Arsip

« Juni 2009 »
M S S R K J S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930    

Wawancara

Dialog dengan Pimpinan dan Staf MNI Group

TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN RI DENGAN PIMPINAN DAN STAF MNI GROUP
DALAM RANGKA
KUNJUNGAN KE KANTOR HARIAN SEPUTAR INDONESIA
DI JLN. KEBON SIRIH, JAKARTA PUSAT
26 JUNI 2009



Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Bapak Hary Tanoe selaku Pimpinan Umum Seputar Indonesia dan Media Nusantara Indonesia Group,
Para pimpinan dan pejabat teras dari Group MNI yang saya cintai dan saya banggakan,

Alhamdulilah kita bisa bertemu dan bersilaturahim kembali pagi ini, yang tadi diawali oleh santap pagi bersama, dan komunikasi seperti ini penting karena komunikasi itu juga bagian dari solusi. Jembatan yang mesti kita bangun adalah jembatan untuk menyatukan pikiran-pikiran baik kita, tekad baik kita dan karya kita, masyarakat, bangsa dan negara, dan untuk mengembangkan demokrasi di negeri ini. Meskipun saya sering ketemu dengan, baik Pak Hary Tanoe maupun pimpinan yang lain, dalam kerangka tugas, tugas saya sebagai kepala pemerintahan dan sebagai kepala negara di negeri ini. Namun, komunikasi dalam suasana yang lebih rileks, penuh dengan persaudaraan itu sekali-kali kita perlukan.

Saya ingin memberikan pengantar singkat dan selebihnya saya persilakan nanti kalau ada yang ingin menanyakan sesuatu kepada saya, baik dalam kapasitas saya sebagai presiden yang sedang memimpin maupun dalam kapasitas saya sebagai calon presiden yang juga ikut berkompetisi dalam Pemilihan Presiden-Wakil Presiden tahun 2009 ini.

Namun sebelumnya, sebagaimana yang saya sampaikan tadi di ruangan, saya ingin menyampaikan apresiasi dan terima kasih saya kepada group ini, yang saya amati, saya ikuti, saya nilai. Apa yang dikomunikasikan kepada publik, itu sesuatu yang fair, kritis, konstrukstif. Saya kira itulah peran media, peran pers sebagai stake ke-4 dalam demokrasi. Kalau itu terus menjadi haluan, menjadi ideologi group MNI, saya yakin group ini akan, bukan hanya survive, tetapi juga terus tumbuh menjadi satu group media di negeri kita ini.

Kemudian yang kedua, ini harapan saya, ketika meliput hingar-bingar, gegap-gempitanya pemilihan umum, utamanya Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, liputlah secara fair juga, berimbang. Dengan demikian, rakyat bisa mendapatkan informasi tentang pikiran masing-masing calon Presiden dan calon Wakil Presiden.

Saya melihat, Sindo misalnya, ikut mengangkat semuanya secara proporsional dan ini pembelajaran demokrasi yang baik. Makin terinformasi rakyat kita, siapa kandidat-kandidat itu, apa pikiran-pikirannya, apa yang akan dilakukan kita, yang terpilih. Dengan demikian istilah kita tidak memilih kucing dalam karung itu tidak terjadi dan mereka yakin dari C or B must be someone maka pilihan itu, choosing itu betul-betul karena informasi yang lebih lengkap. Itu adalah 3 misi media massa, menjelaskan siapa, masing-masing kandidat itu. Termasuk pikiran-pikiran dan rekam jejaknya, kredibilitas. Apa yang dijanjikan, “visi misi dan penjelasan-penjelasan”.

Harapan saya itu, meskipun tinggal 1 minggu tapi tidak pernah, tidak ada sesuatu yang selalu penting dalam kehidupan kita demikian juga dalam kehidupan media massa.

Saya kira itu pengantar saya, dan saya persilahkan, saya kembalikan pada teman-teman dari group MNI, yang ingin menyampaikan sesuatu, atau ingin menanyakan sesuatu. Saya persilahkan.

Hary Tanoe:
Terimakasih Bapak Presiden. Saya persilakan kepada kawan-kawan, langsung saja karena beliau sudah membuka, begitu, terbuka dan transparan. Mungkin saya mulai dari mas Arief ya, silakan.

Presiden RI:
Ini mewakili RCTI atau TV lokal?

Arief Soeditomo:
Mewakili jurnalis, Pak.
Terimakasih Bapak Hary Tanoe, bapak-bapak dan Ibu-ibu, Bapak Presiden yang kami hormati, yang saya amati adalah tentang pemikiran Bapak tentang black campaign. Apakah Bapak merasa dalam pemilu ini black campaign ada? Dan kalau pun ada, apakah Bapak menganggap ini masih dalam batas-batas yang wajar? Kurang lebih itu, pak.

Presiden RI:
Saya harus membedakan antara negative campaign dengan black campaign. Negative campaign meskipun sebagian rakyat kita tidak menyukai, tapi itu lumrah dalam sebuah kompetisi, dalam election. Di negara manapun selalu ada negatif dan terus menyerang, mendiskriditkan. Saya pikir dalam batas-batas kepatutan, it is ok, tetapi kalau black campaign urusannya menjadi agak berbeda karena mengatakan sesuatu yang tidak ada, dalam bahasa agama kita sebut fitnah. Dalam istilah hukum kebohongan publik. Ini menjadi lain, misalnya saya harus memberi contoh ada selebaran, sms, ngomong-ngomong person to person, ibu Boediono itu beragama Katolik.

Beliau seorang muslimah. Saya melihat agama itu dengan perghormatan karena dijamin oleh konstitusi kita. Apapun agamanya tentu kita harus menghormati. Mengangkat isu agama itu saja, kalau saya pribadi, mungkin tidak perlu dalam kompetisi. Apalagi mengatakan seorang muslimah dianggap beragama lain. Itu kan black campaign. Tidak benar.

Ada lagi sekarang beredar di Jawa Timur, di kalangan Nahdlatul Ulama, jangan pilih SBY, begitu SBY jadi Presiden, sudah ada kontrak politik. Nanti Menteri Pendidikan Nasionalnya akan dipilih seorang yang keras dari partai politik X. Menteri Agama biasanya NU, nanti yang menduduki lain pula, dari partai politik ini, yang bisa nanti. Tidak benar sama sekali. Jangankan menyusun kabinet, wong ini terpilih tidak terpilih, juga masih menunggu nasib dari Allah SWT, sudah menyusun kabinet, gitu. Ini kan tidak ada. Tentu masuk, gitu. Contoh black campaign, saya, posisi saya menyerulah janganlah negative campaign, karena siasat dalam politik dibenarkan. Tetapi kalau sudah fitnah, dari tidak ada menjadi ada, menurut saya kok tidak bagus. Harus kita break end seperti itu kita menyadarkan kepada semua, ketika kita berpolitik ya, dengan penuh etika dan budaya. Jadi kalau saya ditanya apakah masih manageable? kalau kita lalai dan lengah suatu saat menjadi praktisi politik di Indonesia, ketika pilkada, ketika pilpres, pemilu bisa subur dengan black campaign atau fitnah.

Hary Tanoe:
Benar sekali pendapat Bapak, black campaign sama negative campaign. Mas Sri, ada pertanyaan?

Pak Sri:
Makasih Pak Hari, makasih Pak Presiden. Saya dari Trijaya FM. Rupa-rupanya semua melihat pak SBY sebagai lawan yang tangguh sehingga apapun yang Bapak sampaikan menimbulkan komentar. Terakhir soal KPK, ketika Bapak menyentil kekuasaan yang ada di KPK, banyak sekali pendapat dan menyebutkan bahwa mereka meragukan komitmen Bapak dalam pemberantasan korupsi.

Presiden RI:
Persisnya apa maksudnya coba?

Pak Sri:
Yang terakhir Pak, yang di Kompas. Waktu Bapak datang ke Kompas.

Presiden EI:
Yang diangkat apa, saya belum mengikuti?

Pak Sri:
Karena superbody, satu superbody yang dimiliki oleh KPK itu, Bapak ingatkan kalau itu bisa menjadi berbahaya kalau tidak ada kontrol.

Presiden RI:
Coba saya, karena begini, banyak sekali beredar berita yang tidak saya katakan. Banyak sekali isu yang dilepas dari konteks. Ini kebetulan ada Saudara Deny Indrayana, staf khusus saya di bidang hukum. Apa yang terjadi dengan pemberitaan itu.

Deny Indrayana:
Persisnya kemarin itu ada pertanyaan dari Budiman.. yang Bapak respon di Kompas, yang diberitakan di Harian Kompas, halaman 1 kemarin, dan itu mengangkat Bapak mengkhawatirkan KPK sebagai lembaga yang sejati karena superbody tidak terkontrol. Ada pertanyaan bagaimana kalau KPK terkontaminasi, Bapak bilang apa ditegakkan proses hukumnya. Itu dibantah sebagian teman sebagai melemahkan KPK. Bahkan dalam berita Hari ini dianggap sebagai grand desain untuk membunuh KPK. Jadi bahkan Bapak diarahkan kesana sekarang direspon dari teman-teman itu sebagai kebijakan pemerintah kemudian ada pemberitaan komitmen pemberantasan korupsinya kesan apa, adanya sedikit bias dari apa yang Bapak jelaskan, keluar semua instruksi. Termasuk KPK pun harus dikontrol, tapi kemudian menjadi berita melemahkan KPK

Presiden RI:
Ok., itu yang ditanyakan ya. Begini, kalau incumbent itu dimana-mana biasanya di-challenge. Pers ikut men-challenge, pengamat ikut men-challenge, apalagi kompetitor. Saya sudah sangat siap itu, asalkan, sekali lagi, jangan black campaign. Selalu ada batas kepatutan. Kalau itu wrong perception. Saya ini die hard untuk pemberantasan korupsi, penegakan hukum. Tipikor saya bentuk , meskipun 2 tahun saya hentikan karena sudah jalan semua. Dan KPK remain menjadi andalan kita.

Ketika sekarang Undang-Undang Pengadilan Tipikor itu seperti mengalami jalan buntu. Saya sudah berancang-ancang untuk mengeluarkan Perpu untuk supaya tetap eksis. Jadi salah besar kalau seolah-olah saya tidak suka dengan KPK atau KPK kita anggap bisa jalan sendiri. Saya mengatakan coba lagi, dilihat transkripnya, apa saya mengatakan KPK superbody? Coba cek. Cek. Yang saya sampaikan kemarin itu bicara check and balances ya. Eksekutif, legislatif, yudikatif dan lembaga-lembaga lain. Semua ada check and balances power must not go and check. Kekuasaan Presiden dilucuti dengan 4 kali amandemen dalam Undang-Undang Dasar. Bandingkan dengan Presiden-presiden sebelumnya kekuasaan Presiden SBY ini tidak sebesar kekuasaan presiden-presiden dulu. Tapi itu membawa kebaikan sebenarnya. Betul-betul check and balances itu hidup. Tetapi dalam check and balances ini juga berlaku bagi semua. Kalau sebuah kekuasaan itu tidak ada yang mengontrol, kekuasaan dikontrol kekuasaan yang lain. Tidak boleh yang ngontrol hanya Allah SWT vertikal begitu. Oleh karena itulah, dalam konteks seperti itu, check and balances, power must be controlled by another power. Itu yang saya maksudkan. Jadi tidak ada tudingan saya kepada satu, dua lembaga seperti itu. Tidak ada. Saya juga dengar sekarang. Saya belum berikan komentar apapun. Misalkan KPK menyadap yang tidak proper. Selesaikan secara baik, ada nggak hukumnya, ada mekanisme. Tapi tidak ada pikiran untuk memundurkan kembali langkah-langkah memberantas korupsi di negeri ini.

Demikian juga tidak ada pikiran seorang SBY untuk mengebiri lembaga-lembaga penegak hukum. Apalagi KPK. Konteksnya adalah power must not go and check siapapun yang punya power. Apakah itu Presiden, siapapun parlemen, lembaga-lembaga, banyak sekali lembaga kita disini. KPK salah satu lembaga itu. Tapi saya tidak menuding salah satu, makanya saya ingin transkripnya seperti apa. Karena saya itu relatif hati-hati untuk bicara begitu. Sehingga kalau tafsirannya begitu, ya harus direspon kita punya perangkat menteri, punya staf. Kalau ada berita begitu jelaskan. Apa yang ada dalam pikiran saya, what I have done so far in our five years. Jadi kalau itu dijelaskan maka persepsi yang tidak tepat menjadi bisa kita luruskan. Terimakasih itu yang saya maksudkan dengan bagaimana saling kontrol, check and balances dalam arti yang luas, itu tadi. Terima kasih.

Hary Tanoe:
Jadi sebetulnya normatif, pak, ya. Semua harus check and balanches. Masalahnya mungkin media itu kadang-kadang interpretasinya beda.

Presiden RI:
Makanya saya itu punya transkrip, semua yang saya bicarakan lengkap transkripnya. Bisa di-check nanti.

Hary Tanoe:
Terima kasih Bapak. Dari Global TV, ini termasuki MNC
di bawah mbak Siane juga, chanel-chanel yang ada di Indovision, Pak.


b>Siane Indriyani:
Terimakasih, kami hanya sedikit mengusulkan anggaran APBN itu kalau melihat pendidikan sangat besar sekali 20%. Sementara di sisi laiin yang sangat penting, kesehatan itu hanya 2%. Perbedaan alokasi dana yang sebetulnya untuk masa sekarang ini sangat dibutuhkan untuk kesehatan. Maka kalau kita melihat bahwa di banyak daerah, kita sebagai pers seringkali mendapatkan, misalnya anak gizi buruk dan sebagainya. Itu semula ketika yang terakhir di Bandung, itu ada anak gizi buruk. Kondisinya sangat miskin, ibunya, dia punya anak 2 tahun, 3 tahun dan 5 tahun. Ibunya di TKI di Arab. Sehingga Bapaknya tidak bisa bekerja karena menjaga anak-anaknya. Kemudian ternyata tidak ada satupun tetangga yang mengetahui hal itu.

Baru kemudian kita beritakan di RCTI dan di Global TV, baru kemudian berdatanganlah dari Puskesmas dan sebagainya untuk membawa anak itu ke rumah sakit. Tapi sampai sekarang itu masih mengalami hambatan karena dia tidak punya sama sekali uang. Ternyata anaknya yang terakhir itu selama 3 bulan hanya diberi air mentah yang sudah tercemar banyak sekali bakteri. Nah, melihat ini, pak, saya tuh prihatin sekali kalau misalnya ada pertanyaan bagaimana kesehatan, terutama di kalangan kaum tidak mampu ini harus mendapatkan priority. Karena bagaimanapun juga di beberapa tempat itu masih banyak orang yang agak takut untuk masuk ke rumah sakit karena nggak punya uang. Apakah mungkin ada gerakan yang mungkin seperti kampanye yang dilakukan oleh kepala desa untuk menggerakkan bahwa ayo ke dokter atau mungkin ke rumah sakit, puskesmas, yang itu terakhir mereka itu nggak berani pak, kesana.

Presiden RI:
Ibu, kalau kita bicara policy dan apa yang kita lakukan sesungguhnya kesehatan itu salah satu sektor yang kita reform. Reformasi yang signifikan. Pertama kali dalam sejarah kita memberikan jaminan kesehatan masyarakat berobat gratis. Bagi yang miskin dan poor and near poor 76 juta orang. Gratis, baik di puskesmas atau rumah sakit kelas 3 ataupun rumah sakit rujukan karena spesialisasinya. This number one, sampai sekarang berlaku. Dulu pro dan kontra saya putuskan harus. Yang kedua, kita hidupkan kembali PPT, kita hidupkan kembali pos pelayanan terpadu. Itu cara untuk mensosialisasikan, mengajak, menimbang bayinya, perawatan Ibu yang sedang hamil dan segala macam. Karena disamping MDG’s itu juga ukuran, indeks pembangunan manusia, human development indeks. Itu yang ke-dua. Kita bikin obat generik yang lebih murah dan accessable. Itu juga salah satu untuk , ada program khusus untuk memerangi malaria dan DB, misalkan di daerah termasuk HIV/AIDS di Papua scheme itu ada sebenarnya.

Jadi kalau saya melihat sebetulnya sektor yang berubah total dalam jangka waktu 5 setengah tahun ini diambil pendidikan dan kesehatan dan biayanya besar. Saya khawatir yang ibu lihat itu hanya biaya Departemen Kesehatan. Beda dengan anggaran kesehatan secara nasional Pusat dan Daerah. Karena fungsi kesehatan atas nama desentralisasi dan otonomi daerah tidak lagi menjadi kewenangan Pusat. Itu sepenuhnya daerah.

Namun, kalau dipikir apa harus ditambah anggarannya ya harus 1000 trilyun, 2 ratus trilyun untuk pendidikan karena amanah konstitusi, yang lainnya teriak-teriak. Pertahanan teriak, supaya kemudian, kesehatan tambah lagi tentunya. Infrastructure building, supaya ekonomi bergerak minta lagi. Kemudian, hampir semua perikanan, nelayan, segala macam. Nah, disitulah politik APBN, perlu prioritas, perlu choose sehingga orang nampak luar hanya otak-atik. Tapi under my precidency, saya pastikan bahwa desain APBN. Politik APBN itu benar. Ada 3 komponen utama. Komponen pertama adalah membiayai tugas-tugas pemerintahan umum. Itu harus berjalan dengan 24 hours a day, besar, porsi yang kedua, untuk bikin ekonomi tumbuh. Growth stimulation. Infrastruktur, banyak sekali disitu. Nah, yang ketiga kesejahteraan. Social safety net. Penanggulangan kemiskinan.

Dari structure seperti itulah saya ingin makin ke depan, makin tumbuh. Sekarang lumayan karena Rp 1000 triliun. 5 tahun yang lalu masih Rp 500 triliun. Oleh karena itu sesungguhnya sudah banyak yang kita lakukan, meskipun enough is not good enough. Masih belum, masih banyak lagi. Dan memang ada krisis. Mesti ada itu satu kasus, dua kasus. Gizi buruk itu ternyata ada lokalisasi tertentu, ada yang dari dulu gizinya buruk terus. Why? Life style. Why leadership-nya tidak open, biasanya dari dulu juga gitu, yang lain tidak. Kecamatan sebelahnya oke, kabupaten sebelahnya oke.

Oleh karena itulah sebetulnya dengan otonomi daerah itu semua Bupati, Walikota, harus turun. Apa yang kurang? Meskipun secara nasional saya bertanggung jawab dan terus kita tingkatkan. Yahukimo, misalkan, saya segera terbang kesana. Ternyata ya, kebiasaan, tradisi, life style, mengubahnya tidak serta merta, tidak boleh kita loloh terus. Mesti diberdayakan, dimengertikan. Ibu mengatakan disosialisasikan. Dididikan kepada mereka sehingga berubah. Makasih.

Hary Tanoe:
Terimakasih Bapak. Kalau boleh kita lompat ke Sindo, Bapak, karena mereka bilang yang tempatnya Sindo Pak.

Presiden RI:
Yang punya ruangan. Disuruh keluar semua kita nanti.

Hary Tanoe:
Ok Mas Har, silakan.

Pertanyaan:
Terimakasih, Bapak Presiden. Pertanyaan saya adalah soal koalisi partai yang mendukung Bapak. Apakah sampai sekarang ini tetap konsisten? Karena lihat dari survey itu Bapak memang masih tinggi, tapi ada tren sedikit menurun, meskipun tidak terlalu signifikan. Apakah koalisi itu hanya di jajaran level atas, tapi yang di bawah tidak terjaga dengan baik. Kemudian juga kemungkinan Pilpres satu putaran. Ini kan juga mendapatkan counter yang tidak baik dari kompetitor. Terus nanti bagaimana kalau misalnya dua putaran? Karena yang penting bukan SBY. Inikan gerakan dibawah itukan begitu artinya, saya secara pribadi juga perlu mendapatkan background dari Bapak tentang, bagaimana kesiapan diri Bapak untuk mengantisipasi hal ini. Kemudian, juga ada masukan, satu, mungkin Bapak, begini, Pak, mungkin di lapangan perlu agak natural karena pak Jusuf Kalla, dalam beberapa hal dia improvisasinya lebih natural sehingga secara spontan banyak orang suka, mungkin ini masukan secara pribadi. Terima kasih.

Presiden RI:
Baik, yang terakhir adalah saya melakukan itu sejak 5 tahun yang lalu, bukan di iklan, pura-pura dekat sama masyarakat. Bukan di iklan tiba-tiba mesra sekali dengan petani, dengan pejabat. Saya ke pasar itu sampai malu sekarang. Masa saya ke pasar lagi, lho wong udah, BBM naik saya ke pasar, BBM turun saya ke pasar. Ketika lebaran saya ke pasar. Demi Allah, jadi ini apa yang saya lakukan, kalau tiba-tiba kompetitor yang lain sangat mesra, masa saya ikut-ikutan.

Ok. Tapi itu ide yang bagus, saya kira bisa saya lebih peluk-pelukan lagi, begitu ya. Tapi apa yang saya lakukan, saya ketemu petani, nanam, panen, ketemu pedagang kecil, ketemu pengrajin handicraft. Ketemu itu nggak terhitung seluruh Indonesia. Bukan betul, pada saat kampanye pilpres, sampai saya tuh malu, ini bukan staf saya, ini resmi ya, staf, apa saya harus ikut-ikutan. Harus, pak. Tapi ini kampanye, pak. Nanti Bapak malah dianggap nggak pernah. Padahal yang lain, yang begitu mesranya tiga minggu ini dengan rakyat, gitu, ya. Tapi ok., baguslah, saya juga terpaksa harus ikut-ikutan lagi.

Ok, yang pertama, seberapa sulit koalisi ini saudara-saudara ya. Saya ini percaya polling, percaya, mengapa? Ada lembaga-lembaga polling survey yang kredibel yang saya pegang terus. Dari sekian belas yang sudah saya rujuk 5, karena mengapa saya suka 5 itu? Ketika popularitas saya jeblok, masukan jeblok juga. Ketika ada partai yang menyerang oleh survey itu merah juga. Saya pelajari kenapa saya anjlok. Oh naikkan BBM. Kenapa policy ini nggak disukai, o, ternyata ada kontroversinya. Itulah saya akhirnya mengelola pemerintahan, mengambil keputusan, mengembangkan kebijakan. Termasuk melaksanakan aksi-aksi dilapangan atas dasar survey yang canggih.

Sehingga seberapa solid, seberapa kuat dukungan apa betul trend SBY drop begitu. Lagi-lagi saya melihat, mengaca survey, mengaca betul, jangan sampai ada pepatah buruk muka cermin dibelah. Karena hasil yang tidak sesuai dengan keinginan kita. “Ah itu, omong kosong, itu kardus, itu pesanan itu”. Itu bisa nggak dapat apa2. Dari survey yang betul-betul objektif dan ingat itu, kenapa? Kok saya ngga disukai, Kenapa kok tiba-tiba drop? kenapa dan seterusnya. Disitu saya bisa merasakan denyut nadi dan aspirasi. Sehingga apapun yang terjadi sekarang, itu saya masih punya feeling bahwa seberapa, dimana posisi saya, tren menurun.

Begini saudara-saudara, pengalaman pilkada. Saya itu pelajari semua pilkada, kenapa sih, opportunity time dari kandidat itu, ketika 4 bulan sebelumnya di survey, 3 bulan sebelumnya disurvey. 2 bulan sebelum ,sampai kurang seminggu, dua minggu. Itu memang hampir ada pattern ada pola. Memang kalau awalnya tinggi itu cenderung decline. Saya misalkan 70 rise after the election, kemudian going down misalkan menjadi 68, going down menjadi 65. Going down, itu memang ada kecenderungan. Pilkada pun, Gubernur itu, nggak ada yang sudah tinggi langsung tinggi lagi, nggak ada, musti pelan-pelan turun.

Kemudian yang lainnya, ada kecenderungan naik, ada kecenderungan flat. Naiknya pun juga ternyata tidak dramatis, naik 2%, 3% seperti itu. Dengan gambaran itu, kalau dikatakan apakah opportunity saya masih besar dalam election itu --meskipun yang tahu hanya Tuhan, tanggal 8 Juli-- tetapi insya Allah saya juga punya keyakinan bahwa kemungkinan untuk berhasil. Begitu, ada pada kami, itu ya, dan karena bukan hanya saya yang berjuang, juga banyak.

Apakah dengan catatan itu, dikatakan survey trendnya menurun? bacaan saya, bacaan saintifik saya, bacaan empirik saya seperti itu. Bukan karena dukun, bukan karena yang lain-lain. Karena sekarang banyak yang aneh-aneh ini. Entah dunia saya didukung apa, terus dzikirnya berubah nanti. Tapi namanya juga usaha gitu. Kemudian begini, kalau soliditas, begini ya, memang yang bersama-sama kami 24 partai. Disamping ada partai-partai Islam, ada partai non Islam, PBS juga ada Islam, partai nasionalis banyak sekali. PDP, PNBK, PPRN, Pelopor. Jadi seperti mewakililah sebetulnya sebaran politik dan demokrasi atau kebangsaan di negeri kita ini. Tentu, lebih mudah mengkoordinasikan kalau 2, 3 partai yang berkoalisi. Lebih mudah mensinergikan, kalau lebih kecil tapi tidak berarti kalau 24 tidak bisa disinergikan, bisa dikoordinasikan so far so good. Mereka juga bekerja. Kami ada itu 20 , sekian belas partai juga sampai ke bawah.

Tentu, begini ya saudara, cara-cara berpikirnya memang tidak ada sistem komando dalam election. Begitu masuk ke bilik bisa berubah. Tahu berubah-berubah. Tidak ada yang lebih tahu apa yang dipilih pada saat seseorang berada di bilik and he or she is alone.

Oleh karena itu peran pemimpin matters, peran siapapun matters, tetapi akhirnya toh individual freedom. Oleh karena itu memang sudah menjaga soliditas, menjaga sinergi dari partai-partai politik dan dalam skala tertentu kadang-kadang ok, berjalan. Tapi akhirnya toh kita harus rebut the heart and the mind of the people. Individual person di negeri kita ini. Saya kira begitu. Terus yang terakhir saya terima ini tapi jangan- jangan expect saya langsung berubah. Terima kasih.

Hary Tanoe:
Mungkin bonus, satu pertanyaan lagi, karena tuan rumah. Ini satu pertanyaan lagi, silakan

Pertanyaan:
Terimakasih pak Hary, terimakasih Bapak Presiden. Setelah politik, saya ingin mencoba bertanya secara ekonomi. Mencermati perkembangan harga minyak terakhir, pak. Tadi malam di pasar New York sudah 70 USD per barrel. Asumsi ini tentu jauh sekali dibandingkan dengan asumsi APBN kita yang hanya 45 US dollar per barrel. Banyak pengamat mengatakan bahwa siapa pemimpin yang terpilih nantinya akan berhadapan dengan tantangan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak. Saya ingin tanggapan dari Bapak Presiden apakah nantinya Pemerintahan yang bapak jalankan akan melakukan adjustment ke depan terhadap harga minyak ini.

Terus yang kedua, menarik tadi malam ketika Bapak menyampaikan kemungkinan tidak akan melakukan privatisasi BUMN. Kami ingin mendapatkan yang lebih detail tentang soal itu. Karena bagaimanapun APBN membutuhkan pembiayaan. Sementara disisi lain juga hutang bukan suatu langkah yang populis bagi pemerintahan yang baru. Dua pertanyaan Bapak Presiden, terima kasih.

Presiden RI:
Yang pertama tadi berkaitan dengan perkembangan growth harga minyak, yang kedua, persoalan dengan privatisasi. Sitiran anda saya luruskan, bahwa saya tidak anti privatisasi. Saya mengatakan, saya tidak memilih privatisasi yang berlebihan dan tujuannya tidak baik. Hanya untuk, apalagi caranya hanya untuk mendapatkan sumber pembiayaan itu ya. Karena komplikasinya banyak. Jadi privatisasi Pusat, tidak anti privatisasi, tapi saya tidak suka privatisasi yang tidak jelas tujuannya, apalagi ada unsur-unsur kolusi dan nepotisme. Seperti terjadi di waktu-waktu yang lalu.

Yang pertama berkaitan dengan harga minyak. Begini saudara, dalam APBN itu yang dinamakan, berapa perhitungan harga growht, berapa perkiraan subsidi itu menghitungnya seperti tahun. Jadi, toh kita sudah sepakat juga tidak akan masuk betul pada harga yang ada di market peka sekali itu. “Wah ini jadi neolib kalau market naik, naik, turun, turun”. Kita sepakat ada regulasi. Utamanya beberapa jenis BBM yang kita regulasi. Sehingga meskipun range-nya sekarang antara 60-70 masih up dan down, bisa 66 bisa 65. Kalau masih itu yang kita pikirkan adjustment nanti dalam APBNP barangkali tentang beberapa crude dalam asumsi kita. Yang mengait tentunya dengan range subsidi tahun itu nilai tukar juga matters. Nilai tukar juga cenderung membaik. Jadi nanti, berapa ketemunya nilai tukar, harga crude, dengan berapa penerimaan dan pengeluaran satu tahun yang berasal dari BBM dan berapa yang kita perlukan subsidi untuk itu. Oleh karena itu saya tidak akan menjawab hipotesa. Apakah nanti ada adjustment atau tidak lihat saja. Karena APBNP kita sudah akan mengatur memikirkan itu semua dan siap dengan adjustment dalam asumsi dan dalam perhitungan yang lain. Saya berdiskusi dengan Menteri Keuangan, kurang lebih seminggu yang lalu tentang ini semua, dan hitungan kita kalau masih dalam harga 60-70 itu dengan perubahan asumsi harga crude masih-masih manageable. Itu yang pertama.

Kemudian, yang kedua, yang saya maksudkan tadi malam begini saudara-saudara. Ini masalah hutang, banyak yang melihatnya sepotong, tahu sebenarnya beberapa kompetitor saya itu, tetapi harus ngomong begitu, untuk politik, untuk pilpres. Begini, kita itu punya tujuan. Apa yang mau kita capai growth-nya berapa, poverty reduction berapa? Job creation berapa? Segala macam. Untuk mencapai itu diperlukan sumber daya, resources. Sumber daya diantaranya adalah anggaran dan budget spending. Oleh karena itu kalau kita melihat APBN kita, pengeluaran kita must be connected to apa yang ingin dicapai oleh bangsa ini.

Yang kedua, ketika krisis semua negara melakukan counter for cyclical economy. Semua negara akan mencoba menaikkan demand. Semua negara meng-except devisit yang lebih tinggi lagi. Lagi-lagi pilihan kita apakah kita tidak menambah sumber pembiayaan. Kemudian rontok perekonomian kita lebih jatuh lagi keseluruhan, atau kita memikirkan sumber-sumber pembiayaan defisit. Dengan pengantar itu maka pertimbangannya adalah what be have to choose this? Dari mana sumber pembiayaan? Dulu jual aset, saya tidak suka. Saya sekarang sedang menertibkan aset atau barang milik negara yang berantakan. Termasuk rekening liar, termasuk yang lain. Jual asset apalagi dengan kongkalikong dengan macam-macam, yang masuk ke negara berapa, yang masuk ke kantong masing-masing berapa. Dont do that kinds of things. Yang kedua, privatisasi yang berlebihan yang tidak jelas tujuannya jangan. Kalau yang iya bikin sehat organisasi, bikin senang rakyat, bikin tumbuh ekonomi, bagus.

Kalau itu tidak kita pilih akhirnya pembiayaan kita pinjaman. Pinjaman dari mana luar negeri, dalam negeri. My policy, my choise mengurangi pinjaman luar negeri. Hutang kita tahun 2005 yang lalu, yang utang itu dia 68, 4 billion, 68,6 ke berapa billion, turun sekarang menjadi 65, 6 billion. 3 billiun utang luar negeri turun berkurang utang luar negeri kita, utang keseluruhannya naik. Tapi naiknya hutang keseluruhan masih jauh lebih rendah dibandingkan kenaikan GDP, kenaikan hutang perkapita lebih rendah dengan income per kapita. Dalam negeri darimana soon, sukuk rupiah. Mengurangi hutang luar negeri. Kemudian disini kita hidupkan pasar dalam negeri untuk kita sendiri. Our flag merah putih. Sehingga pilihannya kita biarkan jatuh berguguran atau sementara dimasa sulit kita tambah pinjaman untuk menutup defisit. Dan saya pilih yang kedua. Karena saya takut meledak pengangguran, kemiskinan, huru hara segala macam. Hanya karena saya jaga gengsi untuk tidak menambah pinjaman, dan pinjaman di dalam negeri. Negeri kita sendiri. dengan kapasitas yang mampu kita menanggung hutang itu much much better, untuk menanggung hutang, dengan debt to GDP ratio kemudian nett.

Utang luar negeri kita saudara tahun 2005 yang kita bayarkan dengan pinjaman baru itu netnya positif, dalam arti lebih banyak yang kita bayarkan dibandingkan yang kita ambil dengan 3 billion tadi. Itu lebih bagus dibandingkan yang dulu. Setelah IMF juga saya hentikan 7,2 billion. Menurut saya fair itu semuanya. Kalau dikatakan jangan-jangan tidak betul mengelolanya. BPK mengatakan. Proper kita dengan DPR merumuskan pinjaman dari mana. Pinjaman itu bagi saya non conditionality. Nggak boleh ada, boleh kita pinjami, tapi harus begini-begini. No, tidak bisa. Kerjasama internasional.

Jadi kesimpulannya, begitu tanda tentang privatisasi, begitu pandangan saya tentang bagaimana membiayai defisit. Bagaimana mengurangi hutang luar negeri. Kalau hutang pinjaman, pinjaman dalam negeri kemudian memperbaiki rasio. Our brain is my brain is suatu saat memang nominalnya, prosentasinya hutang luar negeri itu makin susut, susut, susut. Dengan catatan pajak naik, pendapatan non migas naik pendapatan migas naik, sumber-sumber dalam negeri, our own investment saving kita juga itulah makro ekonomi yang di-back up oleh mikro ekonomi yang sedang kita bangun di negeri ini.

Hary Tanoe:
Terimakasih Bapak Presiden, tapi itu prepare memang kalau kami boleh ikut komentar. Ekonomi kita itu baik karena performance itu kan relatif ya. Jadi kalau kita bandingkan dengan negara lain, kita ini among the few yang growth-nya masih cukup positif untuk tahun 2009. Dan bahkan kalau kami ingin sampaikan juga disini belanja iklan itu juga masih positif, diatas 10% per annum untuk tahun 2009 salah satu indikator tapi itu penting Pak. Dan itu adalah leading indikator bahwa ekonomi masih jalan dengan positif. Percaya bahwa pertumbuhan itu ada, makanya pertumbuhan ekonomi masih positif.

Presiden RI:
Pak Hari, saya tambahkan satu ya, karena ini lengkap sekali. Saya terhormat ya, karena begini lengkap dan hampir semua pimpinan teras ada. Saya tambahkan, menyambung yang disampaikan Pak Hary Tanoe. Saya ini ingin bicara bukan hanya dalam kampanye Pilpres, tapi selama jadi Presiden itu di back up oleh fakta, oleh data, oleh sumber-sumber yang diperrtanggung jawabkan. Jadi sebelum kampanye ini pun saya disamping me-
review lagi semua data kita, BPS, data yang lain, nasional. Saya juga minta coba bagaimana dunia melihat kita. Termasuk world bank melihat Indonesia, supaya saya bisa berkaca utuh gitu. Yang saya inginkan dari World Bank itu, Indonesia bandingkanlah dengan negara-negara lain. Dua hal, yang pertama pengurangan kemiskinan, yang ingin saya tanya. Yang kedua, berapa baik dibandingkan negara lain mengurangi dampak krisis global sekarang ini two things apa yang terjadi, dan ini sebetulnya bersyukur kita. Dan saya berterima kasih kepada semua. Ini bukan kerja SBY alone, kerja kita semua.

Dari segi poverty reduction, dunia ini yang dianggap berhasil Asia. Asia ini yang dianggap lebih berhasil East Asia. East Asia itu sebetulnya Asia Timur plus Asia Tenggara, dalam pengertian dunia. Termasuk ASEAN. Dikatakan di negara-negara ini, satu persen growth itu bisa mengurangi kemiskinan, bisa. Puncaknya 0,3 persen. Negara lain itu, 0,0. Jadi panjang sekali. Kita dianggap seperti itu. Ketika menggunakan ukuran itu, di Asia, di Asia Timur pengurangan kemiskinan kita itu sama baiknya dengan negara-negara Asia Timur itu. Bahkan sebagian, bahkan lebih baik dari beberapa negara, kecuali dua negara, China dan Vietnam. Tiongkok dan Vietnam dalam pengurangan kemiskinan lebih baik dibandingkan rata-rata Asia Timur. Padahal Asia Timur sudah yang terbaik di dunia gitu. Indonesia di situ arrange-nya Jadi tidak benar kalau kita ini lambat di dalam pengurangan kemiskinan. Setara dengan yang lain di Asia Timur. Bahkan lebih cepat datanya saya terima dua hari yang lalu.

Yang kedua, kalau dari pertumbuhan, Indonesia is the best. Yang dibeginikan oleh dunia itu, satu Tiongkok RRT, yang ke dua India, yang ketiga Indonesia. Positif growth. Mari kita lihat, saya baca tadi malam, ada dua hari yang lalu itu lengkap itu. Dari growth ini meskipun China tumbuh 6% diharapkan 2009, lihat konstraksinya dari 11 menjadi 6 drop , 5%. India diperkirakan 5% tapi lihat 5 from 9 konstraksinya. Indonesia 2007 6,3 last years 6,1. Kalau kita-kita bisa bertahan 4,5 atau 4 saja. Padahal kuartal pertama sudah 4,4. Kalau kita 4½ insya Allah itu berarti konstraksi kita less than 2%. Dari segi kesiapan kita menghadapi shock ekonomi dunia sekarang ini better dibandingkan 10 tahun yang lalu dibandingkan 5 tahun yang lalu and better. Dibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk the big giant emerging economics India and China.

Nah, dengan demikian sebetulnya we are in the better ship. Tetap ada dampak ekspor kita, investasi kita. Consumtions good, government spending karena tadi ekspansi fiskal, defisit yang saya katakan musti ada sumber-sumbernya untuk menahan ini. Dan unployment diperkirakan satu setengah juta. Ternyata catatan hanya 52 ribu. Andaikata dilebihkan sampai 60 ribu new unemployment. Itu jauh di bawah yang diperkirakan satu setengah juta. Amerika 10% of employment. Tinggi. China 15 milion people.

Jadi kita ini baik, mengapa baik, kita belajar dari pengalaman 11 tahun yang lalu. Gerak cepat kita tahun lalu, masih ingat? Pak Jhon Kadin, berapa malam-malam ketemu saya, Bapak juga disitu. Kemudian BI dengan jajarannya, Gubernur saya ajak dengan Perpu kita keluarkan, new insentive kita keluarkan, dengan gerak cepat dan tepat yang kita laksanakan sejak Oktober tahun lalu, bulan Ramadhan, buahnya sekarang.

Ini satu, satu tonggak, kita bisa, together we can, betul itu. Ternyata bisa, dan alhamdulilah kalau ini bisa kita jaga. Meskipun badai belum usai, global economic desaster masih ada. Saya boleh mengatakan propably we are at the beginning of the end of the crisis. Mudah-mudahan jangan kita sia-siakan momentum untuk recovery.

Dengan demikian kalau lihat pinjaman, letakkanlah dalam penyelamatan ekonomi Indonesia dalam suasana krisis global seperti ini. Jangan dilihat nominalnya, dulu segini kok segini. Lihat juga GDP-nya tambah, lihat income perkapita tambah, lihat hutang luar negerinya juga turun. Lihat rasio nettonya yang kita bayar dengan yang kita pinjam. Begitu membaca yang namanya debt dalam konteks yang lebih besar.

Saya harus membuka pameran Produk Budaya Indonesia, tapi saya senang sekali, senang sekali forum seperti ini. Mestinya kurang waktunya tambah satu, dua jam lagi nanti. Cari waktu habis pilpres juga boleh, dapat nasi pecel lagi nanti.

Hary Tanoe:
Baik, terima kasih Bapak Presiden atas perkenannya. Waktu sangat mepet, memang tadi ajudan sudah berdiri, duduk, sudah ngasih kode, sudah gelisah. Kalau boleh mohon ijin apakah diskusi ini bisa diberitakan, Bapak.

Presiden RI:
Bisa.

Hary Tanoe:
Bisa, Terima kasih, Bapak

Presiden RI:
Tolong, quote-nya yang benar. Seperti Kompas itu, karena dilepas dari konteksnya barangkali, seolah-olah saya menohok KPK. Padahal saya bicara check and balances. Power must be check by another power. Itu judul besarnya, sebetulnya.

Hary Tanoe:
Kemudian, akhir kata, kami semua Pak atas nama teman-teman disini mengucapkan kepada Bapak, selamat berjuang, berkampanye, semoga selamat berkompetisi, semoga berhasil.

Presiden RI:
Pak Hari, pak Hari, mumpung teman, saya masih ada ganjalan saya.

Ganjalan baik tapi ini. Waktu saya jadi Irup di Jatinangor, itu ada namanya perkemahan Pramuka Santri Indonesia. Jambore Pramuka Santri Indonesia. Besar, ribuan. Saya Irup, begitu Dan Groupnya masuk lapor, “Perkemahan santri Indonesia, tahun sekian, siap dimulai. “Jawaban sayakan “lanjutkan”. Uwah..masuk koran itu, ada media harusnya bukan lanjutkan, laksanakan. Yang benar lanjutkan, mesti lanjutkan. Laksanakan itu misalkan siap mengucapkan Sapta Marga, laksanakan. Terakhir, upacara telah dilaksanakan bubarkan. Tidak dilanjutkan lagi. Memang pattern-nya begitu. Tapi namanya politik, namanya politik seolah-olah keliru. Itu yang betul.

Ada satu lagi, ini serba-serbi. Saya Dan Up di Istana tahun 2004.ulangi, 1994 saya komandan upacara 17 Agustus di Istana, Pak Harto Presiden jelas. Sebelum Pak Harto masuk, Irup, saya kan Dan Up masuk. Begitu masuk saya langsung ngomong, pimpinan saya ambil alih. Uuh, termasuk Menteri, “kok pimpinan saya ambil alih? Mestinya kan pimpinan pasukan saya ambil alih,” gitu. Jadi, mungkin, jangan-jangan pimpinan negara ini. Memang begitu, aturannya begitu. Begitu masuk, pimpinan saya ambil alih. Beralih saya, aba-aba terus nunggu Presiden, gitu. Tapi dulu sempat, “wah ini kok pimpinan diambil alih?” Yah, memang begitu.” Lanjutkan”, kemarin ya pattern-nya begitu, syariahnya begitu. Kalau Alfatihah kan di Bismillahirrahmannirrahim dulu. Surat An-nas, surat Al-Fallaq semua di bismillahirrahmanirrahim tidak bisa diganti dengan yang lain, gitu.

Jadi kemarin saya geli juga itu bacain. Lho ini wong memang harus begitu dikaitkan dengan politik yang terlalu jauh pikirannnya itu. Terima kasih.

Hary Tanoe:
Terima kasih Pak Presiden atas nama Group saya mengucapkan terima kasih. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Presiden RI:
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan RI