Sudut Istana
Senin, 2 Agustus 2010
Ruang Perjamuan
Foto ruang Perjamuan yang terdapat di dalam buku Istana-istana Kepresidenan di Indonesia: Peninggalan Sejarah dan Budaya karya Asti Kleinsteuber.
Empat cermin tua berbingkai emas dengan posisi saling berhadapan menjadi salah satu pelengkap yang menambah cantik ruangan tersebut. Ruangan ini biasanya sering digunakan Presiden SBY untuk membaca koran atau membaca laporan-laporan dari para menteri. Ibu Ani juga sering menggunakan ruangan ini untuk mengadakan rapat-rapat dengan para istri menteri yang tergabung dalam Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu atau pertemuan dengan staf-staf Istana.
Deskripsi lebih detail mengenai Istana Kepresidenan dan koleksi benda-benda seninya bisa dibaca di buku setebal 328 halaman yang berjudul Istana-istana Kepresidenan di Indonesia: Peninggalan Sejarah dan Budaya yang ditulis Asti Kleinsteuber. Buku tersebut baru saja diluncurkan bulan Juli 2010 lalu di Museum Nasional. Buku yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Indonesia ini memuat mengenai sejarah 6 Istana Kepresidenan yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia.
“Idenya sudah lama, saya memang mempunyai keinginan untuk membuat buku mengenai pengayaan, apakah mengenai Istana atau Klenteng. Akhirnya ya kenapa kita tidak coba membuat mengenai Istana-istana Kepresidenan. Waktu itu bertepatan pula dengan program Ibu Negara, Istana untuk Rakyat,” ujar Asti mengenai ide awal pembuatan buku tersebut.
Selain itu, Asti juga mempunyai tujuan untuk memperkenalkan Istana kepada masyarakat luas. "Agar masyarakat Indonesia bisa mengetahui apa yang ada di Istana," kata penulis yang sudah menulis 14 buku lain sebelumnya. Menurutnya banyak sekali perjuangan untuk negara yang terjadi di dalam Istana yang tidak diketahui oleh masyarakat.
Ketika ditanya mengenai Istana Kepresidenan yang paling disukainya, Asti Kleinsteuber menjawab Istana Bogor. ”Istana Bogor sejarahnya kental sekali dan terawat dengan sangat baik, ” ujarnya. Namun ia juga mengatakan bahwa masing-masing Istana unik dan mempunyai kesan tersendiri. (arc)



