Arsip

« November 2005 »
M S S R K J S
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930   

Wawancara

Wawancara dengan Radio Republik Indonesia

TRANSKRIPSI
WAWANCARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN RADIO REPUBLIK INDONESIA
GAZEBO ISTANA JAKARTA, 30 NOVEMBER 2005



Reporter RRI

… kita bersama dengan Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. kembali lagi, topik utama kita adalah memberantas musuh utama, korupsi, terorisme dan narkoba.

Bapak Presiden, sekedar untuk me-refresh, penyegaran kita semua, dan publik terutama juga ingin mengetahui, untuk sementara sejauh ini bagaimana komitmen Bapak Presiden dalam memberantas tiga musuh utama di tanah air, korupsi, terorisme dan narkoba ini Pak?


Presiden Republik Indonesia

Tiga musuh utama ini Bung Adi, atau kejahatan korupsi, terorisme dan narkotika atau narkoba, KKTN, itu telah menjadi agenda, prioritas kita semua, bukan hanya pemerintah, bangsa Indonesia, untuk benar-benar kita melakukan perjuangan yang sangat serius untuk memberantasnya itu ya.

Nah, kemudian tentu, komitmen jangan diragukan lagi, justru ini amanah, siapapun yang memimpin negara ini, dan kapanpun, jangan pernah tiga musuh utama ini berkembang dan tidak bisa kita berantas, kita perangi secara sungguh-sungguh.


Reporter RRI

Ya, dan Pak Presiden, ketika kita berbicara komitmen, masyarakat kembali berpolemik atas komitmen dari pemerintah. Mungkin ada beberapa penekanan tersendiri dari Pak Presiden tentang penekanan komitmen itu sendiri, karena publik menyatakan, ya sampai sekarang pemerintah masih cenderung lip-sing, sampai sekarang pemerintah masih seperti ini, seperti itu. Sangat ingin sekali publik mendengarkan komitmen yang seperti apa mungkin dari Pak Presiden?


Presiden Republik Indonesia

Mungkin yang dimaksud bukan komitmen ya, implementasinya. Memang sering ada retorika, ya, ada perubahan, beda yang dikerjakan sama sekali oleh pemerintah, korupsi, tidak berubah sama sekali, saya kira tidak jujurlah. Kita membiasakan bicara dengan fakta, dengan data, dengan progres dan sebagainya, bahwa masih panjang perjalanan kita.

Saya baru saja mengatakan di Busan, Korea Selatan, di depan 21 pemimpin ekonomi di dunia, bahwa Indonesia sekarang ini, dengan gigih memerangi tiga kejahatan itu. Korupsi, terorisme dan narkoba. Dan mereka mengatakan ya. Tetapi saya katakan, justru ketika sebagian telah memberikan kredit kepada kita, ada yang bisa kita capai, meskipun belum besar benar, saya katakan, Indonesia memang baru memenangkan pertempuran, pertempuran tertentu melawan terorisme, pertempuran tertentu melawan korupsi, pertempuran tertentu melawan narkoba. Tapi Indonesia, harus jujur, saat ini belum memenangkan peperangan. Perangnya sendiri, belum kita menangkan. Tetapi kalau kita bergerak terus, pertempuran demi pertempuran, kita menangkan, insya Allah, perang pun bisa kita menangkan. Oleh karena itu, saya minta, kalau ini menjadi komitmen kita, ya kita jalankan secara bersama.

Sebenarnya, kalau ada saudara-saudara kita yang meragukan, apakah betul ada yang bisa kita capai dalam pemberantasan terorisme, korupsi, narkoba, bisa mendapatkan data yang lengkap, apa yang kita lakukan sekarang ini, sehingga tidak terkesan apriori, dan tidak bagus. Cepat puas salah. Menganggap bahwa kita sudah berhasil benar, keliru, karena belum. Tetapi mengatakan jalan di tempat, malah mundur, tidak ada yang dicapai, itu bisa tidak jujur dan tentu bisa menimbulkan pesimisme. Bangsa yang besar, bangsa yang menang, harus menjadi bangsa yang optimis.


Reporter RRI

Dengan melihat kenyataan di lapangan, Pak Presiden sendiri mungkin melihat masyarakat agak pesimis dengan upaya yang dilakukan oleh pemerintah, kalau merek masih tarik-menarik, silang pendapat, kritikan yang tidak berdata, segala macam.


Presiden Republik Indonesia

Pendapat yang beragam itu ciri demokrasi, saya senang. Justru saya tidak senang kalau pendapat ini monoton, semua mengatakan iya, semua mengatakan sudah baik, saya harus dengar sisi yang lain, “Pak, ini kurang, ini belum. Ini belum berhasil. Senang saya”. Asalkan itu faktual, sebab dengan berita-berita, informasi, keterangan, bahwa ini belum berhasil, provinsi ini masih jalan di tempat, pejabat ini tidak berubah, saya bisa melakukan koreksi, saya bisa melakukan perbaikan, kalau perlu penindakan, agar tidak menjadi kanker di dalam tubuh kita, tubuh bangsa Indonesia yang terus ingin memberantas tiga kejahatan itu.


Reporter RRI

Dan, artinya, kalau mengacu kepada statement Pak SBY tadi, mengakui pemerintah masih ada kelemahan-kelemahan dan kendala-kendala yang dihadapi, begitu Pak?


Presiden Republik Indonesia

Ya. Memberantas korupsi, sebagai contoh ya, itu jangan dipikirkan seperti membalik telapat tangan. Kemarin, di Korea, saya berbicara dengan otoritas atau pemimpin Hongkong. Diperlukan waktu 12 tahun untuk membersihkan sistemnya, untuk membikin Hongkong itu betul-betul bebas dari korupsi. Hongkong kecil, bayangkan Indonesia. Dengan kompleksitas, dengan keragaman permasalahan yang kita hadapi. Tetapi saya berani mengatakan, kalau kita memelihara intensitas pemberantasan korupsi seperti sekarang ini, 15 tahun, saya kira kita akan berubah.

Kalau hitungan mereka, “Wah, apa bisa Indonesia yang besar, yang kompleks, yang kulturnya, yang macam-macam seperti ini, bisa berubah seperti Hongkong?” Tapi saya katakan, insya Allah bisa. Kalau sekarang ini kita mempertahankan intensitas. Tahun pertama, Bung Andi, sebagai contoh, lebih dari 65 pejabat yang kita investigasi. Apakah gubernur, wakil gubernur, bupati, wakil bupati, walikota, wakil walikota, anggota DPR, anggota MPR, pejabat kepolisian, semua, yang diduga kuat melaksanakan tindak pidana korupsi.

Kemudian, pengawasan kita tingkatkan. Instruksi demi instruksi saya keluarkan. Kemudian apa yang terjadi? Di satu sisi, memang, tidak semudah dulu, pejabat kita melakukan penyimpangan-penyimpangan. Tidak semudah dulu mereka begitu saja mengambil uang negara. Tetapi ini baru awal, awal dari perjalanan panjang yang harus kita pertahankan dan intensitasnya.


Reporter RRI

Pak SBY sendiri kalau melihat kendala-kendala yang muncul, dihadapi pemerintah dalam upaya penuntasan kasus korupsi ini sendiri, bagaimana Pak?


Presiden Republik Indonesia

Ada. Yang pertama, ini kan menyangkut perilaku, mentalitas, bolehlah disebut kultur yang jelek. Berpuluh-puluh tahun barangkali kurang keras betul kita memberantas korupsi, sehingga hitung-hitungannya banyak selamatnya begitu. Kita bikin banyak tidak selamatnya, banyak celakanya, ke depan ini. Kalau mereka masih korupsi.

Yang kedua, memang sistem undang-undang, peraturan, ini perlu kita tata dengan kembali, jangan sampai ada celah-celah untuk mereka berbuat korupsi. Pengawasan, semua. Saya minta pengawasan pers, pengawasan publik, tapi sekali lagi jangan fitnah, belum-belum sudah dituduh korupsi, itu juga suatu pelanggaran etika. Tapi berikan pengawasan.

Dan kemudian, yang terakhir, kalau itu menyangkut pegawai rendah, saya ingin betul meningkatkan kesejahteraan mereka. Kalau ada seorang bupati, seorang pejabat menengah di kepolisian atau di TNI atau di manapun, dia menggelapkan uang negara, misalkan lima milyar, itu korupsi. Penjara jawabannya. Tapi kalau ada PNS, guru SD, istrinya sakit, anaknya sakit, kontrakannya habis, khilaf, mengambil uang satu juta, itu karena beban hidup yang berlebihan, akhirnya dia melakukan ke-khilaf-an, jawabannya adalah mari kita tingkatkan kesejahteraannya, gajinya, agar pantas, sambil, “Eh, setelah saya naikkan gaji anda, Bapak, Ibu, yang disiplin, yang rajin, jangan melakukan korupsi”. Begitu konsepnya.


Reporter RRI

Artinya Pak SBY juga melihat, perlu dipilah ya?


Presiden Republik Indonesia

Bung Adi, begini ya. Memimpin bangsa itu tidak cukup dengan pikiran,juga dengan hati, dengan nurani. Tidak boleh semua kita anggap mesin, mereka adalah saudara-saudara kita, punya pikiran, punya perasaan, punya persoalan, punya harapan. Kadang-kadangnya kondisinya begitu buruk, terutama pada golongan ekonomi lemah, golongan miskin. Nah, bagaimana kita memahami permasalahan itu, secara bertahap kita perbaiki, dengan demikian, apapun yang kita lakukan menjadi lebih adil. Saya tentu harus melihat realita seperti itu.


Reporter RRI

Mudah-mudahan Pak SBY bisa datang ke RRI Pak, bisa melihat kondisi kami di sana.

Baik, dengan masih banyaknya kasus-kasus dugaan korupsi yang masih menumpuk di KPK, kemudian di Mahkamah Agung. Bagaimana Pak, upaya untuk menyikapi ini sendiri?


Presiden Republik Indonesia

Yang dinamakan menumpuk itu hati-hati ya. Yang saya tidak suka, sudah dilakukan penyidikan, kemudian diserahkan ke lembaga pengadilan, misalnya, atau dari penyidikan kepolisian ke kejaksaan, tiba-tiba diendapkan, tidak diproses. Itu salah besar. Dan itu sebenarnya, hakekatnya juga kejahatan gitu ya. Mengapa kok tidak diteruskan.

Tetapi memang, kasus hukum itu tidak boleh gegabah, harus betul-betul dibuktikan, yang bersangkutan bersalah. Kalau hanya ingin gagah-gagahan, biar Presiden SBY dianggap paling hebat gitu, hukum semua, masuk penjara. Lalu bagaimana kalau dia tidak bersalah? Di sini hukum, bukan politik, bukan soal popularitas. Tetapi seseorang harus dinyatakan bersalah oleh pengadilan, baru mereka dianggap melaksanakan kejahatan korupsi dan kemudian mendapatkan hukuman.

Saya ingin menggarisbawahi seperti itu, dengan catatan, saya ingin, dan saya sudah sampaikan ke Pimpinan Mahkamah Agung, sudah saya sampaikan kepada Ketua KPK, saya sampaikan kepada Jaksa Agung, saya sampaikan kepada Kapolri, percepat semuanya itu. Kalau ada kelambatan, tanpa meninggalkan zone process of law, tanpa meninggalkan bagaimana hukum acara pidana yang harus dilewati, tapi kuncinya benar, jangan sampai tidak diproses. Kemudian, percepat kalau bisa. Dengan demikian, masyarakat tahu, bahwa kejahatan itu betul-betul diproses, yang bersalah dihukum, dan menjalani kehukumannya.


Reporter RRI

Kalau masih kecenderungan untuk memperlambat proses penyidangan di tingkat Mahkamah Agung seperti itu bagaimana Pak?


Presiden Republik Indonesia

Ya, kita kan punya aturan main bagi penegak hukum yang melanggar hukum, yang teledor, yang lalai, hukumannya lebih berat. Jadi kalau ada pegawai pajak, misalnya, justru terlibat kejahatan dalam perpajakan, main mata dengan wajib pajak, hukumannya bukan, wah kalau pegawai pajak lebih ringan, wajib pajaknya berat. Sama beratnya, bahkan tentunya lebih berat.

Demikian juga anggota kepolisian. Kejahatan narkoba. Yang narkobanya dihukum, kok dia terima suap tiga milyar, lima milyar. Tidak boleh hanya, ini kode kehormatan, kemudian ya, sudah dipindahkan. Hukumannya lebih berat. Demikian cara berpikir kita. Jadi, jangan dikira, kalau itu penegak hukum, melakukan kesalahan, terus dibiarkan saja, atau hukumannya ringan. Ini adalah satu titik balik dalam kehidupan kita, semua harus bertanggung jawab dalam pemberantasan korupsi, terorisme dan kejahatan narkoba ini.


Reporter RRI

Dan, Pak SBY, kalau kita melihat perkembangan terakhir juga, dengan keberhasilan di satu pihak, untuk sementara lagi-lagi, aparat keamanan membongkar salah satu jaringan aksi teror di Batu, Malang, Jawa Timur kemarin. Publik kemudian menyikapi dengan pro-kontra. Dengan adanya dualisme opini Islam sama dengan terorisme. Bapak sendiri bagaimana menyikapinya?


Presiden Republik Indonesia

Kita, akan menjadi bangsa yang merugi, kalau masih ada pikiran mengaitkan terorisme dengan Islam. Berpuluh-puluh kali saya katakan, di dalam dan di luar negeri, tidak ada hubungannya antara Islam dengan terorisme. Terorisme di seluruh dunia, bisa dilakukan oleh pemeluk agama apa saja, bangsa apa saja, etnis apa saja, suku apa saja. Demikian juga di tanah air kita dulu. Ketika terjadi konflik Ambon yang membara dulu, bom-mengebom itu dilaksanakan oleh kedua pihak umat yang sedang bersengketa waktu itu. Ini contoh yang konkret.

Jadi kita akan merugi, dan justru tidak bisa menyatukan energi, menyatukan langkah bersama, untuk mencegah kejahatan terorisme itu dan memberantasnya. Kalau kita masih berpolemik, pro dan kontra, ya dan tidak ada, mari kita tidak menyia-nyiakan waktu, untuk berdebat soal itu. Mari kita satukan, bahwa namanya kejahatan, apa namanya korupsi, terorisme, narkoba itu, kejahatan. Jangan dikaitkan dengan apapun. Mari kita cegah, mari kita selamatkan negara kita sendiri.


Reporter RRI

Dengan adanya upaya untuk terkesan menyudutkan Islam dengan kontekstual terorisme, ada sikap tersendiri mungkin dari Bapak?


Presiden Republik Indonesia

Saya ingin menggarisbawahi ya. Saya ini beragama Islam. Saya shalat. Jadi sebetulnya kita juga harus sadar betul, bahwa pemeluk agama manapun juga bisa melakukan kejahatan. Tidak ada hubungannya dengan ajaran Islam, dengan Islam itu sendiri, dengan syariat Islam itu sendiri, tidak ada.

Oleh karena itu, sekali lagi, mari kita bebaskan diri kita. Dan kalau ada yang satu, dua orang kelompok ini, kelompok itu, ingin menyudutkan Islam, ingin mengatikan dengan Islam, ya berhentilah. Jangan dilakukan itu. Sebaliknya, umat Islam sendiri, kita sendiri, saya sendiri, harus betul-betul juga tidak perlu terseret dengan, “Wah, ini, berarti agama saya kena”, tidak boleh. Karena sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama. Saya katakan berkali-kali, terorisme itu, di seluruh dunia, bisa dilakukan oleh pemeluk agama apa saja.


Reporter RRI

Pak Presiden, dengan apa yang diunggkapkan sebelumnya oleh Wakil Presiden, Bapak Jusuf Kalla, untuk melakukan pemeriksaan terhadap beberapa pondok pesantren, menjadikan sebuah polemik tersendiri di kalangan Islam sendiri, mengenai ini. Ini bagaimana Pak?


Presiden Republik Indonesia

Begini, sebetulnya mungkin masalah bahasa yang sering didebatkan. Begini, kalau ada indikasi kejahatan. Terjadi di manapun di negeri kita ini, kan bisa, ada semacam penyidikkan. Tidak ada pikiran seluruh pesantren di Indonesia akan diperiksa. Untuk apa? Kalau ada kejahatan, misalkan di Mabes Polri, boleh diperiksa Mabes Polri. Kejahatan di lingkungan istana, boleh diperiksa di istana. Kejahatan di pendidikan Khatolik, pendidikan Islam, kalau ada satu, dua orang berbuat jahat, bisa diperiksa. Bukan pesantrenya, bukan polisinya, bukan TNI-nya, bukan istananya, tapi ada oknum satu, dua orang yang boleh jadi, melakukan kejahatan. Itulah yang betul.


Reporter RRI

Mungkin ini yang lupa, banyak masyarakat melihat oknum Pak, mungkin. Oknum sering kita pakai di aparat, tapi untuk hal seperti jarang sekali. Mungkin penegasan tersendiri.

Baik, Pak SBY, kalau melihat tuntutan-tuntutan, dengan apa yang berkembang, dengan aksi-aksi teror, kalau Bapak sendiri melihat, pengamat mengatakan, ada tuntutan tersendiri, lalu Bapak ada melihat tuntutan-tuntutan pihak-pihak yang mengaku memiliki kepentingan, sehingga melakukan aksi-aksi seperti.


Presiden Republik Indonesia

Saya kira, kalau itu tuntutan, tuntutan itu kan dalam alam demokrasi, bisa disampaikan apa sih tuntutannya. Itu demokrasi. Semua bisa menyampaikan pendapatnya, bisa menyampaikan aspirasinya, bisa menyampaikan sesuatu kepada pemerintah, kepada negara. Itu kan. Yang tidak boleh, apabila punya keinginan, punya tujuan, lantas cara yang digunakan untuk mencapai tujuan itu bisa dipilih sendiri, dengan bisa-bisa melanggar hukum yang berlaku. Itu yang tidak kita kehendaki. Tidak hanya dengan terorisme ya, dengan kegiatan apapun juga.

Kalau misalkan ada tuntutan tentang dunia yang makin adil, Indonesia berjuang untuk itu. Timur Tengah bagaimana kok nggak selesai-selesai. Kita terus berjuang tentang itu, di manapun saya berada, di forum manapun, saya menyuarakan tentang itu. Kemudian bagaimana kemiskinan, keterbelakangan, pendidikan, kesehatan, kita perbaiki, kita memperbaikinya terus.

Jadi pendek kata, kalau tuntutan-tuntutan seperti itu, perasaan keadilan, kemudian hak, kemudian kebebasan yang ditata dalam demokrasi, itu wajar dikomunikasikan. Dan kita memang akan menuju ke situ, untuk memenuhi harapan-harapan dan aspirasi itu.



Reporter RRI

Baik, Pak SBY, ada pertanyaan dari pendengar kita melalui SMS. “Bapak Presiden, salah satu gembong teroris, Noordin M. Top, belum tertangkap. Padahal dalam peta pengeboman, kelompok mereka akan melakukan pemboman pada perayaan hari Natal, Desember. Ada penyelesaian tersendiri mungkin Pak Presiden?


Presiden Republik Indonesia

Upaya kita bersama untuk mencegah terjadinya serangan teror itu tidak pernah berhenti. Saya memang tidak sering berbicara di media massa. Tim kami Bung Adi. Tetapi instruksi saya jalan terus. Cegah, cegah, dan cegah. Untuk apa? Supaya semua kita, entah ke mall, entah beribadah ke masjid, ke gereja, ke pura, ke mana pun, itu tentram, tidak cemas. Itu harapan kita.

Upaya untuk juga mencari mereka-mereka yang terlibat dalam kejahatan teror selama ini, juga terus kita lakukan. Tidak ada yang vakum, tidak ada yang berhenti dari yang dilaksanakan oleh pemerintah dan penegak hukum. Harapan saya, siapapun yang memiliki informasi bahwa akan terjadi pemboman, serangan, di tempat ini, tempat yang lain, tolong beritahu pihak kepolisian, beritahu penegak hukum, agar semua itu dapat kita cegah. Kemudian pelakunya bisa kita tindak, mengapa kok ingin mengacaukan negara kita sendiri.

Setiap terjadi teror bom, tidak ada yang terguncang di dunia itu, PBB ya PBB. Amerika, Eropa, ASEAN, tenang-tenang saja, pasarnya tenang saja, indeks sahamnya juga baik saja, nilai tukar rupiah, yang hancur negara kita. Siapa sebenarnya yang jadi musuh? Apa negaranya sendiri, atau bangsanya sendiri? Karena yang susah kita sendiri, yang meninggal, kita sendiri, sebagian besar juga, saudara-saudara, kaum muslimin dan muslimat. Kemudian ekonomi, tourism, nilai tukar dan lain-lain. Jadi, mari kita berpikir jernih, sekali lagi, untuk mari kita menyelamatkan diri kita sendiri gitu.
Reporter RRI

Dan Presiden, sebelum kita ke masalah narkoba, ada hambatan-hambatan tersendiri dalam melakukan upaya pengentasan masalah terorisme ini Pak?


Presiden Republik Indonesia

Semua, bukan hanya Indonesia ya, negara manapun, saya berbicara dengan para pemimpin yang lain, kemarin dengan Presiden Pakistan, Presiden Musharraf, sebelumnya dengan Raja Jordan, King Abdullah, sebelumnya saya bicara dengan Pak Abdullah Badawi dari Malaysia, dan yang lain-lain, memang tidak semudah itu untuk memberantas kejahatan terorisme.

Kalau namanya halangannya, mereka juga punya network, punya jaringan satu sama lain. Mereka juga kadang-kadang sangat keras untuk memenuhi keinginannya. Kadang-kadang mereka memilih, bisa bersembunyi, dan lain-lain. Itulah hakekat terorisme di seluruh jagat ini. Oleh karena itu, kalau itu merupakan, nggak usah halanganlah ya, merupakan tantangan, permasalahan yang harus kita pecahkan, harus kita jawab secara baik.


Reporter RRI

Insya Allah bisa lancar dalam penuntasan kasus yang satu ini Pak Presiden.
Ya, dan kita ke masalah narkoba Pak. Ada SMS, tapi sebelum saya bacakan, dengan keberhasilan mengungkap dua pabrik besar ekstasi di Indonesia, belakangan, yang terakhir kita mendapat apresiasi tersendiri dari negara tetangga, apa yang Bapak tekankan sehingga bisa sedemikian cepatnya upaya itu terungkap, pabrik ini tertemukan. Ada mungkin upaya-upaya tersendiri, penekanan terhadap upaya tersebut?


Presiden Republik Indonesia

Sebenarnya, itu bukan tiba-tiba Bung Adi ya, rakyat juga. Ini bukan kerja sehari, dua hari. Itu kerja bulanan. Oleh karena itu, percayalah, bahwa pemerintah ini tidak tidur. Kami terus bekerja dan bekerja untuk memberantas tindak kejahatan ini. Sekarang sedang bekerja. Di mana kami sedang bekerja, tentu untuk kepentingan operasi, supaya tidak bocor, tidak tepat saya sampaikan kepada publik. Tapi, sekarang pun terus mencari kita.

Bayangkan kalau satu pabri ekstasi atau shabu-shabu, satu minggu memproduksi satu juta pil, katakanlah ada anak kita, tiap minggu meminum satu pil. Maka ada satu juta orang yang akan menjadi korban, yang menghancurkan generasi. Tsunami saja, 200 ribu. Ini satu juta, satu pabrik. Bayangkan kalau di Indonesia yang luas ini ada 100 pabrik. Berarti 100 juta generasi yang hilang. Jahat betul kan. Oleh karena itulah, kita terus mencari dan mencari dan mencari.

Kemarin ya, di dalam pertemuan APEC saya katakan, kepada 21 pemimpin itu. Indonesia, atau saya berharap, tidak ada satupun negara di Asia-Pasifik ini, yang menjadi surga, tempat mangkal mereka, tempat mereka merencanakan sesuatu, untuk, apakah korupsi, terorisme, ataupun narkoba. Disamping upaya-upaya domestik, kita perlukan kerjasama dengan negara sahabat, misalkan, kalau di Asia Tenggara kan dekat-dekatan. Apakah lintas terorisme, apakah lintas narkoba, apa orang melakukan korupsi uangnya disimpan di negara-negara yang lain, maka harus ada kerjasama yang baik. Kita dengan Singapura, dengan Malaysia, dengan Thailand, dengan Filipina, dengan Brunei, dengan Australia, dan lain-lain.


Reporter RRI

Pak Presiden, kita juga akan mengundang, ada SMS lagi ini, dari 0812-512xxx, SMS 9949, SMS Presiden. “Terima kasih Pak Presiden dan jajaran kepolisian yang telah menemukan pabrik narkoba di Banten dan di Banyuwangi”. Ada tanggapannya tersendiri mungkin Pak?



Presiden Republik Indonesia

Sekali lagi, saya memberikan apresiasi dan penghargaan kepada kepolisian. Saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang sudah bekerjasama, tentu ini salah satu langkah kita yang mulai menunjukkan keberhasilan. Tapi ingat, ini baru kemenangan pertempuran. Yang kita tuju adalah kemenangan peperangan. Oleh karena itu, di satu sisi, tentu kita bersyukur, kita senang, bahwa sudah makin banyak yang kita berantas.

Tetapi ingat, bahwa itu barangkali puncak dari gunung es. Masih banyak lagi yang harus kitalakukan. Oleh karena itu, pesan saya, teruskan langkah-langkah itu. Mari antara negara, pemerintah, penegak hukum dengan masyarakat luas lebih bersatu.


Reporter RRI

Insya Allah Pak. Dan pendengar, anda yang ingin menyampaikan saran, pendapat, kritikan dan opini, bersama kita kali ini, dengan topik memberantas tiga musuh utama, korupsi, terorisme dan narkoba. Kita bersama dengan narasumber kita kali ini, Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Di telepon interaktif kami, 021-386 6712 atau di SMS Pro 3, 0815-1956 6044. Dan informasi terakhir, total SMS di nomor layanan singkat SMS Presiden, totalnya adalah, hingga saat ini, 1.735.056 SMS. Dan sudah ada pendengar, nampaknya di 021-386 6712.

Pro 3 selamat pagi. Silahkan di mana Ibu.


Ima, Sumenep

Selamat pagi,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saya dari Ibu Ima Husein di Sumenep, Madura Bapak Presiden. (Presiden RI: Apa kabar Ibu?) Alhamdulillah baik Pak.

Ada tiga hal Pak yang kami mau sampaikan Pak. Yang pertama Pak, harus segera pemerintah dan DPR menerbitkan Undang-Undang Perlindungan Saksi, karena ini sangat urgen sekali Pak. Itu yang pertama.

Terus yang kedua, Bapak Presiden sebagai Pembina Pegawai Negeri Sipil harus juga menindak kepada jaksa dan hakim sebagai PNS Pak, kalau mereka itu menyalahgunakan wewenangnya, disamping juga kepada KPK. Yang penting ya Pak, saya menyambut baik Bapak Presiden menyapa kepada rakyatnya. Saya pikir karena eranya sekarang di bawah langsung Presiden Pak, kami harapkan minimal satu bulan sekali, Bapak Presiden menyapa kepada rakyat Indonesia dan juga bupati, yang jelas, menyapa juga Pak, setiap bulan.

Demikian Pak,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Presiden Republik Indonesia

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,
Ibu, saya bahagia sekali mendengar suara Ibu. Dan pandangannya, sarannya, baik sekali. Undang-Undang Perlindungan Saksi, penting. Dan mudah-mudahan pada saatnya nanti, saksi kita ini bisa betul-betul memberikan kesaksian yang benar. Oleh karena itu, harus kita jaga keselamatannya. Saya dukung dan kita akan lakukan itu.

Kemudian yang kedua, yang memang, kalau penegak hukum, jaksa, hakim, itu melakukan tugas penegakkan hukum, saya sebagai Presiden, tidak bisa mencampuri, karena itu substansi hukum, wilayah hukum. Keliru kalau saya mencampuri di situ. Tetapi kalau ada kejahatan yang berkaitan dengan apa yang dilakukan penegak hukum itu, penyidik dari kepolisian misalnya, penuntut dari kejaksaan misalnya, ataupun pihak pemutus tuntutan dari hakim, terlibat kejahatan, ada hukum sendiri yang mengatur mereka-mereka itu. Tetapi kalau soal administrasi, itu memang di bawah kewenangan pemerintah, kewenangan Presiden, akan sekaligus itu menyertai, apabila yang bersangkutan melakukan tindak kejahatan.

Nah, kemudian, soal berkomunikasi dengan rakyat Ibu, dialog dengan rakyat. Alhamdulillah saya masih terus melakukan. Bukan hanya melalui RRI, tapi juga melalui media yang lain. Saya juga berkomunikasi langsung ke daerah-daerah, saya tidak pernah berhenti menyerukan Ibu, saya harapkan saya, para menteri, gubernur, bupati, walikota, sering datanglah ke tengah-tengah rakyat. Dengarkan apa persoalan mereka. Apa kesulitan hidupnya. Meskipun tidak sekaligus seketika bisa diatasi Ibu. Bisa secara bertahap menjadi program di kabupaten itu, program di kota itu, di provinsi itu.
Dengan demikian, persoalan yang dihadapi rakyat, secara bertahap dapat dipecahkan. Itu yang saya mintakan kepada mereka. Dan bagi para pejabat pemerintahan yang mendengar siaran RRI ini, ini untuk yang kesekian kalinya. Marilah, mulai dari saya, termasuk saya, lebih dekat dengan rakyat, dan terus berkomunikasi dengan mereka.

Terima kasih Ibu.


Reporter RRI

Ya, pendengar Pro 3 di mana pun anda berada, yang ingin menyampaikan saran, pendapat, kritikan di 386-6712 dan SMS 0815-1956 6044.

Pro 3 selamat pagi. Dengan siapa di mana Bapak?


Palangkaraya

Terima kasih, assalamu’alaikum Pak Presiden.
Ir. Mempungkul dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah Pak. (Presiden RI: Silahkan Bapak, apa kabar?)

Baik Pak,
Di sini kita ada, barangkali masukan termasuk pendapat, tiga masalah yang telah diutarakan oleh Bung Adi tadi, masalah korupsi, yang kedua masalah narkoba, yang ketiga masalah terorisme.

Nah, yang pertama, yang masalah korupsi ini, … (kaset dibalik). ... saya sebelum peledakan bom yang kemarn Pak, saya dua minggu baru dari sana Pak. Jadi orang-orang Indonesia yang ada di Bali itu, seperti tidak di Indonesia saja rasanya Pak. Nah, itu yang perlu, tolong dikaji, kemudian diperhatikan Pak.

Terima kasih,
Wassalamu’alaikum.


Presiden Republik Indonesia

Wa’alaikum salam. Terima kasih.
Untuk pemberantasan korupsi itu, pendapat Bapak sudah lengkap itu. Saya senang sekali, mudah-mudahan pendengar yang lain juga mendengar. Kalau pendapat Pak Pungkul itu dimengerti semuanya, dijalankan semua, insya Allah lebih cepat lagi pemberantasan korupsi. Saya senang dengan yang disampaikan tadi. Kalau bangsa Indonesia ini punya budaya malu dan budaya bersalah, itu luar biasa. Tapi ini nilai, ini budaya, mari kita bangun bersama-sama. Budaya malu, budaya bersalah.

Kemudian tidak boleh dipukul rata, bahwa semua penegak hukum itu tergantung bayarannya, tidak. Ada juga yang salah, yang salah langsung kita pecat, kita hukum. Tapi itu betul, mengingatkanlah para penegak hukum, ingat rakyat sudah mulai tahu, ada yang nakal-nakal, ada yang tergantung bayaran, kata rakyat kita.

Kemudian untuk narkoba, narkoba yang diangkat itu aktornya. Memang namanya aktor itu tidak mudah ditangkap. Tetapi banyak hal, kita dapat kemarin waktu di Banten, karena saya juga datang langsung, saya dilapori oleh penegak hukum, oleh kepolisian, tentang organisasi, pabrik itu, jaringannya, siapa aktornya, penyandang modalnya siapa, ahli kimianya siapa, ahli pabriknya siapa, dan waktu kita grebek, dapat semua. Itu kita gulung habis. Jadi, ya aktornya ada, penyandang dananya ada, kemudian pelaku-pelaku tingkat bawahnya ada. Mudah-mudahan seperti itu Pak Pungkul bisa lebih banyak lagi kita dapatkan.

Nah, yang terakhir masalah terorisme benar. Yang dilakukan pemerintah Indonesia ini semua disentuh. Jadi, akar masalahnya juga disentuh. Kondisi yang membikin terorisme berkembang, juga kita sentuh. Saya mengatakan berkali-kali, masalah keadilan, masalah kemaksiatan, masalah kemiskinan, masalah lain-lain, itu yang kita tangani. Tetapi begini, tidak berarti, nggak usah diapa-apakan yang meledakkan gedung itu, yang penting kita cari akarnya. Itu tidak kena.

Begini misalnya, rumah kita dibakar. Tindakan pertama, kita matikan apinya. Setelah itu tidak cukup, berhenti. Ya, sudah, suah mati apinya. Kita langsung, mengapa terbakar. Apakah betul kabelnya, aliran listriknya, listrik tetangga yang mengalir ke situ seperti apa. Sampai ketemu dan kita perbaiki, agar tidk terjadi kebakaran lagi, atau tidak terjadi kebakaran di tempat yang lain. Pendek kata, yang masih melaksanakan kekerasan kita hentikan. Tetapi negara kita juga terus mencari akar masalahnya, mengatasi, agar dar hulunya itu bisa kita cegah untuk tidak mengalir ke hilir.

Pandangan Pak Pungkul bagus sekali, saya senang sekali ini. Ya, itulah yang harus kita kerjakan. Bapak juga mengajak kawan-kawan yang lain ya, untuk bersama-sama pemerintah mengerjakan hal-hal itu.


Reporter RRI

Ya, masih di 386-6712 atau di SMS RRI Pro 3, 0815-1956 6044. RRI selamat pagi. Dengan siapa di mana Bapak?


Doni, Banjarmasin

Selamat pagi. Doni, Banjarmasin.
Selamat Bapak Presiden. (Presiden RI: Selamat Pagi Pak Doni, apa kabar?) Kabar baik Pak.

Yang terhormat Bapak Presiden dan yang saya banggakan sebagai Presiden Republik Indonesia yang mempunyai sangat peduli dengan masyarakat kecil ini, terutama kami di daerah Kalsel, umumnya dan di daerah Kota Banjarmasin, khususnya, di sini saya ingin melaporkan kepada Bapak, bahwa ini sudah terjadi, sangat marak sekali, illegal mining dan illegal logging ini. Kemarin itu sudah ada semacam satu gebrakan daripada Polda, itu beberapa cukong-cukong daripada illegal mining itu ditangkap semua.

Kami dari rakyat Kalimantan Selatan mengharapkan, ini jangan sewaktu-waktu saja. Karena ini merupakan suatu illegal mining yang terjadi sejak lima tahun yang lalu. Dampaknya ini, Pak SBY, sangat merugikan sekali bagi rakyat.


Presiden Republik Indonesia

Baik Pak Doni. Terima kasih, apa yang disampaikan tadi.
Saya beberapa kali berkunjung ke Kalimantan, baik Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan dulu Kalimantan Tengah. Saya juga sudah mendapatkan laporan tentang pemberantasan pertambangan liar atau illegal mining, dan penebangan pohon secara liar atau illegal logging. Saya juga sudah memberikan instruksi kepada para gubernur, para kapolda, pangdam, agar bekerjasamalah untuk melakukan penindakan itu, agar kejahatannya berhenti. Sebab kalau kejahatan itu terjadi terus Pak Doni, itu semuanya rusak Pak. Berpuluh-puluh trilyun uang negara hilang, masuk ke kantong-kantong cukong. Kemudian, daerah tidak mendapatkan pajak. Mungkin ada suap-suap yang didapat oleh pejabat daerah, oknum-oknum itu, tetapi bukan untuk rakyat. Dan lain-lain, lingkungan rusak, dan sebagainya. Oleh karena itu akan kita tindak.

Tetapi saya menekankan, kemarin juga saya ulangi ketika saya berkunjung ke Sulawesi Tenggara, di Kendari, tolong pikirkan rakyat kita, yang turun temurun, barangkali tidak tahu, bahwa pekerjaan itu tidak boleh. Apakah melakukan penambangan tanpa ijin, maupun penebangan kayu tanpa ijin. Itu tidak boleh, itu salah, itu kejahatan.

Saya minta agar para bupati, walikota, gubernur, mencari solusi untuk mengalihkan pekerjaan itu, agar mereka juga tetap hidup. Para penebang pohon, para penambang liar dulu kan, mungkin tidak tahu, sekali lagi, dan harus menghidupi keluarganya, putera-puterinya. Alihkan ke tempat yang lain, perkebunan jerukkah, perkebunan kelapa sawitkah, atau kerajinan, apapun namanya. Yang jelas, harus dipikirkan, bukan hanya menindaknya saja, tetapi mereka diberikan peluanglah. Memang tidak mudah, tapi harus kita carikan peluang sehingga mereka tetap hidup dan mendapatkan penghasilan yang layak.


Reporter RRI

Baik, Pak Presiden, ada SMS yang masuk. Sekali lagi di SMS Presiden 9949, total SMS yang diterima hingga saat ini 1.735.056 SMS. Dari 0813-274xxx, “Yang terhormat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, dengan banyaknya teror bom dan peredaran narkoba, yang otak pelakunya orang asing dengan kaki tangannya orang-orang kita, pemerintah meningkatkan peran BIN, semua instansi terkait, mulai dari tingkat RT, RW, babinsa, lurah, camat dan seterusnya, harus dimaksimalkan lagi, kalau negara kita tidak mau dibikin kacau terus, generasi muda dirusak. Jadi masuknya orang asing, pengawasannya perlu diperketat. Untuk apa sih devisa masuk, dibalik itu hanya untuk merusak dan mengacau”. Bagaimana Pak?


Presiden Republik Indonesia

Setuju. Setuju sekali. Dan itu yang sedang kita tekankan ya, mulai dari imigrasi, kemudian Deplu, kemudian intelejen, kemudian kepolisian. Pendek kata, kita pastikan bahwa keberadaan orang asing di Indonesia ini tidak membawa onar. Mereka ya kawan. Kalau mau berwisata, silahkan, terima kasih, menghasilkan uang untuk negara kita. Membuka pabrik di sini, bagus, bisa menciptakan lapangan kerja untuk saudara-saudara kita. Itu yang kita harapkan. Sebagaimana banyak sekali orang Indonesia ada di negara lain, menguntungkan, membangun ekonomi. Tetapi, tentu tidak rela, kalau tanah air kita ini diobrak-abrik oleh orang asing. Apakah teroris, apakah kejahatan narkoba, atau kejahatan yang lain.

Sekali lagi saya ingatkan kemarin. Saya ingin, Asia Tenggara, Asia-Pasifik ini bebas dari lalu-lalang orang-orang jahat seperti itu. Dan saya minta pemerintah negara lain juga sama. Jangan sampai membiarkan ada warga negaranya melakukan kejahatan di negara lain, seolah-olah itu bukan urusan saya, kan negara saya aman. Biar saja negara lain rusak. Tidak boleh.

Saya juga sedih, kalau ada orang Indonesia, orang kita melakukan kejahatan di Filipina, melakukan kejahatan di negara lainlah, saya malu. Meskipun kewajiban saya, begitu melaksanakan kejahatan, dihukum mati, saya tentu meminta keringanan. Itulah seorang ayah. Anaknya salah, membunuh di tempat yang lain, tapi saya tetap berkirim surat, saya mendekati, tolong diringankan, mengingat begini, begitu. Itu kewajiban saya. Alangkah indahnya, alangkah terhormatnya saya, kalau Warga Negara Indonesia tidak melakukan kejahatan seperti itu di negara lain.

Oleh karena itu, mari timbal balik. Kita juga menghormati negara lain. Tapi saya serukan sekali lagi, jangan sampai ada negara lain yang menerima orang-orang yang melaksanakan korupsi di Indonesia, menyimpan uangnya di bank-bank atau di mana-mana. Ada juga, negara lain yang, mereka ingin merencanakan kejahatan teror, kurang keras, diam-diam saja. Janganlah. Karena Indonesia juga akan menjalankan kewajibannya.

Terima kasih.


Reporter RRI

Dari SMS 9949 Pak, ini nomor 0813-731 xxxx, “Pak Presiden yang terhormat, mohon selain judi, narkoba dan teroris, tolong masalah preman, khususnya di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu diberantas tuntas, karena sangat mengganggu proses pembangunan di daerah ini. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih”.


Presiden Republik Indonesia

Ya ini, mudah-mudahan didengar oleh para kapolda, para kapolres, termasuk para bupati. Karena kalau preman berkembang, subur, di kabupaten, di kota, kayak apa cemasnya rakyat di tempat itu. (Reporter RRI: Tetapi kalau sampai lapor ke Presiden, ini bagaimana?) Berarti kecemasan itu sudah memuncak. Tolonglah Pak Bupati Bengkulu, Gubernur Bengkulu, Kapolda Bengkulu, Kapolres Kota Bengkulu, lakukan sesuatu. Karena sudah sampai ke saya, berarti mereka sudah ampun-ampun.

Jangan dikira di tempat lain tidak ada. Tetapi itu tadi ya, kalau memberantas preman, tolong juga berpikir mencarikan lapangan pekerjaan, supaya dia punya pekerjaan lain. Nanti kalau nganggur, kumat lagi, mreman lagi, kira-kira begitulah.


Reporter RRI

Baik. Pak Presiden ada penelpon yang akan memberikan tanggapannya. Pro 3 RRI, selamat pagi. Baik pendengar mungkin satu penelpon terakhir, mungkin di 021-386 6712, atau di SMS kami 0815-1956 6044, kita masih ada kurang lebih lima menit ke depan.

RRI Pro 3, selamat pagi. Dengan siapa, di mana Bapak?


Nurochman, Pondok Gede

Selamat pagi Pak Presiden. (Presiden RI: Selamat pagi Pak Nurochman, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh).

Mau usul mengenai dana kompensasi Pak Presiden. Kalau dana kompensasi diterus-teruskan, karena ini banyak yang belok dari jalur. Tolong dialihkan seperti dulu, ke modal untuk padat karya, supaya rakyat kecil bisa bekerja semua Pak Presiden. Kalau dana kompensasi itu disalurkan tiga bulan sekali, itu banyak disalahgunakan. Apalagi rakyat kecil yang tidak punya kemampuan, tidak dapat jatah.


Reporter RRI

Baik, terima kashi Pak Nurochman. Selamat pagi.
Dan Pak Presiden, mungkin satu penegasan terakhir dari Pak Nurochman dan sebuah statement untuk menjaga, paling tidak membangun semangat bangsa Indonesia ini tetap kita fokus dalam upaya pemberatansan apapun kasus yang dihadapi oleh bangsa ini Pak. Silahkan Pak.



Presiden Republik Indonesia

Pak Nurochman, sebenarnya, pemerintah ini, bukan hanya memberikan ikan saja, tapi juga kail. Bukan hanya memberikan subsidi langsung tunai itu kepada saudara-saudara kita yang miskin atau setengah miskin, tapi kita juga mengalokasikan anggaran, termasuk untuk kegiatan padat karya. Semuanya kita lakukan. Mengapa? untuk sementara, masih tetap kita berikan bantuan langsung, karena dengan kenaikan harga, akibat naiknya harga minyak sedunia, bagaimanapun rakyat miskin berat, di dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari. Inilah yang kita berikan bantuan secara langsung.

Tetapi Pak Nurocham benar, bahwa tidak cukup hanya itu saja. Oleh karena itu, ada lebih dari 20 trilyun, yang tahun 2006 ini akan kita alokasikan di luar subsidi langsung tadi, tetapi untuk sektor, misalkan pembangunan, prasarana pedesaan. Artinya apa itu? Itu menyerap tenaga kerja, padat karya, yang menguntungkan, rakyat dapat pekerjaan, dapat uang untuk hidup sehari-hari, jalannya, irigasinya, sumurnya, ladangnya baik.

Kemudian juga kita alokasikan untuk pertanian, perikanan, nelayan. Kita alokasikan usaha kecil dan menengah. Kita alokasikan tambahan pendidikan dan kesehatan. Pendek kata, itu semua akan meningkatkan kesejahteraan, akan menciptakan lapangan kerja, disamping di luar tadi, bantuan langsung kepada orang kecil. Tidak ada yang salah konsepnya. Memang, saya tahu ada kesalahan pendataan, ada penyaluran yang tidak tepat, tapi, tidak menyeluruh. Ada kasus-kasus, ada tempat-tempat. Itulah yang kita perbaiki.

Saya sudah meminta kepada BPS, kepada pemerintah daerah, gubernur, bupati, walikota, perbaiki pendataan. Jangan sampai yang miskin tidak dapat, yang tidak miskin dapat. Salah itu. Kemudian, jangan sampai kalau jatahnya satu bulan 100 ribu, satu tahun 1,2 juta, disunat, entahkah uang kesejahteraan di RT, misalkan uang untuk tabungan di kecamatan, jangan. Itu hak rakyat, teruskan. Pendek kata, yang kita perbaiki, itu-itunya, sedangkan sementara, masih kita berikan subsidi langsung tunai, hingga suatu saat kita tinjau lagi kebijakan kita, insya Allah ekonomi kita kan nggak begini terus. Harga minyak mudah-mudahan tidak terus naik, dan subsidi sudah kita sesuaikan.

Saya optimis, bahwa ke depan ini akan lebih baik penataan ekonomi kita. Dengan demikian, yang Pak Nurochman khawatirkan tidak terjadi, dengan harapan semua bekerja keras, termasuk saya dan saya mohon dukungan Pak Nurochman.

Saya kira itu yang dapat saya sampaikan, meskipun bukan masalah korupsi, terorisme dan narkoba, tapi itu penting, dan saya telah memberikan jawaban.


Reporter RRI

Ya, dan Pak Presiden, mungkin ada statement terakhir dari Bapak selaku Presiden kepada masyarakat di Indonesia.


Presiden Republik Indonesia

Statement saya, harapan saya, ajakan saya, kepada seluruh rakyat Indonesia, mari kita selamatkan negeri kita. Mari kita selamatkan generasi yang akan datang. Negeri kita akan selamat. Generasi yang akan datang berkembang, kalau kejahatan-kejahatan utama, musuh-musuh utama tidak berkembang dan dapat kita berantas. Oleh karena itu, wajib hukumnya untuk memberantas kejahatan korupsi, kejahatan terorisme dan kejahatan narkoba. Pemerintah akan bekerja keras, tapi tanpa dukungan masyarakat luas, tentu tidak akan berhasil dengan baik.

Itulah ajakan saya, mari kita turun ke lapangan, semuanya dan ikut bertanggung jawab, ikut menjalankan tugas-tugas itu. Saya ucapkan selamat bekerja kepada Saudara-saudara pendengar RRI di seluruh tanah air. Saya berterima kasih kepada Bung Parni Hardi, Bung Ade, dan semua manajemen RRI, yang sudah mengacarakan acara “Presiden Menyapa Rakyat”, dan insya Allah akan kita lakukan tiap bulan.

Terima kasih,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Reporter RRI

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Demikian Pendengar, perbincangan kita dengan Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, dan demikian statement dan juga penjelasan Beliau untuk topik kita pada kesempatan kali ini. Mudah-mudahan keimanan kita tetap terjaga.

* * * * *


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan