Arsip

« Juli 2009 »
M S S R K J S
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 

Wawancara

Wawancara dengan Radio Trax dan Trijaya FM

TRANSKRIPSI
WAWANCARA RADIO TRAX FM DAN RADIO TRIJAYA FM
DENGAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
DI CIKEAS, BOGOR, JAWA BARAT
1 JULI 2009



Indra Bekti, Reporter Trax FM
Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
Bapak SBY yang terhormat, senang sekali saya, Indra Bekti, kali ini bisa bertemu langsung, bertatap muka dengan Bapak, dan kali ini suatu kehormatan besar buat saya pribadi dan tentunya bersama keluarga dari Trax FM. Ini suatu hal yang luar biasa buat kami karena Bapak mau memberikan kesediaan waktunya untuk bisa di-interview saat ini, Pak, karena Bapak saat ini pun juga kami memberikan sebuah penghargaan, saya juga mengucapkan selamat atas penerimaannya Bapak sebagai ikon “The Now Generation Is In Action.” Kenapa, Pak? Karena anak Trax FM, pendengar radio kami, itu menganggap Bapak berhasil membawa perubahan besar dalam skala nasional, yaitu meningkatkan minat anak muda pada dunia politik dan kehidupan bernegara, kemudian dalam hal pemberantasan korupsi dan lain sebagainya.

Ya, sekali lagi untuk selamat untuk Bapak, dan berbicara seputar perubahan ya, Pak, ya, sebenarnya sebagai seorang presiden, Bapak juga mengalami banyak sekali perubahan: dari seorang tentara, kemudian menjadi politikus, kemudian menteri dan akhirnya menjadi Presiden Republik Indonesia. Bagaimana, Pak, cara Bapak menjalani semua perubahan-perubahan itu?

Presiden SBY
Ya Indra, sebelum saya menjawab pertanyaan itu, saya juga mengucapkan terima kasih kepada Trax FM dan sampaikan salam saya juga kepada semua pencinta dan pendengar Trax. Kalau ditanya bagaimana saya bisa beradaptasi dengan berbagai tranformasi katakanlah begitu ya Indra: dari militer, masuk ke kabinet, menjadi alhamdulillah presiden sekarang ini; satu hal, dalam hidup ini dan sering kita diminta untuk pragmatis, tetapi tidak boleh kehilangan visi, arah, tujuan, dan cita-cita. Demikian juga, karena hidup ini dinamis sering kali berubah dari satu posisi ke posisi yang lain, dari satu kondisi ke kondisi yang lain, maka kita juga diharapkan bisa adaptif, tetapi adaptif tetap dengan prinsip. Dengan sikap seperti itulah, ketika saya harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan dalam perjalanan karier saya, saya pegang semuanya, saya yakini bahwa di manapun saya bekerja, bertugas dan mengabdi harus berhasil dan saya juga tahu banyak masalah-masalah baru karena lingkungannya juga serba baru.

Nah, dengan cara pandang dan penyikapan seperti itu, saya rasakan tidak ada persoalan yang sangat mengganggu ketika saya beralih dari satu posisi ke posisi yang lain. Jadi kuncinya kalau saya bisa berbagi dengan kawula muda adalah marilah kita menjadi manusia yang adaptif terhadap perubahan tanpa kehilangan prinsip, kita sering harus pragmatis tanpa kehilangan visi, dan jangan lupa, karena hidup ini panjang, hidup ini universitas, kita juga tidak boleh kehilangan cita-cita dan idealisme.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Mungkin untuk anak Trax sekarang ini, saya sedang berada di ruangan perpustakaan SBY, perpustakaan ya Pak ya, perpustakaan SBY di Cikeas ya Pak ya, ini ada berapa buku semuanya yang ada di sini Pak?

Presiden SBY
Ya di tempat ini diperkirakan sekitar 13 sampai 14 ribu, atas dan bawah, kemudian ada yang di kantor, di Istana sehingga mungkin ya, karena sebelum saya jadi Presiden dulu jumlahnya sekitar 13, 14 ribu, mungkin sekarang menjadi 17 ribu buku begitulah.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Buku yang paling menarik buat Bapak, apa?

Presiden SBY
Saya hampir menyukai semua subject, tentu ada masalah kepemimpinan, manajamen, ada tentang ekonomi, tentang politik, tentang militer, tapijuga tentang budaya, tentang seni dan hubungan internasional, banyak buku sastra, buku puisi, dengan demikian, karena saya menyukai semuanya alhamdulillah, apapun yang ada di perpustakaan ini sekali-kali saya akan review kembali, dengan demikian ibarat mesin itu selalu di-charge baterainya, jadi selalu segar dan enerjik, insya Allah begitu.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Luar biasa Pak. Nah bicara mengenai, Bapak ini suka buku dari remaja dulu, Pak?

Presiden SBY
Dari kecil, sejak SD saya menyukai buku, suka membaca, bahkan suka menulis juga, menulis puisi, menulis ceritera-ceritera sastra yang ringkas-ringkas gitu.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Wah luar biasa. Nah mungkin Bapak bisa cerita mengenai masa-masa remaja Bapak, seperti apa sih seorang SBY pada masa usia SMA dan kuliah, dengar-dengar waktu saya nonton Bapak di "Capres Bicara", Bapak bermain musik dan saya lihat teman-teman antara lain Pak?

Presiden SBY
Ya saya, Indra, termasuk yang aktif bergaul dengan teman-teman, baik waktu di SD, SMP, apalagi SMA karena ternyata hidup bersama-sama teman itu indah. Kemudian, bisa membangun kreasi, bisa terinspirasi untuk melakukan hal-hal yang baik. Orang mengatakan, SBY itu kutu buku. Sebetulnya tidak; saya justru bisa melakukan banyak hal di luar belajar waktu saya masih SMP, SMA; saya ikut berbagai kegiatan seni, hampir semua kegiatan seni saya ikuti: melukis, sastra, bikin majalah dinding, main musik, drama, wayang, gamelan dan sebagainya, olahraga saya juga suka, sama juga; olahraga yang saya senangi dulu ada pingpong, ada bola voli dan yang lain-lain dan juga saya suka berorganisasi, Pramuka, sejak berdirinya Pramuka ingat saya tahun ’61, ‘62 saya ikut, ada lagi OSIS, dan lain-lain.

Jadi saya ingin betul-betul belajar: belajar bergaul sama kawan, belajar berkomunikasi, belajar memimpin, dan karena ini proses jangka panjang nampaknya sekarang menjadi modal utama untuk saya, saya berkomunikasi dengan rakyat.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Dengan Bapak begitu aktif pada masa remajanya, terpikir nggak Pak, Bapak menjadi presiden sekarang?

Presiden SBY
Kalau, kalau remaja itu kan maunya menjadi yang terbaik, menjadi yang top, belum sampai kepikiran jadi RI 1 atau Presiden, tapi kan anak-anak punya cita-cita, kalau dalam bahasa asing: why not the best, kenapa tidak bisa kita capai kalau kita punya peluang untuk itu. Ada cita-cita sejak kecil tetapi tentu belum eksklusif ingin menjadi Presiden.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Bapak dulu cita-citanya apa dulu Pak?

Presiden SBY
Ya saya karena ayah saya prajurit, saya ingin menjadi jenderal, jadi perwira, yang berguna bagi negara. Alhamdulillah saya juga hampir 30 tahun mengabdi di TNI, saya dibesarkan di TNI, di lingkungan keprajuritan, alhamdulillah sudah tercapai.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Baik, Anak Trax, jangan ke mana-mana karena kita masih akan kembali, akan berbincang-bincang dengan Presiden Republik Indonesia, Bapak SBY.

Dodi, Reporter Radio Trijaya
Halo, Profesional Muda di Trijaya Network, apa kabar Anda? Senang sekali saat ini saya, Dodi Simatupang mendapatkan kehormatan untuk berbincang langsung bersama dengan Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Halo, Pak SBY. Apa kabar?

Presiden SBY
Baik, alhamdulillah. Apa kabar, Dodi?

Dodi, Reporter Radio Trijaya
Kami juga baik. Dari Profesional Muda udah lama nunggu kesempatan ini untuk mendengarkan wawancara khusus dan juga sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas waktunya, apalagi saat ini kita ikut senang dalam momen ini Bapak dinobatkan sebagai ikon anak muda, “The Now Generation.” Kita pingin tahu apa perasaan Bapak ketika menjadi idola anak muda seperti sekarang ini?

Presiden SBY
Ya saya tentu tidak nyangka, saya diberi tahu oleh Dino beberapa saat yang lalu, saya seperti tidak percaya. Tetapi begitu confirmed betul acara tersebut, saya berterima kasih, saya bangga, mudah-mudahan apa yang dianugerahkan kepada saya ini, saya bisa pertanggungjawabkan dan bisa berbuat lebih banyak lagi untuk para profesional muda dan generasi muda pada umumnya.

Dodi, Reporter Radio Trijaya
Profesional Muda pasti tetap mengidolakan Pak SBY. Nah Bapak kalau berbicara soal generasi muda, anak muda tentunya, tidak lepas dari kualitas pendidikan yang sudah kita tempuh dari SD sampai perguruan tinggi sebagai bekal anak muda yang nanti akan menjadi pemimpin di masa depan. Nah yang kita pingin tahu, Bapak kan sekarang juga maju di pilpres 2009 sebagai calon presiden, kita pingin tahu apa komitmen Bapak bagi generasi muda, bagi anak muda kalau nantinya Bapak terpilih lagi?

Presiden SBY
Ya lima tahun terakhir ini, Bung Dodi, pemerintah yang saya pimpin terus meningkatkan mutu atau kualitas pendidikan kita, agar bukan hanya bisa bersaing dengan pendidikan di negara-negara lain, tapi yang lebih utama agar hasil pendidikan itu betul-betul bisa siap untuk menjalankan profesi apapun. Di samping itu, kita menyadari bahwa tidak semua anak-anak kita orang tuanya mampu, sehingga pemerintah tentu memberikan bantuan, bahkan menggratiskan bagi anak-anak dari keluarga yang tidak mampu agar bisa bersekolah. Lantas, pendidikan itu juga memerlukan infrastruktur: gedungnya mesti layak, laboratorium, perpustakaan dan bahkan sekarang computer dam IT yang bisa kita gunakan untuk lebih memacu lagi pengetahuan dan penguasaan teknologi anak-anak kita.

Ada dua lagi yang kita lakukan, tentu peran guru itu sangat penting, jadi sesuai dengan kemampuan anggaran negara, terus kita tingkatkan dengan harapan tentu para guru, para dosen lebih aktif lagi, lebih baik lagi di dalam mengajar atau memberikan kuliah.

Yang terakhir, sering ada keluhan bahwa yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. Inilah yang disebut dengan perlunya link and match agar lembaga pendidikan mendidik, menghasilkan lulusan yang bisa diserap oleh pasar sesuai dengan kebutuhannya, entah di bidang pertanian, industri, jasa, pariwisata, ekonomi kreatif dan lain-lain. Itu antara lain yang kita lakukan.

Yang jelas, bangsa yang maju tentu harus diawali oleh manusia-manusia yang unggul. Melalui pendidikanlah, kita bisa persiapkan segalanya. Jika saya memimpin kembali negara ini lima tahun mendatang, apa yang sudah kita lakukan yang hasilnya positif kita lanjutkan, tetapi masih banyak pekerjaan rumah kita, masih banyak sasaran-sasaran yang belum kita capai sepenuhnya, maka tentu kita lakukan peningkatan, reformasi pendidikan kita lanjutkan dan tingkatkan sehingga insya Allah lebih baik lagi pendidikan kita lima tahun mendatang.

Dodi, Reporter Radio Trijaya
Itu utang lima tahun ini ya Pak yang akan dilunasi lima tahun mendatang.

Presiden SBY
Insya Allah, oke.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Baik, Anak Trax, sekarang kita masih berada di kediaman Bapak SBY dan sebuah rumah yang sangat cozy sekali, nyaman sekali. Ini penuh dengan kayu-kayuan ya, Pak? Ini yang menata siapa ini, Pak? Ibu atau berdua?

Presiden SBY
Saya bersama istri, karena kami berdua juga menyukai membaca buku, menyukai perpustakaan seperti ini, dan bahkan istri sebagai Ibu Negara kan juga menggalakkan Rumah Pintar, Mobil Pintar, hal-hal yang berkaitan dengan membikin anak kita suka membaca.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Nah sekarang ini banyak sekali kalau bicara mengenai membaca, mungkin banyak yang menganggap anak muda Indonesia itu cenderung lebih kepada tidak suka membaca, kemudian juga apatis, kemudian tidak nasionalis begitu Pak, tapi ternyata pada faktanya banyak sekali Anak Trax itu berbakat dan ingin mengabdikan dirinya untuk bangsa. Nah, menurut Bapak, bagaimana ini caranya memanfaatkan semua kehandalan dan kreatifitas anak muda supaya kemampuan The Now Generation ini bisa secara maksimal didayagunakan untuk kemajuan bangsa, Pak?

Presiden SBY
Ya saya juga berpendapat yang sama Indra, tidak benar kalau seolah-olah anak-anak kita, remaja kita itu tidak memiliki rasa nasionalisme, kurang peduli pada bangsa dan negaranya, kemudian tidak cukup berkarya dan sebagainya. Mengapa? Hampir lima tahun ini, saya sangat sering bersama-sama anak muda dan bahkan atas prakarsa saya, sebagai contoh: tiap bulan Agustus, tiap tahunnya itu kita bikin lomba melukis dan lomba membuat puisi yang dihadiri anak-anak SD dan SMP dari seluruh Indonesia. Kami melihat mereka sangat kreatif, karyanya luar biasa dan itu adalah bibit-bibit unggul yang mesti kita kembangkan.

Saya juga sering menghadiri, menerima, memberikan penghargaan kepada anak-anak bangsa yang menjadi juara di berbagai olimpiade internasional. Ada yang mendapat medali emas, perak, subject-nya macam-macam: matematika, kemudian biologi, fisika dan bahkan mungkin banyak yang tidak percaya, baru-baru ini saya bertemu dengan tiga putra Indonesia yang menjuarai kompetisi robot di Amerika Serikat, mengalahkan tuan rumah Amerika Serikat dan negara-negara lain. Saya kira ini contoh bahwa anak-anak kita cerdas, mereka kreatif, mereka juga berkarya.

Oleh karena itu, kita mesti memberi ruang lebih luas lagi, mendorong karena nasionalisme itu kan bagaimana yang penting bangsa ini ke depan makin bermartabat, makin sejahtera, makin maju. Setiap kontribusi anak bangsa, termasuk generasi muda, termasuk anak-anak Trax yang membikin negaranya, bangsanya makin maju, makin sejahtera, makin terhormat di mata dunia itulah nasionalisme.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Itu anak Trax itu yah, tadi baru saja sama-sama kita dengerin, sebenarnya kita harus memiliki banyak ruang untuk bisa memberikan, membuat kreatifitas kita yang lebih bisa terlihat Pak ya di mata dunia.

Nah, kembali membicarakan masalah nasionalisme, banyak anggapan miring kembali yang menyebut bahwa anak muda Indonesia sudah tidak memiliki kebanggaan akan menjadi orang Indonesia. Kadang kebarat-baratan dengan produk-produk yang dibeli dari luar dengan segala macam ya Pak ya, tapi apa pendapat Bapak mengenai hal ini? Dan bagaimana caranya agar kebanggaan kolektif anak muda sebagai bangsa Indonesia itu bisa kembali menjadi sesuatu yang mungkin tidak perlu dipertanyakan lagi? Kalau kita sebagai bangsa Indonesia, seharusnya bangga menjadi orang Indonesia.

Presiden SBY
Ya, kalau melihat itu, Indra, saya melihatnya dari dua penglihatan, dari dua perspektif. Yang pertama, cukup banyak anak-anak kita yang memiliki nasionalisme yang tinggi, patriotisme yang juga tinggi dan sungguh ingin mengangkat citra dan nama besar bangsanya. Mereka melakukan banyak hal, kreatif, berkarya dan mengukir prestasi. Tentu ini harus terus kita dorong.
Sementara itu kalau saya jujur, memang ada sekelompok anak muda menjadi perspektif yang satunya lagi, mungkin karena pengaruh dari gaya hidup global, pengaruh dari ciri-ciri hidup di era modern, serba otomatis, berbasiskan IT dan lain-lain; seperti ada jarak dengan negerinya, dengan sejarahnya, dengan warisan, atau heritage para pendahulunya.

Dari sini, mari kita kenalkan, kita akrabkan mereka semua, mereka tentu harus maju, harus menjadi manusia yang unggul tapi tetap di atas jati dirinya, jati diri bangsa Indonesia, or own identity. Saya kira tidak akan sulit itu karena toh tidak ada yang tidak menyayangi negaranya, tidak bangga kepada tanah airnya. Tinggal jika kita melihat ada jarak, kita yang menuntun, kita ajak bersama-sama untuk benar-benar menjadi patriot, nasionalis sejati, dan ingat yah, nasionalisme itu tidak berarti semua kita musuhi, lalu asing itu jelek, globalisasi itu ancaman; ingat globalisasi itu juga mendatangkan ancaman dan peluang, yang serba ancaman kita tangkal, tapi yang peluang-peluang mengalirkan kemajuan, mengalirkan teknologi, mengalirkan kemakmuran, mengapa ditolak? Kita harus adaptif, harus cerdas dan jangan menjadi yang saya sebut dengan nasionalisme sempit, narrow nationalism; nanti tidak dapat apa-apa. Tapi mutlak memang mencintai bangsanya, tanah airnya dan negaranya.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Aduh luar biasa sekali anak Trax ya, kita jadi tambah mengerti bagaimana kita anak muda ini harus bersikap dan berperilaku. Nah Anak Trax, jangan ke mana-mana lagi, kita masih akan kembali lagi nanti bersama Bapak SBY.

Dodi, Reporter Radio Trijaya
Oke, Profesional Muda, terima kasih Anda masih bergabung bersama kami dalam special interview bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Nah Pak SBY, ini masih berkaitan dengan penghargaan, pendidikan bagi kita, Bapak menjadi icon generasi muda saat ini, nah bagaimana dengan porsi anak muda di pemerintahan, Pak? Tentunya kita berbicara soal anak-anak muda yang potensial, yang profesional di bidangnya, perlukah ada semacam regenerasi dalam tubuh partai politik misalnya Pak, sebagai proses kaderisasi supaya mereka lebih fresh, supaya bisa mendapatkan pengalaman untuk menjadi pemimpin di masa mendatang?

Presiden SBY
Sangat perlu Bung Dodi. Ingat dulu ketika presiden pertama dan kedua kita, mendiang Bung Karno dan mendiang Pak Harto memimpin, barangkali karena misi sejarah waktu itu, dinamika keadaan waktu itu, tidak cukup banyak kita melakukan penyiapan anak-anak kita, regenerasi. Kemudian sekarang dengan tatanan politik yang baru, dengan pembatasan masa jabatan presiden misalnya, demikian juga perlunya regenerasi di kalangan parlemen, maka saya berpendapat penyiapan anak-anak muda setinggi mungkin itu sangat-sangat penting, regenerasi mesti kita lakukan.

Saya ingin beri contoh, bahwa staf khusus saya ini kebanyakan termasuk angkatan yang relatif muda. Mereka saya ajak untuk memahami persoalan-persoalan kenegaraan, pemerintahan. Mereka mengikuti bagaimana saya mengambil keputusan, saya menetapkan kebijakan, saya mengatasi masalah, kadang-kadang masalahnya sangat pelik, kompleks, rumit, kadang-kadang kalau sangat cepat saya ambil keputusan dan tindakan, kadang-kadang perlu waktu untuk memastikan bahwa keputusannya tepat dan tidak melanggar undang-undang dan aturan yang berlaku. Semua itu ternyata penting. Mereka belajar, learning by doing, learning by listening dan sebagainya.

Kalau regenerasi di partai politik, di organisasi yang lain, saya kira perlu dilakukan. Saya ambil contoh Partai Demokrat, Partai Demokrat meskipun usianya belum sepuluh tahun tetapi saya niati partai ini sebagai partai tengah, partai modern, partainya kawula muda, partainya kaum perempuan dan alhamdulillah dalam perkembangannya menuju ke situ, dan saya memberikan ruang, saya meminta generasi muda, anak-anak muda untuk masuk misalkan dalam Partai Demokrat itu agar mereka punya opportunity, punya peluang yang besar di masa depan.

Jadi kesimpulannya, saya termasuk orang yang berpendapat bahwa regenerasi jangan ditunggu-tunggu, mulai sekarang, biarkan mereka tumbuh dari bawah, memiliki pengalaman yang cukup untuk nantinya menjadi pemimpin-pemimpin yang baik.

Dodi, Reporter Radio Trijaya
Jadi ada peluang bagi Anda, Profesional Muda ya, untuk terus katakanlah misalnya suatu saat mengikuti jejak Pak SBY, begitu.

Presiden SBY
Insya Allah.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Pendengar Trax kita langsung berada di kediaman Bapak SBY di Cikeas dan ini Pak, Bapak ini terpilih sebagai ikon ”The Now Generation Is In Action” karena anak Trax ini menganggap bahwa Bapak telah berhasil menaikkan citra Indonesia di mata internasional, saya pun ikut bangga Pak.

Presiden SBY
Terima kasih.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Sama-sama, Pak. Kalau dulunya ini Pak ya, mungkin kalau boleh sedikit flashback. Waktu saya masih remaja dulu, Indonesia itu dikenal sebagai negara yang diktator seperti itu, kemudian militer ya seperti itu Pak. Setelah itu sempat ada kerusuhan di tahun ’98, negara kita dikenal sebagai pelanggar HAM. Kemudian sekarang Indonesia dipandang sebagai salah satu kekuatan demokrasi terbesar di dunia, ini semua media massa di internasional itu sedang tentang, membicarakan Indonesia ini, Pak. Nah, masih ada nggak sih Pak, persepsi Indonesia di mata negara lain yang menurut Bapak itu perlu diubah? Dan bagaimana ini caranya anak Trax bisa membantu ini, Pak?

Presiden SBY
Ya, itu benar adanya dan ini kerja keras kita semua. Saya masih ingat lima tahun yang lalu, bahkan sepuluh tahun yang lalu ketika citra kita betul-betul buruk di mata dunia akibat krisis, akibat banyak sekali yang terjadi di tanah air, saya kira Indra masih ingat semua, nah sekarang alhamdulillah dengan kerja keras kita, tahun-tahun terakhir standing kita, peringkat kita jauh membaik dan dunia makin menghormati Indonesia dalam berbagai forum. Tentu saja ini mesti kita tingkatkan lagi agar nama baik kita dari hari ke hari makin baik dan makin harum begitu. Kalau saya jujur, meskipun sudah banyak yang kita lakukan dan kita mencapai banyak hasil dari kedua wilayah ini, tapi masih ada bayang-bayang katakanlah kekerasan yang terjadi di waktu yang lalu, terorisme, kekerasan karena konflik horizontal di antara unsur masyarakat kita, itu bayang-bayang itu masih terasa meskipun makin susut.

Oleh karena itu, mari anak bangsa semuanya termasuk Anak Trax, mari kita menjadi bangsa yang beradab. Ciri penting bangsa yang beradab itu bangsa yang tidak menyukai kekerasan. Persoalan sangat banyak tapi toh bisa kita carikan solusinya secara damai. Nah kalau kita membangun sikap kasih saying, hormat-menghormati, toleransi, kemudian membangun persaudaraan apapun agamanya, apapun sukunya, apapun etnisnya, apapun daerahnya, maka kita akan memiliki peradaban yang luhur, yang mulia, dan jauh dari kekerasan. Kalau proses ini berlangsung terus tahun demi tahun, maka hilanglah sudah pandangan bahwa kita menyukai kekerasan sebagaimana yang pernah terjadi di waktu yang lalu.

Nah yang kedua, yang sangat getol saya lakukan sekarang suatu kampanye yang sangat agresif yaitu membikin pemerintahan kita ini makin bersih, negara kita ini juga makin bersih. Inilah yang saya katakan membangun pemerintahan yang baik, good governance, memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme. Ini semua juga menjadi pekerjaan rumah kita.

Oleh karena itu, kita harus sangat serius untuk membangun masa depan yang baik ini dan kalau ini juga kita lakukan terus-menerus dengan kepemimpinan yang konsisten, yang tekun, yang kuat untuk membikin segala sesuatunya menjadi bersih di negeri ini, maka saya yakin lima tahun ke depan, sepuluh tahun dari sekarang nama kita akan lebih harum lagi di mata internasional.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Baik, Anak Trax, mungkin saat ini saya melihat Bapak SBY begitu, apa ya kalau boleh dibilang santai, sambil santai sambil minum teh. Ini tehnya teh apa Pak kalau boleh tahu?

Presiden SBY
Ini kesukaan saya. Nanti kalau saya sebut merek, nanti terus, yang jelas produksi dalam negeri dan jelas ini rasanya jos, kalau ini berkembang terus perusahaan di dalam negeri akan terus maju dan tidak perlu ada PHK, karena yang beli kita semua.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Betul sekali, nah Pak ngomong-ngomong beli, pernah beli majalah Time itu Pak, yang ada Bapak, yang Bapak menjadi.

Presiden SBY
Ya ya, saya diberitahu memang ada surat dari pimpinan majalah Time dan belakangan saya juga berkomunikasi; saya bersyukur, senang dan saya sempat membaca itu.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Ya betul, jadi mungkin Anak Trax belum ada yang tahu tapi mungkin sudah ada yang tahu mengenai bahwa Bapak ini juga terpilih sebagai salah satu dari seratus orang yang paling berpengaruh di dunia oleh majalah Time. Itu bagaimana rasanya, Bapak?

Presiden SBY
Ya, kembali bersyukur, bangga dan kalau saya mendapatkan penghargaan itu kan berarti Indonesia, bangsa kita juga tentunya mendapatkan penghargaan yang sama dari masyarakat internasional.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Betul sekali, kemudian juga Pak masih mengenai masalah ini dan artikel ini ditulis oleh Anwar Ibrahim ya Pak ya, politisi Malaysia yang kabarnya itu sangat mengagumi Bapak SBY dan saya terus terang kagum sama Pak SBY sekarang saja masih gemetaran Pak. Kalau Bapak SBY sendiri, sangat mengagumi tokoh siapa Pak yang mungkin Bapak menjadikan panutan dalam menjalankan tugas sebagai Presiden?

Presiden SBY
Banyak-banyak, saya tidak mengagumi satu orang tokoh saja, tapi saya memetik pelajaran saya mengadopsi nilai-nilai yang baik, pikiran-pikiran yang baik dari banyak tokoh. Pertama-tama, kalau saya sebagai seorang muslim, tentu saya sangat mengagumi Nabi Muhammad SAW yang menjadi pemimpin agung dan mengajarkan banyak hal, bahkan sampai sekarang masih relevan, kalau melakukan perubahan hijrah itu, dia harus penuh dengan kearifan, harus berimbang, semua diajak serta, jangan radikal, jangan memaksakan kehendak, jangan dengan cara-cara kekerasan. Saya kira, saya mengatakan tauladan yang luar biasa.

Kemudian, tentu saya hormat dan kagum kepada kedua proklamator kita, Bung Karno-Bung Hatta, harus semua begitu luar biasa jasanya, ada lagi tokoh militer Panglima Sudirman itu dengan paru-paru tinggal satu memimpin gerilya dan akhirnya bersama-sama dengan pemimpin politik bisa menyelamatkan kemerdekaan kita.

Itu adalah tokoh-tokoh kalau saya memetik apa yang bisa saya dapatkan dari beliau-beliau itu, tentu saja banyak lagi saya lihat apa yang menonjol dari karakternya, cara-cara memimpin, visi atau pandangannya yang semua tentu melengkapi pengetahuan saya dan tentunya ikut membesarkan saya dalam mengemban tugas sebagai seorang pemimpin.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Menurut Bapak sendiri, apa kriteria pemimpin yang baik itu?

Presiden SBY
Yah kalau kriteria pemimpin ya, kalau levelnya sudah di atas, gubernur pun sudah, apalagi menteri, apalagi presiden, mesti punya visi, punya penglihatan yang jauh ke depan, mau dibawa ke mana negara ini, bukan hanya urusan hari-keseharian meskipun itu penting, tapi memimpin negara, meminpin bangsa, harus dilihat misinya.

Yang kedua tentu dia harus memiliki kapasitas dan integritas, kepribadian, watak. Kapasitas ya pengetahuan, kemampuan. Lantas memimpin itu juga mengelola sumber daya. Oleh karena itu, harus memahami yang namanya manajamen dan juga leadership ataupun jiwa kepemimpinan.

Dan yang terakhir saya pikir, seorang pemimpin itu mesti bisa memotivasi, memberikan semangat, memberikan energi positif bagi yang dipimpin, bagi rakyatnya. Dengan demikian, akan terjadi suatu proses yang dinamik, yang hidup, bangsa itu ingin maju bersama-sama dan akhirnya itu juga akan banyak tercapai. Saya melihat kira-kira seperti itulah seorang pemimpin, apalagi pemimpin puncak yang kita harapkan.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Ya baik Pak. Nah, selama Bapak menjalani menjadi presiden ini, ya tugas Bapak sebagai presiden ini, tugas Bapak sebagai presiden, momen apa yang paling terkenang buat Bapak?

Presiden SBY
Kalau yang paling terkenang ya, yang paling membekas di hati dan ini tentu membawa kenangan yang panjang, ketika saya harus datang di Aceh, ketika tsunami datang, porak-poranda, hancur luluh lantah, dan di situ saya sebagai presiden dalam keadaan pikiran yang amat sedih waktu itu harus bertindak cepat, bergerak cepat, memutuskan, memberikan arahan di lapangan dan seringkali harus kembali lagi dan alhamdulillah akhirnya bisa kita atasi. Satu pelajaran besar bagi dunia, bukan hanya Indonesia, bagaimana kita mengatasi krisis bencana yang begitu besar tapi hasilnya baik. Itu yang sangat menggores di hati saya.

Yang kedua, kalau kenangan yang mengesankan tapi ini yang membanggakan ketika saya beberapa kali berpidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, pernah meminpin juga sebuah persidangan bersama Sekjen PBB Ban Ki-moon, pernah juga meminpin suatu Konferensi PBB di Bali tentang perubahan iklim yang tiga-tiganya dicatat dalam sejarah dunia sebagai suatu tonggak-tonggak keberhasilan. Bangga betul saya sebagai anak Indonesia dan tentunya ini juga sumbangsih saya kepada Indonesia jika saya dipercaya untuk memimpin.

Itulah suka-duka seorang presiden. Ada yang menggores di hati kalau itu tragedi dan itu juga ada kebanggaan manakala kita bisa menunjukkan kebolehan kita.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Mudah-mudahan sebagai salah satu hal yang terkenang buat Bapak adalah di-interview oleh Indra Bekti ya Pak ya.

Presiden SBY
Itu juga tonggak yang lain.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Baiklah, Anak Trax, jangan ke mana-mana kita masih akan kembali lagi.

Anak Trax, kita masih bincang-bincang sama Bapak Presiden Republik Indonesia dan pada saat saya masuk ke rumah ke Cikeas, itu memang suasana agak sedikit menegangkan awalnya, tegang sedikit, mau bertemu dengan Pak SBY tapi ternyata tidak juga, pada saat menunggu Pak SBY hadir di apa itu Pak, pendopo ya Pak, di depan?

Presiden SBY
Ya Pendopo Cikeas.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Di situ ada keyboard, ada gitar, ada mic ya di situ, begitu Bapak datang gitu, terus Bapak bernyanyi di situ. Itulah suasana cair, kita semua jadi langsung ikutan senang di situ Pak, terima kasih banyak, itu ternyata kebanyakan lagu-lagu ciptaan Bapak sendiri ya Pak?

Presiden SBY
Ya saya selama empat tahun terakhir ini menulis sekitar 15 lagu tapi itu tidak mengganggu sama sekali tugas saya karena empat bulan sekali datang inspirasi, terciptalah satu lagu, lagu itu tercipta sekitar dua-tiga jam dan alhamdulillah muncul begitu.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Kalau Bapak sekarang diminta untuk mencipta lagu?

Presiden SBY
Belum tentu, karena inpirasinya nunggu dulu. Tidak bisa dikejar.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Oh baik Pak. Mungkin belum diceritakan siapa ini musisi atau band favoritnya Pak SBY?

Presiden SBY
Ya, karena saya lahir dan tumbuh di tahun ’60-an, tahun ’70-an, jadi kalau saya menyebut grup musik, grup band itu tentu generasi yang dulu. Saya diam-diam menyukai D’lloyds, The Mercys, Panjaitan Bersaudara, Koesplus, dan juga favorit group dan lain-lain. Itu yang dalam negeri. Kalau yang luar negeri, era saya dulu tentu semua senang The Bee Gees, The Beatles, The Rolling Stones. Nah, kalau sekarang anak-anak muda ini kan Ungu, lantas The Changcuters, dan Andra and The Back Bone

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Ya betul. Bapak suka yang mana pada level yang sekarang-sekarang ini?

Presiden SBY
Kalau ada beda-beda ya, Ungu itu lagunya juga ada bagusnya; The Changcuters itu ada beat-nya, hidupnya gitu; Andra and The Backbones itu kalau lagu Sempurna itu juga menggetarkan; Slank gayanya sendiri; Kerispatih dia sendiri, Cokelat dengan lewat melodinya; saya kira kalau saya bisa menikmati itu, meskipun beda generasi.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Ya betul Pak, saya juga nyanyi Pak, yang sama Dewiq itu Pak, saya duet Pak, Bapak pernah dengar Pak yang lagu saya, “Eh eh kok gitu sih,” gitu Pak, sama Dewiq saya duet.

Presiden SBY
Saya minta kasetnya nanti.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Oh boleh Pak, boleh, boleh Pak. Nah Pak sama seperti saya, saya juga suka musik, kalau menurut Bapak, apa arti musik apa gitu buat Pak SBY?

Presiden SBY
Bagi saya, Nak Indra Bekti, arti musik itu peneduh jiwa, musik itu kasih sayang, musik itu harmoni, rukun, musik juga tempat kita berkreasi, ekspresi, indah-indah saja, karena saya kira hampir semuanya bisa menerima musik, aliran apapun, corak apapun, dapat pesan-pesan yang baik. Bagi saya itu.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Ya Pak, luar biasa dalam memberikan arti kepada musik itu sendiri, nah sekarang mungkin Bapak bermain musik itu sejak kapan Pak?

Presiden SBY
Saya sebenarnya, ikut-ikutan sejak SD, SMP sudah ikut band sekolah dulu, SMA, terus kemudian waktu masuk akademi militer; setahun pertama saya masih ikut grup music. Jadi, sekitar tujuh tahunlah sejak SD, tapi yah dengan suasana waktu itu apa namanya mulai dari alat yang sederhana, belum elektrik dulu, setelah saya SMA kelas 1 baru menggunakan perangkat yang elektrik untuk gitar, bas dan sebagainya.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Ini pertama kali pegang alat itu adalah gitar.

Presiden SBY
Saya dulu pertama kali ini, lucu ini, pertama kali pegang alat musik yang namanya bas kebu, bas kebu besar itu, senarnya panjang, putih, di situ. Setelah itu, baru bas yang elektrik.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Oh begitu. Belajar dengan siapa itu, Pak?

Presiden SBY
Teman-teman saya di waktu SD, sekarang masih sering ketemu teman-teman itu, kemarin juga datang ke Jakarta, sering saya ajak bicara, nyanyi, nostalgia. Teman-teman saya sendiri yang ngajarin.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Itu Bapak di Pacitan ya?

Presiden SBY
Di Pacitan, kota yang kecil tapi indah.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Ya menelurkan seorang pemimpin.

Presiden SBY
Alhamdulillah.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Alhamdulillah. Nah, mungkin sekarang kita akan sama-sama boleh bikin, kita minta Pak SBY untuk sedikit membawakan lagunya, sambil memainkan gitarnya mungkin Pak?

Presiden SBY
Ya, saya mungkin bukan gitaris, tapi saya bisa. Dulu sekali, lagi saya pegang bas, yah. Saya ingin bawakan, Indra Bekti, satu lagu yang saya ciptakan sendiri, judulnya Mentari Bersinar, saya bikin di Merauke waktu saya berkunjung ke sana; saya mengagumi keindahan Papua, keindahan negeri ini dan kita ingin melihat ke depan yang lebih baik. Ini lagu dibawakan oleh Seno, Seno dan sudah ada kasetnya, coba saya cuplikkan sedikit yah.

SBY menyanyikan cuplikan lagu ”Mentari Bersinar”

Saya kira cuplikannya cukup ya.


Indra Bekti, Reporter Trax FM
Luar biasa. Baik, Anak Trax, luar biasa sekali kita sama-sama baru saja mendengarkan lantunan lagu dari Pak SBY barusan ini, Mentari Bersinar. Semoga dapat terus bersinar dan juga Trax FM tentunya terus akan bersinar di ulang tahunnya yang ke-9 ini.

Dodi, Reporter Radio Trijaya
Baik, terima kasih Anda mengikuti terus bersama kami, saat ini saya berada di perpustakaan Pak Presiden, Pak SBY, di kawasan Puri Cikeas, saya punya kesempatan yang sangat istimewa untuk berbicara dengan Pak SBY saat ini. Dari tadi kita menyinggung soal bagaimana Bapak melihat anak muda, apalagi Pak SBY baru saja dari salah satu stasiun radio di Jakarta mendapatkan penghargaan sebagai icon generasi muda. Nah Pak SBY kita ingin tahu soal bagaimana Bapak memandang anak muda sekarang, Pak? Kemudian, apakah pemerintah sudah memberikan fasilitas buat anak muda di dalam hal menyalurkan kreatifitas mereka, dan perlu adakah penguatan lembaga pendidikan karya cipta termasuk sarana kreatifitas anak muda di Indonesia?

Presiden SBY
Ya, Dodi, saya memandang anak muda sekarang, generasi muda sekarang adalah aset bangsa. Merekalah yang akan membawa bangsa kita menjadi negara maju, negara bermartabat dan negara sejahtera di abad XXI ini.

Oleh karena itu, saya menaruh harapan yang sangat besar kepada generasi muda. Mereka saya lihat cukup kreatif, ingin membangun karya dan mengukir prestasi. Oleh karena itu, kewajiban negara, kewajiban pemerintah, kewajiban masyarakat, berikan ruang yang lebih luas untuk mereka bisa berprestasi dan berkarya lebih baik lagi.

Jalur pendidikan tentu penting. Oleh karena itu, fasilitas pendidikan sejalan dengan peningkatan anggaran pendidikan salah satunya kita gunakan untuk membuat anak-anak muda kita lebih berkreasi lagi, lebih inovatif lagi, memiliki curiousity yang tinggi dengan metode pendidikan yang baik, dengan prasarana dan ruang untuk berekspresi.

Lantas di jalur non pendidikan juga penting. Oleh karena itu, saya juga berkali-kali meminta walikota misalkan di kota-kota izinkan fasilitas publik untuk anak-anak kita untuk saling berinteraksi, akhirnya muncul inspirasi, gagasan-gagasan yang segar yang menjangkau ke depan.

Nah kalau menyangkut hak cipta, saya paling gigih untuk betul-betul kita pandai melindungi dan menghormati hak cipta itu, HAKI. Departemen Hukum dan HAM misalnya, kemudian Departemen Perdagangan, instansi terkait juga terus melakukan upaya untuk kita makin menghormati hak intelektual itu, hak cipta itu dan tentunya perlu kerja sama dengan berbagai unsur, Parfi misalnya terus kemudian apa namanya Hapli dan lain-lain.

Oleh karena itu, mari kita lakukan sesuatu yang benar-benar bisa membuat anak-anak muda kita makin optimis melihat masa depannya, makin positif dalam berpikirnya, kemudian dia terus didorong untuk berkarya, berkarya dan berkarya. Saya punya keyakinan yang tinggi bahwa anak-anak Indonesia akan menjadi duta-duta bangsa yang unggul, kita dukung terus untuk biar bisa maju.

Dodi, Reporter Radio Trijaya
Sekali lagi selamat Bapak, saya mewakili Profesional Muda, audiensnya Trijaya Network begitu karena Bapak terpilih sebagai icon-nya anak muda. semoga Bapak bisa terus memajukan kaum muda bagi generasi muda bangsa.

Presiden SBY
Terima kasih Dodi, terima kasih Profesional Muda, terima kasih.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Anak Trax, ini saatnya kita sudah hampir mendekati untuk kata-kata untuk mungkin yang terakhir dan kali ini saya ada sedikit pertanyaan Bapak yaitu begini Pak, ada pepatah mengatakan bahwa anak muda adalah tulang punggung bangsa. Apakah Bapak bisa memberikan saran kepada Anak Trax yang mengdengarkan saat ini, bagaimana caranya menjadi tulang punggung bangsa yang kuat dan benar-benar menjadi the now generation in action?

Presiden SBY
Ya, tulang punggung itu mesti kuat, betul. Kalau manusia tulang punggungnya tidak kuat, ia akan lemah, ia tidak sehat, ia tidak bisa melakukan berbagai pekerjaan yang memerlukan energi, yang memerlukan kekuatan.

Oleh karena itu, pendapat saya, anak muda itu harus memiliki karakter yang kuat, tidak mudah menyerah, tidak cengeng, tidak mengeluh, tidak suka hanya menyalahkan, tidak putus asa dan sebagainya. Ini memerlukan pembangunan watak sejak dini, agar betul-betul nantinya menghadapi tantangan hidup yang akan keras itu dia bukan hanya survive tetapi dia bisa menang, bisa tampil dalam berbagai bidang kehidupan.

Nah oleh karena itulah, saya ingin betul-betul pendidikan yang kita lakukan, kegiatan kemasyarakatan yang sedang berlangsung itu juga bisa memotivasi mereka semua agar betul-betul punya inner power, punya kekuatan dari dirinya sendiri untuk menjadi orang yang sukses, untuk menjadi manusia yang unggul, untuk menjadi putra-putri bangsa yang berdaya saing.

Itu yang saya anggap tulang punggung, tidak datang dengan sendirinya, tidak seindah bulan purnama, mereka harus mulai sekarang bekerja sangat keras untuk mencapai cita-cita itu dan betul-betul suatu saat anak-anak muda kita akan menjadi pemimpin-pemimpin, tokoh-tokoh yang benar-benar menjadi tulang punggung di negara kita.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Luar biasa, Pak. Ini pasti akan didengar oleh Anak Trax, semoga ini juga merupakan harapan Bapak juga untuk Anak Trax.

Nah, Bapak, mungkin kata kunci kita hari ini adalah perubahan ya Pak ya. Pak SBY sudah berhasil membawa perubahan positif kepada negara kita tercinta, dan Trax FM pun selalu berusaha membuat perubahan positif demi Anak Trax, dan sekarang giliran Anak Trax yang meneruskan pesan perubahan ini. Jadilah the now generation is in action.

Bapak SBY yang terhormat, saya atas nama pribadi dan atas nama Trax FM mengucapkan terima kasih sekali lagi atas waktu yang telah diberikan kepada kami dan sekali lagi kami ucapkan selamat atas Bapak dinobatkan sebagai icon The Now Generation Is In Action dari Trax FM, dan kali ini kami mohon kesediaan Bapak untuk menerima penghargaan tersebut yang akan diberikan oleh Direktur MRA Broadcast Media, Bapak Haryo Wijanarko. Kami persilakan.

Presiden SBY
Terima kasih Indra Bekti, terima kasih Anak Trax, terima kasih Pimpinan Trax FM yang memberikan anugerah ini. Insya Allah akan saya pertanggungjawabkan untuk kebaikan kita semua, terutama Anak Trax dan generasi muda kita. Terima kasih sekali lagi.

Indra Bekti, Reporter Trax FM
Terima kasih, Bapak. Kami persilakan.

*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan RI