Pidato Presiden

Sambutan pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 2012/1433 H

 

SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA
PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW
TAHUN 2012/1433 H
Jakarta, 6 Februari 2012



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Kaum muslimin dan muslimat di seluruh tanah air yang saya cintai,
Hadirin sekalian yang saya hormati,

Mengawali sambutan ini saya mengajak hadirin, untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita dapat kembali memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, dalam suasana yang khidmad dan teduh.

Shalawat dan salam, marilah kita curahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, serta para pengikut-pengikut beliau hingga akhir zaman.

Peringatan Maulid Nabi, seakan menghadirkan kembali perikehidupan Nabi Muhammad SAW lebih dari empat belas abad yang lampau, dalam kehidupan kita saat ini. Maulid Nabi adalah momentum penting dan berarti bagi kita, untuk mengaktualkan dan mengimplementasikan nilai-nilai universal, sebagai uswah hasanah atau teladan yang baik bagi kita semua.

Hadirin sekalian yang saya muliakan.
Setelah menyimak dengan seksama uraian hikmah Maulid Nabi, yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Makmur Syarif---Rektor IAIN Imam Bonjol Padang---yang mengangkat tema “Islam Menjunjung Harkat Kemanusiaan”, kita mendapat pencerahan betapa ajaran Islam begitu menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.

Islam menjunjung tinggi nilai-nilai universal, seperti keadilan, keadaban, kesantunan, dan toleransi. Islam menjunjung tinggi pengakuan dan penghormatan sesama warga bangsa tanpa membedakan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, suku, serta posisi politik.

Manusia sebagai hamba Allah SWT, telah diberi anugerah akal dan fikiran untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia. Rasulullah juga telah memberikan teladan kepada umat manusia lebih dari 14 abad yang lampau. Teladan yang beliau bawa, selain berisi nilai-nilai ketauhidan, juga mengandung tuntunan akhlakul karimah; akhlak yang mulia. Beliau menanamkan nilai-nilai kebenaran dan kesucian Al-Qur’an. Beliau tegakkan nilai-nilai universal ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin; rahmat bagi semesta alam.

Sebagaimana saya sampaikan tadi, Islam secara substansial mengakui kemajemukan, keragaman, serta heterogenitas sebuah bangsa. Rasulullah SAW dapat membangun negara Madinah, sebuah negara yang maju, kuat dan modern, di tengah-tengah masyarakat yang multi-etnis dan multi-agama. Negara kita saat ini, juga terbangun dari berbagai suku bangsa, keragaman tradisi dan budaya, serta penganut agama yang berbeda. Alhamdulillah, di tengah keragaman itu, meskipun sekali-sekali masih terjadi permasalahan antar komunitas, kita dapat bersatu dan terus membangun diri, menuju masa depan yang lebih baik.

Saudara-saudara,
Saat ini kita memiliki tugas sejarah, untuk mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan di muka bumi kita. Di hadapan kita terbentang berbagai persoalan yang menyangkut dunia Islam. Kita menyaksikan dengan kasat mata, bagaimana dunia Islam dan negara-negara dengan mayoritas muslim sedang mengalami perubahan, untuk membangun tatanan kehidupan baru. Di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah, tuntutan kehidupan demokrasi yang luas makin mengemuka. The Arab Spring menjadi identitas baru bagi gerakan politik dan demokrasi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, yang mengubah dengan cepat peta politik di kawasan itu.

Dalam konferensi parlemen negara-negara anggota OKI di Palembang beberapa waktu yang lalu, kita menyerukan kepada saudara-saudara kita, bangsa-bangsa yang tengah melakukan perubahan besar itu, termasuk kepada dunia internasional, agar segala sesuatunya dapat dilakukan secara arif, damai dan sesuai dengan cita-cita dan aspirasi bangsa itu sendiri.

Hadirin dan hadirat yang saya hormati.
Pada kesempatan yang amat baik ini, saya ingin mengajak kaum muslimin dan muslimat di seluruh tanah air, untuk menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, sebagai momentum untuk meningkatkan toleransi, kebersamaan, dan meningkatkan pemahaman ajaran agama yang benar.

Marilah kita songsong hadirnya kembali peradaban Islam yang luhur dan agung. Peradaban yang dilandasi oleh nilai-nilai Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Peradaban Islam yang diperkaya oleh pemikiran para ulama besar dari zaman ke zaman. Peradaban yang benar-benar merupakan manifestasi dari konsep Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

Mari kita tunjukkan kembali jati diri dan akhlak bangsa yang mulia. Mari kita redam silang pendapat yang mengedepankan ego kita masing-masing. Mari kita jauhkan iri, dengki, dan fitnah. Sebaliknya, mari kita bergandengan tangan, serta rukun dan bersatu.

Sejalan dengan prinsip itulah, saya mengajak kaum muslimin dan muslimat di seluruh tanah air untuk mengembangkan cara-cara yang arif dalam menjembatani perbedaan. Jangan bertindak sewenang-wenang dan mau menangnya sendiri, kita harus hormati hak-hak setiap warga negara, meskipun berbeda keyakinan, agama, ras, ataupun suku.

Di beberapa kesempatan sering saya sampaikan, bahwa banyak yang salah mengerti tentang ajaran Islam. Kesalahan pengertian ini bukan hanya dari kalangan yang tidak beragama Islam, tetapi juga oleh sebagian umat Islam sendiri. Perilaku dan tindakan sebagian amat kecil umat Islam, yang nyata-nyata bertentangan dengan ajaran Islam, dan juga nyata-nyata bertentangan dengan apa yang dilakukan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW itulah, yang membikin citra Islam terkadang menjadi tidak baik.

Kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian umat Islam itulah, yang kemudian digeneralisasi dan bahkan disimpulkan sebagai ajaran Islam yang sesungguhnya. Padahal jelas bukan seperti itu ajaran Islam. Oleh karena itu, pada acara memperingati Maulid Nabi Besar kita, Nabi Muhammad SAW, saya mengajak segenap umat Islam di seluruh tanah air, untuk membebaskan negeri kita dari perilaku dan tindakan yang menyimpang dari ajaran Islam, dan yang menyimpang dari yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Jauhkanlah sikap tidak toleran, tindakan kekerasan apalagi terorisme, dan berbagai perilaku yang menyimpang dan penuh kemaksiatan, agar kita bisa memutus rantai kesalahan pengertian pihak manapun terhadap keagungan nilai dan ajaran Islam yang sejati.

Demikianlah, saudara-saudara, beberapa pesan, harapan dan ajakan yang ingin saya sampaikan, pada kesempatan yang mulia ini. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita sekalian, untuk menjadi sebuah bangsa yang tetap rukun dan bersatu, serta bangsa yang menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.

Sekian, terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Jakarta, 6 Februari 2012
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO