Pidato Presiden
Pengantar pada Acara Sidang Kabinet Paripurna
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PENGANTAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SIDANG KABINET PARIPURNA
KANTOR PRESIDEN, 2 SEPTEMBER 2010
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Saudara Wakil Presiden dan para peserta Sidang Kabinet Paripurna yang saya hormati,
Alhamdulillah, kita bisa menghadiri Sidang Kabinet Paripurna hari ini dengan agenda utama membahas kesiapan kita di dalam memberikan pengamanan dan pelayanan bagi saudara-saudara kita yang akan merayakan Idul Fitri di seluruh penjuru tanah air atau yang sering disebut dengan mudik lebaran.
Namun sebelum saya memberikan pengantar tentang tugas kita untuk memberikan pengamanan dan pelayanan terbaik itu. Saya ingin menyampaikan satu hal. Ya saya meminta perhatian saudara semua, sesuatu yang sangat memprihatinkan, yang justru terjadi pada bulan Ramadhan, apa yang terjadi di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Kejadian seperti ini sebenarnya bisa dicegah, kalau semua perangkat yang ada di daerah bekerja dengan baik. Kalau ada amuk massa, gerakan anarkis massa, kebetulan sekarang berhadapan dengan Polri, yang bertanggung jawab, yang harus mengatasi, yang harus menyelesaikan, bukan hanya Polri, meskipun Polri tentu memiliki tanggung jawab yang besar. Tetapi gubernur, bupati, camat, pemerintah daerah harus sangat aktif untuk mengelola, berkomunikasi, memberikan penjelasan, penerangan dan sebagainya.
Manakala keadaan eskalatif, ancaman menjadi makin tinggi, TNI yang ada di situ, juga harus bisa berkolaborasi dengan Polri untuk mengatasi keadaan. Kita punya pengalaman di waktu yang lalu. Antisipasi yang kurang, sinergi yang tidak baik, respon yang tidak cepat, tanggung jawab yang tidak penuh, sehingga mestinya bisa kita cegah, terjadi atau mestinya bisa kita kurangi, korbannya menjadi lebih besar. Ini tidak bisa kita terima, unacceptable. Saya akan meminta pertanggungjawaban gubernur, bupati. Saya akan juga meminta pertanggungjawaban Kepolisian. Saya akan bertanya apa yang dilaksanakan TNI di daerah untuk mengatasi masalah ini.
Di daerah ada forum muspida, pimpinannya adalah gubernur atau bupati. Bisa satu mereka untuk bersinergi, berkoordinasi sebelum segalanya menjadi terlambat. Saya melihat rasa tanggung jawab, profesionalisme, sinergi dan koordinasi ini yang belum berlangsung dengan baik. Pemimpin yang baik mesti mengerti apa yang terjadi hari-hari tertentu. Sudah ada pemicu, sudah ada insiden, sudah ada berita-berita ke sana kemari, mestinya dengan cepat, dan responsif, dan tepat semua resources digunakan. Kalau solusinya hanya mengandalkan 2 SSK Brimob dikirim ke depan, keadaan geografinya tidak memungkinkan, masih harus tambah lagi, pasti terlambat.
Kita punya sistem di negeri ini. Setiap rakyat, setiap daerah, ada pemimpinnya, dan pemimpin sudah diikat dalam koordinasi, sinkronisasi, dan sinergi. Jadi saya mengatakan sekali lagi, unacceptable, saya minta dilakukan investigasi. Bagi yang melanggar hukum pada saatnya harus ditindak dengan tegas, tidak boleh membiarkan di negeri ini, anarki demi anarki terus berlangsung. Tetapi bagi yang lalai menjalankan tugasnya siapa pun perlu mendapatkan sanksi, siapapun. Karena kalau tidak, akan banyak orang yang lalai di dalam menjalankan tugasnya. Ini mencoreng bulan suci, mencoreng apa yang harus kita lakukan bersama.
Ada juga koreksi saya. Biasanya, ketika terjadi sesuatu, terus oleh pemimpin-pemimpin dianggap sudah selesai, itu belum. Mesti ada buntut, kalau kita mengerti sampai betul melewati batas aman, baru sedikit rileks kita. Tapi hari-hari yang penuh dengan ketegangan itu harus terus dikelola, dijaga, seperti kejadian dulu di Priok, kejadian di Batam, kejadian di Jawa Timur, kejadian di Jawa Barat. Saya nilai cepat merasa sudah aman, belum. Harus dikawal pada hari-hari mendatang dengan komunikasi, tokoh adat diajak bicara, ulama diajak bicara, semua berkomunikasi dengan masyarakat RT, RW, desa. Itulah manajemen pemerintahan, itulah manajemen krisis. Saya melihat belum seperti itu.
Saya minta pada jajaran kabinet juga harus menjamah sampai di situ, memastikan betul sistem bekerja di daerah. Saya meminta Menko Polhukam dan jajarannya karena masih dalam intuisi. Saya mengatakan masih akan ada buntutnya, lakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk tidak meluas, segera diredakan, dipulihkan, kemudian pada saatnya nanti tegakkan hukum, pada saatnya nanti siapa yang ikut bertangung jawab, para pimpinan juga harus bisa mempertanggungjawabkan. Dengan demikian, kita akan mengelola negeri ini menghadapi dinamika perkembangan situasi, tetap dengan penuh tanggung jawab dengan sistem kepemimpinan dan manajemen yang baik. Saudara-saudara, Itu pengantar pertama saya.
Pengantar kedua adalah berkaitan dengan agenda kita, melaksanakan Sidang Kabinet Paripurna hari ini. Saudara tahu bahwa mudik lebaran itu merupakan tradisi di negeri kita dan sesungguhnya banyak membawa kebaikan. Jangan dilihat masalahnya, jangan dilihat repotnya, itu membawa kebaikan. Dari sisi keagamaan, ada silaturahmi, bertemu sanak keluarga, anak, bertemu orang tua. Dari segi sosial, bisa kita jaga paguyuban patembayan saudara-saudara kita, meskipun sehari-harinya berbeda tempat.
Dari segi ekonomi, bergerak ekonomi daerah, membawa tabungannya ke daerah, itu juga pemerataan. Jadi banyak hal yang sesungguhnya positif, dalam yang disebut dengan tradisi mudik lebaran. Itu kegiatan setahun sekali. Oleh karena itu, saya instruksikan kepada seluruh jajaran pemerintahan, termasuk kabinet ini untuk mengamankannya dan memberikan pelayanan yang terbaik, yang terbaik.
Saya berharap jangan dianggap ini sebagai tugas rutin. Ah setiap tahun kita juga begini ini, setiap tahun kita sidang kabinet membahas kesiapan lebaran. Paling lalu lintas, jalan yang rusak di mana, transportasinya, harga cabe, bawang merah. Jangan begitu, setiap tugas pengamanan dan pelayanan mudik lebaran, anggaplah sebagai operasi baru, karena situasi juga berkembang, permasalahan juga berkembang.
Saudara dulu, tahun lalu mungkin jumlah motor yang mudik tidak sebanyak sekarang. Tahun depan lebih banyak lagi, karena tiap tahun misalkan 10% kenaikan kendaraan roda 4 dan roda 3. Jalannya barangkali tambahnya nol koma sekian persen. Oleh karena itu, setiap tahun selalu harus kita lakukan operasi baru. Kita punya pengalaman tiap tahunnya. Tahun lalu saja ada pengalaman, ada yang sudah baik, ada yg belum baik. Jadikan itu sebagai sarana koreksi untuk tugas kita pada tahun ini. Saya juga berharap ada sinergi dan koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Banyak inisiatif daerah yang baik, misalkan mencegah pasar tumpah dialihkan hari itu kegiatannya sehingga lebih lancar, contohnya seperti itu.
Kemudian prioritaskan saudara-saudara, tugas kita pengamanan mudik lebaran itu pada lalu lintas. Lalu lintas ini kalau kita dengar radio, televisi, SMS itu yang sering menjadi sumber keluhan dari masyarakat kita karena memang bertumpuk jalannya itu-itu saja, kendaraannya luar biasa tambahnya tiap tahun. Yang kedua, titik-titik kemacetan, ini infrastructure. Nagrek misalnya, tempat-tempat lain bottleneck yang selalu berjam-jam kendaraan ngantri di situ. Pengamanan dari kejahatan, kejahatan bagi pemudik maupun kompleks-kompleks yang ditinggalkan.
Ancaman teror masih akan selalu ada, keamanan dan pelayanan transportasi publik, baik itu laut, darat maupun udara. Keadaan tanggap darurat kesehatan sepanjang rute perjalanan harus siap, BBM sepanjang rute perjalanan jangan sampai nanti POM-POM bensin kurang sehingga terhenti iring-iringan karena tidak bisa mengisi bahan bakar, keterjangkauan harga sembako. Memang sembako itu suppy and demand. Permintaan bertambah, harga sedikit naik biasanya. Tapi tentu yang pokok harus kita kelola dengan stabilisasi dan operasi pasar.
Pengamanan Shalat Idul Fitri sendiri dan kemudian antisipasi cuaca, kemungkinan banjir, kemungkinan ombak tinggi sehingga memerlukan perhatian operator transportasi dan regulatornya. Jangan sampai lemah di pelabuhan-pelabuhan, sehingga kejadian ferry tenggelam, kapal terbalik, karena tidak peduli si operator dan regulator. Jangan terjadi lagi.
Kemudian untuk para petugas kepolisian utamanya pagi, siang, sore, dan malam berhari-hari TNI, kesehatan dan lain-lain yang bertugas di lapangan, saya berharap perhatikan insentif khususnya, termasuk giliran cutinya. Mereka tidak cuti pada hari mudik lebaran, tapi setelah itu jangan dilupakan gilirannya.
Khusus saudara-saudara jajaran Kabinet Indonesia Bersatu II, sambil merayakan Idul Fitri, tetaplah kita memantau, mengendalikan semua yang dilakukan pemerintah sesuai dengan fungsinya masing-masing. Ini konsekuensi kita sebagai pejabat publik yang harus menjalankan tugas itu.
Terakhir seperti biasanya, saya akan melakukan sidak nanti, menjelang hari H, jam J dengan tempat dan obyek yang akan saya sampaikan kemudian pada saatnya. Yang penting persiapkan dengan baik, dan saya tidak ingin ada yang tidak siap. Saudara harus memastikan terminal demi terminal, rute demi rute, pos demi pos semuanya siap.
Demikianlah pengantar saya. Dan setelah ini saya berikan kesempatan kepada para menteri yang ingin menyampaikan laporan dan presentasinya. Tolong dibatasi pada hal-hal yang menonjol, yang urgent, yang detail, yang memang tidak diperlukan tidak perlu dipresentasikan karena kita akan memberikan kesempatan kepada petugas-petugas yang akan bekerja keras pada saat mudik lebaran tersebut.
Terima kasih.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



