Wawancara & Kolom

Wisma Konsul Jenderal RI, New York, AS, Selasa, 25 September 2007

Dialog dengan Tokoh Masyarakat Indonesia di New York

 

TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN
TOKOH MASYARAKAT INDONESIA DI NEW YORK
WISMA KONSULAT JENDERAL RI DI NEW YORK
25 SEPTEMBER 2007



Presiden Republik Indonesia
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati, Saudara Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat,
Saudara Duta Besar Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa,
Saudari Konsul Jenderal Republik Indonesia untuk New York,
Para Diplomat dan Staf baik KBRI, Watapri maupun KJRI New York,
Keluarga besar masyarakat Indonesia,

Hadirin sekalian yang saya cintai dan saya banggakan,
Pada malam yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak Saudara semua untuk terlebih dahulu memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, tugas kita dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta. Kita juga bersyukur karena malam hari ini, setelah melaksanakan santap malam bersama, buka puasa bagi yang menjalankan ibadah puasa, kita dapat melanjutkan dengan acara tatap muka, atau silaturahim yang kita laksanakan di tempat yang indah, di Gedung KJRI New York ini.

Saudara-saudara,
Dalam mengemban tugas negara kali ini ke New York, saya didampingi oleh sejumlah pejabat negara, bukan hanya pemerintahan yang akan saya kenalkan satu per satu, karena langka pertemuan seperti ini dan pepatah mengatakan, “tak kenal maka tak sayang”, “datang tampak muka, pergi tampak punggung”. Jadi wajib saya mengenalkan rombongan saya dari Jakarta.

Dari kanan, saya ingin memperkenalkan pertama-tama, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Saudara Aburizal Bakrie. Di sebelah kanan beliau, Sekretaris Kabinet, Sudi Silalahi. Menteri Luar Negeri, Saudara Hassan Wirajuda dan Ibu. Menteri Negara Lingkungan Hidup, Saudara Rahmat Witoelar dan Ibu Erna Witoelar.

Saya, biar selesai sayap kanan, wing kanan dulu, di belakang adalah Ketua Komisi VII DPR-RI, Saudara Erlangga Hartarto. Di sebelah kanan beliau, Anggota Komisi I DPR-RI, Saudara Guntur Sasono. Sebelah kanan beliau, Anggota Dewan Perwakilan Daerah, anggota senior, Saudara Sarwono Kusumaatmadja, saya kira sudah mengenal. Di sebelah kanan beliau adalah Rektor Universitas Airlangga, Profesor Doktor Hasif. Di sebelah kanan beliau, Rektor Universitas Padjajaran, Profesor Doktor Ganjar Kurnia. Habis yang kanan ya.

Sekarang yang kiri. Kiri adalah Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, Saudara Ali Alatas beserta Ibu. Sebelah kiri beliau, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Urusan Lingkungan Hidup, Bapak Emil Salim beserta Ibu. Di sebelah kiri beliau, Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah, Saudara Alwi Shihab. Kepala BKPM, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Saudara Lutfi. Ketua Kamar Dagang dan Industri Nasional Pusat, Saudara MS Hidayat. Kemudian, Pimpinan Yayasan Forum Indonesia, yang juga pejabat senior salah satu media, Saudara Chairul Tandjung.

Kemudian, biar lengkaplah ya, dari kanan, Kepala Protokol Negara, Bapak Handriyo Kusumo Priyo. Sebelah kiri beliau, Sekretaris Militer Presiden, Mayor Jenderal TNI Bambang Sutedjo. Sebelah kiri beliau, ini Pimpinan SCTV yang ikut bersama kita. Sebelah kiri beliau adalah salah satu tokoh lingkungan sebetulnya, Bapak Rahmatsyah dari Sumatera Utara. Sebelah kirinya adalah Komandan Pengamanan Presiden, Paspampres, Mayor Jenderal TNI Suroyo Gino, yang insya Allah akan menjadi Pangdam III Siliwangi, penggantinya sudah ada, Brigjen TNI Suwarno, yang dulunya adalah Komandan Pusat Kavaleri.

Kemudian Rusdi, Ahmad Rusdi ini adalah, tunggu dulu, dulu namanya Sekretaris Presiden, sekarang Kepala Rumah Tangga Presiden. Sebelah kirinya, Juru Bicara Presiden, Doktor Andi Mallarangeng. Mana Dino ini? Salah satu Juru Bicara Presiden di belakang, ya, Saudara Doktor Dino Patti Djalal. Juga ada rombongan pemimpin redaksi, wartawan senior dan juga rombongan-rombongan lain yang menjadi bagian utuh dari delegasi Indonesia.

Kami semua mengemban tugas, baik tugas dalam kerangka Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, juga tugas-tugas lain yang bersifat internasional. Ini rombongan kami, dan sejak tanggal berapa kemarin datang kita? Sampai lupa tanggal ini, 23, ya agak panjang terbangnya. Saya kira sudah membayangkan dari Jakarta ke Tokyo, Tokyo ke Vancouver, Vancouver langsung ke New York. Kita buka puasa antara Tokyo-Vancouver. Cukup panjang, tetapi pikiran senang, meskipun waktu itu udara agak kurang bersahabat. Menteri PU-nya kurang bagus, karena geronjalan jalannya waktu terbang itu.

Pertama-tama, Saudara Duta Besar dan semua jajaran perwakilan kita di Amerika ini, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, karena sejak rombongan kami datang, hingga hari ini, sampai nanti kembali ke tanah air, Saudara telah melakukan banyak hal, melakukan penyambutan, mengatur angkutan, mengatur acara, mengatur makanan sahur, buka dan kegiatan lain yang jelas menyita tenaga, waktu dan pikiran Saudara semua. Saya atas nama kepala rombongan mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.

Yang kedua, saya juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Saudara-saudara yang mengemban tugas di Amerika Serikat, baik dalam jajaran KBRI, Watapri maupun KJRI, maupun yang mengemban tugas dan karya lain di berbagai profesi, yang saya mendapat laporan, Saudara menjalankan tugas, membawa nama bangsa Indonesia dengan baik. Oleh karena itu, terimalah ucapan terima kasih, kebanggaan dan penghargaan saya yang setinggi-tingginya. Teruslah tampil dengan baik, sehingga citra, nama baik, kehormatan Indonesia di Amerika Serikat juga dalam standing, dalam posisi yang baik.

Saudara-saudara,
Sebagaimana saya sampaikan tadi, rombongan atau delegasi yang saya pimpin ini menghadiri rangkaian kegiatan di Perserikatan Bangsa-Bangsa, antara lain debat di Majelis Umum, kemudian menghadiri pertemuan puncak Dewan Keamanan PBB, tentu dihadiri oleh para Kepala Negara, Kepala Pemerintahan Dewan Keamanan. Lantas menghadiri High Level Event on Climate Change yang juga disponsori oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan bahkan, karena Indonesia akan menjadi tuan rumah pada Konferensi PBB tentang Climate Change pada bulan Desember yang akan datang, kita dilibatkan dalam berbagai kegiatan, yang tentunya kita syukuri, tapi juga sekaligus pekerjaan rumah yang harus kita emban dengan baik nanti, untuk menyukseskan Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Denpasar pada bulan Desember yang akan datang.

Disamping yang sifatnya multilateral, ada sejumlah kegiatan bilateral saya, dan selalu kita manfaatkan, mumpung para Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, kolega-kolega saya ada di New York ini, lebih efisien, tidak perlu saya berkunjung ke negara yang bersangkutan, tetapi bisa bertemu di sini, dan kami lakukan sejumlah atau serangkaian pertemuan bilateral yang tujuannya adalah untuk kepentingan kita, kepentingan domestik, kepentingan nasional kita, juga kepentingan bersama, dengan kemitraan atau partnership yang tentu membawa manfaat bagi kedua negara secara bilateral itu.

Pertemuan bilateral yang kita laksanakan antara lain, pertemuan saya dengan Presiden Lula dari Brazilia, pertemuan saya dengan Perdana Menteri Irak Al Maliki, pertemuan saya dengan Perdana Menteri Belanda Balkenende. Pertemuan saya dengan Perdana Menteri Denmark, dengan Presiden Nigeria yang terpilih, lantas pertemuan saya dengan Presiden Bank Dunia, World Bank. Besok, Insya Allah akan bertemu dengan Direktur Jenderal International Labor Organization, ILO. Kemudian besok saya akan bertemu Presiden Iran Ahmadinejad. Akan bertemu Presiden Palestina, Mahmoud Abbas. Lantas ada forum bersama dengan beberapa Kepala Negara Eropa tentang penyuksesan MDGs, Millenium Development Goals dan sejumlah kegiatan yang Usindo dan yang lain-lain, yang tentu semuanya kita arahkan untuk sebesar-besar kepentingan kita, kepentingan Indonesia.

Terus-terang, meskipun udara New York ini cantik sekali, teduh, sejuk, bagus begitu, tapi saya kurang menikmati, karena oleh pengatur acara dibikin saya mulai pagi sampai malam. Tadi malam, sampai jam 10 malam karena ada working dinner yang dihadiri oleh beberapa Kepala Negara yang dipilih. Dan semua harus bicara sehingga larut malam baru pulang. Pagi sudah mulai lagi, baru selesai tadi, yang lain sudah cantik-cantik pakai batik, kami masih lari-lari, karena terakhir masih ketemu dengan Sekjen PBB Ban Ki-Moon, kemudian ganti pakaian langsung menuju ke tempat ini.

Besok, harapan kita juga agak rileks, ternyata padat juga. Kapan lagi untuk menghukum Presiden gitu, kasih jadwal yang padat. Tapi nggak apa-apa, senang kami, semangat kami tinggi, karena semuanya ini adalah untuk bangsa kita, untuk negara kita, untuk rakyat kita.

Satu hal yang kita syukuri, saya ingin cerita sedikit. Cerita ini saya ceritakan berkali-kali. Tahun 1999 ada masalah di Timor Timur, masih ingat ya, Indonesia dimintai pertanggungjawabannya di PBB. Ada Sidang Dewan Keamanan PBB untuk mengadili dalam tanda kutip Indonesia. Waktu itu Menlu kita Bapak Ali Alatas, beliau mewakili Presiden Indonesia untuk menjelaskan, mempertanggungjawabkan di depan Dewan Keamanan PBB.

Saya, itu tahun 1999, masih bertugas di TNI, pangkat saya Letnan Jenderal, singkat kata saya ditugasi mendampingi beliau, Pak Ali Alatas. Masuk ke Dewan Keamanan PBB, dituding-tuding, dimacam-macam, seperti kalau kita terdakwa atau tersangka itu. Dengan pikiran yang seperti itu, bisa dirasakan. Saya masih ingat kita langsung makan di masakan Jepang, di New York. Itu Pak Ali Alatas masih ingat. Saya bicara sama beliau, ”Pak, Pak, rasanya saya kok nggak terima dibegitukan negara kita ini. Tapi kita nggak berdaya karena memang suasananya seperti itu. Insya Allah suatu saat Pak, kita datang di PBB bukan dituding-tuding, bukan sebagai pesakitan, kita pada standing yang tinggi, memberikan sesuatu, sehingga dignity kita, kehormatan kita tinggi”, itu.

Sampai masuk tahun 2000. Ternyata Allah belum mengabulkan permintaan kami. Tahun 2000 ada insiden di Atambua. Ada tiga petugas PBB tewas, bukan dibunuh, tapi karena ada insiden, tewas. Marahnya luar biasa PBB, kemudian Indonesia dipanggil lagi untuk memberikan pertanggungjawaban. Pak Ali Alatas sudah prei beliau. Saya sebagai menteri senior, Menko Polkam waktu itu. Pak Alwi Shihab masih Menlu, mendampingi saya beliau, ada Pak Agus Wijoyo, dituding-tuding lagi. Seperti dulu.

Kemudian, Allah Maha Besar, dalam keadaan seperti itu saya akhirnya saya taruh teks saya, paper saya, saya menjawab lisan waktu itu, yang intinya saya tidak akan memberikan banyak promise, janji, kami akan berbuat. Silahkan nanti melihat Indonesia, apa yang Indonesia buat. Sudah hampir kita diembargo, sanksi, resolusi mau dikeluarkan lagi. Tetapi ternyata setelah itu kami kerja keras, saya ke Atambua, empat, lima kali, bertemu dengan semua. Singkat kata, masalah itu solved, selesai.

Nah, datanglah rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa. Tahun 2005 saya datang lagi ke sini, sudah pidato di Majelis Umum. Dan kali ini standing kita makin tinggi, karena ternyata tahun-tahun terakhir, diplomasi kita ini mendapatkan pengakuan. Ada tujuh posisi di Perserikatan Bangsa-Bangsa di mana kita berada, dan ternyata kesabaran kita, ketegaran kita, jerih-payah kita, upaya kita, kerja keras itu mulai membuahkan hasil, meskipun masih panjang yang harus kita lakukan, jalan yang kita tempuh ini.

Dan terus terang, pada Sidang Umum PBB kali ini, peran yang diberikan pada negara kita, pada Indonesia, pada saya yang mewakili Saudara semua, cukup terhormat. Dan saya pidato lagi di Majelis Umum, pidato di Dewan Keamanan, dan kemarin duduk di atas bersama Ban Ki-Moon, dan kemudian konferensi pers bersama Ban Ki-Moon. Barangkali inilah cara Tuhan memberikan kemuliaan pada Indonesia yang sabar ketika kita dibegitukan, yang mudah begitulah, pada tahun 1999 dan tahun 2000.

Saudara-saudara,
Ada hikmah, ada pelajaran besar yang dapat kita petik manakala kita menghadapi permasalahan yang berat, ujian yang berat, cobaan yang berat, jangan kita surut, jangan kita patah semangat, tapi dengan kesabaran, dengan ketegaran, dengan kegigihan, kita bekerja yang sebaik-baiknya, berikhtiar yang setinggi-tingginya, untuk mengubah keadaan menuju masa depan yang lebih baik.

Kalau semangat ini kita aplikasikan, kita terapkan dalam membangun kembali negeri kita pasca krisis, ya ekonominya, ya sosialnya, ya hukumnya, ya keamanannya, ya politik luar negeri, semua, saya kira Allah akan memberikan jalan dan negeri kita makin ke depan makin baik. Ini harus menjadikan keyakinan kita, bahwa dengan bersamaan, dengan kerja keras, dengan semangat yang tinggi, mengambil pelajaran dan hikmah dari masa lalu, kita akan melangkah lebih baik ke depan.

Dari cerita saya ini, dan apa yang kita lakukan tiga hari di New York ini, maka dalam waktu dekat, bulan Desember, akan ada Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim yang ternyata sangat diharapkan oleh dunia, kalau Saudara dengarkan melalui televisi atau hadir di persidangan, semua pemimpin dunia, world leaders, delegates, sangat berharap konferensi Bali itu bisa membangun suatu global consensus, bisa membuat suatu road map, bisa menghasilkan suatu kerangka kerjasama baru untuk mengatasi perubahan iklim dan global warming. Tugas yang maha berat, tantangan yang luar biasa, tetapi kita sudah terpilih, kita akan menyelenggarakan perhelatan besar, perhelatan akbar itu, maka tiada lain yang harus kita lakukan kita harus berhasil

Kali ini, bukan hanya urusan Pak Menteri Lingkungan Hidup, bukan hanya urusan Menteri Luar Negeri, tapi urusan Merah-Putih, urusan Indonesia, menyangkut harga diri dan kehormatan kita, standing kita di mata dunia. Dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, saya minta dukungan dari Saudara semua, doa Saudara-saudara semua, kerja keras para menteri, para dewan pertimbangan, dan semua pihak, untuk menyukseskan konferensi Bali.

Bukan tanpa tantangan, Saudara tahu, rezim kerjasama menghadapi menghadapi climate change yang kita kenal dengan Kyoto Protocol, tidak semua berada di situ. Ibarat pesawat tidak semua on board. Ada yang di luar, ada yang dengan pesawat sendiri. Padahal tidak bisa seperti itu. Mesti harus ada satu konsensu, suatu kebersamaan, suatu partnership, agar goals atau tujuan itu bisa kita capai dengan timeline dengan timeframe dengan roadmap yang sama-sama kita bangun. Nah, tugas maha berat itu ada di pundak kita, di pundak Indonesia untuk sidang atau konferensi PBB tentang climate change. Ini PR pertama, segera, immediate homework setelah kita menghadiri pertemuan di New York ini.

Saudara-saudara, tugas besar yang lain, setelah negara ktia dilanda krisis yang luar biasa, maka kita membangun kembali negara kita. Sebelum krisis, kita juga masih terus membangun. Sejak mendiang Bung Karno, Pak Harto dan Pak Habibie waktu itu, sampai awal krisis memang disamping banyak kemajuan yang dicapai oleh bangsa kita, masih ada masalah-masalah fundamental, misalnya bagaimanapun kemiskinan masih menjadi masalah utama di Indonesia, di seluruh negeri. Pengangguran juga menjadi masalah.

Lantas waktu itu, kita juga punya hutang luar negeri. Growth, tumbuh. Sehingga kalau saya ambil indikator pertumbuhan ekonomi baik pada masa sebelum krisis, tapi tiga masalah itu yang menjadi masalah. Nah, ketika krisis, yang tiga masalah itu makin besar, hutang luar negeri makin membengkak, pengangguran makin membengkak, kemiskinan makin membengkak, growth jatuh. Tadinya 7% kurang lebihnya, drop 13% minus sehingga konsepsinya luar biasa, sehingga terjadi deflasi di negara kita dan krisis yang seperti itu. Perjuangan berat kita, perjuangan besar kita sejak krisis sampai sekarang dan seterusnya nanti, adalah membangun kembali negeri kita. Growth yang tadinya positif 7%, minus 13, pelan-pelan kita naikkan kembali. Alhamdulillah, ketika saya meneruskan kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, akhir 2004, mulai mendekati angka yang baik, 5,1%, dua tahun berturut-turut kita bisa mencapai 5,6% kurang lebih, dan tahun ini, insya Allah kita bisa kembali mencapai 6%, lebih harapan kita.

Dengan demikian, kalau ini kita teruskan, kerjasama kita ini, investasi, ekspor, memelihara konsumsi, kemudian pengeluaran pemerintah, government spending, ditambah penggerakkan sektor riil di seluruh Indonesia, maka akan terjadi grow, pertumbuhan ekonomi yang positif. Sehingga dengan pertumbuhan ini, pengangguran tentu bisa berkurang, kemiskinan bisa kita atasi. Itu apa yang kita lakukan secara bersama selama 10 tahun terakhir ini, yang harus kita syukuri.

Yang kedua, meskipun ada tanda-tanda penurunan, ada indikasi penurunan, tetapi, pengangguran dan kemiskinan menjadi PR utama, oleh karena itulah pemerintahan yang saya pimpin meletakkan sebagai prioritas yang tinggi di seluruh Indonesia, terus-menerus mengurangi kemiskinan, terus-menerus mengurangi pengangguran atau menciptakan lapangan pekerjaan.

Hutang, sebenarnya kalau dilihat dari perbandingan hutang ke GDP, debth to GDP ratio, ini juga membaik. Waktu krisis, hutang atau debth to GDP ratio kita 150%, artinya apa? GDP itu untuk membayar hutang pun tidak cukup. Nah, terus kita perbaiki. Waktu saya memimpin, sudah masuk ke 53 setengah persen, perbandingan hutang dengan GDP kita. Terus kita turunkan. Tahun ini sudah mendekati 35%. Berarti ini jauh lebih baik dibandingkan debth to GDP ratio tetangga-tetangga kita, seperti Malaysia, Thailand dan Filipina.

Ini empat indikator yang perlu kita syukuri, meskipun masih harus bekerja sangat-sangat keras, karena akhirnya, pendidikan, kesehatan, usaha kecil dan menengah, pembangunan di seluruh daerah, daerah-daerah tertinggal, harus kita lakukan dengan gigih, agar tahun demi tahun kita bisa melakukan perbaikan.

Ketika kita harus memperbaiki semuanya itu, maka keadaan dalam negeri kita diharapkan kondusif untuk pembangunan kembali negeri kita. Harapan kita, stabilitas politik terjamin. Meskipun kita ingin demokrasi terus mekar, kebebasan terus hadir di negeri kita, penghormatan pada hak asasi manusia terus kita lakukan, tidak berarti negara kita tidak stabil. Negara demokrasi mana pun, stabilitas itu penting. Kita ingin, ke depan, negara kita tetap dan makin stabil.

Demikian juga stabilitas sosial, kohesi sosial, kerukunan sosial, harus kita pelihara sebaik-baiknya, jangan terjadi lagi konflik komunal seperti di Maluku, Maluku Utara, di Poso dan di tempat-tempat yang lain. Merobek persatuan kita, merobek kerukunan kita, akhirnya membangun kembali ekonomi pasca krisis menjadi terseok-seok. Harus kita bikin bagus. Hukum harus tegak, dengan rule of law maka kebebasan akan punya sandingan, terjadilah harmoni, keserasian. Kita tegakkan hukum, berlaku bagi semua, termasuk pembangunan pemerintahan yang baik, good governance, pemberantasan korupsi yang all out, yang progresif dan harus kita lakukan terus-menerus agar masa depan kita tidak gelap. Itu terus kita lakukan sekarang ini.

Demikian juga aspek yang lain. Penyelesaian masalah Aceh, alhamdulillah, sudah seperti ini, meskipun harus kita pelihara, kita menyelesaikan Papua, dengan cara meningkatkan kesejahteraan, dengan membawa keadilan, karena bagaimana pun juga, bisa saja, ide-ide separatisme itu muncul karena persoalan keadilan, persoalan kesejahteraan, persoalan pemerataan. Mari kita gunakan soft power, mari kita gunakan pendekatan kesejahteraan untuk mengatasi ketidakpuasan, discontent, dari daerah-daerah di negeri kita, dari komunitas-komunitas di negeri kita. Itu terus kita lakukan. Tentu tugas-tugas lain, diplomasi kita, hubungan internasional kita, desentralisasi dengan pemerintahan daerah yang makin efektif, ini menjadi pekerjaan besar kita, menjadi tugas kita yang semuanya diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kita. Itulah yang dilaksanakan oleh negeri kita di tanah air, dan tentunya apa yang dilaksanakan oleh duta-duta bangsa di negara mana pun, termasuk di Amerika harus menjadi bagian utuh dari agenda nasional kita.

Saudara-saudara,
Tentu saja membangun kembali negara kita pasca krisis tidak seperti membalik telapak tangan. Tidak berjalan di malam purnama, tidak seindah jalan ke Roma. Banyak tantangan, rintangan, permasalahan, resistensi. Ini masalah selesai, yang lain muncul. Dan ini juga dialami negara-negara lain. Persoalan kemiskinan, persoalan pengangguran, persoalan ketidakpuasan, instabilitas, konflik sosial, juga terjadi di negara-negara lain. Oleh karena itu, apapun harus kita hadapi. Apapun harus kita atasi, dan kita terus untuk membangun, mengatasi berbagai keadaan, melaksanakan reformasi, agar betul-betul kita pulih dari krisis, dan bukan hanya pulih, tapi negara kita makin bangkit dengan kondisi yang lebih baik dari masa sebelum krisis.

Oleh karena itu, kalau ada yang belum puas, ada yang menganggap ini belum dicapai, ada yang menganggap, ini kok masih tinggi, saya pun begitu. Saya pun begitu kalau bicara puas dan tidak puas, saya belum puas dengan apa yang kita lakukan. Tetapi, ketidakpuasan itu tidak menyelesaikan masalah, tanpa diimbangi oleh tekad pemerintah sendiri untuk mengatasi, tanpa mereka yang merasa tidak puas tidak juga ikut menjadi bagian dalam membangun ini. Alangkah baiknya, yang belum puas, yang tidak puas, yang masih mengkritik ini, itu, yang masih mencaci, mencerca ini, itu, demi rakyat, demi masa depan negara kita, ikutlah bersama-sama. Mulia. Rakyat akan senang, karena mereka semua ternyata bukan hanya pandai mencerca, bukan hanya pandai menyalahkan, tapi mereka juga ikut menjadi bagian dalam tugas besar yang harus kita laksanakan di negeri ini.

Saudara-saudara,
Itulah yang saya sampaikan, sehingga nanti kalau mendengar berita dari tanah air, melihat tayangan tv kita, koran-koran kita, telepon segala macam, ya memang kita tengah membangun kembali pasca krisis. Kita tengah melanjutkan reformasi. Kita tengah mengelola transisi atau transformasi, dengan segala tantangan dan permasalahannya. Dan pesan saya, tetaplah mencintai negeri sendiri. Sayangi dan bangga pada bangsa sendiri. Saya sedih, saya menangis kalau ada putra Indonesia justru lebih senang memperolok-olok diri sendiri, menjelek-jelekkan bangsa dan negara sendiri. Memuja bangsa dan negara lain, seolah-olah serba baik dan negara, bangsa kita serba jelek. Tinggalkan itu. Sayangilah, cintailah negara kita. Karena negara juga mencintai, menyayangi Saudara semua, menyayangi, mencintai kita semua. Itu pesan saya. Dengan demikian Allah akan memberikan rahmat yang lebih besar lagi. Memberikan hidayah yang lebih tinggi lagi, karena bangsanya adalah bangsa yang pandai bersyukur. Bangsanya adalah bangsa yang juga gigih untuk memperbaiki masa depannya.

Saudara-saudara,
Itu yang saya sampaikan dan tadi ada pesan Pak Dubes, kalau ada yang ingin menyampaikan sesuatu, tapi saya batasi dua saja. Satu pria, satu wanita, men-streaming gender gitu ya. Silahkan. Supaya saya juga bisa konsolidasi juga, karena mulai sahur sampai sekarang belum konsolidasi. Silahkan Pak Dubes ditunjuk siapa yang mewakili, karena saya tidak tahu.

Dubes RI untuk AS
Yang sedang berdiri sekarang Bapak, Ketua Ikatan Keluarga Indonesia, jadi mewakili. Pak Ridwansyah, yang terpilih melalui pemilihan Ikapaja. Kemudian Ibu, saya perkenalkan, silahkan. Mungkin Ibu memperkenalkan diri saja.

Tokoh Masyarakat dari NGO
Terima kasih atas kesempatan yang diberikan.
Bapak Presiden yang saya hormati,
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,
Sebagai masyarakat yang melihat dari jauh dan juga saya mendengar obrolan dari masyarakat maupun dari teman-teman NGO di Amerika, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih banyak atas capai-capaian kerja Bapak. Kami mengetahui bahwa membangun bangsa bukan masalah yang ringan, seperti Bapak terangkan tadi. Dan mudah-mudahan Bapak terus tetap teguh dengan komitmen untuk membangkitkan bangsa Indonesia yang lebih baik.

Kami ingin menyampaikan suatu permasalahan di sini Pak. Amerika adalah the land of opportunity, banyak peluang-peluang yang sebetulnya kita bisa kerjakan di sini, kaitannya dengan ketenagakerjaan Pak. Tadi, sesuai dengan apa yang Bapak katakan untuk mengentaskan pengangguran. Saya pikir, sekarang permasalahan yang mendasar di sini adalah banyak teman-teman yang akhirnya harusnya kembali pulang karena tidak ada ijin kerja. Tentu sebagai lembaga, saya bekerjasama dengan KBRI juga, memang tidak bisa berbuat apa-apa karena ini berkaitan dengan peraturan lokal di sini.

Tetapi yang kepikiran kami adalah bagaimana ada lobi-lobi tingkat tinggi, sampai mungkin Presiden, atau government, kami berpikir bahwa kalau bisa ditempatkan satu divisi khusus, bagian ketenagakerjaan. Karena saya pikir, kalau kami mendengar teman-teman di Malaysia, di Timur Tengah mendapat perlakuan yang tidak baik, kami menjamin bahwa di sini perlakuan sangat manusiawi dan banyak peluang-peluang yang bisa kita kerjakan. Tapi kami sebagai NGO tentu tidak bisa full time karena kami kerja volunteer. Tapi mungkin dengan diplomasi tingkat tinggi dan juga mungkin ada staf khusus yang memang bagian ketenagakerjaan bisa melakukan lobi-lobi serius, sebagaimana dilakukan oleh teman-teman mungkin dari China maupun dari Amerika Selatan gitu.

Itu saja permohonan kami. Dan mohon tanggapan. Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih Adinda. Negara, pemerintah wajib untuk menyelesaikan masalah warga negaranya di mana pun berada, termasuk yang di luar negeri apabila menghadapi masalah. Dan ini terus-terang menjadi atensi dan agenda kami. Untuk Saudara ketahui, baru satu minggu saya menjadi Presiden, saya harus berangkat ke Tanjung Pinang, ke Dumai, kemudian minggu berikutnya ke Tarakan, ke Nunukan, ke Batam, untuk menjemput saudara-saudara kita yang pulang dari Malaysia waktu itu, jumlahnya puluhan ribu, karena memang harus kembali ke Indonesia dengan syarat.

Kami langsung melaksanakan diplomasi tingkat tinggi untuk setelah beres surat-suratnya, saya meminta kepada Pak Abdullah Badawi, untuk suatu saat bisa kembali bekerja, kalau memang masih ada lapangan pekerjaan. Dan saya minta, waktu itu Ramadhan, mbok jangan, biar dulu sampai selesai Idul Fitri, baru mereka kembali. Kemudian saya juga minta kerjasama, baik petugas Malaysia dan Indonesia, sehingga mereka bisa kembali secara manusiawi dengan pelayanan yang baik.

Pada lobi tingkat tinggi itu, ternyata, waktu itu dapat kita selesaikan dengan baik. Dan belakangan, setelah diadakan pemutihan, dilakukan penertiban administrasi, banyak yang sudah kembali. Dan untuk Saudara ketahui, ada sekitar 1,2 juta tenaga kerja kita di Malaysia. Ada juga yang belum beres surat-suratnya, tapi jangan keras-keras. Lah ini, menjadi tugas kita. Dan KBRI kita dengan pihak Malaysia, Depnaker kita dengan Malaysia, terus bekerja untuk menyelesaikan masalah itu.

Saya juga datang di Timur Tengah, ada masalah-masalah tenaga kerja, saya bertemu di Saudi Arabia, di Kuwait, di Qatar, di Arab Emirat, kemudian saya jemput di Cengkareng, mereka datang, ada 50 yang baru datang, saya tanya satu per satu bersama dengan Ibu Negara. Dari 50 orang itu tiga orang itu mereka diperlakukan tidak baik. Dan kita gunakan langkah hukum untuk meminta keadilan.

Dan dalam proses berikutnya lagi, kemarin di Korea, kami juga bertemu dengan tenaga kerja, atas itu semua Saudara-saudara, sesungguhnya sudah kita keluarkan kebijakan baru, peraturan pemerintah yang baru, fasilitas baru, lounge khusus tenaga kerja, pemberesan surat-surat, agen yang ditertibkan, aktivitas atau sikap proaktif dari KBRI kita, KJRI kita di luar negeri, agar terus-menerus kita bisa perbaiki bagaimana perlindungan tenaga kerja kita mengatasi masalah yang dihadapi oleh mereka. Penggajian mereka, perlakuan mereka, perlindungan hak dan hukumnya.

Inilah yang terus kita lakukan. Dan kembali kepada Amerika Serikat, saya juga monitor terus, saya berkomunikasi. Memang benar bahwa sesungguhnya pemerintah Amerika Serikat cukup generous di dalam memberikan peluang bagi mereka yang bekerja di negara ini. Tetapi sikap generous ini jangan lantas kita menyalahgunakan, dalam arti kita tidak berusaha untuk secara tertib administrasi, tertib secara hukum, sehingga bisa bekerja dengan baik. Banyak yang bekerja di sini, yang saya tahu, melaksanakan studi, bekerja, yang itu juga lengkap sekali persyaratan-persyaratan hukum dan administrasinya.

Ada masalah-masalah yang saya juga sudah mendapat penjelasan, saya pesan, tolong terus-menerus dicarikan solusinya yang baik, baik pada tingkat KBRI, pada tingkat KJRI, Watapri, nggak ngurusin tentunya ya, tidak ya? Dan saya juga akan, sarannya bagus sekali, saya akan tugaskan nanti Menteri Tenaga Kerja dengan Kepala Badan Tenaga Kerja yang baru, untuk memikirkan, karena di Korea juga akan kita bangun nanti, di sana, 38 ribu orang tenaga kerja, kita bentuk, sehingga antara pemerintah Korea, KBRI kita, ada jembatan itu. Dulunya NGO, NGO kan nggak bisa terus-menerus. Ini kita bangun seperti itu. Saya kira untuk Amerika sangat bisa kita lakukan. Sekretaris Kabinet, nanti tolong, ada Pak Ical juga di sini, sampaikan Menaker, sampaikan di Badan Tenaga Kerja kita untuk nanti berkomunikasi dengan Pak Dubes, dengan Ibu Konjen, supaya bisa kita rampungkan.

Pesan saya adalah, sambil kita mengatasi surat itu, sambil kita melakukan lobi, sampai tingkat saya pun siap melakukan lobi untuk kepentingan warga negara kita, jangan menambah atau, bagi yang masih ada masalah, jangan menambah dengan masalah-masalah baru. Sudah mengerti maksud saya ya. Kalau commited to crime, ya saya nggak bisa apa-apa. Tapi kalau ada yang belum beres di sana, sini, coba kita cari terus pintu masuknya di mana, celahnya di mana, supaya dengan caranya yang baik bisa teratasi masalah itu.

Jadi, jawaban saya, kita akan terus lakukan yang Saudara inginkan. Saya akan tugasi nanti untuk bicara langsung di sini dan apa yang bisa kita lakukan. Kalau solusinya harus membentuk tim di sini, perwakilan, atau agent, atau LO, kita lakukan. Kita lihat, nanti seberapa besar magnitude persoalannya, dan urgency-nya.

Sampaikan salam saya kepada semua tenaga kerja yang tidak bisa ketemu malam hari ini. Ya, tetaplah sayang pada negerinya, baik-baik di negeri orang. Taati hukum, taati peraturan, sikapnya yang baik sebagai warga Indonesia yang santun, yang beradab, yang juga punya nilai dan budaya yang luhur.

Terima kasih. Silahkan Ibu tadi.

Selfia Lalamentik Reger
Terima kasih atas kesempatan ini.
Kami sangat bersyukur dan merasa diberkati dengan keberadaan Bapak-bapak dan Ibu-ibu dari rombongan Indonesia, Selamat Hari Raya Idul Fitri. Saya dari organisasi Kawanua USA East Coast, juga dari American-Asian South Broklyn County, dari Asian-American Woman Alignment for Friendship and Equality. Nama saya Selfia Lalamentik Reger.

Banyak anak-anak Indonesia lahir di negara ini ya. Dan banyak beberapa sudah tamat college, ada yang masih di high school, ada yang di elementary school, dan ada yang sudah bekerja di sini dalam bidang kesehatan, satu sebagai dokter di CBC Atlanta, di mana dia dikirim ke Afrika untuk menyelidiki virus-virus. Ada yang sudah CEO, ada yang sudah belajar hukum. Ada yang mem-volunteer tenaganya ke Amerika Selatan untuk secara volunteer, secara sukarela, untuk tolong membangun perumahan melalui habitat for humanity di Amerika Selatan. Dan mereka berkumpul, dan orangtuanya mengatakan, you do a lot for Southeast Asia, some of you, have you given any thought to do anything for Indonesia? Keluarga-keluarga ini menitikberatkan dalam lecturing anak-anak ini dengan kebudayaan Indonesia. They have to be proud of their heritage and rightly, so, salah satu hambatan, but how do we do it? We have US passport.

Dan kehendak orangtua dari mereka ini, supaya anak-anak ini mendapatkan paspor Indonesia, dan bagaimana caranya, dan apakah negara Indonesia pada saat ini sudah recognize dual citizenship. Siapa tahu di antara anak-anak ini ada yang ingin mengucapkan keinginan, untuk tolong membantu di Indonesia, bukan katanya di big cities, but they would like to do something in the local villages, di pedalaman.

Kalau pada saat ini negara Indonesia belum mengenal dual citizenship, atau belum ada dalam undang-undang, apakah usaha saat ini, upaya di pemerintahan Indonesia, supaya to follow other nation in recognizing dual citizenship, dan saya bilang ke keluarga untuk menerangkan. Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih Ibu Selfia, dan salam saya untu keluarga besar Kawanua yang ada di Amerika Serikat ini. Jawabannya ada Ibu. Ada upaya negara, upaya pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini. Tetapi sebelumnya saya meminta kepada warga negara Indonesia, atau warga negara Amerika keturunan Indonesia, yang bekerja dan tinggal di negara Paman Sam ini, untuk juga berkontribusi kepada tanah airnya, berkontribusi kepada keluarga dan handai taulan, dan saya tahu itu juga dilakukan.

Sebab, baik-baik saja warga negara Indonesia tinggal, bekerja di luar negeri. Yang justru dengan keberadaannya itu bisa menjembatani, to connect, antara yang ada di Amerika dengan di Indonesia, misalnya membangun networking, menceritakan pada mereka yang di Amerika, bahwa di Indonesia juga baik untuk sebuah kerjasama investasi, perdagangan, apa pun seperti itu. Jadi, kalau saya, tidak kalah pentingnya peran dari saudara-saudara kita yang ada di luar negeri.

Tiga minggu yang lalu di Sydney, saya diminta memberikan pembekalan kepada anak-anak kita, pelajar dan mahasiswa sedunia, yang belajar dan kuliah di negara sahabat. Waktu itu datang dari delapan negara, sekian ratus orang, judulnya, “Return Home or Stay Abroad”. Kalau jaman dulu mungkin marah, lo ini kok kurang cinta pada negerinya, loyalitasnya bagaimana, kok malah maunya tinggal di luar negeri. Kalau saya melihatnya, lihatlah sesuatu secara positif. Jadi itu judulnya, “Mengabdi di Luar Negeri Stay Abroad, atau Kembali ke Tanah Air, Mengabdi di Dalam Negeri, Return Home.

Saya katakan waktu itu, pada anak-anak muda kita yang cerdas-cerdas, yang knowledgable, bahwa memilih profesi, berkarir, bekerja di mana, itu choice, career choice. Jadi, mau bekerja di Indonesia, mau bekerja di Amerika, maupun bekerja di Malaysia, kalau itu membawa kebaikan bagi negara kita, bangsa kita, it’s okay. Jadi jangan buru-buru, wah, dia tidak cinta, tidak setia pada negerinya. Lihat dulu. Pertama.

Yang kedua, dalam dunia yang makin mengglobal ini, melintas, mobilitas, apakah finansial, informasi, teknologi, manusia, itu sudah menjadi keniscayaan realitas, mobilized world, global village. Ya, begitu. Dan dalam hukum ekonomi, itu perspektifnya supply and demand. Ada demand di Malaysia, datang supply-nya dari Indonesia, dari Filipina. Ada demand di Timur Tengah, datang. Ya, mudah-mudahan kualifikasi tenaga kerja kita cocok dengan persyaratan yang dimintakan oleh negara-negara itu. Itu sah juga.

Yang ketiga, terus-terang, pengangguran di negeri kita masih relatif tinggi dan akan terus kita turunkan dan kita ciptakan lapangan pekerjaan yang lebih bagus. Jadi, tidak apa-apa kalau sementera misalkan belum ada tempat di dalam negeri, mereka lebih baik bekerja di luar negeri. Saya melihatnya secara positif, hanya berpesan, di mana pun bekerja, sekali lagi sayangi, cintai negerinya. Lakukan sesuatu, kirim sesuatu untuk keluarga, untuk saudara-saudaranya, sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat Kawanua yang saya dengar ataupun masyarakat-masyarakat lain di negara tetangga.

Jadi, seperti itu. Kecuali, kecuali kalau negara memanggil, ya harus datang. Saya pernah datang ke Seattle, ke Markas Besar mamanya office dari Microsoft, saya ketemu dengan 40 anak-anak muda, saya dialog seperti ini, cerdas-cerdas Microsoft, saya tanya, itu kalau suatu saat pulang ke negeri kita mau ngga? Mau, Pak, saya yakin. Oke, di sini saja ya, nanti kalau kita membangun research center, kalau ini, kalau kembali, kembali, contohnya seperti itu.

Kemudian juga, ada kemarin researcher yang bagus, yang bisa menemui indeks dunia kesehatan ini. Dan saya tanya, Ibu, di mana tinggalnya? Di Amerika. Terus? Ini jagoan Pak. Coba tolong pelan-pelan, kalau Presiden meminta mereka, yang bersangkutan datang, untuk mengembangkan di dalam negeri mau tidak? Jangan dipaksa. Kalau nggak mau nggak apa-apa. Di-approach oleh Bu Menkes, jawabannya mau. Jadi kalau negara memerlukan, ya tolong dipikirkan baik-baik. Berarti negara ingin sesuatu yang lebih baik dari kehadiran warga negara kita dari luar negeri.

Itu yang ingin saya sampaikan. Sekarang kembali pada pertanyaan Ibu. Sistem atau paham kewarganegaraan itu memang berbeda-beda dari satu negara ke negara yang lain. Falsafahnya bisa berbeda, sistem hukumnya bisa berbeda, sejarahnya bisa berbeda. Meskipun kita tidak mengenal dual citizenship, tetapi kita sudah mencoba mencari solusi.

Saya waktu berkunjung ke Washington tahun 2005 juga sudah disambati, tahu disambati ya? Ngeluh sih enggak sebetulnya. Disambati itu mengadu, meminta tolong begitu. Saya berkunjung ke New Zealand, ingat nggak? Juga begitu. Undang-undang Kewarganegaraan yang baru sudah terbit, terbit tahun lalu ya? 2006, yang sudah mengatur satu langkah ke depan. Dan, bisa saja sistem hukum atau undang-undang itu terus berkembang dari masa ke masa, karena demikianlah dinamika sebuah kehidupan.

Sekarang tolong, Pak Menlu, jelaskan kerangka operasionalnya, kerangka teknisnya untuk mengatasi masalah-masalah itu. Masa kanak-kanak sampai usia berapa yang bisa mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam kewarganegaraan ini. Saya persilahkan Pak Hassan.

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia
Terima kasih Bapak Presiden,
Seperti dijelaskan tadi oleh Bapak Presiden bahwa menampung berbagai keluhan dari masyarakat Indonesia di luar negeri, khususnya Amerika Serikat, pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat dalam kerangka meninjau kembali Undang-Undang Kewarganegaraan No. 68 Tahun 1967, diadakan perbaikan-perbaikan.

Pada intinya yang paling ditentang adalah status kewarganegaraan bagi anak yang lahir dari perkawinan campuran antara warga negara Indonesia, laki-laki atau perempuan yang menikah dengan warga negara asing, lalu bagaimana dengan status anak.

Undang-undang yang baru ini membuka peluang bahwa anak-anak yang lahir dari perkawinan campuran sampai dengan umur 18 diberikan kesempatan untuk memiliki dua kewarganegaraan, boleh pakai paspor Amerika atau paspor Indonesia. Tetapi ketika umur 18, anak tersebut harus memilih salah satu, apakah itu warga negara Indonesia atau warga negara Amerika Serikat, tetapi bukan dua-duanya.

Ini seperti dikatakan oleh Bapak Presiden tadi, suatu hal yang maju karena sebelumnya anak-anak dari perkawinan campuran ini kalau ke Indonesia tidak mudah, harus memenuhi persyaratan visa, padahal ibunya katakanlah atau ayahnya warga negara Indonesia. Ini, untuk sampai pada, barangkali sudah 18 tahun, diberikan kesempatan untuk memilih kewarganegaraan karena dari sepengetahuan saya, umumnya negara-negara yang memberikan kesempatan ganda kepada warga negaranya itu adalah negara-negara yang mengijinkan warganya banyak melakukan migrasi ke luar negeri, supaya modalnya bisa kembali diinvestasikan di negara asalnya.
Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih Menteri Luar Negeri,
Itu perkembangan dari undang-undang Kita, kita patuhi, kita jalankan, meskipun saya katakan, sistem hukum, undang-undang bisa berkembang dari masa ke masa, karena kehidupan juga berubah, di dalam negeri, di luar negeri. Tapi karena itu tingkat dan sekarang itu yang kita anut, mari kita anut dan kita jalankan dengan sebaik-baiknya. Yang tidak bisa kita rubah itu kitab suci, tetapi kalau undang-undang sangat bisa kita perbaiki, tetapi dengan tujuan yang jelas, dengan demikian membawa manfaat yang baik. Dan sebelum ada perubahan, ya itu yang berlaku dan yang harus kita pedomani secara benar.

Demikianlah Saudara-saudara yang saya sampaikan. Saya mendoakan Saudara semua mendapat lindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, karirnya baik, tugasnya berjalan dengan baik, yang berusaha di sini juga murah rejeki dan betul-betul hujan emas di mana pun, jangan hujan batu lagilah, emaslah semua begitu. Hujan barokah-lah begitu.

Selamat bertugas, selamat berkarya, Tuhan beserta kita.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan


Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Resmi Presiden Republik Indonesia - Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
Hak Cipta dilindungi Undang-undang