Pidato Presiden
Pengarahan kepada Peserta Program Indonesia Emas
TRANSKRIPSI
PENGARAHAN PRESIDEN RI SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
KEPADA PESERTA PRIMA (PROGRAM INDONESIA EMAS)
DI PUSDIKPASUS, BATU JAJAR, PROVINSI JAWA BARAT
TANGGAL 6 AGUSTUS 2010
Bismillahirrahmanirahim,
Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Salam olahraga,
Kasih tepuk tangan yang paling meriah.
Terima kasih.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Para atlet PRIMA yang saya cintai dan saya banggakan,
Alhamdulillah hari ini kita dapat bertatap muka untuk membulatkan tekad kita menjadi juara di berbagai medan pertandingan olahraga baik didalam maupun diluar negeri. Saya yakin para atlet ketika pertama kali memasuki ksatrian Batu Jajar akan melihat atau membaca satu motto yang paling menantang kurang lebih bunyinya, “Yang Ragu-ragu Lebih Baik Pulang”. Saya tahu barangkali para atlet bertanya ada apa dengan Batu Jajar dan para atlet akan diapakan oleh para pelatih.
Saya pertama kali memasuki ksatrian Batu Jajar ini pada bulan Agustus 1974, kurang lebih 36 tahun yang lalu untuk mengikuti pendidikan dasar yang diluar negeri disebut jump school atau basic airbone training tetapi saya dan para prajurit yang pernah digodok di Batu Jajar ini keluar dengan kebanggaan, dengan semangat untuk berbakti dan mengabdi yang lebih baik kepada bangsa dan negara. Saya yakin para atletpun demikian keluar dari pelatihan PRIMA di Batu Jajar ini tentu saudara-saudara bertekad untuk mengharumkan nama bangsa dan negara kita, mengibarkan Sang Merah Putih dan mengumandangkan lagu Indonesia Raya di medan-medan pertandingan.
Karena saudara berada di lingkungan militer, saya ingin memberi tahu bahwa bertanding olah raga pada prinsipnya sama dengan bertempur dalam sebuah peperangan. Bertanding dalam olah raga tujuannya menang, demikian juga para prajurit bertempur, perang juga ingin menang. Dalam olah raga, pertandingan itu diikat oleh aturan, rules. Oleh karena itu, diharapkan menang ksatria. Ibu Rita Subowo mengatakan fairplay, sedangkan dalam peperangan ada hukum perang, ada Konvensi Jenewa yang juga diindahkan dan dipatuhi oleh prajurit, oleh militer dari negara manapun yang mengemban tugas negara menjalankan peperangan.
Sama dengan perang, militer menang dalam perang bukan hanya ditentukan oleh daya tempur yang bersifat fisik, tembakan, gempuran, logistik dan banyak hal yang disebut dengan daya tempur yang bersifat fisik, tetapi juga sangat ditentukan oleh daya tempur yang bersifat non fisik, moril yang tinggi, semangat yang tinggi, disiplin yang membaja, kekompakan, jiwa korsa, kepemimpinan dan sebagainya. Sama dengan saudara, para atlet setelah memiliki yang lain maka akhirnya pertandingan akan ditentukan oleh mereka yang memiliki unsur-unsur non fisik dalam pertandingan olah raga. Oleh karena itu, tidak keliru kalau para atlet menjalani pelatihan sebagaimana yang kita saksikan tadi. Saudara tidak dipersiapkan untuk menjadi prajurit militer, tapi saudara diharapkan memiliki mental yang membaja sebagaimana yang dimiliki prajurit militer ketika berlaga mengemban tugas bangsa dan negara.
Para atlet yang saya cintai,
Para pelatih yang saya banggakan,
Agar saudara menang dalam berbagai kejuaraan olahraga, syaratnya mudah, sederhana dan tidak perlu kita persulit. Apa syarat untuk saudara untuk berhasil? Rencanakan dengan baik. Kita akan menghadapi Asian Games di Goangzhou, Tiongkok. Setelah itu kita akan menyelenggarakan SEA Games yang akan diselenggarakan di Palembang dan di Jakarta. Kemudian kita bersiap lagi untuk menghadapi Olympic yang akan dilaksanakan dimana, Ibu Rita? Di London pada tahun 2012.
Ketiga event internasional itu rencanakan dengan baik, persiapkan dengan baik, berlatihlah dengan baik dengan realisme yang setinggi-tingginya. Perhatikan faktor cuaca, faktor medan dan segala sesuatu sebagai faktor lingkungan dimana saudara menjalankan pertandingan kelak. Itu syarat yang pertama.
Sedangkan syarat yang kedua, setiap atlet dituntut untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang setinggi-tingginya, skill. Itulah saudara, terus dilatih. Yang kedua, meski keterampilannya tinggi, fisiknya tidak baik, endurance nya lemah, tidak lincah, tidak memiliki ketahanan maka keterampilan itu tidak ada artinya. Sekalipun keterampilannya baik, fisiknya baik tetapi mentalnya tidak kuat, tidak baik juga tidak akan menang. Bahkan saya harus mengatakan yang paling menetukan akhirnya adalah mental seseorang, mental para atlet sendiri.
Dan sering kali dalam pertandingan olah raga sebagaimana prajurit menjalankan tugas pertempuran. Saudara sering dituntut untuk menjalankan tugas yang seolah-olah tugas itu tidak bisa dijalankan untuk memenangkan pertandingan olah raga yang sepertinya tidak mungkin dimenangkan, to make the impossible becomes possible ones. Tetapi dengan syarat tadi, ketrampilan, fisik dan mental yang tinggi, yang membaja maka sangat mungkin lawan kita seolah-olah satu klik, dua klik, satu tingkat, dua tingkat diatas kita tapi dapat kita kalahkan.
Tulisan dibelakang saudara itu di-quote, dikutip dari seorang jenderal, seorang strategis, seorang ahli perang Tiongkok yang bernama Sun Tzu yang mengatakan bahwa dalam sebuah pertempuran sama dengan dalam pertandingan olah raga. “Kalau kita mengenali musuh kita atau lawan kita dalam olah raga dan mengenali diri sendiri, seribu kali bertanding, seribu kali menang”. Oleh karena itu, saudara sering bertanding di SEA Games, di Asian Games, di Olympic dan berbagai pertandingan olah raga baik pada tingkat nasional, regional maupun global maka pandai-pandailah mengenal siapa komponen saudara dan pandai-pandailah mengukur kemampuan kita untuk ditingkatkan sehingga memiliki imbangan, kemampuan yang sama. Itu syarat yang kedua.
Syarat yang ketiga dan keempat itu tidak penting bagi atlet dan saya tidak ingin menjelaskan disini, menambah rumit, menambah ruwet, menambah pusing, dua itu saja kalau bisa dijalankan dengan baik sudah cukup.
Nah syarat yang ketiga dan yang lain-lain justru untuk pelatih, pembina, official, semua untuk betul-betul merencanakan, mempersiapkan, melaksanakan, melakukan pengawasan dengan baik pra pertandingan, pada saat pertandingan, pasca pertandingan. Logistik harus dipersiapkan dan diberikan dengan baik, strategi dan taktik bikin yang baik. Kalau menjadi tuan rumah SEA Games pandai-pandailah memilih, menentukan cabang-cabang olah raga yang tentu kita memiliki kelebihan dan andalan meskipun tetap dibicarakan dengan peserta yang lain. Ini adalah urusan di luar atlet, atlet tidak perlu dan tidak boleh dibebankan urusan-urusan seperti itu. Kalau semua dijalankan saudara-saudara, yakin kita, kita akan dapat, meningkatkan prestasi kita.
Dulu ketika saya memulai memimpin negeri ini hampir enam tahun yang lalu pada tingkat SEA Games kita berada pada peringkat tengah. Dari 11 peserta kita berada diperingkat tengah. Saya meminta pada waktu itu pada pimpinan KONI, pada Menpora bawa keatas sampai pada peringkat atas dan bawa keatas lagi menjadi the top player pada tingkat SEA Games atau Asia Tenggara. Sanggupkan saudara? Dari 5, 4, 3 peringkatnya saya ingin 2011 naik menjadi juara.
Itulah yang ingin saya sampaikan. Waktu masih ada, gunakan dengan sebaik-baiknya. Hentikan konflik, perselisihan, perbedaan diantara kepengurusan KONI diseluruh Indonesia. Itulah yang menghambat perkembangan olah raga kita, itulah yang mengecewakan rakyat kita, itulah yang membikin nama kita tidak berkibar di dunia. Saatnya telah tiba, masing-masing pengurus, pimpinan, pembina, pelatih untuk tidak mengutamakan egonya masing-masing. Saatnya bersatu mengutamakan kepentingan atlet, mengutamakn kepentingan bangsa dan negara diatas segala-galanya.
Selamat berjuang, Tuhan beserta kita.
Wassalamu’alaikum Wr, Wb
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



