Pidato Presiden

Arahan Presiden di Pendopo Bupati Karo

 

TRANSKRIPSI
ARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DAN PENYERAHAN BANTUAN SEBESAR TIGA MILIAR
DI PENDOPO BUPATI KARO, SUMATERA UTARA
6 SEPTEMBER 2010



Assalamualaikum Wr. Wb.,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Bapak Bupati dan para pejabat yang bertugas di Kabupaten Karo, baik dari unsur eksekutif, legislatif, yudikatif maupun TNI dan polri,
Bapak-ibu, para petugas yang mengemban tugas kemanusiaan berkaitan dengan meletusnya Gunung Sinabung yang terjadi beberapa saat yang lalu,

Alhamdulillah, hari ini kita dapat bertemu di Kaban Jahe ini untuk bersama-sama melaksanakan tugas negara, tugas pemerintahan sekaligus tugas kemanusiaan. Saya beserta Ibu Negara dan para menteri dan gubernur serta rombongan yang lain, baik yang datang dari Jakarta maupun dari Medan, berkunjung hari ini untuk melihat langsung kondisi dan situasi daerah ini, termasuk saudara-saudara kita yang berada di tempat penampungan. Sekaligus langkah-langkah tanggap darurat yang saudara-saudara lakukan, baik di posko ini maupun di tempat-tempat tugas yang lain.

Sebenarnya sejak musibah ini terjadi, saya sudah mendapatkan laporan dari depan. Pada tingkat menteri, dua pejabat telah melapor kepada saya, rinci, yaitu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan kemudian Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Saya juga berkomunikasi melalui telepon dengan pak bupati dan pak gubernur. Setelah itu saya memantau perkembangan tiap hari, dengan tujuan agar semua langkah-langkah yang dilakukan oleh jajaran pemerintah ditambah dengan perkuatan yang lain, unsur-unsur bantuan yang lain, betul-betul berlangsung dengan baik.

Sebagaimana yang saya lakukan selama ini, saya juga aktif untuk berkunjung, memantau sekaligus memberikan bantuan kepada daerah manapun di negeri kita yang mengalami musibah bencana. Tentu saja kalau ada bencana, apapun bencana itu, apakah gempa bumi seperti yang terjadi di Yogya dan di Jawa Tengah, apakah tsunami yang terjadi di Aceh dan Nias, apakah letusan gunung berapi seperti yang terjadi di Gunung Sinabung, Gunung Merapi Yogyakarta, Gunung Talang Sumatera Barat maupun Gunung Kelud Jawa Timur dan bencana-bencana yang lain, dengan tujuan karena daerah akan mengatasi sendiri dengan kemampuan yang ada, dengan sistem yang telah dimiliki, dengan aturan undang-undang yang berlaku maka pemerintah pusat juga memberikan bantuan, manakala bantuan itu diperlukan oleh daerah. Dan selama ini pemerintah pusat selalu memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhannya.

Saudara-saudara,
Apa yang saya dengar dari laporan-laporan, yang saya lihat di lapangan, saya melihat langsung bahwa sebenarnya sistem telah bekerja. Langkah-langkah menghadapi tanggap darurat juga sudah dilakukan. Oleh karena itu, saya senang dan saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan.

Selalu ada masalah ketika kita mengatasi bencana di manapun, baik di tanah air kita maupun di dunia. Jadi, yang namanya darurat, tidak terduga-duga, ada masalah sosial, masalah kemanusiaan, masalah keamanan dan sebagainya. Belum kalau skala bencananya tinggi: listrik mati, bahan bakar misalkan tidak cukup, saluran telepon juga tidak bekerja, belum yang luka-luka yang harus dirawat oleh kegiatan tanggap darurat dan banyak lagi, namanya tidak normal. Karena darurat, tidak normal, selalu ada masalah. Oleh karena itu, kalau ada masalah atasi, carikan jalan solusinya.

Saya sering mendengar pemberitaan, selalu kurang ini, kurang itu, terlambat sana, terlambat sini. Itu kebebasan pers, itu kehidupan demokrasi, itu kebebasan berbicara, tidak dilarang di negeri kita ini. Yang penting, kalau itu kritik membangun, terima. Tetapi kalau saudara sudah melaksanakan, tapi dikomentari tidak baik, jalan terus. Yang penting selamatkan rakyat, layani rakyat, lakukan semuanya dengan sebaik-baiknya.

Sejak tahun 2004 akhir, saya bersama istri dan para pejabat juga datang ke berbagai daerah, menghadapi masalah yang serupa. Di manapun tentu ada tantangan, permasalahan dan persoalan yang dihadapi dan dengan sekuat tenaga semua masalah itu diatasi dan diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Kalau kita membaca media cetak, mendengarkan radio, melihat televisi, apa yang terjadi di belahan bumi yang lain, di Pakistan, di Bangladesh, di India, di Nigeria, di Rusia, di Australia, di California, di Haiti, di Iran, di Yunani kebakaran juga seperti itu. Repot, tidak mudah. Ini diatasi, muncul di sana. Padahal negara-negara itu negara maju, misalnya seperti Amerika, Australia, Eropa.

Sistemnya sudah in place, sudah terbangun, teknologinya tinggi tetapi selalu ada masalah. Oleh karena itu pesan saya, jangan kecil hati, kalau ada masalah atau komentar-komentar yang dianggap berlebihan, sebab tugas saudara adalah tekun menyelesaikan masalah, mengatasi keadaan dan saudara-saudara kita layak yang memerlukan penanganan cepat, sentuhan kemanusiaan dan bantuan yang sebaik-baiknya.

Saudara-saudara,
Saya terus di-update, dimutahirkan dengan laporan-laporan ini. Ini sama dengan yang kita hadapi di Jawa Timur, di Kediri, ketika Gunung Kelud juga mengalami aktivitas seperti ini. Belum jelas kapan berakhirnya, apakah letusan itu letusan akhir, atau bukan, ini tidak semuanya bisa diperkirakan, tidak semuanya bisa diprediksi, meskipun sudah menggunakan metode yang ilmiah, menggunakan peralatan yang memang digunakan untuk memperkirakan perilaku dan apa yang bisa terjadi di sebuah gunung berapi yang mengalami aktivitas yang tinggi.

Oleh karena itu kalau saya ditanya, “Pak Presiden, kapan saudara-saudara kita yang ada di pengungsian bisa kembali?” Saya juga harus bertanya pada yang ahli. Yang ahli adalah yang bertugas di vulkanologi. Di sini ada Dr. Surono, ada Pak Rono? Dengan timnya.

Waktu di Kelud, saya juga tanya beliau. Tidak bisa presiden, karena presiden mengeluarkan Keppres, “Mulai besok semua kembali ke tempatnya,” tidak bisa begitu, karena ahlinya bukan saya. Ahlinya Pak Surono. Pak Surono bisa memberikan pandangan-pandangan, laporan, kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, dikomunikasikan kepada pak bupati, kepada pak gubernur, kepada menteri-menteri terkait dan juga kepada saya.

Kalau memang daerah itu sangat berbahaya dan manakala terjadi letusan bisa mengancam keselamatan jiwa, ya jangan dipaksakan ke situ. Kalau daerah itu relatif tidak berbahaya, kemudian pimpinan pengamatan dari vulkanologi mengatakan relatif aman, pak bupati, pak gubernur dengan petugas, baik TNI, polri atau siapapun bisa memberikan fasilitasi untuk kembali ke tempat itu, dengan catatan kalau ada perkembangan situasi dengan cepat bisa dilakukan langkah-langkah yang tepat. Sepenuhnya saya serahkan kepada apa yang diprediksi oleh Pak Rono, apa yang diolah oleh pimpinan yang melaksanakan kegiatan tanggap darurat ini. Dengan demikian, yang diambil itu tepat.

Yang penting, berikan penjelasan terus-menerus kepada rakyat kita. Berikan penjelasan terus-menerus kepada pers dan media massa, supaya yang bergerak ke sana-kemari bukan isu, bukan desas-desus. Karena dalam keadaan yang serba tidak pasti, suka muncul kabar-kabar angin, rumor, desas-desus. Ini penyakit.

Kita harus bergerak dari data, dari fakta yang ada, dengan demikian tidak mengecohkan, tidak membingungkan, dan tidak melakukan tindakan yang keliru. Sekali lagi, berikan penjelasan terus-menerus kepada saudara-saudara kita: mana yang berbahaya, mana yang kurang berbahaya, yang boleh diijinkan barangkali untuk melaksanakan aktivitas tertentu sehari-harinya.

Saya juga berpesan tadi di tempat pengungsian, di sini ada petugas medis. Perhatikan kesehatan saudara-saudara kita yang ada di daerah penampungan, daerah pengungsian. Cegah, hindari terjadinya penyakit-penyakit menular atau wabah. Oleh karena itu dalam keadaan ini, kesehatan menjadi sangat penting, mereka berkumpul dalam jumlah yang banyak, interaksi fisiknya tinggi, tentunya meskipun tempatnya relatif bagus, selalu ada kekurangan-kekurangan. Namanya penampungan sementara. Oleh karena itu, saya minta para dokter dan tenaga medis melaksanakan tindakan pro aktif, mengecek dan mengecek, memeriksa dan memeriksa, pastikan tidak ada kemungkinan terjadinya wabah dan setiap keluhan para pasien dapat direspon dengan tepat.

Informasi menjadi penting, saya berterima kasih ada yang bergerak di media informasi, karena kecepatan dan ketepatan berita menentukan. Jangan cepat, tapi salah. Tapi juga jangan meskipun tepat, tapi terlambat. Dua-duanya penting: cepat, tepat atau benar. Dengan demikian, pengambilan keputusan juga benar.

Yang lain-lain, logistik. Saya senang dilapori oleh pak bupati, oleh pak gubernur bahwa sesungguhnya persediaan logistik itu cukup. Yang penting distribusinya, organisasinya harus rapi. Dengan demikian, logistik itu memang jatuh kepada yang memerlukan. Banyak pengalaman dulu misalkan di Daerah Istimewa Yogyakarta, di Aceh yang saya tahu langsung, ada penyaluran yang keliru, ada lapisan masyarakat mendapatkan logistik berlebihan, ada lapisan yang lain kurang. Ini kembali ke distribusi. Meskipun stoknya cukup, distribusinya juga harus cukup.

Sekali lagi, kesehatan, logistik, informasi, dan kemudian alhamdulillah saya dilapori tidak ada korban jiwa yang terkena langsung akibat letusan Gunung Sinabung ini. Kemudian tidak ada juga kerusakan yang serius. Oleh karena itu, sistem dan infrastruktur masih berfungsi dengan baik, seperti listrik, bahan bakar minyak, saluran telepon tapi semua dijaga dengan kontijensi dan mudah-mudahan tidak terjadi. Kalau ada gangguan-gangguan pada infrastruktur dan fasilitas publik, itu pun bisa diatasi dengan cepat.

Saya paham ada masalah-masalah psikologis. Jangankan dua minggu, mungkin seminggu saja ada perasaan bosan, “Kok begini?” Mungkin juga ada yang takut, mungkin juga ada yang frustasi. Itu terjadi di manapun, apalagi dulu berbulan-bulan saya pernah berkunjung di saudara kita di tempat yang lain. Oleh karena itu benar kalau dihadirkan para tokoh ulama, tokoh adat, psikolog untuk bisa meng-handle mereka dengan baik.

Saya senang tadi anak-anak bernyanyi dengan ceria. Itu cara untuk menjaga agar tidak terjadi kebosanan, tidak terjadi gangguan kejiwaan apapun. Pesan saya, jangan hanya anak-anaknya tapi juga orang-orang tua, bapak-ibu, berikan juga bimbingan setiap saat supaya mereka tenang dan kemudian tahu harus bersabar dulu dan pada saatnya kembali ke sana.

Itu banyak metodologi yang bisa dicari. Saya pernah ingat dulu pengungsi yang ada di lereng Gunung Merapi, perbatasan antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Magelang, itu sudah berminggu-minggu. Mereka dalam keadaan bosan, frustrasi, kesal, dan seterusnya. Oleh karena itu ada Mobil Pintar, ada kelas-kelas kecil, ada gitar, ada seperti-seperti itu.

Suatu saat kami berkunjung ke sana, bermalam di sana, bersama mereka untuk membuktikan bahwa presiden pun bisa bersama-sama mereka di tempat itu. Menghadapi situasi yang tidak mudah dan saya ini kembali cerita kecil. Malam hari itu saya main gitar menghibur semua, tapi kemudian dikritik pedas di Jakarta, “Presiden tidak semestinya. Orang sedang susah, main gitar.” Padahal, mereka itu ingin melepaskan kebosanan, mereka bersuka ria. Saya joined dengan mereka. Saya juga ingin memotivasi, memberikan semangat tapi orang menilai dari sudut penglihatan yang lain. Itulah hidup, itulah kehidupan, itulah politik. Oleh karena itu, kalau saudara yakin benar, tujuannya benar, go ahead. Jangan terpengaruh kiri-kanan, karena yang penting rakyat dilayani, diselamatkan dan dibantu dengan sebaik-baiknya.

Saya kira itu. Selebihnya, lanjutkan tugas saudara sampai selesai, sampai semuanya tuntas. Saya kalau cuacanya baik ingin melihat ke posko yang di atas. Supaya bisa utuh melihat, karena saya akan tinggal sampai malam hari nanti di Sumatera Utara ini, baru besok kembali ke Jakarta. Saya ingin melihat langsung meskipun saya senang bahwa sistem telah bekerja, semuanya sudah berfungsi, terima kasih kepada semua. Ada dari Dewan Perwakilan Daerah, ada dari Tagana, dari Basarnas, dari RAPI, dari BMI, dari mana lagi ini? Karang Taruna, semua yang tidak bisa saya sebut satu per satu. Apa yang saudara laksanakan mulia, misi kemanusiaan membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah.

Saudara-saudara,
Itulah yang dapat saya sampaikan. Lanjutkan tugas, tuntaskan tugas ini. Semoga Tuhan selalu menuntun kita semua untuk mengemban tugas negara, tugas kemanusiaan dengan sebaik-baiknya. Sekian.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan