Pidato Presiden

Sambutan pada Gerakan Menuju Bebas Pemadaman Listrik Bergilir

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
GERAKAN MENUJU BEBAS PEMADAMAN LISTRIK BERGILIR
KANTOR GUBERNUR MATARAM, NUSA TENGGARA BARAT
27 JULI 2010



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, saudara Direktur Utama PLN beserta para anggota Dewan Komisaris dan para pejabat utama PLN, baik pusat maupun daerah,
Yang saya hormati saudara Gubernur Nusa Tenggara Barat beserta para pejabat yang bertugas di NTB, baik dari eksekutif, legislatif dan yudikatif maupun dari TNI dan Polri, para bupati dan para walikota se-Nusa Tenggara Barat,
Yang saya hormati para gubernur yang hadir pada acara ini,
Yang saya muliakan para ulama, para tuan guru, para pemuka agama, para tokoh masyarakat, para tokoh adat,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, marilah sekali lagi, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberikan nikmat kesempatan, nikmat kekuatan, dan insya Allah nikmat kesehatan untuk melajutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarat, bangsa, dan negara tercinta.
Hari ini kita juga bersyukur, karena bersama-sama menghadiri satu acara, yang penting, yaitu gerakan untuk mengatasi pemadaman listrik secara bergilir. Kita mohon kepada Allah SWT, agar kebersamaan dan pertemuan kita hari ini membawa berkah, bagi kebaikan kita semua, di waktu yang akan datang.

Hadirin yang saya hormati,
Kita sudah mendengarkan pidato dan pejelasan mulai dari bapak gubernur, bapak Direktur Utama PLN dan bapak Menteri Energi dan Sumber Daya mineral. Isinya sangat jelas, sebagian merupakan tekad yang bulat dari beliau-beliau semua untuk terus memajukan kesejahteraan rakyat, melalui fungsi yang beliau emban masing-masing. Saya berharap, agar tekad itu dapat diwujudkan dan beliau semua menjalankan dengan sekuat tenaga, dan saya berharap semua pihak memberikan dukungan dan bantuannya, agar niat yang mulia itu untuk terus meningkatkan kesejahteraan rakyat bisa berhasil dengan baik.

Saudara-saudara, tema besar kita hari ini adalah satu, upaya untuk meningkatkan pembangunan kelistrikan di Indonesia. Listrik. Yang kedua, berkaitan dengan ekonomi rakyat. Oleh karena itu, saya terus-menerus mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada para pimpinan dan karyawan dari bank-bank milik negara dan bank-bank milik daerah yang selama ini telah dengan gigih menyalurkan kredit usaha rakyat dan sejumlah scheme perkreditan yang akhirnya bisa menggerakkan usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah yang menjadi soko guru perekonomian rakyat kita. Itu yang kedua.

Sedangkan yang ketiga, sebagaimana yang kita saksikan, saya memberikan atau menyerahkan anggaran untuk pemberdayaan masyarakat mandiri kepada saudara gubernur tadi dan sejumlah kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah di seluruh tanah air dewasa ini adalah sesungguhnya berkaitan dengan program-program pemerintah yang prorakyat. Saya ingin menjelaskan secara singkat saja, karena sebagian besar telah dijelaskan oleh para pembicara terdahulu.

Saudara-saudara,
Mari kita bicara tentang listrik. Semua tahu listrik itu penting. Listrik penting untuk kehidupan rumah tangga. Listrik penting untuk kegiatan usaha di seluruh Indonesia. Listrik penting agar jalannya pemerintahan bisa berlangsung dengan baik. Listrik juga menyangkut keadilan, tidak adil rasanya kalau sebagian dari rakyat kita tidak mendapatkan kemudahan untuk mendapatkan jasa listrik. Oleh karena itu, karena kita semua tahu listrik itu penting, maka pemerintah, baik pusat maupun daerah terus bekerja dengan gigih untuk mengatasi permasalahan listrik, seraya meningkatkan ketersediaan listrik untuk kepentingan rakyat kita.

Kita juga tahu bahwa listrik kita kurang. Kurangnya ini bisa dijelaskan. Berkali-kali saya mengatakan, sejak Presiden pertama kita, Presiden Soekarno hingga tahun 2005, listrik kita ini hanya berjumlah 25.000 MW. Di waktu yang lalu, jumlah itu cukup. Tetapi dengan pertumbuhan ekonomi setelah kita keluar dari krisis, dengan permintaan yang makin meningkat untuk rumah tangga, untuk instansi pemerintah, untuk segi dunia usaha, untuk industri dan sebagainya, tentu listrik itu kurang. Ditambah pada saat negara mengalami krisis, 10, 11, 12 tahun yang lalu, kita tidak menambah jumlah listrik secara signifikan, maka kurangnya makin banyak.

Oleh karena itulah, pemerintah mulai tahun 2006, melakukan terobosan dengan program pembangunan listrik 10.000 MW, yang sedang berlangsung dan dalam waktu dekat program itu, sebagian besar akan dirampungkan. Dan bukan hanya itu, tidak perlu menunggu sampai 10.000 MW yang baru, yang dibangun di seluruh Indonesia. Kami telah menetapkan untuk membangun lagi 10.000 MW listik berikutnya. Dengan demikian, diharapkan kebutuhan listrik yang makin meningkat dengan tajam itu dapat dipenuhi dengan peningkatan daya listrik yang juga terus kita bangun.
Masalahnya adalah membangun listrik memerlukan waktu. Pembangkit listrik yang dibangun katakanlah 2 kali 200 MW membangunnya bisa 2, 3 sampai 4 tahun. Tidak seperti menanam ketela pohon, 3 bulan bisa panen, memerlukan waktu. Dalam waktu sampai ditambahnya listrik yang baru itulah kita harus mengatasi masalah yang sering disebut dengan darurat listrik, yang Pak Dahlan Iskan menguraikan tadi secara gamblang, bagaimana PLN sekarang ini dengan gigih mengatasi darurat listrik itu. Ini harus saya jelaskan secara utuh, supaya rakyat Indonesia mengetahui duduk persoalan dari permasalahan kelistrikan yang kita hadapi.

Saudara-saudara,
Saya sungguh berharap, pimpinan PLN, Menko Perekonomian, Menteri ESDM, Menteri BUMN, para gubernur, bupati dan walikota sungguh menyukseskan program pembangunan listrik 10.000 MW pertama dan insya Allah 10.000 MW berikutnya. Proyek-proyek yang berkendala, segera carikan solusinya. Banyak proyek yang sudah dilakukan di negeri ini, listrik maupun non listrik yang berjalan dengan baik. Saya berterima kasih, baik pada pemerintah maupun dunia usaha. Tetapi kalau ada proyek yang mecet, apalagi menggunakan APBN dan APBD, segera diminta pertanggungjawaban dari dunia usaha itu untuk menyelesaikan kewajibannya. Dengan demikian, tidak menyusahkan rakyat kita. Saya ingin dilapori bagaimana pelaksanaan 10.000 MW yang pertama, sebelum kita lakukan pembangunan 10.000 MW yang kedua.

Permasalahan byar pet sudah dijelaskan. Kita bertekad, bahkan Dirut PLN menantang kepada saya, “Pak SBY, serahkan kepada saya bersama prajurit-prajurit PLN.” Tantangan itu adalah tantangan yang penuh dengan semangat dan tanggung jawab. Tentu saya harus bersyukur, ada pejabat negara katakanlah, ada elemen pemerintah yang haus akan tugas, akan tantangan dan ingin menyelesaikan masalah-masalah yang barang kali di waktu yang lalu sulit diselesaikan. Oleh karena itulah, pada kesempatan yang baik ini, dengan tulus saya memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pimpinan PLN beserta segenap jajaran PLN atas kerja kerasnya.

Kalau 30 Juni dinyatakan, alhamdulillah sudah selesai itu periode byar pet-nya, saya biasanya menambah sekian bulan lagi. Tiga bulan dari sekarang saya akan lihat nanti, apakah masih dapat kita pertahankan situasi ini untuk memberikan apresiasi yang kedua. Dan 6 bulan dari sekarang, tepat pada bulan Desember, saya akan melihat sekali lagi, manakala masalah ini benar-benar dapat kita selesaikan, saya akan bulat dan penuh memberikan apresiasi kepada pimpinan dan segenap dengan jajaran PLN.

Beberapa saat yang lalu, ada persoalan sosial, persoalan politik yang berkaitan dengan tarif dasar listrik. Saya dilapori tadi, barangkali di Lombok akan ada unjuk rasa, meskipun kecil. Saya tanyakan unjuk rasanya tentang apa, “Tentang TDL, Pak Presiden”. Apanya yang diunjuk rasai? Dikatakan katanya TDL tidak prorakyat. Mari kita ketahui secara bersama tentang duduk persoalan TDL.

Saudara-saudara,
Biaya listrik, biaya bahan bakar minyak, biaya pupuk dan banyak lagi, itu ditalangi oleh pemerintah, yang disebut dengan subsidi. Subsidi itu berapa besarnya? Untuk diketahui saja, kalau anggaran pendapatan dan belanja negara kita besarnya 1.000 trilyun lebih sekarang ini, alhamdullilah karena 5 tahun yang lalu kurang dari 500 triliun, sekarang lebih dari 1.000 trilyun. Dari 1.000 triliun lebih itu untuk subsidi saja jumlahnya lebih dari 200 triliun, seperlima habis untuk subsidi. Listrik misalnya sekitar 55 triliun. Pemerintah masih membayar. Bahan bakar minyak di sekitar 90 triliun, belum pupuk dan lain-lain. Tidak apa-apa kalau subsidi memang itu untuk membantu rakyat kita yang sangat memerlukan, yang tidak boleh kalau subsidi ini salah sasaran, kalau subsidi ini jatuh pada orang yang tidak sepatutnya diberikan subsidi karena mengurangi anggaran untuk kepentingan yang lain.

Jadi kebijakan untuk menaikkan dalam jumlah yang kecil tarif dasar listrik kemarin, itupun dengan catatan pelanggan kecil 450 dan 900 KVA tidak dinaikkan, yang untuk melindungi rakyat kecil, prorakyat, yang industri pun sudah dihitung berapa jumlahnya yang patut, sehingga tidak menimbulkan kenaikkan ongkos yang membebani rakyat. Semua sudah kita hitung. Justru dengan kebijakan itulah, maka PLN memiliki kapasitas lebih untuk mengalirkan lagi listrik-Listrik kepada saudara-saudara kita yang selama ini menanti dan menunggu, yang disebut daftar tunggu tadi. Di seluruh Indonesia ada 19 juta rumah tangga yang menunggu rumahnya dialiri listrik.

Dengan kebijakan ini justru adil, mereka secara bertahap akan mendapatkan listrik, sehingga akhirnya rakyat kita makin ke depan makin sedikit yang belum mendapatkan kemudahan listrik. Justru dengan kebijakan inilah, kita ingin membawa kebaikan bagi rakyat kita, seraya mengurangi subsidi yang memang tidak tepat sasaran.

Belum membayar utang, jumlahnya 100 triliun dari bunganya. Kita ingin terus mengurangi hutang luar negeri kita, kita ingin terus mengurangi jumlah bunga yang kita bayarkan tiap tahun. Itu sudah seperti sepertiga APBN, sepertiga kita alirkan ke daerah. Saya minta gubernur, bupati dan walikota, gunakan ratusan triliun itu dengan sebaik-baiknya, jangan habis untuk belanja pegawai semata. Alirkan kepada kepentingan rakyat yang mulai menjadi fungsi dari pemerintahan daerah.

Sepertiga lagi untuk apa? Pendidikan sudah 20%, kesehatan, pertahanan, Kepolisian, semua lembaga-lembaga pemerintah. Sisanya sedikit sekali. Untuk apa sisa itu? Untuk memenuhi pembangunan infranstruktur yang semua meminta di seluruh Indonesia tolong bangun dermaga, tolong bangun bandara, tolong bangun jembatan, tolong bangun Irigasi, tolong bangun Jalan dan sebagainya.

Yang ingin saya sampaikan makin ke depan, APBN kita harus makin sehat. Kalau makin sehat, makin banyak kita, kita mengalirkan dana untuk rakyat kita, makin banyak kita membangun Infranstruktur kita. Sehatnya APBN antara lain, jangan terlalu banyak subsidi yang salah sasaran. Orang yang mampu, yang kaya tidak boleh mendapatkan subsidi. Yang memerlukan subsidi rakyat golongan ekonomi lemah, adil, kalau mendapatkan subsudi. Inilah kebijakan untuk dalam APBN kita, termasuk yang menyangkut subsidi yang kita berlakukan sekarang dan ke depan.

Saudara-saudara,
Saya mendengar tekad dari Pak Dahlan Iskan dengan para pimpinan dan karyawan PLN tadi, saya terharu dan marilah kita berikan dukungan yang penuh. Saya berharap Pak Dahlan Iskan kepada karyawan PLN yang upayanya luar biasa di seluruh Indonesia. Saya boleh mengundang untuk minum teh bersama di istana. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih atas nama rakyat atas kerja keras, saudara-saudara.

Di negeri ini kita sering lupa mengucapkan terima kasih, kita sering lupa bersyukur. Kita sering ingat untuk mencerca dan menyalahkan orang lain dan lupa bahwa banyak yang pekerja keras untuk kepentingan kita semua. Kita patut untuk memberikan penghargaan seperti itu. Tadi dikatakan, alhamdulillah byar pet sudah hilang katakanlah untuk periode pertama ini. Kalau orang jujur, berfikirnya positif, beritanya pastilah byar pet telah dapat diatasi. Sebagian permasalahan telah dapat dicarikan solusinya. Tapi kalau berpikirnya negatif, begitu melihat seluruh Indonesia, dari seratus yang dilihat 99 bagus, 1 belum bagus, judulnya yang satu itu. Masih ada yang tidak bagus. Pelayanan yang tidak bagus. Satu yang diangkat. Itu pilihan kita, pilihan mana yang memilih bersikap pesimis atau yang optimis, mana yang memilih berfikir positif atau yang negatip, mana yang jujur dan mana kurang jujur. Ini adalah pilihan bagi kita masing-masing. Tetapi PLN jangan hiraukan teruslah bekerja secara optimal dengan gigih untuk menyelesaikan tugas-tugas itu.

Saudara-saudara,
Itu masalah listrik. Yang kedua, masalah ekonomi rakyat. Banyak yang bicara tantang ekonomi rakyat, di seminar, di simposium, talkshow di TV-TV, pidato berapi-api di panggung-panggung, tetapi yang kita perlukan adalah program seperti apa yang nyata, yang harus kita jalankan untuk menggerakkan ekonomi rakyat kita. Ekonomi rakyat itu banyak sekali pengertiannya, tetapi kalau saya, ya ekonomi, yang rakyat bisa mendapatkan keuntungan nyata, taraf hidupnya makin baik. Kalau usaha ya usaha mikro kecil dan menangah, usaha koperasi dan apalah, kegiatan ekonomi lokal yang rakyat betul-betul menikmati hasilnya bisa menjadi pelaku, bisa menjadi konsumen yang penting mereka mendapat manfaat yang tinggi.

Itu tidak datang langit, itu tidak selesai talkshow dan pidato berapi-api, tapi semua program yang telah kita jalankan, baik di pusat maupun daerah ditambah inisiatif gubernur, bupati dan walikota. Mari kita jalankan dengan sebaik-baiknya, karena itu menggunakan biaya yang tidak sedikit. Contohnya kredit usah rakyat. Ingat 5 tahun mendatang pemerintah, saya telah manatapkan 100 triliun untuk kita alirkan, untuk permodalan usaha mikro dan usaha kecil khususnya. Mari kita sukseskan. Dengan demikian, ada pergerakan ekonomi lokal, dengan demikian penghasilan bertambah. Kalau penghasilan bertambah kemiskinan berkurang. Kalau ada kegiatan ekonomi pengangguran berkurang. Itulah program nyata, yang harus kita lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan sekaligus mengurangi kemiskinan dan pengangguran yang ada pada mereka.

Saudara-saudara,
Saya lanjutkan. KUR akan terus kita jalankan dan akan terus kita bikin lebih efektif lagi, prosedur yang lebih mudah, pembinaan yang lebih baik, penyaluran yang lebih sederhana dan lain-lain. Dengan demikian, ekonomi di seluruh Indonesia, ekonomi rakyat akan terus tumbuh dengan baik.

Saudara-saudara,
Yang terakhir adalah program-program pemerintah. Saya menyimak dengan seksama apa yang disampaikan oleh pak gubernur tadi. Untuk NTB, saya dukung dan pemerintah telah memikirkan dengan seksama. Kalau misalnya bandar udara internasional segera jadi, maka investasi akan mengalir lebih baik, kawasan-kawasan wisata akan tumbuh dengan baik. Kemudian karena investasi datang pastilah, ada kegiatan usaha di samping ternak, tambang dan sebagainya. Kalau ini terjadi, tahun-tahun mendatang, maka ekonomi NTB akan tumbuh dengan baik. Kalau ekonominya tumbuh, rakyat mendapatkan pekerjaan, kemiskinan akan berkurang, daerah bertambah penghasilannya dan itu bisa meningkatkan pendidikan, kesehatan dan sebagainya.

Tetapi saya berpesan pak gubernur, saya berpesan pak bupati, pak walikota, jangan hanya mengandalkan investasi yang besar-besar. Jangan hanya menggerakkan usaha yang besar-besar. Titip saya gerakkan usaha mikro, usaha kecil, ekonomi rakyat tadi dengan perkembangan investasi itu kalau itu digerakkan, maka lebih cepat lagi rakyat kita dapat ditingkatkan penghasilannya. Dua-duanya jalankan secara pararel, ada yang suka investasi besar saja, ada yang suka usaha besar saja, karena barang kali nilainya besar, triliun, ratusan M, tapi ingat lebih cepat, kalau justru usaha mikro, kecil, dan menengah yang digerakkan di seluruh Indonesia, termasuk di NTB ini banyak rakyat kita lebih cepat mendapatkan manfaat yang nyata.

Saya titip itu saja kepada saudara gubernur. Dan masalah infranstruktur sudah saya jelaskan tadi sekuat tenaga, pemerintah akan meningkatkan anggaran untuk infrastruktur di seluruh Indonesia. Dengan catatan mari terus kita perangi korupsi, mari terus kita perangi orang yang tidak memenuhi kewajiban membayar pajak, mari terus kita perangi hal-hal yang tidak benar. Dengan demikian, uang rakyat, uang negara betul-betul bisa kita salurkan untuk kepentingan itu semua, termasuk Infastruktur.

Dan yang terakhir sekali, saya mendapat banyak sekali berita dari daerah ya, SMS, telpon, surat yang intinya, “Pak, ini kok ada yang sedang berkampanye ria, seolah-olah negara kita ini akan hancur. Indonesia ini digambarkan buruk sekali.” Saya bilang dalam alam demokrasi semua bisa berbicara dan kita harus menerima pemikiran pembicaraan seperti itu. Saudara yakin tidak negara kita akan hancur atau negara kita keadaannya buruk sekali? “Ah enggak seperti itu, pak?” Kalau tidak ya terus saja menjalankan.

Ini sama dengan tahun 2006. Waktu itu di gambarkan Indonesia, di pinggir jurang kehancuran, ingat 2006, kemudian ada gerakan-gerakan politik dan segala macam saya katakan, anggaplah itu sebagai cambuk, anggaplah itu sebagai motivasi untuk kita bekerja lebih keras lagi. Tuhan Maha Besar, rakyat Indonesia tidak seperti itu. Alhamdulilah, negara kita selamat dan tidak masuk jurang sekarang ini.

Kalau ada yang mengatakan, “Ah masih banyak masalah.” Benar. Kalau ada yang mengatakan, ”Ah di negara kita sudah baik semua.” Tentulah tidak benar. Harus jujur kita akui, ada yang baik, ada yang belum baik. Banyak yang telah kita capai, masih banyak pula yang harus kita tingkatkan. Betul saudara-saudara? Jadi kalau semua dianggap serba baik, ya tidak jujur, masih ada kok yang belum baik persoalan di seluruh Indonesia ini.

Tetapi kalau dikatakan semuanya jelek, semuanya buruk. Ada tayangan televisi 2 jam buruk semua, saya pikir tidak jujur, tidak jujur. Rakyat ingin mendapatkan apa adanya, supaya negara sahabat juga, wah Indonesia kok mau hancur ini, Indonesia masuk jurang, investasi bisa berhanti di jalan. Kita harus jujur, yang baik kita katakan baik, yang belum baik silakan katakan belum baik. Ini tugas kita kasihan para gubernur, bupati, walikota, camat, kepala desa yang bekerja bertahun-tahun dikatakan negaranya mau hancur. Semuanya buruk kan kasihan, padahal mereka juga bekerja. Oleh karena itu, pesan saya, terus saja kita menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Semua, semua, anggaplah itu pemacu kita, untuk berbuat lebih baik. Allah Maha Tahu, Allah Maha Besar, kalau kita terus bekerja, tidak terganggu dengan apapun akan diberikan jalan. Jalan itu jalan yang terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kita.

Itulah saudara-saudara, yang ingin saya sampaikan pada kasempatan ini. Selamat bertugas para prajurit PLN. Selamat bekerja para pimpinan daerah dan saya mohonkan doa dari para tuan guru, para ulama, para tokoh masyarakat, semoga negara kita dibimbing, diberikan petunjuk oleh Allah menuju jalan yang benar untuk masa depan rakyat yang sama-sama kita cintai.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan