Arsip

« November 2005 »
M S S R K J S
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930   

Wawancara

Dialog dengan Masyarakat Indonesia di Korea Selatan

TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN MASYARAKAT INDONESIA DI KOREA SELATAN
KONSUL KEHORMATAN RI DI BUSAN, 19 NOVEMBER 2005



Duta Besar RI untuk Korea Selatan

Terima kasih Bapak Presiden,
Singkat, tapi informasinya begitu mendasar.

Saya perlu bertanya kepada MC, waktunya untuk kita tinggal berapat? Sampai dengan, ya, ini 30 menit lagi, karena habis ini, Bapak Presiden masih ada kerja lagi, kerja di malam Minggu, tapi kerja. Kita pergunakan waktu dengan baik, kami akan persilahkan Saudara-saudara sekalian, terutama dari mahasiswa atau dari tenaga kerja, saya data dulu.

Kita batasi dulu lima ya. Jadi nanti supaya waktunya cukup. Langsung ke masalahnya, jadi pendahuluannya itu dihilangkan sajalah. Saya persilahkan Saudara.


Kinkin

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Senang sekali bertemu dengan Bapak. Beberapa di antaranya sudah pernah ketemu. Pertanyaan yang ingin saya sampaikan, soal keamanan Pak. Karena seperti diketahui, beberapa bulan terakhir ini, bulan Desember ini, akan banyak yang pulang. Kami masih meragukan faktor keamanan di terminal atau di Bandara Soekarno-Hatta. Ini yang pertama.

Presiden Republik Indonesia

Keamanan, keamanan dari pungli maksudnya ya?


Kinkin

Ya, betul sekali Pak, karena banyak sekali pungli. Kemudian, sistem yang sekarang dijalankan untuk merekrut tenaga kerja dari Indonesia ke Korea ada dua sistem, G to G dan PJTKI. Sistem G to G di tangan Depnaker dengan maksimal biaya itu tidak melebihi 10 juta Pak. Tapi yang terjadi, masih terjadi, banyak sekali pembengkakan biaya Pak, sampai ada yang 20 juta atau 30 juta, itu dari PJTKI, khusus untuk Depnaker ini, yang sudah menetapkan 10 juta, ternyata masih ada yang 15 juta.


Presiden Republik Indonesia

Bagaimana bisa membengkak? Ceritanya bagaimana?


Kinkin

Saya kurang tahu persis, karena mungkin mereka yang berangkat ke pusat, kemungkinan masih 10 juta. Tetapi ketika di daerah-daerah, di situ terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan, sehingga terjadilah pembengkakan biaya. Dan itupun tidak bisa membuat sistem yang menjadi lebih baik kalau tetapi seperti itu Pak.

Kemudian yang ketiga, masalah ilegalisasi TKI, karena selama jaminan kesejahteraan mereka ketika kembali di Indonesia tidak ada, lebih baik mereka ilegal saja Pak di Korea. Nah, mungkin satu terakhir Pak, ini saya sekedar usul. Untuk menjamin keamanan mereka, untuk menjamin kesejahteraan mereka, saya ingin menyarankan, bagaimana kalau terbentuk satu wadah, yang mana wadah itu terdiri dari tim khusus, untuk bisa mengarahkan mereka yang punya niat dan punya cukup keinginan untuk mengembangkan diri. Karena mereka pulang itu rata-rata membawa modal, paling sedikit 100 juta rupiah. Tapi kebingunan Pak, ke mana dan apa yang harus saya lakukan. Akhirnya, kebingunan, ragu-ragu, takut dibohongi, kembali lagilah di Korea. Karena satu tahun di Indonesia, 100 juta itu habis Pak.

Tidak banyak yang ingin saya sampaikan, itu saja. Nanti poin per poinnya saya sampaikan secara tertulis.

Terima kasih,
Wassalamu’alaikum.


Duta Besar RI untuk Korea Selatan

Baik, terima kasih.
Berikutnya Saudara Bambang sudah siap? Silahkan.


Bambang

Yang saya hormati Bapak Presiden beserta rombongan.
Saya mewakili TKI dari pelaut, yang saya ingin sampaikan, saya telah bekerja di Korea selama lima bulan ini, tetapi sampai saat ini belum menerima salary seperti yang saya harapkan, dan karena sekian lama di sini tidak beroperasi kapal, maka saya ingin cepat-cepat pulang saja Pak. Terima kasih Pak.


Duta Besar RI untuk Korea Selatan

Berikutnya Saudara Hasmawi. Silahkan


Hasmawi Bayus

Terima kasih,
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Nama saya Hasmawi Bayus, sebagai utusan dari pelajar, mahasiswa di Korea, kebetulan saya diangkat oleh para mahasiswa sebagai presiden, presiden Pak, tapi lain level, cuma nggak dapat gaji Pak.

Kami ingin membacakan sebuah pernyataan sikap, keprihatinan dan usual alternatif solusi dari pelajar Indonesia di Korea atas kondisi bangsa. Saya singkat saja, beberapa saya hilangkan. Yang pertama adalah tentang kenaikan harga BBM. Hendaknya pemerintah untuk mencermati dan meninjau ulang kenaikan BBM, yang nyata-nyata kurang memihak kepada rakyat dan telah menimbulkan gejolak ekonomi dan sosial di masyarakat, dengan alasan sebagai berikut: daya beli sebagian masyarakat yang sangat rendah, serta efek domino dari kenaikan BBM terhadap kenaikan harga-harga komoditi lainnya.

Kemudian monopoli oleh pemerintah mengakibatkan rendahnya efisiensi kinerja dan belum ada assessment yang jelas terhadap performance kinerja Pertamina. Kemudia eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi selalu dilakukan pihak asing. Apakah bangsa Indonesia sendiri tidak mampu atau memang dibuat tidak mamapu, baik oleh luar negeri yang lewat mekanisme keuangannya maupun blocking transfer technology.

Yang kedua, menyadari bahwa harga BBM sudah terlanjur naik, dan apabila dipandang sulit untuk meninjau ulang, kami berharap perhatian pemerintah dalam hal, satu, transparansi parameter tingkat kenaikannya serta kalkulasi. Menyegerakan program peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan masyarakat sebagai kompensasi atas besarnya kenaikan BBM, dalam rangka mengurangi beban ekonomi dan ongkos sosial rakyat secara tepat sasaran. Ketiga, kejelasan perihal komposisi distribusi kompensasi yang belum pernah secara detil disampaikan ditambah pula dengan prosedur dan mekanismenya terlihat kurang efektif.

Tawaran solusi dari kami yaitu, distribusi dibagi menjadi tiga lagkah. Yang pertama jangka pendek. Bisa seperti BTL yang sekarang, atau agar memotivasi, bisa dengan jaring pengaman sosial serta menciptakan peluang atau tenaga kerja tersubsidi, kompensasi pendidikan gratis bagi rakyat tidak mampu dan sebagainya. Kedua, jangka menengah, pembangunan infrastruktur yang mempunyai economy creator yang cepat dan tinggi seperti sektor-sektor utiritas, yaitu energi, telekomunikasi, sarana transportasi serta perangkat pendukung sektor-sektor jasa dan sebagainya. Ketiga, jangka panjang, seperti riset-riset pendukung utama, seperti sektor pangan, sektor energi dan sektor-sektor lainnya yang cukup dominan. Kemudian mencari alternatif energi lain, untuk mengurangi beban anggaran dan sedapat mungkin mengurangi subsidi.

Untuk bidang pendidikan, manajemen iptek, riset dan development. Usulan kami adalah, satu, menguatkan dan menajamkan arah visi pendidikan nasional dan dunia industri, untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa produsen, bukan hanya sekedar konsumen atau penonton di tengah-tengah persaingan perindustrian dan perdagangan global. Dua, meningkatkan jumlah anggaran belanja negara untuk pendidikan nasional, serta kelancaran dan keamanan penyaluran, termasuk dalam hal kegiatan riset di kampus-kampus dan lembaga-lembaga penelitian. Ketiga, memotong anggaran belanja negara yang tidak perlu serta melakukan penghematan di seluruh pos pengeluaran. Keempat, mengembangkan produksi industri nasional, berbasis teknologi tepat guna dan teknologi tinggi dengan memaksimalkan peran serta putera-puteri bangsa. Kelima, membebaskan biaya sekolah minimal dalam kurun waktu wajib belajar sembilan tahun. Keenam, kompensasi BBM dikhususkan pada pendidikan rakyat tidak mampu saja.

Sebenarnya banyak, tapi untuk menyingkat waktu saya cukupkan sekian.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Duta Besar RI untuk Korea Selatan

Berikutnya, saya persilahkan Saudara Bayu.


Bayu

Selamat malam, nama saya Bayu.
Tadi Bapak menjelaskan tentang moral bangsa kita sebagai salah satu aspek yang paling penting. Maka dari itu, saya mengajukan program wajib militer sebagai salah satu sarana yang paling efektif, menurut saya, karena melihat betapa rendahnya moral bangsa kita, terumata di kalangan anak-anak muda. Dan saya rasa, program itu adalah yang paling efektif. Sedangkan pelajaran PPKN kita, saya rasa telah gagal. Terima kasih.


Duta Besar RI untuk Korea Selatan

Terima kasih Saudara Bayu. Berikutnya saya persilahkan Saudara Edi.


Edi

Selamat malam, saya ucapkan kepada Bapak Presiden bersama rombongan. Dan terima kasih sekali atas pemberian waktunya kepada kami. Dan langsung saja, saya datang ke Korea adalah sebagai tenaga kerja Indonesia, dan di sini saya akan sedikit memberikan permohonan kepada Bapak Presiden yang terhormat. Dan karena tadi telah dibicarakan oleh Mas Kinkin, Saudara kami, maka kami hanya akan menambahkan.

Dulunya TKI Indonesia itu datang ke Korea adalah sebagai tenaga kerja latihan atau training system. Nah, untuk tahun ini, ada peraturan baru, bahwa pemerintah Korea memberikan cara tenaga kerja Indonesia biar masuk ke Korea dengan cara ETS, Employement Training System, yang Indonesia didaftar melalui Depnaker. Tetapi pada tanggal 23 bulan Maret tahun ini, 2005, pemerintah Korea itu sempat memberikan suara pembatalan pemasukkan tenaga kerja Indonesia yang melalui ETS, dikarenakan pemerintah Indonesia itu tidak memberikan permintaan kepada pemerintah Korea, yang saya maksudkan, bilakah pemerinta Korea mengharapkan masuknya tenaga kerja Indonesia 100 orang, tetapi pemerintah Indonesia hanya memasukkan tenaga kerjanya hanya 20 atau 25% dan waktunya juga sangat telat. Pada petugas atau pemerintah, pejabat Indonesia untuk sekali memberikan pengawasan kepada Depnaker di Indonesia.

Hanya begitu saja permohonan kami. Saya ucapkan terima kasih.


Duta Besar RI untuk Korea Selatan

Terakhir, Bung Samsul silahkan.


Samsul

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Nama saya Samsul, dari Brebes, Jawa Tengah.

… (kaset dibalik) … tidak bisa melaksanakan dengan baik, jadi saya mohon supaya Bapak Presiden bekerjasama atau mengajukan ke pemerintah Korea Idul Fitri diliburkan, begitu. Itu termasuk untuk kepentingan agama.

Itu saja, terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Duta Besar RI untuk Korea Selatan

Terima kasih.
Demikian Bapak Presiden beberapa pertanyaan dan usulan.


Presiden Republik Indonesia

Ya, kita beri tepuk tangan dulu.
Yang disampaikan semuanya baik, penting dan saya menyadari itu masalah-masalah yang Saudara hadapi, berarti yang saya hadapi. Saya ini mengemban amanah untuk Saudara. Jadi kalau ada persoalan dihadapi oleh rakyat Indonesia, termasuk yang ada di Korea, berarti tugas saya untuk mencari solusi, menyelesaikannya tentu dengan sebaik-baiknya.

Pertama tadi Saudara Kingkin atau Pingkin tadi? Kinkin. Masalah pungli. Saya pernah sidak ke Cengkareng, ketika tenaga kerja kita dari Timur Tengah datang. Sembilanpuluh persen wanita. Saya berdialog dengan 40 tenaga kerja, satu demi satu. Dari yang datang waktu itu, pas gilirannya sekitar 200 orang, untuk menanyakan bagaimana perlakukan mereka di Timur Tengah waktu itu, di Kuwait, di Qatar, di Saudi Arabia dan di tempat-tempat yang lain. Dari 40 yang saya tanyai, 35 orang mengatakan baik-baik saja. Haknya diberikan, perlakuannya baik, dan tidak ada masalah apapun. Lima orang merasa diperlakukan tidak adil, ada yang ditahan gajinya, dan lain-lain. Lima orang itulah yang telah kami mintakan untuk ditindaklanjuti mengapanya. Kalau kita harus memperjuangkan, kalau kita harus menyelesaikan ke Timur Tengah, ya harus kita selesaikan. Satu orang pun, kalau Warga Negara Indonesia diperlakukan tidak adil, disia-siakan, tidak diberikan haknya, kita wajib untuk membelanya.

Kemudian waktu itu, pungli sudah ada perubahan. Dan Saudara-saudara, saya ini rajin sekali untuk berkomunikasi dengan negara-negara di mana tenaga kerja kita ada. Mengapa? Kalau tanah air sudah banyak lapangan pekerjaan, tentu lebih baik bekerja di tanah air, betul kan? Dekat dengan keluarga, dekat dengan teman, dan sebagainya. Justru saya berterima kasih, saya salut, saya hormat, kepada Saudara-saudara yang sementara belum bisa mendapatkan lapangan kerja di negeri sendiri, mencari peluang itu di luar negeri. Mereka itu pahlawan, mendatangkan devisa, pisah dengan anak, istri, banyak seperti itu.

Dan waktu terjadi pemulangan besar-besaran, hampir 700 ribu waktu itu dari Malaysia, saya jemput di Sebati, di Tanjung Pinang, di Dumai dan di Pekanbaru. Dan saya juga berdialog mengapanya, mengapanya. Dan saya datang ke Kuala Lumpur, alhamdulillah, sebagian sudah bisa kembali lagi, sebagian tidak jadi dipulangkan karena kita mencari solusinya yang adil.

Pemerintah ingin betul melindungi Saudara, memperjuangkan hak-hak Saudara kalau tidak dipenuhi di negara tempat bekerja, apalagi kalau tidak bersalah, mendapatkan hukuman yang tidak-tidak. Kami harus melindungi. Tetapi sebaliknya, saya berharap, ikutilah undang-undang, peraturan, hukum, adat-istiadat, negara atau bangsa di mana Saudara-saudara bekerja, menjadi adil. Saya sedih, yang datang ke saya, karena salah satu negara kita dijatuhi hukuman mati di Saudi Arabia. Kami sudah menulis surat, sudah memperjuangkan, kini sudah tiga Presiden, belum tembus, karena yang bersangkutan membunuh majikannya. Tetap kewajiban kita memohonkan keringanan, kalau bisa pembebasan. Ini akan kita jalankan.

Ke depan, kita akan kontrol, akan persiapkan lebih baik lagi. Kalau negara tertentu memiliki permintaan, entah bahasanya, entah keterampilannya, entah apapun, kita harus mempersiapkan. Kalau dibutuhkan biaya hanya 10 juta, jangan ada pungli-pungli tambahan. Kalau pulang ke Indonesia, masuk Cengkareng, nggak ada biaya, ya jangan ditarik biaya. Ini yang akan kita lakukan, kita sudah melaksanakan reformasi Depnaker, mudah-mudahan tidak banyak lagi kasus-kasus pungli, pemungutan, pemerasan, Saudara-saudara yang kembali ke tanah air, padahal sudah berbuat banyak untuk negerinya.

Kalau Saudara suatu saat kembali ke tanah air, dipungli, diperas, mendapatkan perlakukan yang tidak-tidak, kirim ke SMS 9949. Itu SMS saya itu. Atau PO BOX 9949 Jakarta 10000, sampai, itu ratusan ribu. Kemudian, surat itu mungkin sudah 10 ribu, tapi setiap minggu kita cek. Itu ada tujuh orang yang saya tugasi untuk mempelajari semua permintaan dari rakyat kita, aduan, sebagian besar benar, sebagian kita cek tidak benar. Jadi kalau sudah menulis surat kepada Presiden, SMS, tolong yang benar, yang faktual, supaya kita bisa tindak lanjuti.

Kemarin, waktu Ramadhan, Idul Fitri, ada 70 orang yang minta bantuan kepada saya, karena nggak bisa berlebaran, baik melalui SMS maupun melalui surat. Setelah dicek oleh Saudara Kurdi, cek satu persatu, kalau betul harus kita bantu. Ternyata yang betul 12 tambah 19, sehingga 30 orang itu betul, kita bantu karena Saudara-saudara kita. tetapi yang lain-lain, yang aneh-aneh, ternyata tidak benar, ya tidak kita bantu, kan fair saja, enak saja.

Jadi, saya katakan, mudah-mudah tidak ada lagi pungli-pungli. Tapi kalau Saudara dipersulit, diperlakukan tidak benar, sampaikan ke siapa yang ketua di situ, kalau perlu bupati, bupati, Depnaker, Depnaker, tembusan kepada Presiden Republik Indonesia, SMS 9949, surat PO BOX 9949 Jakarta 10000, gampang toh?

Kemudian tadi, masih tenaga kerja ya. Tadi diminta, saya cek dulu, tadi beberapa bisa mencek ke Menaker, apa betul permintaan dari Korea Selatan sekian, hanya bisa kita penuhi sekian, itu pun lambat, tolong dicek. Karena kadang-kadang setelah kita cek, tidak seperti itu. Di Kuwait misalnya, saya dengar banyak sekali permintaan, tapi kita tidak memenuhi kuota. Setelah cek persyaratannya, bahasanya, pendidikannya, skill-nya, demikian juga di Australia.

Jadi justru saya ingin, kalau negara-negara, entah Timur Tengah, entah Malaysia, entah Singapura, entah Jepang, entah Korea, entah Australia, meminta tenaga kerja Indonesia dengan skill A, B, C, D, kita siapkan. Jangan dikirim, ternyata tidak, kembali lagi. Atau kita daftarkan, ternyata tidak kembali lagi. Pemerintah dan lembaga-lembaga tenaga kerja saya harapkan juga memikirkan persyaratan yang diminta oleh negara-negara di mana mereka bekerja. Tadi disampaikan oleh Saudara siapa tadi? Yang belakang.
Kemudian untuk yang merayakan Idul Fitri dan Idul Adha, ya, memang ada pepatah, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, “Lain lubuk lain ikannya, lain negeri lain adat-istiadatnya”, tetapi saya kira penting Saudara. Coba nanti adakan pendekatan. Saya kira kalau hanya untuk shalat, Shalat Idul Fitri, Shalat Idul Adha. Saya menanggapi dengan baik ya, karena bagi umat Islam, atau umat Kristiani, Natal itu kan hari itu suatu yang sangat penting dalam ibadanya. Demikian juga bagi yang beragama Islam, adalah Idul Fitri dan Idul Adha, yang Hindu biasanya Nyepi.

Tolong nanti, bagaimana approach-nya, apa bisa diganti. Kalau diganti rela tidak Saudara? Misalkan liburnya hari Minggu, tapi Idul Adha hari Jumat, Jumatnya prei untuk Idul Adha, tapi Minggu-nya kerja, bisa begitu? Bagaimanapun kita akan usahakan ya. Supaya approach-nya baik, saya minta Pak Dubes, Pak Menlu, tolong nanti disampaikan, untuk ibadah. Mudah-mudahan dapat perhatian yang baik. Tapi kalau disiplin, kalau produktif, tidak bolos, mesti ada perhatian yang baik.

Tenaga kerja, saya kira itu yang perlu saya sampaikan. Tadi, yang sudah lima bulan belum berlayar ya, itu ceritanya bagaimana?


Bambang

Saya dari … dari sini kurang lebih lima jam. Saya tahu berita Bapak ada di sini dari surat kabar. Dengan segala cara, saya dengan kawan saya ke sini. Sudah bekerja, sudah belayar, dari … ke Jepang, bolak-balik, membawa kepiting hidup. Sampai saat ini belum dibayar gajinya Pak.


Presiden Republik Indonesia

Baik, baik, tolong nanti, kita harus selesaikan. Tidak boleh dong. Tapi begitu ya. Tadi baru kita bahas, mengapa Korea maju, karena pantang menyerah, tabah, jangan menyerah dulu, kita akan bantu. Tapi Saudara belum merasakan, lima bulan bekerja nggak dapat gaji, gimana coba? Kita akan cek nanti, Pak Dubes tolong dicek ya. Mestinya ada, yang lain nggak ad akan? Nah, ini, makanya, apa yang nggak pas. Nanti kita akan komunikasikan. Siapa namanya? Bambang sama siapa? Dari mana aslinya di Indonesia? Pekalongan, Belitung ya.

Baik. Begini, makanya Pak Jakob itu, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh, bayangkan, luar biasa dan berkuasa penuh. Bapak nanti dengan staf, tolong dicek betul. Saya ingin jawabannya yang tuntas nanti, seperti apa gitu.

Kemudian, tadi dari yang mewakili mahasiswa dan pelajar, bagus sekali. Justru yang Saudara semua tuangkan itu, klop dengan sebetulnya program yang akan kita jalankan lima tahun ke depan, tidak ada melesetnya. Saudara mengatakan, tolong, dibangun infrastruktur, supaya menunjang keadilan rakyat dan ekonomi bisa tumbuh, daya saing kita tinggi. Kalau infrastruktur Indonesia kurang, misalkan jalan, pelabuhan, bandara, listrik, telekomunikasi, air bersih, investor tidak datang ke Indonesia. Datangnya mungkin ke Laos, datangnya ke Vietnam, datangnya ke China, ke India. Setuju, 100% setuju.

Oleh karena itulah, lima tahun mendatang akan bangun. Setelah kita hitung untuk membangun infrastruktur yang tadi-tadi itu, kita perlukan biaya 140 milyar dolar, 1400 trilyun. Kita hitung-hitung, kemampuan bank kita, dalam negeri, itu sekitar 17%. Kita hitung lagi, berapa kemampuannya non-bank dalam negeri, 21%. Yang siap kita sediakan capital-nya, finance-nya, itu 38%. Artinya apa, 62% kita harus mengundang swasta. Swasta ini dalam negeri dan luar negeri. Siapa swasta itu? Ya dari Korea, dari Jepang, dari Rusia, dari macam-macam. Swasta itu akan datang, investasi datang, kalau Indonesia hukumnya bagus, tidak ada korupsi macam-macam, tidak dipungi, tidak dipersulit, keamanannya baik, kemudian suasana perburuhan baik, Undang-Undang Pajaknya kena, investasi kena, dan segala macam.

Artinya apa? Untuk membangun infrastruktur tadi, untuk kepentingan kita, ekonomi rakyat, maka diperlukan kondisi. Membangun kondisi tugas kita semua. Jangan sampai, “Pokoknya pemerintah harus bikin infrastruktur”, tapi bikin kacau terus. Nggak aman sana, nggak aman sini, segala macam. Tidak akan datang investor. Ini mata rantai. Oleh karena itu, kami akan terus, setiap kami ke luar negeri, termasuk besok kami akan bertemu dengan empat pengusaha di sini, top, Jepang delapan, China tujuh, di Amerika, please datang ke Indonesia. Saya ini sebagai sales person. Presiden iya, tapi tukang, apa istilahnya itu, saya laksanakan, demi Allah.

Saya pulang kunjungan dari Beijing, membawa komitmen senilai delapan milyar, senilai 80 trilyun untuk investasi. Saya datang ke Jepang kemarin, sepakat Koizumi dengan saya meningkatkan perdagangan lima tahun dua kali, investment dua kali, jadi double. Saya juga habis-habisan. Tapi harapan saya, ketika saya memasarkan Indonesia, look, Indonesia is changing now, ada perubahan di sana, sini, meskipun belum rampung, masih banyak, silahkan tuan-tuan, datang, alhamdulillah, belum datang, saya nggak akan menunggu. Dengan harapan, kalau saya sudah ngomong begitu, dalam negeri, semua harus bikin perbaikan. Jangan ada yang malas, jangan mempersulit, ngambil lagi uang dari pajak, ngambil lagi uang belanja, mark up, fiktif segala macam, bagaimana mau baik negara kita, bagaimana mau datang investor. Kalau mau baik, baik semua. Masuk ke situ nanti.

Kemudian, BBM. Begini. BBM di Indonesia ini, harganya paling murah. Dulu, harga minyak tanah itu, itu kan dibikin dari minyak mentah. Minyak mentah, kalau harganya kemarin 60 dolar per barel, alhamdulillah makin turun, makin turun, saya sama isteri, saya buka rahasia, saya sehabis shalat fardhu, kadang-kadang Shalat Tahajud, kami berdua mohon kepada Allah SWT, “Ya Allah, mudah-mudahan harga minyak dunia turun”, insya Allah. Ini sudah mulai turun. Dari 62, 61, 60, 59, 58, 57, 56, limit 56 sekarang. Artinya apa? Kalau turun, turun, turun, nanti, insya Allah BBM kita akan turun. Kita lihat nanti.

Tapi saya kembali ke cerita saya dulu. Harga 60 dolar kemarin, satu liter untuk bahan minyak tanah, harganya itu sekitar 4000, bahannya, mentahnya. Kalau kita beli dari Timur Tengah, misalnya, kita bawa ke Indonesia, anggaplah tidak usah naik kapal laut, jadi tidak ada biaya tambahan, tidak ada biaya transportasi, tapi saya mohon kepada Allah, tiba-tiba ada karpet terbang, kemudian naik karpet, sampai di Indonesia, biayanya nol. Berapa harganya satu liter tadi? Tetap 4000. Kemudian kita olah di kilang, bisa di Balongan, bisa di Cilacap. Kemudian saya berdoa lagi, mudah-mudahan datanglah keajaiban-Mu, sehingga begitu baru masuk kilang, tiba-tiba jadi minyak tanah itu, langsung, biayanyanol kan? Berapa jualnya? Empat ribu. Nah, dulu kita jual 700 rupiah. Kalau 700 rupiah, negara per liternya mengganti kekurangannya 3200, itu minyak tanah dan lain-lain.

Begitu harga naik-naik, maka subsidi itu besarnya mencapai sekitar 140 trilyun. Memukul semuanya. APBN kita kembang-kempis. Saya tidak punya dana untuk pendidikan, kesehatan, pengurangan kemiskinan, lingkungan kerja, segala macam, karena tersedot untuk subsidi. Padahal subsidi itu, tidak semua untuk rakyat kecil. Seperti menteri, seperti Pimpinan Kadin, seperti saya, ini dulu ikut menikmati subsidi. Padahal bisa membeli. Masa pengusaha harus disubsidi. Nggak boleh sebetulnya.

Jadi, akhirnya negara yang mengeluarkan 140 trilyun subsidi itu, bukan hanya dinikmati rakyat kecil, tapi yang kaya pun ikut menikmati. Kita ubah sedikit policy ini. Masih ada subsidi, siapa bilang tidak ada subsidi, harganya 2000, masih 2000 lebih subsidinya. Tetapi, bagi rakyat yang miskin dan setengah miskin, jumlahnya 62 juta, kita bantu, kita hitung. Kalau dulu, sebulan berapa banyak menggunakan minyak tanah, kerosene itu, dihitung-hitung dengan keperluan sehari-hari 56 ribu. Oke, kita dobelkan, satu bulan kita kasih 100 ribu. Dengan demikian, 62 juta, atau 15,5 juta kepala keluarga, kita kasih satu bulan 100 ribu, satu tahun 1,2 juta, untuk mengganti beban hidupnya, langsung.

Itu ikannya. Apa hanya ikan? Tidak. Ada kailnya, ada kemudahannya. Artinya apa? Kompensasi itu bukan hanya bantuan tunai langsung. BLT, atau subsidi tunai langsung, STL atau SLT, tetapi kita bantu juga pendidikan. Tahun 2005, BOS, Bantuan Operasional Sekolah sudah sampai. Insya Allah 2006, kita tambahkan nanti renovasi gedung-gedung. Tambah lagi bantuannya. Sehingga menuju pendidikan murah dan kualitas, gratis untuk sembilan tahun pertama, insya Allah akan segera tuntas, sama dengan, mudah-mudahan segera tuntas kesehatan.

Sekarang orang berobat di Puskemas, rumah sakit kelas tiga, golongan miskin, setengah miskin, gratis. Kita alokasikan kompensasi ke pendidikan, ke kesehatan, apalagi? Ke nelayan, bantuan solar. Apalagi? Membangun infrastruktur pedesaan. Saya baru pulang dari Lombok, di Lombok Tengah, 60 tahun kemerdekaan, rakyat di situ nggak punya air bersih. Kita alirkan dana kompensasi BBM tadi, sekarang, saya sudah melihat sendiri, kemarin airnya jernis sekali, sudah tepuk tangan, ya Allah, ya Tuhan, terima kasih Bapak, kami sekarang sudah bisa minum air bersih, mandi air bersih. Enampuluh tahun negara Indonesia merdeka, kita tambah seperti itu. Jalan-jalan, irigasi, segala macam, kita alirkan.

Kemudian, yang akan datang, ada perikanan, pertanian, dari kompensasi. Pendek kata, hasil kompensasi, supaya adil, tidak dinikmati orang kaya, kita alirkan, sebagian bantuan langsung, sebagian bantuan tidak langsung, atau inkind, atau yang saya sebutkan tadi. Sama dengan konsep Saudara. Meskipun tahun pertama ada kekurangan-kekurangan. Gubernur seluruh saya panggil. Para menteri sudah rapat, untuk memperbaiki penyalurannya, pendataannya, jangan sampai yang miskin tidak dikasih, kelewatan begitu, yang tidak miskin malah dapat. Ini akan kita sempurnakan terus. Brasilia, itu juga sudah tujuh tahun. Meksiko, subsidi langsung tunai. Tahun pertama, kedua, juga banyak sekali masalah. Masalah kita kemarin, alhamdulillah, ya meskipun ada, itu kurang dari 10% yang meleset, akan kita perbaiki ke depan.
Dengan demikian, saran anda, mekanismenya, pendataannya, kelancarannya, transparansinya, kita lakukan. Dan saya katakan, siapa pejabat yang korup, mengambil uang rakyat, apalagi rakyat miskin, saya minta dicopot langsung. Saya serius ya. Kebangetan, ndak punya hati, contohnya seperti itu. Kita akan perbaiki semuanya itu.

Kemudian tadi, pendidikan, kesehatan. Pendidikan, ini mudah-mudahan Allah berikan jalan. Betul-betul sembilan tahun itu harus gratis. Sekarang, biaya sekolahnya tidak bayar. Gedungnya, sudah kita renovasi satu demi satu. Kami sedang berpikir, bukunya. Sekarang buku masih beli, mudah-mudahan Menteri Pendidikan bisa menemukan cara yang cerdas, bisa saja buku itu, buku itu begini, kalau model India itu, kertasnya nggak bagus, setelah dipakai, buang. Tapi ada lagi model yang bagus, bukunya bagus, bisa awet lima, enam tahun, tidak tiap tahun ganti. Kalau ada perubahan, misalkan pelajaran SD, SMP, kalau matematika itu nggak banyak gantinya, ilmu alam, tapi kalau sejarah, kalau tambahan 10 halaman, tinggal disisipkan di situ. Jadi, orangtua tidak setiap tahun beli buku. Pendek kata, kita ingin betul-betul menggratiskan, memurahkan, semurah mungkin, pendidikan, baik pendidikan negeri maupun pendidikan keagamaan. Demikian juga kesehatan dan lain-lain.

Jadi, Saudara-saudara, terima kasih, saya bawa ke Jakarta, saya pelajari semua. Tapi, saya sampaikan kepada Adik-adik mahasiswa, pelajar, kita tentu tidak mungkin mengambil kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Saudara tahu, sebelum saya mengambil keputusan BBM itu, itu mungkin tiga bulan untuk terus mencari akal, bagaimana begitu BBM terpaksa dinaikkan, kalau saya mau aman-aman, ngapain naikkan BBM? Foto saya dibakar, diinjak-injak, disumpahi, segala macam, ya Allah, mudah-mudahan Tuhan Maha Tahu, bahwa hati saya untuk rakyat, bahwa BBM ini, akhirnya ekonomi kita akan bagus, kalau bagus juga untuk rakyat. Naik pun kita proteksi, kita berikan subsidi langsung tunai, masih kita berikan lain-lain. Tapi saya terima resiko itu. Kalau saya ingin jadi pemimpin yang populer terus, ngapain naikkan? Tapi saya berdosa, karena saya bisa menghancurkan ekonomi nasional. Oleh karena itulah kita naikkan. Tetapi sebelumnya, kita harus cek, apakah kompensasi sudah mengalir semua yang dulu. Alhamdulillah, akhirnya sudah. Apakah kompensasi yang berikutnya juga sudah siap? Alhamdulillah, sudah. Jadi itupun juga kita lakukan.

Beberapa tadi, masalah pendidikan, kesehatan, infrastruktur, masalah BBM, masalah apa tadi? Wajib militer, begini. Negara itu, masing-masing negara punya policy. Wajib militer itu biasanya sistem yang dianut oleh sebuah negara, dimana untuk menghidupi tentara yang regular, tentara yang aktif, begitu masuk tentara terus selamanya ada di situ, mahal sekali. Oleh karena itu dirotasi. Pendidikan, wajib militer, setahun, dua tahun, kembali ke sipil, kerja, punya profesi, tapi setiap saat bisa dipanggil, bisa seperti itu. Atau wajib militer apabila negaranya dalam keadaa siap berperang atau mengalami konflik atau sedang dalam peperangan, direkrut semuanya itu. Tujuannya itu. Atau ada model-model, pilot project, untuk menyiapakan cadangan-cadangan, sehingga wamil itu tujuannya bukan hanya bikin disiplin. Tujuannya menyiapakan suatu kekuatan yang siap berperang, siap bertempur, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Nah, karena pendidikan militer itu ada keras-kerasnya, ada disiplinya, maka orang mengatakan, salah satu manfaatnya adalah disiplin. Tetapi, untuk menjadi manusia yang disiplin, tidak harus sebetulnya melalui pendidikan wajib militer, tidak harus. Apa bangsa Korea semua wamil? Tidak. Apa bangsa Jepang semua wamil? Tidak. Apa bangsa Amerika semua wamil? Juga tidak. Oleh karena itu, yang penting bagi saya, bagaimana suatu metodologi, pengasuhan di pendidikan kita, agar mereka-mereka betul-betul disiplin dan memiliki mental yang baik. Karena, terus terang, wamil juga memerlukan biaya yang besar, tapi saya tertarik dengan anda tadi, ada pendidikan kewarganegaraan, dulu namanya civic, pernah dengar? Di negara lain, bisa efektif, saya tidak tahu apakah di negeri kita masih menggunakan metodologi pengasuhan seperti itu atau tidak.
Saya berikan contoh Saudara-saudara, supaya punya gambaran ya. Untuk menjadi manusia yang disiplin, itu ditentukan oleh yang disebut apa yang dilakukan pada masa sembilan tahun pertama. TK, SD, SMP. Kalau ketika dia masuk TK, SD, SMP itu, pendidikannya, pengasuhannya, perilaku sehari-harinya, budayanya, baik, maka akan jadi dia. Tapi kalau sembilan tahun pertama, masa pembentukan karakter, pembentukan mentalitas, pembentukan moral itu tersia-siakan, belum tentu dia menjadi orang disiplin. Ini saya pelajari dari bagaimana Jepang, misalnya mendidik, menyiapkan manusia-manusia disiplin. Saya kira Korea juga sama.

Sehingga suatu, saya sedang bertugas di Sumatera bagian selatan, saya mengunjungi SD dan SMP. Tiga SD dan satu SMP. Saya ketemu dengan guru-gurunya, bagaimana SD? “Baik Pak.” Baiknya bagaimana? Saya cek. “Bu, ada nggak tempat-tempat sampah?” Agak bingung jawabnya. “Bu, kamar mandinya, atau tempat kencingnya ada airnya nggak?” Bingung beliau. “Bau nggak?” Bingung beliau. Kemudian, “Kalau keluar masuk kelas itu ngantri nggak?” Nggak terpikir. Terus dan lain-lain. Akhirnya pendek kata, singkat kata, saya berkunjung ke tiga SD dan SMP. Apa yang saya berikan? Saya berikan tong-tong untuk buang sampah. Kalau kita punya anak, sejak TK, SD enam tahun, SMP tiga tahun, membuang sampah di tempat sampah tadi, nine years, itu menjadi nilai, menjadi perilaku, menjadi behavior. Selamanya dia tidak mungkin buang sampah seenaknya.

Yang kedua, saya bantu bikin kamar mandi atau tempat buang air kecil, ada airnya dan tidak bau. Kalau dia sembilan tahun, TK, SD, SMP, buang air kecil bersih, buang air kecil bersih, ada airnya, maka selamanya dia, saya kalau punya WC, mesti bersih, mesti ada airnya. Karena menjadi nilai. Terus saya belikan rebana sama gitar, karena daerah Sumatera Selatan sangat islami waktu itu, karena orang yang senang musik itu, biasanya jauh dari kekerasan. … (kaset dibalik) ….

… (kaset dibalik) … tidak terlalu banyak biaya, karena sudah ada, mengawal saya juga mudah, keamanan mudah, saya tidak sering mengganggu lalu-lintas. Bayangkan kalau Presiden setiap hari pulang-pergi ke Cikeas, itu kan macet itu. Saya pulang ke Cikeas itu biasanya Sabtu, Minggu, libur, sepi, itu baru pulang. Yang ingin saya ceritakan, di Cikeas itu ada beberapa SD. Sama, saya kirim staf, coba kamu cek, SD itu, SD ini. Nggak ada kamar mandinya. Masa nggak ada kamar mandinya. Jadi kalau mau buang air kecil itu ke sawah, ke belakang. Ada yang pulang ke rumah. Singkat kata, sudah, langsung saya bantu. Sudah ada itu akhirnya. Saya ingin tadi itu, sembilan tahun dia kencing di tempat yang bersih, nggak ada baunya, menjadi behavior, menjadi karakter.

Saya ingin pendidikan kita yang inovatif. Jadi jangan guru itu sekedar ilmu, menguji, coba inovatif, bagaimana anak didik itu menjadi taft, tidak mudah menyerah, tidak ini, tidak itu, dan sebagainya. Contohlah bangsa Korea. Akhirnya, soal semangat, soal disiplin. Kita ini kalau mencontoh bangsa lain, asalkan baik, tidak ada salahnya. Orang Indonesia itu biasanya tahan menderita. Bukan berarti saya mengajak menderita terus.

Begini ya, Adik-adik, terutama yang mahasiswa, pelajar, tentara negara asing itu, misalkan sudah latihan sebulan, dua bulan, enam bulan. Atau perang satu bulan, dua bulan. Misalkan terlambat logistik, kalau mereka, negara barat, minum birnya, terlambat birnya, terlambat ininya, itu bisa ditahan itu. Tentara Malaysia saja, yang tetangga kita, itu jatahnya lebih banyak. Waktu itu, waktu saya Letnan, waktu saya Kapten, dulu, masa muda saya, kesejahteraan kita kurang, tapi kita tabah. Rokok kurang, ini kurang, ini kurang, yang lain seperti itu. Tapi kita bisa-bisa saja.

Nah, sekarang, ketika saya alhamdulillah menjadi Presiden, wajib saya meningkatkan kesejahteraan mereka, ya guru kita, petani kita, nelayan kita, buruh kita, termasuk prajurit-prajurit pangkat rendah, Tamtama dan Bintara. Terima kasih saya, bangsa yang tahan menderita, yang tidak mengeluh dan sebagainya. Setelah itu ada, tidak cukup kan? Tambahlah semangatnya, tambahlah daya saingnya, tambahlah produktifitasnya, agar kita sama dengan Korea, agar sama dengan Jepang, agar sama dengan Amerika, agar sama dengan Eropa. Bisa kita? Insya Allah bisa.

Rasanya saya masih ingin satu jam, dua jam lagi. Tapi tentu kegiatan lain menunggu. Jika tahun depan ke sini lagi, tapi mungkin ke Seoul mungkin ya. Ya, nanti datang ke Seoul, ketemu di sana kita. Saya ucapkan yang mahasiswa, yang pelajar, selamat berkuliah. Saya tunggu anda di tanah air, bangun negeri kita. Bagi yang bekerja, mudah-mudahan baik, yang sudah kehilangan ijin, segala macam, saya minta selesaikan dengan baik begitu. Kita akan bantu. Yang hak-haknya belum diberikan, kita akan bantu. Yang tadi ingin Idul Fitri, Idul Adha ada ibadah, kita ingin lakukan pendekatan. Yang jelas, saya mencintai Saudara semua, cintailah tanah air, cintailah bangsa sendiri, berbuatlah yang terbaik untuk negara kita.

Selamat berjuang, Tuhan beserta kita.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

* * * * *


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan