Gazebo, Halaman Tengah Istana Jakarta, Selasa, 8 September 2009
Dialog Idul Fitri di RCTI
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
DIALOG IDUL FITRI DENGAN RCTI
GAZEBO, 8 SEPTEMBER 2009
Moderator, Arief Suditomo
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pemirsa RCTI yang saya hormati,
Di hari yang berbahagia ini di tengah-tengah kami telah hadir pada kesempatan ini Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono, selain itu juga bersama-sama kita di halaman istnana juga telah hadir dua ulama besar di tanah air yakni Prof. DR. Hj. Husaimah Sahidi Limpo, Guru Besar Ilmu Fiqih Universitas Islam Syarief Hidayatullah, dan juga hadir Bapak DR. KH. Hasyim Sakum Muhammad, pakar tafsir ilmu Quran, Rektor Institut Ilmu Al Quran.
Pertanyaan pertama akan saya tujukan pada Ibu Profesor Husaimah. Di saat kita menghadapi sebagian orang merayakan Lebaran karena di situ memang adalah tanggalan merah, holiday, di situ pula banyak sekali orang memaknai perayaan ini tanpa makna khususnya perayaan, tapi kita juga menemukan beberapa orang yang sudah lebih dalam memaknai sebagai perayaan menang perang setelah satu bulan lamanya kita bergulat dengan diri sendiri dan kalau kembali lagi kita ke fitrah, kembali kepada Al Quran bagaimana kita semuanya harus memaknai kemenangan ini kembali ke fitrah ini.
Prof. DR. Hj. Husaimah, Ulama Besar
Kemenangan pada Idul Fitri ini adalah kemenangan dalam melawan hawa nafsu, karena ketika kita berpuasa kan disuruh menahan diri dari segala apa yang membatalkan puasa, misalnya makan, minum, hubungan seksual dan hal-hal lainnya yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama, misalnya menjaga mulut, jangan memfitnah, jangan berbohong, jangan menggunjing, jangan ngomel dan sebagainya.
Dalam bulan Syawal ini kita kembali suci kalau kita sudah melaksanakan puasa tadi sesuai dengan tuntunan ajaran agama kita, karena hadist: manshoma ramadhona imanan wahtisaban wa qirow lohu ma shaqadaman min dzambid: barangsiapa melaksanakan puasa dengan iman yang mengharapkan keridhoan dari Allah SWT maka diampuni dosa-dosanya yang lampaui dan diampuni-Nya dosa-dosa kita yang lampau maka pada hari raya Idul Fitri kita berarti sudah menang kembali kepada kesucian, kembali kepada fitrah.
Moderator, Arief Suditomo
Jadi kalau batal puasanya tidak ikut fitrah.
Prof. DR. Hj. Husaimah, Ulama Besar
Jadi sebetulnya dalam Ramadhan itu kita memang tidak sampai membatalkan puasa kalau kita menggunjing apakah pahalanya tidak dapat kita, sehingga dalam hadist nabi dikatakan, berapa banyak orang berpuasa itu dia tidak memperoleh pahala puasanya kecuali lapar dan dahaga saja.
Moderator, Arief Suditomo
Pada dasarnya orang yang sudah kembali ke fitrah, sekelompok orang atau seluruh orang kalau diharapkan di sebuah negara kira-kira bagaimana kita semua harus dijadikan konsep tersebut untuk menjadi makhluk sosial atau untuk menjadi warga negara yang baik.
DR. KH. Hasyim, Ulama Besar
Bismillahirahmanirrahim,
Saya ingin menambahkan apa yang dikatakan oleh Ibu Profesor Husaimah, kemenangan yaitu keberhasilan seseorang atau kelompok manusia dalam meraih cita-citanya setelah melalui satu perjuangan lazim bagaimana kita ketahui kemenangan dari peperangan melawan musuh-musuh termasuk di dalamnya adalah kemenangan Bapak Presiden Yudhoyono setelahnya beliau setelah pilpres kemarin setelah melalui perjuangan.
Di dalam Al Quran Al Karim ada beberapa surah untuk menentukan kalau kita menang di antaranya adalah An Nashr, di antaranya adalah Al Khauf, di antaranya adalah Al Falah. Kalau kita lihat dari sisi kebahasaan Al Khauf artinya seorang telah melampaui satu mapaja artinya tanah lapang. Orang yang telah melewati satu tanah lapang di mana di dalamnya ada rintangan-rintangan kemudian bisa melampaui rintangan-rintangan itu maka dia mendapat Al Khauf
Begitu juga Al Falah, Al Falah itu terambilkan dari Al Falah, Al Falah itu artinya membelah. Seorang barangkali dikatakan Al Falah karena dia itu membelah dan bagaimana kita bisa membayangkan seorang petani yang tengah susah payahnya membelah dan akhirnya dia bisa menancapkan bibit-bibit dan dengan demikian akhirnya dia bisa berhasil, ini adalah satu kemenangan dan kita tahu bahwa perjuangan adakalanya perjuangan fisik dan adakalanya perjuangan visual dan kita tahu pada berpuasa ini yang lebih berat itu adalah perjuangan dalam segi visual bagaimana juga bisa melawan hawa nafsu dan sebenarnya inilah kemenangan yang hakiki, kemenangan yang hakiki adalah bagaimana seorang itu bisa melawan hawa nafsunya sendiri sehingga dia sebagai seorang khalifah yang terhormat bisa mengalahkan hawa nafsu yang ingin menjadikan manusia itu menjadi seperti binatang ataupun terbawa oleh nafsu.
Oleh karena itulah, maka melalui kemenangan ini kita harus menjadikan diri kita menjadi orang yang kalau ibarat itu mesin, mesin itu sudah di-overhaul ataupun diisi dan lain sebagainya sehingga dengan demikian yang paling penting dalam hal ini adalah bagaimana kita bisa menghadapi masa yang akan datang setelahnya ini yang kita punyai sudah menjadi bangkit kembali dan yang paling penting itu adalah bagaimana bisa kita menghadapi persoalan-persoalan kehidupan yang akan datang melalui bantuan yang namanya as shaum atau berpuasa pada bulan Ramadhan.
Moderator, Arief Suditomo
Bapak Presiden, tentunya sebagai seorang pemimpin yang memimpin tidak hanya orang-orang yang tunduk pada Bapak tapi juga orang-orang yang tidak tunduk pada Bapak. Jadi ini mungkin tantangan tersendiri apalagi dalam hal bergelut dengan diri sendiridan saat ini kita sudah 30 hari bulan Ramadhan sudah lewat, 1 Syawal kita songsong, apa makna kemenangan buat Bapak dalam hal ini?
Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono
Ya, Bung Arif, segaris dengan apa yang disampaikan oleh kedua ulama tadi, Professor Husaimah dan Dr. Hasyim saya juga sependapat bahwa kemenangan yang kita rayakan pada Idul Fitri 1430 H ini bukan kemenangan tanpa makna, bukan sekedar pesta pora. Tapi hakikatnya adalah kemenangan sebagai rasa syukur kita sebagai wujud dari ketakwaan kita dengan perjuangan yang tidak ringan selama bulan Ramadhan ini alhamdulillah kita telah bisa beribadah dengan baik.
Dan kalau kita bisa petik pelajarannya lantas kita aplikasikan dalam kehidupan di negeri ini apakah kehidupan bermasyarakat, kehidupan berbangsa maupun kehidupan bernegara adalah bahwa kita mencapai kemenangan dalam bulan puasa ini karena kita berjuang, karena kita harus korban, karena kita yakin bahwa ini semua memiliki tujuan yang mulia tentu disertai keyakinan, keimanan, ketakwaan jalan yang kita lakukan sesungguhnya di jalan Allah SWT.
Ini sungguh indah. Oleh karena itu sesungguhnya kalau kita dalam hidup ini ingin menang, cita-cita kita bisa terwujud sesuai yang hendak kita capai maka tentu syaratnya ya kita harus berjuang benar-benar, berikhtiar, tegar menghadapi segala tantangan, ujian dan cobaan. Kita juga mesti berkorban dan di atas segalanya berangkat bahwa Allah SWT kalau kita yakin dengan perjuangan kita benar akan meluruskan.
Demikian juga sesungguhnya dalam kehidupan kita, dalam membangun bangsa. Tidak ada jalan yang lunak untuk mencapai tujuan yang mulia. Bangsa yang maju sebelumnya puluhan tahun, ratusan tahun mereka berjuang kemudian melakukan berbagai upaya disertai pengorbanan pemimpinnya, rakyatnya semua. Nah, dalam konteks itu maka kalau saya boleh memetik pelajaran, hikmah yang luar biasa dalam kemenangan kita di idul fitri ini adalah mari dalam melanjutkan pembangunan bangsa ini apa yang dapat kita lakukan ketika kita beribadah di bulan ini bisa kita aplikasikan dalam dimensi yang lebih luas, berjuang, berkorban, bersatu dengan keyakinan dan memohon ridho Allah SWT, pandangan saya seperti itu.
Moderator, Arief Suditomo
Berjuang, berkorban dan bersatu demi ridho Allah SWT. Kolaborasi dengan berjuang kita merasa sudah dicontohkan oleh banyak pihak Pak tapi berkorban Pak, kalau misalnya boleh saya garis bawahi kira-kira apa bisa Bapak berikan contoh kepada umat dan kepada warga bangsa ini Pak?
Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono
Sangat bisa. Saya ambil umaro, pemimpin baik pada tingkat nasional, pada tingkat daerah apakah pemimpin formal, pemimpin tidak formal mereka harus lebih berkorban membimbing rakyatnya, menunjukkan arah kemudian dalam suka dan duka dia juga merasakan, memberi contoh bahkan dia harus mengorbankan waktunya, mengorbankan tenaganya, mengorbankan pikirannya untuk mencapai tujuan itu. Sebagai pemimpin, sebagai pejabat sering kita menghadapi kritik, kecaman di media massa, di banyak tempat, itu juga wujud kita harus tegar, kita harus sabar, tidak boleh kita lantas putus asa dengan semua itu. Saya kira itu juga bentuk pengorbanan yang mesti kita lakukan sebagai bagian untuk mencapai tujuan yang mulia.
Moderator, Arief Suditomo
Baik Bapak, dan pemirsa kita akan segera lanjutkan dalam segmen mendatang tetaplah bersama kami di Dialog Idul Fitri bersama Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
Kita kembali ke Prof Husaimah. Kebersamaan, solidaritas itu merupakan salah satu kunci di mana Rasulullah memimpin dengan sangat baik di masa-masa politik era Madinah dan sekarang apabila diaplikasikan di saat ini dan kita refleksikan kembali kepada Al Quran ini apa yang kira-kira harus kita dapatkan tuntunan.
Prof. DR. Hj. Husaimah, Ulama Besar
Dalam surah Al Imran ayat 103 yang berbunyi wa’tashimu bihablillahi jamila walaa tafarrokuu wadzkuru ni’matallohi alaikum lazkuntum a’daan faalafa baina kuluubikum faashbahtum binikmatihi ikhwaana. Di situ Allah mengatakan berpegang teguhlah kamu kepada selain Allah yaitu kepada ajaran agama dan janganlah kamu bercerai-berai, ayat ini diturunkan berkenaan ada satu kelompok yang hendak memecah belah maka turunlah ayat ini.
Kemudian berkenaan dengan ini pula hadist nabi dikatakan: "iyakum wajanata inna jana athoqobul hadisi walata dzatsatu walathafs tsatu wala tunafatu wala taha shalu wala taba wadhu wala taba baru watum." Yang artinya hindarilah sangka buruk, yaitu sangka-menyangka karena sangka buruk atau sangka-menyangka itu adalah perkataan yang paling bohong, janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, jangan kamu mengintip-ngintip pendengaran, janganlah kamu berlomba-lomba dalam perbuatan yang jahat, janganlah kamu saling membenci, janganlah kamu saling hasut, iri hati dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi wa qulu wa ibadaw wa ikhwan ibadawwloh wu amma, jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara. Itu anjuran dari hadist nabi yang tadi juga sudah disebutkan ayatnya, bahkan dalam ayat lain beliau berkenaan dengan solidaritas yaitu dalam surah Al Maidah ayat 2: "Bismillahirrahmanirrahim ya ayyuhalladzina aamanu laa tuhillu sya’aairallahi walasyahrol haroma wallalhadya walallqolaaida walaa ammiinalbaital harama yabtagu fadlam mirrobbihim wa ridh waanaa," bertolong-tolonganlah kamu, bekerjasamalah kamu, bersatu padulah kamu dalam melaksanakan perbuatan menuju takwa dan kebaikan dan janganlah kamu bertolong-tolongan, bersatu padu, kerja sama dalam perbuatan yang mendatangkan rusak dan permusuhan. Bahkan dalam hadist nabi juga mengenai solidaritas ini dikatakan: "laisyabbi mu’minin mar batasha ba anna wajarahu dzau’an," sudah dinamakan seorang yang beriman kalau dia tidur dalam keadaan kenyang tetapi tetangga atau orang di sekitarnya itu dalam keadaan lapar.
Nah ini seperti sekarang banyak terjadi bencana atau kebakaran itu perlu juga kita solidaritas, bantu-membantu sesuai dengan anjuran dari ayat Al Quran tadi juga dari hadist nabi.
Moderator, Arief Suditomo
Pasti salah satu maupun yang selalu kita lihat dalam sejarah Islam adalah Piagam Madinah, di mana berbagai macam fatsun, berbagai macam kepentingan berhasil disatukan untuk mendukung sebuah kejayaan. Sekarang dalam status kita apakah bisa kita aplikasikan dengan ruang dan waktu sekarang, kira-kira kita harus mencotoh seperti apa pak.
DR. KH. Hasyim, Ulama Besar
Kita ingat apa yang namanya Hisabul Madinah Piagam Madinah yaitu piagam untuk diikuti oleh Nabi dalam rangka mengikat beberapa komponen-komponen masyarakat. Pada waktu nabi berhijrah ke Madinah nabi mendapatkan di sana sudah ada kelompok orang-orang dari Yahudi, ada kelompok-kelompok yang masih menyembah berhala, nabi tidak menginginkan agar mereka masih hidup semua, nabi membiarkan mereka dalam keadaan memeluk agamanya sendiri agar supaya komponen-komponen masyarakat itu bisa dipastikan oleh satu perjanjian traktat bersama sehingga bisa mengikat seluruh komponen-komponen masyarakat yang ada maka ini adalah merupakan satu pembuktian yang cerdas dari nabi pada saat nabi datang ke Madinah masyarakat perlu ada satu ikatan yang bisa mengikat seluruh komponen-komponen masyarakat yang ada itu, dan ini saya kira bisa diaplikasikan di mana Indonesia ber-Bhinneka Tunggal Ika maka perlu ada satu ikatan yang bisa mencakup seluruh komponen masyarakat yang lain di dalam Piagam Madinah ini tercatat ada 47 pasal di mana di antaranya dalam kebebasan bagi orang-orang penduduk Madinah untuk bisa melaksanakan ajaran agamanya masing-masing, menghargai orang lain, hukum harus ditegakkan, menghormati yang lain dan yang lain sebagainya sehingga ini adalah merupakan satu pemikiran yang cerdas dari Nabi sehingga dengan demikian maka muncullah apa yang dinamakan masyarakat Madinah yang bersatu padu di dalam kehidupan berbangsa itu, sehingga kalau diaplikasikan pada Indonesia di sini adalah merupakan hal yang sangat baik sekali.
Saya ingin menambahkan sedikit bahwa kebangkitan suatu bangsa yaitu perlu ada 4 hal yang perlu dipikirkan bersama pertama bangsa itu dipimpin oleh orang-orang yang jujur, karena orang-orang Islam memikirkan kepada masyarakatnya, orang yang tidak bisa diganggu oleh kepentingan-kepentingan tapi hanya untuk memikirkan masyarakatnya.
Yang kedua, mempunyai pertahanan yang bagus, pertahanan yang kuat karena suatu pembenaran itu harus dipertahankan oleh kebenaran yang kuat dalam hal ini adalah persenjataan yang bagus. Yang ketiga adalah bahwa bangsa itu mempunyai berbagai macam ahli apakah ahli kelautan, ahli bidang kehutanan dan yang lain sebagainya dan yang keempat adalah semua ahli itu saling bahu-membahu dalam rangka untuk membela masyarakat, untuk menuju kepada bangsa yang sejahtera, bangsa yang adil dan makmur, sentosa, bangsa yang adil. Dan inilah kiranya disaksikan oleh Al Quran Al Karim dan inilah yang telah dilakukan oleh nabi pada umatnya.
Moderator, Arief Suditomo
Bapak Presiden, mengenai dari apa yang dua ulama kita barusan sudah sampaikan, kita di sini hari ini kita menganggap diri kita sudah terlahir fitri hidup kembali, tapi di sisi lain kita tidak bisa terlepas dari apa yang sudah memfilterisasi kehidupan kita beberapa hari atau beberapa bulan atau beberapa bulan yang lalu. Indonesia dihantui oleh aksi terorisme, kemarin lalu juga juga ada cobaan alam, lalu kita baru saja berhasil melewati tahapan-tahapan kematangan berpolitik yang cukup sudah diberikan oleh komponen banyak pihak.
Dalam situasi seperti ini, kebersamaan, solidaritas merupakan salah satu cobaan yang harus Bapak hadapi sebagai seorang pemimpin untuk kembali kita bersama-sama lagi untuk hidup dalam kebersamaan, apa kira-kira yang Bapak maknai dari tantangan Bapak?
Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono
Bung Arif, saya kembali menggarisbawahi apa yang disampaikan oleh kedua beliau tadi bahwa kebersamaan, kesetiakawanan sosial itu juga memiliki akar dan landasan yang kuat dalam ajaran Islam. Beliau menuturkan firman Allah, sabda Rasulullah tentang itu, bagaimana kita membangun silaturrahim, bagaimana kita saling bertenggang rasa menjaga tutur kata kita bersama-sama untuk membangun kehidupan yang baik.
Tadi DR. Hasyim juga mengatakan syarat-syarat untuk majunya sebuah bangsa setelah kita memiliki yang lain tetap diperlukan kebersamaan persatuan untuk mengatasi itu, disebutkan juga Rasulullah SAW pada zamannya ketika beliau memimpin sebuah perubahan yang besar beliau sangat menekankan kebersamaan, persatuan di antara umat dengan visi beliau yang luar biasa, dengan kepemimpinan dan karakter beliau sebagai pemimpin agung yang akhirnya mengubah jalan secara sangat jelas.
Kalau semua itu kita aplikasikan dalam kehidupan di negeri kita bahkan di dunia bahkan bukan hanya kehidupan umat Islam tapi kehidupan seluruh rakyat Indonesia saya kira banyak hal dapat kita atasi di negeri ini dan kita bisa lebih cepat lagi menghadirkan masa depan yang lebih baik yang aman, yang adil dan yang sejahtera.
Dalam konteks itu semua saya kira ingin mengambil beberapa contoh ketika kita menghadapi ujian, tantangan dan cobaan termasuk musibah bencana yang kerap terjadi di negeri kita karena memang geografi Indonesia sarat dengan bencana alam maka diperlukan kesetiakawanan sosial, bantuan kepada mereka yang mengalami kesulitan. Saya sering datang ke daerah bencana beberapa hari yang lalu saya juga ke Cianjur Selatan, saya sudah melihat memang spontanitas, kesetiakawanan sosial dari saudara-saudara kita di Aceh juga demikian, di Jogja, kemudian di tempat-tempat yang lain. tapi menurut saya masih perlu ditingkatkan, masih banyak yang bisa lebih membantu lagi saudara-saudaranya yang mengalami kesulitan dalam tingkat yang lebih luas dalam membantu saudara-saudara kita yang miskin di samping negara, di samping pemerintah menjalankan program-program pengentasan kemiskinan tentunya umat Islam, rakyat Indonesia yang memiliki kelebihan juga bisa memberikan kepada mereka apakah dalam bentuk infaq, sodakoh, zakat ataupun bentuk-bentuk yang lain yang Islam sangat mengedepankan semuanya itu.
Kemudian titik ke-3 yang tidak kalah pentingnya bangsa kita akan kuat kalau kita memang rukun bersatu dan bersama-sama mengatasi masalah, bersama-sama membangun hari esok yang lebih baik. Oleh karena itu kemajemukan tidak boleh menjadi halangan kita berbeda dalam suku, dalam agama, dalam etnik, dalam daerah itu pun juga tidak boleh menyimpulkan permusuhan Islam sangat sarat dengan nilai-nilai kasih sayang, kedamaian, silaturahim dan sebagainya.
Oleh karena itu kita ingin melihat bukan hanya saya dan kedua beliau ini tapi kita seluruh rakyat kita negeri kita aman sentosa, negeri kita makin bersatu, makin rukun dan dengan persatuan yaitu kekuatan, yaitu energi kita bisa berbuat lebih banyak lagi.
Saya meletakkannya dalam konteks seperti itu. Arahnya sudah benar saya tetap optimis insya Allah pada waktu yang tidak terlalu lama lagi bangsa kita akan lebih rukun, lebih bersatu dan kemudian bersama-sama membangun negeri kita.
Moderator, Arief Suditomo
Kalau tadi Bapak Presiden menggarisbawahi Profesor Husaimah tentang pentingnya kemajemukan itu menjadi salah satu elemen memperkaya kita bukan justru buka memecah-belah kita, kira-kira bisa menceritakan kepada kita referensi atau tuntunan dari Al Quran itu apa agar kita semua lebih kuat di sini memang ada referensinya, ada ayat di Al Quran bahwa kemajemukan bukan menjadi modal perpecahan tetapi justru modal untuk memperkaya persatuan.
Prof. DR. Hj. Husaimah, Ulama Besar
Seperti yang sudah saya katakan, wa attakunu biha bilillahi jami awwala thaarrofu, sebetulnya ada juga ayat yang lain, ya ayyuhannas inna kholaqna min ghaforu unsya wa ja’alanakum su’u bawkoba mail tha arrofu. Itu ada dikatakan wahai manusia sesungguhnya kami telah menjadi kamu laki-laki dan perempuan, berkelompok-kelompok, bersuku-suku semuanya itu untuk saling kenal-mengenal antara satu dengan yang lainnya.
Moderator, Arief Suditomo
Dan kalau di Piagam Madinah Pak, bahwa di situ penandatangannya atau pihak yang ikut serta adalah pihak-pihak itu juga Pak jadi tentunya bukan pihak yang selalu bersama atau selalu Nabi Besar kita dan seberapa jauh untuk pada masa seperti itu nabi, Rasulullah bisa memelihara kemajemukan itu menjadi contoh buat kita sekalian.
DR. KH. Hasyim, Ulama Besar
Setelahnya Piagam Madinah itu, katakanlah ditandatangani, disetujui bersama oleh komponen-komponen masyarakat yang ada di situ maka mereka mempunyai suatu pegangan di dalam hidup bermasyarakat di Madinah pada saat itu. Oleh karena itu, dengan adanya Piagam Madinah ini maka mereka menemukan satu pegangan dalam kehidupan bermasyarakat mereka itu. Siapapun di antara mereka yang bersalah mereka langsung dihukum dan ini adalah merupakan sesuai dengan hak-hak asasi manusia, mereka yang bersalah mereka yang dihukum.
Dan di antara mereka bagaimana mempertahankan Madinah jangan sampai ada musuh dari luar Madinah bisa menyerang Madinah semuanya harus bersatu padu untuk mempertahankan Madinah agar supaya tidak diobrak-abrik oleh musuh dari luar. Ini adalah dalam rangka untuk mempersatukan masyarakat di Madinah pada saat itu.
Dengan demikian kita berbangga bahwa dengan adanya Piagam Madinah, kemudian kita cek dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 ini saya kira sangat pas.
Moderator, Arief Suditomo
Dan pemirsa tetaplah bersama kami Dialog Khusus Idul Fitri bersama Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono akan segera kembali.
Dan sebagai penutup dari Bapak di sesi ini kalau kita bicara soal Piagam Madinah karena ini bukan hal yang asing buat bangsa ini Pak, ada berbagai macam historis yang kurang lebih sama dan membawa kita saat ini. Kurang lebih kalau misalnya diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bahkan sebagai warga negara apa yang kira-kira bisa diteladani dari Piagam Madinah.
Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono
Saya menyimak betul yang disampaikan oleh DR. Hasyim tadi tentang Piagam Madinah, sesungguhnya kita juga mendapatkan anugerah Allah SWT ketika para republik, para founding fathers kita dulu merumuskan dengan sangat bijaknya konstitusi kita, Undang-Undang Dasar 1945 ada titik krusial dalam sejarah kita waktu itu bagaimana merumuskan Pembukaan UUD 1945, sebab kalau itu meleset maka akan menimbulkan katakanlah jarak di antara rakyat Indonesia.
Apa yang terjadi waktu itu sekali lagi kita berterima kasih Bapak-Ibu terhadap para pendahulu kita, para pencipta landasan kehidupan bernegara ini yang akhirnya pembukaan konstitusi kita itu sungguh mewadai kemajemukan dan dalam perkembangannya, dalam perjalanannya itu dijabarkan tiap satu dengan 4 konsesi dasar atau 4 pilar kehidupan.
Pertama, Pancasila, yang kedua UUD 1945 yang tercermin dalam pembukaannya, yang ketiga adalah bangun negara kesatuan, bukan bangun yang lain dan yang keempat adalah Bhinneka Tunggal Ika. Sesungguhnya inilah yang menyelamatkan kehidupan bernegara kita dari tarik-menarik, dari perpecahan yang bisa sangat fundamental dan mengganggu perjalanan republik ini.
Jadi kita bersyukur Bung Arif bahwa sebagaimana Rasulullah mencontohkan dulu beliau dalam merumuskan Piagam Madinah. Bangsa kita juga dituntun dan akhirnya merumuskan konstitusi yang menurut saya bisa diterima oleh seluruh rakyat Indonesia terus kita hidupkan, kita kembangkan agar jiwa dan semangatnya tidak goyah, tidak berganti.
Moderator, Arief Suditomo
Dan pemirsa tetaplah bersama kami karena dialog khusus ini bersama Bapak Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, akan segera kembali.
Khusus Idul Fitri bersama Bapak Presiden dan dua narasumber, dua ulama besar kita. Kita akan sesuai diri kita kemudian fitrah kembali namun kami perlu tuntunan Ibu untuk kembali ke Al Quran, hadist untuk mengingatkan kepada kami dan menuntun kepada kami bagaimana cara Rasulullah memelihara kesucian itu, kefitrahan itu agar kita punya bekal, bagaimana juga kita nantinya akan memelihara kesucian yang sudah kita usahakan untuk kita dapatkan setelah 30 hari
Prof. DR. Hj. Husaimah, Ulama Besar
Terima kasih. Adapun langkah-langkah yang pertama kita laksanakan sekarang kita sedang berada di hari raya Idul Fitri, yaitu Idul Fitri artinya kembali menjadi suci.
Yang pertama adalah kita harus saling maaf, memaafkan antar satu dengan yang lain kalau ada perbedaan-perbedaan yang ganggu misalnya kita tinggalkan semua itu, kita membuka lembaran baru yaitu lembaran yang bersih, putih, bersih yang tadinya kan kotor tetapi setelah ditempa dalam bulan Ramadhan tadi menjadi suci karena kita bisa melanggarkan diri selama melaksanakan ibadah puasa.
Kemudian yang kedua, kita harus menerapkan hasil pendidikan kita selama bulan Ramadhan terutama tadi melawan hawa nafsu, mengendalikan diri. Apakah misalnya waktu puasa hilang tidak boleh berantam, sesudah lebaran apa sudah boleh berantam kita, kan tidak boleh, apa boleh kita memfitnah waktu puasa tidak boleh dijaga semua mulut, apa sesudah itu kita sudah boleh memfitnah, kan tidak boleh tetap berdosa kita.
Jadi semuanya itu apa hasil latihan, pendidikan kita selama Ramadhan kita terapkan pada bulan Syawal. Syawal itu dalam bahasa Arab artinya peningkatan, dari hasil pelatihan atau pendidikan selama bulan Ramadhan kita tingkatkan pada bulan Syawal ini.
Oleh sebab itu bulan sesudah Ramadhan dinamakan Syawal, yaitu bulan peningkatan. Nah itu peningkatan hasil pendidikan selama bulan Ramadhan yang mendidik kita umat Islam sedunia pada bulan Ramadhan itu adalah langsung dari Allah SWT kalau penataran-penataran dulu, kalau dulu ada penataran P4, misalnya itu oleh Manggala-manggala tapi memang persoalan yang paling besar yaitu langsung dari Allah SWT yang menatar kita semua.
Hasilnya itulah tadi kita menjadi suci maka dalam hal ini kita tanamkan pada bulan Syawal ini dan bulan-bulan selanjutnya sampai kepada bulan Ramadhan yang akan datang. Jadi semakin bulan berikutnya lagi ini semakin baiklah keadaan kita, yaitu karena kita mengamalkan ajaran Al Quran dan hadist, ajaran puasa tentunya.
Dan yang ketiga kita tetap harus bersatu yaitu mengamalkan ajaran agama kita masing-masing, karena kalau seperti di Indonesia kan macam-macam agama tentu sebagai umat Islam kembali kepada ajaran agamanya yaitu tuntunan Al Quran.
Moderator, Arief Suditomo
DR. Hasyim, poin terakhir yang diungkapkan oleh Professor Husaimah adalah bersatu dan kesucian jiwa tentunya akan sangat penting untuk memelihara sebuah persatuan karena kalau kita belum memaafkan, kalau kita masih tidak mengamalkan apa yang kita pelajari atau kita perjuangkan selama Ramadhan tentunya persatuan atau solidaritas kita itu akan sulit tercapai.
Nah sekarang bagaimana kita memelihara kesucian setelah bulan Ramadhan dengan elemen-elemen yang baru saja sudah diungkapkan oleh Profesor Husaimah.
DR. KH. Hasyim, Ulama Besar
Baik, tujuan utama dari berpuasa pada bulan Ramadhan adalah bagaimana apa yang disebutkan dalam Al Quran: la’allakum tattaqun, agar supaya kamu itu mempunyai karakter bertakwa kepada Allah SWT. Pada ayat yang lain Allah menjelaskan tentang sifat orang-orang yang bertakwa itu di antaranya adalah orang yang mempunyai kepedulian sosial baik pada waktu dia dalam keadaan sedikit maupun dalam keadaan banyak, dalam keadaan menguntungkan tidak menguntungkan.
Yang kedua adalah orang yang bisa menahan amarah ataupun menahan hawa nafsu jadi kalau seandainya di dalam bulan Ramadhan kita tidak boleh memarahi orang lain, bahkan seandainya ada orang lain itu mencerca kita, kita cukup mengatakan, ”Aku dalam keadaan berpuasa”. Ini adalah merupakan spirit perdamaian jangan sampai spirit ini akhirnya dirusak setelah merdeka, setelah melaksanakan bulan Ramadhan.
Dan yang ketiga wal afin aninnas adalah orang yang selalu memberikan maaf kepada manusia. Di sini apakah manusia dari kalangan muslim atau bukan muslim. Kemudian di antara sifat-sifat orang yang bertakwa adalah orang yang selalu mengevaluasi diri apabila dia merasa mempunyai kesalahan beliau akan ingat kepada Allah dan memperbaiki apa yang telah dia laksanakan pada, beliau tidak melanjutkan kesalahan-kesalahan yang telah dia lakukan pada masa-masa yang lain.
Jadi di sini bagi seorang yang bertakwa di mana ketakwaan ini adalah merupakan tujuan utama daripada berpuasa pada bulan Ramadhan maka sifat-sifat orang yang bertakwa inilah yang bersinar, harus selalu dipegangi oleh orang-orang yang telah melaksanakan di bulan Ramadhan.
Ada satu ungkapan: kunu robama wala taqun ramadhanin, jadilah kami itu adalah orang yang rabbani, orang yang selalu hadir bersama dengan Allah SWT pada setiap kesempatan tapi janganlah kamu itu orang yang Ramadhani artinya orang yang nahani melaksanakan dengan bulan itu pada bulan Ramadhan saja, jadi adalah merupakan ungkapan bagaimana agar supaya ada ada output dari setiap amalan ibadah yang kita laksanakan baik itu shalat maupun zakat, haji dan lain sebagainya yang penting itu adalah output, prosesnya bagus, output-nya juga diharapkan itu bagus karena setiap ibadah ritual itu pasti ada kondisi ritual yang kembali kepada diri pribadi ada unsur aspek sosial kemasyarakatan, sholat misalnya untuk ingat kepada Allah, begitu juga dengan shalat bisa menjaga atau bisa mencegah orang yang melakukan perbuatan keji dan kemunkaran, puasa begitu juga dia mempunyai akan bisa berakibat yang bagus buat diri kita masing-masing tapi juga bisa menciptakan ketakwaan.
Ketakwaan ini sebagaimana tadi saya sampaikan bukan berarti dalam arti yang luas dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu yang paling penting setelah melaksanakan bulan Ramadhan ini adalah apa yang telah kita raih pada nilai-nilai yang ada pada bulan Ramadhan itu bisa kita aplikasikan pada masa-masa setelah di bulan Ramadhan, dan ini adalah merupakan perjuangan yang harus kita laksanakan pada masa-masa yang akan datang. Ada satu ayat yang berbunyi fa ida faraghta fansab fa ida fa ida faraghta fansab fa ida, setelah kamu melaksanakan satu pekerjaan maka berdirilah untuk melaksanakan pekerjaan itu.
Moderator, Arief Suditomo
Bapak Presiden, paling tidak ada dua hal yang saya garis bawahi dari DR. Husaimah dan DR. Hasyim tadi yakni menjaga kefitrian utamanya adalah memaafkan orang lain terlebih dahulu dan kita harus menjaga nilai-nilai selama ini kita perjuangkan, selama Ramadhan jangan marah, jangan fitnah segala macam.
Dari paparan Bapak sebagai seorang pemimpin bisa di-share kepada kami kira-kira kepada bangsa ini apa saja yang Bapak harapkan dari pengalaman Bapak untuk menjaga pola pikir kita semua.
Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono
Kembali ke fitrah, kembali kesucian umat manusia sebagai umat hamba Allah saya kira. Kedua beliau sudah menjelaskan dengan gamblang tadi Bung Arif. Saya ingin mengambil contoh apa yang dialami dilakukan oleh masyarakat kita selama bulan ramadhan kemarin, saya kira apa yang disampaikan para ulama dalam bentuk hikmah ramadhan renubgan bulan suci itu ratusan, tiap hari berapa kali, diingatkan kembali firman Allah, diingatkan kembali sabda rasulullah, diingatkan kembali apa yang disampaikan oleh para ulama-ulama besar sepanjang perjalanan Islam, kalau itu semua diaplikasikan untuk diri sendiri, luar biasa.
Jadi, tidak akan bisa menyempurnakan kepribadiannya kita semua. Maksud saya, memperbaiki perilaku kita, tutur kata kita, sayang, menyayangi di antara kita dan sebagainya. Dan satu lagi, dengan diingatkan kembali ajaran-ajaran Islam yang benar maka penyimpangan ajaran agama dalam kehidupan ini bisa dicegah, dikurangi dan kalau bisa dihentikan. Banyak sekali malapetaka di dunia ini termasuk di negeri kita karena kesalahan di dalam menjalankan ajaran agama, ajaran Islam. Kekerasan kan tidak ada, Islam tidak memberikan toleransi terhadap kekerasan apalagi terorisme seperti itu.
Jadi ini saat yang baik, mudah-mudahan bulan suci Ramadhan yang baru kita lalui itu benar-benar membuka hati, pikiran, jiwa-jiwa umat kita, kita semua agar kita kembali kepada fitrahnya dan kemudian melangkah ke hari esok dengan suasana baru, dengan semangat baru dan beribadah serta menjalankan ajaran agama Islam yang benar.
Kemudian tadi masalah ukhuwah, masalah bertenggang rasa, masalah saling maaf-memaafkan saya kira itu hal yang penting. Ukhuwah ini kita baca secara utuh persaudaraan, persatuan di antara umat Islam mutlak dalam satu keimanan kita kemudian persaudaraan, persatuan di antara sesama bangsa Indonesia.
Apapun identitasnya dan sesungguhnya persaudaraan dan persatuan sesama umat manusia di dunia untuk membangun dunia yang adil, dunia yang aman dan dunia yang sejahtera. Saya kira maknanya dalam jangan dilihat sepotong-sepotong seolah-olah kita membangun persaudaraan dengan cara umat Islam, kita memusuhi saudara kita yang lain, tidak begitu ajaran Islam, tidak begitu yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW.
Maaf-memaafkan harus kita lakukan, manusia yang bijak, manusia yang arif tentunya harus ada pintu untuk memberikan maaf kepada yang lain, minal aidin wal fa idzin, hakekatnya pada hari yang besar ini kita melihat lembaran baru ke depan, melihat masa lalu dengan pembelajaran dan di atas segalanya saling maaf-memaafkan itu indah, saya kira ini nilai yang luar biasa bukan hanya nilai Islam tetapi juga nilai Indonesia yang harus kita kembangkan sebagai bangsa yang harus semakin rukun dan semakin bersat, saya memaknainya dua-duanya.
Moderator, Arief Suditomo
Setelah kita melalui 2008 ini Pak, Bapak Presiden, tahun di mana kematangan berpolitik kita sangat-sangat diuji, apa arti maaf dari seorang pemimpin buat bangsa ini dan apa harapan Bapak sebagai pemimpin dengan konteks maaf yang bisa pada akhirnya untuk membangun Indonesia yang lebih bersatu dan lebih bisa mengakselerasikan langkah kita bersama.
Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono
Kalau kita kaitkan dengan apa yang kita lalui dalam pengalaman bangsa kita tahun lalu 2008 dengan tahun 2009 barangkali karena keniscayaan demokrasi kemarin kita berkompetisi dalam pemilihan umum baik pemilihan umum legislatif maupun pemilihan presiden dan wakil presiden.
Di negara manapun, di negara kita juga yang namanya pemilihan umum kita sering berjarak, ada kompetisi kadang-kadang keras, kadang-kadang saling menyerang dalam tanda kutip untuk kemenangan pemilihan umum itu.
itu sudah kita lewati, sudah usai sekarang saatnya kita ambil apa yang hikmah yang paling mendalam dari masa lalu kita itu dan sekarang kita harus bersatu kembali, kita anggap semua itu bagian dari masa lalu, bagian dari demokrasi, bagian dari kompetisi dan tidak sepatutnya kita memelihara, katakanlah dendam, memelihara jarak dan permusuhan.
Rakyat menginginkan semua pemimpinnya termasuk saya berlaku bagi diri saya kembali rukun, kembali bersatu, melihat masa lalu untuk pembelajaran selebihnya melihat kedepan untuk membangun hari esok. Saya kira makna dalam kehidupan kita seperti itu.
Moderator, Arief Suditomo
Dan pemirsa tetaplah bersama kami, kami masih bersama dengan Bapak Presiden RI, Susilo bambang Yudhoyono, dan dua ulama tanah air kita dan kami akan segera kembali.
Dan Bapak Presiden sudah tiba saatnya kami di penghujung acara, kami sekarang ingin mendapatkan bagian atau share dari Bapak tentang bagaimana Bapak menjaga konsep kemenangan, fitrah dan kebersamaan.
Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono
Kemenangan, fitrah kebersamaan, kalau untuk kehidupan umat kita, orang seorang saya kira sudah sangat gamblang tadi, kembali ke fitrah berarti kita memperbaiki diri kita, menyempurnakan akhlak kita, kepribadian kita untuk bermasyarakat dengan baik, kehidupan di jalan Allah SWT sebagaimana yang diajarkan dalam ajaran Islam.
Kemudian saya katakan tadi juga bagaimana kita betul-betul menjalankan ajaran Islam dengan benar.
Kemudian makna kemenangan ini kalau kita ambil hakekat, nilai, kemenangan yang kita raih dalam menjalankan ibadah puasa sebulan yang lalu kemarin maka kita bisa dengan ridho Allah menghadapi tantantangan, cobaan, menahan segalanya ke depan kita harus juga bisa melakukan hal yang sama bukan hanya dalam beribadah sebagai umat hamba Allah tetapi juga sebagai bagian dari bangsa Indonesia di dalam membangun hari esok yang lebih baik.
Dalam bulan puasa kita menghadapi cobaan dan rintangan dalam membangun bangsa demikian juga, tapi kalau kita tegar, sabar, kompak, berserah diri, berikhtiar sambil memelihara keyakinan kita, kemenangan pembangunan beragama kita raih di suatu saat. Saya kira ini sangat-sangat mendasar dan kembali lagi kalau kita ambil hakikinya maka sebenarnya apa yang mesti kita lakukan ke depan ini adalah satu keyakinan bersama kita bahwa kita di waktu yang lalu kita kalau melaksanakan refleksi, refleksi kemerdekaan misalnya sebagaimana pidato saya 17 Agustus yang lalu ataupun bagaimana kita melihat perjalanan bangsa 5 tahun ini kita akan menemukan hal-hal yang baik yang harus kita lanjutkan dan disukseskan, tapi juga ada hal-hal yang belum baik yang harus kita ubah dan kita perbaiki.
Jadi maknanya demikian bagaimana kita menyikapi sebuah perubahan, kembali ke fitrah bersama memperbaiki diri, kemudian kita menuju kehidupan yang lebih baik. Konteksnya luas dan saya punya keyakinan para ulama bahwa apa yang ada dalam ajaran agama Islam, ajaran agama kita sangat mungkin kita aktivasikan dalam kehidupan seluruh Indonesia bahkan di dunia.
Ingat bahwa Islam adalah rahmatan semesta alam. Oleh karena itu semua itu juga diaplikasikan syaratnya umat Islam sendiri sungguh memahami ajaran agamanya, tidak melakukan penyimpangan, mengajak yang lain bagian dari bangsa, sebagai konsep dari persaudaraan yang utuh tadi, ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniah, dan ukhuwah basariyah. Insya Allah masa depan kita akan lebih baik.
Saya melihatnya demikian dan mudah-mudahan di Idul Fitri kemenangan kita, kemenangan yang mulia, kemenangan dengan makna dan mudah-mudahan masa depan kita lebih baik.
Moderator, Arief Suditomo
Kita memaknai dari apa yang diungkapkan oleh Bapak Presiden tadi diberikan landasan dari sisi Al Quran dan hadist, Ibu kira-kira memaknai kemenangan, fitrah dan kebersamaan apa yang harus kita semangati dari momentum?
Prof. DR. Hj. Husaimah, Ulama Besar
Kita kembali seperti yang sudah saya sampaikan tadi itu untuk memaknai Idul Fitri adalah kembali kepada fitrah, fitrah itu kalau menurut bahasa artinya suci, kejadian asli atau menurut juga para ulama adalah sebagai asal kejadian, asal kejadian manusia itukan suci sebagaimana bayi yang baru dilahirkan, seperti yang disebutkan dalam hadist nabi:" kulu mauluddin nula adal fitrah fabziwahil hauludoni aulil an insani haulil nat sirani," setiap bayi yang dilahirkan itu adalah dalam keadaan suci, dalam keadaan fitrah masa orang tuanya atau lingkungannyalah yang akan mengembalikannya dari fitrah kesucian tadi itu.
Jadi kita dalam Idul Fitri ini sudah kembali kepada fitrah sehingga tadi seperti saya sudah katakan kita membuka lembaran baru supaya kesucian tadi tetap ada jangan sampai kita kotori lagi, dan begitu selanjutnya kita pertahankan kesucian tadi.
Moderator, Arief Suditomo
Memaknai kemenangan, fitrah dan kebersamaan aplikasinya
DR. KH. Hasyim, Ulama Besar
Dari kehidupan ini adalah perjuangan yang tiada pernah berhenti, karena dunia ini adalah bukan kehidupan yang hakiki yaitu kehidupan yang hakiki adalah di akhirat nanti dan karena itu manusia dalam hidupnya itu selalu mendapatkan tantangan-tantangan dan dia harus berjuang terus menerus untuk bisa meraih masa depan yang lebih bagus daripada masa yang lalu.
Ada satu ungkapan di jalan ini tiada tempat berhenti, tegap, lamban berarti mati mereka yang bergerak, merekalah yang di depan, mereka yang berhenti sejenak, mereka pasti tergerak. Ini artinya bahwa manusia tentu harus selalu mewaspadai dirinya sendiri, berbagai macam godaan sudah tentu pasti akan dihadapi. Orang yang pahlawan, orang yang menang adalah orang yang bisa mengalahkan hawa nafsunya sehingga dengan demikian hidup ini akan terus berputar, manusia juga pada suatu saat akan menemukan hal-hal yang mengotori semuanya, jadi dengan berpuasa ini dia akan dibersihkan lagi, setelah itu dia berjuang lagi, mungkin pada tahun depan akan kotor lagi, bersihkan lagi. Ini adalah merupakan satu keputusan dan ini akan terus menerus menghadapi hal-hal yang semacam ini, saya itu.
Moderator, Arief Suditomo
Alhamdulillah Bapak Presiden, terima kasih atas kesempatan yang ditujukan kepada kami di halaman Istana Merdeka ini dan Professor Husaimah dan DR. Hasyim atas kesempatan yang diberikan kepada kami, mudah-mudahan ungkapan-ungkapan dan harapan-harapan Bapak ungkapkan dialog kali ini begitu juga tuntunan dari Professor Husaimah dan Bapak Hasyim tadi bisa mewarnai kefitrahan kita dan kefitrian pribadi kita untuk masa-masa mendatang hingga kita bertemu dengan ramadhan berikutnya.
Bapak Presiden, saya ucapkan terima kasih atas kehadirannya dan atas nama seluruh kerabat kerja RCTI kami ucapkan terima kasih dan mudah-mudahan Idul Fitri kita kali ini bisa menemui makna dan kefitrahan yang abadi hingga kita bertemu dengan Ramadhan mendatang.
Saya Arief Suditomo terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan RI