Wawancara
Subang, Jawa Barat, Kamis, 24 Juli 2008
Dialog dengan Petani dan Peneliti Pertanian pada Pembukaan Pekan Padi Nasional dan Peresmian Laboratorium Analisis Flavor Beras
TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
DENGAN PARA PETANI DAN PARA PENELITI PERTANIAN
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN PEKAN PADI NASIONAL TAHUN 2008
DAN PERESMIAN LABORATORIUM ANALISIS FLAVOR BERAS
BALAI BESAR PENELITIAN TANAMAN PADI
SUBANG, JAWA BARAT
24 JULI 2008
Sdr. Dadan, Bupati Karawang
Bismilahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang terhormat Bapak Presiden bersama Ibu, Singkat kata karena sudah siang pak, dengan kehadiran Bapak Presiden tadi. kita merasa sejuk, dalam artian kita tidak munafik, Pak, bahwa keberpihakan Pemerintah pada pertanian itu sudah luar biasa, Pak. Hanya ini suatu kondisi, Pak, riil saja, kami begitu besarnya anggaran di sektor infrastruktur irigasi.
Kebetulan Kerawang, Subang, kami banyak memiliki lahan pertanian yang sangat luas sekali dan penentu. Saya ambil contoh kerawang ini 93.000 hektar sawah pertanian teknis masih eksis sampai hari ini, Pak. Infrastruktur yang ada, jaringan induk saja 100 kilo meter. Sedangkan saluran sekunder itu 300 kilometer, yang saat ini disampaikan oleh Gubernur tadi, kondisinya rusak parah, yang anggarannya inti ada. Hanya problemnya kalau bisa kami sarankan berilah kewenangan ini kepada kabupaten untuk bisa diberikan bantuan dana itu untuk mengatasi itu.
Karena saya ambil contoh kasuistis minggu ini saja, kami jebol satu tanggul. Itu biaya 120 juta, padahal ini harus segera diatasi. Emergency. Itu balai bisa ditarik tidak mampu mengatasi dengan rincian budjet yang begitu besar anggaran tersebut. Terpaksa Pemda mengatasi lebih dulu. Dengan kasuistis-kasuistis ini, kami saran, berikanlah dalam bentuk BAK atau apa, dalam perbaikan infrastruktur irigasi ini kepada kabupaten. Karena anggaran itu, jatuhnya kepada PJP II Jatiluhung, Pak. Jadi kami tahun ini hanya mendapatkan perbaikan jaringan irigasi yang begitu luas, hanya Rp 7 miliar yang Bapak ceritakan tadi. Dan ini sudah kami laporkan kepada Bapak Menteri, tadi pagi, sambil ke kebun kita ya. Jadi ini mohon saja saran berikan kewenangan alokasi dana berapa kepada kabupaten yang betul-betul, artinya eksis dalam sektor pertanian-pertanian ini. Terima kasih, Pak. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Menteri Pertanian
Baik, kita selesaikan dulu tiga penanya. Pertanyaan kedua, dari petani, silakan.
Sdr. Husain, Legon Kulon Subang-Perwakilan Petani
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saya Husain dari Legon Kulon, Simpang. Kalau Legon Kulon Subang itu dekat pantai, Pak. 3 kilo dari bibir pantai dekat Mauk di situ, Pak. Itu harus jadi perhatian kita bersama, karena ketika, misalkan ada tsunami, kami mati duluan, mungkin. Mohon maaf, agak lambat, Pak. Saya agak grogi, gitu karena bertemu dengan Bapak, seorang figur eksekutif masa kini, berwajah rupawan, tidak kalah dengan bintang film Hollywood. Terima kasih.
Saya tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan, Pak, di hutan, sebetulnya, kami juga sering bercocok tanam, kaitannya dengan tumpangsari, begitu, ada padi, jagung, kedelai dan sebagainya. Ini sebetulnya sudah terangkum dalam konsep yang namanya kalau dari Perhutani itu ada PHBM, Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. Artinya, kegiatan kami juga patut diperhitungkan untuk mempertahankan pangan, kan seperti itu. Selanjutnya, kami tidak ingin minta apa-apa terhadap Bapak, karena kondisi kehutanan yang ada di Subang, katakan secara khusus, ini 30.000 hektar yang ada di Subang, kami jadi garda terdepan untuk mendukung istilah Bapak itu, global warming, gitu kan, seperti itu, pemanasan global, seperti itu, kami siap terdepan.
Dengan catatan, Bapak harus mengikutsertakan, menyertakan kegiatan yang berbasis ekonomi, supaya sosial kami juga meningkat. Ketika meningkat, maka program Pak Gubernur meningkatkan IPM juga akan tercapai, kan seperti itu. Masalahnya di kita di Perhutani, itu sebetulnya sudah ada program untuk ekonomi atau untuk meningkatkan sosial. Ada beberapa saya lihat Perhutani kerjasama dengan Pak Menteri Koperasi, misalkan, dipersilakan untuk membuka akses itu. Tetapi juga kaitannya dengan tumpangsari, kami terkendala, Pak di daerah itu. Kan, hutan itu sudah rapat, Pak, kami tidak bisa nanam padi, Pak, disitu karena sudah rapat oleh tanaman-tanaman pokok kehutanan. Baiknya, Bapak juga atau menginstruksikan kepada Pemerintah Daerah untuk tidak overlaping atau apa, kebijakannya itu selaras dengan Perhutani, seperti itu.
Di Subang, Pak, luar biasa, Pak. Bupati Eep Hidayat, luar biasa, dia melarang yang namanya penebangan di Subang ini. Tetapi kami akhirnya tidak bisa bercocok tanam tumpangsari. Ini harus seimbang, tolong oleh Bapak, tegur Pak Eep. Tuh ada, pak di sana. Lebih dalam, lebih luas lagi, Pak, tentang PHBM, Pak ya, Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. Bapak bisa lihat di stand Perum Perhutani, di sebelah kanan dari saya, Pak. Ada stand Perhutani, PHBM seperti ini, Pak. Mohon maaf terima kasih, kami petani, terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Menteri Pertanian
Yang ketiga silakan dari Perwakilan peneliti.
Sdr. Totok Agung, Perwakilan Peneliti
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Totok Agung, Praktisi Pendidikan dari Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto, dan Peneliti Padi Bogo Aromadi. Tadi Banyak disampaikan oleh Bapak mengenai harapan, dorongan, motivasi dan berbagai macam program mengenai pertanian. Tapi kami ingin sedikit cerita terkait dengan hal tersebut. Kalau di Indonesia ini, termasuk juga di dunia, seorang pemain bola, kalau berhasil memasukkan satu gol ke gawang lawan, itu mendapatkan hadiah jutaan, kadang-kadang bisa untuk membeli rumah, untuk membeli mobil, dan lain sebagainya. Seorang pemain bulu tangkis juga demikian. Ketika mendapatkan smash terakhirnya juga mendapat hadiah. Demikian juga untuk seniman, Pak. Tetapi untuk peneliti yang menghasilkan varietas unggul, itu, Pak, sekolah minimal 30 tahun terus-menerus, sampai doktor, seperti Pak Menteri Pertanian, itu. Terus, penelitian minimal terus menerus 7 tahun. Kalau nasib baik mendapatkan varietas unggul baru. Tapi ketika mendapatkan varietas unggul disertifikasi oleh Menteri Pertanian, peneliti tersebut tidak mendapat apa-apa ini Pak Presiden.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Menteri Pertanian
Baik Bapak. Silakan Bapak
Presiden Republik Indonesia
Tepuk tangan semuanya dulu. Yang pertama dari Pak Bupati Kerawang. Memang ada kebijakan, aturan tentang kewenangan, kewajiban dan tanggung jawab di dalam menggunakan anggaran. Terutama pembangunan infrastruktur atau prasarana. Untuk infrastruktur atau irigasi primer dan sekunder, itu memang pada tingkat Pusat dan Provinsi. Tetapi betul, dalam realitasnya, kalau kita harus responsif terhadap perubahan iklim, kerusakan, ini dan itu, tentunya yang paling depan adalah para Bupati. Semua itu bisa kita tata kembali, ya. Karena bagaimanapun kewenangan itu harus dekat dengan tugas dan kewajiban. Oleh karena itu disini ada Sekjen Pekerjaan, mana beliau? Ada disini? Tadi saya telepon Menteri Pekerjaan Umum sedang di Gorontalo, mau saya ajak ke sini, tapi Beliau keliling terus. Menteri PU ini aktif untuk terus membangun infrastruktur bersama dengan Gubernur, Bupati dan Walikota. Tetapi pikiran Pak Dadan, saya kira baik, coba nanti lihat kembali.
Bagi saya begini, lebih cepat, lebih bagus membangun infrastruktur. Anggaran yang ada harus sampai ke sasarannya, tidak belok kesana kemari, ya. Jadi kalau anggarannya jelas, sasarannya jelas, pelaksanaannya cepat dan tepat yang senang petani, yang senang kita semua. Oleh karena itu saya persilakan nanti Menteri terkait untuk melihat kembali ya. Namanya Undang-undang, Peraturan Pemerintah itu yang bikin kita semua, yang baik kita pertahankan, yang mesti kita perbaiki, kita perbaiki. ya. Oleh karena itu lihat dulu dan saya dengar tadi, apa yang ingin disampaikan oleh Pak Bupati, saya kira juga berlaku bagi semua, bagaimana pembagian kewenangan dan tugas yang tepat itu.
Yang kedua, Saudara Husain, petani. Mana tadi Pak Husain, tadi? Bagus ini, apa namanya, peduli betul. Dan pikiran ini, pikiran pemimpin negara berkembang, termasuk saya. Sebelum ke situ, masalah tsunami, tsunami itu, jarang sekali atau barangkali belum terjadi di Pantai Utara Jawa. Mengapa? tsunami itu terjadinya karena pergeseran lempeng tektonik. Lempeng tektonik itu adanya di sebelah barat Sumatera, sepanjang Sumatera, di sebelah selatan Jawa, sepanjang pantai Jawa selatan, terus naik ke atas ke arah Sulawesi dan Filipina atau ke Timur, ke Timur Leste dan ke Timur lagi. Akibat perubahan itulah terjadi gelombang tsunami memukul pantai-pantai terdekat dengan kecepatan tertentu. Oleh karena itu sebetulnya tidak usah terlalu cemas untuk pantai Utara Jawa. kalau Pacitan, kampung saya, itu harus waspada. Pak Bupatinya ada disini, karena itu sama dengan Cilacap, sama dengan Pangandaran. Itu juga rawan, sebagaimana pantai Barat Sumatera.
Yang kedua, kita sudah punya sistem, begitu ada gempa bumi, kebetulan pergeseran lempeng tektonik, kedalamannya berapa, dekat pantai mana, sekian menit itu sudah bisa kita ketahui. Dan biasanya kita sebarluaskan ke daerah-daerah itu untuk waspada. Oleh karena itu saya diingatkan oleh beliau tadi, masalah tsunami, begitu duduk persoalan tsunami, tidak perlu sangat khawatir tapi waspada, manakala ada gempa dan berpotensi untuk menimbulkan tsunami.
Yang disampaikan oleh Pak Husain tadi, ini masalah hutan ini untuk apa sih, Pak? apakah hanya untuk digunakan sebagai paru-paru bumi, untuk mencegah pemanasan global? mencegah perubahan iklim, itu saja? atau tidak ada manfaatnya untuk kesejahteraan penduduk di sekitarnya.
Posisi kita jelas, posisi Indonesia jelas, waktu saya berbicara di Jepang, tanggal 9 yang lalu saya sampaikan bahwa bagi negara berkembang. Bagi Indonesia hutan itu memiliki 2 fungsi, yang pertama memang untuk mencegah yang disebut dengan emisi, kita pelihara, kita rawat baik-baik. Itu memang tugas, disamping menyelamatkan bumi, kalau hutannya gundul ditebang kesana-kemari kan banjir, tanah longsor, yang menderita rakyat kita juga. Jadi meskipun, atau katakanlah diluar kerjasama dan kewajiban global, kita pun harus memelihara hutan kita dengan tujuan itu.
Tetapi, hutan juga harus bisa mendatangkan kesejahteraan, mendatangkan hasil ekonomi bagi penduduk setempat, kalau Indonesia ya bagi rakyat Indonesia. Oleh karena itu, kita atur, kita atur, tadi sudah disampaikan bagaimana pengaturan yang baik lahan pertanian dengan kehutanan. Mana yang hutan lindung, mana yang bukan hutan lindung yang bisa kita gunakan. Termasuk, mengenai kebijakan dari Pak Bupati tadi. Saya kira semua itu diserasikan.
Saya juga pernah diprotes oleh saudara-saudara kita di Aceh Tengah, kawasan Leuser itu. Pak, ini kalau hanya mempertahankan untuk kelahiran bumi dan binatang-binatang, bagaimana manusianya? Peri kehutanan, peri kehewanan dihadapkan dengan peri kemanusiaan, begitu. Dalam perkembangannya bagi negara-negara yang harus memelihara hutannya, itu nantinya, tapi masih harus kita perjuangkan ada kompensasi, ada kredit, ada biaya untuk mengganti kita memelihara hutan untuk kepentingan manusia sejagat. Tetapi yang penting negara kita sendiri, daerah-daerah propinsi Kabupaten kota, silahkan ditata dengan baik. Seskab tolong sampaikan ke Menteri Kehutanan juga, keluarkan aturan dan PP dan jelaskan PP itu. Saya kira PP-nya sudah ada. Demikian juga pemerintah-pemerintah daerah, tolong dijelaskan kepada publik, yang penting terjadi sinergi, terjadi koordinasi, jangan sampai tidak ada penyelesaian sama sekali.
Kalau tadi disebut ada Perhutani, ada BPHM, PHBM ya? Aturannya ada, silakan diatur disitu. Itu bisa dibicarakan. Betul, saya memang memerintahkan untuk memberantas penebangan liar, illegal logging. Mengapa? orang yang menebang hutan itu untungnya bermiliar-miliar rupiah, tapi negara dirugikan. Iklim berubah, banjir, tanah longsor. Itu kejahatan yang luar biasa, harus kita berantas. Tetapi penduduk setempat harus diselamatkan, diberikan jalan keluar, bagaimana penghasilannya agar disatu sisi hutan dirawat. Kemudian mereka mendapatkan sumber penghidupan. Inilah tugas kita semua, yang ke depan adalah jajaran Pemerintah Daerah. Oleh karena itu khusus berkaitan dengan wilayah yang tadi disebutkan disini ada Pak Bupati, Pak Gubernur silakan dilihat, dicek dan apa yang musti ditata kembali. Kalau harus ada konsultasi dengan Pemerintah Pusat, saya persilahkan dengan menteri terkait.
Yang ketiga adalah tentang, ini masalah nasib, ini ya. Saya ini sebelum mengemban tugas di pemerintahan, kurang lebih 30 tahun sebagai prajurit di TNI. Memang, Pak Totok, dulu ada istilah namanya Litbang itu, sulit berkembang. Karena penghasilannya pas-pasan, kerjanya setengah mati, kalau berhasil tidak ada yang ingat. Kemudian yang dapat keuntungan yang menggunakan hasil penelitian dan pengembangan itu. Sebenarnya tahun-tahun terakhir ini kita sudah menata keseluruhan remunerasi, keseluruhan insentif, sistem penggajian dan tunjangan. Tapi ini bagus ya, meskipun kami, saya sendiri sudah berkali-kali mengingatkan, ini ada Seskab disini, catat, coba dicek kembali bagaimana sistem pembinaan karir para peneliti, para pengembang. Bukan hanya gaji dan tunjangannya tapi sistem karirnya, jabatannya dan seterusnya. Jangan sampai kita itu tadi litbang, sulit berkembang. Jangankan penelitinya, kadang-kadang cemarapun kurang hidup di situ. karena habis untuk meneliti.
Saya kira kita perlu keadilan dan saya terima ya. Karena saya juga pernah merasakan, sebagai guru dulu sekian tahun itu kadang-kadang terlupakan. Sekarang kita perbaiki semuanya. Termasuk peneliti dan pengembang. Pak Totok di Purwokerto ya. Baik, ini Menteri Pertanian juga di sini. Ini mestinya kalau swasta itu begitu mengeluarkan varietas unggul, luar biasa itu bonusnya itu, seperti pemain olahraga, seperti yang tadi itu. Tolong dipikirkan, tapi dalam batas kemampuan negara dan adil bagi semua. Terima kasih pak Toto.
Menteri Pertanian
Terima kasih Bapak Presiden, Jika berkenan, ada saya kira petani padi belum terwakili ini, Pak. Petani padi? Petani padi, bukan? Petani padi, boleh. silakan. Satu terakhir, Bapak.
Sdr. Asep Saefuddin
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Nama saya Asep Saefuddin. Setelah tadi saya mencermati apa yang diuraikan oleh Bapak Presiden, yang cukup panjang lebar, agar supaya negara kita produksi pertaniannya lebih meningkat lagi. Dan alhamdulillah, Pak, sekarang mungkin para petani sudah bisa melaksanakan itu dengan sebaik mungkin, asalkan ada satu mungkin syaratnya, gitu Pak ya. Yang pertama, alhamdulillah, kami, Pak sebagai mitra dari BRI untuk sekarang ini, kami petani kecil, terutama singkat, susah masalah pembiayaan untuk pertanian, Pak. Karena apa, sekarang yang lain-lain serba meningkat seperti pupuk dan lain sebagainya, termasuk tenaga kerja.
Dan, alhamdulillah, berkat adanya program KUR Kredit Usaha Rakyat, alhamdulillah kami merasa terbantu untuk menangani hal tersebut, Pak. Dan, kami mohon untuk selanjutnya kami sebagai petani kecil, pak program KUR tersebut mohon berlanjut dan berkesinambungan Pak. Bahkan kami yang mendapat atau memperoleh KUR, program dari BRI unit, yang mungkin limitnya dibatasi Rp 5 juta ke bawah, pak, karena mungkin kurang mencukupi. Mohonlah nanti untuk unit bisa ditambah lagi lebih dari segitu, pak. Mungkin hanya itu saja Pak, sekedar sambutan dari saya, terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,
Saya kira sambutan Pak Asep Saefuddin sangat jelas. Hatur nuhun, mana Pak Asep tadi ini penting, yang lain terima kasih diingatkan KUR-nya itu. Begini, semua tahu, Pak Bupati tahu, Pak Gubernur tahu, para Menteri tahu, usaha mikro kecil dan menengah itu ingin usahanya tumbuh. Ingin toh? Tetapi kadang-kadang permodalan sulit, mau pinjam ke bank itu persyaratannya banyak, agunannya harus ada dan ini dan itu ya. Katakanlah susahlah gitu. Oleh karena itulah kita sejak tahun lalu telah menetapkan kebijakan Kredit Usaha Rakyat dengan pola penjaminan. Maksudnya kalau usahanya jelas, kalau pertanian sawahnya ada, yang menggarap ada, modalnya kurang, bisa berhubungan dengan kantor BRI misalnya, dilihat sawahnya ada, diberikan pinjaman itu. Lebih tepat, lebih mudah.
Saudara-saudara,
Benar bahwa kita ingin memberikan pinjaman sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya sehingga bisa membantu para pengusaha mikro kecil dan menengah. Sejak kita luncurkan bulan November tahun lalu, hingga hari ini sudah kita alirkan Rp 8 triliun. Saya berharap sampai akhir tahun kalau semuanya lancar bisa mengalir Rp 14 triliun. Sehingga lebih banyak lagi yang bisa dimodali oleh Kredit Usaha Rakyat.
Kalau Pak Asep ingin berlanjut sebenarnya Pemerintah juga akan menganggarkan APBN tahun 2009 sejumlah Rp 1 triliun. Hitungannya begini, kalau Pemerintah tahun ini menganggarkan Rp 1,4 triliun untuk penjaminan kredit, itu melalui ASKRINDO namanya dan SBU. Itu bisa dipinjamkan 10x lipat, jadi Rp 14 triliun. Nah, kalau tahun depan, insya Allah, kita bisa keluarkan Rp 1 triliun, maka siap lagi Rp 10 triliun. Asalkan habiskan dulu data yang ada ini, sehingga itu bisa dikeluarkan.
Mudah-mudahan Dewan Perwakilan Rakyat RI setuju dan kalau untuk kepentingan petani, kepentingan usaha kecil, menengah, mestinya DPR harus setuju. Karena untuk rakyat kita. Yang saya inginkan adalah Saudara-saudara yang ingin mendapatkan pinjaman dana itu. Tolong kalau mau minta kredit ke Bank itu yang jelas. Bulan lalu, ada yang mengirim SMS. kebetulan kalau nggak langsung ke saya, langsung ke ajudan, langsung ke staf khusus, langsung ke SMS 9949 atau ke isteri, Ibu Negara.
Kemarin itu, jatuhnya ke Ibu Negara. Ceritanya begini, ”Bu, sampaikan pada pak SBY, itu bagaimana Kredit Usaha Rakyat, katanya ada, ternyata saya tidak bisa pinjam. Bagaimana itu, mana realisasinya? kreditnya itu.” Sudah keras kalimatnya, sudah begitu. Kemudian ditanya oleh Ibu Negara, ”Bapak ini siapa, darimana, mau usaha apa, kok pinjam kredit KUR kok tidak dilayani.” ”Ya, pokoknya saya ini ingin mengembangkan, saya nggak menyerah, Bu. kami ini, saya ingin bangkit, tetapi kenyataannya KUR tidak bisa dipinjamkan.” Masih kencang. Sampai dikirim lagi, ”Begini saja, Pak. Kita bisa bantu, saya tanya saja, bapak itu usahanya apa kira-kira, nanti bisa kita arahkan ke BRI.” Akhirnya SMS yang ketiga, ”Lha itulah Bu, saya itu masih bingung mau usaha apa.” Ini demi Allah, ini masih ada rekamannya. ”Saya ini bingung, Bu, mau usaha apa.” Saya khawatir, tapi ini saya puji anak muda, jujur. ”Saya ini baru selesai pendidikan, saya nggak mau cengeng, saya ingin jujur sebetulnya.
Tapi pembukaannya salah tadi itu. Nah, kira-kira begini, Beliau ini datang ke BRI, ”Pak, Saya mau pinjam KUR, mana?” Tunggu dulu. ”Bapak usahanya apa?” ”Ya belum tahu, kira-kira pinjamnya berapa? apalagi, saya nggak tahu, Pak. ”Tempatnya dimana? Saya masih bingung juga.” Bagaimana mau dikasih kredit itu. Kalau usaha warung, warungnya ada. Warungnya ada, jualan soto kurang modal Rp 5 juta, Rp 2 juta dengan proses dipinjami, karena sudah masuk ke saya, yang mendapatkan pinjaman 1, 2, 3, 4, 5 juta atau Rp 10 juta dan seterusnya. Ada itu. Jadi asalkan usahanya ada, akan dipinjami. Sawahnya ada, dipinjami. Bakso, gerobaknya ada, jelas, dimana dia berusaha akan dipinjami. Jadi lebih cepat lebih mudah.
Minggu lalu, saya baru panggil Dirut BRI mana Pak Sofyan Basir. Saya panggil Dirut BNI, saya panggil Dirut Bank Mandiri. Bertiga. Biasanya ada BTN, ada BUKOPIN, ada Bank Syariah Mandiri. Saya minta sampai sekarang sudah berapa yang dialirkan. Sudah hampir 1 juta nasabah. Berapa? Rp 8 triliun total. Berarti masih tersedia lagi. Apa kesulitannya? Nah, itu tadi, perlu kejelasan dari mereka semua supaya nanti mudah.
Lantas yang kedua, saya bilang, pada Dirut-dirut itu antara BRI, BNI, Mandiri dan lain-lain, aturannya usahakan yang sama. Supaya nasabah ini tidak harus berbeda-beda. Saya kira yang melebihi dari Rp 5 juta ada kok, Pak. Pak Sofyan Basir, ada kan? Bapak bicara sebentar, silakan.
Sdr. Sofyan Basir, Direktur Utama BRI
Terima kasih Pak Presiden, Bapak-bapak, Ibu-Ibu, para petani yang saya hormati, kredit itu ada dua jenis yaitu kredit yang pertama dibawah Rp 5 juta dan yang kedua itu bisa dilanjutkan diatas Rp 5 juta sampai Rp 500 juta. Jadi Ibu-ibu dan Bapak-bapak Petani, kalau punya lahan lebih luas atau mau mengembangkan usaha pertanian yang lebih banyak, tentunya bisa dilanjutkan melalui BRI. Nanti kawan-kawan dari BRI unit yang akan melanjutkan kredit-kredit bapak ke tingkat cabang. Demikian, terima kasih, pak.
Presiden Republik Indonesia
Sudah terjawab Pak Asep? nah, sudah. Tapi jangan diulangi yang sms cerita tadi itu. Baiklah, kita akan bantu terus, tapi para petani, kami semua sangat peduli pada petani, kami semua sayang pada petani. Tentu kami ingin membangun irigasi, ingin memberikan pinjaman modal, ingin membantu, tapi sesuai dengan kemampuan negara dan semuanya itu dengan tata cara yang kita tetapkan. Oleh karena itu, saya meminta para pejabat daerah, pak Bupati, pak camat, pak Kepala Desa, berikan penjelasan kepada rakyatnya, tentang KUR, tentang program-program yang lain. Saya kira demikian, selamat berjuang para petani. Mari kita sambut masa depan kita Indonesia yang surplus pangan.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan
DIALOG PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
DENGAN PARA PETANI DAN PARA PENELITI PERTANIAN
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN PEKAN PADI NASIONAL TAHUN 2008
DAN PERESMIAN LABORATORIUM ANALISIS FLAVOR BERAS
BALAI BESAR PENELITIAN TANAMAN PADI
SUBANG, JAWA BARAT
24 JULI 2008
Sdr. Dadan, Bupati Karawang
Bismilahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang terhormat Bapak Presiden bersama Ibu, Singkat kata karena sudah siang pak, dengan kehadiran Bapak Presiden tadi. kita merasa sejuk, dalam artian kita tidak munafik, Pak, bahwa keberpihakan Pemerintah pada pertanian itu sudah luar biasa, Pak. Hanya ini suatu kondisi, Pak, riil saja, kami begitu besarnya anggaran di sektor infrastruktur irigasi.
Kebetulan Kerawang, Subang, kami banyak memiliki lahan pertanian yang sangat luas sekali dan penentu. Saya ambil contoh kerawang ini 93.000 hektar sawah pertanian teknis masih eksis sampai hari ini, Pak. Infrastruktur yang ada, jaringan induk saja 100 kilo meter. Sedangkan saluran sekunder itu 300 kilometer, yang saat ini disampaikan oleh Gubernur tadi, kondisinya rusak parah, yang anggarannya inti ada. Hanya problemnya kalau bisa kami sarankan berilah kewenangan ini kepada kabupaten untuk bisa diberikan bantuan dana itu untuk mengatasi itu.
Karena saya ambil contoh kasuistis minggu ini saja, kami jebol satu tanggul. Itu biaya 120 juta, padahal ini harus segera diatasi. Emergency. Itu balai bisa ditarik tidak mampu mengatasi dengan rincian budjet yang begitu besar anggaran tersebut. Terpaksa Pemda mengatasi lebih dulu. Dengan kasuistis-kasuistis ini, kami saran, berikanlah dalam bentuk BAK atau apa, dalam perbaikan infrastruktur irigasi ini kepada kabupaten. Karena anggaran itu, jatuhnya kepada PJP II Jatiluhung, Pak. Jadi kami tahun ini hanya mendapatkan perbaikan jaringan irigasi yang begitu luas, hanya Rp 7 miliar yang Bapak ceritakan tadi. Dan ini sudah kami laporkan kepada Bapak Menteri, tadi pagi, sambil ke kebun kita ya. Jadi ini mohon saja saran berikan kewenangan alokasi dana berapa kepada kabupaten yang betul-betul, artinya eksis dalam sektor pertanian-pertanian ini. Terima kasih, Pak. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Menteri Pertanian
Baik, kita selesaikan dulu tiga penanya. Pertanyaan kedua, dari petani, silakan.
Sdr. Husain, Legon Kulon Subang-Perwakilan Petani
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saya Husain dari Legon Kulon, Simpang. Kalau Legon Kulon Subang itu dekat pantai, Pak. 3 kilo dari bibir pantai dekat Mauk di situ, Pak. Itu harus jadi perhatian kita bersama, karena ketika, misalkan ada tsunami, kami mati duluan, mungkin. Mohon maaf, agak lambat, Pak. Saya agak grogi, gitu karena bertemu dengan Bapak, seorang figur eksekutif masa kini, berwajah rupawan, tidak kalah dengan bintang film Hollywood. Terima kasih.
Saya tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan, Pak, di hutan, sebetulnya, kami juga sering bercocok tanam, kaitannya dengan tumpangsari, begitu, ada padi, jagung, kedelai dan sebagainya. Ini sebetulnya sudah terangkum dalam konsep yang namanya kalau dari Perhutani itu ada PHBM, Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. Artinya, kegiatan kami juga patut diperhitungkan untuk mempertahankan pangan, kan seperti itu. Selanjutnya, kami tidak ingin minta apa-apa terhadap Bapak, karena kondisi kehutanan yang ada di Subang, katakan secara khusus, ini 30.000 hektar yang ada di Subang, kami jadi garda terdepan untuk mendukung istilah Bapak itu, global warming, gitu kan, seperti itu, pemanasan global, seperti itu, kami siap terdepan.
Dengan catatan, Bapak harus mengikutsertakan, menyertakan kegiatan yang berbasis ekonomi, supaya sosial kami juga meningkat. Ketika meningkat, maka program Pak Gubernur meningkatkan IPM juga akan tercapai, kan seperti itu. Masalahnya di kita di Perhutani, itu sebetulnya sudah ada program untuk ekonomi atau untuk meningkatkan sosial. Ada beberapa saya lihat Perhutani kerjasama dengan Pak Menteri Koperasi, misalkan, dipersilakan untuk membuka akses itu. Tetapi juga kaitannya dengan tumpangsari, kami terkendala, Pak di daerah itu. Kan, hutan itu sudah rapat, Pak, kami tidak bisa nanam padi, Pak, disitu karena sudah rapat oleh tanaman-tanaman pokok kehutanan. Baiknya, Bapak juga atau menginstruksikan kepada Pemerintah Daerah untuk tidak overlaping atau apa, kebijakannya itu selaras dengan Perhutani, seperti itu.
Di Subang, Pak, luar biasa, Pak. Bupati Eep Hidayat, luar biasa, dia melarang yang namanya penebangan di Subang ini. Tetapi kami akhirnya tidak bisa bercocok tanam tumpangsari. Ini harus seimbang, tolong oleh Bapak, tegur Pak Eep. Tuh ada, pak di sana. Lebih dalam, lebih luas lagi, Pak, tentang PHBM, Pak ya, Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. Bapak bisa lihat di stand Perum Perhutani, di sebelah kanan dari saya, Pak. Ada stand Perhutani, PHBM seperti ini, Pak. Mohon maaf terima kasih, kami petani, terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Menteri Pertanian
Yang ketiga silakan dari Perwakilan peneliti.
Sdr. Totok Agung, Perwakilan Peneliti
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Totok Agung, Praktisi Pendidikan dari Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto, dan Peneliti Padi Bogo Aromadi. Tadi Banyak disampaikan oleh Bapak mengenai harapan, dorongan, motivasi dan berbagai macam program mengenai pertanian. Tapi kami ingin sedikit cerita terkait dengan hal tersebut. Kalau di Indonesia ini, termasuk juga di dunia, seorang pemain bola, kalau berhasil memasukkan satu gol ke gawang lawan, itu mendapatkan hadiah jutaan, kadang-kadang bisa untuk membeli rumah, untuk membeli mobil, dan lain sebagainya. Seorang pemain bulu tangkis juga demikian. Ketika mendapatkan smash terakhirnya juga mendapat hadiah. Demikian juga untuk seniman, Pak. Tetapi untuk peneliti yang menghasilkan varietas unggul, itu, Pak, sekolah minimal 30 tahun terus-menerus, sampai doktor, seperti Pak Menteri Pertanian, itu. Terus, penelitian minimal terus menerus 7 tahun. Kalau nasib baik mendapatkan varietas unggul baru. Tapi ketika mendapatkan varietas unggul disertifikasi oleh Menteri Pertanian, peneliti tersebut tidak mendapat apa-apa ini Pak Presiden.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Menteri Pertanian
Baik Bapak. Silakan Bapak
Presiden Republik Indonesia
Tepuk tangan semuanya dulu. Yang pertama dari Pak Bupati Kerawang. Memang ada kebijakan, aturan tentang kewenangan, kewajiban dan tanggung jawab di dalam menggunakan anggaran. Terutama pembangunan infrastruktur atau prasarana. Untuk infrastruktur atau irigasi primer dan sekunder, itu memang pada tingkat Pusat dan Provinsi. Tetapi betul, dalam realitasnya, kalau kita harus responsif terhadap perubahan iklim, kerusakan, ini dan itu, tentunya yang paling depan adalah para Bupati. Semua itu bisa kita tata kembali, ya. Karena bagaimanapun kewenangan itu harus dekat dengan tugas dan kewajiban. Oleh karena itu disini ada Sekjen Pekerjaan, mana beliau? Ada disini? Tadi saya telepon Menteri Pekerjaan Umum sedang di Gorontalo, mau saya ajak ke sini, tapi Beliau keliling terus. Menteri PU ini aktif untuk terus membangun infrastruktur bersama dengan Gubernur, Bupati dan Walikota. Tetapi pikiran Pak Dadan, saya kira baik, coba nanti lihat kembali.
Bagi saya begini, lebih cepat, lebih bagus membangun infrastruktur. Anggaran yang ada harus sampai ke sasarannya, tidak belok kesana kemari, ya. Jadi kalau anggarannya jelas, sasarannya jelas, pelaksanaannya cepat dan tepat yang senang petani, yang senang kita semua. Oleh karena itu saya persilakan nanti Menteri terkait untuk melihat kembali ya. Namanya Undang-undang, Peraturan Pemerintah itu yang bikin kita semua, yang baik kita pertahankan, yang mesti kita perbaiki, kita perbaiki. ya. Oleh karena itu lihat dulu dan saya dengar tadi, apa yang ingin disampaikan oleh Pak Bupati, saya kira juga berlaku bagi semua, bagaimana pembagian kewenangan dan tugas yang tepat itu.
Yang kedua, Saudara Husain, petani. Mana tadi Pak Husain, tadi? Bagus ini, apa namanya, peduli betul. Dan pikiran ini, pikiran pemimpin negara berkembang, termasuk saya. Sebelum ke situ, masalah tsunami, tsunami itu, jarang sekali atau barangkali belum terjadi di Pantai Utara Jawa. Mengapa? tsunami itu terjadinya karena pergeseran lempeng tektonik. Lempeng tektonik itu adanya di sebelah barat Sumatera, sepanjang Sumatera, di sebelah selatan Jawa, sepanjang pantai Jawa selatan, terus naik ke atas ke arah Sulawesi dan Filipina atau ke Timur, ke Timur Leste dan ke Timur lagi. Akibat perubahan itulah terjadi gelombang tsunami memukul pantai-pantai terdekat dengan kecepatan tertentu. Oleh karena itu sebetulnya tidak usah terlalu cemas untuk pantai Utara Jawa. kalau Pacitan, kampung saya, itu harus waspada. Pak Bupatinya ada disini, karena itu sama dengan Cilacap, sama dengan Pangandaran. Itu juga rawan, sebagaimana pantai Barat Sumatera.
Yang kedua, kita sudah punya sistem, begitu ada gempa bumi, kebetulan pergeseran lempeng tektonik, kedalamannya berapa, dekat pantai mana, sekian menit itu sudah bisa kita ketahui. Dan biasanya kita sebarluaskan ke daerah-daerah itu untuk waspada. Oleh karena itu saya diingatkan oleh beliau tadi, masalah tsunami, begitu duduk persoalan tsunami, tidak perlu sangat khawatir tapi waspada, manakala ada gempa dan berpotensi untuk menimbulkan tsunami.
Yang disampaikan oleh Pak Husain tadi, ini masalah hutan ini untuk apa sih, Pak? apakah hanya untuk digunakan sebagai paru-paru bumi, untuk mencegah pemanasan global? mencegah perubahan iklim, itu saja? atau tidak ada manfaatnya untuk kesejahteraan penduduk di sekitarnya.
Posisi kita jelas, posisi Indonesia jelas, waktu saya berbicara di Jepang, tanggal 9 yang lalu saya sampaikan bahwa bagi negara berkembang. Bagi Indonesia hutan itu memiliki 2 fungsi, yang pertama memang untuk mencegah yang disebut dengan emisi, kita pelihara, kita rawat baik-baik. Itu memang tugas, disamping menyelamatkan bumi, kalau hutannya gundul ditebang kesana-kemari kan banjir, tanah longsor, yang menderita rakyat kita juga. Jadi meskipun, atau katakanlah diluar kerjasama dan kewajiban global, kita pun harus memelihara hutan kita dengan tujuan itu.
Tetapi, hutan juga harus bisa mendatangkan kesejahteraan, mendatangkan hasil ekonomi bagi penduduk setempat, kalau Indonesia ya bagi rakyat Indonesia. Oleh karena itu, kita atur, kita atur, tadi sudah disampaikan bagaimana pengaturan yang baik lahan pertanian dengan kehutanan. Mana yang hutan lindung, mana yang bukan hutan lindung yang bisa kita gunakan. Termasuk, mengenai kebijakan dari Pak Bupati tadi. Saya kira semua itu diserasikan.
Saya juga pernah diprotes oleh saudara-saudara kita di Aceh Tengah, kawasan Leuser itu. Pak, ini kalau hanya mempertahankan untuk kelahiran bumi dan binatang-binatang, bagaimana manusianya? Peri kehutanan, peri kehewanan dihadapkan dengan peri kemanusiaan, begitu. Dalam perkembangannya bagi negara-negara yang harus memelihara hutannya, itu nantinya, tapi masih harus kita perjuangkan ada kompensasi, ada kredit, ada biaya untuk mengganti kita memelihara hutan untuk kepentingan manusia sejagat. Tetapi yang penting negara kita sendiri, daerah-daerah propinsi Kabupaten kota, silahkan ditata dengan baik. Seskab tolong sampaikan ke Menteri Kehutanan juga, keluarkan aturan dan PP dan jelaskan PP itu. Saya kira PP-nya sudah ada. Demikian juga pemerintah-pemerintah daerah, tolong dijelaskan kepada publik, yang penting terjadi sinergi, terjadi koordinasi, jangan sampai tidak ada penyelesaian sama sekali.
Kalau tadi disebut ada Perhutani, ada BPHM, PHBM ya? Aturannya ada, silakan diatur disitu. Itu bisa dibicarakan. Betul, saya memang memerintahkan untuk memberantas penebangan liar, illegal logging. Mengapa? orang yang menebang hutan itu untungnya bermiliar-miliar rupiah, tapi negara dirugikan. Iklim berubah, banjir, tanah longsor. Itu kejahatan yang luar biasa, harus kita berantas. Tetapi penduduk setempat harus diselamatkan, diberikan jalan keluar, bagaimana penghasilannya agar disatu sisi hutan dirawat. Kemudian mereka mendapatkan sumber penghidupan. Inilah tugas kita semua, yang ke depan adalah jajaran Pemerintah Daerah. Oleh karena itu khusus berkaitan dengan wilayah yang tadi disebutkan disini ada Pak Bupati, Pak Gubernur silakan dilihat, dicek dan apa yang musti ditata kembali. Kalau harus ada konsultasi dengan Pemerintah Pusat, saya persilahkan dengan menteri terkait.
Yang ketiga adalah tentang, ini masalah nasib, ini ya. Saya ini sebelum mengemban tugas di pemerintahan, kurang lebih 30 tahun sebagai prajurit di TNI. Memang, Pak Totok, dulu ada istilah namanya Litbang itu, sulit berkembang. Karena penghasilannya pas-pasan, kerjanya setengah mati, kalau berhasil tidak ada yang ingat. Kemudian yang dapat keuntungan yang menggunakan hasil penelitian dan pengembangan itu. Sebenarnya tahun-tahun terakhir ini kita sudah menata keseluruhan remunerasi, keseluruhan insentif, sistem penggajian dan tunjangan. Tapi ini bagus ya, meskipun kami, saya sendiri sudah berkali-kali mengingatkan, ini ada Seskab disini, catat, coba dicek kembali bagaimana sistem pembinaan karir para peneliti, para pengembang. Bukan hanya gaji dan tunjangannya tapi sistem karirnya, jabatannya dan seterusnya. Jangan sampai kita itu tadi litbang, sulit berkembang. Jangankan penelitinya, kadang-kadang cemarapun kurang hidup di situ. karena habis untuk meneliti.
Saya kira kita perlu keadilan dan saya terima ya. Karena saya juga pernah merasakan, sebagai guru dulu sekian tahun itu kadang-kadang terlupakan. Sekarang kita perbaiki semuanya. Termasuk peneliti dan pengembang. Pak Totok di Purwokerto ya. Baik, ini Menteri Pertanian juga di sini. Ini mestinya kalau swasta itu begitu mengeluarkan varietas unggul, luar biasa itu bonusnya itu, seperti pemain olahraga, seperti yang tadi itu. Tolong dipikirkan, tapi dalam batas kemampuan negara dan adil bagi semua. Terima kasih pak Toto.
Menteri Pertanian
Terima kasih Bapak Presiden, Jika berkenan, ada saya kira petani padi belum terwakili ini, Pak. Petani padi? Petani padi, bukan? Petani padi, boleh. silakan. Satu terakhir, Bapak.
Sdr. Asep Saefuddin
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Nama saya Asep Saefuddin. Setelah tadi saya mencermati apa yang diuraikan oleh Bapak Presiden, yang cukup panjang lebar, agar supaya negara kita produksi pertaniannya lebih meningkat lagi. Dan alhamdulillah, Pak, sekarang mungkin para petani sudah bisa melaksanakan itu dengan sebaik mungkin, asalkan ada satu mungkin syaratnya, gitu Pak ya. Yang pertama, alhamdulillah, kami, Pak sebagai mitra dari BRI untuk sekarang ini, kami petani kecil, terutama singkat, susah masalah pembiayaan untuk pertanian, Pak. Karena apa, sekarang yang lain-lain serba meningkat seperti pupuk dan lain sebagainya, termasuk tenaga kerja.
Dan, alhamdulillah, berkat adanya program KUR Kredit Usaha Rakyat, alhamdulillah kami merasa terbantu untuk menangani hal tersebut, Pak. Dan, kami mohon untuk selanjutnya kami sebagai petani kecil, pak program KUR tersebut mohon berlanjut dan berkesinambungan Pak. Bahkan kami yang mendapat atau memperoleh KUR, program dari BRI unit, yang mungkin limitnya dibatasi Rp 5 juta ke bawah, pak, karena mungkin kurang mencukupi. Mohonlah nanti untuk unit bisa ditambah lagi lebih dari segitu, pak. Mungkin hanya itu saja Pak, sekedar sambutan dari saya, terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,
Saya kira sambutan Pak Asep Saefuddin sangat jelas. Hatur nuhun, mana Pak Asep tadi ini penting, yang lain terima kasih diingatkan KUR-nya itu. Begini, semua tahu, Pak Bupati tahu, Pak Gubernur tahu, para Menteri tahu, usaha mikro kecil dan menengah itu ingin usahanya tumbuh. Ingin toh? Tetapi kadang-kadang permodalan sulit, mau pinjam ke bank itu persyaratannya banyak, agunannya harus ada dan ini dan itu ya. Katakanlah susahlah gitu. Oleh karena itulah kita sejak tahun lalu telah menetapkan kebijakan Kredit Usaha Rakyat dengan pola penjaminan. Maksudnya kalau usahanya jelas, kalau pertanian sawahnya ada, yang menggarap ada, modalnya kurang, bisa berhubungan dengan kantor BRI misalnya, dilihat sawahnya ada, diberikan pinjaman itu. Lebih tepat, lebih mudah.
Saudara-saudara,
Benar bahwa kita ingin memberikan pinjaman sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya sehingga bisa membantu para pengusaha mikro kecil dan menengah. Sejak kita luncurkan bulan November tahun lalu, hingga hari ini sudah kita alirkan Rp 8 triliun. Saya berharap sampai akhir tahun kalau semuanya lancar bisa mengalir Rp 14 triliun. Sehingga lebih banyak lagi yang bisa dimodali oleh Kredit Usaha Rakyat.
Kalau Pak Asep ingin berlanjut sebenarnya Pemerintah juga akan menganggarkan APBN tahun 2009 sejumlah Rp 1 triliun. Hitungannya begini, kalau Pemerintah tahun ini menganggarkan Rp 1,4 triliun untuk penjaminan kredit, itu melalui ASKRINDO namanya dan SBU. Itu bisa dipinjamkan 10x lipat, jadi Rp 14 triliun. Nah, kalau tahun depan, insya Allah, kita bisa keluarkan Rp 1 triliun, maka siap lagi Rp 10 triliun. Asalkan habiskan dulu data yang ada ini, sehingga itu bisa dikeluarkan.
Mudah-mudahan Dewan Perwakilan Rakyat RI setuju dan kalau untuk kepentingan petani, kepentingan usaha kecil, menengah, mestinya DPR harus setuju. Karena untuk rakyat kita. Yang saya inginkan adalah Saudara-saudara yang ingin mendapatkan pinjaman dana itu. Tolong kalau mau minta kredit ke Bank itu yang jelas. Bulan lalu, ada yang mengirim SMS. kebetulan kalau nggak langsung ke saya, langsung ke ajudan, langsung ke staf khusus, langsung ke SMS 9949 atau ke isteri, Ibu Negara.
Kemarin itu, jatuhnya ke Ibu Negara. Ceritanya begini, ”Bu, sampaikan pada pak SBY, itu bagaimana Kredit Usaha Rakyat, katanya ada, ternyata saya tidak bisa pinjam. Bagaimana itu, mana realisasinya? kreditnya itu.” Sudah keras kalimatnya, sudah begitu. Kemudian ditanya oleh Ibu Negara, ”Bapak ini siapa, darimana, mau usaha apa, kok pinjam kredit KUR kok tidak dilayani.” ”Ya, pokoknya saya ini ingin mengembangkan, saya nggak menyerah, Bu. kami ini, saya ingin bangkit, tetapi kenyataannya KUR tidak bisa dipinjamkan.” Masih kencang. Sampai dikirim lagi, ”Begini saja, Pak. Kita bisa bantu, saya tanya saja, bapak itu usahanya apa kira-kira, nanti bisa kita arahkan ke BRI.” Akhirnya SMS yang ketiga, ”Lha itulah Bu, saya itu masih bingung mau usaha apa.” Ini demi Allah, ini masih ada rekamannya. ”Saya ini bingung, Bu, mau usaha apa.” Saya khawatir, tapi ini saya puji anak muda, jujur. ”Saya ini baru selesai pendidikan, saya nggak mau cengeng, saya ingin jujur sebetulnya.
Tapi pembukaannya salah tadi itu. Nah, kira-kira begini, Beliau ini datang ke BRI, ”Pak, Saya mau pinjam KUR, mana?” Tunggu dulu. ”Bapak usahanya apa?” ”Ya belum tahu, kira-kira pinjamnya berapa? apalagi, saya nggak tahu, Pak. ”Tempatnya dimana? Saya masih bingung juga.” Bagaimana mau dikasih kredit itu. Kalau usaha warung, warungnya ada. Warungnya ada, jualan soto kurang modal Rp 5 juta, Rp 2 juta dengan proses dipinjami, karena sudah masuk ke saya, yang mendapatkan pinjaman 1, 2, 3, 4, 5 juta atau Rp 10 juta dan seterusnya. Ada itu. Jadi asalkan usahanya ada, akan dipinjami. Sawahnya ada, dipinjami. Bakso, gerobaknya ada, jelas, dimana dia berusaha akan dipinjami. Jadi lebih cepat lebih mudah.
Minggu lalu, saya baru panggil Dirut BRI mana Pak Sofyan Basir. Saya panggil Dirut BNI, saya panggil Dirut Bank Mandiri. Bertiga. Biasanya ada BTN, ada BUKOPIN, ada Bank Syariah Mandiri. Saya minta sampai sekarang sudah berapa yang dialirkan. Sudah hampir 1 juta nasabah. Berapa? Rp 8 triliun total. Berarti masih tersedia lagi. Apa kesulitannya? Nah, itu tadi, perlu kejelasan dari mereka semua supaya nanti mudah.
Lantas yang kedua, saya bilang, pada Dirut-dirut itu antara BRI, BNI, Mandiri dan lain-lain, aturannya usahakan yang sama. Supaya nasabah ini tidak harus berbeda-beda. Saya kira yang melebihi dari Rp 5 juta ada kok, Pak. Pak Sofyan Basir, ada kan? Bapak bicara sebentar, silakan.
Sdr. Sofyan Basir, Direktur Utama BRI
Terima kasih Pak Presiden, Bapak-bapak, Ibu-Ibu, para petani yang saya hormati, kredit itu ada dua jenis yaitu kredit yang pertama dibawah Rp 5 juta dan yang kedua itu bisa dilanjutkan diatas Rp 5 juta sampai Rp 500 juta. Jadi Ibu-ibu dan Bapak-bapak Petani, kalau punya lahan lebih luas atau mau mengembangkan usaha pertanian yang lebih banyak, tentunya bisa dilanjutkan melalui BRI. Nanti kawan-kawan dari BRI unit yang akan melanjutkan kredit-kredit bapak ke tingkat cabang. Demikian, terima kasih, pak.
Presiden Republik Indonesia
Sudah terjawab Pak Asep? nah, sudah. Tapi jangan diulangi yang sms cerita tadi itu. Baiklah, kita akan bantu terus, tapi para petani, kami semua sangat peduli pada petani, kami semua sayang pada petani. Tentu kami ingin membangun irigasi, ingin memberikan pinjaman modal, ingin membantu, tapi sesuai dengan kemampuan negara dan semuanya itu dengan tata cara yang kita tetapkan. Oleh karena itu, saya meminta para pejabat daerah, pak Bupati, pak camat, pak Kepala Desa, berikan penjelasan kepada rakyatnya, tentang KUR, tentang program-program yang lain. Saya kira demikian, selamat berjuang para petani. Mari kita sambut masa depan kita Indonesia yang surplus pangan.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



