Istana Merdeka, Jakarta, Minggu, 24 Januari 2010
Talkshow SCTV dengan Presiden SBY
TRANSKRIPSI
TALKSHOW SCTV DENGAN PRESIDEN RI
DI ISTANA MERDEKA, JAKARTA
24 JANUARI 2010
Pembawa Acara, Rike Amru
Selamat malam Saudara, hari ini kami hadirkan untuk Anda Program Barometer Spesial. Mengapa ini menjadi spesial? Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, akan menjawab sejumlah persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini. Banyak pertanyaan, semoga sebagian bisa terjawab dalam dialog spesial kali ini. Harapannya, dengan jawaban Bapak Presiden, bangsa ini akan lebih optimis menuju masa depan. Saudara inilah Program Barometer Spesial “Presiden SBY Menjawab.”
Saudara, di halaman tengah Istana Jakarta, kami sudah bersama dengan Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, selamat malam, Pak SBY.
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Selamat malam
Pembawa Acara, Rike Amru
Dan di sini ada tiga jurnalis senior dari tiga media berbeda. Saya perkenalkan dari kanan sana, Bapak Rikard Bagun, Pemimpin Redaksi Harian Kompas. Selamat malam, Bung Rikard
Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun
Selamat malam Mbak Rike
Pembawa Acara, Rike Amru
Bapak Wahyu Adhitama, Penanggung Jawab Radio El Shinta, selamat malam Pak Wahyu. Dan di ujung sana adalah Don Bosco Selamun, Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV yang biasa saya panggil Bung Don. Selamat malam Bung Don.
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Malam Rike.
Pembawa Acara, Rike Amru
Bung Don, saya beri kesempatan pertama untuk bertanya ke Pak Presiden, silakan.
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Tidak enak mendapat kesempatan pertama, tapi saya mendapatkan kehormatan Bapak Presiden. Sejak awal pemerintahan yang kedua ini, Bapak sudah menetapkan program 100 hari dan yang paling ramai itu adalah soal penegakan hukum dan isunya sudah berlangsung sejak awal sampai sekarang. Ada program untuk menuntaskan mafia kasus atau makelar kasus, kemudian mafia peradilan, lalu kemudian calo perkara, kira-kira Bapak kalau melihat ini sudah sampai di mana jalannya?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Ya, sebenarnya penegakan hukum termasuk pencegahan dan pemberantasan korupsi itu tugas dan kewajiban negara yang harus kita laksanakan selamanya, karena kita ingin sistem kita bersih. Kalau ditanyakan sudah sejauh mana, khusus dalam pemberantasan korupsi, lima tahun terakhir ini banyak yang kita lakukan. Sebagai contoh, kerja dari KPK, kepolisian, dan kejaksaan itu sudah menangani kasus korupsi ratusan.
Kemudian ada 5 triliun aset negara yang dapat diselamatkan. Ada 140 pejabat negara yang mesti menjalani proses hukum karena didakwa melaksanakan tindak pidana korupsi. Lantas keuangan negara juga kita tertibkan. Itu sejumlah 38 triliun, atau yang dulu disebut rekening liar, itu kongkrit, dan jangan lupa Bung Don Bosco bahwa bukan hanya memberantas, menindak, tapi yang kita lakukan ini sesungguhnya mencegah supaya tidak ada katakanlah budaya korupsi, semudah itu kita melaksanakan korupsi.
Kalau ditanya sampai kapan atau berapa, Hongkong itu 13 tahun. Saya yakin, kalau kita bisa jaga derap dan intensitas pemberantasan korupsi sekarang ini, insya Allah 10, 15 tahun lagi negara kita akan berubah, berubah ke arah yang jauh lebih baik, hukum tegak, sistem menjadi lebih bersih. Saya punya keyakinan.
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Kalau ini sukses, itu berarti kan karpet merah untuk generasi berikutnya, Bapak Presiden. Ya, kira-kira optimisme itu seberapa besar?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Saya optimis karena dalam sejarah di negeri kita ini, kali inilah kita sungguh agresif di dalam melaksanakan kampanye antikorupsi. Namun, saya berpesan kepada seluruh rakyat Indonesia, memberantas korupsi tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu konsistensi, perlu kerja keras, perlu kontribusi dari semua pihak. Yang jelas, pemerintah yang saya pimpin akan terus berdiri di depan untuk melaksanakan pencegahan dan pemberantasan korupsi.
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Bapak sudah melihat bahwa itu tidak mudah, ini kerikil tajam, banyak sekali, dan terbukti ketika sejak awal Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II ini. Kita lihat tiba-tiba ada begitu banyak kasus yang mencuat ke permukaan, ibaratnya itu, seolah-olah ini sebetulnya gejala yang nampak di permukaan dari sebuah gunung es. Jadi ada kasus cicak versus buaya, ada misalnya suara Anggodo yang kemudian membuat kita terkejut itu, lalu kemudian ada lagi kasus penjara yang mewah, kira-kira begitu Bapak Presiden. Itu kerikil tajam seperti ini, bagaimana Bapak?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Begini melihatnya ya, makin efektif pemberantasan korupsi, makin baik kita mengungkap, kasus-kasus korupsi akan muncul. Alhamdulillah, kita bisa mengidentifikasi dan kita bisa menindaknya. Daripada kelihatannya baik-baik saja, aman-aman saja, ternyata seperti Bung Don Bosco tadi, ada gunung es. Lebih bagus kita buka semuanya, transparan kepada publik. Kita ingin menertibkan segalanya, kita ingin memberantas korupsi sehingga silakan, rakyat pun bisa melapor, memberitahu kalau memang ada dugaan korupsi. Tapi jangan fitnah, harus dengan fakta yang konkrit.
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Ke, mungkin ada pertanyaan yang lain?
Pembawa Acara, Rike Amru
Ya, saya lihat Bung Don menekankan soal hukum untuk pertanyaan di awal, saya ke Bung Rikard?
Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun
Selamat malam, Bapak Presiden.
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Selamat malam.
Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun
Apa kabar, Pak?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Baik, baik, alhamdulillah.
Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun
Saya menyambung Pak. Ini kalau Bung Don berbicara tentang hukum dan penyelesaian secara hukum, tetapi Pertemuan Bogor kan kelihatan sekali bahwa Bapak melihat bahwa selain penyelesaian secara hukum, tapi juga diselesaikan lewat komunikasi politik. Jadi banyak masalah tidak perlu diselesaikan secara hukum tapi juga bisa di luar hukum. Jadi berpikir di luar kotak hukum. Saya kira itu menarik Pak karena kompleksitas persoalan kita. Tetapi ini masyarakat ingin tahu bahwa Bapak Presiden, itu siapa sebetulnya yang memprakarsai, lalu apa tema utamanya, lalu terobosan khusus apa dari pertemuan? Menarik itu Pak.
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Baik, sebenarnya keinginan atau prakarsa untuk kita bisa terus saling berkomunikasi justru pertama-tama datang dari pimpinan lembaga negara. Mereka berkumpul terlebih dahulu, kemudian berkomunikasi dengan saya, apakah bisa dijalin komunikasi yang juga presiden, wakil presiden ada di situ. Tentu saya sambut dengan baik karena para pimpinan lembaga negara, para penyelenggara negara itu mendapatkan amanah dalam konstitusi kita untuk menjalankan tugas sesuai dengan kewenangannya masing-masing. Menghadapi permasalahan yang fundamental pada tingkat negara, tentu baik kalau kita saling berkomunikasi, berbagi pandangan, bertukar pikiran tanpa mengintervensi peran, wewenang, dan tugas masing-masing.
Kemarin di Bogor alhamdulillah pertama kali secara lebih formal kita berkomunikasi tiada lain agendanya adalah mengenali masalah-masalah aktual tapi mendasar yang dihadapi oleh bangsa ini. Kami melihat bahwa lima tahun mendatang kita ingin meningkatkan pembangunan kita, misalnya ekonomi untuk kesejahteraan rakyat, demokrasi, dan juga keadilan. Nah, dalam konteks itulah, dalam agenda seperti itulah, kemarin kami semua bertukar pikiran dalam suasana yang cair. Tidak ada ada yang namanya saling mengganggu, kalau ada pikiran-pikiran yang kritis, semuanya diletakkan dalam bingkai bagaimana para pimpinan lembaga negara betul-betul mengelola kehidupan bernegara ini untuk rakyat kita.
Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun
Setelah pertemuan itu, Bapak mengatakan bahwa ada kriminalisasi terhadap kebijaksanaan. Terkait dengan itu, lalu dibawa ke Bank Century, mungkin apakah Bapak akan menjelaskan kembali sikap Bapak terkait dengan kebijaksanaan pada kasus Bank Century?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Ya, berbicara kebijakan, tidak hanya menyangkut kasus Bank Century. Beberapa saat yang lalu, saya bertemu dengan ratusan bupati di Madiun, Jawa Timur. Mereka menyampaikan kepada saya selaku presiden, “Janganlah kami ini yang harus mengambil keputusan, yang harus menjalankan tugas, lantas kadang-kadang dianggap itu sebagai langkah yang keliru, kebijakan sering dianggap itu kasus yang bisa dipidanakan.
Saya mengingatkan kepada kita semua, sebenarnya kebijakan itu apa sih? Kebijakan itu adalah sesuatu yang melekat pada seorang pejabat yang diberikan kewenangan untuk mengatasi masalah, untuk memilih opsi, dan itu semua sesuai dengan lingkup kewenangan yang diberikan.
Dalam kasus Bank Century, kalau kita lihat kebijakan seperti apa tentu negara, pemerintah, dan Bank Indonesia ingin melakukan sesuatu untuk mencegah krisis. Misalnya agar kita tidak seperti 10 tahun lalu, harus berhadapan dengan IMF lagi dan seterusnya. Dalam konteks itu, sekali lagi kebijakan itu adalah ya decisions, ya actions, ya options, choices yang diambil untuk mengatasi masalah. Lihatlah dampaknya. Impact-nya seperti apa. Kemudian lihatlah intentions-nya, apakah negara dalam kaitan itu, pemerintah dan BI sungguh ingin menyelesaikan masalah, ingin mencegah krisis, itu bisa dilihat dengan gamblang.
Pesan saya adalah kebijakan tidak boleh dipidanakan, tetapi kalau ada sisi-sisi lain dari kebijakan itu yang memang itu keluar dari yang seharusnya, penyimpangan-penyimpangan, penyimpangannya itu yang bisa diperkarakan, tapi bukan policy, bukan beleid, bukan kebijakan. Nanti tidak ada orang yang berani mengambil keputusan, tidak ada orang yang berani menetapkan kebijakan kalau setiap saat bisa diadili.
Pembawa Acara, Rike Amru
Tidak ada pejabat yang bekerja, Pak.
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Saya kira akan takut semua, sebagaimana suara para bupati, para gubernur yang saya terima selama ini.
Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun
Tapi kenyataannya Bapak Presiden kalau politisasi berlebihan terhadap kasus ini oleh kelompok yang berkepentingan, yang kita risau justru bisa mendelegitimasi pemerintah maupun juga energi kita semua, terganggu kita
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Sebenarnya begini Bung Rikard, kalau semuanya diletakkan dalam konteks yang benar, melihat masalah secara jernih sesuai dengan aturan yang ada dalam konstitusi, dalam undang-undang, dalam aturan-aturan, saya kira tidak menjadi apa-apa. Yang berbahaya itu apabila keluar dari konteksnya, keluar dari koridornya, kemudian adalah kepentingan-kepentingan lain, ini yang mengganggu kehidupan bernegara kita termasuk misi pemerintah untuk menjalankan program-programnya.
Pembawa Acara, Rike Amru
Baik, masih akan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan untuk Pak SBY, kita akan lanjutkan sesaat lagi Pak. Saudara, tetaplah bersama kami di Program Barometer Spesial “Presiden SBY Menjawab.”
Saudara, Anda kembali di Program Barometer Spesial “Presiden SBY Menjawab.” Tadi sudah dua jurnalis senior dari dua media yang bertanya, saya beri kesempatan saat ini untuk bertanya kepada Presiden SBY dari Penanggung Jawab El Shinta Radio, Pak Wahyu Adhitama. Silakan, Pak Wahyu.
Penanggung Jawab El Shinta Radio, Wahyu Adhitama
Terima kasih. Bapak Presiden. Kali ini saya ingin bertanya sedikit mengenai peradaban politik Pak. Di awal pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Bapak membangun koalisi dengan sejumlah partai politik, termasuk di dalamnya ada pakta integritas dan kontrak politik. Apakah hal itu masih berjalan efektif selama ini Pak?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Ya, saya mengatakan masih. Koalisi masih terjaga. Tentu ada dinamika, ada persoalan di sana, di sini, dan kami sepakat yang berkoalisi itu untuk selalu memegang teguh sebetulnya kesepakatan koalisi yang sesungguhnya juga kontrak politik. Oleh karena itu, saya sudah menyampaikan, mari setiap saat kita lakukan evaluasi, apa yang sudah baik, kebersamaan dalam koalisi ini, dan mana-mana yang belum baik, karena politik itu ada fatsunnya, ada etikanya. Oleh karena itu, karena kita sudah bersepakat membangun koalisi agar pemerintahan ini efektif, bisa menjalankan tugas-tugasnya, ya harapan kita semua dijalankan dengan baik. Saya mengatakan koalisi masih berjalan, kemudian ada catatan-catatan kecil, itu normal dalam sebuah demokrasi, dalam sebuah politik, dengan catatan, kita setiap saat bisa mengevaluasi mana-mana yang kurang tepat harus kita luruskan.
Penanggung Jawab El Shinta Radio, Wahyu Adhitama
Pertemuan dengan pimpinan antarlembaga tinggi negara di Istana Bogor pada hari Kamis yang lalu Pak, apakah ini terkait dengan situasi politik yang semakin menghangat? Bagaimana Bapak melihat Pansus Century yang tengah berlangsung saat ini? Apakah hubungan antarlembaga telah saling menghormati dalam mewarnai demokrasi?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Ya Pak Wahyu, sebenarnya kami kemarin bertemu di Bogor itu benar-benar tidak untuk membahas kasus Bank Century. Bahwa masalah itu salah satu yang kami bicarakan, ya. Dan kemarin kami dengan niat yang baik, para pemimpin lembaga-lembaga negara itu punya posisi begini Pak Wahyu, meskipun politik itu bisa dinamis, kadang-kadang ada situasi yang menghangat, ada masalah-masalah yang muncul, tetapi kita harus menjaga stabilitas nasional, apakah stabilitas politik, stabilitas sosial, maupun stabilitas keamanan.
Kita juga sepakat kemarin itu, kalau ada masalah, apakah politik, apakah sosial, atau keamanan, sudah ada kok kerangka untuk menyelesaikan masalah itu. Lihat saja Undang-Umdamg Dasar kita, undang-undang ataupun aturan yang lain. Jangan keluar dari itu semua, karena itu mengganggu kehidupan bernegara kita.
Dan kalau menyangkut Bank Century sekali lagi, sikap saya jelas. Saya tetap berpendapat bahwa yang dilakukan oleh negara, pemerintah dalam hal ini Menteri Keuangan, atas ketentuan undang-undang yang dimiliki, Gubernur BI waktu itu benar-benar ingin mengatasi masalah. Masalah Bank Century, masalah perbankan, masalah perekonomian. Jangan terjadi krisis seperti 10 tahun yang lalu. Saya meyakini itu, niatnya jelas, tujuannya jelas. Oleh karena itu, kalau ada angket atau inquiry, silakan, untuk mendapatkan penjelasan. Penyelidikan silakan, karena saya punya keyakinan itu adalah solusi, dampaknya kita tidak terkena krisis yang mendalam karena kecepatan bertindak, karena ketepatan apa yang dilakukan kemarin itu.
Dalam kaitan itu, saya mengajak kepada masyarakat, mari kita hormati pejabat negara, pejabat pemerintah dalam menjalankan tugasnya, kalau ingin tanya ya silakan, namanya angket itu. Namun jangan keluar dari itu semua, jangan ditambah dengan fitnah, jangan ditambah dengan fiksi, jangan ditambah dengan intrik dan sebagainya, itu malah mengganggu politik kita yang sudah semakin bagus. Kasihan rakyat kalau tidak mendapatkan penjelasan yang gamblang tentang seluk-beluk kasus bank Century itu.
Pembawa Acara, Rike Amru
Kasus Century ini memang menyedot perhatian masyarakat luas termasuk para jurnalis. Bung Don ada yang mau ditambahkan?
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Bapak ketika di Madiun kemarin mengatakan bahwa situasi kita itu sama dengan situasi politik tahun ’63 atau tahun ’60-an di mana ada saling adu domba, saling fitnah. Itu kan menjadi pertanyaan tentang stabilitas politik kita. Level stabilitas politik kita menurut Bapak Presiden bagaimana?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Saat ini, politik kita masih berada dalam keadaan relatif stabil, kita jaga sebab mahal harganya manakala stabilitas terguncang. Negara lain bisa membangun dengan baik karena negaranya stabil. Kita alhamdulillah setelah 10 tahun yang lalu diporak-porandakan karena krisis, karena konflik horisontal, karena jatuh-bangunnya pemerintahan, katakanlah maksud saya pergantian-pergantian kepemimpinan yang begitu cepat, kita menikmati keadaan politik yang stabil ini. Mari kita jaga bersama-sama supaya pembangunan bisa kita laksanakan, ekonomi jalan, rakyat senang bisa menjalankan kehidupan sehari-harinya. Saya mengatakan, mari kita jaga bersama-sama.
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Penilaian Bapak, persoalan ini di tingkat elite yang ramai ataukah di akar rumput juga terjadi hal-hal seperti itu?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Bung Don, terus terang saya harus menaruh hormat kepada rakyat kita. Mereka, apa yang saya lihat langsung ketika saya berkunjung ke daerah-daerah tiga bulan terakhir ini, kehidupan mereka relatif tidak terganggu dengan hiruk-pikuk yang ada di ibu kota, dengan pemberitaan-pemberitaan baik media massa maupun nonmedia massa.
Saya malah berterima kasih kepada rakyat kita yang dengan jernih melihat apakah kehidupan mereka sungguh terganggu atau tidak, mereka mengatakan tidak, jalan terus. Mereka ingin sebenarnya pada tingkat negara juga bisa kita jaga situasi seperti itu. Oleh karena itu, menurut saya ini capital yang baik, modal yang baik. Rakyat kita bisa memilah-milah mana yang berkaitan dengan kepentingan rakyat, mana yang sesungguhnya masalah yang bisa diselesaikan dengan baik.
Pembawa Acara, Rike Amru
Lebih jauh lagi soal keamanan karena tadi Bung Don menanyakan hal yang disebut oleh Pak SBY sebagai keamanan yang relatif stabil sampai saat ini.
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Ini, karena Bapak juga pernah mengatakan, ini adalah tanda-tanda gangguan investasi beberapa waktu lalu ketika di bursa, ketika Bapak membuka. Apa memang tanda-tanda itu terlihat jelas atau bagaimana?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Yang saya katakan adalah, begini Bung Don, agar investasi berjalan dengan baik, apakah investasi dari dalam negeri maupun dari negara sahabat, maka iklim dalam negeri harus baik, politik stabil, hukum tegak, keamanan terjaga. Itu semua yang harus kita bangun, iklim yang kondusif untuk sebuah kegiatan ekonomi termasuk investasi.
Oleh karena itu, pengalaman di negara manapun sudah sangat jelas termasuk di negara kita. Manakala negara kita gonjang-ganjing, siapa yang akan berinvestasi di Indonesia? Bahkan pengusaha dalam negeri pun menanamkan modalnya di luar negeri. Janganlah, ini sudah susah-payah kita sejak 10 tahun yang lalu berusaha, alhamdulillah bersatu bangsa kita, memperbaiki. Nah sekarang keadaannya jauh lebih baik, mari kita jaga.
Pembawa Acara, Rike Amru
Ya, berkaitan dengan pertanyaan dan jawaban Pak SBY soal iklim investasi, ini jadi menarik Pak karena sekarang sudah diberlakukan perdagangan bebas, mungkin ini akan didiskusikan sesaat lagi Pak SBY? Saudara teruslah bersama kami di Program Barometer Spesial “Presiden SBY Menjawab”.
Terima kasih Saudara, Anda kembali menyaksikan Program Barometer Spesial “Presiden SBY Menjawab”. Tadi dalam dua segmen sebelumnya, presiden sudah menjawab soal politik, hukum, juga keamanan. Saya ingin melemparkan lagi kepada para jurnalis senior yang berada bersama saya saat ini, soal lain mungkin, Bung Rikard?
Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun
Ya, Bapak Presiden, ini soal manajemen pemerintahan. Otonomi daerah itu terasa bahwa ada persoalan struktural, karena apa yang katakanlah kebijakan dari pusat belum tentu mengalir secara deras ke daerah karena hambatan struktural, termasuk misalnya sejumlah perda yang justru kontraproduktif, terutama menghambat ruang gerak pengusaha atau membatasi investasi. Menurut Bapak, bagaimana terobosan untukmengatasi masalah ini?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Yang perlu kita ketahui, sebenarnya usia dari pemerintahan yang didesentralisasikan dan otonomi daerah ini kan baru 10 tahun. Negara lain itu memerlukan puluhan tahun untuk betul-betul sistem pemerintahannya termasuk otonomi daerahnya berjalan dengan baik. Saya menyadari masih ada ekses, masih ada kekurangan-kekurangan dan penyimpangan dalam implementasi otonomi daerah. Tetapi arahnya sudah benar, frame-nya sudah benar, sudah mulai dirasakan manfaat dari otonomi daerah itu.
Betul, kalau penyimpangan itu tidak kita koreksi, justru mengganggu. Contoh, daerah ingin mendapatkan PAD-nya, Penghasilan Asli Daerah, akhirnya bikin perda, bikin pungutan-pungutan yang akhirnya investasi tidak berkembang. Kalau investasi tidak berkembang, mana mungkin ekonomi tumbuh. Kalau ekonomi tidak tumbuh di daerah itu, mana mungkin lapangan pekerjaan tercipta, rakyatnya tidak akan berubah kemiskinannya. Oleh karena itu, kita ingatkan. Ingat, kewenangan sudah kita berikan, bikin aturan-aturan yang kondusif untuk pengembangan daerah itu, bukan sebaliknya. Kita sudah batalkan ratusan perda yang nyata-nyata bertentangan dengan undang-undang di atasnya dan menghambat pembangunana itu sendiri.
Di luar itu, kita juga melaksanakan pembangunan kapasitas, capacity building. Kita berdayakan, kita tingkatkan kemampuannya, termasuk menjalankan roda pemerintahan, termasuk penggunaan anggaran yang tepat. Pendek kata, kita lakukan satu upaya untuk mengurangi atau mencegah penyimpangan, mangatasi ekses, sambil kita mantapkan apa yang kita sebut dengan sistem pemerintahan yang didesentralisasikan ini.
Saya tetap optimis, dengan arah yang benar ini, lambat laun daerah akan menemukan sendiri bagaimana kebijakan, peraturan-peraturan yang paling efektif, agar daerahnya berkembang dan rakyatnya mendapatkan keuntungan.
Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun
Masih menyangkut pembangunan daerah, Bapak Presiden, Bapak sudah berkali-kali mengatakan dan menyatakan komitmen untuk membangun berbasis kewilayahan, Pak. Bagaimana kiranya strategi Bapak yang sudah ada dan kira-kira akan diteruskan untuk mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah, antara timur dan barat, kemudian antara kota dan desa?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Tetap Bung Rikard, tetap menjadi ideologi katakanlah pembangunan nasional kita, apalagi krisis global ini mengapa terjadi? Karena tidak terjadinya keseimbangan, global imbalances. Jangan sampai negara kita juga mengalami nasib yang sama. Oleh karena itu, saya ingin ke depan pembangunan itu lebih adil, lebih merata, dan daerah bisa berkembang dengan baik.
Caranya bagaimana? Begini, daerah itu kan punya keunggulan masing-masing. Provinsi di Sumatra berbeda dengan di Kalimantan, berbeda dengan yang ada di bagian timur, berbeda dengan di Pulau Jawa. Masing-masing gubernur, bupati, dan walikota harus betul-betul menggali potensi daerahnya, mengetahui keunggulannya, sehingga strateginya berbeda-beda. Nah dengan demikian akan terjadi perdagangan domestik yang baik, akan terjadi konektivitas ekonomi yang baik, dengan cara masing-masing mengembangkan potensinya.
Oleh karena itu, kita dorong daerah. Mengerti betul mana yang kuat di pertanian, mana yang kuat di industri, mana yang kuat di jasa, dan seterusnya. Dengan demikian akan komplementer, persaingan menjadi bagus, dan ekonomi akan efisien. Itu yang menjadi strategi kita, berkali-kali saya bertemu dengan gubernur, mereka memiliki komitmen yang sama. Mudah-mudahan lima tahun lagi, sepuluh tahun ke depan akan lebih tumbuh secara seimbang pembangunan di negeri kita.
Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun
Tanggapan para gubernur bagaimana, Pak?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Mereka cocok. Jadi justru mereka, jangan sampai pusat melihat mereka sama saja, harus dilihat perbedaan-perbedaannya, policy kita harus mendorong, kita berikan peluang yang lebih besar daerah untuk mengembangkan sendiri kreativitasnya. Mereka berharap seperti itu, dan saya perintahkan kepada para menteri yang mengurusi pembangunan yang bersifat sektoral untuk betul-betul mendorong daerah seperti itu.
Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun
Bapak kan sudah punya pengalaman lima tahun sehubungan dengan pembangunan daerah. Ada banyak perda yang bertentangan dengan keinginan pusat dan kadang-kadang menjadi bottleneck, terus kalau dilihat, Bapak sudah mengeluarkan sekian peraturan. Ini ada proses debottlenecking yang kemudian mungkin akan membantu supaya tidak ada hambatan-hambatan kebijakan. Seberapa efektifkah kalau Bapak lihat?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Jadi betul, waktu saya memulai memimpin Kabinet Indonesia Bersatu II ini, saya mengambil pengalaman lima tahun yang lalu. Andaikata bottlenecking, sumbatan-sumbatan, entah tumpang-tindih lahan, entah peraturan yang saling bertabrakan, daerah yang tidak mengalir dan sebagainya itu kita beresi lebih cepat, hasil kita lima tahun lalu lebih tinggi. Oleh karena itu, lima tahun ke depan kami melakukan upaya besar-besaran untuk menghilangkan sumbatan atau debottlenecking,.
Tapi bukan hanya itu, lima tahun mendatang kita harus tingkatkan sasaran kita, apakah pertumbuhan ekonomi, apakah pengurangan kemiskinan, apakah pengurangan pengangguran, dan termasuk pembangunan infrastruktur, dan satu lagi kita percepat, percepatan tengah kita lakukan, program 100 hari idenya ya debottlenecking, meletakkan landasan, dan juga sebetulnya mencari yang disebut dengan quick wins.
Banyak sekali program-peogram yang selesai dalam 100 hari ini, cuma barangkali beritanya kalah dengan Bank Century. Oleh karena itu, saya minta para menteri bicara langsung, dan media massa tolonglah diangkat juga. Jangan habis untuk Bank Century. Jelaskan juga supaya rakyat juga tahu apa yang dilaksanakan oleh pemerintahnya.
Pembawa Acara, Rike Amru
Mungkin ini salah satu media juga Pak, memberitahukan kinerja pemerintah itu. Bung Don, ada yang ingin ditambahkan atau digali lebih dalam soal ini?
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Mungkin Pak Wahyu punya pertanyaan.
Pembawa Acara, Rike Amru
Pak Wahyu mungkin ada yang ingin digali lebih jauh soal ini, atau ingin bertanya ke hal yang lain?
Penanggung Jawab El Shinta Radio, Wahyu Adhitama
Ya, berkaitan dengan pembangunan di daerah. Beberapa waktu yang akan datang, akan terjadi pilkada. Keinginan Bapak Presiden apa sebenarnya, yang akan disampaikan kepada para elite dan masyarakat di daerah itu yang akan menyelenggarakan pilkada?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Sebetulnya pilkada itu Pak Wahyu sama dengan pemilihan umum juga yang berlaku pada tingkat nasional. Saya ingin pilkada di manapun di Indonesia ini pertama-tama harus aman, damai, dan tertib. Yang kedua, ya demokratis. Yang ketiga, efisien. Negara kita dalam keadaan bahaya manakala yang namanya politik itu biayanya sangat tinggi, pilkada-pilkada kok saya dengar biayanya tinggi sekali, keliru.
Lebih bagus calon-calon itu menjelaskan programnya kepada rakyat karena rakyat memilih secara langsung. Jadi sebenarnya keuntungan dari demokrasi yang kita anut sekarang ini pemilihan itu langsung sampai tingkat bupati dan walikota. Di situlah kesempatan para kandidat, para calon berbicara langsung kepada rakyatnya. Kalau itu kita dorong, rakyat pilihlah di antara calon-calon itu dari segi kapasitasnya, dari segi integritasnya, apa komitmen yang akan dilakukan manakala yang bersangkutan terpilih. Kalau ini kita hidupkan dengan partisipasi yang penuh dari rakyat Pak Wahyu, pilkada makin ke depan akan makin berkualitas.
Jangan kita biarkan politik di negeri kita ini menjadi politik yang mahal, yang tidak masuk akal, keliru. Mari kita warnai dengan pendidikan politik yang baik, sekali lagi damai, demokratis, dan semua bisa menggunakan haknya untuk memilih.
Pembawa Acara, Rike Amru
Pak, tampaknya kita harus break sejenak. Sejumlah pertanyaan akan diajukan sesaat lagi, Saudara tetaplah bersama kami di Program Barometer Spesial “Presiden SBY Menjawab.”
Bagi Anda yang baru bergabung dengan SCTV, Anda sedang menyaksikan Program Barometer Spesial “Presiden SBY Menjawab.” Tadi sudah ditanyakan berbagai hal kepada Presiden SBY mulai dari soal politik, keamanan, hukum, dan kali ini seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, satu hal yang menarik untuk didiskusikan adalah perdagangan bebas yang baru saja diberlakukan untuk Indonesia di awal tahun ini.
Saya beri kesempatan kepada Bung Don mungkin yang bisa bertanya ke Pak SBY.
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Presiden, memang menjadi persoalan awal tahun ini ketika soal perdagangan bebas ini menimbulkan reaksi di dalam negeri, karena katanya produk China itu membanjir ke sini. Lalu kemudian beberapa waktu lalu, Bapak sudah mengatakan bahwa kemungkinan ini harus ditinjau kembali. Jadi baik-buruknya tentang ini bagaimana Pak?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Ya, ini menarik karena sekarang menjadi hangat itu perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dengan Republik Rakyat Tiongkok. Yang penting harus diketahui oleh masyarakat dulu bahwa ide ini sudah lama. Yang namanya era perdagangan bebas dan investasi terbuka di Asia Pasifik ini disepakati pada tahun 1994 di Pertemuan APEC di Bogor.
Yang kedua, jaman Presiden Abdurrahman Wahid, itu disepakati oleh pemimpin ASEAN dan pemimpin Tiongkok untuk bikin perdagangan bebas. Pada era Presiden Megawati, rampung sudah negosiasi tentang perdagangan bebas antara ASEAN dengan Tiongkok. Nah sekarang ini kelanjutan dari itu semua. Oleh karena itu, jangan dikira begitu pemerintahan baru muncul perjanjian ini, proses yang sudah lama berjalan.
Namun saya juga mengetahui ketika akan diimplementasikan bukan hanya Indonesia, 10 negara ASEAN dan Tiongkok ada masalah-masalah yang harus kita selesaikan. Kekhawatiran kalau mengganggu beberapa industri dalam negeri dan akibatnya bisa menganggu karyawan-karyawan kita, pemerintah memberikan perhatian yang seksama. Oleh karena itu, kami akan melakukan pembicaraan khusus dengan Tiongkok dan dengan ASEAN karena ini kesepakatan 10 negara ASEAN, agar ada masalah-masalah yang bisa kita selesaikan secara baik. Tujuannya apa? Memproteksi, dalam arti melindungi beberapa usaha di dalam negeri. Tetapi ini mesti dibicarakan baik-baik, tidak boleh sepihak karena kita bisa dibalas.
Ingat, perdagangan kita dengan Tiongkok itu meningkat tajam tahun-tahun terakhir ini. Banyak yang kita ekspor ke Tiongkok, meskipun ekspor Tiongkok juga banyak ke sini. Ini saling menguntungkan. Namun, kalau ada masalah-masalah khusus kita bicarakan kembali. Bisa kita lakukan seperti itu, yang penting Bung Don begini, sambil kita membicarakan kembali, industri dalam negeri kita perkuat produktivitasnya, daya saingnya, efisiensinya, jangan hanya berlindung dalan nasionalisme, tapi tidak bergerak ke mana-mana, kalah nanti kita dengan era globalisasi ini.
Yang kedua, kita amankan juga pasar kita, jangan ada penyelundupan dari Tiongkok, jangan ada dumping segala macam. Kita akan awasi semuanya itu untuk melindungi kita punya industri, tetapi ekspor harus kita galakkan. Kita harus berjuang barang-barang kita dibeli di negara lain, termasuk di Tiongkok. Itulah kira-kira yang akan kita lakukan, tapi ingat ini proses berlanjut dari beberapa pemerintahan yang harus kita jalankan.
Pembawa Acara, Rike Amru
Ini ada semacam review untuk renegosiasi soal perdagangan.
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Pembicaraan kembali dalam situasi yang khusus dimungkinkan, bahkan ada kok pasal dalam perjanjian itu, misalkan ada yang sangat mengganggu, itu bisa kita bicarakan, ada klausul seperti itu, tetapi pahamilah ini kesepakatan bersama, prosesnya sudah lama sekali, kemudian membawa keuntungan bersama, namun kalau ada masalah yang mengganggu kita, kita atasi dengan tujuan yang baik.
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Karena kekhawatiran pokoknya Bapak Presiden adalah kalau ini berjalan, maka para industriawan kita akan berubah menjadi trader karena barang dari luar lebih murah, dia daripada membuat pabrik di sini yang tidak lebih efisien daripada di China begitu. Itu kan kekhawatiran yang ada sekarang. Jadi tidak perlu ada kekhawatiran seperti itu?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Selalu begitu ya, dan dari tahun 2004 saya mengajak, tolong di dalam negeri yang kompetitif, yang berdaya saing. Mengapa negara lain bisa murah, kita kok mahal terus? Ada yang nggak benar dong dalam industri kita. Mari kita bikin benar. Pemerintah mengeluarkan kebijakan, memberikan insentif, agar kita lindungi dulu, kita dorong dulu, tapi suatu saat harus dewasa. Itulah yang menjadi harapan kita, tapi percayalah pemerintah akan memahami dan melakukan sesuatu yang harus kami lakukan untuk rakyat kita.
Pembawa Acara, Rike Amru
Bung Rikard, ada yang ingin digali lebih dalam soal ini atau Bung Rikard ingin menanyakan hal yang lain?
Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun
Masih terkait itu Bapak Presiden, tapi lebih ke persoalan domestiknya. Jadi, apakah Bapak Presiden sudah melakukan banyak hal selama ini, lalu mungkin penguatan untuk mendorong lagi pertumbuhan ekonomi kita sekaligus juga mencipta lapangan kerja, kira-kira apa yang mau didorong ke depan ini Pak?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Ya, yang luput dibicarakan oleh banyak orang: ketika pertumbuhan di negara lain minus, drop, kita tetap positif dan tinggi. Ketika negara lain mengalami ledakan pengangguran, pengangguran kita terjaga, dalam arti tidak bertambah banyak, justru dalam lima tahun terakhir pertumbuhan naik, pengangguran turun, kemiskinan turun. Trend-nya sudah benar, policy sudah benar, tinggal lima tahun mendatang kita tingkatkan.
Betul, Bung Rikard, cara mengurangi pengangguran adalah kalau ekonomi tumbuh, hukumnya, hukum namanya dalam teori ekonomi, pengangguran akan turun. Yang kedua, infrastruktur yang kita bangun besar-besaran di seluruh Indonesia menciptakan lapangan pekerjaan. Yang ketiga, usaha mikro, kecil, dan menengah dengan kredit yang kita perbesar misalnya KUR itu menghidupkan ekonomi mikro, lapangan kerja terserap. Belum pertanian sendiri, manufaktur sendiri, maupun jasa.
Pendek kata, semua kita tempuh agar pengangguran terus bisa kita kurangi dan insya Allah menjadi target kita. Tahun 2014 kita ingin pengangguran kita itu berkisar sampai 5, sampai 6% saja. Mudah-mudahan bisa kita capai dan saya yakin kalau seperti ini kita jaga akan sampai pada sasaran itu.
Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun
Baik Bapak Presiden, tapi lalu persoalan strategis lain selain tadi Bapak sudah menyampaikan bahwa program dan itu sudah jalan, akan ada penguatan, lalu beberapa isu yang menjadi penting ke depan: energi, kemudian pangan, dan juga lingkungan Pak. Kira-kira antisipasi kita untuk menghadapi tantangan?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Tiga-tiga itu persoalan global, itu persoalan dunia, bukan hanya Indonesia, perubahan iklim, Indonesia berdiri di depan, bukan untuk sekedar kerja sama global, untuk melindungi tanah air kita sendiri, melindungi rakyat kita. Negara akan bersalah kalau tidak serius di dalam menjaga lingkungan kita, termasuk gerakan menanam pohon besar-besaran, mengelola limbah, membatasi penggunaan sumber energi yang terlalu banyak mengeluarkan karbondioksida dan sebagainya.
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Sori Bapak Presiden, tapi ini menyambung yang Bapak sampaikan, dengan satu miliar, kira-kira bagaimana caranya?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Bisa dicapai, sekarang saja sudah ratusan juta. Nanti pemerintah meningkatkan, masyarakat kita dorong, kemudian dunia usaha kita dorong, kerja sama internasional kita dorong, saya yakin pada saatnya kita bisa menanam sekitar miliar pohon per tahun. Itu climate change.
Nah kemudian begini, kalau pangan ya alhamdulillah meskipun ada krisis pangan tahun lalu, ulangi, 2008-2009 kita selamat, mengapa? Karena kita bisa meningkatkan produksi, terutama beras, dan kemudian disusul oleh jagung, kemudian gula. Yang masih jauh kedelai dan daging. Tugas kita adalah meningkatkan produktivitas, menambah infrastruktur, irigasi, pupuk, cara bertanam, teknologi, dan sebagainya. Pangan mutlak harus kita kuasai, tidak boleh luar itu 30 juta, kok kita nggak cukup pangan kita.
Energi juga, tapi energi ini janganlah hanya menggantungkan minyak, dan gas, dan batu bara, meskipun kita kuat di situ, 6 juta barrel oil equivalent tiap hari, tapi ingat, ke depan kita harus mengembangkan sumber-sumber terbarukan, saya kira kita punya potensi: hidrosurya, angin, geothermal, luar biasa. Belum bisa kita gunakan dengan baik, kebijakan sudah kita turunkan, 100 hari sudah kita bikin, bagaimana cara untuk mengembangkan geothermal. Pendek kata, kami sangat-sangat serius Bung, dan saya minta dukungan rakyat tiga hal itu: pangan, energi, dan kemudian perubahan iklim.
Pembawa Acara, Rike Amru
Banyak sudah topik-topik yang dibahas, tapi tadi saya belum mendengar pertanyaan soal pendidikan, mungkin nanti saya berharap ada dari para penanya ini soal pendidikan nasional kita. Pak SBY, akan kita lanjutkan sesaat lagi. Saudara, tetaplah bersama kami “Presiden SBY Menjawab”
Anda masih menyaksikan Program Barometer Spesial “Presiden SBY Menjawab.” Di segmen sebelum ini, kita lagi membahas soal perdagangan bebas dan juga soal-soal ekonomi. Sebelum saya mungkin meminta kepada para penanya di sini bertanya soal pendidikan, ada yang ingin dituntaskan lagi soal ekonomi? Bung Don mungkin?
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Bapak Presiden, saya kira publik menunggu, atau pengusaha menunggu sebetulnya bagaimana kebijakan moneter, kebijakan fiskal kita untuk bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang sekarang lebih tinggi daripada target yang kita miliki sekarang ini?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Ya Bung Don Bosco, memang kebijakan moneter dan fiskal itu penting, itu salah satu pilar dari kebijakan ekonomi. Kebijakan moneter yang penting, dan ini penting bagi dunia usaha, ada stabilitas nilai tukar sebetulnya, jangan berfluktuasi. Yang kedua, suku bunga. Suku bunga harus pas betul, jangan lingkungan dengan keadaan ekonomi tidak boleh terlalu tinggi, begitu harapannya, pas saja. Yang ketiga, juga akses pada kredit, sehingga perbankan kita harus juga menjemput supaya bergerak semua, bagaimana mungkin pembangunan jalan kalau tidak ada kredit dari perbankan kita, sehingga wilayah kebijakan moneter itulah yang penting untuk kita jaga dan kita kembangkan.
Kembali cerita kebijakan tadi, banyak pejabat di perbankan yang ragu-ragu, misalkan memberikan kredit karena kalau salah dianggap pidana. Macet semua nanti kalau kebijakan itu dipidanakan, kalau istilahnya tadi kriminalisasi kebijakan. Asalkan bukan korupsi, asalkan bukan begitu, kebijakan itu sah, itu harus dijalankan.
Kalau kebijakan fiskal, saya mengerti dalam dunia usaha juga ingin ada insentif dari pemerintah, pemerintah ini sudah cukup generous. Kebijakan perpajakan sudah sangat fleksibel. Kemudian, kebijakan insentif untuk industri tertentu, untuk usaha tertentu, kita berikan juga, lantas ketika ada gonjang-ganjing harga di luar-di dalam, ada kebijakan khusus masalah tarif, masalah pembebasan bea impor, dan sebagainya. Itu juga harus dibaca sebagai satu fiscal policy yang pro dunia usaha, dengan catatan dunia usaha pro rakyat, pro negara: membayar pajak yang benar, kemudian berperilaku, menjalankan best practices dalam dunia usaha.
Kalau itu kita jalankan, kedua kebijakan tepat, implementasinya juga baik, saya makin optimis ekonomi bukan hanya tumbuh, tapi juga adil, merata, dan lapangan pekerjaan tercipta lebih banyak lagi.
Pembawa Acara, Rike Amru
Ada yang ingin ditanya lebih lanjut soal ini? Jika tidak, saya berharap kepada para penanya ini untuk bertanya soal pendidikan nasional yang bagi saya sangat penting, mungkin Pak Wahyu? Silakan.
Penanggung Jawab El Shinta Radio, Wahyu Adhitama
Terima kasih. Bapak Presiden, tadi Bapak sudah bercerita dan memberi penjelasan secara panjang lebar mengenai ekonomi, politik, keuangan, dan keamanan, tapi satu hal yang masih mengganjal di hati saya sebetulnya dalam kesempatan untuk bertemu dengan Bapak Presiden, ialah pandangan Bapak mengenai pendidikan nasional kita Pak, karena kita tahu juga, apalagi mengenai ujian nasional yang akan dihadapi oleh putra-putri kita bualn depan Pak, bulan Februari. Pandangan Bapak bagaimana?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Pak Wahyu, saya kira kira semua pihak peduli pada pendidikan nasional. Mengapa anggaran pendidikan nasional sekarang 20% dari APBN, APBD, karena kita ingin meningkat dengan baik. Mengapa kita tambah beasiswa, kita gratiskan yang miskin, ada program buku murah, ada BOS, ada pembangunan infrastruktur, ada metodologi yang kita perbaiki, semua agar mutu pendidikan kita meningkat. Jadi, saya kira tidak perlu ada kesangsian rakyat bahwa kita tidak sangat serius menangani pendidikan.
Kalau ujian nasional, begini Pak Wahyu. Dari dulu selalu ada ukuran, apakah anak didik ini selama mengikuti pendidikan bisa menguasai materi yang telah diajarkan. Kita harus tahu, kalau tidak tahu bagaimana nanti kelanjutan dari anak didik itu. Negara lain pun juga ada model seperti itu. Yang penting bagi saya, ujian nasional itu harus tepat, bukan satu-satunya alat untuk mengukur kelulusan anak peserta didik, kemudian materinya ya yang diajarkan selama ini, jangan mengada-ada. Kemudian bagi yang belum lulus pada ujian yang utama, bisa diberikan kesempatan untuk katakanlah ujian susulan.
Ini sedang digodok oleh pemerintah. Ada putusan MA. Kita ikuti putusan MA, memperkuat organisasi pendidikan di daerah, membikin mereka siap untuk mengikuti ujian nasional.
Tapi satu hal Pak, jangan mengorbankan mutu. Kita tidak boleh permisif, tidak boleh lunak dalam pendidikan. Kalah dengan Singapura, dengan Malaysia, dengan Thailand, dengan negara-negara lain. Yang penting, kita semua bertanggung jawab, kemudian kita jaga mutu kita, ya kewajiban orang tua, kewajiban para siswa, belajar baik agar sukses dan kalau sukses, kariernya juga kan baik di masa depan.
Pembawa Acara, Rike Amru
Sudah masuk era perdagangan bebas pula saat ini Pak ya?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Ya, persaingan menjadi lebih ketat di tingkat dunia nanti.
Penanggung Jawab El Shinta Radio, Wahyu Adhitama
Dalam pendidikan ini kan juga berkaitan dengan character building Pak, untuk para remaja kita di masa depan, putra-putri kita. Dalam kurikulum pendidikan, budi pekerti Pak, dulu waktu saya masih kecil itu belajar budi pekerti. Sekarang kok kelihatannya tidak ada. Menurut Bapak bagaimana?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Ya, itu penting Pak Wahyu, dalam era reformasi, dalam era demokrasi, dalam era globalisasi, akhlak, budi pekerti, tata krama, etika itu tetap penting, bangsa manapun juga, bahkan namanya peradaban, civilization, itu juga diukur dari nilai-nilai dan perilaku seperti itu. Oleh karena itu, kita ingin Indonesia makin maju, makin modern, daya saingnya tinggi, tapi manusia-manusianya juga, mereka yang memegang teguh akhlak, budi pekerti, kesantunan sosial yang baik. Dengan demikian, ya peradaban kita makin unggul, bangsa lain akan hormat kepada bangsa Indonesia kalau kita memiliki ciri-ciri seperti itu.
Pendidikan harus betul-betul membangun watak, membangun budi pekerti yang baik, termasuk yang menjadi kerisauan kita semua. Jangan dikompromikan, harus sama-sama kita bangun dan perkuat.
Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun
Kita kan punya kearifan lokal, begitu Pak, tapi sampai sekarang pun itu tidak dimunculkan.
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Ya, ini pengaruh globalisasi, pengaruh modernisasi, kadang-kadang kita tidak tekun. Saya justru mengajak para tokoh masyarakat, para budayawan, para pemuka agama, para pemimpin daerah, banyak kearifan lokal, mari kita jaga. Dengan demikian, sekali lagi negara kita maju, tapi tetap dengan peradaban yang tinggi. Itu insya Allah bisa kita jaga kalau semua peduli bahwa hal-hal itu tidak boleh ditinggalkan oleh bangsa kita, semodern apapun nanti bangsa Indonesia.
Pembawa Acara, Rike Amru
Mungkin penanya lain ada yang ingin bertanya lebih lanjut?
Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun
Soal daya saing. Kita diapresiasi Pak di luar dengan pencapaian sekarang, tentu daya saing harus kita perkuat, dan tentu lewat pendidikan. Barangkali ada langkah-langkah untuk memberi inspirasi ke generasi muda Pak SBY, apa yang mesti kita lakukan, sehingga daya saing makin tinggi karena memang tantangan lebih besar dalam konteks globalisasi sekarang? Bapak sebagai pemimpin bangsa mungkin ada himbauan ke generasi muda, lalu apa yang harus dilakukan Pak?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Ya, di samping menghimbau, saya sudah mengeluarkan instruksi kepada Menteri Pendidikan Nasional, kepada semua, begini, kalau kita pelajari bangsa-bangsa yang sudah maju.
Ada dua hal yang saya pelajari. Pertama adalah bangsa yang inovatif. Kita harus kreatif, inovatif, termasuk inovasi teknologi. Oleh karena itulah saya mendorong betul lembaga pendidikan kita, jangan membiarkan anak didik kita itu hanya sekedar menerima dari gurunya, harus inovatif, harus kreatif, karena itulah sumber kemajuan.
Yang kedua, negara lain itu kuat karena ada entrepreneurship, kewirausahaan, bisa mengambil risiko, bisa memulai sesuatu, bisa menantang, dan sebagainya. Kalau sejak awal anak didik kita dibangun rasa ingin tahu, jiwa entrepreneurship, pikiran yang inovatif, saya yakin, makin tinggi jenjang pendidikan mereka, akan makin berdaya saing sumber daya manusia kita. Dan nantinya kalau sudah menjadi lautan yang saya sebut dengan critical mass, lapis bangsa yang inovatif, yang produktif, dan yang memiliki jiwa entrepreneurship yang tinggi, jadi bangsa kita. Lebih cepat lagi majunya. Oleh karena itu, metodologi pendidikan haru dibangun sesuai dengan apa yang ingin kita capai tadi.
Pembawa Acara, Rike Amru
Ada yang ingin ditambahkan mungkin Bung Don?
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Hal ringan-ringan saja sekarang. Sudah berat dari tadi. Pak SBY, ini banyak sekali masalah, tetapi saya dengar, kemarin ada meluncurkan musik dan hobi Bapak bermusik. Lalu kemudian, saya mengikuti beberapa kali perjalanan Bapak ke luar negeri. Di luar negeri sibuknya bukan main, rasanya kita mengikuti capai juga, lalu kemudian di luar acara-acara itu, Bapak ke toko buku. Saya ingat di New York dulu setelah menekan tombol di Wall Street, kemudian ke toko buku. Kemudian di United Nations, kita juga ketemu di toko buku. Musik dan buku Pak. Bagaimana di mata Pak SBY?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Ya begini Bung Don, kalau soal seni, saya sejak muda menyenangi seni, bukan hanya musik, bukan hanya ikut main band, bukan hanya membikin puisi, tapi juga melukis, segala macam. Saya memang dari dulu menyenangi, sehingga kalau sekarang saya sesekali, entah enam bulan sekali, empat bulan sekali di waktu senggang saya mengekspresikan pikiran saya, hati saya melalui lagu, itu semata-mata saya ingin berkomunikasi dengan rakyat tentang masa depan, tentang keindahan, tentang kasih sayang, tentang optimisme, dan sebagainya. Lagu-lagu saya kan isinya seperti itu, liriknya.
Tapi kalau membaca, itu begini, ini saya tidak tahu, banyak orang kalau capai membaca, terus berhenti, jalan. Atau kalau membaca terlalu banyak, stress. Kalau saya, kalau pikiran sedang penuh, banyak ketegangan karena persoalan yang dihadapi oleh presiden kan Pak Wahyu tidak pernah berhenti, saya kadang-kadang mengambil buku, saya duduk, satu jam saya membaca itu rileks, rasanya seperti lepas begitu. Jadi, ini cara saya juga bagaimana escape dari ketegangan yang setiap hari ada, tidak bisa dipungkiri, kalau ada apa-apa di negeri ini, mesti presiden yang salah, mesti begitu, apapun, di manapun, apapun isunya, SBY yang salah.
Okelah saya terima keadaan seperti itu sambil mendidik kita semua ada lingkup itu di mana, misalkan ada dua kecamatan yang kekurangan gizi, lha kok SMS-nya, “Presiden tidak bertanggung jawab. Kok ada dua kecamatan yang kekurangan gizi,” lha bupatinya ke mana? Gubernurnya ke mana? Menterinya ke mana? Kalau seluruh Indonesia kekurangan gizi, saya yang paling bertanggung jawab. Ini contoh-contoh betapa rakyat, tapi okelah saya tetap menyayangi mereka karena sesungguhnya mereka ingin negaranya baik. Jadi itulah, itu soal membaca dan soal musik.
Saya punya perpustakaan pribadi yang insya Allah nanti saya sumbangkan untuk publik bisa membaca bersama-sama nantinya.
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Bapak, di belakang kita ini ada pohon trembesi. Jadi, kita wawancara malam ini dengan latar belakang pohon trembesi Pak. Saya dengar juga, di Cikeas ada pembibitan.
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Trembesi itu begini Bung Don ya, jangan keliru, sekarang ini kita berlomba-lomba menanam pohon antara lain yang setelah besar pohon itu bisa menyerap karbodioksida. Satu pohon trembesi dengan diameter kanopinya misalkan 15-20 meter itu satu tahun bisa menyerap 28 ton. Kalau 1 juta pohon trembesi, berapa? Di samping bisa menahan air, bisa indah seperti di Singapur, di negara lain itu juga indah, di belakang kita trembesi. Oleh karena itu, saya mendorong penanaman trembesi yang kita siapkan bijinya kemarin 240 juta.
Kepala Grup Pemberitaan Liputan 6 SCTV, Don Bosco Selamun
Sekarang dengan biji Pak, bukan dengan batang?
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
Biji itu, nanti bisa diajari bagaimana menyemaikan, tumbuh, baru ditanam. Jadi, semua kita tanam, bisa trembesi, bisa mahoni, bisa yang menghasilkan buah-buahan, yang penting negara kita hijau, rakyat senang, iklim bagus.
Pembawa Acara, Rike Amru
Apa nanti kalau misalnya ada varian baru, nanti namanya pohon trembesi SBY? Pak SBY, sudah banyak sekali pertanyaan yang diajukan, sudah dijawab juga oleh Bapak. Semoga bangsa ini lebih optimis menatap masa depan Pak setelah mendengar jawaban-jawaban seorang Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.
Terima kasih banyak Pak, telah bersedia menjawab berbagai pertanyaan dari para wartawan senior di halaman tengah istana yang asri ini. Terima kasih juga para pemimpin redaksi yang merupakan jurnalis senior dari tiga media massa.
Saudara, demikianlah Program Barometer Spesial kali ini, “Presiden SBY Menjawab.” Kita jumpa lagi di Program Barometer mendatang, terima kasih dan salam SCTV.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan Republik Indonesia