Arsip Sudut Istana

« Agustus 2008 »
M S S R K J S
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31      

Serba-Serbi

Basoeki Abdullah, Pelukis Pertama Istana

Basoeki Abdullah, pelukis pertama istana, yang dibawa oleh Soekarno. (foto: istimewa)
Basoeki Abdullah, pelukis pertama istana, yang dibawa oleh Soekarno. (foto: istimewa)
Ada banyak pelukis Indonesia ternama yang karyanya dipajang di Istana. Sebut, misalnya, Lee Man-fong, Lim Wa Sim, dan Itji Tarmizi. Mereka jadi pelukis Istana Kepresidenan pada jaman Presiden Soekarno. Namun, ssungguhnya pelukis istana pertama yang dipilih oleh Bung Karno adalah Basoeki Abdullah.

Pria kelahiran Sriwedari, Solo, 27 Januari 1915, ini bakat melukisnya terlihat menonjol sejak kanak-kanak, bahkan dibanding pelajaraan–pelajaraan sekolah lainnya. Pada usia 18 tahun, Basuki Abdoellah mendapat beasiswa dari misi katolik untuk lebih menekuni bakatnya. Basoeki dikirim ke Akademi Van Boeldende di Den Haag, kemudian dilanjutkan ke Paris dan Roma hingga tahun 1949.

Pada masa Pemerintahan Jepang, Basoeki Abdullah bergabung dalam Gerakan Poetra atau Pusat Tenaga Rakyat yang dibentuk pada tanggal 19 Maret 1943. Di dalam Gerakan Poetra ini Basoeki Abdullah mendapat tugas mengajar seni lukis. Murid-muridnya antara lain Kusnadi (pelukis dan kritikus seni rupa Indonesia) dan Zaini (pelukis impresionisme). Selain organisasi Poetra, Basoeki Abdullah juga aktif dalam Keimin Bunka Sidhosjo (sebuah pusat kebudayaan milik pemerintah Jepang) bersama-sama Affandi, S.Sudjoyono, Otto Djaya, dan Basoeki Resobawo.

Pelukis flamboyan ini dikenal oleh Bung Karno setelah ia memenangkan lomba melukis potret diri Ratu Belanda Juliana pada tahun 1949. Ada 81 pelukis dari berbagai penjuru dunia ikut serta. Namun yang bisa menyelesaikan potret Ratu Juliana tepat pada waktunya hanya 21 orang, termasuk Basoeki Abdullah. Dan akhirnya, Basoeki pun terpilih menjadi juara. Sejak itu, ia laris sebagai pelukis potret.

Setelah Indonesia merdeka, Bung Karno mengharapkan ada pelukis yang dapat membenahi serta merestorasi ratusan lukisan koleksi negara. Juga menyeleksi serta memajang lukisan-lukisan tersebut di dinding-dinding Istana-istana Kepresidenan. Basoeki adalah pelukis yang, menurut Bung Karno, tepat untuk pekerjaan tersebut. Gaya ukisannya yang naturalis, tidak saja mudah dicerna, namun sangat mengagumkan.

Cucu dari pahlawan kebangkitan nasional Dr.Wahidin Sudirohusodo ini bekerja menjadi pelukis istana dari pada tahun 1950 - 1960. Ia mampu membenahi lukisan-lukisan koleksi istana serta menatanya, sehingga Istana-istana Kepresidenan terlihat artistik dan indah, merefleksikan hati bangsa Indonesia. Selain melakukan tugas-tugas itu, Basoeki juga sering diajak Soekarno mencari lukisan serta berdiskusi mengenai seni dengan pelukis-pelukis lain.

Sebelum menyelesaikan masa jabatannya sebagai pelukis istana pada tahun 1960, Basoeki Abdullah menyarankan pelukis bernama Lee Man-Fong sebagai penerusnya.

Karya lukis Basoeki Abdullah yang masih menghiasi Istana-istana kepresidenan hingga saat ini, antara lain, Penangkapan Pangeran Diponegoro, Subadra Larung dan Hari Dunia Kiamat.

Pada tahun 1993, tepatnya tanggal 5 November, Basoeki Abdullah meninggal dunia. Ia berwasiat agar lukisan dan koleksi pribadinya berupa barang atau benda seni (patung, wayang, lukisan, dan topeng) berserta rumah kediamannya yang terletak di Jalan Keuangan Raya No. 19 Cilandak Barat, Jakarta Selatan, dihibahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan dijadikan Museum Basoeki Abdullah. (mit)