Pidato Presiden
Sambutan pada Acara Menerima para Budayawan
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
MENERIMA PARA BUDAYAWAN
ISTANA KEPRESIDENAN TAMPAKSIRING
26 JULI 2010
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Om Swastiastu,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Para menteri, saudara gubernur, para seniman dan budayawan yang saya cintai,
Alhamdulillah, malam hari ini kita dapat bertatap muka di ruangan ini, semoga pertemuan kini membawa berkah bagi kita semua untuk melanjutkan karya dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara yang sama-sama kita cintai.
Sebelum saya menyampaikan pandangan, harapan, dan ajakan saya kepada saudara-saudara, para seniman dan budayawan, saya ingin memberikan penjelasan bahwa dua lagu yang tadi baru saja kita saksikan. Lagu pertama yang berjudul Save Our Planet. Itu lagu yang kita persembahkan kepada dunia, ketika dilaksanakan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim yang dilaksanakan di Bali pada bulan Desember tahun 2007. Dimana Bali Conference itu sendiri menjadi salah satu success story yang terkenal dengan istilah Bali Road Map yang sering menjadi rujukan oleh para pemimpin dunia dan para pecinta lingkungan ketika kita sedang menyusun satu kerja sama baru, protokol baru untuk menggantikan Protokol Kyoto yang jatuh tempo pada tahun 2012 mendatang.
Terus terang sejarahnya, lagu ini waktunya sempit, dan saya diminta untuk mempersembahkan satu lagu. Waktu kami berangkat ke Bali, sampai di Tampaksiring, sampai di bandara, refrain-nya itu belum jadi. Jadi bait kesatu, bait kedua sudah jadi, refrain belum jadi. On the way from bandara sampai di Tampaksiring inilah refrain itu ketemu di jalan. Setelah sampai di sini, terus kita coba malam hari berkali-kali, berkali-kali, akhirnya terbentuklah lagu Save Our Planet yang tadi kita dengarkan bersama dan yang kemudian dinyanyikan oleh Elfa’s Singers.
Yang kedua lagu Save Our World, sebetulnya judulnya Dari Jakarta Ke Oslo Untuk Bumi Kita. Itu ketika kita menjalankan tugas negara, 2 hari di Norwegia, ditambah 2 hari perjalanan waktu itu, karena kita mendapatkan kontribusi berupa hibah 1 milyar Dolar Amerika Serikat. Dan Indonesia dipercaya untuk menjadi co-chair dalam konferensi internasional di Oslo, Norwegia. Kami berangkat dengan rombongan dan setelah selesai perhelatan di Oslo, subuh terciptalah lagu itu yang masih berjudul sebetulnya Dari Oslo ke Jakarta Untuk Bumi Kita.
Sampai di Jakarta kemudian, kami menemukan seorang penyanyi yang berbakat, Sandy Sandoro dan kemudian dalam waktu 2 hari 2 malam dibikin rekamannya dalam bahasa Indonesia. Sayang tidak ditayangkan tadi dengan nuansa etnik Dayak. Kalau yang Save Our Planet itu nuansa etnik Bali.
Kemudian ceritanya karena lagu ini bisa atau boleh menjadi lagu untuk memotivasi, mendorong bangsa-bangsa sedunia peduli pada lingkungan, pada perubahan iklim, dibikinlah versi bahasa Inggris yang berjudul Save Our World yang belum selesai sebetulnya. Ini adalah contoh rekaman awal yang sedang disusun, dibahasa-Inggris-kan oleh namanya Jeffrey Pescato dan kemudian dinyanyikan oleh Jeff Lorber bersama Jeffrey Pescato yang sekarang pun belum rampung sebetulnya. Jadi ada dua versi, versi bahasa Indonesia, manis lagunya yang menyanyikan Sandy Sandoro dengan nuansa etnik Dayak, Kalimantan.
Dua lagu ini, mudah-mudahan anak bangsa Indonesia yang peduli pada dunianya, dunia yang aman, damai, adil, sejahtera serta lestari dalam arti anak cucu kita memiliki masa depan yang menentramkan. Pak Wacik tadi mengatakan, produktif. Sebetulnya tidak produktif sekali. Saya 5 tahun, ya karena punya hobi main musik sejak muda, SMP, SMA, di samping juga hobi membikin puisi, hobi melukis juga sebetulnya cuma sudah sangat lama tidak melukis.
Selama 5 tahun saya menciptakan lagu 15 lagu, berarti 1 tahun 3 lagu. Hanya 1 lagu 4 bulan, mengambil waktu 2 jam. Jadi tidak mengganggu waktu tugas saya sebagai Presiden, kecuali kalau tiap hari bikin lagu, lupa tugasnya ya itu keliru. Tapi kalau 4 bulan sekali, saya punya hobi menulis, mudah-mudahan ini menjadi baik.
Dan saya punya hobi ini para seniman, budayawan, begitu selesai mengemban tugas negara, di mana pun, sebelum pulang ke tanah air, entah dini hari, entah tengah malam, itu tiba-tiba inspirasi datang. Saya pernah membikin lagu tepat pada tanggal 9 September 2007, hari ulang tahun saya, setelah dari APEC Summit di Sydney. Dini hari on the way back to Jakarta, saya mencipta setelah satu lagu, dan kemudian Purwacaraka grup bersama Ebiet G. Ade yang membawakan lagu itu, sampai di Jakarta, saya rundingkan sama Ebiet. Ebiet saya minta beliau yang menyanyikan dan menyanyikan dengan beberapa adaptasi, terciptalah lagu yang berjudul Mengarungi Keberkahan Tuhan.
Liriknya dijamin halal, isinya teduh, mengajak bangsa ini rukun, bersatu, saling sayang-menyayangi, optimis, cerita tentang keindahan alam, cerita tentang masa depan yang membawa harapan dan sebagainya. Mudah-mudahan ini sebagai bagian dari mainstream lagu-lagu Indonesia yang kita nikmati, kita dengarkan sekarang ini dengan berbagai corak, saya kembali kepada love song, slow pop, yang mudah-mudahan mengobati kerinduan bagi mereka yang menginginkan lagu-lagu seperti itu tapi sudah hilang ditelan masa oleh gegap gempitanya perubahan pada era masa sekarang.
Bapak, Ibu,
Hadirin yang saya hormati,
Saya ingin merespon yang disampaikan kedua seniman, budayawan kita tadi. Yang pertama, Pak Putu, benar bahwa yang kita bangun ini sesungguhnya sebuah investasi jangka panjang. Sepertinya, ah lomba itu apa sih gunanya gitu. Kenapa harus begitu? Tiap tahun dibikin lomba cipta seni seperti itu, apa ya ada hasilnya. Lebih bagus dagang, ada untungnya, politik jelas ada hasilnya, menang. Lantas apa ada manfaatnya kegiatan seni seperti itu.
Kalau kita renungkan secara mendalam, selalu ada manfaat. Saya menyampaikan dalam sambutan singkat saya tadi sore, bahwa mengembangkan seni, itu sama dengan educating the hearts and minds of the people. Jadi education yang betul-betul menyentuh hati sanubari dan alam pikiran seseorang. Sesungguhnya itulah pendidikan yang bisa menimbulkan sesuatu yang sifatnya abadi. Terciptalah nilai, perilaku, perasaan, wawasan, cara pandang, dan sebagainya.
Output-nya apa? Mengapa dikatakan produktif? Output-nya, banyak orang yang hidup dalam alam seperti itu yang dididik, the hearts and the minds-nya, itu memiliki karakter, kepribadian, dan watak yang baik. Rukun sama yang lain, menyanyangi yang lain, tidak suka kekerasan dan sejumlah yang dalam beberapa survey dikatakan educating hearts and minds itu luar biasa manfaat dan nilainya. Kalau manusia Indonesia, anak-anak kita, dibegitukan hati dan pikirannya, dan kemudian sebagai bangsa kita rukun, bersatu, tidak mudah terlibat dalam konflik dengan situasi yang menimbulkan tragedi, seperti kejadian di awal reformasi, di awal krisis dulu, juga contoh di banyak negara di dunia.
Kalau dimaterikan berapa triliun itu untuk mencegah konflik, mencegah perang saudara, mencegah kekerasan, mencegah kejahatan, dan sebagainya. Jadi melihat output-nya bukan nilai jual dari produk seni, dari produk the education the hearts and minds tadi. Tapi impact, subsequent impact dari kehidupan yang maha luas di negeri ini, kalau kita menyebut bangsa Indonesia atau di dunia ini, kalau menyangkut dengan kemanusiaan sejagad. J
adi produktif, ada output, ada outcome, ada product-nya, yang itu kalau dihargakan, dimaterikan, dikuantitatifkan, itu barangkali tidak mudah menemukan bandingannya. Saya tetap percaya, bahwa educating hearts and minds of the people, itu sangat-sangat penting.
Yang kedua, tadi Pak Agus Darmawan menyampaikan beberapa pandangan, saran dari seniman, kalau hari Seni Rupa Indonesia tolong dibicarakan baik-baik. Ada pak menteri di sini dengan Mendiknas, ada Pak Menko Kesra di sini. Saya selalu open, terbuka terhadap pikiran-pikiran baru. Namun sebagai Kepala Negara, saya harus memastikan ketika mengambil keputusan, menetapkan sebuah hari, apakah Hari Seni Rupa Indonesia, hari ini, hari itu, betul-betul melalui proses yang sistemik, kajian yang matang dan mendalam, menjadi pikiran semua dan membawa manfaat dan kebaikan bagi kita semua. Kalau itu sudah terlampaui, bismillah, insya Allah akan kami kukuhkan sebagai hari nasional.
Sebagai contoh Hari Konstitusi, tahun 2009 yang lalu, saya tetapkan tanggal 18 Agustus untuk mengingatkan kembali, ketika Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan kita, 17 Agustus 1945, kita belum punya konstitusi. Tanggal 18 Agustus-lah, republik muda ini resmi punya konstitusi. Oleh karena itu, tepat kalau kita jadikan 18 Agustus sebagai Hari Konstitusi. Ini respon saya, silakan kalau sudah cukup dikaji, tolong disampaikan kepada saya, seperti apa, pikiran atau usulan, dari para seniman atau para seniman, seni rupa tadi.
Yang kedua, tentang usulan agar apa yang ada dalam istana itu, koleksinya bisa diterbitkan, to be published, sehingga publik bisa mengetahui. Ini pikiran yang bagus dan sangat bisa. Sebagai gambaran, saya ingin melaporkan kepada hadirin sekalian, 5 tahun yang lalu, karena saya tinggal di Istana. Saya 1 tahun tinggal di Istana Merdeka, 4 tahun lebih di Istana Negara. Dan saya cukup sering berkunjung ke, baik Istana Negara di Yogyakarta, Istana Negara di Bogor, Istana Negara di Cipanas, Istana Negara di Tampaksiring. Satu yang belum saya datangi adalah Pasanggrahan di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, satu-satunya yang belum, tapi yang lain sudah.
Saya berpendapat bahwa ini aset bangsa, banyak peristiwa penting terjadi di istana-istana itu. Oleh karena itu, bagus kalau kita abadikan, open to public sehingga bangsa Indonesia pun ikut bangga, merasa memiliki. Oleh karena itulah, sejak 2 tahun yang lalu, 3 tahun yang lalu, kita buka Istana Merdeka hari Sabtu dan Minggu untuk publik dan rata-rata pengunjungnya, kecuali kalau ada acara yang tidak bisa dikunjungi, bisa mencapai 3.000 tiap kunjungan. Artinya publik juga ingin melihat seperti apa Istana.
Pertama-tama, saya lihat memang tidak cukup mewadahi hasil karya bangsa sendiri. Yang ada itu kebanyakan souvenir atau cinderamata, atau apa yang diberikan oleh negara lain, pemimpin yang lain. Itu bagus karena itu bagian dari sejarah. Tapi kami ingin, di samping yang sudah ada istana-istana itu, patung-patung, lukisan dan cinderamata yang dari negara sahabat, harus mulai juga ditampilkan karya bangsa sendiri. Oleh karena itulah, sekarang sudah mix, sudah ada barang-barang yang sudah ada sejak Bung Karno, sejak Pak Harto, tetapi yang terakhir, saya tambahkan, Ibu Negara juga aktif, koleksi-koleksi yang karya bangsa sendiri.
Dengan demikian, kalau ada tamu negara justru ingin melihat seperti apa produk bangsa Indonesia, lukisan seniman, pelukis Indonesia, handicraft buatan perajin Indonesia dan sebagainya. Kami terus menata.
Dan satu hal, alhamdulillah sejak tahun 2005, keenam lukisan Presiden ada semuanya, mulai dari mendiang Bung Karno, mendiang Pak Harto, Pak Habibie, mendiang Gus Dur, Ibu Megawati, saya punya lukisan dan insya Allah nanti presiden-presiden berikutnya lagi dan itu merupakan satu proses kesinambungan, kepemimpinan di negeri kita. Kami terus usahakan semua Istana Negara itu, di samping indah, juga menjadi historic site, juga bisa menjadi obyek wisata yang tentu bisa dikunjungi oleh siapapun, oleh anak bangsa dengan pengaturan-pengaturan yang baik.
Dalam kaitan ini, sangat bisa ada publikasi tentang apa saja yang ada di istana itu, baik di Jakarta, Bogor, Cipanas, Yogyakarta, Tampaksiring dan juga di Pasanggrahan, Pelabuhan Ratu di Suka Bumi.
Para seniman dan budayawan yang saya cintai,
Yang ingin saya sampaikan setelah saya merespon tadi, adalah sedikit elaborasi dari apa yang saya sampaikan tadi pagi. Mengapa dalam hidup dan kehidupan kita ini, termasuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara itu, harus memiliki 3 hal. Satu adalah balance, kehidupan yang berimbang. Yang kedua adalah harmony, ya kehidupan yang harmonis, yang rukun, yang damai begitu. Kemudian kalau dalam istilah seni rhythm. Tapi kalau saya terjemahkan bisa order, tentram, bisa tertib bisa seperti itu. Tiga itulah yang sebetulnya amat kita harapkan hadir di negeri tercinta.
12 tahun ini kita melakukan reformasi. Reformasi berlangsung secara gegap gempita, penuh dengan hiruk pikuk, hingar bingar, terutama di 5 tahun pertama. Kita merasakan dulu, 1998, 1999, 2000, 2001, 2002, mungkin sedikit 2003. Setelah itu masih ada gerak reformasi, tetapi intensitasnya, gegap gempitanya, itu sudah mulai menyusut.
Dalam alam reformasi, yang terjadi adalah proses dekonstruksi, penggantian, penjebolan, perombakan, pembaharuan. Secara sosiologis, keadaan seperti itu pasti menimbulkan perasaan tidak secure, ada instability, ada disorientation, ada kegamangan, ada ketidaknyamanan, bahkan ada perlawana. Kenapa? Karena harus berubah. Tapi itulah the nature of change, the nature of reform, perubahan sosial. Bangsa yang tidak berhasil mengelola perubahan apalagi perubahannya itu dashyat, bangsa itu akan collapse, akan runtuh, akan berjatuhan akan lenyap dari politik dunia. Alhamdulillah, Tuhan Maha Besar, bangsa kita selamat.
Ada teori namanya J curve. J, huruf J itu. Jadi sebuah bangsa yang mengalami perubahan seperti itu bisa kebawa dan lepas, collapse, sebagaimana Indonesia diramalkan dulu oleh banyak pihak di dunia akan hancur seperti Balkan, lenyap dari peta politik dunia ketika melihat porak-porandanya negeri kita tahun 1998, 1999, 2000 sampai 2001. Sampit, Poso, Ambon, Maluku Utara, termasuk di Aceh, sebagian di Papua, membara waktu itu, belum kerusuhan-kerusuhan di kota-kota besar, seperti tidak tersisa kehidupan di republik yang kita cintai ini.
Banyak meramalkan Indonesia not only a failed state tapi will collapse. Itulah sebetulnya masa yang paling penuh dengan bahaya. Alhamdulillah, sudah kita lewati.
Tetapi nuansa reformasi, transformasi, transisi yang menjebol, mengganti, merubah, atau fase dekonstruksi itu masih sering kita rasakan. Ini tidak boleh berkepanjangan dalam arti, tidak segera ditata kembali, dihadirkan order, dihadirkan ketentraman, seraya tetap menjalankan perubahan ke arah yang lebih baik, tetapi stabilitas dijaga kembail, ketentraman dipertahankan, kemudian kerukunan dipulihkan dan sebagainya, dan sebagainya. Kalau kita paham terhadap apa yang terjadi di negeri kita 12 tahun terakhir ini, maka kita makin yakin yakin, bahwa yang saya sebutkan tadi, the principles of balance, of harmony, of order itu sangat penting.
Aristoteles mengatakan sebetulnya bahwa ya ruh dari seni sesuai dengan basic instinct of the people, manusia itu ingin sebetulnya sesuatu yang serba berimbang, balance, serba harmony, saya tambahkan rhythm order dengan apa yang di negeri kita dan banyak sekali terjadi di dunia. The principles of balance sangat-sangat penting, mari kita telusuri.
Tidakkah kita mengejar kebahagian di dunia dan di akhirat. Tidakkah kita tidak hanya mengejar sesuatu yang serba lahir, tapi juga batin, jasmaniah, rohaniah.
Oleh karena itu, di era demokrasi, yang memunculkan kebebasan, pemenuhan hak, itu tidak boleh berjalan sendiri, harus segera ditampilkan pasangan-pasangannya agar berimbang. Ada hak, ada kewajiban. Ada kebebasan, ada aturan. There is a freedom and there is rules of law. Itu pasangan-pasangan dan itu democratic values. Kalau semua kita kembalikan berpasang-pasangan, maka akan terjadi keberimbangan dalam kehidupan di negeri ini. Ini mendalam. Itu berkaitan dengan jiwa, berkaitan dengan prinsip-prinsip hidup, berkaitan dengan sentuhan-sentuhan yang tidak serba fisik.
Saya mengatakan berulang-ulang, saya ulangi lagi tadi. Terus terang mungkin kita merasakan dalam era reformasi, yang lebih menonjol itu yang serba politik, pemilu, pilkada, kompetisi, semua politik. Itu sah, tidak dilarang, dalam demokrasi wajar. Asal kita ingat, bahwa politik output-nya adalah kalah dan menang, karena power struggle, entah pemilu, entah pilkada, entah apapun output-nya begitu.
Kemudian kalau kehidupan kita, karena ekonomi kita hancur, kita membangun kembali, globalisasi, ada tumbuhnya kapitalisme baru dan macam-macam. Jadi seperti itu, bisnis, jaga, usaha, itu penting. Kalau enggak ada dunia usaha, tidak bergerak perekonomian, tidak ada lapangan pekerjaan, tidak ada yang bayar pajak untuk negara. Negara enggak dapat pajak, bagaimana bisa membangun, bisa bikin sekolah baik, kesehatan baik, mengurangi kemiskinan, bikin jembatan, jalan, membiayai tentara, membiayai polisi, membiayai hakim, jaksa dan sebagainya.
We need that money yang datang dari dunia usaha, dari bisnis. Sah, harus, hanya untuk diingat, kalau serba bisnis yang mewarnai kehidupan kita ini, output-nya adalah untung dan rugi. Yang untung happy, yang rugi tidak happy, karena akan terjadi masalah-masalah di antara kita.
Oleh karena itu, karena kehidupan politik, kehidupan bisnis akan memiliki ruang yang luas di era demokrasi dan di era pembangunan ekonomi dalam era globalisasi sekarang ini, maka bukan meniadakan dua kegiatan itu, tapi kita mengisi dengan kegiatan yang lain, seni, olahraga dan segi-segi yang lain. Dengan demikian, terasa berimbang.
Berulang kali saya mengatakan, kalau yang hadir adalah hanya logika, maka yang menjadi perhatian kita adalah tentang salah dan benar, logis atau tidak logis. Kalau hanya etika, yang hadir adalah baik dan buruk, pantas atau tidak pantas. Tetapi kalau di samping logika dan etika, estetika hadir, cerita tentang keindahan, tentang the beauty, sesuatu, tentang jiwa, tentang soul, tentang segala macam. Maka hadirnya logika, etika, dan estetika itu adalah sebuah kehidupan yang berimbang.
Jadi misi kita para seniman dan budayawan adalah mengisi ruang-ruang kehidupan di negeri ini, agar makin berimbang, makin berimbang. Olahraga. Saya ingin betul olahraga ini kembali menjadi keseharian kita, not only bikin orang-seorang, warga bangsa ini sehat jasmani dan rohani, not only kita ingin meraih prestasi. Termasuk mosok enggak pemain Indonesia yang tampil di dunia, mosok sepakbola kita kalahan terus. Masa golfer tidak ada yang masuk dalam putaran dunia, masa bulutangkis malah menurun, dan sebagai, dan sebagainya. Prestasi penting, tapi bukan hanya itu, tapi sebuah bangsa yang menyenangi olahraga, yang mencintai olahraga, dan olahraga itu menjadi bagian dari kehidupan, the life of the nation, maka muncul jiwa ksatria, sportivitas, pertandingan, kalah ya sudah, tidak perlu bikin tandingan-tandingan yang lain, tidak perlu bikin ini, bikin itu, selesai kok. Peluk, salaman begitu. Mendidik jiwa kita, jiwa sportif.
Pendek kata, kalau kita hadirkan semua, maka benar-benar akan berimbang, tidak pincang dan tidak hanya tersedot oleh satu, dua isu saja. Saya ingin benar mengajak semua, mengisi relung-relung kehidupan di negeri ini menjadi kehidupan anak bangsa yang betul-betul berimbang, yang harmonis, dan yang memiliki keteraturan dalam arti ketentraman. Ini penting.
Oleh karena itulah, setiap kesempatan saya mendorong isilah kegiatan seni, budaya. Kalau setiap Bali melaksanakan Pesta Kesenian Bali, saya selalu hadir. Pertama, saya mengagumi seni Bali, budaya Bali, saya meyukai ajang itu untuk menghidupkan seni budaya lokal dan kearifan lokal. Dan kemudian kalau Presiden selalu hadir dalam Pesta Kesenian Bali dan ke banyak lagi cultural events di Indonesia ini, maka mau tidak mau semua juga makin tergerak bahwa kehidupan seni dan kehidupan budaya itu penting adanya. Itu yang bisa dilakukan oleh kita semua. Saya senang sebetulnya kalau para gubernur, bupati, walikota di seluruh tanah air juga memiliki kepedulian, perhatian yang tinggi terhadap kegiatan seni dan budaya seperti itu, termasuk olahraga.
Kita ingin olahraga kita tampil kembali. Potensi kita besar, mengapa tidak. Saya ingin, sebagaimana yang saya sampaikan dalam sambutan sore tadi, seni, budaya, dan olahraga ini kembali masuk ke mainstream kehidupan bangsa kita. Jangan diletakkan di pinggir, jangan sekali-kali diingat, sekali-kali tidak, masuklah agar politik dan bisnis punya teman. Kalau politik dan bisnis punya teman, akhirnya menjadi baik, ada saling mengontrol, mengontrol hati, mengontrol persahabatan, mengontrol kehidupan yang lain. Ini yang ingin saya sampaikan pada silaturrahim malam hari ini. Ya saya ingin menyentuh hati kita semua, bahwa what is the meaning of life, ya itulah kalau kita kembalikan pada pendekatan teologis, pendekatan sosiologis, ketemunya ya harmoni, keseimbangan, keteraturan. Dan marilah kita satukan pikiran dan energi kita untuk membangun masa depan kita seperti itu.
Saya kira itu yang penting yang saya sampaikan pada malam hari ini. Dan kalau tahun ini sudah 4 macam lomba, dulukan hanya 2. Pertama kali kita bikin di Cipanas, Taman Bunga Cipanas, hanya lomba cipta puisi dan lukis. Kemudian berkembang menjadi 3, cipta lagu. Hari ini sudah tambah lagi, design batik. Batik sudah menjadi world heritage yang sifatnya intangible, jangan sampai tidak kita pelihara. Batik kita sangat berbeda dengan batik di negara lain, jangan khawatir, tapi rajin-rajinlah kalau memproduksi batik, ya tulis made in Indonesia, made in Bali-Indonesia, made in Yogyakarta-Indonesia. Jangan polosan saja nanti takutnya menjadi kurang aman, meskipun tidak pernah kalah kita punya mutu batik.
Keris juga alhamdulillah sudah menjadi heritage. Wayang juga sudah. Kita sedang mengusulkan ke UNESCO, itu angklung, Tari Saman, kemudian kalau yang di NTT, Sasando. Saya kira Indonesia gudangnya. Bali saya kira enggak akan kurang-kurang. Oleh karena itu, kalau kita ingin bangga, dikenal oleh dunia, banyak sekali world heritage yang ada di bumi Indonesia ini, ya kita harus pandai-pandai memeliharanya, pandai menjaganya.
Saya terus terang melihat tarian tadi, anak-anak kita, SD, penabuh gamelannya SMP, tentram. Berarti regenerasi terjadi. Saya kalau menyaksikan tarian atau atraksi seni apapun yang menabuh, yang melakukan usianya di atas 40 tahun, saya sudah bertanya-tanya ada enggak regenerasinya ini. 50 tahun, tambah deg-degan, bagaimana dapat heritage. Heritage itu syaratnya harus terus dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Tapi kalau ke Bali, sudah tentram. Saya pernah ke Ubud, ke museum Ubud, lihat lukisan, sudah tentram, semua sudah tentram.
Ya saya ingin bukan hanya Bali, di seluruh Indonesia itu semua local wisdom, semua local culture, local values, itu harus dijaga. Globalisasi tidak perlu dirisaukan, ditakutkan karena globalisasi di samping ancaman, ada opportunity, yang penting pandai-pandailah kita menjadi our own values, our own cultures, our own local wisdoms. Kalau itu kita jaga, lihat globalisasi ambil opportunity¬-nya. Dengan demikian, akan menjadi bangsa yang beruntung, akan menjadi the winner of the globalization bukan the loser, karena menyalahkan globalisasi terus, tidak pandai menjaga yang kita miliki, lost, hilang semua, pendekatan yang tidak cerdas.
Itulah yang dapat saya sampaikan pada malam hari ini para seniman, budayawan, meskipun tidak dalam hubungan seperti ini, sesungguhnya 5 tahun ini saya sangat sering bertemu dengan budayawan, seniman, orang-seorang, kelompok demi kelompok, tetapi mari kita tradisikan saja Pak Wacik setiap Lomba Cipta Seni disatukanlah dengan silaturrahim antar seniman, budayawan. Dengan demikian, tiap tahun ada forum kita. Makin banyak, alhamdulillah makin bagus nanti, makanannya yang khas Indonesia, Soto Bangkong boleh, Bebek Bengil, apapun boleh. Begitu yang penting silaturrahim kita.
Saya berterima kasih atas kontribusi dalam Lomba Cipta Seni ini.
Saya sudah mengoreksi tadi. Ini kalau tadi ada sedikit kesalahan teknis, itu karena ya bagaimana mungkin dewan juri harus menilai dengan barangkali nilai yang tidak terlalu jauh hanya dikasih waktu kurang dari 3 jam, mungkin hanya berapa puluh menit. Lain kali paling tidak 2 jam penuh untuk dewan juri setelah berakhirnya lomba itu. 2 jam penuh dewan juri menetapkan dengan demikian akan lebih pas. Ini pelajaran, karena terburu-buru, bisa saja bacanya menjadi tidak tepat dan segala macam ataupun tulisannya dan segala macam.
Saya paham betul setelah dilapori tadi, itu bisa terjadi. Oleh karena itu, tidak usah kita saling menyalahkan, ini pengalaman yang dapat kita ketemukan, manajemen waktu kita perbaiki lagi, dengan demikian semuanya menjadi bagus. Itulah solusi dan terima kasih, saudara-saudara.
Selamat malam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Om Shanti, Shanti, Shanti Oom
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



