengapa? Supaya tidak dipelintir ke sana ke mari, jelas. Ketika penjelasan jelas, saya berharap media massa juga mengangkat secara jelas. Rakyat mendapatkan informasi yang benar dan jelas, itulah demokrasi.

Lantas saya juga ingin bagaimana kita mengantisipasi produksi pangan kita. Iklim berubah, kemarin saya mendarat di Turki hujan dan di Tanah Suci juga terjadi perubahan iklim yang dramatis, itu semua karena climate change. Bagi kita, di samping kita mengurangi karbondioksida, kita pastikan bahwa pattern atau pola pertanian kita ini yang terus berubah, kita kelola sedemikian rupa dengan cara-cara yang baik, sehingga produksi pangan kita tidak menurun, tidak terganggu.

Juga bagaimana antisipasi terhadap kenaikan tarif dasar listrik. Kenaikan TDL sudah dijelaskan berkali-kali untuk membikin APBN kita sehat. Kalau tidak sehat, contohnya banyak seperti di Eropa sekarang ini. Jumlahnya pun dipilih yang relatif rendah. Sudah dihitung pula bagaimana dampak terhadap industri. Saya ingin, mari jangan kita biarkan, kita kelola, jangan sampai ada dunia usaha yang mencari keuntungan berlipat ganda, berlindung dibalik kenaikan TDL ini. Itu menyusahkan rakyat. Dalam kapitalisme yang ekstrem bisa-bisa saja. Dalam perekonomian kita, yang juga mengedepankan keadilan sosial tidak boleh seperti itu. Cek yang betul, antisipasikan segala sesuatunya sehingga rakyat kita tidak mendapatkan kerugian.

Saya mendengar juga ada kecelakaan kereta api. Saya selalu memberikan atensi. Ingat saudara dulu, kita membentuk tim nasional, kita melakukan reformasi angkutan udara, angkutan laut dan angkutan darat. Oleh karena itu, hal kecil begini, tidak kecil sebetulnya hal yang bisa merugikan material apalagi jiwa dari rakyat kita, saya minta ditangani dengan baik dan dilakukan langkah-langkah yang semestinya.

Kemudian yang terakhir di bidang ekonomi, saya ingin mengingatkan bahwa gaji ke-13 harus sudah dibagikan karena ini penting bagi rakyat kita. Ratusan SMS masuk ke saya, “Pak SBY, jangan lupa gaji ke-13.” “Pak SBY, jangan sampai telat dan seterusnya.” Itu menunjukan bahwa kalangan masyarakat kita memerlukan tambahan gaji itu untuk kepentingan yang penting bagi keluarganya, rumah tangganya. Itu di bidang perekonomian.

Di bidang polhukam, saya mengikuti dinamika penegakan hukum. Pesan saya kepada semua jajaran anggota Kabinet Indonesia Bersatu yang memiliki tanggung jawab dan tugas di wilayah ini, mulai Menko Polhukkam, Kapolri, Jaksa Agung, Menteri Hukum dan HAM, untuk menjalankan penegakan hukum dengan tepat dan benar. Konsisten, adil, profesional, dengan menjaga prinsip-prinsip non-intervention. Saya tidak boleh dan tidak akan mengintervensi proses penegakan hukum. Saya buktikan kepada siapapun, bahkan kepada keluarga dekat saya, supaya adil di negeri ini, tidak ada tebang pilihnya.

Banyak surat, SMS, pesan kepada saya, “Pak SBY, tolong selamatkan ini, tolong bantu ini.” Jawaban saya, “Bapak, Ibu, yang bisa saya lakukan, saya meminta kepada Kepolisian, kepada Kejaksaan, harapan saya kepada wilayah Mahkamah Agung yang adil, yang tepat, yang profesional.” Itu yang paling mahal, Itu yang paling mahal. Oleh karena itu, terhadap semuanya itu, sekaligus melalui media massa, saudara-saudara yang meminta saya intervensi, mengambil alih, tentu tidak mungkin saya lakukan. Tetapi saya berharap betul-betul adil, transparan, profesional, kemudian ya konsisten, dalam arti ya itulah penegakan hukum yang kita lakukan di negeri ini, di waktu yang lalu, sekarang dan ke depan.

Muncul, ini yang di jajaran Pak Bambang Hendarso. Isu rekening dari sejumlah perwira tinggi Kepolisian, meluas kemana-mana SMS banyak sekali masuk ke saya. Tolong ditanggapi, tolong diselesaikan, tolong dikelola dengan baik. Kalau ada memang yang termasuk wilayah pelanggaran hukum, ya diberikan sanksi. Kalau tidak, ya jelaskan. Prinsip yang bersalah dihukum, yang tidak salah, ya tidak di hukum. Lakukan langkah-langkah, jelaskan kepada publik, setelah dijelaskan, publik juga harus mendengarnya. Dengan demikian, terjadi komunikasi politik yang baik. Tapi prinsipnya adalah, hukum ditegakkan, tetapi bagi yang tidak bersalah, juga harus dilindungi hak-haknya. Ini sekali lagi, wilayah keadilan.

Saya juga ingin mendengar sejauh mana, meskipun Presiden tidak boleh ikut menentukan orang dalam proses seleksi itu, sama sekali tidak boleh, dan tidak pernah saya lakukan sejak tahun 2004, 6 tahun yang lalu, yaitu seleksi pimpinan KPK dan seleksi anggota Komisi Yudisial. Tepati waktunya. Kemudian jalankan secara profesional. Saya tidak akan memberikan direction apapun dalam proses seleksi, kita bisa minta menteri terkait, fasilitasi, berikan bantuan agar kedua panitia ini bisa menjalankan tugas dengan baik, selesai pada saatnya.

Masih satu lagi di bidang polhukam, saya pantau masih terjadi kekerasan-kekerasan pasca pilkada. Jangan dibiarkan. Cari tahu mengapa. Pemilu 2009, pilpres 2009 tertib. Apapun hasilnya, rakyat tertib, menghormati. Luar biasa kematangan rakyat kita dalam Pemilu Legislatif 2009 dan Pemilu Presiden 2009. Kenapa justru dalam pilkada yang lebih sedikit massa pemilihnya terjadi kekerasan-kekerasan. Trend apa ini? Bagi penggeraknya jangan dibiarkan, sarana hukumnya ada. Ini bukan politik, masalah hukum.

Memang mahal, demokrasi itu mahal, pemilihan langsung itu, betul-betul siapapun harus siap menang dan siap kalah. Yang kalah barangkali kecewa, dimengerti. Yang menang barangkali senang, tapi juga jangan lupa daratan, harus begitu. Tetapi kalau sampai digerakkan, atau didorong untuk kekerasan-kekerasan, tidak boleh kita biarkan mencoreng demokrasi yang tumbuh makin baik ini. Saya minta atensi betul semua untuk mencegahnya. Jangan setelah terjadi, baru kita peduli, keliru we have to prevent it. Kita harus mencegahnya.

Di bidang kesejahteraan rakyat, saya minta Menko Kesra, Menteri Agama, dengan semua pastikan betul, kesiapan ibadah haji untuk tahun 1431 H atau tahun 2010 Masehi itu berjalan dengan baik. Saya melihat langsung kemarin Kota Makkah Al-Mukaromah, kota Madinah Al-Munawaroh terjadi banyak perubahan, tata kota bangunan-bangunan yang itu juga amat dinamis. Di satu sisi mendapatkan kemudahan, di satu sisi lain ada perubahan-perubahan yang bisa menimbulkan kesulitan.

Dan ingat, jamaah Indonesia jamaah terbesar lebih dari 200 ribu. Oleh karena itu, tolong dipersiapkan dengan baik. Saya baca di media massa, belum klop antara pemerintah dengan DPR. Apanya yang belum klop? harus pro aktif, waktu mengejar terus. Sama-sama bertanggung jawab kepada rakyat. Jadi jangan sampai hanya mis-komunikasi terus macet ini semua, merugikan kita semua. Saya minta proaktif, kemudian melakukan pertemuan yang baik dengan dewan, dewan juga ingin ibadah hajinya makin baik. Pemerintah apalagi yang lebih bertanggung jawab dalam implementasi ibadah haji ini. Saya ingatkan sekali lagi, tolong segera masuk ke wilayah itu untuk dikelola dengan baik.

Yang terakhir adalah masalah dunia persepakbolaan di Indonesia. Saudara mengikuti saya kira, meskipun secapek apapun, kurang tidur, kita mengikuti pertandingan itu, banyak yang meleset. Menjagokan Brazilia ke laut, menjagokan Argentina, saya ke laut juga kemarin. Tapi begini, poinnya begini. Asia tidak muncul. Ketika penyisihan pun, Asia ada, tapi Asia Tenggara tidak muncul. Mengapa? Indonesia tidak bertekad. Dalam jangka menengah ini, ya tidak usah juara dunia, tidak usah papan dunialah. Tapi bisa sampai di Asia Tenggara dulu, Sea Games, syukur-syukur ke Asia.

Dalam kaitan ini, Kongres Nasional Sepak bola sudah kita lakukan di Malang. Kalau tidak ada langkah-langkah yang konkret, sampai lebaran kuda, kita punya sepak bola ya begini terus. Oleh karena itu, mari kita berikhtiar. Kemarin di luar negeri saya sedang berikhtiar untuk itu, untuk mencari coach, pelatih, yang menurut saya track record-nya berhasil, mengangkat dari papan bawah ke papan atas, dengan demikian kita bisa meningkatkan.

Saya akan bicarakan segera dengan Nurdin Halid, Ketua Umum PSSI, Ibu Rita Subowo, Ketua Umum Koni, dengan Menpora dan lain-lain, bagaimana kita menuju ke situ. Sepakbola memang bukan hanya coach yang harus jago, meskipun itu penting. Tetapi pembinaannya harus baik, manajemennya, fasilitas harus tersedia, sistemnya harus kena, climate masyarakat kita atau kecintaan pada sepakbola itu harus tinggi, bangsa itu punya talent, punya riwayat bahwa kita pernah berjaya. Dari unsur itu banyak yang sudah kita miliki. Tinggal sedikit.

Oleh karena itu, mari kita tata. Saya mengajak semuanya, karena saya mendengar rakyat kita begitu mencintai sepakbola dan dalam hatinya kapan Indonesia tampil, tidak usah ke World Cup dulu paling tidak di Asia Cup dan wajib hukumnya di Asia tenggara itu berada di papan atas. Sea Games tahun depan, 2011 tuan rumahnya kita, jangan sampai kita tidak tampil dalam sepakbola ini.

Ini Menko Kesra, tolong dengarkan aspirasi rakyat ini serius, karena bayangkan nasionalisme itu, sahabat saya, Angela Markel terbang ke Afrika untuk menjagokan Jerman. Jerman kali ini luar biasa memang itu, tough-nya, pertahanannya bagus, serangannya bagus, orangnya tinggi-tinggi pula dan seterusnya. Tapi bagaimanapun harus meningkat sepakbola kita jauh meningkat. Itulah pengantar saya agak panjang, karena sekaligus dengan apa yang kita hasilkan dalam kunjungan kemarin.

Dan setelah ini, setelah break 5 menit Pak Boed, saya persilakan Wapres melaporkan yang menonjol saja kemudian bisa dilengkapi oleh para Menteri. Kita break sebentar.

*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan