Arsip

« November 2005 »
M S S R K J S
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930   

Wawancara

Dialog dengan Anak-Anak Peserta Konferensi Anak Hemat Energi

TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN ANAK-ANAK PESERTA KONFERENSI ANAK HEMAT ENERGI
ISTANA NEGARA, 30 NOVEMBER 2005



Sri Indriati

Nama saya Sri Indriati, kelas 6 di SD ... Bandung.

Pak Presiden yang terhormat,
Apakah Bapak mengingat untuk meningkatkan pendidikan anak-anak Indonesia, di mana yang saya ingat itu, menurut saya, anak-anak Indonesia itu mempunyai bakat, tetapi mereka tidak mempunyai biaya untuk mengembangkan bakat mereka. Siapa tahu, dengan mengembangkan bakat mereka, mereka bisa membuat dunia tersenyum lagi, bisa membuat barang-barang yang tentunya dengan menghemat energi, bisa menciptakan gaya hemat energi yang lebih baik. Apakah Anda mempunyai niat untuk meningkatkan pendidikan anak-anak Indonesia.


Presiden Republik Indonesia

Anak-anak,
Presiden, menteri, gubernur, semua, pejabat negara yang dipilih orang rakyat, ibaratnya, bukan hanya punya niat. Yang jelas, terus berusaha dengan keras untuk meningkatkan pendidikan di negaranya, di provinsinya, di kabupatennya, agar generasi yang akan datang, anak-anak bisa menjadi lebih cerdas, bukan hanya niat, bukan hanya cita-cita, sekarang pun, Pak Presiden, Pak SBY, terus bekerja dengan gigih bersama pemerintahan, untuk meningkatkan pendidikan.

Sesulit apapun negara kita, ekonomi kita belum tumbuh benar, negara kita belum kaya benar, belum makmur benar, tetapi anggaran untuk pendidikan terus kita tingkatkan. Tahun 2004, 2005 ini saja, saya kira Anak-anak sudah mengikuti, kita membantu yang namanya BOS, benar? Biaya Operasional Sekolah. Kita juga akan terus meningkatkan renovasi atau pembangunan kembali atau perbaikan gedung-gedung sekolah. Kita terus akan meringankan biaya. Bahkan, SD, SMP, insya Allah nanti, biaya sekolahnya gratis.

Kita juga akan terus meningkatkan buku-buku, bahan-bahan ajaran, semurah mungkin, untuk tidak membebani orangtua. Kita juga akan meningkatkan kualitas guru, kesejahteraan guru, agar mengajarnya juga baik. Kalau gurunya baik, bukunya baik, gedungnya tidak bocor, biayanya tidak mahal, atau bahkan gratis, bagi wajib belajar sembilan tahun, maka anak-anak kita akan mengenyam pendidikan yang baik, dan dengan demikian mutunya akan baik. Kalau mutunya baik, akan menjadi putera-puteri bangsa yang maju dan cerdas, dan insya Allah negara kita akan berkembang dengan pesat. Jadi jelas itu kita lakukan.


Airin Marianing Retnowati

Nama saya Airin Marianing Retnowati, kelas 6 SD dari SD Tarakan I Jakarta.
Dulu, kata Pak Purnomo, sebelum menjabat sebagai Presiden, Pak SBY pernah menjabat sebagai Menteri Energi. Apakah dalam menjabat sebagai Menteri Energi itu, Pak SBY pernah mengalami krisis energi yang cukup merugikan Bapak?


Presiden Republik Indonesia

Cukup merepotkan. Jadi begini, jadi Menteri Energi itu suka deg-degan. Ada yang mengatakan, suka senam jantung, jantungnya …(kaset dibalik)…iya kan? Kemudian ada bahan bakar yang akan dibawa, ke misalnya Pulau Lombok, dibawa kapal, tiba-tiba ombaknya besar, kapalnya tidak nggak bisa merapat, terjadi antrian dua hari. Semua marah kepada Menteri Energi. Kepada Presiden, mengapa kok terlambat dua hari? Padahal karena anginnya kencang, gelombangnya tinggi, kapalnya tidak bisa merapat. Kan begitu.

Kemudian, misalnya, karena transportasi tambah terus, motor tambah, mobil tambah, pesawat udara tambah, kapal laut tambah, maka kebutuhan bahan bakar itu makin besar. Nah, kita disamping membikin di dalam negeri, juga membeli dari luar negeri. Nah, kalau di luar negeri, tiba-tiba yang dibeli tidak ada, atau menurun, atau seperti dulu, kilangnya kebakaran, kita nggak bisa beli, terjadi kelangkaan, harganya mahal. Yang dimarahi Menteri Energi dan Presiden. Padahal yang menyebabkan kejadian di luar negeri.

Jadi kalau ditanya, tadi Airin, apakah waktu jadi Menteri Energi suka repot, suka deg-degan, ya memang, kadang-kadang ada masalah di luar kemampuan kita, yang itu terjadi. Saya pernah punya pengalaman, Pak SBY punya pengalaman. Waktu itu, kilang Balongan, tahu Balongan? Yang di Cirebon itu terganggu. Karena terganggu, produksinya berkurang jauh. Kalau produksi berkurang, terjadi kelangkaan tidak? Terjadi kelangkaan.

Kemudian kilang di Kalimantan Timur, di Balikpapan, juga waktu itu ada gangguan. Berkurang lagi, ada kelangkaan nggak? Nah, kita mau membeli di Singapura waktu itu, yang dijual tidak banyak, karena dibeli oleh Amerika, di sana musim dingin, dengan demikian memerlukan, bukan musim dingin, musim panas, sehingga memerlukan banyak sekali kebutuhan energi untuk pendinginan.

Terus, bila kita membeli bahan bakar minyak di Kuwait, tahu Kuwait? Di Timur Tengah, itu kilangnya terbakar. Karena kilangnya terbakar, kita sulit mendapatkan bahan bakar minyak. Waktu itu Presidennya Gus Dur, Pak SBY jadi Menteri Energi, akhirnya sudah terjadi antrian di banyak tempat, maka Pak SBY bertindak dengan cepat, waktu itu, pergi ke Thailand, pergi ke Malaysia, pergi ke Singapura, untuk mendapatkan kerjasama menyediakan bahan bakarnya itu. Alhamdulillah, Tuhan menolong bangsa Indonesia. Kerja cepat kita waktu itu bisa menghasilkan sesuatu dan kita terhindar dari kelangkaan bahan bakar yang luar biasa. Meskipun terganggu beberapa hari, bisa kita selesaikan.

Inilah pengalaman Pak SBY waktu jadi Menteri Energi dulu. Nah, kalau tanya Pak Purnomo, sama, mesti ada suka-dukanya. Kadang-kadang kalau BBM naik, karena harga di dunia juga naik, yang dimarahi siapa? Menteri Energi dan Pak Presiden, ya kan? Nah, itu, suka-duka. Tetapi itu semua amanah, itu semua tugas negara, itu semua harus dijalankan, agar semuanya berjalan dengan baik.

Baiklah itu Anak-anak ya,
Saya mengucapkan terima kasih. Saya ingin bicara lebih lama lagi, tapi Pak SBY sudah ada jadwal yang lain. Kerjanya Pak SBY, biasanya ya mulai pagi, siang, sore, malam, karena yang diurusi banyak, dari Sabang sampai Merauke. Termasuk pendidikan anak-anak, termasuk energi. Mari kita berdoa, untuk keselamatan dan kemajuan bangsa kita.

Salam untuk orangtua, untuk papa, untuk mama, untuk kakak, untuk adik, untuk semuanya. Salam hormat saya, kebanggaan saya kepada kalian yang sudah menjadi juara, yang kreatif. Mudah-mudahan, sekali lagi, membawa kebahagiaan bagi orangtua dan keluarga.

Terima kasih,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

* * * * *


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan