Pidato Presiden
Sambutan pada Peresmian Pembukaan Musyawarah Nasional ke-8 MUI
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN MUSYAWARAH NASIONAL KE-8
MEJELIS ULAMA INDONESIA TAHUN 2010
J C C, 25 JULI 2010
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum waramatullahi wabarakatuh,
Yang saya hormati para pimpinan lembaga-lembaga negara, para menteri dan anggota Kabinet Indonesia Bersatu II,
Yang Mulia para Duta Besar negara-negara sahabat, Wakil Gubernur DKI Jakarta,
Yang saya muliakan Ketua Umum Mejelis Ulama Indonesia, Almukarram Bapak Dr. Kyai H. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz dan para pimpinan dan pengurus Majelis Ulama Indonesia, baik pada tingkat pusat maupun daerah, para pimpinan organisasi kemasyarakatan dan pimpinan lembaga-lembaga pendidikan Islam,
Hadirin-hadirat peserta Musyawarah Nasional yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang amat baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, marilah sekali lagi, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas perkenan rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberikan nikmat kesempatan, nikmat kekuatan, dan nikmat kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada umat, kepada masyarakat, serta kepada bangsa dan negara tercinta. Salawat dan salam marilah sama-sama kita haturkan pada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikut Rasulullah, insya Allah termasuk kita-kita semua hingga akhir zaman.
Hadirin yang saya muliakan,
Atas nama negara dan pemerintah serta selaku pribadi, saya mengucapkan selamat memperingati Milad ke-35 Majelis Ulama Indonesia, serta selamat mengikuti Musyawarah Nasional yang ke-8 pada tahun 2010 ini. Semoga ke depan Majelis Ulama Indonesia dapat terus meningkatkan peran dan kontribusinya pada kehidupan bangsa, utamanya di dalam membangun kehidupan yang teduh dan religius.
Dalam kaitan Milad ke-35 dan Musyawarah Nasional ke-8 ini, saya juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas digelarnya Pameran Produk Halal Internasional dan Pagelaran Seni Budaya Islam di antara Tiongkok dan Indonesia yang telah berlangsung dengan baik.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Tema Musyawarah Nasional, sebagaimana yang tertera di layar di hadapan hadirin sekalian adalah memantapkan peran ulama dalam perbaikan akhlak bangsa dan pemberdayaan ekonomi umat. Tema ini tepat, relevan serta kontekstual. Saya juga menggarisbawahi apa yang disampaikan oleh Kyai Sahal Mahfudz tadi, pengamatan beliau yang benar bahwa disamping kita bersyukur atas kemajuan kehidupan demokrasi dan ekonomi nasional kita, kita prihatin atas masih terjadinya permasalahan akhlak, kearifan, dan sopan santun kita semua, juga ditengarai oleh beliau menurunnya kearifan serta jati diri kita sebagai bangsa yang luhur.
Saudara-saudara,
Saya gembira karena justru Majelis Ulama Indonesia memiliki kepedulian dan perhatian yang tinggi terhadap masalah-masalah itu. Di alam demokrasi sekarang ini, yang penuh dengan nuansa kebebasan dan kemajuan hak-hak azasi manusia suara dan keprihatinan tentang permasalahan akhlak, moral serta budi pekerti masyarakat kita sering kurang mendapatkan respon yang memadai. Apalagi jika dinamika kehidupan kita sekarang ini penuh atau syarat dengan persoalan politik dan bisnis yang sepertinya cara apapun untuk mencapai tujuan, politik dan bisnis itu dihalalkan. Maka terasa sangat tepat apa yang menjadi tema besar dalam Musyawarah Nasional Majelis Ulama Indonesia yang ke-8 ini.
Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Saya mengajak saudara semua untuk bersama-sama menyelamatkan dan membangun akhlak, moral, budi pekerti dan kesantunan kita sebagai bangsa yang terhormat. Memang benar kita harus menjadi bangsa yang maju, berpengetahuan dan menguasai teknologi. Adalah benar, kita harus maju secara ekonomi agar kita bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat kita.
Kitapun harus maju secara politik dengan kehidupan demokrasi yang baik, kita juga menginginkan negara kita aman dan kedaulatan kita tegak, termasuk tegaknya hukum dan keadilan di seluruh wilayah Indonesia. Dengan harapan kalau semua itu dapat kita wujudkan, maka di era globalisasi sekarang ini, Indonesia akan tampil sebagai pemenang dan akhirnya di abad ke-21 ini, Indonesia benar-benar menjadi negara yang maju dan sejahtera.
Tetapi menjadi negara yang maju dan sejahtera itu belum cukup, perlu satu lagi, yaitu menjadi pula bangsa yang bermartabat. Inilah tugas besar kita membangun diri, menjadi bangsa yang bermartabat, di samping maju dan sejahtera di era globalisasi dewasa ini.
Kemarin dalam peringatan Hari Anak Nasional, saya menyampaikan bahwa kita semua pada hakekatnya memiliki peran, tugas dan tanggung jawab, untuk membangun kehidupan yang baik, untuk membangun akhlak, budi pekerti dan kesantunan sosial yang baik pula, termasuk pendidikan bagi anak-anak kita. Kita ini adalah para orang tua. Kita ini adalah guru dan para pendidik, termasuk para pemuka agama dan tokoh masyarakat. Para pemimpin di seluruh Indonesia apapun tingkatannya, baik pemimpin formal maupun pemimpin informal, jelas pemerintah dan para penegak hukum, media massa dan para penyelenggara negara yang lain seperti parlemen kita.
Semua memiliki tanggung jawab besar untuk menyelamatkan kehidupan bangsa kita sekarang dan ke depan dengan tekanan pada yang menjadi tema dalam Musyawarah Nasional MUI ini adalah akhlak, moral, budi pekerti dan kesantunan kita sebagai bangsa yang bermartabat.
Kasus yang menjadi tragedi kemanusiaan dan tragedi akhlak, yaitu kasus video porno adalah cermin dari sesuatu yang kita semua harus sungguh sangat serius menanggapi permasalahan akhlak, moral, budi pekerti dan kesantunan kita sebagai bangsa. Mari kita cegah tidak terjadinya lagi kasus-kasus atau tragedi yang memprihatinkan itu.
Hadirin yang saya hormati,
Semua tentu setuju dan semua tahu pentingnya akhlak, moral dan etika, pentingnya budi pekerti dan sopan santun, pentingnya kehidupan yang religius, yang pandai membedakan mana yang hak dan yang batil, mana yang baik dan mana yang buruk, termasuk tegaknya amal ma’ruf nahi munkar dan juga kita tahu bahwa kita semua harus menghormati pranata hukum dan pranata sosial, termasuk nilai-nilai budaya, peradaban, dan nilai ke-Indonesia-an kita, tetapi tentunya kita tidak hanya sekedar tahu akan pentingnya semuanya itu.
Tetapi yang paling utama adalah kita para pemimpin, termasuk para ulama, para tokoh masyarakat, sebelum mengajak yang lain, mari kita mulai dari diri kita sendiri. Ini mendasar. Oleh karena itu, sangat besar harapan saya kepada kaum ulama dan para pemuka agama di negeri ini untuk benar-benar berdiri di depan, dalam urusan menyelamatkan akhlak moral, etika, budi pekerti, dan sopan santun bangsa kita.
Kita berharap para ulama dan pemimpin di negeri ini, benar-benar bisa menjadi contoh dan kemudian memberikan contoh. Menjadi contoh itu bersifat pasif, memberikan contoh dan mengajak itu aktif. Banyak di antara pemimpin dan tokoh kita yang lebih suka menjadi contoh, tetapi ke hadapan para ulama, saya sungguh berharap para ulama juga patut untuk mengajak, memberikan contoh, dan membimbing kepada umat kita, kepada rakyat kita. Kita ingin agar rakyat Indonesia khususnya umat Islam di negeri ini betul-betul menjadi muslimin dan muslimat yang beriman, bertaqwa, beramal saleh, serta berbudi pekerti dan bersopan santun yang baik, berdasarkan ajaran Islam dan kearifan lokal kita semua.
Hadirin yang saya hormati,
Sub tema kedua adalah berkaitan dengan upaya untuk membangkitkan dan menggerakkan ekonomi umat, ekonomi rakyat. Saya sungguh memberikan penghargaan atas kepedulian dan perhatian Majelis Ulama Indonesia terhadap permasalahan seperti ini. Karena hanya dengan mengembangkan ekonomi umat, dan ekonomi rakyat, kemiskinan di negeri ini, dan dengan sendirinya kesejahteraan rakyat. Tentu saja peran Majelis Ulama Indonesia lebih banyak peran untuk mendorong dan mengajak bagi semua pihak untuk secara aktif mengembangkan ekonomi rakyat, termasuk ekonomi umat, yang juga bernafaskan Islam seperti ekonomi syariah.
Ikutlah mendorong agar kebijakan dan program pemerintah prorakyat di seluruh tanah air, benar-benar dapat dilaksanakan secara berhasil. Para ulama pasti telah mengetahui bahwa kita semua ingin mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah, serta usaha koperasi yang tersebar di seluruh tanah air. Kita ingin menyukseskan kredit usaha rakyat dengan jumlah 5 tahun mendatang diharapkan 100 triliun yang bisa dijadikan modal usaha untuk usaha mikro dan usaha kecil yang memerlukan dukungan semua pihak agar itu berhasil.
Kita juga ingin kemitraan usaha mikro, kecil, dan menengah dengan BUMN dan usaha-usaha yang besar juga bisa berjalan dengan baik. Kita ingin mengembangkan kewiraswastaan, kewirausahaan yang itu menjadi soko guru dari usaha mikro, kecil, dan menengah dan sejatinya ekonomi umat dan ekonomi rakyat kita. Kita juga ingin terus mengembangkan perbankan syariah untuk menyalurkan kredit bagi, sekali lagi, usaha mikro, kecil dan menengah, di samping program PNPM Mandiri, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri yang setiap tahun kita berikan bantuan kepada kecamatan dan desa untuk ikut menggerakan ekonomi lokal. Dan juga bantuan-bantuan kepada pondok pesantren yang alhamdulillah dengan meningkatnya anggaran pendidikan akan terus ditingkatkan di masa-masa mendatang.
Kalau semuanya itu bisa berjalan dengan baik, ekonomi umat yang sejatinya juga ekonomi rakyat akan makin tumbuh dan dengan demikian, taraf kehidupan rakyat kita akan makin meningkat. Sambil terus melakukan pemberdayaan masyarakat kita, sambil terus mendorong kebangkitan perekonomian rakyat, kami mohonkan kepada para ulama untuk mengajak umat kita menjalankan gerakan kesetiakawanan dan bantuan kepada saudara-saudara kita golongan ekonomi lemah, dengan terus mengembangkan zakat, sadaqah, infak, wakaf dan berbagai bentuk bantuan yang alhamdulillah tahun-tahun terakhir berkembang makin baik.
Hadirin sekalian,
Itulah wujud nyata apa yang dapat kita lakukan oleh seluruh komponen bangsa dan saya mohonkan sekali lagi, kontribusi, partisipasi, dan pembimbingan dari para ulama, agar ekonomi umat dan ekonomi rakyat terus tumbuh berkembang dan yang lebih penting lagi agar akhlak, moral, etika, budi pekerti dan sopan santun bangsa kita bisa diselamatkan dan terus dibangun pada tingkatannya yang luhur dan mulia.
Hadirin sekalian,
Itulah harapan, ajakan dan pesan-pesan saya selaku umaroh yang mengemban amanah sekarang ini, dengan harapan semoga para ulama, Majelis Ulama Indonesia dengan jajarannya terus dapat meningkatkan darmabaktinya, kontribusi dan partisipasinya pada pembangunan bangsa di masa kini dan masa depan.
Akhirnya dengan terlebih dahulu memohon ridho Allah SWT dan dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Musyawarah Nasional ke-8 Majelis Ulama Indonesia dengan resmi saya nyatakan dibuka.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



