Wawancara
Bangkok, Thailand, Kamis, 15 Desember 2005
Dialog dengan Masyarakat Indonesia di Thailand
TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN MASYARAKAT INDONESIA DI THAILAND
PADA ACARA
PERTEMUAN DENGAN MASYARAKAT INDONESIA
THAILAND, 15 DESEMBER 2005
Presiden Republik Indonesia
Silahkah saya persilahkan. Tolong Pak Dubes dipandu. Siapa yang ingin menyampaikan pendapat atau pertanyaan kepada saya.
Duta Besar
Kita mulai dialog kita, tanya jawab. Pertama dari kanan satu, dari tengah satu, dari belakang ada? Dari belakang satu yang wanita.
Erlangga
Saya ingat banyak hal yang sebenarnya pengertian terhadap guru, kurang. Dan, setahu saya sampai sekarang yang namanya Pak Sartono, pencipta lagu Hymne Guru yang sering kita menyanyikannya itu belum mendapatkan penghargaan dari Pemerintah dan dia masih menjadi guru tapi sudah pensiun. Dan sekarang masih tinggal di sebuah desa di Madiun. Dan tidak ada … (kaset tidak jelas). Saya berharap ada peningkatan pendidikan, ada peningkatan kualitas bagi pendidikan di Indonesia dengan memenuhi standar bahwa profesi kita sesuai dengan pasal 31. Apa kira-kira selanjutnya Bangsa kita ini untuk pendidikan ke depan?
Yang kedua, saya sangat bangga sekali ketika tahun lalu Keppres 111 Tahun 2004 tentang pengungkapan kasus pembunuhan Munir. Itu, hasil TPF sudah dilakukan tetapi hingga hari ini sebenarnya kita menunggu apa kira-kira langkah yang akan diambil oleh Bapak Presiden. Mengapa hasil TPF itu kok belum bisa diumumkan dengan segera? Karena kami di sini tidak mempercayai berita koran bahwa Bapak Presiden tidak berani untuk mengungkapkan kasus ini. Saya kira itu saja, pertanyaannya.
Terima Kasih
Hendra Nasution
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pertama, selamat datang Pak Susilo Bambang Yudhoyono ke Bangkok. Nama saya Hendra Nasution. Saya sudah tiga tahun tinggal di Bangkok mengikuti istri saya yang kuliah Kedokteran di UNT. Saya sendiri bekerja di salah satu perusahaan di Bangkok, perusahaan Thailand.
Pertama, saya ingin mengucapkan selamat mungkin. Saya waktu itu memilih anda, Pak sebagai Presiden. Dan untuk saya apa anda ucapkan tadi sangat betul tidak semudah membalik telapak tangan. Baru-baru ini saya, alhamdulillah dikaruniai anak pertama laki-laki sekarang umurnya tujuh bulan. Dan apa yang kita kerjakan sekarang dan apa yang saya kerjakan sekarang itu adalah untuk dia nanti di Indonesia. Dan bukan untuk saya sekarang. Itu yang pertama. Kedua, buat saya pertama, kedua. Kalau boleh untuk Bapak-Bapak di KBRI Bangkok. Sampai sekarang saya tinggal tiga tahun di Bangkok dekat sekali rasanya dengan kalangan diplomat dan teman-teman lain di KBRI Bangkok. Mungkin setiap ada aktivitas, saya selalu diundang, saya selalu hadir dan ikut merayakan bersama-sama.
Terakhir mungkin ini sebuah pertanyaan saya minta pendapat Pak Susilo. Saya di sini juga sebagai moderator masyarakat Indonesia di Bangkok dan saya juga aktif di komunitas internet di Indonesia. Ada baru-baru ini, ada kasus yang dianggap melanggar pasal 314 penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden. Saya, buat saya, kasusnya sendiri selesai dan dianggap tidak berbahaya karena itu memang hanya sekedar guyonan anak muda saja. Cuma dan saya juga sangat menyadari kebebasan berekspresi tidak bisa sebebas-bebasnya. Kita harus punya batas-batasan. Dan saya juga akan tersinggung kalau misalnya Kepada Negara saya atau Presiden saya dihina. Tapi saya ingin meminta pendapat Pak Susilo sendiri, sebenarnya pasal ini apakah secara konsisten diberlakukan? Lalu apakah dimana batasan-batasan yang disebut menghina dan batasan-batasan yang bisa diterima dalam konteks kebebasan berpendapat dan berekspresi?
Presiden Republik Indonesia
Coba dijelaskan apa kasus yang terjadi karena saya belum pernah dengar. Saya baru sebentar di Kuala Lumpur dikasih tahu sebentar. Apa yang sebenarnya yang terjadi sehingga ada, katakanlah diangkat isu ini, apa yang sebenarnya yang terjadi supaya saya juga tahu?
Hendra Nasution
Jadi ini hanya sekedar guyonan tapi mungkin teman-teman dan saudara-saudara di sini semua tahu bahwa beredar di internet ada foto yang katanya Saudara Bambang Triatmojo dan seorang artis Mayangsari. Lalu ada seorang teman di Yogya yang merubah foto Mayangsari dengan foto beberapa tokoh salah satunya Pak Susilo, yang lain. Tapi hanya sekedar guyonan dan hanya membuktikan bahwa jelas semua itu bisa saja di internet. Nah ini yang bersangkutan ternyata lalu diperiksa oleh Polda Yogyakarta dianggap menghina. Dan padahal rasanya menurut saya pribadi dan yang bersangkutan juga sekarang sudah dilepaskan. Dan semua dianggap hanya sebagai permainan dan tidak ada maksud berbahaya atau merugikan atau segala macam.
Presiden Republik Indonesia
Itu gambar saya dengan Bambang Tri atau gambar saya dengan? Gambarnya Pak SBY sebelahnya artis yang betul yang mana itu?
Hendra Nasution
Jadi Pak Bambang Tri-nya sendiri tetap tapi lalu dimodifikasi dengan foto-foto SBY dan foto-foto yang lain. Saya kira itu saja. Terima Kasih, Bapak.
Rubi
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saya kira saya tidak bisa terlihat tapi ternyata terlihat juga. Nama saya Rubi, saya dari Banyuwangi. Ini kedua kalinya saya bertatap muka dengan Pak Bambang. Pertama di Pesantren Cipaso waktu itu Pak Bambang belum jadi Presiden. Sowan ke … saya. Sekarang yang kedua kalinya. Mudah-mudahan Bapak kagumi saya. Jadikan saya bisa melihat perjalanan lalu Pak Bambang.
Pertanyaan saya sangat singkat persoalan human security di Negara kita karena itu sebuah garansi untuk mengenal orang lain, untuk attrack ke negara kita. Terkait juga dengan persoalan terorisme yang sekarang. Nah, saya simple saja. Itu registrasi santri yang harus memuat, apa namanya agak mengguncangkan dunia pesantren nih. Menurut saya daripada kita hanya me-register para santri mending seluruh Bangsa Indonesia dengan mekanisme yang baik sehingga setiap orang bisa dideteksi dengan baik.
Sekarang di Thailand pengguna jilbab wajib me-register diri sehingga lainnya masih bisa dibuka. Untuk apa? Karena kalau kita hanya memfokus kepada sekelompok orang maka ini akan pertama akan menyakiti hati kalangan pesantren dianggap tidak percaya dan sebagainya padahal ini hanya sebatas asumsi-asumsi. Sama halnya ketika kasus selatan. Kebetulan saya bekerja di jaringan muslim Asia Tenggara dan kita mempunyai, apa namanya, program-program di Thailand Selatan. Jadi ketika Pemerintah mencurigai pesantren kemudian menjadikan harga pesantren atau muslim di Selatan ini tidak percaya lagi. Saya tentu tidak inginkan ini. Kalau di Negara kita terkenal Negara muslim paling besar. Dan ini bukan hanya omong kosong tapi dengan sekilas sebenarnya kita melihat bahwa semua orang yang di Indonesia apapun latar belakangnya wajib dilindungi hak-haknya. Dan mudah-mudahan ke depan tidak ada lagi kasus misalnya pencekalan, apa namanya, intelektual terhadap persoalan sering berbeda perspektif, tidak munculnya misalnya fatwa MUI yang sempat mengguncangkan beberapa kelompok-kelompok. Padahal hal ini sebenarnya juga jadi parameter kita untuk melihat bagaimana human security di Indonesia. Jadi mudah-mudahan, saya juga sangat berharap semuanya bisa terwadahi dalam Negara Nusantara ini. Terima kasih.
Presiden Republik Indonesia
Baik, terima kasih, yang disampaikan oleh Saudara Erlangga, Saudara Nasution, Saudara, Saudari Rubi tadi. Semuanya penting ya. Saya senang masalah-masalah itu diangkat dalam acara dialog ini supaya yang lain juga bisa mendengarkan bagaimana kita meletakkan masalah itu dalam konteks yang benar, menanggapi secara jernih, secara benar untuk kepentingan bersama kita, kehidupan berbangsa dan bernegara yang harapan kita menjadi makin baik ke depan nanti.
Yang pertama masalah pendidikan. Kita sangat serius untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam komitmen negara-negara sedunia, dalam sasaran millennium development atau millennium development goals yang juga kemarin saya ikut berpidato di PBB, di New York. Kita juga sepakat untuk melakukan upaya sangat serius meningkatkan pendidikan. Kita tentu wajib mengamalkan, menjalankan amanah Undang-Undang Dasar. 20% anggaran pendidikan baik dari APBN maupun APBD. Kalau saya harus membuka bagaimana wajah APBN kita, Anggaran Pendapatan Belanja Negara yang insya Allah tahun 2006 ini jumlah mencapai 600 triliun lebih. Tahun 2005 ini masih di bawah 600 triliun. GDP kita tahun 2005 ini sekitar 2.600 triliun, insya Allah tahun depan meningkat lagi. Kalau kita lihat jumlahnya 600 triliun itu untuk membiayai semua program pendidikan memang terjadi konflik mana yang tidak boleh diabaikan. Apakah hanya pendidikan? Apakah juga tidak kesehatan? Program-program pengurangan kemiskinan dan lain-lain yang ternyata semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pak Boediono yang mengubah kebijakan fiskal, Menteri Keuangan, saya yang mengambil keputusan terakhir. Anggota DPR yang membahas bersama-sama Pemerintah tentang APBN itu di pusat. Gubernur dengan DPRD-nya membahas pada tingkat daerah juga terus mencari akal bagaimana di satu sisi anggaran pendidikan menuju betul-betul 20% tapi anggaran yang lain juga mendapatkan porsi yang lumayanlah meskipun tidak sebesar pendidikan. Kita ingin benar-benar menuju ke 20 % lebih cepat, lebih baik. Ini yang menjadi komitmen Pemerintah. Itu yang pertama.
Yang kedua, ketika kemarin kita harus mengambil kebijakan yang pahit. Berat bagi seorang Presiden seperti saya harus mengambil kebijakan menaikkan BBM. Karena persoalannya sangat berat bagi APBN kita, masa depan ekonomi kita dan juga dihadapi oleh Negara-Negara lain maka dengan naiknya BBM kita memberikan kompensasi kepada pendidikan dan kesehatan, utamanya itu. Apa yang kita capai? Pendidikan 9 tahun, wajib belajar harus menuju ke pendidikan gratis. Sudah kita mulai 2005 ini, 2006 plus membangun gedung-gedung, meringankan biaya pendidikan, meningkatkan gaji guru insya Allah mulai tahun 2006. Dengan demikian pendidikan kita makin berkualitas karena fasilitasnya kita tingkatkan, makin murah karena kita bantu dengan demikian peluang untuk mengikuti pendidikan makin juga tinggi. Kesehatan juga demikian, gratis berobat di Puskesmas, gratis berobat di Rumah Sakit kelas 3. Dengan demikian golongan miskin dan setengah miskin yang jumlah 62 juta sangat kita bantu meringankan kehidupannya. Itu juga kembali ke pendidikan.
Yang ketiga, kita juga ingin meningkatkan beasiswa bagi mereka yang tidak mampu. Kemarin saya meninjau, kemarin bulan maksud saya. Saya ke Jawa Tengah meninjau sebuah SMP, meninjau sebuah SMA dan meninjau sebuah Akademi, akademi yang di Magelang, Akademi Militer. Saya mengajak beberapa pejabat termasuk Menteri memikirkan bagaimana kita bisa meningkatkan beasiswa kepada putra-putri kita terutama golongan yang belum mampu agar mereka mendapatkan kesempatan yang lebih besar. Itu yang ketiga.
Kemudian yang keempat, kita tingkatkan kerja sama dengan Negara-negara sahabat, dengan UNESCO, dengan PBB dalam arti luas. Dan setiap saya berkunjung ke luar negeri selalu agenda kami bagaimana ada koordinasi dengan kerja sama meningkatkan pendidikan. Ini dalam banyak hal juga membantu secara sangat significant. Sebenarnya mutu pendidikan di Indonesia tidak boleh dianggap jelek ataupun tertinggal jauh dari Negara-negara lain. Meskipun beberapa Negara harus kita akui mutu pendidikannya baik. Apalagi Negara maju karena anggarannya cukup, fasilitasnya cukup, gurunya mengikuti pendidikan yang benar dengan kesejahteraan yang benar. Tetapi tidak berarti kalau kita belum memiliki anggaran seperti itu lantas kita boleh atau membiarkan begitu saja mutu pendidikan kita.
Itu yang dapat saya sampaikan dan kami akan terus berjuang. Saudara Erlangga, anda juga pendidik. Tolong juga, sama-sama kita kelola pendidikan kita dengan kualitas yang lebih tinggi. Dengan demikian baik Negara, Pemerintah, masyarakat luas, mereka-mereka yang bisa memberikan donasi, membikin foundation atau yayasan pendidikan itu juga bisa memberikan sumbangan yang makin besar kepada dunia pendidikan kita.
Sepuluh hari yang lalu saya membuka 2nd International Junior Science Olympiad di Yogyakarta. Kita mendapatkan medali emas, berapa? Enam. Padahal 36 Negara itu, kita juara pertama. Kemudian kemarin di Kuala Lumpur, saya mendapatkan good news lagi. Dua putra kita, satu dari Papua, satu dari Jakarta mendapatkan piala emas di Rusia. Artinya apa? Saya yakin putra-putri Bangsa Indonesia tidak kalah. Saya meninjau Microsoft di Amerika Serikat ketemu seperti ini the best and the brightest man and woman dari Indonesia yang juga cakap. Saya ketemu dengan mereka-mereka yang bekerja di Eropa, bekerja di Malaysia dengan teknologi tinggi. Artinya apa? Kita juga punya modalitas yang tinggi sejalan dengan usaha kita meningkatkan pendidikan di Negara kita, menciptakan lapangan kerja yang lebih luas. Saya yakin pada saatnya nanti sumber daya manusia kita bisa mengangkat pembangunan kita, kemajuan kita.
Tadi masalah Pak Sartono ya. Tolong, Dik Erlangga kirim surat saja kepada Menteri Pendidikan Nasional tembuskan ke saya, ya. Mengapa? Ini bukan rahasia. Saya ini membuka Pos SMS. SMS yang masuk ke saya mulai Bulan Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember sekarang jumlahnya kemarin 1,8 juta mungkin sudah 2 juta. Betul, ada 7 orang yang setiap hari mengelola SMS dan PO BOX 9949 Jakarta 10000. Banyak saran-saran seperti ini. Saya pernah punya cerita sedikit. Suatu saat pagi hari, saya sedang di kamar mandi. Ibu Negara, istri ini menerima SMS dan kemudian telpon dari seorang guru di Pati, Jawa Tengah, guru bantu ya. Ragu-ragu diterima enggak oleh Ibu Negara.
Singkat kata dibuka, sadar, saya langsung keluar dari kamar mandi. Saya langsung berbicara dengan mereka. Tidak menyangka mereka, saya bisa, mereka saya terima langsung pembicaraannya itu dan itu masalah guru bantu yang konon gajinya terlambat. Abis itu sidang Kabinet. Saya sampaikan kepada Menteri Pendidikan agar guru bantu di Pati, sekolahnya ini belum terima tolong Bapak Bambang Sudibyo, Menteri Pendidikan Nasional diurus. Singkat kata kemudian diurus dan haknya bisa diberikan. Artinya apa ? kalau ada masalah-masalah seperti ini berikan, sampaikan, informasikan kepada yang bersangkutan kalau lebih nyaman boleh ditembuskan ke saya, ya. Saya ingin tahu tadi jasanya apa. Tidak mungkin kita melupakan jasa dari beliau-beliau pendidik, budayawan, seniman yang ikut menciptakan sesuatu untuk Bangsa dan Negara kita, ya.
Yang kedua, Munir. Begini, ketika Saudara Munir meninggal. Saya kenal Munir, beberapa kali bahkan bertemu dengan saya, berdialog dengan saya. Pernah waktu saya masih menjadi Menteri saya undang di kantor ada yang mendampingi saya dulu. Munir punya gagasan bagaimana menyelesaikan masalah Aceh waktu itu. Tidak semua pandangan Munir sama dengan pandangan saya. Tapi ada juga pandangan-pandangan yang saya perhatikan karena memang ternyata juga membawa kebaikan. Begitu Saudara Munir meninggal, saya masih ingat waktu itu Bulan September barangkali karena saya ada acara seperti ini. Saya pimpin waktu itu kepada seorang sahabat gitu ya untuk hening sejenak karena berita itu mengejutkan. Dan setelah itu ketika saya menjadi Presiden maka kita lanjutkan proses hukum, penegakan hukum atas kematian Saudara Munir.
Sistem harus bekerja, Kepolisian bekerja, Kejaksaan bekerja. Satu penyidik, satu penuntut. Setelah disidik, dituntut pengadilan bekerja karena yang memutuskan tuntutan adalah Hakim pengadilan. Lantas ada suara dari masyarakat bagaimana kalau ini diwadahi dan akan membantu Kepolisian dan Kejaksaan. Lahirlah TPF waktu itu memberikan bantuan-bantuan. Saya ingin semua itu menuju ke penegakkan hukum yang benar. SBY tidak boleh mencampuri proses hukumnya tapi kewajiban saya mendorong Kepolisian, mendorong Kejaksaan, mendorong pihak pengadilan melewati Ketua Mahkamah Agung. Tolong kematian Saudara Munir ini kalau itu menyangkut masalah hukum diselesaikan menurut aturan hukum yang berlaku. Yang saya tahu dan saya juga terus memonitor pengadilan sudah berjalan sekarang ini.
Kemudian tentu saya akan meminta lagi perkembangan dari Saudara Jaksa Agung dan Kapolri nanti seperti apa prosesnya. Tapi yang jelas tidak ada pikiran Presiden untuk mempengaruhi jalannya proses penegakkan hukum, tidak ada. Kalau dikatakan SBY tidak berani. Yang tidak berani mananya? Saya tidak boleh, “pokoknya harus dijatuhi hukuman 10 tahun atau pokoknya jangan dijatuhi hukuman, tidak boleh”. Politisi tidak boleh mencampuri masalah hukum. Yang menegakkan hukum ada, Kepolisian penyidik, Kejaksaan penuntut, Hakim pemutus tuntutan. Kewajiban saya memastikan jangan ada, apa namanya, penyimpangan-penyimpangan dalam penegakan hukum itu.
Sekembali saya ke tanah air nanti akan saya cek bagaimana perkembangannya. Tapi yang jelas laporan yang saya terima terakhir.pengadilan terhadap Saudara Pollycarpus, ya itu sudah, bagaimana? Itu sudah berjalan, tolong diikuti juga ya. Jadi itu, sehingga tidak relevan apakah SBY berani, tidak berani karena sudah menjalankan kewajiban saya sebagai Kepala Negara untuk memastikan hukum berjalan dengan benar. Pengadilanlah yang menetapkan nanti, salah, tidak salah. Salahnya berat atau salahnya sedang atau salahnya ringan. Salahnya berat hukumannya berat, salahnya ringan hukumannya ringan. Kan begitu, itu menyangkut penegakkan hukum dan kita juga bekerja sama dengan Belanda. Kita bekerja sama dengan yang lain-lain agar proses penegakkan hukum ini berjalan dengan benar.
Yang kedua, Saudara Nasution, nama depannya apa tadi, Hendra, bukan ade. Baik. Ya saya senang anda yang relatif muda, adik saya mengerti bahwa untuk mencapai sesuatu harus kita perjuangkan, kita usahakan, upaya, ikhtiar semaksimal mungkin. Tapi kalau Bangsa ini seperti sikap anda tidak mengeluh, tidak putus asa, tidak pandainya menyalahkan, ya bekerja bersama-sama sampai tujuan yang kita kehendaki. Hubungan baik dengan Kedutaan Besar saya berterima kasih. Kemarin di Kuala Lumpur, saya juga tahu hubungannya juga baik meskipun ada masalah-masalah sedikit tapi ya harus profesional semuanya begitu waktu saya berkunjung di Kuala Lumpur kemarin.
Nah ,sekarang tentang isu pelecehan SBY. Saya terus terang tahunya itu baru kemarin ketika istri ini, “Eh itu gambar papa dibikin-bikin di internet katanya ada artisnya, ada gambar Bambang Tri-nya, macam-macam begitu”. Saya tidak sempat berpikir karena saya sibuk untuk pertemuan puncak kemarin, begitu ya. Dengan diangkat malam hari ini, saya malah ingin tahu kayak apa sih gambar saya itu. Cuma begini, memang merupakan hak, kebebasan seseorang untuk mengekspresikan ide-idenya, pikirannya. Itu yang dikenal dengan hak seseorang untuk menyampaikan pikiran baik lisan maupun tulisan. Diwadahi oleh Undang-Undang Dasar kita pasal 28 A sampai 28 J tentang hak-hak asasi manusia. Haknya ini, haknya itu, banyak sekali haknya tapi ingat 28 J setelah A, B, C, D, E, F, G, H, J itu mengatakan bahwa hak itu ada pembatasannya. Pembatasannya itu tidak boleh mengganggu hak orang lain, tidak boleh menyentuh norma-norma susila, agama, keamanan dan ketertiban, bunyinya begitu.
Jadi kalau misalkan gambar saya itu ditempelkan dengan gambar artis, misalnya gitu ya, beredar, difotokopi, disebarkan di kota-kota terus anak saya baca gitu. Anda bisa merasakan bagaimana pikiran anak saya, “Ada apa? Ayah saya kok foto-foto sama si artis gitu?” atau Ibu. Atau gambar anda dik yah. Disampingkan dengan artis siapa, beredar, dibaca istri bisa membikin repot, bisa juga, bisa membikin repot. Oleh karena itu, saya tidak tahu seperti apa gambarnya. Gunakan hak dengan hati-hati, tidak menimbulkan masalah apapun dengan demikian kita enak saling menghormati.
Dan saya memang belum tahu kalau ada pemanggilan kepada yang bersangkutan oleh Kepolisian. Yang saya tahu memang Kepolisian itu menegakkan hukum. Tapi melewati forum ini nanti, saya kira siapa nih yang bisa menyampaikan Kapolri. Begini kalau saya itu, kalau itu bukan sesuatu apa istilahnya itu ya? Sesuatu design untuk sengaja melakukan pelanggaran atau kejahatan terhadap seseorang, terhadap Kepala Negara. Panggil saja, dinasehatilah “Eh, meskipun anda punya hak, bisa main internet ini, enggak bagus ini, coba nanti kalau beredar kemana-mana rakyat kita percaya SBY kok kesana, kemari foto sama artis, kayak apa nanti begitu?”. Mengerti dik yah?
Jadi persuasif saja, diajari, dikasih tau banyak ide yang bagus kok. Itu negara lain, pemuda lain idenya mau pesawat terbang, kapal selam, bio energi, listrik yang murah banyak sekali ide kok gambar-gambar begitu. Sayang Bangsa Indonesia pinter-pinter, kepinterannya bukan untuk membikin sesuatu yang meningkatkan kekayaan dan kemajuan kita. Jadi pesan saya begitu, kasih tahu saja, tidak baguslah, sudahlah, cari yang lain-lain saja, enggak usah di, apa namanya, dikembang-kembangkan meskipun saya dikasih tahu, dinasehati sajalah supaya tidak berkembang. Begitu dik yah.
Tadi Adinda Rubi yang bertemu saya di Cipaso yah, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Begini, tidak ada kebijakan Nasional untuk melakukan apa istilahnya, registrasi atau pencatatan santri-santri di pesantren-pesantren. Minggu lalu saya bertemu dengan Ketua DPR, Pak Agung Laksono, Ketua DPD, Pak Ginanjar Kartasasmita, Ketua MPR, Bapak Hidayat Nurwahid, saya didampingi oleh Wapres dan didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara. Pak Hidayat Nurwahid juga menanyakan kepada saya, “Pak Presiden, saya dengar-dengar katakanya pesantren, santrinya di sidik jari, apa itu policy Pemerinta?”. Masyaallah, Pak Hidayat ya enggak ada, bagaimana Pemerintah tanpa tujuan tiba-tiba seperti itu. Akhirnya diberitahu, itu kejadian di Ciamis kalau enggak salah ya. Satu kecamatan seperti itu dan yang jelas, ya yang jelas tidak ada policy seperti itu, tidak sepatutnya kita melakukan sesuatu yang tanpa tujuan yang membikin keresahan dan menimbulkan masalah-masalah baru di tanah air kita ini. Itu yang pertama.
Kemudian memang yang kita perlukan sekarang ini, kartu pengenal diri. Sekarang ini macam-macam, ada yang punya dua, tiga KTP. Mohon maaf loh. Ada yang punya dua paspor. Ada yang di Jawa Timur namanya Parno. Begitu pindah ke Lampung namanya Pardi. Kemudian ke Kalimantan jadi Parji. Nanti kalau sudah satu, one single identification card, semuanya sama, namanya ya itu, wajib pajaknya itu, tanggal lahirnya di situ, golongan darahnya O, pekerjaan ini, punya tabungan kalau punya ya ini kartu tabungannya, one single id card. Dimanapun sama, tidak mudah dipalsukan. Kalau itu berlaku bagi Warga Negara yang kemarin di Malaysia saya sudah bicara dengan Multimedia … Reader karena ada contoh yang bagus. Tolong nanti bicara sama saya karena kami akan bikin Indonesia supaya tentram punya ID Card yang bagus tidak digunakan untuk kejahatan, tidak dicurigai ke sana, sini dan sebagainya. Itu yang terjadi.
Kemudian, kalau pandangan-pandangan yang hidup di masyarakat ya. Tidak semua Negara yang mengelola. Agar masalah-masalah, kalau masalah aqidah ya tentunya para ulamalah ya, ada MUI, ada organisasi keislaman yang lain, ada ulama-ulama dan sebagainya. Kalau soal ajaran itu sendiri, aqidah itu sendiri pada prinsipnya Negara itu tidak akan menyampuri. Keliru nanti, salah karena sudah saya tentukan. Ada Al Qur’an, Al Hadist dan hal-hal yang ulama lebih mengetahui. Pesan saya kita hidup dalam suatu keluarga besar, identitasnya beragam, etnisnya beragam, agamanya berbeda-beda, sukunya berbeda-beda, daerahnya berbeda-beda, kita satu, kita harus rukun, kita harus harmonis.
…(kaset dibalik)… kejahatan keluar dari pesantren diduga terlibat apapun itu dan dicari orang itu. Jadi enggak berarti kalau pesantren itu lantas diobrak-obrik, orang itu saja. Mari kita letakkan dengan benar. Tapi yang jelas tidak ada diskriminasi, tidak ada rencana atau agenda Pemerintah yang tidak terang, yang tidak jelas dan tidak ada itu misalkan policy yang tanpa tujuan seperti yang beredar beberapa saat lewat SMS dan lain-lain. Itu saya pastikan. Dengan demikian kalau ada hal-hal yang tidak jelas tolong dikonfirmasi kepada kami dengan demikian bisa kita jelaskan.
Saya kira itu yang dapat saya sampaikan. Rasanya meskipun saya masih ingin lama, lebih lama lagi tetapi nampaknya, lima hari tersedot betul. Besok jam berapa kita pergi ke itu? Baik, saya kira itu saja. Saya pesan satu begini, negara kita ini sekarang sedang dilihat dengan kacamata yang sebenarnya baik. Banyak pemimpin di dunia, banyak bangsa lain melihat Indonesia ini gigih dalam melakukan reformasi, dalam menjalankan demokratisasi, dalam membangun kembali ekonominya, dalam mengatasi masalah-masalah dalam negeri secara damai, peran internasional yang pas dan sejumlah penglihatan mereka yang lihat kita ini dalam kacamata yang baik.
Kewajiban kita, mari kita semua ikut menjaga nama baik bangsa dan negara kita. Kami yang di tanah air akan bekerja sekuat tenaga siang dan malam. Harapan saya, pesan saya saudara-saudara yang bertugas di Thailand ini, di Negara lain ini juga melakukan hal yang sama. Kalau berprofesi, berprofesilah yang baik, ikuti Undang-Undang dan peraturan setempat, ikuti bagaimana adat istiadat dan kebiasaan secara etika di tempat ini dan lain-lain. Dengan demikian, kita dilihat dalam kacamata, dari kacamata yang baik. Tolong jadi duta bangsa yang baik. Cegah, hindari kegiatan-kegiatan, pelanggaran-pelanggaran, penyimpangan-penyimpangan yang menurunkan nama baik bangsa dan Negara kita.
Saya kemarin agak shock di Kuala Lumpur. Betapa tidak? Ada seorang warga negara kita, seorang wanita yang ditipu oleh saudara kita sendiri diberangkatkan dari Medan. Katanya akan bekerja di tempat yang baik di Kuala Lumpur tapi ternyata dipaksa menjadi PSK, tidak mau, mendapatkan kekerasan, akhirnya bisa keluar. Ini memalukan, mencemarkan nama baik kita. Saudaranya sendiri ditipu, harus menjalankan pekerjaan seperti itu dan tuntutannya mengerikan sekali. Saya sama istri sampai enggak bisa tidur, semalam. Harus menjalankan ini, itu, luar biasa. Bayangkan makanya setelah kita langkah cepat sudah kita tangkap yang menjual, yang menyelundupkan, yang memperdagangkan tidak benar itu kita tangkap di tanah air, dua orang. Ada akhirnya di sini juga orang kita sendiri sudah kita tangkap di Kuala Lumpur.
Kemudian ada dugaan, ada keterlibatan Warga Negara Malaysia sedang kita cek. Kalau betul ya kita berharap itu dicegahkan. Maksud saya, aib seperti ini mencoreng nama baik kita. Justru kita harus mencegah, menghindari hal-hal semacam itu. Jangan kita nila setitik rusak susu sebelanga. Kalau kita belum bisa berbuat yang lebih besar untuk rakyat kita, bangsa kita jalankan profesi dengan baik dimanapun Bapak-Ibu, saudara berada, berprilakulah yang baik, bawa keharuman bangsa dan Negara kita. Itu pesan saya. Itu harapan kita. Kami menyayangi saudara semua, kami mencintai saudara semua. Mari kita berdoa kehadirat Allah SWT agar bangsa kita diberikan bimbingan, petunjuk dan lindungan-Nya. Dan kemudian kita membangun kembali menuju hari esok yang lebih baik.
Sekian. Selamat bertugas. Selamat mengabdi.
Tuhan beserta kita.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
* * * * *
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN MASYARAKAT INDONESIA DI THAILAND
PADA ACARA
PERTEMUAN DENGAN MASYARAKAT INDONESIA
THAILAND, 15 DESEMBER 2005
Presiden Republik Indonesia
Silahkah saya persilahkan. Tolong Pak Dubes dipandu. Siapa yang ingin menyampaikan pendapat atau pertanyaan kepada saya.
Duta Besar
Kita mulai dialog kita, tanya jawab. Pertama dari kanan satu, dari tengah satu, dari belakang ada? Dari belakang satu yang wanita.
Erlangga
Saya ingat banyak hal yang sebenarnya pengertian terhadap guru, kurang. Dan, setahu saya sampai sekarang yang namanya Pak Sartono, pencipta lagu Hymne Guru yang sering kita menyanyikannya itu belum mendapatkan penghargaan dari Pemerintah dan dia masih menjadi guru tapi sudah pensiun. Dan sekarang masih tinggal di sebuah desa di Madiun. Dan tidak ada … (kaset tidak jelas). Saya berharap ada peningkatan pendidikan, ada peningkatan kualitas bagi pendidikan di Indonesia dengan memenuhi standar bahwa profesi kita sesuai dengan pasal 31. Apa kira-kira selanjutnya Bangsa kita ini untuk pendidikan ke depan?
Yang kedua, saya sangat bangga sekali ketika tahun lalu Keppres 111 Tahun 2004 tentang pengungkapan kasus pembunuhan Munir. Itu, hasil TPF sudah dilakukan tetapi hingga hari ini sebenarnya kita menunggu apa kira-kira langkah yang akan diambil oleh Bapak Presiden. Mengapa hasil TPF itu kok belum bisa diumumkan dengan segera? Karena kami di sini tidak mempercayai berita koran bahwa Bapak Presiden tidak berani untuk mengungkapkan kasus ini. Saya kira itu saja, pertanyaannya.
Terima Kasih
Hendra Nasution
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pertama, selamat datang Pak Susilo Bambang Yudhoyono ke Bangkok. Nama saya Hendra Nasution. Saya sudah tiga tahun tinggal di Bangkok mengikuti istri saya yang kuliah Kedokteran di UNT. Saya sendiri bekerja di salah satu perusahaan di Bangkok, perusahaan Thailand.
Pertama, saya ingin mengucapkan selamat mungkin. Saya waktu itu memilih anda, Pak sebagai Presiden. Dan untuk saya apa anda ucapkan tadi sangat betul tidak semudah membalik telapak tangan. Baru-baru ini saya, alhamdulillah dikaruniai anak pertama laki-laki sekarang umurnya tujuh bulan. Dan apa yang kita kerjakan sekarang dan apa yang saya kerjakan sekarang itu adalah untuk dia nanti di Indonesia. Dan bukan untuk saya sekarang. Itu yang pertama. Kedua, buat saya pertama, kedua. Kalau boleh untuk Bapak-Bapak di KBRI Bangkok. Sampai sekarang saya tinggal tiga tahun di Bangkok dekat sekali rasanya dengan kalangan diplomat dan teman-teman lain di KBRI Bangkok. Mungkin setiap ada aktivitas, saya selalu diundang, saya selalu hadir dan ikut merayakan bersama-sama.
Terakhir mungkin ini sebuah pertanyaan saya minta pendapat Pak Susilo. Saya di sini juga sebagai moderator masyarakat Indonesia di Bangkok dan saya juga aktif di komunitas internet di Indonesia. Ada baru-baru ini, ada kasus yang dianggap melanggar pasal 314 penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden. Saya, buat saya, kasusnya sendiri selesai dan dianggap tidak berbahaya karena itu memang hanya sekedar guyonan anak muda saja. Cuma dan saya juga sangat menyadari kebebasan berekspresi tidak bisa sebebas-bebasnya. Kita harus punya batas-batasan. Dan saya juga akan tersinggung kalau misalnya Kepada Negara saya atau Presiden saya dihina. Tapi saya ingin meminta pendapat Pak Susilo sendiri, sebenarnya pasal ini apakah secara konsisten diberlakukan? Lalu apakah dimana batasan-batasan yang disebut menghina dan batasan-batasan yang bisa diterima dalam konteks kebebasan berpendapat dan berekspresi?
Presiden Republik Indonesia
Coba dijelaskan apa kasus yang terjadi karena saya belum pernah dengar. Saya baru sebentar di Kuala Lumpur dikasih tahu sebentar. Apa yang sebenarnya yang terjadi sehingga ada, katakanlah diangkat isu ini, apa yang sebenarnya yang terjadi supaya saya juga tahu?
Hendra Nasution
Jadi ini hanya sekedar guyonan tapi mungkin teman-teman dan saudara-saudara di sini semua tahu bahwa beredar di internet ada foto yang katanya Saudara Bambang Triatmojo dan seorang artis Mayangsari. Lalu ada seorang teman di Yogya yang merubah foto Mayangsari dengan foto beberapa tokoh salah satunya Pak Susilo, yang lain. Tapi hanya sekedar guyonan dan hanya membuktikan bahwa jelas semua itu bisa saja di internet. Nah ini yang bersangkutan ternyata lalu diperiksa oleh Polda Yogyakarta dianggap menghina. Dan padahal rasanya menurut saya pribadi dan yang bersangkutan juga sekarang sudah dilepaskan. Dan semua dianggap hanya sebagai permainan dan tidak ada maksud berbahaya atau merugikan atau segala macam.
Presiden Republik Indonesia
Itu gambar saya dengan Bambang Tri atau gambar saya dengan? Gambarnya Pak SBY sebelahnya artis yang betul yang mana itu?
Hendra Nasution
Jadi Pak Bambang Tri-nya sendiri tetap tapi lalu dimodifikasi dengan foto-foto SBY dan foto-foto yang lain. Saya kira itu saja. Terima Kasih, Bapak.
Rubi
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saya kira saya tidak bisa terlihat tapi ternyata terlihat juga. Nama saya Rubi, saya dari Banyuwangi. Ini kedua kalinya saya bertatap muka dengan Pak Bambang. Pertama di Pesantren Cipaso waktu itu Pak Bambang belum jadi Presiden. Sowan ke … saya. Sekarang yang kedua kalinya. Mudah-mudahan Bapak kagumi saya. Jadikan saya bisa melihat perjalanan lalu Pak Bambang.
Pertanyaan saya sangat singkat persoalan human security di Negara kita karena itu sebuah garansi untuk mengenal orang lain, untuk attrack ke negara kita. Terkait juga dengan persoalan terorisme yang sekarang. Nah, saya simple saja. Itu registrasi santri yang harus memuat, apa namanya agak mengguncangkan dunia pesantren nih. Menurut saya daripada kita hanya me-register para santri mending seluruh Bangsa Indonesia dengan mekanisme yang baik sehingga setiap orang bisa dideteksi dengan baik.
Sekarang di Thailand pengguna jilbab wajib me-register diri sehingga lainnya masih bisa dibuka. Untuk apa? Karena kalau kita hanya memfokus kepada sekelompok orang maka ini akan pertama akan menyakiti hati kalangan pesantren dianggap tidak percaya dan sebagainya padahal ini hanya sebatas asumsi-asumsi. Sama halnya ketika kasus selatan. Kebetulan saya bekerja di jaringan muslim Asia Tenggara dan kita mempunyai, apa namanya, program-program di Thailand Selatan. Jadi ketika Pemerintah mencurigai pesantren kemudian menjadikan harga pesantren atau muslim di Selatan ini tidak percaya lagi. Saya tentu tidak inginkan ini. Kalau di Negara kita terkenal Negara muslim paling besar. Dan ini bukan hanya omong kosong tapi dengan sekilas sebenarnya kita melihat bahwa semua orang yang di Indonesia apapun latar belakangnya wajib dilindungi hak-haknya. Dan mudah-mudahan ke depan tidak ada lagi kasus misalnya pencekalan, apa namanya, intelektual terhadap persoalan sering berbeda perspektif, tidak munculnya misalnya fatwa MUI yang sempat mengguncangkan beberapa kelompok-kelompok. Padahal hal ini sebenarnya juga jadi parameter kita untuk melihat bagaimana human security di Indonesia. Jadi mudah-mudahan, saya juga sangat berharap semuanya bisa terwadahi dalam Negara Nusantara ini. Terima kasih.
Presiden Republik Indonesia
Baik, terima kasih, yang disampaikan oleh Saudara Erlangga, Saudara Nasution, Saudara, Saudari Rubi tadi. Semuanya penting ya. Saya senang masalah-masalah itu diangkat dalam acara dialog ini supaya yang lain juga bisa mendengarkan bagaimana kita meletakkan masalah itu dalam konteks yang benar, menanggapi secara jernih, secara benar untuk kepentingan bersama kita, kehidupan berbangsa dan bernegara yang harapan kita menjadi makin baik ke depan nanti.
Yang pertama masalah pendidikan. Kita sangat serius untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam komitmen negara-negara sedunia, dalam sasaran millennium development atau millennium development goals yang juga kemarin saya ikut berpidato di PBB, di New York. Kita juga sepakat untuk melakukan upaya sangat serius meningkatkan pendidikan. Kita tentu wajib mengamalkan, menjalankan amanah Undang-Undang Dasar. 20% anggaran pendidikan baik dari APBN maupun APBD. Kalau saya harus membuka bagaimana wajah APBN kita, Anggaran Pendapatan Belanja Negara yang insya Allah tahun 2006 ini jumlah mencapai 600 triliun lebih. Tahun 2005 ini masih di bawah 600 triliun. GDP kita tahun 2005 ini sekitar 2.600 triliun, insya Allah tahun depan meningkat lagi. Kalau kita lihat jumlahnya 600 triliun itu untuk membiayai semua program pendidikan memang terjadi konflik mana yang tidak boleh diabaikan. Apakah hanya pendidikan? Apakah juga tidak kesehatan? Program-program pengurangan kemiskinan dan lain-lain yang ternyata semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pak Boediono yang mengubah kebijakan fiskal, Menteri Keuangan, saya yang mengambil keputusan terakhir. Anggota DPR yang membahas bersama-sama Pemerintah tentang APBN itu di pusat. Gubernur dengan DPRD-nya membahas pada tingkat daerah juga terus mencari akal bagaimana di satu sisi anggaran pendidikan menuju betul-betul 20% tapi anggaran yang lain juga mendapatkan porsi yang lumayanlah meskipun tidak sebesar pendidikan. Kita ingin benar-benar menuju ke 20 % lebih cepat, lebih baik. Ini yang menjadi komitmen Pemerintah. Itu yang pertama.
Yang kedua, ketika kemarin kita harus mengambil kebijakan yang pahit. Berat bagi seorang Presiden seperti saya harus mengambil kebijakan menaikkan BBM. Karena persoalannya sangat berat bagi APBN kita, masa depan ekonomi kita dan juga dihadapi oleh Negara-Negara lain maka dengan naiknya BBM kita memberikan kompensasi kepada pendidikan dan kesehatan, utamanya itu. Apa yang kita capai? Pendidikan 9 tahun, wajib belajar harus menuju ke pendidikan gratis. Sudah kita mulai 2005 ini, 2006 plus membangun gedung-gedung, meringankan biaya pendidikan, meningkatkan gaji guru insya Allah mulai tahun 2006. Dengan demikian pendidikan kita makin berkualitas karena fasilitasnya kita tingkatkan, makin murah karena kita bantu dengan demikian peluang untuk mengikuti pendidikan makin juga tinggi. Kesehatan juga demikian, gratis berobat di Puskesmas, gratis berobat di Rumah Sakit kelas 3. Dengan demikian golongan miskin dan setengah miskin yang jumlah 62 juta sangat kita bantu meringankan kehidupannya. Itu juga kembali ke pendidikan.
Yang ketiga, kita juga ingin meningkatkan beasiswa bagi mereka yang tidak mampu. Kemarin saya meninjau, kemarin bulan maksud saya. Saya ke Jawa Tengah meninjau sebuah SMP, meninjau sebuah SMA dan meninjau sebuah Akademi, akademi yang di Magelang, Akademi Militer. Saya mengajak beberapa pejabat termasuk Menteri memikirkan bagaimana kita bisa meningkatkan beasiswa kepada putra-putri kita terutama golongan yang belum mampu agar mereka mendapatkan kesempatan yang lebih besar. Itu yang ketiga.
Kemudian yang keempat, kita tingkatkan kerja sama dengan Negara-negara sahabat, dengan UNESCO, dengan PBB dalam arti luas. Dan setiap saya berkunjung ke luar negeri selalu agenda kami bagaimana ada koordinasi dengan kerja sama meningkatkan pendidikan. Ini dalam banyak hal juga membantu secara sangat significant. Sebenarnya mutu pendidikan di Indonesia tidak boleh dianggap jelek ataupun tertinggal jauh dari Negara-negara lain. Meskipun beberapa Negara harus kita akui mutu pendidikannya baik. Apalagi Negara maju karena anggarannya cukup, fasilitasnya cukup, gurunya mengikuti pendidikan yang benar dengan kesejahteraan yang benar. Tetapi tidak berarti kalau kita belum memiliki anggaran seperti itu lantas kita boleh atau membiarkan begitu saja mutu pendidikan kita.
Itu yang dapat saya sampaikan dan kami akan terus berjuang. Saudara Erlangga, anda juga pendidik. Tolong juga, sama-sama kita kelola pendidikan kita dengan kualitas yang lebih tinggi. Dengan demikian baik Negara, Pemerintah, masyarakat luas, mereka-mereka yang bisa memberikan donasi, membikin foundation atau yayasan pendidikan itu juga bisa memberikan sumbangan yang makin besar kepada dunia pendidikan kita.
Sepuluh hari yang lalu saya membuka 2nd International Junior Science Olympiad di Yogyakarta. Kita mendapatkan medali emas, berapa? Enam. Padahal 36 Negara itu, kita juara pertama. Kemudian kemarin di Kuala Lumpur, saya mendapatkan good news lagi. Dua putra kita, satu dari Papua, satu dari Jakarta mendapatkan piala emas di Rusia. Artinya apa? Saya yakin putra-putri Bangsa Indonesia tidak kalah. Saya meninjau Microsoft di Amerika Serikat ketemu seperti ini the best and the brightest man and woman dari Indonesia yang juga cakap. Saya ketemu dengan mereka-mereka yang bekerja di Eropa, bekerja di Malaysia dengan teknologi tinggi. Artinya apa? Kita juga punya modalitas yang tinggi sejalan dengan usaha kita meningkatkan pendidikan di Negara kita, menciptakan lapangan kerja yang lebih luas. Saya yakin pada saatnya nanti sumber daya manusia kita bisa mengangkat pembangunan kita, kemajuan kita.
Tadi masalah Pak Sartono ya. Tolong, Dik Erlangga kirim surat saja kepada Menteri Pendidikan Nasional tembuskan ke saya, ya. Mengapa? Ini bukan rahasia. Saya ini membuka Pos SMS. SMS yang masuk ke saya mulai Bulan Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember sekarang jumlahnya kemarin 1,8 juta mungkin sudah 2 juta. Betul, ada 7 orang yang setiap hari mengelola SMS dan PO BOX 9949 Jakarta 10000. Banyak saran-saran seperti ini. Saya pernah punya cerita sedikit. Suatu saat pagi hari, saya sedang di kamar mandi. Ibu Negara, istri ini menerima SMS dan kemudian telpon dari seorang guru di Pati, Jawa Tengah, guru bantu ya. Ragu-ragu diterima enggak oleh Ibu Negara.
Singkat kata dibuka, sadar, saya langsung keluar dari kamar mandi. Saya langsung berbicara dengan mereka. Tidak menyangka mereka, saya bisa, mereka saya terima langsung pembicaraannya itu dan itu masalah guru bantu yang konon gajinya terlambat. Abis itu sidang Kabinet. Saya sampaikan kepada Menteri Pendidikan agar guru bantu di Pati, sekolahnya ini belum terima tolong Bapak Bambang Sudibyo, Menteri Pendidikan Nasional diurus. Singkat kata kemudian diurus dan haknya bisa diberikan. Artinya apa ? kalau ada masalah-masalah seperti ini berikan, sampaikan, informasikan kepada yang bersangkutan kalau lebih nyaman boleh ditembuskan ke saya, ya. Saya ingin tahu tadi jasanya apa. Tidak mungkin kita melupakan jasa dari beliau-beliau pendidik, budayawan, seniman yang ikut menciptakan sesuatu untuk Bangsa dan Negara kita, ya.
Yang kedua, Munir. Begini, ketika Saudara Munir meninggal. Saya kenal Munir, beberapa kali bahkan bertemu dengan saya, berdialog dengan saya. Pernah waktu saya masih menjadi Menteri saya undang di kantor ada yang mendampingi saya dulu. Munir punya gagasan bagaimana menyelesaikan masalah Aceh waktu itu. Tidak semua pandangan Munir sama dengan pandangan saya. Tapi ada juga pandangan-pandangan yang saya perhatikan karena memang ternyata juga membawa kebaikan. Begitu Saudara Munir meninggal, saya masih ingat waktu itu Bulan September barangkali karena saya ada acara seperti ini. Saya pimpin waktu itu kepada seorang sahabat gitu ya untuk hening sejenak karena berita itu mengejutkan. Dan setelah itu ketika saya menjadi Presiden maka kita lanjutkan proses hukum, penegakan hukum atas kematian Saudara Munir.
Sistem harus bekerja, Kepolisian bekerja, Kejaksaan bekerja. Satu penyidik, satu penuntut. Setelah disidik, dituntut pengadilan bekerja karena yang memutuskan tuntutan adalah Hakim pengadilan. Lantas ada suara dari masyarakat bagaimana kalau ini diwadahi dan akan membantu Kepolisian dan Kejaksaan. Lahirlah TPF waktu itu memberikan bantuan-bantuan. Saya ingin semua itu menuju ke penegakkan hukum yang benar. SBY tidak boleh mencampuri proses hukumnya tapi kewajiban saya mendorong Kepolisian, mendorong Kejaksaan, mendorong pihak pengadilan melewati Ketua Mahkamah Agung. Tolong kematian Saudara Munir ini kalau itu menyangkut masalah hukum diselesaikan menurut aturan hukum yang berlaku. Yang saya tahu dan saya juga terus memonitor pengadilan sudah berjalan sekarang ini.
Kemudian tentu saya akan meminta lagi perkembangan dari Saudara Jaksa Agung dan Kapolri nanti seperti apa prosesnya. Tapi yang jelas tidak ada pikiran Presiden untuk mempengaruhi jalannya proses penegakkan hukum, tidak ada. Kalau dikatakan SBY tidak berani. Yang tidak berani mananya? Saya tidak boleh, “pokoknya harus dijatuhi hukuman 10 tahun atau pokoknya jangan dijatuhi hukuman, tidak boleh”. Politisi tidak boleh mencampuri masalah hukum. Yang menegakkan hukum ada, Kepolisian penyidik, Kejaksaan penuntut, Hakim pemutus tuntutan. Kewajiban saya memastikan jangan ada, apa namanya, penyimpangan-penyimpangan dalam penegakan hukum itu.
Sekembali saya ke tanah air nanti akan saya cek bagaimana perkembangannya. Tapi yang jelas laporan yang saya terima terakhir.pengadilan terhadap Saudara Pollycarpus, ya itu sudah, bagaimana? Itu sudah berjalan, tolong diikuti juga ya. Jadi itu, sehingga tidak relevan apakah SBY berani, tidak berani karena sudah menjalankan kewajiban saya sebagai Kepala Negara untuk memastikan hukum berjalan dengan benar. Pengadilanlah yang menetapkan nanti, salah, tidak salah. Salahnya berat atau salahnya sedang atau salahnya ringan. Salahnya berat hukumannya berat, salahnya ringan hukumannya ringan. Kan begitu, itu menyangkut penegakkan hukum dan kita juga bekerja sama dengan Belanda. Kita bekerja sama dengan yang lain-lain agar proses penegakkan hukum ini berjalan dengan benar.
Yang kedua, Saudara Nasution, nama depannya apa tadi, Hendra, bukan ade. Baik. Ya saya senang anda yang relatif muda, adik saya mengerti bahwa untuk mencapai sesuatu harus kita perjuangkan, kita usahakan, upaya, ikhtiar semaksimal mungkin. Tapi kalau Bangsa ini seperti sikap anda tidak mengeluh, tidak putus asa, tidak pandainya menyalahkan, ya bekerja bersama-sama sampai tujuan yang kita kehendaki. Hubungan baik dengan Kedutaan Besar saya berterima kasih. Kemarin di Kuala Lumpur, saya juga tahu hubungannya juga baik meskipun ada masalah-masalah sedikit tapi ya harus profesional semuanya begitu waktu saya berkunjung di Kuala Lumpur kemarin.
Nah ,sekarang tentang isu pelecehan SBY. Saya terus terang tahunya itu baru kemarin ketika istri ini, “Eh itu gambar papa dibikin-bikin di internet katanya ada artisnya, ada gambar Bambang Tri-nya, macam-macam begitu”. Saya tidak sempat berpikir karena saya sibuk untuk pertemuan puncak kemarin, begitu ya. Dengan diangkat malam hari ini, saya malah ingin tahu kayak apa sih gambar saya itu. Cuma begini, memang merupakan hak, kebebasan seseorang untuk mengekspresikan ide-idenya, pikirannya. Itu yang dikenal dengan hak seseorang untuk menyampaikan pikiran baik lisan maupun tulisan. Diwadahi oleh Undang-Undang Dasar kita pasal 28 A sampai 28 J tentang hak-hak asasi manusia. Haknya ini, haknya itu, banyak sekali haknya tapi ingat 28 J setelah A, B, C, D, E, F, G, H, J itu mengatakan bahwa hak itu ada pembatasannya. Pembatasannya itu tidak boleh mengganggu hak orang lain, tidak boleh menyentuh norma-norma susila, agama, keamanan dan ketertiban, bunyinya begitu.
Jadi kalau misalkan gambar saya itu ditempelkan dengan gambar artis, misalnya gitu ya, beredar, difotokopi, disebarkan di kota-kota terus anak saya baca gitu. Anda bisa merasakan bagaimana pikiran anak saya, “Ada apa? Ayah saya kok foto-foto sama si artis gitu?” atau Ibu. Atau gambar anda dik yah. Disampingkan dengan artis siapa, beredar, dibaca istri bisa membikin repot, bisa juga, bisa membikin repot. Oleh karena itu, saya tidak tahu seperti apa gambarnya. Gunakan hak dengan hati-hati, tidak menimbulkan masalah apapun dengan demikian kita enak saling menghormati.
Dan saya memang belum tahu kalau ada pemanggilan kepada yang bersangkutan oleh Kepolisian. Yang saya tahu memang Kepolisian itu menegakkan hukum. Tapi melewati forum ini nanti, saya kira siapa nih yang bisa menyampaikan Kapolri. Begini kalau saya itu, kalau itu bukan sesuatu apa istilahnya itu ya? Sesuatu design untuk sengaja melakukan pelanggaran atau kejahatan terhadap seseorang, terhadap Kepala Negara. Panggil saja, dinasehatilah “Eh, meskipun anda punya hak, bisa main internet ini, enggak bagus ini, coba nanti kalau beredar kemana-mana rakyat kita percaya SBY kok kesana, kemari foto sama artis, kayak apa nanti begitu?”. Mengerti dik yah?
Jadi persuasif saja, diajari, dikasih tau banyak ide yang bagus kok. Itu negara lain, pemuda lain idenya mau pesawat terbang, kapal selam, bio energi, listrik yang murah banyak sekali ide kok gambar-gambar begitu. Sayang Bangsa Indonesia pinter-pinter, kepinterannya bukan untuk membikin sesuatu yang meningkatkan kekayaan dan kemajuan kita. Jadi pesan saya begitu, kasih tahu saja, tidak baguslah, sudahlah, cari yang lain-lain saja, enggak usah di, apa namanya, dikembang-kembangkan meskipun saya dikasih tahu, dinasehati sajalah supaya tidak berkembang. Begitu dik yah.
Tadi Adinda Rubi yang bertemu saya di Cipaso yah, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Begini, tidak ada kebijakan Nasional untuk melakukan apa istilahnya, registrasi atau pencatatan santri-santri di pesantren-pesantren. Minggu lalu saya bertemu dengan Ketua DPR, Pak Agung Laksono, Ketua DPD, Pak Ginanjar Kartasasmita, Ketua MPR, Bapak Hidayat Nurwahid, saya didampingi oleh Wapres dan didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara. Pak Hidayat Nurwahid juga menanyakan kepada saya, “Pak Presiden, saya dengar-dengar katakanya pesantren, santrinya di sidik jari, apa itu policy Pemerinta?”. Masyaallah, Pak Hidayat ya enggak ada, bagaimana Pemerintah tanpa tujuan tiba-tiba seperti itu. Akhirnya diberitahu, itu kejadian di Ciamis kalau enggak salah ya. Satu kecamatan seperti itu dan yang jelas, ya yang jelas tidak ada policy seperti itu, tidak sepatutnya kita melakukan sesuatu yang tanpa tujuan yang membikin keresahan dan menimbulkan masalah-masalah baru di tanah air kita ini. Itu yang pertama.
Kemudian memang yang kita perlukan sekarang ini, kartu pengenal diri. Sekarang ini macam-macam, ada yang punya dua, tiga KTP. Mohon maaf loh. Ada yang punya dua paspor. Ada yang di Jawa Timur namanya Parno. Begitu pindah ke Lampung namanya Pardi. Kemudian ke Kalimantan jadi Parji. Nanti kalau sudah satu, one single identification card, semuanya sama, namanya ya itu, wajib pajaknya itu, tanggal lahirnya di situ, golongan darahnya O, pekerjaan ini, punya tabungan kalau punya ya ini kartu tabungannya, one single id card. Dimanapun sama, tidak mudah dipalsukan. Kalau itu berlaku bagi Warga Negara yang kemarin di Malaysia saya sudah bicara dengan Multimedia … Reader karena ada contoh yang bagus. Tolong nanti bicara sama saya karena kami akan bikin Indonesia supaya tentram punya ID Card yang bagus tidak digunakan untuk kejahatan, tidak dicurigai ke sana, sini dan sebagainya. Itu yang terjadi.
Kemudian, kalau pandangan-pandangan yang hidup di masyarakat ya. Tidak semua Negara yang mengelola. Agar masalah-masalah, kalau masalah aqidah ya tentunya para ulamalah ya, ada MUI, ada organisasi keislaman yang lain, ada ulama-ulama dan sebagainya. Kalau soal ajaran itu sendiri, aqidah itu sendiri pada prinsipnya Negara itu tidak akan menyampuri. Keliru nanti, salah karena sudah saya tentukan. Ada Al Qur’an, Al Hadist dan hal-hal yang ulama lebih mengetahui. Pesan saya kita hidup dalam suatu keluarga besar, identitasnya beragam, etnisnya beragam, agamanya berbeda-beda, sukunya berbeda-beda, daerahnya berbeda-beda, kita satu, kita harus rukun, kita harus harmonis.
…(kaset dibalik)… kejahatan keluar dari pesantren diduga terlibat apapun itu dan dicari orang itu. Jadi enggak berarti kalau pesantren itu lantas diobrak-obrik, orang itu saja. Mari kita letakkan dengan benar. Tapi yang jelas tidak ada diskriminasi, tidak ada rencana atau agenda Pemerintah yang tidak terang, yang tidak jelas dan tidak ada itu misalkan policy yang tanpa tujuan seperti yang beredar beberapa saat lewat SMS dan lain-lain. Itu saya pastikan. Dengan demikian kalau ada hal-hal yang tidak jelas tolong dikonfirmasi kepada kami dengan demikian bisa kita jelaskan.
Saya kira itu yang dapat saya sampaikan. Rasanya meskipun saya masih ingin lama, lebih lama lagi tetapi nampaknya, lima hari tersedot betul. Besok jam berapa kita pergi ke itu? Baik, saya kira itu saja. Saya pesan satu begini, negara kita ini sekarang sedang dilihat dengan kacamata yang sebenarnya baik. Banyak pemimpin di dunia, banyak bangsa lain melihat Indonesia ini gigih dalam melakukan reformasi, dalam menjalankan demokratisasi, dalam membangun kembali ekonominya, dalam mengatasi masalah-masalah dalam negeri secara damai, peran internasional yang pas dan sejumlah penglihatan mereka yang lihat kita ini dalam kacamata yang baik.
Kewajiban kita, mari kita semua ikut menjaga nama baik bangsa dan negara kita. Kami yang di tanah air akan bekerja sekuat tenaga siang dan malam. Harapan saya, pesan saya saudara-saudara yang bertugas di Thailand ini, di Negara lain ini juga melakukan hal yang sama. Kalau berprofesi, berprofesilah yang baik, ikuti Undang-Undang dan peraturan setempat, ikuti bagaimana adat istiadat dan kebiasaan secara etika di tempat ini dan lain-lain. Dengan demikian, kita dilihat dalam kacamata, dari kacamata yang baik. Tolong jadi duta bangsa yang baik. Cegah, hindari kegiatan-kegiatan, pelanggaran-pelanggaran, penyimpangan-penyimpangan yang menurunkan nama baik bangsa dan Negara kita.
Saya kemarin agak shock di Kuala Lumpur. Betapa tidak? Ada seorang warga negara kita, seorang wanita yang ditipu oleh saudara kita sendiri diberangkatkan dari Medan. Katanya akan bekerja di tempat yang baik di Kuala Lumpur tapi ternyata dipaksa menjadi PSK, tidak mau, mendapatkan kekerasan, akhirnya bisa keluar. Ini memalukan, mencemarkan nama baik kita. Saudaranya sendiri ditipu, harus menjalankan pekerjaan seperti itu dan tuntutannya mengerikan sekali. Saya sama istri sampai enggak bisa tidur, semalam. Harus menjalankan ini, itu, luar biasa. Bayangkan makanya setelah kita langkah cepat sudah kita tangkap yang menjual, yang menyelundupkan, yang memperdagangkan tidak benar itu kita tangkap di tanah air, dua orang. Ada akhirnya di sini juga orang kita sendiri sudah kita tangkap di Kuala Lumpur.
Kemudian ada dugaan, ada keterlibatan Warga Negara Malaysia sedang kita cek. Kalau betul ya kita berharap itu dicegahkan. Maksud saya, aib seperti ini mencoreng nama baik kita. Justru kita harus mencegah, menghindari hal-hal semacam itu. Jangan kita nila setitik rusak susu sebelanga. Kalau kita belum bisa berbuat yang lebih besar untuk rakyat kita, bangsa kita jalankan profesi dengan baik dimanapun Bapak-Ibu, saudara berada, berprilakulah yang baik, bawa keharuman bangsa dan Negara kita. Itu pesan saya. Itu harapan kita. Kami menyayangi saudara semua, kami mencintai saudara semua. Mari kita berdoa kehadirat Allah SWT agar bangsa kita diberikan bimbingan, petunjuk dan lindungan-Nya. Dan kemudian kita membangun kembali menuju hari esok yang lebih baik.
Sekian. Selamat bertugas. Selamat mengabdi.
Tuhan beserta kita.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
* * * * *
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



