Arsip

« Desember 2005 »
M S S R K J S
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Wawancara

Dialog dengan Masyarakat Indonesia di Malaysia

TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN MASYARAKAT INDONESIA DI MALAYSIA
PADA ACARA
PERTEMUAN DENGAN MASYARAKAT INDONESIA
AULA KBRI - MALAYSIA, 14 DESEMBER 2005



Duta Besar

Para hadirin sekalian,
Kita telah dengarkan bersama wejangan dari Bapak Presiden yang pasti akan memberikan motivasi kepada kita sekalian untuk lebih mengabdi kepada negara dan bangsa. Pada kesempatan yang sangat baik ini, Bapak Presiden berkenan menerima saran-saran atau pendapat atau apa saja, yang pahit sekalipun, yang pasti akan bermanfaat bagi Bapak Presiden.

Saya persilahkan, mulai dari barangkali supaya ndak ngatuk, dari belakang bagaimana. Dari belakang sebelah kiri, silahkan. Belakang sebelah kiri yang pakai kacamata, Pak tadi, ya betul baju batik. Kemudian Ibu-ibu tadi, ya Ibu yang pakai, ya betul bu. Saya persilahkan Bapak pakai baju batik dan Ibu, batik dulu silahkan. Silahkan masuk Bu, antri Bu supaya terekam Bu. Mohon pertanyaannya yang jelas dan disebutkan di mana, yang singkat Pak ya.


Mustofa bin Haji Muhammad Thabarani

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Nama saya Mustofa bin Haji Muhammad Thabarani, saya dari Jakarta, Lebak Bulus. Tugas saya di sini mengajar sudah 14 tahun. Setiap tiga bulan sekali saya pulang karena fiskalnya masih bayar, jadi satu tahun saya pulang empat kali, jadi masih empat fiskal.
Yang saya mau laporkan adalah tentang pelayanan petugas-petugas yang ada di Bandara kepada para pekerja yang pulang ke Indonesia. Banyak yang mau ditanyakan tetapi tentu yang lain mau Tanya juga. Kalau orang Filipina bekerja di luar negeri itu kalau pulang disambut seperti menteri, dibukakan pintu taksi, silahkan masuk. Sebab ini duta bangsa yang menyelamatkan ekonomi Filipina. Tapi sangat disayangkan untuk bangsa Indonesia, ini kalau pekerja sepertinya sama dengan gembel, mau masuk saja di airport, duduk saja di lantai seperti saya menangis, seperti saya sedih melihat Indonesia yang dilayani seperti sampah. Maaf-maaf para Menteri dan Pak Presiden, saya tidak bisa menahan keharuan saya, sebab saya sangat menyelami tentang pekerjaan di Indonesia.

Jadi saya mohon walaupun fiskal belum bebas. Ya saya baca di buku kemarin 2010 fiskal mau dihapus katanya, itupun mungkin fiskal mau dihapus kita. Tapi saya mohon tolonglah untuk pekerja kita khusus yang dari Malaysia dan di luar Negara kalau pulang itu jangan ada calo-calo yang mengambil kesempatan untuk minta ongkos tambahan. Mungkin itu saja yang pokok dari saya. Terima kasih Pak Presiden dan Ibu Presiden juga para Menteri yang saya cintai. Akhir kata Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Duta Besar

Terima kasih,
Silahkan Ibu tadi yang sudah berdiri. Silahkan Bu, jangan lupa namanya Bu, ya.


Theresia Gufor Danu

Selamat malam Bapak Presiden dan Ibu, Bapak Duta Besar dan Bapak Menteri sekalian.



Presiden Republik Indonesia

Selamat malam.


Theresia Gufor Danu

Nama saya Theresian Gufor Danu, saya bekerja di Petronas, di Resources Management di KLCC itu dan saya mewakili dari 150, kira-kira 150 pekerja di sektor bidang perminyakan dan gas bumi di Petronas dan company lainnya seperti Murphy, Shell dan lain-lain.

Ini hanya mungkin masukan yang bisa dipertimbangkan oleh BP Migas tentang ekspatriat di Indonesia. Yang saya lihat ekspatriat di Indonesia terlalu banyak ya, sedangkan kemampuan dari bangsa Indonesia sendiri, kami dan semua teman-teman setelah diakui di luar Indonesia, di Malaysia, di Qatar, di Amerika, banyak teman-teman saya yang bekerja dan berkeliling. Sedangkan cost untuk membayar ekspat itu tinggi sekali boleh dibilang untuk satu ekspat, 10 bekerja Indonesia. Itu dari bidang teknikal dari menejerial bisa lebih berbanding terbalik 10 menejerial hanya satu manajer orang Indonesia. Dan mungkin ini bisa untuk masukan BP Migas, untuk menilai kembali, tidak harus sebanyak itu ekspat di Indonesia karena kemampuan kami sudah diakui semua negara.

Dan mungkin ini masukan yang kedua untuk Menteri Pendidikan. Hanya satu contoh, saya datang ke sini hanya satu sebab yang kecil, saya ingin anak-anak saya berbahasa Inggris sejauh lebih bagus, well gaji saya cukup di Indonesia, tapi tidak cukup untuk menyekolahkan anak-anak saya di international school sehingga bahasa Inggris mereka bisa jauh lebih bagus dari ibunya, sehingga saya datang ke sini dengan harapan saya bisa menyekolahkan anak-anak saya di international school. Seperti di Malaysia, bahasa Inggris di sini dipakai sehari-hari walaupun tidak seperti, tidak sebagus orang-orang yang memang sudah berbahasa Inggris. Mereka tidak bilang well I’m sorry tetapi mereka bilang I’m sorry-lah, I dah forget-lah tapi mereka dapat berbahasa Inggris dengan baik dan bisa berkomunikasi. Saya harapkan di Indonesia juga di bidang pendidikan, bahasa Inggris bisa lebih ditingkatkan.

Sekian dan terima Kasih.


Presiden Republik Indonesia

Terima kasih.
Dua saya jawab dulu. Terima kasih kepada Bapak Mustofa dan Ibu Theresia.

Yang pertama untuk pelayanan kepada saudara-saudara kita yang akan bekerja ke luar negeri baik pada saat berangkat maupun yang kembali ke tanah air baik itu cuti ataupun memang kembali untuk kembali ya ke tanah air dan bekerja di Indonesia sendiri.

Saudara-saudara,
Itu, sejak saya mengemban tugas menjadi agenda, menjadi prioritas untuk memberikan pelayanan yang terbaik pada pekerja-pekerja itu. Sebagai contoh ya, ini supaya Saudara tahu bahwa kita ingin betul memperbaiki semuanya itu. Baru kurang lebih dua minggu saya menjabat sebagai Presiden ada masalah dengan Malaysia, dimana ratusan ribu waktu itu harus kembali ke tanah air. Masih ingat? Itu pada bulan Ramadhan. Kami gerak cepat, Menteri Tenaga Kerja, saya sendiri, bertemu dengan Pak Lah, telpon Pak Lah, “Tolong bisa diatur yang lebih baik ini menjelang Idul Fitri, Ramadhan supaya mereka tidak terlantar, tidak mendapatkan perlakuan yang semestinya“. Saya dengan upaya itu akhirnya bisa diatur lebih baik lagi. Tetapi tetap ada yang kembali ke tanah air.

Saya datang ke Tanjung Pinang, saya datang ke Dumai, saya datang ke Pekanbaru, saya datang ke Tarakan, Nunukan untuk bertemu dengan saudara-saudara kita yang kembali ke tanah air. Waktu itu para gubernur saya mintakan berikan kemudahan, jangan dipersulit, jangan dipotong sana, potong sini, pungli sana, pungli sini, karena mereka sudah ada masalah mengapa harus dipersulit lagi. Ketika saya berkunjung ke negara yang lain, mengalami persoalan yang sama di Timur Tengah. Saya juga titip supaya semua itu mendapatkan perhatian yang baik.

Saya pernah sidak ke Cengkareng, saya bersama Istri, siapa lagi yang ikut saya dulu? Ada Sekretaris Kabinet, ada staf pribadi saya, ada ajudan. Saya, pas mereka datang, tidak tahu kalau saya datang ke situ mendadak karena kaget semua, imigrasinya kaget, pegawai Angkasa Pura kaget, karena saya dadak dan akhirnya memang ada yang minta saya perbaiki, yang menjemput itu kalau tidak salah, enggak boleh masuk tapi penjemputan diatur dan lain-lain. Tetapi yang ingin saya cek adalah apakah ada pungutan tambahan waktu itu. Mungkin karena yang nanya saya, waktu itu memang tidak ada.

Yang kedua, katanya di tempat pekerjaannya mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Saya berbicara satu per satu dengan 40 orang, waktu itu satu persatu. Dari 40 orang, lima orang itu mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Yang 35 orang saya katakan, satu apakah wanita, apakah ibu atau mbak, kalau yang lebih muda atau adik yang lebih muda dari saya selama bekerja apakah di Kuwait waktu itu, di Saudi Arabia, di Qatar, di tempat-tempat itu diperlakukan dengan baik enggak, “Baik”, “Betul?” “Betul”, “Pernah enggak dikerasin?“ “Tidak pernah”, “Pernah enggak dianiaya?” “Tidak”. Oke satu. Yang kedua, apakah gajinya diberikan, haknya diberikan. “Diberikan, Pak”. “Betul?” “Betul”. “Enggak disimpan oleh yang punya rumah. Enggak, diberikan Pak”.

Nah yang ketiga, “Ini pulangnya kenapa?“ “Kami diberi cuti, Pak. Nanti tiga minggu lagi kembali lagi”. “Kembali ke tempat yang itu?“ “Iya”, “Jadi baik-baik?” “Baik-baik”. Atau ini, “Saya pulang selamanya Pak, karena sudah habis kontrak saya, tapi saya bisa nabung kok, Pak”. Jadi 35 mengatakan seperti itu. Nah yang lima itu mendapatkan perlakukan yang tidak baik dari majikannya. Ada yang disiksa, ada dimasukan penjara, segala macam, langsung kita sampaikan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Imigrasi, masih Menteri yang lama. Kebetulan Menteri Agama mau ke Timur Tengah, saya titip sekaligus dicek dengan kedutaan di sana, konjen di sana, apa betul ada masalah-masalah itu. Artinya apa, memang ada masalah-masalah tapi seperti itu hitungannya. Jadi sebagian baik-baik, sebagian tidak mendapatkan perlakukan yang baik.

Dari itu semua kita, terima kasih Pak Mustofa yang mengingatkan, kita harus lebih memperhatikan. Ini bukan, apa namanya ya, bukan nakut-nakuti semua petugas. Saya masih mendengar pelayanan yang tidak baik. Saya minta di sini ada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Pak Erman Suparno mana? Oke, Beliau baru menjabat lima hari, kemudian ada Menteri Hukum dan HAM, Pak Hamid Awaludin ya, tentu ada Menteri Luar Negeri, Pak Hassan Wirayuda. Inilah pejabat-pejabat yang tentu memiliki tugas untuk juga ikut memastikan Saudara-saudara bekerja dengan baik, mendapatkan perlindungan, mendapatkan pelayanan baik di luar negeri maupun di dalam negeri.

Saya minta ini kepada beliau-beliau yang membawahi imigrasi, yang membawahi, ya semualah keagenan, cabang itu, lakukan perbaikan dengan optimal, berikan pelayanan terbaik. Kalau ada yang menyimpang, yang melakukan tindakan yang tidak-tidak, ambil tindakan tegas. Tidak semua petugas kita lalai, tidak semua petugas kita menyimpang, tapi meskipun hanya oknum satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, 10, itu akan menganggu.

Oleh karena itu, saya minta tegakkan. Kalau Saudara, ini semuanya ya termasuk Adik-adik, merasa di-dzalimi, peras sana, peras sini, pungli sana, pungli sini, saya punya SMS 9949, catat-catat. Saya punya surat, PO BOX. PO BOX-nya juga 9949 Jakarta 10000. Tapi yang jelas jangan fitnah. Misalnya “Pak, saya diperas oleh petugas di Cengkareng pada tanggal 10 Januari jam sekian, saya naik pesawat Garuda, mendarat jam sekian, saya dimintai uang tiga juta, saya begini, begitu”. Kalau masih ingat namanya, namanya siapa. Kita akan cari, tapi jangan fitnah, jangan tidak jelas katanya, katanya, katanya.

Saya itu dapat SMS bukan hanya ribuan, berapa sekarang Andi SMS kita? Saya terima SMS sejak bulan Juli hampir dua juta. Ada tujuh orang sekarang yang tugasnya ngecek SMS sama ngecek surat, tujuh orang. Nah, kadang-kadang begitu masuk ke saya, suratnya atau SMS itu, begitu kita kejar. “Adik yang mengirim SMS?” “Iya, Pak”. “Katanya ada pembakaran rumah sini?“ “Iya”, “Di mana?” “Enggak, kata teman saya, Pak”. Ndak bisa, bikin pusing Presiden itu, sudah malam-malam kurang tidur, baca, katanya, katanya. Harus jelas, ya harus jelas. Pak Mustofa terima kasih, tetapkan bantu kami, semuanya bantu, negara kita tertib, pungli harus diberantas, korupsi diberantas.

Nah yang kedua, masalah Petronas, Pertamina, ekspatriat. Tahu ekspatriat enggak? Itu orang-orang asing yang bekerja di Indonesia, sama juga mungkin orang-orang Indonesia bekerja di Malaysia. Di mata Malaysia, ekspatriat juga itu. Yang dibilang Ibu Theresia itu jangan terlalu banyak lantas orang kita sendiri malah enggak dapat tempat, kan begitu. Padahal gajinya lebih tinggi. Biasanya gitu, karena kecilnya pengalamanannya gitu, katakanlah begitulah. Kita sudah melakukan upaya untuk membatasi, hanya kemampuan, skill, keterampilan yang memang belum tersedia di Indonesia saja yang ekspatriat itu dibetulkan bekerja di negara kita atau dalam sebuah perjanjian perusahaan X bekerjasama dengan perusahaan Z dari negara kita. Kompromi, management-nya, tiga-tiga atau apa gitu, jumlah itu yang diperlukan. Jadi sebetulnya kita juga mendorong untuk hanya yang sangat diperlukan saja keberadaan itu dengan memelihara rasa keadilan dan memberdayakan putra-putri bangsa sendiri.

Saya tidak, sudah agak lama tidak punya datanya. Menteri Tenaga Kerja, nanti dicek, laporkan kepada saya bagaimana situasinya sekarang, prosentasinya seperti apa, apakah langkah itu sudah berjalan dengan baik. Dengan demikian juga adil. Memang tidak boleh, tidak boleh sama sekali orang asing bekerja di Indonesia nanti dibalas kita. Tidak boleh orang Indonesia bekerja di Eropa, di Asia tapi yang wajar, yang pantas, mengerti ya. Tolong nanti Pak Menteri, laporkan kepada saya seperti apa situasinya.

Kemudian masalah bahasa Inggris ya. Begini, mengapa India maju? Saya baru pulang dari India. Ekonomi India tumbih 7%, komputernya luar biasa, software-nya luar biasa namanya IT itu Information Technology ya. Perusahaan komputer, perusahaan software, perusahaan gitu-gitu maju sekali. Dari 7% ekonomi itu, menurut Presiden India, Dr. Abdullah Kalam dan Perdana Menteri India, Manmohan Singh, itu 3 % disumbang oleh teknologi, oleh IT tadi. Mengapa IT berkembang? Konon menurut orang India, penguasaan bahasa Inggris bagus. Jadi kalau software berbahasa Inggris seperti itu lebih cepat berkembang. Malaysia, Inggris lebih baik. Singapura, Inggris lebih baik. Meskipun bahasa bukan satu-satunya lho. Belum tentu Korea, Jepang, Inggris-nya juga bagus, tetapi faktor bahasa dalam banyak hal sekarang ini, dalam era globalisasi penting.

Mengapa pekerja Filipina di Timur Tengah lebih punya standing yang bagus, punya standing itu punya posisi, punya pekerjaan yang baik, karena bahasa Inggris lebih baik dibandingkan bahasa kita. Oleh karena itu, dua hal Saudara-saudara, wajib hukumnya bagi bangsa Indonesia untuk mencintai, membanggakan, melestarikan, menggunakan bahasa Indonesia, karena itu warisan pendahulu-pendahulu kita. Tetapi dalam era globalisasi, untuk kemajuan Indonesia di bidang ekonomi, teknologi, pendidikan, maka saya anjurkan disamping mencintai, menguasai, melestarikan bahasa Indonesia dan berbahasa Indonesia dengan baik, baik tulisan maupun lisan, maka kalau ingin meningkatkan daya saingnya, bekerja dalam era globalisasi, juga menambah pengetahuan bahasa, utamanya bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Jelas di sini, jangan dihadapkan, wah itu, kalau berbahasa Inggris enggak cinta pada bangsa Indonesia, bukan begitu. Wajib kita mencintai bahasa Indonesia. Ada yang tidak berbahasa Indonesia di sini?

Saudara,
Saya baru empat hari di Malaysia, bahasa Inggris terus, capek. Betul itu. Kalau pertemuan-pertemuan itukan Inggris, cas-cis-cus, capek rasanya, ingin pakai Indonesia gitu. Jadi kalau kecintaan bahasa Indonesia itu wajib. Nanti ada, wah ini kok Presiden kurang nasionalis, mengapa kok menganjurkan menguasi bahasa Inggris kan ada bahasa Indonesia. Sudah selesai bahasa Indonesia, bahasa kita, kita cintai, kita sayang, kita lestarikan tapi plus-lah, bahasa Indonesia plus. Itu untuk daya saing kita ya. Itu Ibu Theresia tadi.

Satu lagi apa tadi, sudah toh?


Duta Besar

Dari tengah satu, kemudian kanan satu. Ini dari.


Pelajar

Kami meminta kepada Pak Rusdi Harjo untuk memberikan kesempatan kepada para pelajar.


Duta Besar

Baik satu pelajar, satu itu di belakang.


Abdul Haris Patiipon

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Nama saya Abdul Haris Patiipon, dosen Universitas Pattimura, Ambon, bekerja sebagai research assistant pada untuk defense dan strategi Universitas Kebangsaan Malaysia.
Tadi Duta Besar menyampaikan bahwa jumlah pelajar Indonesia di sini berjumlah 6000, sangat tinggi. Tetapi satu keberhasilan bagi kita, ternyata yang mendapatkan beasiswa tidak sampai 1% dibanding dengan pelajar Malaysia yang belajar di Indonesia, sebagian besar mereka mendapatkan beasiswa. Ini bukan berarti bahwa Pemerintah Indonesia tidak punya duit. Tapi untuk pengetahuan Bapak Presiden, Pemerintahan Malaysia memberikan akses pinjaman kepada, baik akses pinjaman dari bank, kepada para pelajar untuk menuntut ilmu.

Kalau Bapak Presiden ke Marriot, Bapak Presiden akan menemukan banyak pelajar Indonesia bekerja sebagai tukang cuci piring di sana dan tidak sedikit pelajar Indonesia yang ditangkap karena harus membayar SPP, sedangkan visa mereka adalah visa pelajar, tetapi kita menerima ini dengan ikhlas. Tetapi kami sangat kecewa karena perilaku para pejabat kita yang banyak melakukan korupsi. Saya sangat kecewa bahwa Konjen KBRI di Johor, maksudnya di Penang terlibat dalam korupsi yang bernilai puluhan milyar rupiah.

Bapak Presiden,
Coba bayangkan, saya dari Ambon naik kapal laut selama tiga malam, saya itu dengan biaya sendiri dan melamar sebagai asisten peneliti di Universitas Kebangsaan. Saya digaji dengan uang Malaysia untuk mendapatkan gelar Ph.D. Setelah itu saya mengabdi ke Indonesia. Tetapi betapa tidak ada rasa malunya dari pejabat kita menyalahgunakan uang negara. Saya bayangkan, kalau uang itu dipergunakan untuk kesejahteraan, pendidikan masyarakat Indonesia, pelajar Indonesia di Malaysia.

Yang kedua, kalau Bapak Presiden melihat foto para Dubes, itu kebanyakan berusia di atas 50 tahun. Saya setuju pengangkatan Marty Natalegawa sebagai Duta Besar di Inggris. Seharusnya Duta Besar orang yang diplomat karir, yang masih enerjik. Ya mungkin itu saja. Saya mendapat SMS dari teman-teman saya dari Maluku, baik Kristen, baik muslim, yang menanyakan kepada Bapak SBY, kenapa pada waktu pada jaman Pemerintahan Soekarno, elit politik Maluku mendapatkan kursi berbagai dalam jabatan tinggi negara antara lain menteri dan wakil perdana menteri. Tetapi semenjak dari orde baru sampai reformasi, tidak ada orang Maluku yang menduduki jabatan menteri. Maaf ini ada SMS dari teman-teman saya, saya sampaikan kepada Bapak Presiden. Apakah ini requirement kepada kami orang-orang Maluku?

Terima Kasih.


Duta Besar

Cukup. Silahkan Ibu. Tolong singkat Bu, ya nama dan darimana.


Erlinda

Oke. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Nama saya Erlinda, mahasiswa Univesity Malaya, sedang mengambil program master.

Yang ingin saya tanyakan dengan Bapak, kayaknya tadi Bapak tertinggal ataupun terlupa untuk membicarakan atau menceritkan dengan kita, bagaimana korupsi yang ada di Indonesia dan bagaimana tindak lanjut Bapak, dan sampai angin-anginnya pun korupsinya pun sudah ada di sini. Terutama sekali Pak, saya ada teman-teman PPI untuk menyampaikan dengan sendiri, dengan Bapak, surat sebagai amanah dari mereka.


Presiden Republik Indonesia

Baik, Terima kasih.
Ada dua pembicara lagi, satu dengan energi yang tinggi dengan semangat, tapi isinya baik. Terus kemudian yang menyampaikan amanah dari PPI, tentu dengan tema yang baik.

Begini, negara kita juga terus ingin meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karena itulah, meskipun ekonomi kita pertumbuhannya belum seperti sebelum krisis, tetapi Majelis Permusyawaratan Rakyat telah mengamanahkan dalam Undang-Undang Dasar dan juga dijabarkan dalam Undang-Undang, bahwa biaya pendidikan ditetapkan, berapa? 20%, baik untuk APBN maupun APBD. Di tengah-tengah banyaknya kepentingan, pendidikan, kesehatan, untuk keamanan, untuk pertanian, pengurangan kemiskinan, koperasi, terus kita berusaha untuk meningkatkan biaya pendidikan, satu.

Yang kedua, juga saya katakan tadi kita pun ingin menuju pendidikan yang murah, berkualitas, gratis untuk sembilan tahun. Ini sudah mulai berjalan. Silahkan datang nanti ke kabupaten-kabupaten, provinsi-provinsi, bahwa itupun sudah kita lakukan, yang kedua.

Yang ketiga, saya juga terus memikirkan bagaimana bantuan pendidikan, terutama kepada kaum miskin yang putra-putrinya ingin melanjutkan tapi tidak punya biaya dalam bentuk beasiswa, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, dengan anggaran yang ada.

Yang keempat, rasanya dalam sebuah negara yang penerimaan negaranya, APBN-nya, masih punya keterbatasan, kita juga bisa menghimbau pihak-pihak lain untuk ikut berkontribusi. Minggu lalu saya ke Magelang, saya mengunjungi SMP di Mungkit, Muntilan. Saya mengunjungi SMA TN di Magelang, kemudian saya mengunjungi Pendidikan Akademi di Magelang, SMP, SMA dan Akademi.

Saya ajak beberapa pejabat untuk memikirkan beasiswa, bagaimana memberikan beasiswa kepada pejabat-pejabat, kepada anak-anak itu. Artinya, kita terus berpikir dan berpikir untuk memberikan bantuan yang lebih besar. Memang tidak bisa people to people. Kalau Malaysia bisa, kenapa kita belum bisa begitu. Kalau Amerika bisa kenapa kita belum bisa, kondisinya berbeda. Tapi saya kira tidak ada pemimpin di dunia ini yang ingin tidak memberikan bantuan, yang menterlantarkan pendidikan begitu saja pendidikan. Saudara dengar saya ya, tadi ya, Saudara dengar omongan saya toh, ya oke. saya lanjutkan.

Kemudian yang kedua, korupsi. Ini sekaligus dengan Adik itu ya, mana yang PPI ya. Perang terhadap korupsi akan jalan terus. Saya tidak senang teriak-teriak korupsi, korupsi, yang penting berjalan terus. Sebab, supaya Saudara ketahui, tahun 2004-2005, satu tahun saja, sudah ada 65, kurang lebih, pejabat yang kita periksa. Ada gubernur, ada wakil gubernur, ada bupati, ada wakil bupati, ada walikota, ada wakil walikota, ada anggota MPR, DPR. Proses hokum, ada yang KPK, ada yang kejaksaan, sebagian sudah dijatuhi hukuman. Bagi saya gampang sekali.

Saya sudah minta untuk berbagi pengalaman, bagaimana jalan Hongkong terlebih dahulu mencapai jalan seperti itu. Yang baik juga kita jadikan rujukan, perbandingan untuk memperbaiki sistem kita. Pendek kata, kalau tadi seperti tidak terdengar, jalan terus. Kalau Saudara punya informasi yang jelas tentang korupsi yang terjadi, dimanapun, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, di departemen manapun, berikan masukan. Itu sudah saya kasih tahu nomor PO BOX dan sebagainya. Tapi juga lebih bagus ke kepolisian, lebih bagus ke lebih bagus ke KPK, BPKP, Tipikor dan BPK barangkali. Silahkan kalau punya informasi. Sekalian membantu bagaimana kita bisa melakukan penindakan hukum yang tegas.

Pendek kata, korupsi menjadi agenda kita. Berat, tapi harus kita jalankan. Tidak seperti membalik telapak tangan, karena banyak sekali liku-likunya. Tapi yang jelas, negara tidak boleh menderita korupsi, uang, karena kalau yang tercuri puluhan milyar, raturan milyar, triliun, maka harusnya uang itu untuk pendidikan, untuk kesehatan, mengurangi kemiskinan, diambil sendiri untuk mereka-mereka itu. Ada koruptur yang pergi ke luar negeri, tersembunyi, ke sana, ke mari. Saya gigih, dan dalam pertemuan ASEAN ini, pertemuan APEC kemarin, saya ingatkan.
Tadi sore saya masih bicara, memerangi korupsi tidak bisa hanya langkah nasional, langkah dalam negeri, tapi harus ada kerjasama. Saya katakan, kerjasama internasional. Ada orang korup melewati batas negara, sembunyi atau bikin kegiatan di situ. Harus ada muncul legal assistance, saling membantu hokum. Harus ada perjanjian ekstradisi dan lain-lain, sehingga bisa kita bawa pulang, orangnya dihukum, asetnya dikembalikan kepada negara. Itupun kita tempuh, karena ingin kita betul-betul pemberantasan korupsi ini berjalan lebih baik. Jadi kalau tadi Saudara kita yang dari Ambon sedih, kecewa, kami lebih sedih, lebih kecewa, karena ternyata tidak punya hati untuk melakukan perbaikan secara bersama ini.

Terhadap gejala informasi, penyimpangan, korupsi, kita akan periksa, sekali lagi dengan praduga tidak bersalah, kalau ternyata bersalah akan mendapatkan sanksi, tidak bersalah tidak mendapatkan sanksi. Ini hukum, harus adil seperti itu.

Kemudian Maluku, tidak ada kaitannya. Begini, saya juga beberapa kali ke Maluku pada saat yang genting-genting dulu, saya juga ke sana, gitu ya. Dan saya bersyukur, terus terang bahwa kondisinya jauh lebih baik. Saya bertemu dengan kedua komunitas dari A dan dari B, beberapa kali, pernah di Jakarta, pernah saya ke sana. Sebenarnya sudah tidak ingin terus bertengkar, bermusuhan, berhadap-hadapan, hanya kadang-kadang ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang ingin menciptakan situasi, memprovokasi, mengagitasi, sehingga terjadilah insiden-insiden baru. Tetapi kita jernih melihat permasalah di Maluku. Tidak ada pemerintah, lantas Maluku digeneralisasi sebagai orang-orang yang dicurigai terlibat dalam kegiatan separtisme atau RMS, tidak ada seperti itu, dan untuk apa seperti itu. Karena jelas sekali kita bisa memisahkan mana yang RMS, mana yang sebenarnya tidak perlu dicurigai sebagai bagian dari RMS.

Sebetulnya dalam perjalanan sejarah, jaman Pak Harto itu, ada kok menteri dari mana, dari Maluku, siapa kira-kira? Pak Siwabesi. Siapa lagi? Pak Ghafur, Maluku Utara itu, Pak. Yang jelas begini, anggota DPR, MPR, Duta Besar, DPA, jaman dulu itu juga selalu kita lihat kemampuannya dan keseimbangan. Sangat terbuka. Saya juga lihat putra-putri Ambon punya potensi, tinggal peluang, tinggal dapat kapan menduduki posisi mana, karena kabinet punya 32 orang, belum semua provinsi kebagian. Tetapi tidak ada diskriminasi apapun. Saya juga melihat putra-putri yang baik dan insya Allah pada saatnya nanti juga mendapatkan posisi-posisi terhormat. Sampaikan kepada teman-teman yang di Maluku, supaya jelas ya. Terima Kasih.

Duta Besar yang muda-muda, di sini ada Pak Menlu. Begini, kalau saya itu, sebenarnya yang saya perlukan adalah orang yang punya tanggung jawab penuh, punya dedikasi tinggi, punya energi untuk membawa kebaikan, punya komitmen untuk tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan dan membawa misi untuk kepentingan negara kita di manapun ditugaskan. Apakah di Duta Besar atau Konsulat Jenderal atau siapapun yang ada di luar negeri. Dengan demikian, kita menggunakan, kita punya kriteria untuk menjadi Konjen, untuk menjadi Dubes. Dari calon-calon itu, langsung kita bicara dengan DPR. DPR menurut Undang-Undang memberikan pertimbangan. Nah oleh karena itu, saya juga senang Deplu memikirkan regenerasi, Deplu memikirkan tidak harus, mohon maaf ya, tidak harus tua-tuaan, tapi kalau ada yang baru memenuhi kriteria, mengapa tidak yang muda maksud saya, tetapi tetap dengan jenjang yang baik. Dan itu sebetulnya terbuka untuk pejabat diplomat karir maupun non diplomat karir.

Saya sudah sampaikan kepada Menteri Luar Negeri, policy saya ada pos-pos tertentu. Pos multilateral, misalkan di New York, di Jenewa, yang lebih tepat diduduki yang diplomat karir karena banyak sekali technicality, administrasi dan lain-lain. Kemudian demikian juga pos-pos tertentu, harus senior. Senior dalam arti pernah bertugas di pos-pos yang lain, puncaknya di pos itu. Tapi juga ada yang lebih muda, yang punya kemampuan yang lebih bagus, yang bisa ditugaskan seperti itu. Kita ingin banyak muncul Bapak Ali Alatas, Ali Alatas yang baru. Kita ingin diplomat-diplomat yang baru, ya anda-anda yang masih kuliah, jadilah diplomat yang baik untuk membawa nama kita nanti. Penugasan luar biasa banyaknya. Dalam waktu dekat, ada 24 pos yang harus disegarkan itu. Dengan demikian, saya undang, berprestasilah, berkompetisilah, siapkan dengan baik, agar pada saatnya nanti, disamping diplomat karir, ada tempat atau peluang untuk Saudara berkarya di bidang diplomasi.

Terima Kasih.


Duta Besar

Dari adik-adik di Shelter kemarin, ada yang mau diutarakan lagi? Di belakang?


TKI

Mohon maaf, kami dari TKI mau bagian, Pak.


Duta Besar

Oke, satu dari TKI, kemudian satu yang dari belakang, yang kemarin sudah matur kepada Ibu. Baik satu dari TKI, satu dari masyarakat, kita tunggu.


TKI

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Duta Besar

Sebentar-sebentar, nanti tunggu Bapak Presiden dulu. Berikutnya nanti Mbak Lastri ya, ada? Dan nanti Pak, Pak siapa, Pak?



Presiden Republik Indonesia

Sebelum ya, ini yang diserahkan kepada saya, yang ditandatangani oleh Saudara Chairul Hamzah dan Ronald Rulindo, sudah saya baca dan akan saya tindaklanjuti. Nanti akan saya sampaikan, bagaimana langkah tindak lanjutnya.

Silahkan.


Mawardi

Nama saya Mawardi asal dari Yogyakarta. Saya di sini membawa amanat yang besar dari ratusan ribu kawan saya.

Itu, ini memang benar. Tadi saya mendapat banyak SMS untuk menyampaikan ya. Ini bukan katanya ya. Selain ditertibkan di bandara, kami minta ditertibkan untuk di Departeman Tenaga Kerja sendiri dan juga Imigrasi. Maksudnya proses pemberangkatan itu, Pak. Jadi kami dulu semacam buat paspor itu, petugas bertanya mau berapa hari jadi, gitu yah. Jadi di situ ada, jelas ada suap. Jadi kalau satu hari jadi, sekian ratus. Kalau tiga hari, sekian ratus, gitu yah. Jadi, ini mohon ditertibkan. Mohon maaf ya.

Kemudian juga, kami mohon kepada Pak Susilo, untuk lebih giat lagi untuk melobi perusahaan-perusahaan internasional. Karena tempat saya bekerja itu dari Toyota, di sini mayoritas pekerjanya dari Indonesia, kemudian konsumennya juga diatas 30% itu Toyota Motor Indonesia. Jadi alangkah senangnya kalau kami bisa mengangkat kilang ini ke Yogya, gitu.

Segini saja, Pak. Mohon maaf,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



Duta Besar

Mohon maaf, dari mana Mbak? Dari shelter?


Elida Santi

Dari TKI.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Nama saya Elida Santi berasal dari Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Profesi saya sebagai Ibu Asrama di Daerah Ipoh yang insya Allah sampai saat ini sudah tiga tahun di sini. Mungkin satu pertanyaan saya untuk Bapak, juga Bapak-bapak saya para delegasi, elit di sini.

Pak, waktu dulu kami berangkat dari Indonesia menuju kemari, biayanya cukup banyak untuk kita masyarakat ekonomi kecil. Boleh dibilang di bawah garis kemiskinan. Jadi, untuk makan sekarang ini, biaya dari Rp. 4.500.000,- sehingga Rp. 6.000.000, dimana lagi ada beberapa PL yang kurang punya hati membuat satu peraturan sendiri, dimana mereka dengan suka hati, “Kamu harus bayar segini, kalau tidak nanti proses kamu lambat”. Jadi ada satu yang membuat kita jadi terpaksa membayar itu. Jadi Pak, mohonlah kami dari seluruh TKI, khususnya di Malaysia, bolehkah kita buat satu peraturan yang betul-betul melindungi, seperti contoh ditetapkan satu harga yang pasti untuk agensi per kepala atau per TKI itu berapa biaya ke sini, satu.

Dan yang kedua, contoh, waktu kami di bandara saja kan, Pak. Untuk masuk saja, Ibu saya dengan kakak-kakak saya harus bayar masuk ke bandara di Polonia. Terus terang saya sangat sedih, Pak. Di mana untuk membangun satu lapangan terbang itu adalah dari pajak kita sendiri, seluruh Rakyat Indonesia yang membangun lapangan terbang itu. Kenapa hanya yang sekecil itu kita tidak bisa menikmati hasil daripada kita semua? Kita harus membayar ke petugas yang bekerja di situ, Pak. Pada saat itu kita paling tidak kita bayar Rp. 10.000,- sampai Rp. 20.000,-. Padahal kalau kita tenggok, Pak, di Lapangan Terbang Ipoh, saya ini sebagai ibu asrama selalu mengambil anak-anak saya yang datang, yang baru dari Indonesia yang didampingi oleh majikan saya ada di sini. Sewaktu saya langsung yang mengambil mereka, sebagai rasa saya sebagai bangsa Indonesia dan Ibu mereka, walaupun saya belum, masih single lagi.


Duta Besar

Ya,mohon disingkat, Bu.


Elida Santi

Pak, kalau saya tenggok di lapangan terbang itu, betapa, di Lapangan Terbang Ipoh, betapa mereka, khususnya rakyat Malaysia, walaupun kita orang Indonesia, tidak ada bayaran Pak, walaupun satu sen saja. Saya harap Pak, demikianlah, mungkin sekarang ataupun luapan hati kami semuanya.

Wabillahitaufikwalhidayah Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Duta Besar

Bapak pakai baju batik, silahkan Pak.


Khaerudin Harahap

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Nama saya Khaeirudin Harahap, bekas Presiden Persatuan Anak-anak Indonesia di Malaysia. Sebelum kedutaan ini berfungsi dengan betul, di persatuan kami-lah TKI-TKI yang terlantar dijaga dengan baik-baik. Tetapi sesudah kedutaan ini berfungsi dengan betul, kami kekurangan pekerjaan. Jadi menurut data-data yang ada di kami, kedutaan ini sudah hampir melayani dan melindungi TKI kita semaksimal mungkin. Kami sekarang sudah kekurangan pekerjaan.

Yang kedua, sebelum saya ke sini, enam orang TKI telah kami upayakan dikurangkan dari hukuman seumur hidup, daripada hukuman gantung sampai mati kepada hukuman seumur hidup, betul enggak?

Terus, satu lagi pesan tadi, kawan-kawan meminta supaya di kedutaan ini sediakan kadi untuk menikahkan orang-orang Indonesia. Jadi kawan-kawan kita sekarang bermasalah karena kawin-cerai orang-orang Indonesia yang ada di Malaysia ini bermasalah. Mohon bantuan Bapak Presiden untuk menyediakan kadi untuk menikahkan orang-orang Indonesia ini yang di Malaysia. Sekian.

Terima Kasih.


Presiden Republik Indonesia

Yang terakhir, saya ingin dengar dari Lastri, mana Lastri?


Lastri

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang terhormat, Bapak kami, Bapak Presiden Negara Republik Indonesia dan Yang terhormat Bapak Menteri,
Dan yang saya hormati, Pegawai, Pekerja di KBRI yang saya muliai,

Saya bernama Lastri, umur 21 tahun. Alamat rumah saya di Medan, Batubara, Tanjung Tiram. Saya ingin melaporakan Pak, atas pekerjaan yang tak sesuai, sama dengan pekerja Indonesia, dan atas penipuan yang telah terjadi pada diri saya dan teman-teman saya juga. Dan saya minta keadilan sama Bapak untuk mengatasi masalah paspor palsu, biar supaya agen-agen yang mengadakan paspor palsu itu tidak diadakan lagi untuk memperkerjakan orang Indonesia. Saya mau, itu supaya orang Indonesia enggak tertipu lagi seperti saya sendiri, Pak.
Dan saya berterima kasih sama Bapak, telah mendengar sedikit kata-kata dari saya, walaupun itu masalah mungkin kurang masuk akal. Saya minta maaf, karena saya belum pernah berhadapan dengan Presiden. Dan saya pun punya kasus. Saya ingin curhat kepada Bapak, walaupun mungkin Bapak mau mendengar keluhan. Dengan singkat, saya dari Medan, saya ditipu dengan paspor palsu. Dari Medan saya dijanjikan kerja satu bulan, paspor pelancong. Terakhir saya di sini dipekerjakan sebagai PSK. Saya enggak mau. Di Indonesia saya dijanjikan kerja kantin. Terakhir, agen saya yang di sini kompak gitu Pak. Enggak tahu Pak, kompak sama orang Melayu sini untuk menangkap saya karena paspor saya paspor palsu. Jadi orang itu menyamar sebagai polisi, dia membawa kami. Saya berdua sama teman saya, Rita. Setelah itu kami dikurung satu hari, ditangkap polisi. Itu orang sudah ditangkap polisi dan saya pun berterima kasih. Mungkin karena laporan dari teman saya, kami bisa berada di KBRI ini.

Mungkin itu saja Pak yang dapat saya sampaikan dengan Bapak, karena yang saya sampaikan menyangkut diri saya. Yang penting, saya minta keadilan untuk agen-agen yang mana mengadakan paspor palsu, tolong dibasmikan, Pak.

Akhir cerita,
Wabillahitaufikwalhidayah Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Presiden Republik Indonesia

Wa’alaikumssalam warahmatullahi wabarakatuh,
Baik terima kasih.

Yang pertama, yang ingin memindahkan ke Yogya tadi mana? Ya, kalau penertiban keberangkatan Saudara, pengurusan Saudara, pulangnya Saudara, paspornya, visanya, biayanya, agen yang bertanggung jawab, naker sendiri siapa, ini menjadi sasaran untuk perbaikan. Sini ada Menteri Hukum dan HAM, Menteri Tenaga Kerja, bersihkan semuanya itu. Keluarkan aturan yang baik dan aturan itu disosialisasikan. Semua tahu haknya. Semua tahu biayanya. Semua tahu apa kewajibannya. Kalau diminta yang tidak-tidak, Saudara bisa menolak, “Ini Pak, aturannya begini”. Bapak mengapa minta yang lebih banyak, mengapa harus begini-begitu?” Ya, jadi saya minta departemen mengeluarkan aturan seperti itu.

Namun demikian, kalau masih ada kejanggalan yang luar biasa, tadi itu ya, silahkan melapor. Saya sudah beri tahu, kalau mau menembuskan ke saya silahkan. Karena bagi saya, ini masalah yang prinsip harusnya kita berterima kasih kepada Saudara, malah diperas, malah dipungli, malah dilakukan hal-hal yang tidak-tidak.

Nah, kalau memindahkan ke Ngayogyakartohadiningrat tadi, banyak kerjasama sebetulnya. Pabriknya di Jakarta, yang bekerja orang Indonesia atau sebagian orang Malaysia, namanya kerjasama. Atau di Bangkok, atau di Kuala Lumpur dan dimana-mana. Ya tentunya, meskipun saya Presiden, tidak bisa meminta ke pemimpin perusahaan pabrik itu untuk memindahkan pabriknya ke Yogya. Tapi bentuk kerjasama itu banyak. Yang penting saya senang. Tadi saya menceritakan banyak di situ, sekian %, punya posisi yang baik, pabriknya tumbuh dengan baik. Ya mudah-mudahan membawa kebaikan bagi Saudara.

Yang kedua, yang dari Medan tadi. Mana tadi? Ok, sama. Saya juga menghadirkan banyak pejabat di sini untuk menertibkan semuanya itu. Makin tidak tahu Saudara-saudara kita kewajibannya yang diurus apa saja, ngurusnya kemana, biayanya berapa, itu mudah sekali untuk diperas, untuk pungli, untuk diminta yang tidak-tidak. Oleh karena itu, ya saya minta ya betul-betul lakukan sosialisasi, lakukan pengawasan. Para gubernur, bupati, walikota, diajak sekaligus untuk menertibkan seperti itu.

Masuk bandara, yang dipungut apanya itu sebetulnya? Peraturannya gimana itu? Ya, begini-begini. Gimana Pak Habib, masuk ke ruang tunggu yang mengantar ada bayarannya memang itu? Angkasa Pura? Berapa Besarnya? Berapa? Saya minta dicek. Ini lewat Menteri Perekonomian, tolong disampaikan Pak Hatta Rajasa, Menteri Perhubungan, Menteri BUMN yang membidangi Angkasa Pura. Mestinya, apalagi 20 ribu, 10 ribu, kok berbeda-beda begitu. Saya ingin tahu, apakah dari tarif pas Angkasa Pura? Undang-Undangnya bagaimana? Peraturannya Bagaimana? Yang jelas tidak diijinkan untuk menarik apapun tanpa ada Peraturan dan Perundang-undangan. Tarikannya pun meski jumlahnya tidak akan besar hanya untuk masuk ke ruang tunggu seperti, ya. Saya menghadapi pemberangkatan, kemudian hal-hal di Ipoh bagus. Ya kita harus mencontoh negara yang bagus itu. Kalau bagus kita contoh, kalau enggak bagus ya enggak usah kita contoh gitu.

Kemudian Bapak tadi, terima kasih dulu membantu KBRI dengan PPI. Ya mudah-mudahan teruslah membantu, saling membantu karena ini keluarga besar kita. Kalau kadi itu menikahkan toh? Penghulu?


Duta Besar

Jadi yang diharapkan adalah yang meresmikan pernikahan antara orang Indonesia dengan orang Indonesia sendiri, Pak. Kita tidak punya, kita hanya mencatat, Pak, di konsuler, Pak.


Presiden Republik Indonesia

Coba, nanti kita komunikasikan Menlu, atau Seskab bisa komunikasikan ke Menteri Agama nanti, bagaimana solusinya nanti, ya. Oke, saya dapat. Terima kasih. Apa banyak yang mau menikah? Jangan nikah lagi, nikah lagi.

Yang terakhir Lastri. Apa yang menimpa Lastri ini sebuah kejahatan. Boleh dikatakan perdagangan gelap atau disebut penyelundupan wanita, perempuan. Itu bahasa yang popular namanya woman trafficking, itu kejahatan. Pelakunya dihukum karena serangkaian penipuan dilakukan terhadap Lastri. Baik oleh orang kita di Indonesia, di Sumatera Utara bekerja sama dengan orang kita yang ada di Malaysia, dan saya baca laporannya mungkin bekerja sama dengan orang Malaysia juga yang ada di Malaysia. Saya minta hukum ditegakan. Begitu Lastri bertemu dengan Ibu Negara, menceritakan kejadiannya, malam itu setelah sidang-sidang, saya langsung berkomunikasi dengan Kapolri. Kapolri sudah melaksanakan action langsung segera, sekian jam. Sudah tertangkap dua orang yang melakukan. Sekarang dalam tahanan. Yang di sini, Kedutaan Besar dan Liason Officer, kepolisian, juga sudah bekerja dan yang di sinipun sudah ditangkap. Yang satu sudah ditahan, yang lainnya.

Pendek kata, kalau itu Warga Negara Indonesia, kita yang menegakkan hukum, yang mengadili, sesuai dengan kejahatan yang dilakukan. Kalau itu Warga Negara Malaysia, demi keadilan, saya minta Pak Dubes menyampaikan kepada pihak Malaysia untuk menegakkan hukum yang sama. Ada Kapolres dari Sumatera Utara, mana?


Kapolres Sumatera Utara

Siap.


Presiden Republik Indonesia

Itu di daerah Saudara, bukan? Pertanyaan saya, apa betul sudah diambil tindakan di sana?


Kapolres Sumatera Utara

Ijin melaporkan kepada Bapak Presiden, bahwa dua tersangka yang mengirim Saudara Lastri ke Malaysia sudah berhasil kami tangkap dan kami tahan.

Presiden Republik Indonesia
Baik. Terima kasih.
Saya dengar ada saran-saran yang baik, nanti sampaikan kepada saya. Ini begini ya. Ini kebetulan Lastri, alhamdulillah Lastri bisa ketemu dengan Ibu Negara, bisa ketemu dengan saya, sehingga cepat. Saya takutnya ada orang seperti Lastri menjadi korban di tempat yang lain, kita harus tegakkan. Wanita dan anak-anak harus mendapatkan perlindungan. Kekerasan dalam rumah tangga pun dilarang. Jadi kalau ada suami tiap hari mukuli istri dan anaknya, hati-hati, itu kekerasan dalam rumah tangga. Tiap hari mukul, plak, plok sampai merah, sampai ini, ya kebangetan. Kok suami mukuli istri gitu. Baik, terima kasih.

Pendek kata Lastri, kita akan selesaikan semuanya itu dan tepat sekali. Saya berterima kasih semua petugas. Saya minta segera lakukan pembersihan, penertiban. Cari kalau ada praktek-praktek perdagangan wanita, penipuan seperti itu. Allah masih menyelamatkan. Coba kalau tidak bisa ketemu nasibnya seperti apa. Saya berterima kasih, bersyukur kepada semua, kepada pemerintah, kepada kedutaan besar, kepada kepolisian dan nanti Menaker akan menindaklanjuti untuk proses yang selanjutnya.

* * * * *


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan