Pidato Presiden
Tanggapan Presiden RI pada Peluncuran Biografi Ibu Ani Bambang Yudhoyono
TRANSKRIPSI
TANGGAPAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PELUNCURAN BUKU BIOGRAFI IBU HJ. ANI BAMBANG YUDHOYONO “KEPAK SAYAP PUTRI PRAJURIT”
GRAND BALLROOM THE DHARMAWANGSA, 30 JULI 2010
Bismillahirrahmanirrahim,
Ibu Ageng yang saya cintai,
Bapak Boediono beserta Ibu, Ibu Mufidah Jusuf Kalla, Pak Joop Ave, Pak Priyanto beserta Ibu,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Alhamdulillah, malam hari ini kita berada di tempat ini untuk berbagi rasa cinta di antara kita semua dan juga menghadiri peluncuran buku yang berjudul Kepak Sayap Putri Prajurit. Kalau saya diminta untuk secara spontan memberikan komentar, saya akan berbicara begini, biasanya di negeri ini seseorang meluncurkan biografi itu ketika satu, menyelesaikan tugas pada satu posisi tertentu, pernah tugas seorang mantan gubernur menyelesaikan tugasnya membuat memori biografi, mantan pimpinan sebuah partai politik selesai mengemban tugas menyusun biografinya, kerap terjadi itu.
Yang kedua, biasanya lagi-lagi di negeri kita ini menghadapi pemilu atau pilkada. Seseorang yang ingin ramai untuk pemilihan gubernur, bupati, walikota, Presiden, Wakil Presiden ataupun posisi politik, ataupun jabatan publik yang lain. Ini biasanya menjelang pemilu, menjelang pilkada.
Hadirnya buku ini kalau kita cocokan, tidak cocok dengan katakanlah istri tercinta insya Allah akan jatuh tempo sebagai Ibu Negara nanti pada tanggal 20 Oktober 2014, insya Allah bersama-sama dengan berakhirnya masa bakti saya di pemerintahan, masih 4 tahun lebih. Atau kalau dikaitkan dengan pemilu misalnya, juga masih lama, sehingga bukan itu dan kami sendiri sekeluarga juga memastikan bukan itu.
Tetapi baik, kalau setelah lebih dari 5 tahun, kami berdua menjalani kehidupan, memimpin negeri ini dengan segala suka dan duka, diekspresikan melalui buku ini, di samping untuk istri sendiri adalah perjalanan panjang sejak muda belia sampai sekarang ini. Karena selama hampir 6 tahun kami menjalani tugas kami ini, kami berdua amat sering mendapat entah surat, entah SMS, apapun dengan bahasa yang baik, dengan bahasa yang keras, dari angle yang posistif, dari sudut yang negatif dan sebagainya.
Dan banyak sekali Pak Joop Ave, misconception untuk kita semua yang ada di ruangan ini. Saya merasa dan saya bersetuju atas hadirnya buku ini, karena ini juga satu wahana, untuk berbicara, menyapa, dan berkomunikasi dengan saudara-saudara kita di seluruh tanah air. Segala sesuatu yang katakanlah salah mengerti, salah memahami, salah persepsi sebagian bisa diterangkan melalui buku itu.
Dan tadi juga diangkat oleh Pak Joop Ave tentang setelah kami nanti mengakhiri bakti kami di pemerintahan, apa yang akan kami lakukan. Apa yang ada dalam buku itu benar adanya. Insya Allah kalau sudah selesai tugas kami di pemerintahan, kami ingin mendirikan sebuah perpustakaan untuk publik. Saya ingin terus berbagi kepada saudara-saudara kita, insya Allah sambil membantu Presiden yang akan datang, pemerintahan yang akan datang, karena memang Kepala Negara, Kepala Pemerintahan dan pemerintahan di dalam mengemban tugasnya tidak sedikit persoalan, tantangan, yang dihadapi.
Oleh karena itu, insya Allah saya akan membantu beliau-beliau nanti yang akan melanjutkan kepemimpinan di negeri ini, 2014 kedepan, dengan demikian, rasanya tidak pernah putus kami sekeluarga untuk mengabdi dan berbakti.
Kurang lebih 3 bulan yang lalu, ada yang bertanya kepada saya beberapa teman wartawan, “Pak SBY, apakah ada pikiran keluarga untuk Ibu Ani suatu saat juga running sebagai Presiden mengganti Pak SBY?” Saya mengatakan, istri mengatakan bahwa tidak ada rencana seperti itu, karena kami sudah amat bersyukur, manakala bisa merampungkan tugas sejarah kami 2014 nanti. Dan kami berdua telah bersepakat kembali ke lingkungan masyarakat, sebagaimana telah saya sampaikan tadi, mendirikan sebuah perpustakaan untuk rakyat, untuk generasi muda yang bisa kita saling berinteraksi dan berkomunikasi.
Ada juga yang mengatakan, “Kan aturan bisa diubah, kalau sekarang hanya dua kali, kalau memang ada peluang, mengapa tidak diubah.” Saya katakan juga tidak, itu mengingkari reformasi, itu merusak apa yang telah kita bangun bersama-sama dengan bersusah payah, sejak kita melancarkan reformasi di akhir tahun 1990-an. Politik itu tidak boleh bersiasat-siasat, politik mengakali hanya untuk kepentingan pribadi, karena itu jauh dari etika dan bukan itu yang diharapkan oleh rakyat.
Oleh karena itu, saya harus menyampaikan dalam bahasa terang pada malam hari ini, supaya tidak ada terus dorongan, harapan, godaan apapun. Kita telah meletakkan landasan, sistem, tatanan dan demokrasi yang insya Allah makin baik di negeri ini. Sekarang kita telah merasakan demokrasi kita belum bulat benar, masih terjadi banyak ekses, tapi percayalah, kalau kita kokoh pada keyakinan dan pendirian kita, demokrasi kita akan makin matang, akan makin bermartabat.
Dan di hari tua kami nanti, dari luar kami akan sangat bangga dan bahagia, kalau melihat demokrasi kita makin mekar, pemerintahan kita makin berjalan secara efektif dan kemudian negara kita makin maju di abad 21 ini.
Itulah yang ingin saya sampaikan, sebagai sebuah komentar berkaitan dengan peluncuran buku Ani SBY, Kepak Sayap Putri Prajurit. Terima kasih atas ucapan 34 tahun pernikahan kami, saya dan istri, kakak dan adik yang juga tadi telah dijelaskan. Terima kasih segalanya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



