


Gedung Bursa Efek Jakarta, Rabu, 2 Januari 2008
TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN PARA PELAKU INDUSTRI PASAR MODAL
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN PERDAGANGAN BURSA EFEK INDONESIA HARI PERTAMA
GEDUNG BURSA EFEK JAKARTA, 2 JANUARI 2008
Menteri Keuangan
Terima kasih. Bapak Presiden yang kami hormati, Bapak-bapak sekalian, para Menteri maupuan para Hadirin. Tadi kita telah mendengar pengarahan dan berbagai pandangan Presiden mengenai apa-apa yang harus kita simak. Tentu cukup komplit, pertama dari mulai apa-apa kendala atau tantangan yang kita hadapi dan juga kesempatan maupun berbagai hal yang harus kita simak, termasuk momentum yang harus kita jaga.
Pada pagi hari ini, Bapak Presiden, ada 300 para pelaku bursa pasar modal Bursa Efek Indonesia yang hadir untuk ikut merayakan dan melihat juga munculnya logo baru yang telah diresmikan oleh Bapak Presiden. Diantara mereka tentu ada yang ingin menanyakan atau memiliki beberapa hal yang ingin disampaikan kepada Bapak Presiden pada pagi hari yang berbahagia ini.
Dan untuk bisa menyingkat waktu, saya akan memberikan kesempatan kepada mungkin 2 penanya pertama kepada Bapak Presiden yang mungkin berhubungan dengan sebelah kanan satu, dan kemudian. Ok satu dulu, 2 di sebelah kiri, 1 di sebelah kiri. Dua-duanya laki. Silakan untuk menyampaikan pandangannya. Mohon petugas untuk bisa menyampaikan. Ok. Silakan.
Sdr. Dandosi Matram, Komisaris Kimia Farma
Terimakasih, Ibu Menteri. Nama saya Dandosi Matram, Pak, Komisaris di Kimia Farma, pengamat pasar modal, juga penasihat investasi di beberapa dana pensiun. Yang kami ingin sampaikan adalah sebetulnya pada waktu Bapak Presiden menjabat menjadi Presiden, memimpin negara ini bersama Wakil Presiden, sebetulnya kondisi yang Bapak hadapi jauh lebih sulit daripada era kepresidenan sebelumnya. Kenapa? Karena ada 2 hal, Pak. Yang pertama adalah tingkat singkat suku bunga debet sendiri mulai bergerak naik pada waktu itu dan BBM juga mulai bergerak naik secara luar biasa.
Tetapi waktu itu saya lihat, bahwa hanya satu hal yang bisa membuat Bapak akan mudah melakukan pekerjaannya dan juga membuat negara ini bisa maju, yaitu apa Pak, hanya kepercayaan dan harapan yang tinggi daripada publik ataupun pasar kepada Bapak. Dan itu ternyata kemudian kita bisa lihat, bahwa dengan kepercayaan ini, Bapak bisa melewati segala macam kesulitan. Dan di tahun 2007 inipun juga kita bisa lihat kenaikan indeks yang luar bisa dan juga kita bisa lihat bahwa pertumbuhan ekonomi bisa sesuai dengan target, bahkan defisit anggaran pun oleh Bu Menteri Keuangan bisa di bawah daripada target.
Ini yang saya anggap, saya lihat tadi Bapak juga sampaikan, bahwa kepercayaan dari publik kepada pemerintahan cukup baik, karena jadi modal Bapak.
Pertanyaan saya adalah sebetulnya, untuk ekonomi 2008 sendiri, Pak, sebetulnya dari berbagai analis di perusahaan pialang saham, mereka melihat bahwa 2008 inipun, bahkan pertumbuhannya bisa lebih baik daripada 2007. Dan ini sebetulnya tanpa Bapak meyakinkan pasar pun, ternyata pasar, ternyata sudah yakin kepada pemerintahan Bapak dan ini menjadi modal bagi Bapak untuk membuat ekonomi 2008 itu lebih baik. Pertanyaannya, Pak, bagaimana kira-kira Bapak akan mengantisipasi daripada berbagai analis yang merekomendasikan kepada investornya, bahwa ekonomi, outlook untuk 2008 akan baik sekali dan ini yang mungkin juga bisa menjadi dinantikan oleh para investor. Terima kasih, Pak.
Menteri Keuangan
Terimakasih Pak Dandosi. Mungkin Bapak bisa menyampaikan langsung.
Presiden Republik Indonesia
Terimakasih. Kepercayaan memang menjadi sangat penting. Kepercayaan ini dibangun karena realitas, bukan oleh sebuah kampanye, penjelasan-penjelasan statistik, meskipun statistik juga perlu untuk disampaikan kepada publik, kepada pasar, kepada pelaku ekonomi, tetapi akhirnya mereka semua akan melihat realitas.
Oleh karena itu, pertama, Pemerintah dan kita semua harus tetap konsisten terhadap langkah-langkah pembangunan kembali ekonomi pasca krisis ini, termasuk reformasi, termasuk percepatan-percepatan kegiatan ekonomi, menata kembali sistem dan aturan-aturan menjadi lebih baik lagi. Kalau itu terus-menerus kita lakukan, meskipun kadang-kadang persoalan dan tantangan kita hadapi, maka saya yakin bahwa mitra kita, partner kita yakin, bahwa kita terus melakukan sesuatu untuk kebaikan.
Yang kedua, tidak lepas dari kondisi dalam negeri kita. Oleh karena itu, disamping makro ekonomi yang harus kita jaga, Pemerintah yang saya pimpin ini, bersama-sama dengan pihak lain harus menjaga betul kondisi dalam negeri yang kondusif untuk pembangunan ekonomi kita. Bukan hanya yang stabil, tetapi juga yang partisipatiflah, semua menjadi bagian dalam pembangunan kembali ekonomi ini, tidak boleh hanya menonton, apalagi menonton sambil terus menyalahkan, saya kira akan kehilangan waktu dan merugi sebagai bangsa.
Saya mengajak untuk mari terus kita jaga, kita rawat apa yang telah kita capai, keamanan di seluruh negeri ini, kohesi sosial dan hal-hal lain yang bisa mengganggu iklim ekonomi, iklim investasi, dan iklim usaha di negeri kita.Kemudian berikutnya lagi adalah bagaimana kita terus mengantisipasi dan merespon setiap gejolak, turbulence yang boleh jadi mengganggu pembangunan ekonomi kita, mengganggu apa yang sedang kita lakukan.
Kalau semua itu kita jalankan dari pusat sampai daerah, termasuk mereka yang bekerja di ujung-ujung masyarakat kita, para Walikota, para Bupati, kemudian di atasnya para Gubernur, jajaran Pemerintah Pusat, saya yakin iklim investasi, iklim ekonomi akan terus menjadi lebih baik. Saya katakan beberapa saat yang lalu, ketika saya memberikan penghargaan pada para Bupati, Walikota yang ternyata mampu melakukan proses perijinan satu pintu secara terpadu, bikin efisien, tidak berbelit-belit, bebas pungli dan lain-lain, akhirnya semua bergerak. alau semua ini kita jalankan di atas satu visi, satu policy, satu strategi yang tepat, maka saya yakin, bukan hanya arah dan agendanya benar, tetap kondisi ekonomi kita akan bertambah baik.
Itulah yang mesti dilaksanakan oleh Pemerintah yang saya pimpin dan kita semua, karena pendek kata, pembangunan inikan mesti harus kita laksanakan secara bersama. Demikian. Terimakasih.
Menteri Keuangan
Baik. Penanya kedua silakan tadi sebelah kiri.
Sdr. Eri Yunasri, Konsultan Hukum
Bapak Presiden yang saya hormati,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Menyinggung hal yang Bapak sampaikan. Nama saya Eri Yunasri, Konsultan Hukum, salah satu anggota Himpunan Penunjang Pasar Modal, profesi penunjang bagi pasar modal. Hal yang Bapak singgung dalam pengarahan Bapak tentang bencana lain, mengusik saya untuk mengajukan pertanyaan dan memohon Bapak untuk berbagi pendapat dan berbagi hal yang Bapak ketahui.
Bencana alam selalu sekali dihubungkan dengan perubahan iklim secara global, seperti Bapak sampaikan, dan itu akan mempengaruhi masyarakat secara umum maupun masyarakat pasar modal. Bencana alam dengan global ini pasti akan mengganggu kehidupan ekonomi kita, Pak. Dan akhir-akhir ini saya, kita sama-sama menyaksikan bahwa Pemerintah berhasil mengadakan konferensi tingkat internasional di Bali masalah global climate change itu, Pak.
Tapi akhir-akhir dari konferensi itu, saya melihat ada beberapa hal yang kemudian menjadi gangguan untuk merumuskan hasil konferensi itu. Mungkin Bapak Presiden berkenan untuk menyampaikan kepada kita semua, hal-hal yang mengganggu untuk perumusan konferensi tersebut, Pak. Yang kedua, sejauh apa menurut Bapak akan berpengaruh bagi negara kita atas bencana alam ini, Pak karena bencana alam ini selalu dihubungkan dengan perusakan alam kita, warisan nenek moyang kita. Itu saja, Pak. Terimakasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Presiden Republik Indonesia
Termasuk saya dan Pemerintah, bahwa makin ke depan di abad 21 ini, lingkungan akan menjadi faktor yang akan sangat dilihat. Ibaratnya kalau kita merumuskan pertumbuhan itu sama dengan consumption plus investment plus government spending plus nett export import, itu bisa plus, minus environment. Kalau lingkungannya buruk bisa menarik ke bawah growth yang ada. Kemudian jangan kaget nanti kalau akan ada audit, apakah-apakah produk-produk yang kita pasarkan di luar negeri itu memenuhi standard lingkungan yang baik, ramah lingkungan. Kalau tidak, tidak bisa tembus, macam-macam yang akan dijadikan conditionalities bagi produk barang dan jasa kita, kalau itu masuk ke pasar global.
Tidak perlu cemas, tidak perlu takut karena memang, bukan hanya manusia di negara yang lain, tapi kita pun ingin bumi kita selamat, Indonesia kita selamat, anak cucu kita memiliki masa depan yang baik. Yang menjadi persoalan pokok, akhirnya setelah agak lama berdebat apakah manusia itu ikut menyumbang terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim atau tidak, maka hampir semua bersepakat sekarang ini, bahwa menusia betul-betul ikut menjadi faktor yang negatif terhadap terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Dari situ sebetulnya satu titik maju, cuma sekarang semua negara belum bersepakat benar kalau untuk mencegah memburuknya bumi kita karena pemanasan global harus dilaksanakan pengurangan emisi CO2, maka pertanyaannya berapa banyak harus dikurangi emisi itu, kapan mulai berkurangnya? Sampai kapan? Siapa yang berkewajiban mengurangi gas rumah kaca itu dan lain-lain? Apakah itu mengikat, apakah itu volunteer dan sebagainya.
Ini meskipun sudah ada titik terang masih belum bulat benar. Alhamdulillah di Bali sudah jauh maju dibandingkan konferensi-konferensi sebelumnya. Demikian juga kewajiban negara maju, kewajiban negara berkembang, semua sepakat harus ada yang namanya common but differentiated responsibilities and respective capabilities dalam urusan negara-negara mengurangi emisinya. Tapi rumusannya bagaimana, waktu itu masih belum jelas. Demikian juga sepakat negara kuat kan, kuat, maju, uangnya banyak. Negara berkembang meskipun ingin memperbaiki lingkungannya, uangnya pas-pasan mesti ada dong bantuan, dengan kerangka yang bagus, misalnya dengan carbon credit, misalnya transfer of technology, misalnya adaptation fund. Kita bersetuju di Bali yang tadinya masih sangat alot.
Jadi sebenarnya Bali adalah tonggak penting, bukan hanya ratifikasi yang dilaksanakan oleh Australia di bawah Perdana Menteri Kevin Rudd. Bukan hanya Amerika akhirnya join the consensus, bukan hanya akhirnya ada kesepakatan-kesepakatan baru untuk ditindaklanjuti di Warsawa dan di Kopenhagen sebelum Kyoto Protocol habis pada tahun 2012 nanti. Tetapi yang saya rasakan di Bali kemarin muncul satu kehendak yang kuat, satu kesadaran besar, bahwa memang kita harus bersatu untuk menyelamatkan bumi kita. Mandat politik dari manusia sejagad, seluruh bangsa di dunia kuat sekali.
Oleh karena itu, tidak boleh fail meskipun Saudara mengikuti sangat mendebarkan hari-hari sebelum keputusan diambil, bahkan jam-jam sebelum ketok palu kemarin. Tapi alhamdulillah dengan kerja keras kita, semua pihak yang saya lihat juga ingin berhasil, maka bisa kita capai prestasi di Bali kemarin.
Ini awal dari perjalanan panjang manusia sejagad untuk menyelamatkan buminya. Untuk negara kita, ya solusinya satu, mari kita rawat kembali hutan kita, mari kita penjarakan sekuat-kuatnya, selama-lamanya mereka yang merusak hutan, pelaku illegal logging. Mari kita hutankan kembali hutan kita, reforestation, aforestation. Mari kita cegah deforestation, mari kita galakkan kegiatan menanam, menanam dan menanam. Itu solusinya untuk masa depan. Ya tidak mungkin, sekarang menanam 79 juta, minggu depan enggak ada banjir, ya tidak mungkin. Mari kita gunakan ilmu, akal dan logika kita. Tapi kalau tidak kita mulai dari sekarang, ya tidak akan berubah negara kita. Sudahlah niat yang baik itu, saya minta semuanya ikhlas untuk menjalankan karena untuk masa depan kita semua.
Disamping itu, mari kita menjadi bangsa yang hemat, jangan boros energi. Dikit-dikit menggunakan BBM. BBM itu jahat, disamping tentunya masih banyak subsidi yang kita keluarkan kalau volumenya berlebihan juga akan merepotkan APBN kita, tapi emisinya. Marilah kita hemat, mari kita gunakan bahan bakar yang bersih, yang non fosil BBM, kemudian sambil menata kembali prinsip kehematan dari penggunaan energi. Kita hemat penggunaan BBM, kita rawat kembali hutan kita, itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Indonesia kita. Demikian Saudara. Terima kasih.
Menteri Keuangan
Terimakasih, Bapak Presiden. Penanya yang ketiga. Yang perempuan, Pak sekarang, Ibu Lily dari Merline.
Sdri. Lili Wijaya, Asosiasi Bursa Efek Indonesia
Bapak Presiden yang kami hormati,
Nama saya Lili Wijaya dari Asosiasi Bursa Efek Indonesia juga, Ibu. Pertama-tama saya mau mengucapkan selamat kepada Bapak atas segala pencapaian selama ini di bawah kepemimpinan Bapak, termasuk pencapaian di pasar modal tentunya yang sebagaimana dikemukan oleh Ibu Menteri Keuangan tadi begitu spektakuler. Sebagaimana yang Bapak kemukakan juga tentu saja tidak dapat dipungkiri, semua itu hanya dapat terjadi karena adanya confidence, kepercayaan sebagai akibat dari antara lain, stabilitas politik, keamanan dan kepastian hukum.
Makalah selanjutnya saya mau mengangkat satu peristiwa yang sangat mengejutkan seluruh dunia, yakni tewasnya Benazir Bhutto. Kematiannya yang tragis, dramatis itu menggoncangkan negara Pakistan, memicu krisis, demokrasi, politik dan ekonomi tentunya. Tanpa bermaksud menyamakan begitu saja apa yang terjadi di negara Pakistan dengan Indonesia sini, pertanyaan saya kepada Bapak adalah apa pendapat Bapak tentang tragedi Pakistan ini dan bagaimana agar apa yang terjadi di sana tidak terjadi sini, agar prestasi ekonomi yang telah berhasil dicapai dapat bertahan dan berkelanjutan. Terimakasih.
Presiden Republik Indonesia
Terimakasih, Ibu. Terus terang waktu kami mendengar meninggalnya Benazir Bhutto, waktu itu kami sedang berada di Kantor sore hari sampai malam. Terus terang perasaan kita sangat-sangat terganggu, karena ada semacam hubungan batin di antara kita-kita yang ingin menegakkan kehidupan demokrasi yang benar. Jadi kami juga merasa shock, sama dengan Ibu tadi, dan mengapa harus terjadi seperti itu, sebuah negara atau seorang tokoh yang menggunakan hak politiknya untuk berkompetisi dalam kerangka demokrasi.
Tentunya itu sebuah titik mundur, mungkin juga the death of democracy yang sama-sama akan kita bangun. Tetapi saya juga masih berharap, sebagaimana statement saya pada malam hari itu, pemerintah Pakistan di bawah Presiden Pakistan masih bisa menata kembali, menghidupkan kembali demokrasi, menegakkan hukum, memulihkan keamanan dan mencegah kekerasan yang lebih parah lagi di Pakistan.
Tentu harapan kita semua di seluruh dunia ini, demokrasi makin mekar, demokrasi yang tertib, yang tidak menimbulkan hal-hal yang tidak baik bagi rakyat. Karena demokrasi harus membawa kebaikan bagi rakyat, bukan ajang bagi para politisi untuk mencapai suatu tujuan politik.
Di negeri kita, ya kita memang Ibu, harus selalu mengambil pelajaran dari negara-negara sahabat, bukan hanya Pakistan, tapi tetangga-tetangga kita di Thailand, di Myanmar, di Filipina, barangkali di Malaysia dan lain-lain yang juga ada juga riak-riak tentang demokrasi itu, kegiatan demokrasi itu. Kita berharap apa yang sudah kita capai disamping kita syukuri, kita pertahankan.
Orang tidak percaya dulu, Indonesia bisa melaksanakan Pemilihan Langsung pada tahun 2004, suatu proses yang panjang Pemilu Legislatif, Pilpres, Capres tahap I, Pilpres Capres tahap II yang relatif aman, tertib, dan demokratis. Orang juga tidak percaya, bahwa 3 tahun terakhir ini, terjadi kompetisi pemilihan-pemilihan Kepala Daerah di seluruh Indonesia, meskipun ada juga riak-riak kecil, meskipun ada juga konflik dan pertentangan, tetapi secara umum, maka saya katakan aman, demokratis, tertib, dan lancar.
Ini modalitas, ini satu capital yang harus kita pertahankan. Saya berharap, menghadapi Pemilihan Umum 2009, baik itu Pemilu Legislatif ataupun Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan juga menjalankan Pilkada yang terus berlangsung sekarang ini, kita pegang teguh, bahwa Indonesia bisa menampilkan diri, menjalankan demokrasi secara tertib, secara aman, dan tetap menjunung tinggi kebebasan untuk berkompetisi dan berdemokrasi.
Kalau kita sepakat dan kita sungguh ingin memelihara ini, yakin saya, 2008, 2009, kita akan bisa memelihara keadaan dalam negeri kita seperti yang kita pelihara sekarang ini. Saya menyerukan kepada para politisi sambil berkompetisi, berjuang sekuat-kuatnya untuk, apakah berkompetisi dalam pemilihan Bupati, Walikota, Gubernur, partai-partai politik, maupun Presiden dan Wakil Presiden nanti untuk tetap arif, berjiwa besar, menahan diri, tidak mengorbankan rakyat, menjalankan kompetisi sesuai dengan aturan main dan etika dan di atas segalanya siap, apakah menang atau kalau dalam proses itu. Kalau itu juga dipegang teguh, tentu kita akan selamat.
Andaikata ada riak-riak kecil, sana, situ, itu wajar dalam kehidupan demokrasi Indonesia yang terus terang masih dalam proses transisi dan transformasi. Tentunya pihak Kepolisian, aparat keamanan yang lain juga menjalankan tugas dengan penuh, mengantisipasi, mencegah apapun yang terjadi, hukum harus ditegakkan. Tidak ada kompromi untuk penegakan hukum bagi berlangsungnya keamanan, stabilitas, ketertiban masyarakat di negeri kita.
Ini Ibu yang perlu saya sampaikan sebagai pandangan dan keyakinan saya, bahwa apa yang kita tempuh ini sudah benar. Mari kita pertahankan, termasuk keamanan dalam negeri, termasuk demokrasi yang sedang kita jalankan.
Menteri Keuangan
Artinya jangan terlalu khawatir menjelang Pemilu nanti 2009, membuat shorterm game 2008 untuk ancang-ancang 2009 itu tidak perlu ya, Bapak ya. jadi kita semuanya juga akan mencoba menjaga. Ok, pertanyaan terakhir. Oh dari perempuan lagi saya akan minta. Silakan. Bukan karena saya anti laki-laki, tapi tadi 2 laki-laki, 2 perempuan. Silakan yang dari sebelah kiri.
Sdri. Suci Kuswardani
Terimakasih, Ibu. Bapak Presiden yang kami hormati. Saya juga mengucapkan terima kasih atas ajakan Bapak Presiden untuk lebih banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia melakukan privatisasi di Indonesia, di Bursa Efek Indonesia. Sesuai dengan pembicaraan Ibu Menkeu tadi, bahwa tahun 2007, banyak perusahaan-perusahaan, lebih banyak perusahaan-perusahaan yang melakukan privatisasi daripada tahun-tahun sebelumnya. Tapi kalau kita lihat, dibandingkan dengan bursa regional, kita masih relatif lebih sedikit. Tentunya banyak sekali perusahaan-perusahaan yang mempunyai size yang bagus dan layak untuk diprivatisasikan, terutama adalah perusahaan-perusahaan BUMN yang mempunyai kinerja yang bagus.
Pertanyaan saya, bagaimana pandangan Bapak Presiden sehubungan dengan privatisasi melalui Bursa Efek Indonesia, terutama BUMN. Dan juga bagaimana, apakah Bapak Presiden setuju dengan pendapat kita, bahwa privatisasi ini akan memberikan gairah yang ke pasar modal kita dan manfaat yang bagus kepada perekonomian nasional kita. Terimakasih.
Presiden Republik Indonesia
Terimakasih, Ibu. Saya katakan tadi, makin banyak perusahaan di negeri kita ini yang go public, sementara tidak saya bedakan, apakah milik negara atau swasta. Apabila dengan go public itu mencapai tujuan yang sama-sama kita harapkan dan manakala ada satu basis yang kuat dan memang meniscayakan perusahaan untuk go public, maka itu akan, bukan hanya mengembangkan pasar modal, tapi juga akan mengembangkan perekonomian nasional kita.
Dengan go public, maka perusahaan itu akan betul-betul bertanggung jawab, akan lebih transparan, lebih akuntabel, bagaimana mengelola perusahaannya, karena semua ikut memiliki. Dengan go public, akan ada tambahan capital untuk investasi, untuk pengembangan yang lebih luas lagi. Dengan go public, akan terjadi kompetisi yang sehat untuk berlomba-lomba menjadi organisasi, perusahaan yang efisien, tapi juga profitable.
Jadi tujuan-tujuan itu akan dapat dicapai daripada perusahaannya besar, meskipun juga ada bau-bau perusahaan keluarga, tetapi sayang kalau potensi yang besar itu tidak dibawa ke arena yang lebih luas untuk kepentingan, baik perusahaan itu, maupun kepentingan pihak yang lain, kepentingan rakyat kita. Jadi secara umum seperti itu. Oleh karena itu, saya setuju untuk diberikan insentif fiskal bagi perusahaan-perusahaan yang go public, dengan syarat minimal saham yang dilepas 40% ya dan Peraturan Pemerintahnya minggu ini, kalau sudah cocok semua akan segera saya teken. Dengan demikian, bisa menjelaskan semuanya itu.
Untuk BUMN. Ini begini, memang ada pro dan kontra. Ini Pak Sofyan Djalil juga di sini, Meneg BUMN. Ada kekhawatiran kalau BUMN itu go public atau privatisasi nanti fungsi dan maksud didirikan BUMN bisa terganggu. Begini cara melihatnya. BUMN itu state-owned companies, state-owned enterprises di negara mana pun juga, itu berfungsi dan bertugas untuk melakukan kegiatan ekonomi, memproduksi barang dan jasa katakanlah yang memiliki, apa namanya, kaitan langsung dengan kepentingan rakyat, public goods, public utilities, biasanya seperti itu. Yang dulu kala jarang dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan swasta, ya Pemerintahlah, negaralah yang turun tangan. Dalam perkembangannya ternyata di negara manapun juga, private companies sudah mulai menggarap bidang-bidang itu. Itu yang pertama.
Yang kedua, BUMN itu, negara yang sedang membangun itu juga menjadi agent of development juga penyangga bagi perekonomian nasional, management-nya bagus, ditata lebih bagus, waktu era dimana swasta belum sepesat sekarang ini. Dengan demikian, negara juga berhak atau berharap ada deviden, ada pajak yang bagus dan seterusnya, sehingga dua-duanya tercapai, rakyat mendapatkan pelayanannya, barang dan jasa, negara juga mendapatkan keuntungan.
Privatisasi BUMN, go public-nya BUMN apabila tetap memenuhi 2 hakekat didirikannya BUMN itu nothing wrong with privatisasi ataupun go public itu. Yang penting, mari kita yakinkan betul go public ini siap, jangan coba-coba. Jadi perkuat betul fundamentalnya, pilarnya best practices-nya, planning-nya kalkulasi dan sebagainya. Saya juga tahu, ada proses yang bagus antara Pemerintah dengan DPR untuk membahas mana BUMN yang patut dan bagus untuk privatisasi, mana yang tidak, mana yang belum dan sebagainya. Mari kita ikuti proses berpikir seperti ini dengan kembali kepada hakekat mengapa BUMN didirikan.
Saya tidak ingin BUMN kita menyandang gelar, PT Rugi Abadi atau perusahaan sukar maju, membebani negara, tidak baik. Barangkali gaji pimpinannya besar, barangkali insentifnya tinggi, tapi kalau tiap tahun Presiden harus mengeluarkan penyertaan modal Rp 1,4 triliun apa artinya. Jangan berlindung di balik negara, tapi teruslah berkompetisis, efektif, efisien, menyumbang pada negara, dan menyumbang untuk rakyat kita. Begitu prinsipnya. Oleh karena itu, silakan dilihat Pemerintah, BUMN, Menteri Keuangan, Menko Perekonomian, ajak DPR membahas, lihat situasinya, kalau membawa kebaikan, lakukan dengan tujuan yang baik tadi. Terimakasih.
Menteri Keuangan
Terimakasih, Bapak Presiden. Demikian mungkin dialog dengan Bapak Presiden yang telah memberikan begitu banyak waktu dan perhatian kepada kita semua, terutama untuk seluruh jajaran di pasar modal. Saya kembalikan kepada MC.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan
